Saya bukan pemilik Naruto atau One Piece!

Heart Of Sword – Bulir Salju!


Jiraiya merupakan ninja berasal dari Desa Konoha dan memiliki kemampuan yang setara dengan Kage. Dia telah hidup cukup lama menjalani liku kehidupan ninja, dan melewati sulitnya masa-masa perang besar antar negara di Elemental. Meskipun berasal dari keluarga bawah, ninja paruh baya ini mampu mengasah potensinya hingga membawa dirinya setara dengan para ninja yang terlahir dari klan.

Namanya mulai terkenal setelah keberhasilannya keluar dari pertarungannya melawan Hanzo no Salamander bersama rekan setimnya, Tsunade, dan Orochimaru, di Desa Amegakure. Namanya semakin melambung saat dia berhasil membentuk jaringan pengintai terbesar di Elemental, dan didukung oleh keberhasilan yang dicapai murid didikannya menjadi Hokage Keempat.

Berkat nama besarnya itulah dia kini berada di Negara Besi, menjadi utusan yang dipercayai Yondaime Hokage untuk bernegosiasi mengenai putra pertama milik muridnya itu. Sebab dengan keberadaannya maka pihak Negara Besi bisa merasa dihormati dalam proses negosiasi karena Sang Hokage mengutus salah satu ninja terbaiknya. Selain itu, Jiraiya juga disertai istri dari Yondaime Hokage, Uzumaki Kushina, murid Namikaze Minato sendiri, Hatake Kakashi, serta anggota dari Klan Hyuuga, Hyuuga Hizashi.

Mereka berempat kini tengah berada diruangan luas yang di tunjukkan oleh salah satu pengawal Pimpinan Samurai Negara Besi, Okisuke.

Tap

Tap

Jiraiya dan ketiga rekan semisinya langsung berdiri saat melihat tuan rumah memasuki ruangan tempat mereka menunggu, untuk menghormati kedatangan Pemimpin Samurai Negara Besi, Mifune.

"Terimakasih. Silahkan duduk!" Tukas Mifune kepada tamunya. Dia kini duduk di kursi yang berhadapan dengan tamunya, tetapi kedua pengawalnya memilih untuk tetap berdiri di kedua sisinya. "Aku minta maaf jika membuat kalian menunggu lama." Mifune menyuguhkan senyuman tulus di wajahnya kepada mereka.

"Ah... tidak, Mifune-dono." Jawab Jiraiya tenang. "Sebelumnya perkenalkan nama rekan yang menyertai saya..." Dia melirik kerekan-rekannya.

"Uzumaki Kushina, dari Klan Uzumaki!" Nampak seorang wanita cantik berambut merah berdiri sejenak, lantas membungkuk untuk memberi penghormatan dan sesaat kemudian kembali duduk.

"Hatake Kakashi!" Ucap seorang pemuda berambut perak dengan setengah wajahnya bagian bawah terbalut oleh kain masker berwarna hitam.

"Hyuuga Hizashi, Pimpinan Kalangan Bawah Klan Hyuuga!" Tukas seorang pria berambut coklat panjang, dengan mata layaknya kebanyakan anggota Klan Hyuuga.

"Saya dan Negara Besi merasa terhormat dikunjungi oleh orang-orang ternama seperti kalian. Dan seperti yang Jiraiya-dono tadi katakan, saya Mifune pimpinan samurai Negara Besi." Mifune kembali mengulas senyum. "Saya ingin menawarkan tempat istirahat karena kalian telah melakukan perjalanan jauh, tetapi sepertinya baik Jiraiya-dono maupun yang lainnya ingin segera mendiskusikan maksud kedatangan ke Negara Besi ini. Jadi jika berkenan, ada maksud apa Desa Konoha mengutus Jiraiya-dono dan yang lainnya menemui saya?"

"Apa anda mengenal anak laki-laki bernama Naruto? Dia memiliki rambut pirang, bermata biru, dan tiga garis hitam menghiasi wajahnya. Anak itu sekarang memasuki usia ke-10 dan..."

"Kushina!" Bentak Jiraiya menghentikan rentetan perkataan wanita keturunan Klan Uzumaki itu. "Tenangkanlah dirimu!"

"Tapi, Ero... Jiraiya..."

"Aku tau kau khawatir, tapi setidaknya tenangkanlah sedikit dirimu!" Pinta Jiraiya sambil memandang Kushina dengan sendu.

Sedangkan Mifune sempat memasang wajah terkejut dan melebarkan matanya saat mendengar perkataan satu-satunya wanita di ruangan pertemuan. Namun sesaat kemudian wajahnya kembali datar dan tenang. Dia kembali mengamati semua tamunya dengan pandangan penuh kritisi.

Melihat Kushina yang sudah tenang, Jiraiya kembali menatap pimpian samurai Negara Besi. "Maaf atas ketidak sopanan barusan. Namun itulah yang terjadi saat seorang ibu mengkhawatirkan anaknya." Tukas Jiraiya.

Sesaat Kushina memandang heran Jiraiya, pasalnya dia sama sekali tidak menduga kalau guru dari suaminya itu bisa bertingkah selain mesum.

