Saya bukan pemilik Naruto atau One Piece!

Heart Of Sword – Mata Merah!


Desa Konoha

Hening...

Itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan keadaan di ruang Hokage. Meskipun di ruangan tersebut berkumpul beberapa orang, tetapi tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suara untuk beberapa saat. Bahkan dua orang bocah keturunan Namikaze yang berada di ruangan itu juga turut berdiam diri, tapi wajah keduanya menampakkan kebingungan karena tidak memahami apa yang sebenarnya tengah terjadi di sekitar mereka.

"Em... Ibu?" Gadis kecil bernama Kusano memberanikan diri membuka mulutnya setelah melihat ekspresi sedih dan penuh harap ibunya.

Namun sang ibu masih berdiam diri tanpa menjawab panggilan Kusano. Kedua tangannya menutupi mulutnya yang masih terus bergetar, dan mata ungunya mulai menitikan air mata. Saat ini Uzumaki Kushina, ibu dari Kusano lebih memilih untuk terus memandang pria berambut putih di haadapannya, berharap kalau pria itu mau mengklarifikasi ucapannya.

"Sensei, informasimu itu akuratkan?" Yondaime Hokahe kini angkat bicara sambil memandang tajam gurunya.

"Jika tidak, untuk apa aku sampai repot-repot datang kesini Minato?" Jawab sang guru.

"Mengintip perempuan di pemandian air panas?" Tukas Minato dengan santai sambil mengangkat alisnya sebelah.

BRAK

Jiraiya, guru milik Minato langsung tersungkur di lantai ruangan begitu mendengar perkataan miridnya. "A... serendah itukah kau memandangku Minato? Sampai-sampai tidak mempercayai kalau aku memiliki waktu untuk bersikap serius." Dia mulai bangkit. Tetapi wajahnya menampakkan ekpresi sedih, sakit dan kecewa.

"Hehehe... maaf." Minato tertawa setengah hati. "Jadi..."

Melihat Minato terus memandangnya seakan berharap untuk menjelaskan sesuatu, Jiraiya menarik napas panjang. "Menurut salah satu agenku, dia melihat seorang bocah berambut pirang, bermata biru, serta memiliki tiga garis hitam [wiskers] di kedua sisi pipinya memasuki wilayah Negara Besi dan bocah itu bepergian bersama seorang samurai." Dia menghentikan bicaranya untuk sejenak, sambil mengamati ekpresi wajah penuh harap dari muridnya. "Aku tidak bisa mengatakannya seratus persen akurat karena tidak melihatnya secara langsung, tapi informasi ini patut diselidiki lebih lanjut. Selama ini pencarian kita tidak pernah membuahkan hasil, karena kita memang tidak menduga adanya kemungkinan anak itu berada di wilayah Negara Besi."

"Benar juga." Gumam pelan Minato setelah mendengar penjelasan Jiraiya. "Kita..."

"Naru... chan!" Kushina memotong perkataan Minato dengan menggumamkan nama putra pertamanya. Dia terlihat mengulas senyum tipis di wajahnya setelah mendengar klarifikasi Jiraiya. "Minato, kita harus segera pergi ke Negara Besi untuk menjemput Naruto. Jangan sampai kita kehilangan jejaknya lagi... ini adalah informasi terakurat mengenai Naruto selama 10 tahun ini. Jadi..."

"Kushina, tenagkanlah dirimu!" Ucap Minato dengan sedikit membentak untuk menghentikan rentetan perkataan istrinya. Dia kini berdiri di samping Kushina, dengan tatapan sendu.

"Ta-tapi Minato... Naruto... hiks..." Cucuran air mata Kushina semakin deras membasahi pipi putihnya.

"Aku tahu, Kushina. Akan aku pastikan kau bisa pergi ke Negara Besi, tetapi aku juga akan mengirim beberapa orang untuk menemanimu, termasuk Jiraiya-sensei." Jelas Minato pada Kushian, dan berharap dapat menenangkan istrinya itu. "Aku melakukan ini karena tidak bisa menemani perjalananmu, aku tidak bisa meninggalkan desa..."

"Minato!" Kushina memandang tajam suaminya, dia tidak percaya bahwa Minato lebih mengutamakan desa dibandingkan keselamatan anaknya. "Apa kau mau mengatakan kalau..."

"Kushina, memang benar adanya kalau aku tidak bisa menemani kepergianmu. Tetapi bukan berarti aku tidak bisa berada di Negara Besi saat kau sudah berada di sana. Aku akan menggunakan 'Hiraishin', jadi tidak perlu meninggalkan desa dalam kurun waktu yang lama." Jelas Minato pada Kushina sebelum kesalah pahaman di antara keduanya berlanjut.

