Stalker

Chapter 7 : Better

Aku menunggu Yaya mengangkat panggilanku. "Halo, selamat pagi," sapanya dari seberang. Aku tersenyum. "Ini aku, sang 'Ratu.'" Aku bisa membayangkan bibirnya yang manyun. "Hei, hei. Jangan sombong dulu. Aku masih ingat kau menolak menjadi Ratu siang itu." Aku tertawa garing bagaikan tak tersinggung dengan apa yang baru saja dia katakan.

"Iya-iya. Maaf." Yaya bertanya, "Ada apa? Kenapa kau meneleponku pagi-pagi buta seperti ini?" Nadanya ketus. "Maaf. Aku hanya ingin bilang padamu, aku tidak masuk hari ini. Badanku masih pegal, Nenekku bilang aku harus istirahat. Bisa kau izinkan aku?"

Aku mendengar helaan nafas Yaya. "Baiklah. Lagi pula kau bukan orang pertama yang menghubungiku pagi ini." Aku terkekeh. "Tapi kau tidak bisa melihat Kak Fajar-mu, 'kan?" Kekehanku hilang.

"Tidak apa. Tadi malam itu sudah lebih dari cukup," kataku. Aku tersenyum sendiri dalam kamarku. Untung Nenekku sedang sibuk di dapur, jika beliau bersamaku di dalam ruangan ini, mungkin Nenek akan segera menelepon ambulans dan mengirimku ke RSJ terdekat. Aku mengucapkan 'selamat pagi' dan 'terima kasih' sebelum menutup telepon kami.

Merebahkan diri di tempat tidur adalah salah satu scene dalam sinetron-sinetron kebanyakan yang digunakan untuk berpikir, karena memang aku ingin berpikir―melamun lebih tepatnya―aku melakukan itu. Tadi malam... Tadi malam tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Mimpi terliarku pun tak bisa menandinginya. Aku kembali menarik selimutku. Tak apa 'kan jika satu hari aku tidak menemuinya? Lagi pula, Kak Fajar tidak mempunyai teman wanita yang begitu dekat dengannya.

Iya, 'kan?

BoBoiBoy © Animonsta

Warning :

OOC, OC, AU, bahasa yang kurang dimengerti, humor garing, alur kecepatan, plot yang kurang dimengerti, typo(s)

[Alice]

Tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfic ini. Hanya kesenangan dan menuangkan ide yang menumpuk di otak. Author sangat meminta maaf jika ide sama.

.

Happy Reading

"Selamat pagi, Yaya," aku menyapa sahabatku. Dia membalasnya dengan ramah. Aku lalu duduk di bangkuku. "Aku ingin tahu―"

"Tentang Kak Fajar?" dia memotong kalimatku. Aku tersenyum masam dan mengangguk. Dia penyihir menyebalkan. "Aku tidak tahu. Kemarin aku dan teman-teman membersihkan kelas. Banyak yang tidak masuk, termasuk Tn. Pelit." Aku tahu dia menggodaku tapi, aku tidak peduli. "Dia sampai tidak masuk hari ini," lanjutnya, "apa kau tidak khawatir, Ying?" Aku menjawab, "Tidak perlu. Aku yakin bocah itu hanya kecapean. Kau tahu 'kan, dia membawa kayu untuk api unggun? Dan ukuran kayu-kayu itu..." Aku sengaja menggeleng-gelengkan kepalaku mendramatisir.

Yaya mendesah. "Iya." Wajahnya terlihat khawatir. "Kau tidak khawatir? Fang―"

"Yaya, Fang itu hanya kecapean. Fang itu keras kepala. Aku yakin besok dia juga sudah masuk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Fang berhenti melakukan sesuatu adalah Tuhan," kataku.

"Dan donat lobak merah," Gopal menambahkan. Kami menatapnya karena dia menguping pembicaraan kami. Aku kembali menghadap temanku. "Jadi?"

Yaya mengangkat kedua pundaknya. "Yah, aku setuju saja padamu. Kalian berdua sama-sama keras kepala." Aku membalas senyum Yaya. "Aku anggap itu sebagai pujian." Pembicaraan kami selesai diiringi dengan lonceng dimulainya KBM.

s.t.a.l.k.e.r

Jariku menelusuri jejeran buku di depanku. Semuanya berbau khas buku baru yang membuat candu. Saat makan siang, Yaya membagikan komisi hasil dari stand kelas bagi kami semua. Lumayan, aku bisa menggunakannya untuk membeli novel baru. Sisanya akan kutabung. Begitulah awalnya mengapa aku sedang fokus mencari judul novel yang sudah lama kuimpikan tanpa memperdulikan tatapan jijik orang lain karena melihat seorang gadis Cina telah lama berjongkok di antara rak-rak buku dengan wajah cuek-bebek. Aku menarik salah satu buku itu dan tersenyum puas.