"Ah... tidak apa, Jiraiya-dono. Saya juga paham bagaimana posesifnya seorang ibu, terlebih lagi jika dia merupakan seorang keturunan Klan Uzumaki." Balas Mifune dengan mata yang terus mengamati wanita berambut merah di runangan pertemuan itu. "Tapi kenapa kalian mencari anak itu kemari?" Mifune memandang tajam pimpinan kelompok ninja yang mengunjungi negaranya.

Kini Jiraiya merasa sedikit nerfes saat melihat tatapan tajam dari Mifune. "Sebanarnya kami kehilangan anak itu 10 tahun yang lalu, dan kami telah mengerahkan pencarian untuk menemukannya, tetapi semua usaha tidak pernah membuahkan hasil." Jiraiya memilih untuk mencaritakan apa yang sebenarnya terjadi untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya kesalahpahaman. "Namun beberapa minggu yang lalu, agen saya mengatakan bahwa beberapa bulan lalu dia pernah melihat anak sesuai deskripsi Kushina tadi memasuki Negara Besi bersama seorang samurai. Sehingga kami memutuskan menemui anda untuk mengkonfirmasi, atau jika diperlukan sekaligus meminta izin melakukan pencarian di negara ini, karena selama ini hanya Negara Besi lah yang belum pernah kami datangi dalam pencarian keberadaan Naruto." Jelas Jiraiya pada Mifune.

Mifune terlihat termenung setelah mendengar semua penjelasan ninja dari Desa Konoha tadi. "Jika semua yang dikatakan Jiraiya-dono benar, berarti Naruto adalah anak dari Uzumaki Kushina. Jadi ninja dari Desa Kumo maupun Iwa yang dikalahkan oleh Seiji waktu itu adalah pelaku penculikannya. Namun jika hal itu benar adanya, kenapa justru ninja dari kedua desa itu saling membunuh? Atau mungkin keduanya memiliki rencana yang sama, menculik Bayi Naruto. Tapi salah satunya bertindak lebih dulu, lantas mereka bertemu sehingga terjadi pertarungan untuk memperebutkan Naruto." Dia lantas kembali mengamati tamunya, terutama wanita yang Jiraiya katakan sebagai ibu dari Naruto. "Uzumaki, ya? Itu menjelaskan kenapa Naruto bisa dengan mudah mempelajari Fuuinjutsu. Bahkan dalam waktu dekat dia bisa melampaui kemampuan Fuuinjutsu-ku."

"Ehm..." Mifune membatuk untuk mengambil perhatian tamunya kembali. "Sebelum saya memberi keputusan mengenai permohonan yang diajukan Jiraiya-dono, adakah bukti yang dijadiakan acuan untuk memperkuat pengakuan bahwa anak bernama Naruto tadi benar-benar putra Uzumaki Kushina?" Tukasnya dengan mata yang terus mengamati ekspresi maupun tindakan tamunya.

"Aku memiliki sertifikat kelahiran Naruto, dan siap melakukan tes DNA jika diperlukan." Jawab Kushina tanpa sedikitpun keraguan.

Mata wanita berambut merah itu dipenuhi oleh pancaran harapan, khawatir, serta rindu.

Melihat jawaban penuh keyakinan Uzumaki Kushina, Mifune hanya menghembuskan napas panjang. "Memang benar anak bernama Naruto dengan ciri yang sesuai deskripsi Kushina-san tadi berada di sini..."

Kushina langsung berdiri dari duduknya."Jadi Nari-chan..."

"...lima bulan lalu..."

Kushina langsung terduduk lemas mendengar lanjutan perkataan pimpinan samurai Negara Besi tadi.

"...dan sekarang kami sendiri tidak mengetahui tepatnya dimana keberadaannya." Mifune mengakhiri penjelasannya dengan pandangan sendu.

"Tapi dia akan kembali ke sini, kan?" Tanya Jiraiya penuh harap.

"Entahlah!" Jawab Mifune singkat.

"Apa maksud anda, Mifune-dono?" Kali ini pertanyaan keluar dari mulut anggota Klan Hyuuga, Hizashi.

"Sebulan yang lalu, Naruto dan Ayah-nya..."

"Ayah-nya?" Kushina kini terlihat bingung dan geram.

"...Benar, aku belum memberi tahu kalian tentang kehidupan Naruto. Tapi itu untuk nanti saja, kalian ingin tahu keberadaan terakhir Naruto, kan?" Semua tamu ninja Mifune terlihat mengangguk pelan. "Seperti yang saya katakan tadi, sebulan lalu Naruto dan Ayah-nya berkunjung ke Negara Jamur. Tetapi perjalanannya tidak berjalan mulus, karena adanya kelompok yang memburu kepala Ayah Naruto, Miyamoto Seiji, di negara itu juga. Kami tidak tahu detailnya, tapi menurut surat Seiji sebelum terjadinya pertempuran serta berdasarkan apa yang ditinggalkan ditempat pertempuran, Seiji telah meninggal..."

Semua mata ninja di ruangan pertemuan melebar setelah mendengar penjelasan Mifune.

"...Sedangkan Naruto sendiri, kemungkinan masih hidup. Tapi jika dugaan kami benar, Naruto tidak lagi berada di Elemental."

"APA?" Kushina kini nampak geram, dan tidak sabar dengan semua penjelasan samurai di depannya.

