Stalker
Chapter 8 : The Best
Aku menutup mulutku dengan sapu tangan yang kubawa, aku sangat berharap dengan ini kakak-kakak kelas berengsek tidak berperikemanusiaan itu tidak mendengar suara yang ditimbulkan dari batukku. Aku sakit sejak dua hari yang lalu, aku sangat menyesal menerima tantangan bermain di tengah hujan deras dari Gopal―setidaknya dia membayarku dengan pantas, lima puluh ringgit. Nenek menyarankan untuk beristirahat dan meminta izin pada sekolah untuk membiarkanku tidak mengikuti MOS tahun ini. Tapi aku tidak mau. Karena jika aku tidak mengikuti MOS tahun ini, aku akan mengikutinya tahun depan, dengan kata lain, bersama-sama dengan adik kelas.
Aku tidak sudih.
Yaya dan aku berbeda kelompok. Begitu pula dengan BoBoiBoy, Gopal dan Fang. Kami benar-benar terpecah-belah. Aku kembali menyimpan sapu tanganku pada tempatnya, dan kembali fokus dengan materi yang dibawakan oleh OSIS serta guru-guru yang bertugas. Tapi, bila aku disuruh memilih antara melawan Adudu si Kepala Kotak dengan duduk selama lima jam non-stop selama satu minggu berturut-turut dan mendengarkan omong kosong yang tidak akan kuturuti selama tiga tahun ke depan, maka aku akan memilih membunuh alien itu. Lima jam! Bokongku pegal karena duduk tak bergerak di tempatnya, aku bahkan tidak bisa merentangkan kakiku dengan leluasa karena ruang kosong antara kursiku dan kursi di depan mau pun di belakang sangat dekat. Ditambah lagi dengan kakak kelas yang hilir-mudik menatap wajah kami bak predator siap memakan makan malamnya, kami tidak bisa berkutik, bahkan susah bernafas.
Materi yang dibawakan guru itu selesai. Kami diberikan kudapan kecil-kecilan yang super irit dan segelas air mineral. Aku tidak percaya, mereka masih sempat memberikan kudapan kecil-kecilan untuk kami. Aku masih berterima kasih, hingga seorang dari para OSIS berdiri, dan berkata, "Kami beri satu menit untuk makan, jika dalam satu menit belum habis makanannya, kami hukum." Aku bersusah payah menelan kue yang alot dan butuh dorongan berupa air supaya bisa mendarat di lambung. Tapi, setidaknya aku bisa menghabiskannya. Aku mengedarkan mata ke selilingku. Gila, aku orang pertama yang menghabiskan kudapan, pikirku. Anak-anak lain masih mengunyah dan menelan paksa kue mereka. Ada beberapa gadis di pojok ruangan yang memakan kudapan dengan gaya bak seorang putri. Tentu saja mereka akan dihukum jika yang menghukumnya perempuan, tapi, berhubung mereka cantik, dan hanya ada kakak kelas laki-laki di sekitar mereka, sepertinya mereka tidak akan mendapat hukuman.
Setelah memakan snack secara maraton selama satu menit selesai, kami disuruh berkumpul di lapangan. Murid-murid yang tidak menyelesaikan kudapannya tepat waktu, disuruh suap-menyuap dengan lawan jenis. Aku mendengus pada sekumpulan anak laki-laki yang tersenyum mesum pada anak-anak perempuan yang malang yang tak terbiasa dengan makan-tak-kunyah-telan. Yah, salah mereka sendiri.
Kami sudah berkumpul di lapangan. "Sekarang kalian akan kami suruh untuk mencari kelereng di sekitar halaman sekolah. Barang siapa yang tidak menemukan sekurang-kurangnya dua puluh buah, akan kami beri hukuman." Pemuda yang disebut ketua OSIS itu menunjuk kotak kaca yang sudah ditutupi kain hitam. "Kalian harus mengambil koin emas di dalam kotak itu. Dan perlu kalian ketahui," dia berhenti, "isi kotak itu adalah kecoa," sambungnya. Tanpa diperintah lagi, kami lalu kocar-kacir mencari keberadaan kelereng di sekolah.
Tetapi, aku tidak kuat. Matahari sangat menyengat dan kakiku sudah bergetar. Aku melirik pada ketua OSIS, aku sadar dia sedang berdiskusi dengan seorang guru. Aku segera berbalik saat dia menatapku.