"Aku tidak tahu kau suka dengan novel sejarah." Aku berbalik dan membatu. "Ya." Aku berusaha menjawab, tapi terdengar seperti bisikan kecil. Aku melirik, dan melihat kedua sudut bibirnya terangkat. Oh, sampul buku yang malang, aku sangat menyesal telah meremasmu hingga menjadi rusak seperti itu. Ingatan tentang peristiwa di api unggun kembali terputar di kepalaku.

"Kau tahu di mana novel Gateu Levan?" tanya Kak Fajar. Aku ingat nama novel itu. Aku pernah meminjamnya dari Yaya, dan baru aku kembalikan minggu lalu setelah empat tahun meminjamnya. "Sepertinya ada di rak itu, bagian paling kiri." Kak Fajar segera mencari di antara rak buku yang aku tunjukkan. Senyumnya mengembang di kala dia berhasil menemukan buku itu, aku tidak bisa mengontrol bibirku untuk tidak ikut tersenyum.

"Wah, Ying, terima kasih. Dari tadi aku mencari novel ini tapi tidak ketemu juga," Kak Fajar berterima kasih. Pipiku memanas, oh, Tuhan, tolong hamba ini sekali lagi. "Ying, kau tahu apa arti Gateu Levan?"

Aku menatapnya. "Mengejar mimpi. Gateu Levan juga nama kue," jawabku. Ingat, aku sudah baca novel itu. Dia tersenyum, tangannya terulur dan mengacak-acak rambutku. Dengan itu juga, rona merah di pipiku merambat ke telinga hingga leherku. Kue Red Velvet, kepiting rebus, udang rebus, tomat merah, bibir Syahrini kalah telak dengan rona wajahku. "Ying ternyata pintar yah. Mau kutraktir es krim?"

Kata-kata itu. Aku sangat ingin menjawab 'iya' tapi aku takut Kak Fajar akan berpikir bahwa aku gadis rakus dan matre. Terjadi pergumulan hebat di kepalaku. Otakku berhenti berpikir setelah mendengar dia tertawa kecil. "Kau lucu sekali kalau sedang berpikir. Aku yang traktir kok. Kebetulan tadi kau menyebutkan kue, jadinya ingin makan yang manis-manis. Tadi juga aku sempat lihat toko es krim di seberang jalan," dia menjelaskan dengan tenang. "Jadi, bagaimana?"

Aku tahu, Kak Fajar orangnya baik dan pengertian, jika cuma traktir es krim sepertinya tidak terlalu terlihat matre. Tidak seperti Fang, minta belikan air mineral saja ditolak sampai dimaki-maki. Dan jika aku menolaknya, aku pasti akan sangat menyesal dan tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri―kemungkinan besar akan bunuh diri. Keputusanku sudah bulat.

"Baiklah, kak. Terima kasih." Aku tersenyum tulus. Setelah kami selesai membayar di meja kasir, dan kasirnya telah menggoda kami bahwa kami sepasang kekasih―aku benar-benar malu―kami berdiri di luar toko buku. "Yang terakhir telur busuk!" Kak Fajar tiba-tiba berseru sambil tertawa jahil padaku. Aku kaget, tapi aku segera berlari. Hebat, aku sudah mendahuluinya sambil tertawa-tawa tak terkontrol. Aku terlalu fokus, sampai tak menyadari, lari Kak Fajar melambat, dan senyum sendu terpampang jelas di wajah tampannya.