"Hehehe..." Sedangkan Jiraiya justru tertawa lirih mendengar kesimpulan dugaan Mifune. "Apa maksud anda bahwa Naruto berada di luar Elemental, Mifune-dono? Jangan katakan bahwa anda mau mengatakan kalau Naruto berada di dunia lain?" Tukasnya penuh canda.

"Dunia lain? Bisa juga dikatakan seperti itu." Ucap Mifune sambil memasang ekpresi datar. "Karena Naruto sekarang memang berada di dunia luar, melewati pelindung yang membatasi Elemental dengan keseluruhan belahan dunia..."

"Apa maksud..."

"...Ayah Naruto, Miyamoto Seiji merupakan orang yang berasal dari luar Kontingen Elemental. Dia datang melewati pelindung yang menyembunyikan Elemental dari dunia luar 20 tahun lalu. Saya tidak meminta kalian untuk mempercayainya, tapi semua yang saya katakan merupakan kenyataan."

"Tapi Mifune-dono..."

"Apa aku terlihat sedang berbohong? Atau seorang pembohong?" Potong Mifune.

Semua ninja yang berada di ruangan itu terdiam sejenak, sambil mengamati pria pemimpin samurai Negara Besi. "Tidak." Tukas mereka bersamaan, terkecuali Kushina yang terus berdiam diri.

"Okisuke, antarkan tamu kita di kamarnya masing-masing." Tukas Mifune sambil beranjak berdiri dari duduknya. "Kita lanjutkan besok pembicaraan kita. Kalian yang tidak terlalu bersangkutan mungkin bisa melanjutkan, tapi sepertinya tidak untuk Kushina-san." Dia lantas melangkah keluar dari tempat pertemuan. "Nikmatinya Negara Besi selama kalian tinggal di sini." Tambahnya sebelum tubuh Mifune menghilang dari penglihatan para ninja.

"Mari, Jiraiya-dono. Saya antarkan anda dan yang lainnya ke ruangan masing-masing." Tukas Okisuke.


Malam menyelimuti Negara Besi, tapi buliran hujan salju masih tidak kunjung berhenti. Namun semua bukanlah hal yang asing bagi penduduk asli negara itu, mereka sudah terbiasa dengan iklim dingin negaranya. Beda halnya bagi penduduk luar, kebanyakan para pengujung akan merasa terggangu dengan iklim dingin yang dimiliki negara itu. Itulah penyebab kenapa Negara Besi tidak memiliki banyak pengunjung, meskipun merupakan salah satu negara tanpa konflik di Elemental untuk saat ini.

Akan tetapi semua penjelasan tadi sama sekali tidak berlaku bagi wanita yang kini duduk seorang diri di beranda kamarnya, meskipun dia bukanlah seorang penduduk asli Negara Besi. Wanita berambut merah itu mengabaikan dinginnya suhu sekelilingi, dan terus termenung mengingat semua penjelasan Pemimpin Samurai Negara Besi mengenai keberadaan putranya. Setelah lama melakukan pencarian, dan untuk pertama kalinya mendapatkan harapan untuk bertemu kembali dengan anaknya yang telah lama hilang, kini harapan itu juga harus dirampas.

Saat ini Kushina sama sekali tidak ingin berurusan dengan semuaminya, Namikaze Minato. Kushina tahu bahwa Minato mencintai keluarga dan anak-anaknya, tetapi suaminya itu akan sulit memutuskan jika harus memilih keselamatan antara Desa Konoha dan keluarganya. Jika bisa mendapatkan informasi lebih banyak mengenai dunia luar, ingin rasanya Kushina langsung mengarunginya demi menemukan anaknya yang telah lama hilang. Tetapi bila Minato mengetahui niatannya, dia tahu kalau ayah dari anak-anaknya itu akan bersikeras melarang rencananya.

Kushina mencintai Minato, namun terkadang dia juka sangat membencinya karena biasanya Yondaime Hokage itu terkesan lebih mengutamakan Desa Konoha dari pada keselamatan keluarganya. Itulah sebabnya saat pertemuan sebelumnya dengan Mifune, Kushina meminta Jiraiya untuk tidak memanggil Minato dengan alasan informasi yang belum tentu kebenarannya. Tidak perlu mendatangkan Hokage yang begitu sibuk dengan kesehariannya jika hanya menangani diplomasi mengenai informasi yang belum tentu akurat. Kushina ingin segera menemukan Naruto dengan informasi apapun yang didapatkannya tanpa harus menunda-nunda lagi sesuai keinginan suaminya, seperti dengan alasan salah satu ninja bawahannya diperlukan oleh desa dan lain sebagainya.

Jika memikirkan hal itu, terkadang Kushina justru bersyukur Naruto telah diculik karena putra pertamanya bisa terlepas dari rencana suaminya untuk menjadikan Naruto sebagai Jinchuriki dari Kyuubi 10 tahun lalu. Kushina adalah keturunan Klan Uzumaki, klan yang mengutamakan keluarga lebih dari apapun. Selama dirinya masih hidup, Kushina tidak tega dan tidak akan pernah mengizinkan kalau anak-anaknya memikul beban berat seperti dirinya, menjadi jinchuriki.

Diasingkan, dicela, bahkan disiksa... itu hanyalah sebagian kecil kehidupan keseharian seorang jinchuriki. Kushina masih beruntung bahwa status dirinya sebagai Jinchuriki dari Kyuubi benar-benar tersembunyi, jika tidak... dia yakin bahwa nasibnya tidak akan jauh berbeda dari kebanyakan para penyandang nama jinchuriki lainnya.