"Hem..." Kushina mengangguk pelan, meskipun rona merah tipis terlihat menghiasi pipinya.

"Ano... sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan?" Tanya anak laki-laki kembaran Kusano.

Mendengar pertanyaan anak laki-lakinya, Kushina segera menghapus air matanya. "Shi-chan, Ku-chan, ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan kepada kalian." Dia mengulas senyum lembut kepada kedua anaknya.

"Memberitahu sesuatu?" Tanya kedua Namikaze muda pada ibunya secara bersamaan.

Selama ini, baik Minato maupun Kushina tidak pernah memberitahukan kepada kedua anak kembarnya mengenai putra pertama mereka. Memang keduanya selalu berharap suatu hari nanti bisa membawa pulang kembali Naruto, tetapi mereka merasa takut menceritakan kepada kedua anaknya tentang Naruto jikalau saja tidak bisa membawa pulang putra pertamanya itu. Mereka tidak ingin kedua anaknya berharap tinggi, namun pada akhirnya harus tersakiti.

Akan tetapi beda lagi dengan saat ini, karena mereka telah mendapatkan informasi keberadaan Naruto. Maka Kushina memutuskan untuk memberitahu kedua anaknya mengenai saudara tertua mereka. Memang benar nantinya belum tentu Naruto akan kembali ke Desa Konoha, tetapi Kushina bisa lega mengetahui putra pertamanya masih hidup di luar sana.

"Yah. Tapi akan lebih baik jika membicarakananya di rumah saja, bagaimana?" Tanya Kushina pada anak-anaknya.

"Kenapa tidak di sini saja?" Tanya Kusano sedikit bingung.

"Hem..." Kushina tampak berpikir untuk sejenak. "Kalau kita membicarakannya di sini, pekerjaan ayah kalian tidak akan pernah selesai. Lagi pula ayah kalian juga harus memberitahukan beberapa ninja untuk menemani ibu ke Negar Besi, jadi lebih baik kalau kita membahas apa yang ingin aku sampaikan di rumah saja. Ok?" Timbal Kushina.

"Ku-chan, kita ikuti saja permintaan Ibu. Lagian kalau Ayah sampai tidak menyelesaikan pekerjaannya, besok dia tidak bisa berlatih bersama kita. Apa lagi untuk mengajari kita teknik ninja seperti yang sudah Ayah janjikan tadi." Ucap Shiina pada adiknya.

"Ah... kau benar juga Shiina-nii." Tukas Kusano yang menampakkan sedikit semburat merah di pipinya. "Kalau begitu, apa lagi yang kita tunggu? Ayo pulang Shiina-nii, Bu!" Tambah putri Yondaime Hokage itu sambil menarik paksa lengan saudara kembarnya.

Sedangkan ketiga orang dewasa yang berada di ruang Hokage saat itu hanya mengulas senyum begitu melihat tingkan kedua Namikaze muda.

Kushina pun segera beranjak meninggalkan tempatnya untuk menyusul kedua anaknya, sebelum berhenti untuk sesaat begitu berada di pintu masuk ruang Hokage. "Minato, jangan lupa segera kirimkan bunshin untuk membantuku menjelaskan semuanya pada anak-anak. Bila perlu, bunshin-mu lah yang mengerjakan pekerjaan di kantormu ini untuk sementara waktu sampai kita selesai menjelaskan semuanya." Ucapnya sebelum menutup pintu.


Kapal Bounty Hunter Kaminari

Saat ini kapal Bounty Hunter yang di pimpin oleh Sengo tampak terdiam di tempat, pasalnya sebagian besar tubuh kapal hancur karena ledakan yang bersumber dari lantai dasar dek kapal.

"KENAPA SEMUA INI BISA TERJADI?" Teriak Sengo pada semua krunya setelah melihat dampak ledakan yang baru saja terjadi.

Kerusakan karena ledakan itu mencapai bagian atas kapal, merusak mast bahkan layar utama. Sehinga mau tidak mau Sengo harus menghentikan laju kapal dan berharap bisa segera melanjutkan perjalanan sebelum tersesat dan hilang dalam gelapnya kabut, atau mungkin menerima serangan kembali dari monster-monster penjaga perbatasan lautan, bisa juga serangan petir seperti saat pertama kalinya dia dan krunya memasuki perairan Elemental.

"Kapten, sepertinya sumber ledakan berasal dari dek yang sama dengan bocah samurai pembunuh Kapten Kaminari." Jelas salah satu kru Sengo.