s.t.a.l.k.e.r

Aku pernah sangat kelaparan. Saking kelaparannya, aku memakan jatah makan siang Yaya dan mencomot puding telur BoBoiBoy di depan mata yang empunya. Saat itu mereka memaklumiku, Nenekku sakit, dan aku harus merawatnya sendiri di rumah. Aku bahkan hampir tak punya waktu untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah. Tapi untungnya Nenek cepat sembuh, dan aku tidak lagi menguasai makanan Yaya maupun BoBoiBoy―mereka sangat bersyukur tentang hal itu. Tapi situasi ini sangat berbeda dengan waktu itu. Aku sama sekali tidak menyentuh makan siangku. Moodku hilang saat guru Sosiologi membacakan nama kelompok untuk tugas selanjutnya. Sialnya, satu kelompok hanya berisi dua manusia. Sekarang, mataku melototi pemuda di depanku yang menumpuk buku-buku Sosiologi dan memegang pensil dan menulis di secarik kertas. Dia sepertinya tidak terpengaruh dengan aura gelapku. Lee Zhao Fang memaksaku untuk duduk bersamanya pada waktu makan siang untuk membahas tugas kami. Aku bilang padanya itu bisa didiskusikan nanti, tapi dia tidak peduli dan beralasan: "Aku tidak punya banyak waktu untuk hal ini. Jadwalku padat." Aku sangat ingin meninjunya.

Dia melirikku dari bukunya. "Kenapa bibirmu begitu? Aku ini bukan tongkat selfi, Yang Mulia." Penekanan suaranya menyebalkan. Dia membolak-balik halaman tebal bukunya. Ketika dia mendapatkan halaman yang ia cari, ia menunjukkannya padaku seraya berkata, "Kau sama dengan ini. Tapi ini lebih baik dari pada kau." Jarinya menunjuk pada gambar sekumpulan PSK yang diamankan polisi. "Oh, terima kasih, Tuan Lee. Aku sangat menghargai itu," kataku sinis, kemudian mulai tertawa seperti ibu-ibu rempong.

"Gila." Aku melempar buku catatanku. "Hei!" protes Fang. "Sudahlah, kalian tahu 'kan, karena kalian semua orang lari dan aku jadi rugi." Gopal menundukkan kepalanya ketika aku dan Fang melototinya. "Yo, Gopal, kau masih berbisnis foto Fang?" BoBoiBoy tiba-tiba muncul di samping Gopal. Pemuda itu tertawa garing. "Kau tahu ini 'kan sumber uang jajanku. Mau gimana lagi." Wajah BoBoiBoy melembut mendengar curhatan salah satu sahabat baiknya. "Kau diberi izin sama"―BoBoiBoy berdehem―"modelnya?" Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Gopal. "Aku sudah mengizinkannya. Tapi..." Fang sengaja menggantungkan kalimatnya dan menatap Gopal dengan bermain-main. Gopal menghela nafas.

"Dia dapat keuntungan 70% dan aku 30%..."

Oh, pantas saja Fang izinkan.

Yaya yang muncul dari ujung lorong segera bergabung. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanyanya. Aku menjawab bahwa Fang telah lama memberi izin pada bisnis gelap Gopal, tapi dengan syarat yang cukup pedih. Dia tertawa terbahak-bahak sambil memukul meja kantin. "Eh, Yaya, kau pasti lapar, makan sana gih. Aku masih punya urusan dengan Fang." Gadis itu berhenti tertawa dan mulai tersenyum. Oh, aku tidak suka caranya tersenyum saat ini. "Tentu saja~. Ying punya 'urusan' dengan Fang~!" Aku menyikutnya dan dia mengaduh kesakitan.

"Kau tidak perlu menyakitinya," Fang bersuara di saat sudah tidak ada lagi Yaya di antara kami. Aku menggeleng. "Kadang, hanya dengan cara fisik kau bisa membungkam Yaya." Aku tersadar. "Kenapa kau berkata seperti itu?" tanyaku. Dia mengangkat bahu. "Apa pedulimu? Oh, apa kau cemburu?" Dia menaruh sikunya pada meja, dan pipinya pada telapak tangannya. Aku mengerutkan hidungku di saat dia mengedipkan satu matanya. "Iya, 'kan, Ying?" Suaranya serak, lebih serak dari Kak Fajar. Ah, aku benci diriku yang terlalu cepat tersipu. Aku sangat bersyukur di kala dia kembali memegang pensilnya dan kembali menjadi Tn. Pelit berwajah datar. Walau sebenarnya aku masih tidak suka dia kembali normal.

"Kau ternyata gampang digoda." Terutama bagian itu.

