Saya bukan pemilik Naruto atau One Piece!
Heart Of Sword – Konspirasi!
Terlihat sebuah kapal besar mengapung di atas lautan yang terselimuti oleh kabut tebal, siang atau malan tidak bisa dibedakan karena awan hitam manampik terangnya cahaya mentari maupun bintang dan bulan. Kapal tersebut dipenuhi oleh jeritan penuh kesakitan, cairan berbau amis tampak berceceran, bahkan terlihat beberapa tubuh manusia tidak bernyawa tergeletak tidak beraturan di lantai kapal.
Seorang bocah berambut pirang tampak terselimuti oleh petir kuning, dengan kedua tangannya menggengam erat pedang yang terbuat dari petir. Hakama hitam yang dikenakannya terlihat penuh dengan sobekan, bahkan kakinya terlihat sama sekali tidak beralas. Sorot mata dingin tampak dari iris birunya, dengan wajah yang mengukir senyuman bengis.
"'Aku akan memastikan kalian tidak lagi hidup setelah mengambil nyawa ayahku', sudah aku katakan hal itu sebelumnya kan Sengo?" Tukas bocah itu.
Ayah?
"Aku tahu, Miyamoto Naruto." Jawab pria bernama Sengo. Dia lantas menyeringai sambil menodongkan pistol kearah Naruto, dan menembakkannya.
DOR
DOR
Naruto bisa melihat peluru mendekati tubuhnya, tapi karena lelahnya tubuh setelah bertarung dalam waktu lama dia sama sekali tidak bisa menggerakkannya untuk menghindar.
Splash
"Ugh..." Erangnya pelan ketika peluru menembus kulit pundak dan perutnya, meskipun tidak bisa masuk terlalu dalam karena kecepatannya berkurang drastis saat menyentuh petir yang melindungi tubuh kecil Naruto. Namun setelah itu, dalam sekejap petir kuning yang menyelimuti tubuhnya mulai memudar. "Ini?"
"HAHAHA... kau bisa dengan mudah menggunakan kekuatan Kapten Kaminari, tapi sayangnya kau masih belum mengetahui kelemahannya." Tawa lepas penuh harap keluar dari mulut Sengo. "TEMBAK!" Teriaknya.
BOMMM
BOMMM
Naruto bisa melihat semua meriam mengarah ketempatnya, namun tubuhnya benar-benar lemas untuk bergerak. Dalam kepanikan, dia terus berusaha sekuat tenaga menggerakkan badan untuk menghindarinya, tapi hasilnya tetap nihil. Bahkan kekuatan petirnya tidak lagi bisa digunakan.
"Andai saja ada katana." Gumam pelan Naruto.
Katana?
'Istirahatlah, biarkan aku yang menanganinya!' Naruto dikejutkan dengan suara bisikan yang entah dari mana asalnya.
"Siapa kau?" Naruto terus berusaha mencari sumber suara, dan mengabaikan bahaya yang semakin mendekatinya.
'Istirahatlah, biarkan aku yang menanganinya!' Sekali lagi bisikan dapat terdengar.
Merasa tidak ada pilihan lain karena menyadari kondisi tubuhnya, Naruto memilih menutup matanya dan mempercayai pemilik suara bisikan.
BOMMM
Saat Naruto kembali membuka matanya, kapal yang dinaiki tampak hancur berkeping-keping. Dia sama sekali tidak melihat adanya orang yang selamat dari ledakan sebelumnya terkecuali dirinya. Tidak berselang lama, pandangannya mulai mengabur, lantas tubuhnya jatuh meninggalkan pijakan kecil kakinya.
BYURRR
Naruto merasakan tubuhnya semakin lemas, bahkan tidak lagi mampu menggerakkan jari-jari tangannya. Tubuhnya terasa dingin seiring dalamnya dia tenggelam di lautan, bahkan pandangannya mulai menggelap.
"Aku sudah lama menunggumu, Uzumaki muda!"
Kalimat yang diucapkan dengan suara feminim merdu itu memasuki telinga Naruto sebelum napasnya berhenti, dan kesadaran menghianatainya.