"Apa? Bagaimana mungkin hal seperti itu terjadi? Dia tidak memiliki senjata lagi yang bisa digunakan, bahkan kita meninggalkan katana milik bocah itu di pulau tempat terjadinya pertempuran." Sangkal Sengo tidak terima. Lantas pria yang baru saja menjabat sebagai seorang Kapten Bounty Hunter Kaminari untuk sementara waktu itu beranjak menuju tempat bocah samurai berada.

Sedangkan bocah yang tengah dibicarakan sedari tadi hanya berdiri sambil mengamati tubuhnya yang terbalut oleh listrik/petir kuning semenjak terjadinya ledakan.

"Baigaman bisa?" Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut sang bocah setelah melihat keadaan tubuhnya.

Miyamoto Naruto kini berdiri tepat ditengah penjara berjeruji besi, dengan tubuh terselimuti petir kuning. Rambut pirang yang biasanya tergerai sampai bahunya kini nampak berdiri mengikuti lonjakan percikan petir. Hakama hitam compang-camping membalut tubuh kecilnya, serta bercak darah menghiasi polosnya kain hakama. Akan tetapi samurai muda itu kini tidak lagi mengenakan alas kaki, karena hancur akibat penggunaan teknik 'Shukuchi' yang masih belum sempurna. Bukan hanya itu yang nampak berbeda dari samurai muda berumur 10 itu, mata biru indah miliknya kini tergantikan oleh mata merah yang berbinar, meskipun pemiliknya masih belum menyadari perubahan pada bagian tubuhnya.

"Tidak salah lagi, ini merupakan kemampuan milik Kaminari. Tapi kenapa aku memilikinya? Apa mungkin ini terjadi setelah aku membunuhnya, dan kekuatan itu langsung berpindah padaku?" Pikir Naruto sambil terus mengamati tubuhnya yang terbalut oleh petir. "Akan aku pikirkan nanti bagaimana aku bisa mendapatkannya, sekarang mari kita coba fungsinya." Samurai muda itu lantas memusatkan energi petir untuk mengelilingi lengan dan telapak tangannya sehingga tampak seperti pedang atau tombak.

Sring Sring

Trank Trank Trank

Jeruji besi yang memenjara Naruto jaatuh terpotong oleh tangan berlapiskan petir tadi. "Hem... aku akan menamainya, 'God Hand'." Tukasnya sambil melangkah keluar meninggalkan jeruji pengekangnya.

"Heh? Ada apa ini?" Baru beberapa langkah dari tempat awal, samurai muda tadi terhenti saat menyadari ada sesuatu yang janggal. Naruto mengerjapkan matanya berkali-kali diiringi dengan wajah yang menampakkan kebingungan. "Kenapa aku bisa melihat semua orang yang berada di kapal ini? Bahkan aku bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka, serta kepanikan yang mereka rasakan." Tetapi semuanya kembali gelap saat Naruto menutup matanya. "Ini bukan Kenbunshoku Haki, karena milikku tidak sekuat ini. Terlabih lagi aku tidak yakin kalau Kenbunshoku Haki bisa melakukan hal sampai semacam ini, dan yang lebih mencolok semuanya kembali..." Sejenak matanya terlihat melebar saat menyadari kemana arah deduksi pikirannya. "Teknik Mata [Dōjutsukekkei genkai], hanya itu yang bisa menjelaskannya. Tapi..." Naruto segera menghentikan aliran chakra yang menyuplai mata tanpa kendalinya, dan dia harus tertegun tanpa kata saat penglihatannya kembali normal, menandakan deduksinya benar.

Mata merah berbinar kini kembali menjadi biru teduh seperti semula.

"Jadi tebakanku benar! Tapi aku belum pernah mendengar Teknik Mata dengan kemampuan seperti ini. Memang benar aku bisa melihat sesuatu dalam jangkauan jauh layaknya Byakugan, tetapi Mata itu tidak membantu pendengaran jarak jauh maupaun merasakan kehendak seseorang, terlebih lagi emosinya." Otak Naruto kembali berkerja memikirkan perubahan baru bagian tubuhnya, terutama pada matanya.

BRAK

"Uhuk... uhuk..." Pikiran Naruto terganggu saat mendengar suara batuk seseorang serta benturan kayu bagian dari kapal yang hancur akibat ledakan.

Naruto bisa melihat pria bernama Sengo memasuki dek tempatnya berdiri.