Aku menggeser makananku ke samping dan mengambil salah satu bukunya. Tertulis besar di depan sampul buku, 'Property of Fang.' Hidungku mengerut. Siapa juga sih yang mau ambil?! Ingat, Ying, masih ada namanya fangirls gila pengumpul barang-barang idola. "Jangan ambil buku itu!" Aku menatap Fang dengan tatapan aneh seperti biasanya. "Kenapa?" Dia menatapku, ada jeda di antara percakapan kami. "Itu buku catatanku, dan buku itu tidak pantas untu dibaca olehmu." Aku menyerahkan buku 'catatan berharga milik Fang.' Aku melihatnya menunduk dan segera menaruh buku itu paling bawah dari tumpukan bukunya. "Memangnya kenapa kau sangat melindungi buku itu? Itu tidak seperti aku menyebarkan penyakit ataupun virus berbahaya atau yang lainnya." Dia terlihat bimbang, tapi akhirnya membuka mulutnya. "Ini hadiah dari Ibuku sebelum aku pindah ke sini. Kata beliau, tulis saja yang penting dan berarti bagiku. Jadi kau tidak pantas untuk―"

"Jadi itu semacam diary?" aku langsung memotong penjelasannya. Dia mendengus. "Aku tidak mau menyebut buku ini diary atau semacamnya. Ini lebih ke jurnal, Bodoh." Aku sudah terbiasa dengan panggilan akrab yang dia berikan padaku. 'Toh, aku memanggilnya dengan ' ,' 'Iblis berwujud manusia,' dan aku bisa menyebutkan sisanya, tapi itu akan terlalu panjang. Aku tidak sudih menghabiskan tenaga demi anak itu. Ngomong-ngomong soal diary, aku jadi ingat dengan diary Yaya. Isinya absurd, penuh dengan gambar-gambar dan emoticon aneh buatan Yaya. Aku spontan bertanya, "Apa kau menulis sesuatu tentang orang yang kau sukai di dalamnya?"

Dia berhenti dari aktivitas membolak-balik halaman. Lalu terkekeh pelan. "Aku tidak menyukai siapa-siapa." Dia menatapku. "Orang yang akan menyukaiku." Dia lalu memberikan salah satu bukunya. "Aku sudah dapat materi bagus. Kita ambil materi kenakalan remaja. Selain mudah, contohnya bisa kita dapatkan dari mana saja. Dan contohnya bisa kuambil dari kehidupan kita berlima." Aku menatap buku yang dia sodorkan. "Teganya mengalihkan pembicaraan. Sombong sekali. Orang tidak akan menyukaimu jika kau tidak menyukai mereka duluan. Walau memang rasanya susah menyukai seseorang dan rasanya sakit jika kita tidak diperhatikan dan cuman dianggap teman biasa setidaknya kita sudah berusaha." Aku melihat Fang, wajahnya datar, tapi tubuhnya kaku. "Aku tahu itu karena aku sudah merasakannya sendiri," lanjutku, "seperti aku dan Kak Fajar."

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Kata orang cinta itu seperti game. Kalau sudah tamat, sudah tidak menarik lagi, orang jadi bosan. Tapi menurutku cinta tidak seperti itu. Itu tidak seperti game. Cinta lebih rumit dari pada itu." Aku terkekeh. "Aku sendiri tidak tahu mengapa aku berkata seperti ini."

"Yah, mungkin kau terlalu banyak nonton drama Korea." Aku heran mengapa aku tidak marah dengan sindirannya. "Mungkin kau benar," ucapku dengan cepat. Aku membuka buku Fang dan segera mencatat hal-hal yang penting. "Ini." Aku menatap bungkusan tisu kecil di tangannya. "Tadi kulihat matamu berkaca-kaca saat kau menceramahiku. Aku tidak ingin orang-orang mengira aku membuatmu menangis. Ambilah." Aku sungguh terharu. Fang mungkin sudah agak berubah―

"Itu juga barang gratis kok." Aku tarik kata-kataku. Kami kembali fokus dengan pekerjaan kami masing-masing hingga bel selesainya waktu istirahat berbunyi. Aku membantu Fang membereskan buku-bukunya.

Saat berjalan menuju kelas, Fang memberhentikanku di lorong. "Eng... Ying, yang tadi terima kasih." Aku harus membersihkan telingaku, apa aku tidak salah dengar? "Apa?"

Fang menatapku kesal. "Terima kasih," dia menaikkan volumenya. Aku tertawa pelan. "Sama-sama. Itu gunanya sahabat." Dia melihat ke luar jendela. Lalu berjalan ke kelas tanpa melihatku lagi.

"Hei Fang!" aku memanggilnya, dan itu tidak dianggap. "FANG TUAN PELIT!" Dia berbalik. "Apa?" Aku berlari kecil mendekatinya di lorong yang penuh dengan murid-murid yang lalu-lalang kembali ke kelas mereka. "Jika kau sedang mencintai seseorang, apa cintamu bertepuk sebelah tangan?" Aku mengadah saat menatap matanya. Dalam beberapa tahun ini, tingginya semakin di atasku. Aku hanya sebahunya sekarang. Dia terlihat seperti melamun sebentar.