Mata biru terbuka dan seorang pemuda lansung terbangun dari pembaringannya. Napasnya memburu, layaknya seseorang yang baru saja melakukan aktivitas berat dan keringat dingin membasahi dada bidang telanjangnya. Seluruh tubuhnya gemetar dan dia bisa merasakan adrenalin mulai meninggalkan sistemnya, menyisakan dirinya dengan rasa lemas dan lelah.
"Mimpi, ya?"
Kini dirinya mulai tenang dari mimpi buruk, lantas menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan dan mengikatnya ponytail. Dia menggelengkan kepalanya dan mendesah saat merasakan selimutnya lembab oleh cairan keringat. Dia akhir-akhir ini sering bermimpi, tapi anehnya semua mimpi terasa begitu familiar, seakan pernah dialaminya.
Melirik jam di meja, dia lihat masih begitu dini – baru jam 4.00 – membuatnya mendesah kembali. Dia benar-benar sudah terbangun, meskipun masih merasa lemas dan lelah, dia tidak yakin bisa cepat kembali tertidur.
"Lebih baik aku segera bangun dan latihan, sebelum Pak Tua Mikoto ngomel lagi." Dia bergegas merapikan ranjangnya, lantas membersihkan diri dan berganti pakaian. Dia membutuhkan waktu 20 menit untuk menyelesaikan rutinitas paginya.
Berjalan meninggalkan kamarnya, dia terus memikirkan mimpi-mimpi di tudurnya. Dia merasa tidak asing dengan mimpinya, seakan-akan bagian pengalaman yang pernah dilakukannya.
Kemungkinan dugaan itu benar sangatlah besar, pasalnya dia terkena amnesia tiga tahun lalu. Sedangkan saat ini umurnya memasuki tahun ke 13, sehingga menyisakan 10 tahun dalam hidupnya tanpa kejelasan. Meskipun dia mengetahui sebagian besar cerita hidupnya berdasarkan buku harian yang tersegel pada segel di lengan kirinya, tetap saja dia ingin mengetahui keseluruhan kisahnya. Yah, segel. Berkat bantuan Pak Tua Mikoto dia bisa mengetahui maksud di balik tatto di lengan kiriya.
Menurut buku harian, namaya Miyamoto Naruto, berasal dari Negara Besi, Negeri Para Samurai di Elemental. Ada beberapa gulungan lain selain buku harian yang tersegel, tapi sama sekali tidak membantu untuk memulihkan ingatannya.
WUSH
Terdengar suara ayunan bokken di sebuah tanah lapang. Naruto kini tengan mengayunkan sebuah bokken setelah selesai melakukan pemanasan dengan berlari mengitari kawasan tanah lapang seluas 2 hektar sebanyak 50 kali. Tanpa disadari, Naruto mengulas senyum tipis saat mengayunkan bokken-nya meskipun tubuhnya kini basah kuyup oleh keringat.
"Kau menikmati latihanmu, Naruto." Suara seorang pria menyadarkan Naruto dari konsentrasinya. "Aku memperhatikanmu akhir-akhir ini sering berlatih menggunakan bokken."
"Benarkah?" Tanya Naruto sambil menghentikan kegiatannya. Dia memberikan semua perhatiannya kepada pria tua di dekatnya, seorang pria yang juga sama dengan dirinya keturunan Klan Uzumaki.
Pria yang menghampiri Naruto adalah Uzumaki Mikoto. Pria Tua memasuki usia ke 68, memiliki rambut jabrik putih yang dimasa mudanya berwarna merah, kulit putih serta mata berwarna kuning. Pria tua yang memiliki tinggi 185 cm itu merupakan adik dari pemimpin Desa Uzushiogakure sebelum runtuh dalam Perang Dunia Shinobi ke-2, Uzumaki Makoto. Oleh dunia, Uzumaki Mikoto dikenal sebagai Red King/Aka no Ō.
"Aku tahu kau tertarik menggunakan pedang layaknya kebanyakan Uzumaki, tapi kenapa baru sekarang kau terlihat serius dan menikmatinya?" Tukas Mikoto sambil menaikkan alisnya sebelah.
