Saya bukan pemilik Naruto atau One Piece!

Heart Of Sword – Realitas!


SERRR

Tes Tes

Bulir air jatuh dari lubang sower. Dinginnya air membasahi tubuh kekar Naruto, otot-otot yang terbalut kulit tan-nya terasa rileks setelah terguyur air segar. Tubuh Naruto kini telah mencapai 174 cm diusianya yang memasuki pertengahan tahun ke-16.

Fisiknya telah mengalami perkembangan pesat selama tiga tahun terakhir ini, begitu juga dengan kemampuannya bertarung maupun mentalnya. Rambut pirangnya kini memanjang hingga punggung, ia ingin mengenang ingatan tentang ayahnya. Mata biru yang sebelumnya penuh kehidupan kembali sayu, sama seperti saat pertama kali dirinya terlepas dari penjara Bounty Hunter Kaminari yang mengekang dirinya dan merenggut nyawa ayah angkatnya beberapa tahun lalu.

Naruto kini hidup seorang diri di pulau Baika, salah satu dari banyaknya pulau di langit. Tempat yang ia tempati merupakan kediaman rahasia milik Mikoto saat melakukan infestigasi terhadap Poneglyph. Pria tua keturunan Uzumaki itu menduga adanya Poneglyph di salah satu Sky Island, berdasarkan adanya bagian Pulau Jaya yang diterbangkan oleh 'Knock Up Stream'. Selain itu, pulau Baika berada di langit, sehingga jauh dari mata dan telinga Pemerintah Dunia.

"Tch..." Naruto berdecih saat tanpa sadar mengingat pria tua merepotkan itu.

Kenapa semua orang yang dianggapnya sebagai keluarga sendiri harus mati melindunginya? Ayahnya, Miyamoto Seiji rela melakukan seppuku/hirakiri demi melindunginya. Sedangkan kakek angkatnya, Uzumaki Mikoto rela menghadapi Admiral demi melindunginya meskipun aroma tubuhnya sudah menyamai tanah.

Ah, hampir lupa. Dua tahun lalu, Naruto mendapatkan kembali ingatannya setelah mengalami kejadian pahit untuk kedua kalinya. Kehilangan orang berharganya yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri. Ia tidak tahu harus menyalahkan siapa, dirinya yang memperlemah Pak Tua Mikoto atau Admiral yang merenggut nyawa keturunan Uzumaki itu. Kejadian itu terjadi satu tahun setelah dirinya mendapat buah iblis baru, tepat saat usai misi terakhir sebelum diterimanya ia sebagai anggota CP-9 secara resmi. Berawal dari kegagalan misinya, untuk membunuh Seiteki Taishōgun milik Kerajaan Wano.


~ Dua tahun yang lalu ~

Naruto dan Mikoto berjalan menyusuri taman masuk Mariejois, tepatnya kawasan kediaman Tenryuubito. Setelah melaporkan kegagalan misinya kepada Gorosei, Naruto diminta untuk menjadi pengawal Saint Mjosgard dalam perjalana mengunjungi salah satu kerajaan di lautan West Blue.

Sedangkan Mikoto menawarkan diri untuk menemani Naruto sekaligus menjadi pengamat jalannya misi. Yah, walau tujuan utamanya adalah memastikan Naruto tidak lepas kendali saat berinteraksi dengan Tenryuubito. Kekuatan buah iblis milik Naruto terikat oleh emosi [Seperti Jinchuriki], sehingga sering membuat pemuda berambut pirang itu lepas kendali karena masih kesulitan mengendalikan emosinya.

Pada akhirnya, dugaan Mikoto benar 100 persen. Setelah Naruto mengamati semua keadaan kediaman Saint Mjosgard, pemuda itu dikejutkan dengan keadaan para budak.