"Ya. Cintaku bertepuk sebelah tangan."

Kekosongan di antara kami diisi dengan suara gaduh dari manusia lain. "Oh, artinya kita sama, yah, walau Kak Fajar masih belum jelas. Kita berdua harus sama-sama berjuang yah!" Aku berjinjit saat ingin menepuk pundaknya.

"Ying! Ada rapat Komite Displin!" seorang adik kelas berteriak padaku. Aku menatapnya. "Kakak." Dia gelagapan. Aku kembali ke pada bocah tua di depanku. "Yah, aku dipanggil. Well, aku duluan Fang. Tolong sampaikan ke Yaya yah." Pemuda ini hanya merespon dengan sebuah 'hm' dan anggukan kecil. Aku lalu pergi meninggalkan pemuda itu yang masih berdiri di tempat yang sama.

Tatapannya kosong. Tapi tadi aku lumayan mendapat informasi yang bagus. Fang menyukai seseorang, tapi sayang bertepuk sebelah tangan. Aku jadi penasaran siapa gadis itu dan kenapa Fang bisa jatuh cinta padanya. Aku berani bertaruh gadis itu sangat baik dan keibuan hingga Fang yang keras kepala jatuh cinta padanya. Atau mungkin dia feminim dengan senyum tulus yang selalu pada wajahnya yang cantik. Siapa pun gadis itu aku sangat penasaran, mungkin aku bisa mengorek beberapa informasi dari BoBoiBoy ataupun Gopal. Ah, gadis misterius yang disukai Fang, aku akan mencarimu!

Tapi, yang membuat aku lebih penasaran adalah buku jurnal―diary―Fang, dan apa yang berada di dalamnya. Mungkin, suatu hari dia akan menunjukkannya pada kami semua. Dan Gopal akan untung besar. Tunggu, dia cuman dapat 30%... Aku segera membaur dengan kerumunan banyak orang. Dan tidak bisa melihat Fang lagi.

s.t.a.l.k.e.r

Aroma khas obat yang kuat berdiam dalam indera penciumanku. Hari ini Nenek memeriksa gula darahnya. Aku menunggunya di ruang tunggu rumah sakit. Hal ini sudah menjadi rutin semenjak Nenek sakit berat. Aku tidak keberatan meluangkan waktu untuk Nenek, hanya dia keluarga yang aku punya di Pulau Rintis.

Aku memainkan HP di tanganku. Biasanya Nenek menghabiskan setengah jam untuk pemeriksaan rutin, kadang, Nenek curhat dan aku sungguh terharu dengan dokter yang memeriksanya. Dokter itu dengan tenang mendengar curhatan Nenek. Tapi hari ini rasanya curhatan Nenek banyak, sudah lewat dari setengah jam...

Aroma obat tergantikan dengan bau menggoda dari puding jagung. Aku mengadah dan melihat sebungkus puding jagung yang tersodor ke arahku. Aku tidak terkejut dengan hal itu, banyak pemuda di sekolah yang menawarkanku sesuatu yang manis. Aku terkejut karena Kak Fajar yang menyodorkannya.

"Kau sedang apa di sini?" tanyanya, lalu dia duduk di bangku sebelahku. Sial, aku tergagap. "A-Aku sedang menunggu Nenekku..." Dia ber-oh-ria.

"Kalau Kakak?" Dia melihat ke arah dokter yang melintas. "Aku sedang mengunjungi teman." Aku jadi tertarik. "Kalau boleh tahu, temannya kakak kenapa?" Dia tersenyum hangat, lalu memandang ke depan. "Temanku itu orangnya sakit-sakitan, bisa dibilang fisiknya lemah. Tapi orangnya semangat. Dia itu orang yang memberi syal yang pernah kau tanyakan dulu." Aku ingat pada hari Festival. Dan sialnya momen di mana aku berdansa dengannya muncul duluan. Pipiku merona.

Kak Fajar mulai melanjutkan. "Kondisinya sekarang semakin membaik. Dokter bilang dia sudah bisa kembali ke sini, Pulau Rintis. Tidak perlu perawatan di Kuala Lumpur lagi. Bintang juga akan menjenguknya, tapi mungkin tidak untuk saat ini. Dia masih sibuk dengan urusan sekolahnya." Kak Fajar selesai dengan penjelasannya. "Aku harap teman kakak segera sembuh," kataku tulus. "Aku juga berharap demikian. Jika dia sudah sembuh, dia akan masuk sekolah kita."