"Aku benar-benar seorang ibu yang tidak berguna! Apakah kau baik-baik saja di luar sana, Naru-chan?" Pikir wanita keturunan Klan Uzumaki itu. "Andai saja waktu itu... tidak, ini semua karena Kyuubi! Kalau saja..."

"Anda, Uzumaki Kushina?" Kushina tersadar dari gelut pikirannya saat mendengar suara merdu mengucapkan namanya. Dia bisa melihat seorang gadis muda cantuk berdiri di hadapannya sambil mengulas senyum.

Gadis itu mengenakan yukata ungu, dengan pengikat berwarna putih. Memiliki rambut ungu panjang yang tergerai hingga pinggulnya, mata ungu kemerahan, kulit putih, serta bibir merah yang mengulas senyum lembut. Tangan kiri gadis itu menggenggam erat ganggang payung yang melindunginya dari dinginnya biliran hujan salju.

"Ya. Ada yang bisa aku bantu?" Jawab Kushina sambil mengulas senyum hambar. Pasalnya saat ini dia sama sekali tidak bisa mengulas senyum seperti biasanya, pikirannya masih terus mengingat penjelasan Mifune mengenai keadaan putranya.

"Jadi kau wanita yang mengaku sebagai ibu Naru-kun?" Gadis tadi memandang tajam Kushina.

"Aku bukan mengaku, tapi aku memang ibu Naruto. Dan kau ini siapa?" Kini Kushina nampak geram, seseorang berani meragukan statusnya sebagai ibu dari anak pertamanya, Uzumaki Naruto.

"Aku Busujima Miya, calon ist..." Seketika Miya menghentikan perkataaannya, diiringi dengan perubahan ekspresi wajah yang menampakkan kesedihan. "Aku bukan lagi miliknya. Kenapa kau harus menghilang di saat aku membutuhkanmu, Naru-kun?"Pikir Miya.

"Huh?" Kushina tampak bingung melihat gadis bernama Miya tiba-tiba berhenti berbicara. Dia bisa melihat mata gadis itu memancarkan kesedihan. "Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa." Jawab Miya singkat. Setelah mengingat pembiacaraannya dengan ayahnya, Miya kehilangan semangat untuk melanjutkan niatannya mengenal ibu Naruto lebih dalam. Dia lantas melangkah pergi menininggalkan Kushina, bahkan tanpa berpamitan lebih dulu.

"Hei! Dari caramu memanggil putraku, aku yakin kau dekat dengannya. Bisakah kau menceritakan bagaimana hidupnya saat berada di sini? A-a-aku ingin mengenalnya, meskipun sedikit. Jika kau bersedia, aku akan sangat menghargainya. Selama ini, aku tidak pernah tahu bagimana kehidupannya. Aku... aku..." Kushina kini justru menitikan air mata. Dia merasa bersalah dengan semua yang terjadi pada Naruto. Hatinya terasa pedih, dan nyeri saat mengingat bagaimana kehidupan Naruto nantinya setelah ayah angkatnya meninggal menurut penjelasan Mifune.

Sedangakan Miya langsung menghentikan langkahnya saat mendengar nada suara penuh kepedihan dari ibu Naruto saat melontarkan permintaannya. Setelah itu dia memutuskan untuk kembali mendekati wanita berambut merah tadi, sambil mempersilahkan dirinya sendiri untuk duduk di samping Kushina.

"Naru-kun, merupakan orang yang baik. Dia memiliki sifat ceria, tetapi terkadang ceroboh. Dia pintar... tidak, jenius. Namun jarang mau menggunakan kepalanya untuk berfikir, karena dia bukanlah orang yang sabaran. Dia adalah pekerja keras, selalu berlatih sekuat tenaga demi memperkuat dirinya agar mampu selalu melindungi orang-orang berharganya. Perhatian, penuh kasih da-dan ci-cinta..." Tanpa terasa Miya mulai bercerita tentang Naruto kepada Kushina, tanpa memperdulikan didengar atau tidaknya. "Heh... mungkin itulah penyebabnya aku begitu mencintainya. Meskipun saat ini, kemungkinan kita untuk bersama tarasa mustahil. Kenapa kau harus menghilang Naru-kun? Andai kau tetap di sisiku saat ini, ayah bisa dengan mudah menolak lamaran itu." Batin Miya. Buliran bening nampak mulai mengalir membasahi pipi putih gadis yang tampak memasuki usia ke-13 nya itu.

"Miya-chan, kau baik-baik saja?" Kushina terlihat begitu khawatir melihat Miya tiba-tiba meneteskan air mata.

"Huh? Yah." Jawab singkat Miya.

"Lantas kenapa kau menangis?"

Sesaat Miya melebarkan matanya, lalu segera menghapus air matanya. "Aku tidak menangis, ini hanya salju yang telah mencair." Elak Gadis keturunan Klan Busujima itu.

"Oh?" Hanya itu yang keluar dari mulut Kushina seakan menerima penjelasan Miya, meskipun nada suara dan pandangan matanya tampak begitu jauh dari kata percaya. Tetapi sesaat kemudian, seringaian tipis muncul di wajah Kushina. "Jadi kau..."