Naruto bisa mendengar semua suara di kediaman Saint Mjosgard menggunakan kenbunshoku haki miliknya. Ia mempelajarinya semenjak kekalahannya saat bertarung melawan Mikoto satu tahun lalu. Dengan haki-nya itulah ia mendengar jerit kesakitan para budak, tangis pilu anak-anak, bahkan rintih budak yang sekarat. Ia mengeratkan kepalan tangannya, mencoba menahan dan mengendalikan amarahnya. "Inikah jadinya dunia setelah penghianatan mereka? Tindakan keturunan mereka lebih biadab dari pada tuduhannya terhadap Kaguya-hime." Amarah Naruto semakin meninggi, pikirannya berlahan kabur.

"Itulah kenyataan dunia mereka, Uzumaki muda. Aku tidak menyangka Hogoromo dan Hamura begitu naif hingga rela membantu mereka, meskipun harus menghianatiku."

Suara merdu terngiang di kepala Naruto. Suara yang sesekali muncul di kepalanya semenjak ia mengalami amnesia, atau mungkin melewati kabut hitam berdasarkan mimpinya. Ia awalnya selalu mengabaikannya, namun labat laun mengaku keberadaan suara misterius itu. Baru setelah membaca keseluruhan gulungan yang diterimanya dari Mikoto, ia tahu bahwa pemilik suara itu merupakan Kaguya-hime, atau lebih tepatnya Ootsutsuki Kaguya.

Semakin lama Naruto berada di kediaman Saint Mjosgard, semakin meluap pula amarahnya. Tanpa ia sadari, berlahan kabut hitam keluar dari tubuhnnya. Tubuhnya menegang saat mendengar tawa kesenangan keluar di tengan jerit kesakitan para budak. Belum lagi pandangan merendahkan dari Saint Mjosgard yang ditujukan kepada semua orang di ruangan pertemuan mereka.

Saat Mikoto melihat tubuh Naruto mulai mengeluarkan kabut hitam, ia hanya bisa mendesah. Berharap bisa menenangkan amarah cucu angkatnya itu sebelum terjadi hal yang tidak belum siap ditanggungnya. Ia hendak mendekati Naruto, namun di urungkannya saat melihat sebain besar tubuh pemuda berambut pirang itu sudah menjadi kabut hitam. "Naruto, tenangkan diri..."

BOMMM

Ledakan kabut hitam keluar dari tubuh Naruto sebelum Mikoto selesai memperingatkannya. Semua orang yang berada di dekat Naruto langsung terjatuh, mereka mati dengan mata terbelalak penuh keterkejutan.

Hanya Mikoto lah yang selamat dari kekuatan Naruto karena berhasil menggunakan 'Blood Dome', akan tetapi ia juga harus membayar mahal. Tubuhnya kini terlihat pucat dan lemas akibat banyaknya darah yang digunakan untuk membuat pelindung.

Sedangkan Naruto sendiri hanya bisa berdiri dalam sunyi, dengan mata yang melebar setelah menyadari dirinya lepas kendali lagi. Parahnya, korban kali ini lebih banyak dari pada sebelumnya, bahkan saat ini juga membunuh salah satu Tenryuubito, Saint Mjosgard. Naruto dapat melihat tubuh pria berambut hijau itu memucat, karena tidak adanya pergerakan sirkulasi darah dalam nadi.

"Ugh..." Naruto tersadar dari keterkejutannya begitu Mikoto menepuk pundaknya. Ia bisa melihat raut khawatir di wajah pria tua keturunan Uzumaki itu.

"Kau sudah tenang, Naruto?"

"Y-ya." Jawab Naruto singkat. Sebelum matanya menangkap bahwa wajah dan kulit Mikoto terlihat begitu pucat. "Bagaimana keadaanmu, Pak Tua?" Kini Naruto menunjukkan wajah penuh khawatir.

"Aku baik-baik saja. Kalau kau sudah benar-benar tenang, lebih baik cepat tinggalkan tempat ini. Saat ini aku tidak ingin berurusan dengan Admiral. Ugh..." Mikoto terlihat semakin lemas seiring berjalannya waktu. "Jika kita bertindak cepat, kemungkinan besar bisa meninggalkan Mariejois sebelum Tenryuubito lainnya menyadari kejadian di sini."

"Ta-tapi... aku..."