"Benarkah?" Dia mengangguk. "Mungkin butuh waktu untuk dia bisa terbiasa dengan orang baru. Tapi dia orangnya asyik kok. Jarang ada g―"

"Ying ayo pulang." Aku mendengar Nenekku memanggil sekaligus memotong perkataan calon pacar cucunya. Walau agak kecewa, aku tidak boleh memperlihatkannya. "Aku pamit duluan kak." Dia menarik tanganku dan menyerahkan puding yang belum aku ambil. "Ini untukmu, hati-hati di jalan yah."

Dengan itu, aku pergi meninggalkan pria pujaan hatiku, menuju rumah Nenekku tersayang.

s.t.a.l.k.e.r

Memori kameraku hampir penuh, aku harus segera menginstalnya ulang. Wajah Kak Fajar sedari tadi tidak berhenti tersenyum, maka aku juga tidak berhenti tersenyum. Aku benar-benar menyukainya, bagaimana kedua bibirnya tertarik sempurna dan bertahan lama. Aku menyukainya. Tapi, tidak ada sesuatu yang namanya abadi. Senyumku hilang juga.

"Ying! Bisakah kau fokus untuk sebentar saja?! Aku tidak mau nilaiku turun hanya gara-gara kau terus melototi Fajar!" Fang membentakku. Aku yakin dia hanya membentakku, bukan membentak orang lain di sekitarnya, tapi sepertinya dia membentak seluruh orang di café ini.

Tugas ini akan dikumpulkan dua hari lagi. Fang tidak mau mengeluarkan biaya untuk ke warnet, jadi dia mengusulkan ke café yang biasa aku kunjungi. Kami hanya membeli dua cangkir kopi termurah di café ini, dan menikmati jaringan Wi-Fi sepuasnya. Pelit sekali, 'kan?

Aku mendengus. Dia terjengkal ke belakang saat buku catatanku mengenai wajahnya. "Aku sudah selesai dengan urusanku. Sekarang tinggal tugasmu untuk mengetik dan mencari gambarnya di internet." Aku bisa mendengar jelas dia menggerutu pelan.

Aku tidak memperdulikan anak itu lagi, dan kembali memperhatikan Kak Fajar. Dia mengecek HPnya. Aku benar-benar terkejut dengan apa yang kemudian dia perbuat. Dia segera membayar makanannya, dan melesat pergi. Aku panik seketika. Kak Fajar tidak pernah meninggalkan café secepat ini, dia selalu menghabiskan sorenya di café itu! Aku berdiri dengan cepat, sampai-sampai kursiku terlempar ke belakang.

"Ying," Fang memanggilku. Aku tak menghiraukannya. Barang-barangku segera kubereskan dan berlari pergi meninggalkan balkon café itu.

"Ying!" Seberapa keraspun Fang akan memanggilku, aku tidak akan berbalik. Aku punya firasat buruk tentang Kak Fajar. Rasanya aneh jika dia terus tersenyum tanpa sebab.

Begitu aku sudah berada di depan café, aku mencarinya. Untung dia tidak begitu jauh, aku memberi jarak 200 meter darinya.

Toko Bunga Reine. Itu nama toko bunga yang Kak Fajar masuki. Aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan pada kasirnya, tapi aku tahu apa yang ia beli. Bunga Matahari. Aku kembali mengikutinya, bertanya-tanya mengapa dia membeli bunga ini.

Apa dia akan menembak seorang gadis? Apa dia mempunyai seseorang yang ia suka tapi tidak kuketahui? Siapa gadis itu? Apa dia lebih cantik dari padaku? Apa dia pantas untuk Kak Fajar? Apa dia akan menerimanya? Apa aku akan tersakiti lagi? Pertanyaan-pertanyaan itu berhenti terngiang di kepalaku saat mengetahui tujuan Kak Fajar. Rumah sakit yang aku dan Nenek kunjungi tempo hari.

Bunga itu untuk temannya, tidak ada yang perlu kau khawatirkan, aku sangat berharap apa yang akan terjadi sesuai dengan apa yang kupikirkan. Aku terus mengikuti Kak Fajar hingga ia berhenti pada ruangan nomor 213. Dia mengetuk pintu, tak selang berapa lama kemudian, seorang wanita paruh baya muncul, dan mempersilahkannya masuk.