"Naru-kun itu orang yang sangat mudah dikelabuhi meskipun pintar." Miya segera memotong ucapan Kushina begitu alisnya bekedut tanpa henti, karena itu merupakan radar kejahilan yang telah di bangunnya setelah lama berinteraksi dengan keseharian Naruto.

"Pu~pu~pu~" Kini Kushina terlihat kecewa sambil menggembungkan pipinya dan menggunakan matanya untuk melirik tempat lain seakan mengabaikan semua perkataan Miya.

"Fufufu~ jadi dari sini Naru-kun mendapatkan kepribadiannya." Miya kini tidak bisa menahan kikikannya.

Baik Miya dan Kushina tampak semakin dekat seiring dengan berlalunya malam di Negara Besi itu, dan interaksi keduanya dipenuhi tawa saat Miya menceritakan kisah lucu yang dilakukan Naruto selama tinggalnya di negara berbalut salju itu.

Miya menceritakan awal kedatangan Naruto di Negara Besi bersama Miyamoto Seiji, bahkan sampai petualangan-petualangan kecil yang dilakukannya bersama Naruto. Dia menyampaikan hobi, kebiasaan, makanan kesukaan, dan hal lain yang ingin diketahui Kushina mengenai Naruto. Meskipun begitu Miya merasa bahagia bisa mengingat kenangan-kenangan indah bersama orang yang dicintainya, karena tidak lama lagi dia harus berusaha melupakan Naruto, termasuk perasaan cintanya.

Kushina sendiri mulai merasa baikan, dan melupakan kalau sebelumnya dia telah begitu depresi setelah melakukan pertemuan dengan Mifune. Namun setelah mendengar cerita Miya tentang Naruto, dia benar-benar bisa tersenyum kembali karena mengetahui bahwa putranya telah hidup bahagia meskipun terpisah dari kedua orang tuanya.

Keduanya terus bercerita hingga larut malam, dan diakhiri dengan perpisahan saat Miya dijemput oleh ayahnya.

Tanpa disadari, keduanya merasa bahagia setelah berbagi cerita mengenai orang yang sama-sama mereka cintai.

"Naru-chan/kun, semoga kau baik-baik saja di luar sana." Batin kedua kaum perempuan itu bersamaan sebelum berpisah.


Mifune dan tamu ninjanya dari Desa Konoha kembali bertemu di ruang pertemuan. Sesuai janjinya, Mifune akan melanjutkan penjelasan yang ditundanya saat pertemuan kemarin.

"Mifune-dono, bisakan tolong anda sampaikan pria seperti apa yang telah mengasuh Naruto?" Kushina membuka kesunyian dengan melontarkan pertanyaan kepada Pimpinan Samurai Negara Besi karena sudah tidak sabaran.

"Ayah Naruto?" Mifune mengulas senyum lembut saat mengingat teman baiknya itu. "Dia merupakan sahabat baikku, pria dengan pendirian teguh layaknya katana yang melindungi diri, keluarga dan kepercayaannya. Seorang pria... bukan, seorang ayah yang rela mempertaruhkan segalanya demi melindungi anak tercintanya. Meskipun keras, tetapi memiliki cara tersendiri untuk menunjukan rasa cintanya. Yah... monster bagi musuhnya, tapi malaikat bagi orang-orang berharganya. Seorang ronin dari Keshogunan Wano, Miyamoto Seiji."

"Wano?" Jiraiya terlihat menaikkan alisnya sebelah, pasalnya setelah lama mengembara menjelajahi hampir keseluruhan wilayah Elemental, dirinya tidak pernah sekalipun mendengar nama negara/kerajaan yang dikatakan oleh Mifune.

Mengerti dengan ekspresi kebingungan Jiraiya, Mifune memutuskan untuk memperjelas perkataannya. "Negeri Wano merupakan salah satu kerajaan/negara yang berada di luar Elemental. Wano sendiri merupakan negara di bawah kekuasaan Keshogunan, dan merupakan negara independen yang terlepas dari pengaruh Pemerintah Dunia." Jelas Mifune sesuai dengan ingatannya saat bertukar pikiran dengan Seiji.

"Salah satu negara? Berarti di luar Elemental masih ada wilayah yang cukup luas. Dan apa maksud anda dengan negara independen maupun Pemerintah Dunia, Mifune-dono?" Tukas salah satu anggota Klan Hyuuga, Hizashi.

"Menurut penjelasan Seiji, wilayah di luar sana justru beberapa kali lebih luas dari pada keseluruhan Elemental. Aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya Elemental terpisah dari dunia luar, namun yang pasti pelindung yang menyembunyikan Elemental semakin melemah seiring berlalunya waktu. Saat pertama kali aku mendengar penjelasan Seiji, aku sangat sulit mempercayainya dan lebih meragukan semua penjelasannya. Tetapi setelah melihat sendiri adanya pelindung sesuai penjelasan Seiji, mau tidak mau aku mempercayainya. Pada saat peninjauan itu, Seiji mengatakan bahwa pelindungnya semakin melemah dibandingkan saat pertama kalinya dia memasuki Elemental. Dari semua kru kapal yang bersamanya mengarungi lautan saat itu, hanya dirinya seoranglah yang mampu keluar hidup-hidup setelah melewati pelindung itu." Mifune menghentikan perkataannya senjenak dan bisa melihat tamunya tampak termenung setelah mendengar semua penjelasannya. "Di laur sana, sebagian besar wilayah berada dalam kekuasaan Pemerintah Dunia dengan militer berupa Angkatan Laut. Tidak seperti Elemental yang sebagian besar merupakan daratan, di luar sana sebagian besar wilayahnya merupakan lautan, dan dipenuhi oleh orang-orang penuh jiwa petualang, Bajak Laut."