"Hei! Kau yang di situ!" Aku rasa seseorang memanggilku, karena tidak ada yang berbalik. "Iya, kak?" Aku sebenarnya tidak ikhlas memanggil gadis kecentilan di depanku ini dengan sebutan "kak." Dia tidak pantas.
"Jangan tinggal diam saja! Sekarang berapa kelerengmu? Cuman sedikit 'kan?! Baru satu 'kan?!" dia bertanya bertubi-tubi. Aku mendelik. "T-Tapi kak..."
"Dari tadi aku sudah memperhatikan gerak-gerikmu, dan jujur, aku tidak suka dengan gadis sok manis sepertimu."
Aku memasang wajah bingung dan kesal. Sejak kapan aku menjadi sok manis?
"Dan sekarang kau main mata dengan Fajar... Kau ini tidak pantas untuknya!"
Jadi, ketua OSIS itu Fajar. Meh, dia tidak terlalu tampan. Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya. Dan gadis di depanku ini harus belajar mengatur mulutnya. Ratu Lebah. Tentu saja Ratu Lebah. Aku mulai muak dengan perkataannya.
Dia menjambak rambutku dengan kasar. "Dengar tidak sih? Apa kau bisu?" Dia tertawa kasar dengan suara nyaring. Aku merasakan sakit luar biasa di kepalaku dan hatiku. "Dasar gadis murahan―"
"Sintia, berhenti. Dia tidak melakukan apa pun yang salah. Jadi tolong lepaskan rambutnya. Atau kau mau aku yang melepaskan tanganmu dari rambut," dia berhenti untuk berpikir, "rambut Ying. Jadi, tolong lepaskan." Gadis itu―Sintia―melepaskan cengkramannya.
"B-B-Baik, Fajar..." Dia berjalan menjauh ke teman-temannya dengan terburu-buru. Aku masih bisa mendengarnya menggerutu pelan selagi melintas di depanku.
"Maafkan dia. Dia memang orangnya begitu," kata pemuda di sebelahku. Aku menatapnya. Aku belum pernah melihatnya sedekat ini. "Oh, aku belum memperkenalkan diriku dengan baik. Seperti yang sudah kau dengar saat penerimaan siswa baru, aku Fajar, ketua OSIS. Aku mendapat informasi bahwa kau sakit. Kau tak apa?" Aku tersadar dari lamunanku, dan mengangguk pelan.
"Baiklah, kalau begitu kau kembali ke gedung olahraga saja. Aku akan informasikan kepada panitia MOS, mereka pasti mengerti. Lagi pula, nenekmu sangat mengkhawatirkanmu." Aku terkejut. Sudut bibir Kak Fajar tertarik. "Tadi nenekmu datang dan memberitahukan kami tentang keadaanmu. Tak apa, kami mengerti kok. Kau tidak perlu mengikuti kegiatan di luar ruangan. Kesehatan yang paling penting," katanya panjang lebar. Walau dia memakan banyak waktu untuk menjelaskannya, entah mengapa aku tidak keberatan.
Apa ini? Dalam novel-novel yang telah aku baca, ini yang disebut cinta pada pandangan pertama. Tapi itu tidak mungkin.
"O.K, Ying, aku rasa aku harus pergi dulu. Sampai jumpa lagi," ucapnya sopan. "Sampai jumpa lagi, kak." Kak Fajar berjalan meninggalkanku. Setelah dia sudah tidak ada lagi, aku berbalik dan menemukan Fang sedang menatapku. Entah mengapa tatapannya sangat… menakutkan?
"Ada apa?" tanyaku. Dia tersadar atas apa yang aku katakan dan kemudian menggeleng. "Boleh kuminta kelerengmu?" Aku mendengus.
"Kau menguping pembicaraanku?" Dia hanya menjawab, "Itu tidak penting. Kau tidak perlu repot-repot mencari kelereng lagi, jadi boleh kuminta kelerengmu?" Aku menggeleng dan menjewerkan lidahku.
"Tidak, kau harus berusaha sendiri." Itu kata-kata terakhirku sebelum meninggalkannya.
Sejak pertama kali aku bertemu dengan Kak Fajar, aku tidak pernah tahu dia akan menjadi orang yang sepenting ini dalam hidupku. Aku tidak pernah tahu, aku hanya berpikir aku akan "menyukainya" bukan "mencintainya."