Aku segera berlari pada salah satu perawat yang pertama kali kulihat. "Permisi," kataku sopan. Perawat itu berhenti dan menjawab pertanyaanku, "Iya, kenapa, Nona?"

"Jika boleh saya boleh tahu, siapa nama pasien ruangan nomor 213?" Dia berpikir sejenak, dia tersenyum saat mendapatkan jawabannya. "Maksudmu ruangan yang akhir-akhir ini dikunjungi oleh pria yang baru datang tadi?" Aku mengangguk.

"Namanya, kalau tidak salah... Tiara Amelia. Dia baru datang dari Kuala Lumpur dua minggu lalu." Aku terdiam. Dadaku sesak.

D-Dia seorang gadis...

Perawat itu kembali melanjutkan. "Dan jika aku boleh berkomentar." Aku meremas ujung jaket yang kukenakan.

"Mereka akan cocok sekali jika menjadi pasangan kekasih."

.

.

.

to be continued .

A/N :

Singkat saja. Saya minta maaf karena update-nya makin hari makin lama. Dimaklumi sajalah, tolong. Untuk Mey-chan 11, iya terima kasih sudah menunggu dan mereview. Saya senang sekali membantumu dalam menulis fanfiksi. Untuk Between I and Girl, saya melakukan hal ini (balas review di cerita) karena menurut saya reader itu adalah penyemangat saya. Soal pair? Hahaha, saya tidak pernah kepikiran jika ini jadi cinta segitiga antara BoBoiBoy, Merlin dan Yaya. Mungkin kalau ada waktu, saya akan menulis side story untuk itu, kalau ada, saya tidak janji loh. Untuk, ananda 1610, iya, semakin lama makin gaje. Panggil saya saja Alice, atau Author. Anak MCI yah? Hehehe, tapi jujur, saya lebih suka dipanggil dengan dua panggilan di atas. Untuk Haruko1212, kayaknya chapter ini juga lama. Maaf, semakin dekat dengan UTS, saya semakin sibuk. Menurut saya, cerita paling seru itu jika cinta yang bersegi-segi. Karena jujur, gebetan saya disukai banyak orang, jadinya pengen buat fic kayak gitu. Tapi fic ini murni ide, bukan kejadian yang sesungguhnya. Untuk Cicilia-chan, iya, terima kasih. Tidak apa-apa. Untuk Alexo, kau dimaafkan. Kekeke, iya, 'kan? Evelyn itu loh... Seandainya itu nyata. Untuk Rika, memang chapter kemarin itu cukup lama, tapi sepertinya chapter ini juga, adegan Fajar dan Ying memang..yah, gitu deh. Cicely dan saya itu teman sekelas, dia itu Eyelyn. Kalau soal updatenya... dia bilang dia masih sibuk (sudah dekat UTS).

Sudah, segini dulu. Oh, iya, soal Romeo & Cinderella, mungkin nanti lama baru saya update. Karena saya masih fokus dengan Stalker. Udah dulu segini.

Last word, review?

b.o.n.u.s.

Bocah itu tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang hilir mudik di depannya. Yang dia fokuskan hanyalah gadis cilik yang tengah menangis di pundaknya, dan gadis cilik lainnya yang sedang menahan air mata dan mencoba tersenyum di depannya. Di dalam kereta. Menuju Kuala Lumpur.

Fajar berusaha untuk tidak menangis. Dia laki-laki, dia tidak mungkin menangis, itu yang ia pegang teguh. Bintang telah membuat kaosnya basah dengan air mata. Malam ini, sahabat mereka, Tiara akan pergi ke Kuala Lumpur demi mendapat perawatan yang lebih baik.

Itu dilakukan untuk kebaikannya. Fajar selalu berpikir demikian, tapi sayangnya, hatinya tidak. Dia tidak mau Tiara pergi, dia tidak mau. Selama bertahun-tahun bersahabatan mereka sejak kecil, dia tidak pernah berpikir gadis itu akan pindah. Walau dia sudah, tahu, fisiknya lemah. Tapi itu bukan salahnya. Juga bukan salah ibunya. Dia harus tabah. Tapi dengan Bintang yang tak kunjung berhenti menangis, dan air mata kesedihan yang mulai mengalir di pipi Tiara telah meruntuhkan pendiriannya.