"Hem..." Naruto termenung sejenak begitu mendengar ucapan Mikoto. "Entah kenapa saat tanganku menggengam bokken atau katana, aku bisa merasa begitu aman."
"Ho..." Mikoto kini terlihat begiu tertarik mendengar alasan pria muda yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri, atau lebih tepatnya cucu melihat dari usia yang dimilikinya.
Meskipun sudah memasuki usia ke-68, Mikoto tetap belum memiliki keturunan. Dia sama sekali tidak tertarik dengan wanita semenjak kematian istrinya bersamaan runtuhnya Desa Uzushiogakure. Istri Mikoto bernama Kushinada dan merupakan wanita tercantik yang pernah ditemuinya, memiliki rambut panjang sepinggul berwarna perak, kulit putih, serta mata berwarna biru. Istrinya merupakan seorang miko Klan Uzumaki, dan meninggal bersamaan dengan anaknya yang masih dalam kandungan.
Semenjak saat itu, Mikoto sama sekali tidak memiliki niatan lagi untuk menikah ataupun menjalin kasih dengan wanita. Sebenarnya dia datang di dunia luar melewati pembatas Elemental bersama dengan keponakannya, tetapi terpisah begitu melewati pelindung pembatas karena hancurnya kapal yang dinaiki keduanya. Namun beberapa tahun kemudian dia dikejutkan oleh kemunculan poster bounty milik keponakannya itu, padahal dirinya sudah memiliki jabatan tinggi di jajaran prajurit milik Pemerintah Dunia.
"Meskipun begitu, terkadang aku masih merasa bahwa ada yang kurang." Mikoto tersadar dari lamunannya begitu mendengar suara Naruto.
"Kurang?" Mikoto kembali menaikkan alisnya sebelah melihat ekspresi penuh keseriusan Naruto.
"Yah, saat tangan kananku menggengam bokken atau katana, tangan kiriku seakan merindukan sesuatu dan ingin menyentuhnya kembali." Jelas Naruto sambil menampakkan ekpresi frustasinya.
"Hem... atau perlu aku tambah menu latihanmu untuk memperdalam teknik berpedangmu?" Tanya Mikoto sambil menyeringai sadis.
"Tidak, tidak. Ini hanya hobi kok... yah, hobi. Hahaha... jadi, kau tidak perlu repot-repot membanuku Pak Tua. Hahaha..." Naruto langsung melangkah mundur begitu melihat seringai Mikoto.
Meskipun dalam keseharian semua orang mengenal Mikoto sebagai seorang pria pemalas, tapi semua akan berubah saat seseorang mengucapkan latihan.
Semenjak pertemuan Naruto dengan Mikoto 3 tahun yang lalu, hari-harinya berubah menjadi penyiksaan saat berurusan dengan latihan bersama pria tua itu. Namun ketika di luar latihan, pria itu menghabiskan waktunya untuk tiduran. Tetapi berkat pria tua itu pula Naruto dapat mengusai rokushiki sejak tiga bulan yang lalu. Meskipun begitu Naruto masih belum diizinkan untuk masuk dalam jajaran anggota CP-9, karena Mikoto menganggap latihan miliknya masih belum selesai.
Memang benar adanya, Naruto sudah menguasai rokushiki. Namun dia masih belum diakui menguasai teknik-teknik ninja yang diajarkan oleh Mikoto, terlebih lagi teknik pengobatan/kedokteran yang memerlukan kontrol chakra tingkat tinggi. Dari keseluruhan teknik ninja yang sangat mudah dikuasainya hanyalah Fuuinjutsu dan Kentaijutsu [Gabungan Kenjutsu dan Taijutsu] serta penggunaan Dojutsu miliknya.
"Oh..." Mikoto menatap Naruto yang masih tertawa nerfes untuk sejenak.
WUSH
Naruto langsung menghentikan tawanya saat Mikoto menyerangnya dengan sebuah kunai yang terlapisi oleh chakra angin dan nyaris memenggal lehernya.