Tapi benar apa yang dikatakan oleh orang-orang, kita yang merencanakan, tetapi Tuhan yang berkehendak. Aku jadi bertanya-tanya, apa yang Tuhan kehendaki selanjutnya setelah membuat Kak Fajar menyakitiku hatiku walau dia sepertinya tidak sadar melakukannya.
Aku benar-benar penasaran, sayang, orang penasaran memiliki nasib buruk.
Kadang, teramat buruk.
BoBoiBoy © Animonsta
Warning :
OOC, OC, AU, bahasa yang kurang dimengerti, humor garing, alur kecepatan, plot yang kurang dimengerti, typo(s)
[Alice]
Tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi ini. Hanya kesenangan dan menuangkan ide yang menumpuk di otak. Author sangat meminta maaf jika ide sama.
.
Happy Reading
Aku bertingkah-laku senatural mungkin. Berusaha tampak tegang seperti saat Fang menangkap basah diriku, dan sedih seperti saat Nenekku sakit. Aku bersikap seperti itu karena aku sedang bersembunyi di ujung lorong rumah sakit, dan berpura-pura menjadi salah satu kerabat dari pasien rumah sakit yang sedang mengalami hal buruk dalam hidupnya. Aku bisa melakukan ini, tapi tetap saja aku akan menunjuk Fang jika ada orang yang bertanya siapa aktor terbesar di sekolah. Saat dia dewasa nanti, aku sangat yakin dia akan mendapatkan Oscar.
Kak Fajar datang lagi hari ini, kali ini dia membawa bunga yang berbeda. Dandelion. Bunga itu mungkin tak secantik Mawar, atau pun seharum Melati, namun Dandelion memiliki arti yang mendalam. Memang, jika sekali ditiup ia langsung goyah, namun, itu harus ia lakukan supaya dia bisa melanjutkan keturunannya. Dia membawa kehidupan yang baru. Aku suka filosofi Dandelion.
Dan Kak Fajar memberikan bunga itu kepada Tiara.
Aku meremas telapak tanganku. Kak Fajar segera disambut dengan wanita yang sama seperti kemarin, aku rasa wanita itu adalah ibunya Tiara. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Jika aku berdiri di dekat pintu dan sengaja memasang kuping untuk mendengar apa yang mereka katakan, itu akan terlalu kentara. Dan aku tidak mau orang lain berpikir bahwa aku adalah seorang Penguping. Jadi, aku hanya bisa menunggu.
Satu jam aku habiskan sia-sia di rumah sakit ini. Aku bahkan mulai jenuh dengan lagu yang diputar di lobi rumah sakit. Begitu Kak Fajar keluar dari ruangan, aku segera menutupi wajahku dengan majalah yang tadi kubeli. Dia berdiri lama di pintu dan akhirnya berjalan juga.
Aku mengintip dari atas majalahku. Pintu kamar masih terbuka lebar, jadi aku bisa melihat langsung isi seluruh ruangan. Dan dengan cepat tubuhku menjadi kaku saat kedua manik kuning cerah menatapku dengan penuh rasa ingin tahu. Pada akhirnya, sepasang bibir tipis itu tersenyum lembut padaku.
Dadaku sesak. Dan aku hanya bisa mematung. Air ludah kutelan dengan susah payah.
Aku suka persaingan, persaingan sehat, tentu saja. Aku selalu bertekad dan selalu meyakinkan diriku bila jika orang lain bisa, mengapa aku tidak? Aku selalu bisa bersaing dengan Yaya, dewi sekolah, dan kadang bisa menang darinya, jadi mengapa aku tidak bisa mengalahkan Tiara? Itu pikiranku sepanjang malam, hingga aku melihat dirinya yang sebenarnya.
Dewi. Dewi adalah sebutan yang pantas untuknya. Aku tidak bisa bersaing dengan sosok sepertinya.
Dan Kak Fajar sepertinya juga menyukainya.
Aku berdiri dari bangkuku, dan berlari keluar rumah sakit, menuju rumah. Pandanganku kabur karena air mulai menggenang di mataku.
Sial, aku terlalu cengeng.
―s.t.a.l.k.e.r―
Namanya Tiara Amelia. Pernah tinggal di Pulau Rintis hingga akhirnya pergi meninggalkannya ke Kuala Lumpur. Dia harus melakukannya untuk tetap bertahan hidup. Penyakit yang dideritanya semakin hari semakin parah, tetapi dia masih terus berkomunikasi dengan Bintang mau pun Kak Fajar. Hingga telepon, surat-surat itu berhenti datang. Tetapi Kak Fajar masih menunggunya dengan setia, bak jikalau dia tidak melakukannya dia akan mati. Kadang-kadang, dia mengunjungi café yang sering mereka datangi bertiga, duduk di sana sepanjang sore, mengingat kenangan manis mereka.