Dia ingin berlari dan ikut bersamanya ke manapun gadis itu pergi. Dia masih ingat, masih sengar di ingatannya saat gadis itu menunjukkan katak tanpa rasa takut padanya. Bintang menjerit ketakutan saat itu. Tapi, sekarang semua itu berubah saat dokter menvonisnya bahwa ia mengidap penyakit turunan dari ibunya. Dia masih tersenyum, tapi sendu. Dia masih bermain dengan mereka berdua―Fajar maupun Bintang―tapi tidak seperti dulu. Semua itu memuncak saat dia jatuh sakit hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Dokter bilang dia harus dirawat di rumah sakit yang lebih besar, maka dari pada itu, Tiara harus pergi.

Pemberitahuan kereta akan berangkat terdengar. Itu sudah yang ketiga kalinya. Pintu kereta api tertutup, mulai berjalan lambat. Tiara tidak tahan lagi. Dia mengetuk-ngetuk kaca pintu kereta. Fajar melihatnya. "Tiara!"

Fajar melepaskan Bintang dari pundaknya, dan mulai mengerjar kereta. "Tiara!" serunya. Kereta mulai mempercepat lajunya, begitu juga dengannya. "Fajar!" gadis itu berseru dari dalam kereta.

Dia menempelkan kedua tangannya pada kaca, berharap bisa memecahkan kaca itu dan berdua dengan bocah yang sedang berlari-lari di samping kereta. Fajar berhasil menyesuaikan kecepatan dengan kereta walau nafasnya mulai pendek dan lututnya lelah.

Tapi, itu semua pantas. Untuk sesaat, dunia hanya miliknya dan Tiara. Senyum Tiara dari balik kaca, senyum tulus yang selalu Fajar suka. Senyumnya menghangatkan pipi pucat bocah itu. Hingga Fajar sadar, sudah tidak ada lagi tempat untuk dia berlari. Dia menyaksikan kereta itu pergi bergitu saja. Ada yang hilang dari dirinya. Ruangan kosong di dadanya.

Dia berbalik dan mendapati Bintang berlari kecil padanya. "Ayo pulang, Ibu pasti mencari kita," katanya walau suaranya pecah. Fajar berdiri sebentar. Lalu menggenggam syal merah yang melingkar manis di leher kecilnya. Rajutannya berantakan. Fajar tahu, Tiara dan Bintang adalah duo tomboy. Mereka hanya tahu yang namanya memanjat pohon dan berguling-guling di lumpur. Bahkan saat guru mereka menyuruh mereka membuat syal, hasil Fajar lebih bagus dari mereka berdua.

Tapi dia membuatkan ini untukku.

Fajar tersenyum. Dia tidak tahu pasti kapan Tiara akan kembali. Tapi dia tahu, gadis itu akan kembali.

"Iya, ayo kita pulang." Bintang tersenyum dan berjalan perlahan di samping sepupunya.

Fajar selalu yakin dengan keyakinannya. Dia tidak pernah meragukannya sedetik pun. Dan itu terbayarkan. Bintang membanting pintu kamar Fajar dengan keras. Awalnya pemuda itu ingin marah―dia sedang menulis laporan akhir festival yang harus diserahkan pada kepala sekolah―atau setidaknya menceramahinya lagi, tapi dia tidak melakukan itu.

"Dia sudah kembali!"

Fajar tidak perlu bertanya siapa itu. Dia segera bangkit dari tempat duduknya, dan berlari menuju pintu keluar. Dia berhenti bergerak, bukan sampai di situ, dia berhenti bernafas.

"Halo, Fajar."

Tiara. Tiara ada di depannya. Rambutnya hitam panjang yang sering dia ikat sudah tidak ada lagi. Sakitnya telah mengambil mahkota kebanggan setiap wanita. Tapi itu saja yang berubah darinya, selain tinggi, dan harus jujur Fajar katakan, postur dan lekuknya berubah. Hei, Fajar juga laki-laki!

Angin berhembus. "Selamat datang kembali." Mereka saling membalas senyum. Inilah yang membuat Fajar senang, sekaligus sedih. Senang karena Tiara telah kembali, sedih, karena tidak bersama-sama dengan dia selama dia berjuang di Kuala Lumpur.

"Aku merindukanmu." Air mata gadis itu runtuh. "Aku tahu. Dan selalu akan begitu," Tiara berbisik.

Bintang tersenyum di belakang mereka. Tapi dia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang mengatakan akan terjadi hal yang buruk. Dia tidak tahu apa. Tapi, dia juga sangat merindukan Tiara. Dan juga teriakan kesakitan gadis itu dikala ia mencubit pipinya dengan gemas.

Seketika itu juga dia sadar. Siapa yang dulu ia cubit pipinya dengan gemas, setelah Tiara pergi.