"Oi, apa maksudmu itu pak tua?" Bentak Naruto sambil mengambil jarak dengan Mikoto.
"Hem? Aku kira kau ingin berlatih menggunakan pedang, jadi aku langsung menyerangmu dengan pedang angin. Apa ada yang salah?" Ucap Mikoto dengan santai.
"Aku tidak pernah menyetujuinya!"
"Memangnya musuhmu akan meminta persetujuanmu saat menyerang?" Mikoto kembali bergerak mendekati Naruto dan mengayunkan pedang anginnya.
TRAK
Naruto kali ini menangkis serangan Mikoto dengan bokkennya yang juga terlapisi oleh chakra angin. Tapi sesaat kemudian bokkennya berhasil didorong kesamping oleh Mikoto, dan Naruto harus menangkis tendangan keras kearah pinggul dengan lengannya sehingga mendorongnya menjauh dari lawan.
Keduanya selanjutnya terus beradu pedang, menyerang, bertahan, menusuk bahkan melepaskan gelombang chakra angin dari ayunan pedang masing-masing. Tetapi keduanya masih belum ada yang terluka, sehingga mereka memutuskan untuk menambah ritme serangan. Mempercepat pergerakan mengunakan soru maupun shunsin, diikuti tendangan maupun tinjuan dari tangan yang bebas.
"Tsk... kau masih kuat juga di usia yang sudah berkepala 9, Pak Tua!" Tukas Naruto sambil mundur untuk mengambil jarak kembali.
Twich
"Aku baru berkepala 6, Bocah!" Urat tebal muncul di pelipis Mikoto.
"Hem... kepala 6 akan menjadi 9 setelah aku selesai menendang pantatmu, Pak Tua!"
Twich
"Kau, menendangku? Dalam mimpumu."
'Rankyaku'
Melihat Mikoto melepaskan serangan Naruto hanya tersenyum. "Kau tidak takut tulang tua-mu patah, Pak Tua?" Tukasnya sambil bergerak membalas serangan pria tua tadi.
'Rankyaku'
Twich
"Kalau begitu aku akan menyerang tanpa memaksa tulangku!" Geram Mikoto sambil menujuk Naruto menggunakan jari telunjuk kirinya.
'Blood Shot'
Cairan merah, atau lebih tepatnya gumpalan darah keluar dari jari Mikoto dengan kecepatan tinggi menuju kearah Naruto.
'Lightning Armor'
Berkat armornya, Naruto bisa bergerak lebih cepat dan menghindari serangan bertubi-tubi Mikoto.
'Blood Shot'
"Kenapa kau tidak mengganti serangan? Sudah jelas tidak ada yang bisa mengenaiku." Tukas Naruto pada Mikoto sambil terus menghindari gumpalan darah.
"Saat masih muda, aku ingin menjadi seorang Penembak Jitu [Sniper]." Jawab Mikoto dengan wajah bosan.
Twich
"ITU HANYA KARANGANMU, KAN!" Teriak Naruto penuh emosi.
"Bisa jadi. Siapa yang tau?" Balasnya dengan nada penuh kemalasan.
"Kalau kau tidak tahu, terus itu tadi mimpinya siapa?" Bentak Naruto. "Kalau begitu, kita lihat siapa yang paling jitu."
'Lightning Blast'
Petir kuning berukuran besar keluar dari telapak tangan Naruto menuju kearah Mikoto.
BOMMM
"Oi, itu bukan peluru milik sniper. Lebih mirip dengan meriam." Tukas Mikoto melihat hasil ledakan serangan Naruto.
"Sniper juga tidak menggunakan darah sebagai peluru, Pak Tua." Bentak Naruto penuh emosi, tapi sesaat kemudian matanya melebar begitu menyadari sebuah sentuhan terasa di pundaknya.
"Aku menyentuhmu!"
'Raijin Mode'
Naruto menyilangkan kedua tangannya yang diluruskan ke depan, sehingga pada punggungnya muncul petir kuning membentuk lingkaran dengan tiga koma yang terpisah berada di garis lingkaran. "Aku harus menaikkan aliran petir dalam tubuhku agar pak tua itu sulit mengendalikan darahku." Pikirnya.