Dan aku baru tahu ini alasannya datang hampir setiap hari.
Aku menendang botol bekas yang ada di jalan. Teman-temanku tidak bisa menemaniku pulang hari ini. Yaya sibuk dengan urusan sekolah, Gopal dan BoBoiBoy beralasan ingin membantu ayah dan kakek mereka karena ini akhir pekan.
"Banyak orang yang akan datang. Kakekku sudah tua, belakangnya sering sakit. Maafkan aku, Ying, aku janji lain kali akan menemanimu," BoBoiBoy berkata kepadaku sebelum pergi bersama Gopal. Fang? Dia menghilang begitu saja setelah lonceng pulang terdengar, hilang bagai angin malam yang dingin.
Aku menggigit bibirku. Dari kemarin aku belum bisa memberitahukan mereka tentang "penemuan terbaruku." Berbohong aku lakukan sepanjang hari ini, menutupi rasa sakitku. Fang sepanjang hari terus memperhatikan gerak-gerikku, sepertinya hanya para pembohong saja yang bisa merasakan orang lain berbohong. Sepasang netra hitam di balik kacamata miliknya menatapku seolah-olah melihatku berbohong sangat menganggunya.
Kejadian ini… Kejadian ini sama seperti saat sebelum aku bertemu Bintang. Membuatku frustasi dan terjaga semalaman, berdoa agar ini tidak pernah terjadi. Namun ini lain, aku tahu segalanya tentangnya. Tentang bagaimana perasaan mereka satu sama lain (Kak Fajar dan Tiara), dan alasan mengapa dia kembali ke sini, Kak Fajar sendiri yang mengatakannya sore itu. "Kondisinya sekarang semakin membaik. Dokter bilang dia sudah bisa kembali ke sini, Pulau Rintis. Tidak perlu perawatan di Kuala Lumpur lagi." Dan jika Tiara bisa semakin membaik, maka kemungkinan besar, semester depan dia akan masuk ke sekolah kami. Kak Fajar akan menembaknya di depan semua orang yang ada di sekolah, dan membuat aku, beserta berpuluh-puluh fangirls lain sakit hati.
Aku menendang tempat sampah tidak bersalah di depanku, dan sebagai hadiahnya, aku jatuh di antara tumpukan sampah yang menjijikkan. "Tempat sampah sialan, dasar penyimpan sampah berbau busuk tak punya harga diri!" aku mengutuk tempat sampah itu. Seorang ibu menutup telinga anaknya dan menatapku dengan jijik.
"Jangan dengar dia, Rikki, jika kau mendengarnya, besar nanti kau akan menjadi orang gila sepertinya," ibu itu menasihati anaknya dan menggandeng tangan anaknya dengan kasar, memaksanya meninggalkanku.
Aku menatap mereka. Aku tahu aku memang seharusnya tidak berkata seperti itu, dan wanita itu tak berhak mengatakan aku gila! Apa haknya?!
Aku menenangkan diriku, dan semakin tubuhku menjadi rileks, semakin banyak yang aku ingat tentang kejadian kemarin malam, setelah "melarikan diri" dari rumah sakit. Suara lembut Bintang mengangetkan tubuh kecilku. Aku bertanya padanya bagaimana dia mendapatkan nomorku dan mengapa dia meneleponku selarut ini.
Pada saat itu sudah pukul sepuluh malam.
Bintang meminta maaf padaku, dan mengatakan jawaban dari pertanyaanku, nomorku dia dapat dari Kak Fajar, yang di mana aku tidak terkejut sama sekali, hanya membuat suara agak pecah. Jawaban kedua membuat diriku yang lama tidak akan pernah kembali.
"Aku ingin memberitahukanku beberapa hal yang kutahu tentang Tiara. Tadi sore, aku melihatmu lari dari rumah sakit. Sebelumnya, aku melihatmu terus memandang kamarnya Tiara, jadi sepertinya kau berhak mengetahuinya, Ying," katanya serius. Mataku yang hampir ingin menutup segera terbuka dengan sempurna, mendengar seluruh penjelasannya.