"Ka-kau..." Sengo menghentikan langkahnya menerobos tumpukan pecahan kayu yang berserakan di hadapannya akibat ledakan saat melihat bocah samurai pembunuh kapten-nya berdiri bebas dari jeruji besi pengurung. "Ba-bagimana bisa kau keluar dari penjaramu?"

"Hem? Dengan berjalan keluar?" Balas Naruto seakan-akan tidak yakin dengan jawabannya.

"Mana mungkin ka-kau..."

Gulp

Sengo hanya bisa menelan ludahnya saat menyedari adanya perubahan pada tubuh bocah di hadapannya. Dia bisa melihat seorang bocah yang terselimuti oleh petir kuning menyerupai petir milik mantan kapten-nya. Dia tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi, tetapi kenyataan pembunuh kapten-nya memiliki petir kuning memang terbukti di depannya.

"Bagai mana kau..."

Zlast

Sengo tidak sempat menyelesaikan perkataannya karena bocah bernama Naruto tadi sudah berada di dekatnya sambil memandangnya dengan mata merah yang menyala. "Dimana kau menyimpan tubuh Ayah-ku?" Bulu kuduk Sengo langsung berdiri begitu mendengar suara dingin yang keluar dari mulut sang bocah.

"Di-di... ru-ruang pengawet dekat kamar kapten!" Jawab Sengo dengan terbata.

"Hehehe..." Tawa kecil keluar dari mulut mungil Naruto. Petir yang sedari tadi menyelimuti tubuhnya semakin menguat.

SRET SRET

Sengo mulai melangkah mundur melihat petir yang membungkus tubuh kecil Naruto meningkat layaknya tidak terkendali.

ZRET

Seketika kejutan listrik meningkat drastis.

BOMMM

Ledakan besar kembali terjadi di atas Kapal Bounty Hunter Kaminari.


Negara Besi

Terlihat beberapa petinggi samurai Negara Besi tengah berkumpul dalam suatu ruangan. Tetapi kali ini ekpresi wajah mereka tidak lagi terlihat penuh semengat seperti biasanya, pasalnya mereka baru saja mendengar bahwa kemungkinan besar dua teman baik/saudara mereka telah tumbang dalam pertempuran.

"LEPASKAN AKU! AKU INGIN SEGERA MENEMUI NARU-KUN!" Terdengar suara teriakan seorang gadis dari laur ruang pertemuan. Sehingga memaksa semua yang berada dalam ruangan kembali fokus.

"Mifune-sama, izinkan aku untuk menemui putriku, dan menjelaskan semua yang telah kita temukan padanya. Setidaknya dengan begitu dia tidak perlu membuat keributan di sini." Tukas Busujima Saito sambil membungkukkan badannya dan bersiap untuk ndur diri dari pertemuan.

"Baiklah, jika itu menurutmu yang terbaik." Balas Mifune karena menganggap bahwa Saito mengetahui lebih baik bagaimana menangani Busujima Miya.

"Terimakasih, Mifune-sama." Saito lantas beranjak meninggalkan ruang pertemuan.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang Mifune-sama?" Tanya Okisuke.

"Untuk sementara kita tidak melakukan apapun, Naruto ingin menyelesaikannya sendiri. Aku rasa itu karena terjadi sesuatu pada Seiji, dan dia tidak ingin kita terlibat dalam dunia luar yang belum kita kenal." Mifune menghentikan penjelasannya untuk sejenak sambil mengamati ekpresi wajah bawahannya. "Meskipun kita telah mendapatkan informasi mengenai dunia di luar Elemental dari Seiji, tetapi itu masih belum cukup. Seiji sendiri pernah menyampaikan bahwa dia belum mengetahui detail keseluruhan sistem kerja di sana. Informasi yang disampaikan Seiji hanya sebatas luaran saja. Jadi kita lebih baik menunggu kabar selanjutnya dari Naruto. Aku yakin dia memiliki rencana sehingga dia memutuskan untuk menanganinya sendiri. Lagi pula Seiji telah melatih Naruto dengan baik, begitu pun dengan aku." Pemimpin samurai Negara Besi itu mengulas senyum tipis saat mengakhiri pejelasannya.

"Baik!" Ucap Okisuke dan samurai yang lainnya bersamaan.

~ Seminggu Kemudian ~

Mifune tampak menyibukkan diri dengan membuat kaligrafi, tetapi kali ini gerakan tangannya tidak lagi semulus seminggu sebelumnya. Tangannya sering berhanti bergerak untuk beberapa lama sehingga menghasilkan kaligrafi yang tidak bersih dan indah. Tinta hitam yang digunakan untuk menoreh kanvas putih terlihat melebar dari garis tujuan.