"Ho..."
'Crashing Blood'
"AHHH..." Teriak kesakitan Naruto begitu tubuhnya terasa seperti di iris-iris, tetapi dia terus berusaha menangkupkan kedua telapak tangannya. Lantas menengadahkannya ke atas, diikuti oleh petir berukuran besar keluar dari tubuhnya menuju kelangit mengikuti lengannya yang menengadah.
'Dreaded Lows'
'Judgment of Raijin'
"Ugh..." Tubuh Naruto terjatuh dengan wajah yang nampak begitu pucat, sedangkan pandangannya mulai mengabur.
Zlast
Terdengar suara gemuruh dari langit, dan saat Mikoto mendongak keatasnya dia hanya bisa melebarkan matanya melihat petir berukururan puluhan meter mendekatinya dengan kecepatan tinggi.
BOMMM
Petir itu menghantam telak tubuh Mikoto.
Naruto yang melihat serangannya telak mengenai lawannya menyeringai puas, tapi beberapa saat setelah petir menghilang dan menampakkan Mikoto keluar dari kubangan luas, dia harus terkejut karena pria tua itu sama sekali tidak memiliki luka.
"Ka-kau... bagaimana bisa? Da-rah lemah terhadap petir." Gumam pelan penuh derita Naruto.
"Kau lupa akan chakra elemen anginku, Naruto?" Mikoto menatap Naruto dengan serius. "Terlebih lagi kau belum pernah menggunakan haki."
"Tsk..." Itulah suara yang keluar dari mulut Naruto sebelum pandangannya mengelap.
"BHAHAHA... kau masih 100 tahun lagi baru bisa menandingku Pria Ingusan! Uhuk... uhuk..."
Tawa keras Mikoto menambah rasa sakit Naruto. "Mana latihan pedangnya?" Pikirnya sebelum kesadaran meninggalkan tubuhnya keseluruhan.
Melihat Naruto sudah tidak sadarkan diri, Mikoto segera membawa Naruto menuju laboratorium untuk menjalankan rencananya. Sambil mengembalikan keadaan darah Naruto menjadi sedia kala, dia masih belum siap melihat bocah pirang di pundaknya itu meninggal.
"Kisuke, apa semuanya sudah siap?" Tanya Mikoto pada pria berambut pirang yang berada di ruangan sam dengannya.
"Ya." Jawab Kisuke. "Tapi, apa anda yakin? Biri – Biri no Mi merupakan Buah Iblis cukup kuat, terlebih lagi kalau penggunanya bisa mengeluarkan semua potensi atau bahkan membangkitkannya. Anda sudah melihat sendirikan kemampuan Naruto saat menggunakan buah iblisnya, dan itu belumlah semua kemampuannya dikeluarkan."
Kisuke merupakan teman baik Mikoto. Dia memiliki rambut pirang bergelombang sebahu, bermata biru, memiliki kulit putih dan tinggi 180 cm. Kisuke mengenakan baju laburatorium berwarna putih, serta celana hijau muda. Dia merupakan dokter yang diselamatkan Mikoto setelah berhasil melarikan diri dari Kerajaan Drum.
"Aku yakin. Naruto adalah ninja. Teknik membunuh lebih utama dari pada penghancur yang belum terjamin mematikan. Aku memiliki buah iblis cocok untuknya. Buah yang mengerikan, sama halnya dengan buah iblis milikku." Tukas Mikoto. "Waktuku untuk hidup tinggal sedikit, Kisuke. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia terbekali oleh kekuatan yang bisa melindunginya lebih baik. Aku tahu apa apa jadinya dengan tempat ini setelah kematianku."
Benar adanya bahwa Mikoto tidak lagi memiliki waktu lama untuk hidup. Boleh saja dia memiliki regenerasi tinggi dan chakra monster seperti anggota Uzumaki pada umumnya, namun Mikoto tetap tidak bisa terselamatkan dari penyakit yang dideritanya.