"Tapi kau masih bisa menyukainya walau dia tidak membalasmu. Aku tahu sepupuku bodoh. Aku yakin kau bisa menyatakan perasaanmu." Itu kata-kata terakhirnya sebelum dia menutup telepon dan meninggalkan seorang gadis bernama Ying―aku―terdiam, lalu berbaring di tempat tidur, memikirkan semua yang telah terjadi.
Aku menarik nafas, berusaha untuk tidak menangis, tetapi semakin kuat aku berusaha untuk tidak menangis, semakin banyak air mata yang memanas di mataku. Aku sangat tidak ingin menangis di tengah jalan menuju rumah, itu sangat memalukan. Lalu sebuah sosok muncul dari belakangku dan aku segera berdiri.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku kasar.
Fang tersenyum. "Itu seharusnya pertanyaanku, apa yang kau lakukan di sini?" Penekanan suaranya menyadarkan keadaan di sekitarku. Sampah dari tempat sampah yang aku tendang tersebar di mana-mana, daun-daun kering, sisa apel, kaleng soda, dan berbagai macam barang aneh lainnya yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu.
Saat aku belum menjawab, dia kembali membuka mulutnya. "Aku tahu masalahmu dengan Fajar," katanya. "Aku punya informan," lanjutnya ketika melihat mulutku terbuka.
"Dan ada yang ingin aku bicarakan denganmu… berdua. Bisa kita pergi dari sini?" tanyanya. Dia sudah melampaui tinggiku, wajahnya yang terkena sinar matahari siang ditambah dengan efek keringat yang bercucuran secara perlahan di kontur wajahnya yang keras akan membuat seluruh gadis bersorak kegirangan dalam suka, tapi, meh, Kak Fajar yang terbaik.
"Untuk apa?" tanyaku. Dia menyorotiku. "Ah, Nona Ying pasti sangat sibuk beberapa hari ini sampai lupa tugas kita akan dikumpul besok. Tapi dia sangat beruntung, pelayannya yang setia dan mempesona ini sudah menyelesaikannya dan Nona bisa terima bersihnya saja." Aku muak dengan apa yang bibirnya keluarkan.
"Baik-baik, aku minta maaf, puas?"
Seringai muncul di bibirnya. "Tidak, aku bilang kau harus ikut aku. Aku tahu tentang Fajar-mu, dan aku bilang ada yang ingin kubicarakan denganmu, apa itu benar?" Aku mengangguk.
"Bisa kau menjadi sedikit tidak mengesalkan, Fang?"
Dia mengangguk. "Pasti, tapi kau harus membayar. Ayo ikut aku." Aku bingung dengan anak ini, aku mau dibawa ke mana? "Kita akan ke mana?" tanyaku sambil menyesuaikan langkahku dengan langkahnya yang panjang-panjang. "Restoran baru di dekat sekolah. Aku yang traktir."
Aku hanya ber-oh-ria padanya. Begitu tahu di mana tujuan kami berada, aku mulai melambat, aku tidak sudih berjalan di sampinya pria seperti Fang. Yah, mungkin dia―sedikit, mungkin mikro―menarik, karismatik, dan popular―aku masih ingat saat masa-masa di mana dia sangat menggilai bidang ini―tapi dia mempunya banyak kekurangan, sekali malah. Sombong, sok keren, pelit, cuek, tidak punya hati, tidak peka, miskin emosi selain terus menggerutu, aku bisa menyebutkan ini satu persatu, tapi akan makan banyak waktu. Jadi, aku terkejut saat dia berhenti berjalan dan menarik tanganku kasar, memaksaku berjalan di sampingnya.
"Aku tidak suka berjalan di belakangku, kau harus berjalan di sampingku," katanya dengan suara monoton yang sama. Aku menarik tanganku, dan mengelus pergelanganku, dia menghentaknya cukup kuat. "Memangnya kenapa?"
Dia tidak menjawab, malahan, dia berpura-pura tuli dan memasang wajah tembok seperti biasa. Tidak ada lagi percakapan setelah itu.
Tapi masih ada pertanyaan lain di kepalaku, bukannya rumahku dan Fang berlawanan arah? Oh, aku ingat, palingan dia ingin ke rumahku untuk "mendiskusikan" tugas yang dia buat "sendiri." Aku masih dapat bagian dalam tugas itu!
Hatiku kesal, dan wajahku dongkol tapi aku masih sempat memperhatikan tangan Fang. Dia terus saja menggenggam tangan kanannya.