"Melihat sebagian besar wilayahnya bersatu dalam satu kesatuan di bawah Pemerintah Dunia. Jadi bisa dikatakan mereka telah mencapai masa perdamaian, ya?" Tutur Jiraiya sambil menyimpulkan senyum bangga.

"Perdamaian? Entahlah." Tanggap Mifune setelah mendengar perkataan Jiraiya. "Memang benar 170 lebih negara telah bersatu..."

"170 negara?" Jiraiya maupun rekan semisinya melebarkan matanya mendengar jumlah keseluruhan negara.

"...Ya. Mereka semua bersatu..." Mifune terus menjelaskan semua yang diketahuinya mengenai dunia luar berdasarkan penjelasan yang pernah didengarnya dari sahabat baiknya, Miyamoto Seiji.

Mifune menceritakan tentang kehidupan penduduk, pemerintahan dunia, bajak laut, angkatan laut bahkan ketidakadilan yang pernah ditemui Seiji selama perjalanannya sebelum sampai di Elemental. Dia juga menjelaskan tentang wilayah yang terbagi oleh 7 lautan, timur, barat, utara, selatan, Grandline, dunia baru dan lautan sunyi [Calm Belt]. Namun semua penjelasan Mifune hanya sebatas pengetahuan yang diterimanya dari Seiji dan beberapa berkas yang berhasil diambil oleh ayah angkat Naruto itu selama dalam perjalanannya.

"...Hanya itu yang aku ketahui, itupun semua bersumber dari Ayah Naruto." Tukas Mifune mengakhiri penjelsan panjangnya.

"Hem... ternyata masih banyak tempat yang belum pernah aku jelajahi." Gumam pelan Jiraiya. "Bagaimana ya spesies para gadis di sana? Aku harap mereka tidak kesepian tanpa kehadiran Jiraiya-sama. Hehehe..." Pikir pria berambut putih itu sambil tertawa mesum.

"Aku tertarik dengan kekuatan yang didapatkan dari memakan buah iblis." Tambah Hyuuga Hizashi.

"Kau benar, Hizashi-san. Itu sangat menarik." Timbal Hatake Kakashi.

Mifune yang mendengar tanggapan dari ketiga Ninja Konoha itu tiba-tiba merasa menyesal menyampaikan informasi milik sahabatnya, Miyamoto Seiji.

"Diam kalian bertiga!" Bentak Kushina yang merasa risih dengan ketiga rekan semisinya. Saat ini dia lebih tertarik dengan pria yang telah mengasuh dan membesarkan putranya. "Mifune-dono, terima kasih atas informasi-informasi yang telah anda bagikan. Tapi jika tidak keberatan, bisakan anda kembali menceritakan tentang orang yang telah mengasuh dan membesarkan putraku?Aku ingin mengenal seseorang yang telah memberikan kasih sayang kepada anakku, Naruto." Pinta Kushina penuh harap.

Mifune mengulas senyum tulus mendengar ketertarikan Kushina untuk mengenal anggota keluarga milik Naruto. "Tentu."

"Tunggu dulu, Kushina. Masih ada beberapa per..."

"Diam kau Jiraiya!" Bantak Kushina sambil memandang tajam guru suaminya itu.

"Baik!" Jabab Jiraiya dengan cepat setelah melihat tatapan penuh janji akan siksaan jika membantahnya.

"Aku datang ke sini untuk menemui anakku, dan sekarang harapan itu sirna. Jadi, setidaknya aku ingin mengenal Naruto lebih jauh... begitu juga dengan orang-orang yang telah mejadi bagian hidupnya." Jelas Kushina.

"Sebelumnya aku sudah menyampaikan sedikit tentang kepribadian Seiji." Mifune bisa melihat anggukan pelan dari Kushina. "Seiji sebenarnya merupakan keturunan bangsawan dari kediaman Miyamoto, dia adalah putra satu-satunya keluarga itu. Keluarga yang diberikan wewenang oleh pihak Keshogunan Wano untuk mengambil alih proses eksekusi/pemenggal dibawah negeri itu kepada orang-rang yang dianggap bersalah serta menggar kehormatan keshogunan. Namun semua kebahagian dan kedamaiannya sirna seiring dengan masuknya anggota baru dalam keluarganya, Miyamoto Sanada. Ayah Seiji, Miyamoto Kyoshiro telah dihasut oleh Sanada untuk mengusir Seiji tidak lama setelah pembantaian Angkatan Laut yang dilakukan oleh Samurai Wano karena memaksakan kehendaknya agar Keshogunan Wano bergabung dengan Pemerintah Dunia."Mifune mengulas senyum hambar saat mengingat wajah pedih sahabatnya yang telah mati itu saat menceritakan kisah hidupnya.

"Memangnya..."