"Baiklah kalau begitu. Tapi apa anda sudah memberitahukannya pada Naruto?"
"Tidak perlu." Jawab Mikoto singkat.
Kedua pria itu lantas langsung mengerjakan rencananya. Membunuh Naruto untuk sementara waktu agar tubuhnya melepaskan buah iblis Biri – Biri no Mi yang pernah dimakannya menggunakan obat/serum buatan Kisuke dan Mikoto.
Mikoto sudah merencanakan hal ini semenjak satu tahun lalu setelah melihat kemampuan buah iblis milik Naruto yang kurang efektif untuk melindungi dan menyerang. Setelah setahun lamanya melakukan pencarian, akhirnya dia menemukan buah iblis tepat untuk cucu angkatnya itu. Sehingga saat ini dia melakukan operasinya. Operasi yang juga pernah dilakukan pada dirinya sendiri, untuk menghilangkan kekuatan Mera -Mera no Mi miliknya dan mengizinkan dirinya untuk memakan buah baru, Chi – Chi no Mi.
Meskipun Mera -Mera no Mi telah mengantarkan Mikoto sebagai seseorang yang dikenal sebagai Red King/Aka no Ō, dia justru merasa kurang pas dengan profesinya sebagai seorang pembunuh.
Operasi mati sementara ini hanya diketahui oleh Kisuke dan Mikoto, keduanya berhasil menciptakan obat/serum yang bisa menghentikan detak jantung untuk sementara waktu. Sehingga mengakibatkan pasien mengalami mati suri, menginzinkan buah iblis yang dimakan sebelumnya meninggalkan tubuh pemakan buah dan kembali bereinkarnasi.
"Injeksi serum, mulai!" Ucap Kisuke dan Mikoto bersamaan.
Seminggu kemudian
Kelopak mata yang menyembunyikan iris biru mulai terbuka. Pemiliknya langsung mengamati sekelilingnya, memastikan keberadaan dirinya. Otaknya berusaha mengenali sekelilingnya, dan mengingat kejadian terakhir dalam hidupnya sehingga menyebabkan dirinya berada di ruanggan yang ditempatinya sekarang.
"Oh, kau sudah bangun Naruto? Uhuk..." Suara seorang pria menghentikan aktifitas Naruto.
"Hem?" Naruto kini tengah ditemani oleh Mikoto. "Dimana ini?"
Naruto terlihat bingung, pasalnya tempatnya berada tidak seperti biasanya saat dia terbangun dari pingsannya setelah bertarung melawan Mikoto.
"Kita di laboratorium..."
"Heh? Memangnya apa yang terjadi..."
"Naruto!" Bentakkan Mikoto berhasil menghentikan rentetan perkataan Naruto. "Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Aku rasa, sekarang merupakan saat yang tepat untukmu mengetahui kebenaran tentang Klan Uzumaki."
"Kebenaran?" Naruto memiringkan kepalanya. Otaknya berusaha memproses informasi dari Mikoto secepatnya, meskipun terkadang harus loading lama karena hanya memiliki 'prosessor' pas-pasan.
"Yah. Sebelum kepergianku meninggalkan Elemental, aku sempat menyelamatkan sebagian besar rahasia klan saat runtuhnya Desa Uzushiogakure. Awalnya aku mengikuti sebagian besar anggota lainnya yang berhasil keluar dari pembantaian, bersembunyi di desa lain. Tetapi setelah persembunyianku pernah diketahui oleh Ninja Iwagakure dan hampir merenggut nyawa keponakanku, aku memutusakan untuk mencari solusi lain. Solusi itu keluar setelah aku mempelajari lebih lanjut beberapa gulungan rahasia peninggalan klan." Mikoto menghentikan perkataannya sejenak, lantas melemparkan sebuah gulungan pada Naruto.
Tap
Saat Naruto membaca isi gulungan itu, matanya semakin melebar seiring banyaknya kalimat yang dibacanya.
.
.
.
"I-ini..."