―s.t.a.l.k.e.r―
"Kenapa kau dari tadi terus menatapku?" tanyaku di sela-sela makan siang traktiran Fang. Ini sangat jarang, yah mungkin ini pertama kalinya dia mentraktir orang lain! Dia berhenti menyuapi dirinya sendiri dengan daging ayam panggang.
"Aku tidak menatap, aku mengamati."
"Dan apa yang kau amati, jika aku boleh tahu?"
Dia menaruh siku kanannya di meja dan menumpuhkan pipi kanannya di telapak tangannya, persis seperti apa yang selalu ia lakukan sebelum menggodaku. Aku mempersiapkan diri secara fisik dan mental supaya tidak tersipu.
"Gadis gemuk tak tahu diri yang terlalu drama queen hingga tak tahu lagi di mana tempat untuk menyalurkan seluruh rasa dramanya hingga dia membuat drama di dekat tempat sampah yang baru aku kunjungi sekitar tiga puluh menit yang lalu."
Terkutuk siapa pun yang mengajar Fang untuk melantur. Aku rasa aku baru saja mengutuk Gopal. Dia tertawa pelan dengan nada yang sangat kubenci. Lalu dia mengeluarkan benda kecil dari dalam sakunya.
"Jaga ini baik-baik. Ini keluaran terbaru dengan memori lebih banyak dari keluaran sebelumnya." Tanganku menggapai benda itu, tetapi aku belum bisa meraihnya, Fang sudah menariknya kembali. "Jaga ini dengan hidupmu. Dan jangan buka file lain." Aku menyodorkan jari kelingkingku padanya.
"Aku janji." Dia masih terlihat enggan, tapi akhirnya memberikannya juga. Aku menggenggam flash disk berwarna putih bersih di tanganku, kemudian menyimpannya di tempat yang aman.
"Dan ini catatanmu yang kau lempar padaku sore itu." Aku tertawa kikuk padanya lalu mengambil buku biruku.
"Terima kasih, Fang," aku berusaha terdengar tulus. 'Toh, dia sudah merangkum, mengetik, dan aku hanya terima jadi? Aku harus berterima kasih padanya.
"Fang?" Aku memanggilnya saat dia tidak merespon balik.
Dia tersadar. "Maaf? Kenapa?"
Aku bertanya padanya, apa yang ingin dia bicarakan padaku, dan siapa informan yang dia miliki. Tapi dia menjawabnya dengan bermain-main, membuatku harus bersabar sekali lagi.
"Soal siapa informanku itu tidak penting. Kau juga tidak tahu siapa orangnya. Hal yang ingin kubicarakan denganmu? Oh, iya, jangan putus asa."
Aku tersedak dan Fang segera menyerahkan segelas air padaku. Dia menatapku dengan sedikit iba, ketika aku balik menatapnya, kedua oniks itu kembali datar. "Maksudku, jangan hanya karena gadis itu datang kau harus menyerah."
"Gadis itu punya nama: Tiara," aku menginformasikannya.
Dia mengibaskan tangannya. "Itu tidak penting. Kau harus tetap kuat, Ying, kau gadis terkuat yang pernah aku temui. Kau masih bisa menjadi sahabatku walau kau tahu aku sangat menyebalkan," ―aku sangat setuju dengannya―"walau sepertinya gadis, maksudku Tiara, mungkin lebih darimu, tapi kau harus berbuat yang terbaik 'kan?" Ucapan Fang benar-benar menamparku.
"Jadi aku gadis terkuat menurutmu?" Dia menaikkan kedua alisnya, bingung.
"Tentu saja! Tendanganmu sore itu membuat kedua 'bolaku' ikut tertendang."
Aku tertawa. Untuk beberapa hari ini aku akhirnya aku bisa tertawa lepas karena lelucon jorok Fang. "Kau menjijikkan, Fang! Aku tidak sekejam itu!" ucapku di tengah tawaku.
Senyuman terpatri manis di bibirnya. "Jika itu membuatmu tertawa, aku tidak segan melakukannya."
Fang mengantarku pulang dengan selamat. Aku agak terkejut bagaimana kami tidak bertengkar sepanjang jalan pulang. Sudah lama sekali aku tidak bisa bercanda gurau dengan santai bersamanya.
"Aku suka senyummu. Kau harus sering tersenyum," kataku di depan pintu rumahku. Dia mengangkat kedua bahunya, dan tertawa meledek. "Tidak, senyumku terlalu mahal untuk selalu diperlihatkan."