"Entahlah, Seiji masih belum ingin menceritakan apa yang dilakukan saudara angkatnya itu sehingga membuat dirinya terusir dari kediaman keluarga Miyamoto." Tukas Mifune memotong perkataan Hizashi. "Seiji sempat bertahan tinggal di Negeri Wano selama beberapa tahun meskipun selalu berpindah-pindah. Hingga pada akhirnya Seiji juga harus meninggalkan negerinya karena saudara angkatnya mulai mengirim pembunuh bayaran untuk mengambil nyawanya, karena tidak ingin memberikan kesempatan padanya untuk membersihkan nama baiknya. Hingga pada akhirnya, dia memutuskan untuk melihat dunia, dan melakukan perjalanan mengarungi lautan luas. Dia tidaklah tertarik dengan kepemimpinan keluarganya, hanya menyukai pertarungan dan juga ingin mengasah lebih dalam teknik pedang miliknya..."

Mifune melanjutkan ceritanya mengenai Miyamoto Seiji. Petualangan-petualangan yang dilalui, tempat-tempat yang disinggahi, hingga awal kedatangannya di Elemental. Kisah pertama kalinya mereka bertemu, hingga keputusan Seiji untuk menjadi penduduk Negara Besi.

Mifune juga menceritakan pertemuan awal Seiji dengan Naruto, dan pertarungan sahabatnya itu dengan ninja Iwa maupun Kumo untuk melindungi Naruto setelah diculik dari Desa Konoha. Meskipun asal Naruto sebelumnya belum diketahui oleh Seiji maupun Mifune hingga kedatangan utusan Desa Konoha ke Negeri Besi baru-baru ini. Serta keputusan Seiji untuk mengadopsi Naruto sebagai anaknya sendiri.

Setelah itu Mifune menceritakan kehidupan kedua keluarga angkatnya itu saat menetap di Negara Iblis [Demon Country] selama tiga tahun, hingga harus melakukan perjalanan kembali setelah negara itu di serang oleh Mōryō. Lantas keduanya pindah ke Negara Ombak [Nami no Kuni] dan menetap selama dua tahun.

Mifune mengakhiri ceritanya dengan menceritakan kehidupan bahagia Seiji saat hidup di Negara Besi bersama Naruto sejak keponakannya itu berumur lima tahun. Dia tidak lagi melihat pria haus bertarung, maupun darah, tetapi justru melihat seorang ayah penuh kasih dan cinta.

"...keduanya berada di Negara ini sampai lima bulan yang lalu. Mereka kembali mengadakan petualangan untuk menambah wawasan Naruto dan juga pengalaman dalam bertarung. Entah mengapa sejak pertama kali Seiji menemukan Naruto, dia selalu mempercayai bahwa anaknya akan mengemban beban berat dikemudian hari. Sehingga dia berusaha memastikan bahwa Naruto akan siap menjalaninya jika waktunya tiba." Jelas Mifune.

Sejenak ruangan dipenuhi keheningan, semua masih memproses cerita panjang yang disampaikan Mifune.

"A-aku, apa menurutmu aku masih memiliki kesempatan untuk menjadi bagian keluarga dari Naruto, Mifune-dono?" Kushina memecah kesunyian dengan melontarkan pertanyaan yang diiringi dengan nada penuh harap.

Mifune memandang wanita keturunan Klan Uzumaki penuh pengamatan. "Kalau itu, hanya Naruto yang bisa menjawabnya."

"Ehm... Mifune-dono, melihat kedekatan kalian dengan Naruto... aku yakin kalau kalian juga ingin mencari dan menyelamatannya. Jadi, jika berkenan bisa kita bekerja sama, Desa Konoha dan Negara Besi, demi mendapatkan kembali Naruto?"

Pemimpin Samurai Negara Besi itu hanya termenung setelah mendengar tawaran Jiraiya. Dia tahu bahwa pencarian Naruto akan lebih mudah jika dilakukan dengan bantuan ninja, tetapi di sisi lain dia merasa khawatir dengan tindakan yang akan diambil oleh para ninja setelah berhasil menyelamatkan keponakannya itu.

"Naruto merupakan penduduk Negara Besi, dan salah satu samurai berbakat yang pernah terlahir." Ucap Mifune dengan tegas. "Dia bahkan sudah aku anggap sebagai anakku sendiri. Tapi Seiji memintaku untuk menjadi pamannya." Batinnya sambil mengulas senyum. "Kami akan selalu mendukungnya meskipun Desa Konoha tidak melakukan apapun untuk memastikan keselamatan Naruto. Jadi saat kalian mengajukan diri ingin membantu pelacakan salah satu samurai kami itu, kami dengan senang hati menerimanya. Namun masalah kembalinya Naruto ke Desa Konoha nantinya, keputusan itu berada di tangannya sendiri. Kalian tidak boleh memaksakan keinginan untuk membawanya hidup di Konoha! Jika hal itu terjadi, Negara Besi tidak akan berdiam diri. Serta jalinan yang kita miliki hanya kerja sama dalam pencarian Naruto, tidak lebih. Sebab Negara Besi akan tetap netral terhadap ketegangan yang terjadi antara Desa Ninja." Tambah Mifune.

Jiraiya bisa melihat tatapan tajam Mifune terpusat pada diri dan rekan-rekan semisinya. Dia hanya bisa menganggu pelan melihat keseriusan pimpinan samurai Negara Besi itu, terlebih lagi kedua pengawal yang berdiri di samping Mifune juga terlihat menyetujui keputusan pimpinannya tanpa keraguan sedikitpun.