"Menjelaskan tentang masa lalu Klan Uzumaki, Kontingen Elemental, Dunia, dan awal munculnya konsep chakra sebagai senjata." Tukas Mikoto dengan geram. "Itulah sebabnya aku memutuskan untuk meninggalkan Elemental. Selain karena sejarah, aku juga ingin melihat secara langsung dunia yang telah menghianati Klan Uzumaki dan Ootsutsuki Kaguya."
"Kalau terbebas dari kejaran ninja?"
"Itu hanya nilai tambah. Bhahaha..." Tawa penuh canda keluar dari mulut Mikoto.
"Bagaimana dengan keluarga kita yang di luar sini? Apakah mereka masih mengenali dan menganggap kita sebagai keluarga?" Tanya Naruto yang kembali serius.
"Tidak. Jangankan menganggap kita sebagai keluarga, kebanyakan dari mereka justru tidak mengetahui maksud inisial tengah namanya." Jawab Mikoto dengan nada penuh kesedihan.
Naruto bisa melihat raut wajah penuh kesedihan dari pria tua di depannya.
"Tapi harapan di sini tidak sepenuhnya hilang, karena ada dari mereka yang mencatat semua sejarah. Kejadian-kejadian penting masa lalu setelah terpisahnya Elemental dari dunia luar, mereka cantumkan dalam Poneglyphs dan Rio Poneglyphs. Itulah sebabnya aku membiayai dan mendukung semua usaha Ohara untuk menguak rahasia Poneglyphs, sedangkan aku mengurus serta menggali informasi dari Pemerintah Dunia dengan menjadi agen mereka." Kesedihan kembali menyelimuti wajah tua Mikoto begitu mengingat Ohara.
"Jadi kau..."
"Aku sama sekali tidak memiliki kesetiaan pada Pemerintah Dunia. Terlebih lagi setelah melihat tindakan dan sifat keturunan ahli waris 20 raja-raja penghianat itu."
Otak Naruto kembali memproses infomasi sebelumnya, sebelum matanya melebar saat data hasil pemprosesan keluar pada pikirannya. "Jangan katakan kalau sebagian besar dari anggota CP-9..."
"Merupakan anak-anak yang berhasil aku selamatkan dari Buster Call atau lebih tepatnya pembantaian yang dilakukan Sakazuki di Ohara. Tapi sayangnya aku tidak bisa melindungi anaknya Olivia, karena dia sendiri mengaku bisa membaca Poneglyphs di hadapan para marinir dan anggota CP-9 terdahulu." Jelas Mikoto.
Naruto terdiam setelah mendengar penjelasan Mikoto, lantas perhatiannya kembali pada gulungan di tangannya. Dia menjadi semakin tertarik membaca sejarah Klan Uzumaki, tapi juga semakin geram saat mendapati kejadian yang sangat dibencinya, penghianatan.
"Aku sulit mempercayainya." Gumam Naruto pelan. "Kaguya-hime dihianati oleh kedua anaknya sendiri."
"Ya, itu memang sulit dipercaya. Tapi setelah membaca keseluruhan catatan itu, aku menyimpulkan bahwa terjadi kesalahpahaman di antara mereka, namun hal itu berhasil dimanfaatkan oleh aliansi ke-20 kerajaan."
Naruto hanya bisa terdiam mendengar ulasan Mikoto.
"Istirahalah Naruto." Tukas Mikoto yang beranjak dari duduknya. "Kau bisa membaca gulungan itu, tapi jangan sampai jatuh ketangan orang lain. Selain itu besok kita akan mulai melatih kekuatan Buah Iblis barumu."
"Buah Iblis baru? Apa maksudmu, Pak Tua?" Tanya Naruto penuh kebingungan.
Sedangkan Mikoto bukannya memberi jawaban, melainkan menyeringai buas, lantas tertawa keras sambil keluar meninggalkan laboratorium.
"HAHAHA~"
~ Berakhir ~
Mikoto merupakan nama yang bisa digunakan untuk laki-laki dan perempuan. Nama Mikoto untuk perempuan biasa berarti cantik/hidup, sedangkan untuk laki-laki berarti harpa/kaum bangsawan.
Silahkan tinggalkan reviews!
Salam... Deswa.