Aku tersenyum, "Terserah padamu, Fang. Dan terima kasih untuk makan siangnya. Aku sungguh menikmati percakapan kita sore ini." Aku membuka pintu rumahku dan segera masuk. "Yah, selamat sore, sampai ketemu besok di sekolah, Fang."
"Ying, tunggu." Aku berhenti. Fang menggaruk-garuk rambutnya. Dia mengeluarkan kotak kecil cokelat dengan pita merah. "Ini hadiah untuk Kontes Raja dan Ratu. Aku tahu ini sangat terlambat, tapi aku ingin kau memlikinya."
Aku menerimanya. "Terima kasih, Fang. Aku sungguh berterima kasih."
"Yah, tunggu apa lagi, silahkan dibuka. Aku harap kau suka."
Aku menarik pelan pita merah yang mengikat manis di tengah-tengah kotak. Aku tidak percaya apa yang berada di dalam kotak tersebut. Sebuah kalung perak dengan mata kalung Mawar Biru. Mataku menatap matanya. Ini kedua kalinya ia menghadiahkan sesuatu yang sangat aku inginkan.
"Dari mana kau tahu?" aku bertanya padanya.
Dia menaikkan kacamata yang sedikit melorot dari tempat dia duduk. "Aku memperhatikanmu melihat kalung ini terus menerus sore itu saat kau bersama Yaya. Aku tahu kau pasti merasa tidak cocok dengan kalung ini karena ini Mawar dan kau tidak punya satu hal pun yang mendekati Mawar―"
"Hei, aku merasa terhina di sini," aku memotong kalimatnya.
Dia menyeringai, kemudian melanjutkan, "Tapi warna sangat cocok dengan matamu. Dua-duanya sangat cantik, mempesona…."
Tunggu, apa Fang baru saja memujiku?
"Dan berbahaya… Jika saja―"
"FANG DAN YING BERKENCAN! MEREKA BERCIUMAN!" Ledekan kurang ajar tak dewasa berasal dari belakang kami. Kami segera menoleh ke belakang dan mendapati Gopal yang meledek kami dengan kedua tangannya yang ia mainkan bagai kedua boneka yang berciuman dengan bibir Bocah India itu yang dibuat semaju mungkin.
Kami berdua segera mengeluarkan setan yang terkurung dalam diri kami berdua, sayang, aku hanya bisa menyumpahinya karena sudah lewat dari jam keluar rumah yang telah aku tetapkan bersama Nenek dan anak kecil yang berkeliaran di kompleks. Aku tidak bisa bersumpah serapah lagi.
Tetapi, tetap saja anak ini akan MATI. Setidaknya dia akan menderita duluan oleh Fang, lalu giliranku besok pagi, dan kami berdua siangnya. Aku menyeringai memikirkan rencana menyiksa Gopal.
Fang segera mengundurkan diri dan mengejar Gopal yang sudah lari menyelamatkan diri. Mungkin, salah, PASTI dia sangat menyesal mengatakan hal itu. Kami tidak berkencan, kami hanya bergaul sebentar, layaknya sahabat seperti biasanya. Aku memasuki rumah dan membiarkan aksi kejar-kejaran terus terjadi.
Di luar sana Gopal berlari ketakutan dikejar oleh Fang, yang kini harus dipanggil Lord Evil. Satu hal yang membuat Gopal heran, memang panas matahari sore cukup menyengat, tapi semenyengatkah itu sampai pipi Fang merah seperti terbakar?
Gopal tak tahu, nilai IPA-nya buruk.
.
.
.
to be continued .
A/N :
Halo, Alice di sini untuk kesekian kalinya setelah menelantarkan fanfiksi ini lagi, selama hampir satu bulan. Anyways, singkatnya, karena sudah chapter 8, artinya Stalker sebentar lagi selesai! Sudah mulai kelihatan akhirnya 'kan? Yah, saya jujur mengharapkan reviewnya jadi genap 50 di chapter sebelumnya, tapi sepertinya jarang yang mau mereview, tak apalah. Saya terima silent reader kok, saya juga dulu mantan. Untuk Fancy Candy, itu memang over pelit, tapi saya juga pernah gini, pesan satu gelas kopi, tapi pakai Wi-Fi dari pagi sampai sore. Untuk Javanda28, baper yah? Artinya saya sudah bisa buat angst! Yah, buatnya pas lagi akhir-akhir musim baper (Februari) sih… Untuk Mey-chan 11, saya gabung saja dengan Mey-chan, iya terima kasih kembali, saya sangat menghargai pujian Anda, dan iya, saran Anda saya penuhi, malahan chapter ini full FaYi. Saya jadi curiga Anda bisa membaca pikiran dan plot saya. Mungkin karena puppy eyes Anda. Untuk Haruko1212, inilah penyemangat sebelum UTS. Gah, saya beruntung masih UTS dari pada UN? Saya pasti tambah stres, lalu dekat pada Tuhan, bertobat, lulus, lalu buat dosa lagi.