"Mifune-sama." Mifune bisa mendengar suuara yang memanggil namanya dari luar ruangan.

Tak

Pimpinan samurai Negara Besi itu lantas melepaskan kuas di tangannya, dan membalikkan badannya menghadap pintu ruangan.

"Masuklah!" Tukas Mifune.

Srek

Pintu ruangannya bergeser terbuka, dan menampakkan Okisuke yang berdiri di depan pintu. Lantas pria itu melangkah masuk dan mengambil posisi duduk di depan pimpinannya.

"Ada beberapa ninja dari Desa Konoha yang datang ingin menemui anda." Okisuke menghentikan perkataanya untuk sejenak dan mempersilah pimpinannya menyerap informasi yang disampaikannya. "Diantara mereka terdapat Jiraiya no Gama Sennin, dan juga Kushina no Akai Chishio no Habanero."

"Apa meraka menyampaikan alasannya kenapa ingin menemuku?" Tanya Mifune pada Okisuke.

"Jiraiya no Gama Sennin hanya menyampaikan kalau mereka ingin menemui Anda, dan ada beberapa hal yang ingin mereka diskusikan dengan Anda."

Sesaat Mifune nampak tengah berfikir keras, namun tidak berselang lama pria paruh baya itu mengulas senyum. "Persilahkan mereka menunggu di ruang pertemuan! Aku akan menemui mereka beberapa saat lagi."

"Baik." Balas Okisuke sambil segera beranjak meninggalkan ruangan.


Lokasi Tidak Diketahui

Beberapa Minggu Setelah Naruto Tersadar

Terlihat sebuah kapal berukuran cukup besar dengan layar putih yang memajang lambang pemerintah dunia berlayar mengarungi lautan biru. Kapal tadi tampak sepi meskipun terlihat beberapa orang berada di atas kapal.

"Hei kalian, aku melihat perahu kecil di arah jam 9." Suara seorang pemuda bertubuh gemuk, berambut hijau, serta mulut yang memiliki resleting memecah keheningan di kapal tadi. "Chapapa... aku juga melihat seorang bocah yang tiduran diatasnya." Tambah pemuda tadi setelah mengamati lebih jeli dengan teropong.

"Kau tidak sedang membual lagikan, Fukoro?" Tanya seorang pria berkumis hitam panjang.

"Chapapa... apa aku terlihat sebagai seorang pembohong?"


~ Berakhir ~


Profil Info:

Nama : Miyamoto Naruto

Umur : 10 Tahun

Klan : Miyamoto, Uzumaki, Namikaze, Kurta

Kekkai Genkai : Red Eyes

Kekeluargaan : Miyamoto Seiji [Ayah Angkat/Guru], Mifune [Paman/Guru], Namikaze Minato [Ayah Kandung], Uzumaki Kushina [Ibu Kandung], Namikaze Shiina [Adik Laki-laki], Namikaze Kusano [Adik Perempuan]

Hubungan : Desa Konoha [Kelahiran], Negara Besi [Kewarganegaraan], Chameleon Clan [Summoning Contract]

Keahlian : Kenjutsu [Master], Taijutsu [Belajar], Fuuinjutsu [Belajar], Chakra Manipulation [Master], Nature Manipulation [Master], Kenbunshoku Haki [Belajar], Busoshoku Haki [Belajar], Haoshoku Haki [Baru Terbuka], Mata Merah [Baru Terbuka], Buah Iblis [Baru Makan]

Chakra Nature : Angin, Air, Petir [Buah Iblis]

Buah Iblis : Biri-biri no Mi [Electric-electrik] – Paramecia Tipe – Listrik/Petir Kuning

Senjata : Katana [Tenrou/True Muramasa], Wakizashi [?]

+ Klan Kurta mewakili klan milik Ranmaru. Karena tidak ada penjelasan mengenai klan milik Ranmaru, di sini saya gunakan nama Kurta sebagai klan milik Ranmaru.

++ Klan Kurta bersumber dari klan milik Kurapika di Hunter x Hunter, mereka juga memiliki Mata Merah [Scarlet Eyes] walaupun kemampuannya berbeda dengan milik Ranmaru.

+++ Naruto memiliki kekkai genkai Mata Merah dari Kushina. Salah satu orang tua Kushina keturunan Klan yang sama dengana Ranmaru [Klan Kurta/?]. Akibat stres melihat Ayahnya [Seiji] mati di depan matanya, Naruto membuka Haoshoku Haki bersamaan dengan Mata Merah.


Silahkan tinggalkan reviews!

Salam... Deswa