Meskipun begitu, pencarian keberadaan Naruto tidaklah bertambah mudah karena wilayah yang dituju anak pertama muridnya itu justru lebih luas dan masih belum dikenal.

Namun yang jelas, akibat diculiknya Naruto... celah tabir pelidung Kontingen Elemental semakin lebar terbuka, dan hal itu barulah permulaan dari segalanya.


Grandline

"Ugh..." Gumam pelan seorang bocah berambut pirang. Hakama hitam yang dikenakan nampak compang-camping, tetapi tubuhnya terlihat begitu pucat. Saat kelopak matanya terbuka, iris biru bocah itu segera mengamati sekelilingnya setelah pengelihatannya terbiasa dengan pencahayaan ruangan.

Bocah itu berada dalam sebuah kamar berdindingkan kayu, dengan cayaha mentari yang masuk ke ruangan sebagai penerangnya.

"Hem~ kau sudah sadar?" Suara merdu menarik perhatian bocah tadi. Dia bisa melihat seorang wanita mengenakan kacamata, dan berambut pirang yang mungkin memasuki usia berkepala 20 itu tersenyum padanya, meskipun tatapannya penuh dengan kritisi. "Tetaplah berbaring!" Pinta wanita itu.

Bocah tadi hanya mengerjapkan matanya berkali-kali saat melihat wanita itu tidaklah sendirian, terlihat beberapa pria yang juga memperhatikan tindakan dirinya. "Setidaknya bolehkah aku meminta air minum?" Ucap bocah tadi sambil terus mengamati orang-orang yang berada dalam ruangan sama dengan dirinya.

"Ini." Wanita berambut pirang tadi langsung memberikan sang bocah segelas air bening.

Glup

Bocah tadi terlihat begitu lega setelah tenggorokan keringnya terbasahi kembali oleh air.

"Aku tidak ingin basa-basi. Siapa namamu, bocah?" Tanya seorang pria berpakaian setelan jas hitam dan mengenakan topi hitam sehingga menyembunyikan sebagian besar rambut keritingnya.

"Hehehe... kau tidak perlu sekeras itu, Lucci!" Tukas seorang pria yang memiliki rambut hitam panjang.

"Yoyoi... itu kurang sopan!" Tambah pria lain yang memiliki rambut paling panjang diruangan itu.

Sedangkan sang bocah masih terdiam sambil terus mengamati tindakan orang-orang di sekelilingnya.

"Bocah itu cuma diam saja chapapa... apa mungkin dia ketakutan melihat wajahmu, Lucci?" Tanya seorang remaja bertubuh gendut dengan mulut yang memiliki resleting.

"Tidak." Jawab Lucci singkat, setelah memperhatikan raut wajah bocah di ruangan itu. "Jadi, siapa namamu, bocah?" Dia kembali melontarkan pertanyaannya.

"Naru... Narut..." Bocah tadi berhenti sejenak sambil berusaha mengingat namanya. "GAHHH..." Tetapi tiba-tiba kepalanya terasa begitu sakit, kedua tangannya menarik dan meremas rambut kepalanya. Sampai dia melihat sebuah tatto berbentuk pusaran pada lengan bagian bawah tangan kirinya, dan tiba-tiba muncul ingatan tentang dirinya bersama seorang pria paruh baya berjenggot putih.

"Hahaha... Naruto, kau memang benar-benar jenius kalau berurusan dengan fuuinjutsu. Mungkin kau memiliki darah keturunan dari Klan Uzumaki. Mereka adalah klan yang dianugrahi kemampuan luar biasa dalam memahami fuuinjutsu. Aku ingin kau mendalaminya Naruto, setidaknya dengan itu kau bisa membantu Negara Besi, tempat tinggal para samurai ini." Itulah yang diucapkan pria paruh baya itu.

"Ugh..." Nyeri di kepalanya menghilang bersamaan ingatan yang berhenti. "Samurai?" Batin Naruto.

"Hei, kau baik-baik saja?" Suara merdu penuh khawatir kembali menyadarkan bocah tadi.

"Yah." Jawab bocah tadi, sembali mengulas senyum kepada wanita berambut pirang yang baru dikenalnya. "Namaku Naruto, Uzumaki Naruto."

Trang

Gelas berisi air yang digenggaman wanita tadi jatuh kelantai saat mendengar nama marga Naruto. Ruangan sesaat tampak hening, tak ada lagi suara setelah pecahnya gelas. Terkecuali suara angin dan air laut tempat kapal milik anggota CP-9 itu berlayar.

"Uzumaki, katamu?" Suara Lucci memecahkan keheningan diantara mereka.

"Ya." Jawab Naruto singkat. Meskipun raut wajahnya menampakkan kebingungan karena dia tidak ingat dengan kehidupannya sebelumnya, sehingga memperlihatkan betapa imutnya bocah berumur 10 tahun itu.

"Chapapa..."

"Yoyoi..."

"Lucci?"

"Kita harus membawanya pada Sensei untuk mengetahui kebenaran klaim anak ini. Pastikan dia hidup Kalifa! Setidaknya sampai bertemu dengan Sensei, Uzumaki Mikoto." Hanya itu yang diucapkan Lucci sebelum keluar dari ruangan.


~ Berakhir ~


Silahkan tinggalkan reviews!

Salam... Deswa.