Cukup balas reviewnya, sudah, cukup sampai di sini. Saya sangat berterima kasih dengan kalian yang sudah membaca mau pun telah mereview fanfiksi ini. Sekali lagi, terima kasih.
Last word, review?
b.o.n.u.s.
Fang menghempaskan dirinya di tempat tidur. Lalu segera menutup kedua matanya, membiarkan seluruh memori terputar kembali di kepalanya.
Bintang adalah informannya. Dia bertemu dengan gadis itu saat dia membelikan Ying kalungnya.
"Untuk pacarmu?" katanya manis setelah memperkenalkan diri dan memberitahu bahwa dia telah melihat pemuda ini saat di festival.
Fang berpikir. Tak salahkan berbohong pada orang yang belum kita kenal dengan orang yang belum kita kenal. 'Toh, kalung ini memang pantas diberikan kepada "pacar." Fang bekerja keras untuk mendapatkannya. Dan pada akhirnya dia bisa membelikannya hari ini. Walau ini sudah lewat satu minggu lebih.
"Untuk pacarku. Matanya sesuai dengan mata kalungnya," Fang berbohong pada bagian pertama saja.
"Oh, jadi begitu, dia pasti salah satu wanita beruntung di dunia ini 'kan?" Fang mengangguk. Sepupumulah pria yang paling beruntung, asal kau tahu saja, aku hanya bisa memberi, tak dapat menerima, dia berpikir demikian.
"Aku senang berbicara padamu, tapi aku harus segera pergi, selamat tinggal Bintang." Fang segera pergi meninggalkan kasir.
"Tunggu, kau sahabatnya Ying 'kan?" Fang berhenti berjalan. Berbalik sama saja mengiyakan. Mengiyakan mereka hanya "sahabat." Mengiyakan mereka adalah "teman sejak kecil." Mengiyakan fakta bahwa semua yang dia bangun sia-sia. Mengiyakan Ying bukan miliknya.
Bintang tersenyum saat pemuda itu berbalik padanya. "Aku ingin memberitahukanmu tentang Fajar, mungkin akan membantu Ying. Kau sahabatnya 'kan?"
Selalu menginyakan perkataan orang lain akan membuat Fang gila.
"Aku gila," Fang berguman pelan. Bintang tak mendengarnya. "Maaf, apa yang baru saja kau katakan? Aku tidak mendengarnya."
"Iya, apa yang aku katakan adalah Ying itu gila mau bersahabat denganku. Jadi ada apa?"
Fang tahu, kadang dia harus menjawab "tidak" dan terus berjalan tanpa berbalik ke belakang. Walau sebagian dirinya mengatakan ini adalah keuntungan yang bagus, namun tetap dia merasa bersalah. Fang memang memperhatikan apa yang telah berubah dari Ying. Dia berakting dan berbohong di depan sahabatnya yang lain. Itu sangat mengganggu Fang. Bukan Ying yang asli. Bukan Ying yang ia cintai.
Tapi, semua rencana yang telah ia rencanakan baik-baik ternyata selesai juga. Yah, walau tidak semulus yang ia bayangkan, tapi berhasil dengan cukup memuaskan hatinya.
Kecuali satu.
Kalimat itu. Kalimat itu keluar lagi. Selama sisa hidupnya Fang selalu berusaha agar tidak mendengarnya lagi. Tapi kali ini dia dibawa suasana, dan kegembiraan karena telah mengajak Ying makan siang bersama dengan kedok "pinjam flash disk."
Cuman itu kekurangan kali ini. Cuman itu.
Fang mengerang frustasi, melemparkan bantalnya pada dinding dan kemudian mengubur wajahnya pada bantalnya yang lain.
Ingatan itu kembali teringat, wajah polos itu kembali teringat, lorong itu kembali teringat, tatapan itu kembali teringat, perasaan itu kembali terangkat, kalimat itu kembali terngiang.
"Terima kasih, Fang."
Dan Fang tidak bisa berbuat apa-apa.