"Naruto, aku tau apa yang akan kau katakan. Meskipun begitu aku akan tetap melindungimu. Aku sudah tua Naruto, dan berpenyakitan. Aku kehilangan klan ku, tidak bisa menjaga keponakanku sendiri, bahkan harus menyaksikan istriku serta anak kami yang masih dalam kandungan mati. Jadi, setidaknya izinkan orang tua ini melindungi anggota keluarganya Naruto." Pinta Mikoto.

"Tapi, ini semua salahku. Anda saja aku tidak lepas ken..."

"Kalau ingin mencari siapa yang salah, tentu saja aku. Aku lah yang membuatmu memiliki kekuatan itu, berharap bisa lebih baik melindungimu..." Sangkal Mikoto dengan nada getir. "Saat itu aku sudah lupa kalau kekuatan yang besar selalu dibayar dengan pengorbanan setimpal." Batinnya.

"Tch, baiklah. Kalau begitu, kenapa tidak kita coba saja teknik Shunkō yang kita buat sama-sama?"

"Kau bodoh ya?"

"Apa kau bilang, Pak Tua?"

"Shunkō milikmu belum sempurna, jangan gunakan teknik seperti itu dalam situasi seperti sekarang." Jelas Mikoto sambil terus melangkahkan kakinya. Tapi belum sampai beberapa langkah, ia harus menghentikannya karena merasakan kedatangan rombongan yang sama sekali tidak diharapkannya.

"Oh~dia melakukannya~ Benarkan, Pak Tua Mikoto~?" Tukas seorang pria tinggi berambut hitam. Pria itu mengenakan setelan jas bergaris kuning dan putih, serta jubah marinir dengan pangkat admiral pada pundaknya. Sedangkan mata sipitnya tertutupi oleh kacamata berlensa coklat. Pria itu merupakan salah satu dari tiga admiral milik marinir, bernama Borsalino atau lebih dikenal dengan julukan Kizaru.

"Borsalino." Gumam pelan Mikoto. Ia mulai mengeratkan kepalan tangannya saat melihat ratusan prajurit mengepung dirinya dan Naruto.

"Aku tidak menyangkan kau membiar bocah itu membunuh seorang Tenryuubito, Suoh D. Mikoto." Tukas pria di samping Kizaru. Pria yang mengenakan setelan jas merah dengan dalaman kemeja bermotif bunga. Rambut hitamnya tertutupi oleh topi marinir, ia juga mengenakan jubah yang sama dengan milik Kizaru. Pria itu bernama Sakazuki, atau lebih dikenal dengan julukan Akainu.

"Tentu saja aku bisa, Sakazuki. Aku lebih mementingkan keluarga dari pada menegakkan 'keadilan' sesuai kepercayaanmu." Jawab pria tua keturunan Uzumaki itu, atau dunia lebih mengenalnya Suoh D. 'Red King' Mikoto [Aka no Ō].

Baik Kizaru maupun Akainu sempat melebarkan matanya begitu mendengar deklarasi Mikoto. "Keluarga ya? Jadi bocah itu juga penyandang inisial D.?"

"Haruskah aku memperpanjang penjelasanku?"

"Tidak." Jawab kedua admiral bersamaan.

"Sebelum kalian meringkus kami, bolehkan aku tau bagaimana kalian bisa datang begitu cepat ke sini?"

"Oh~, Gorosei~ tertarik dengan bocah di sampingmu."

"Kau tidak perlu menjawabnya, Borsalino." Bentak Akainu.

"Sudah aku duga."Mikoto kini menatap tajam kedua admiral. Ia dan Kizaru saling menjulurkan telunjuknya, dan siap menembak.

Sedangkan Akainu menatap tajam Naruto dengan tubuh yang sudah meleh menjadi lava.

BOMMMMMMM

Dalam sekejab ledakan terjadi, dan pertarungan besar pun tidak bisa terelakkan. Mikoto menghadapi Kizaru dan Naruto melawan Akainu. Satu sisi ingin menang untuk meringkus kriminal, sedangkan sisi lain berusaha meninggalkan Mariejois.

Kekuatan buah iblis saling beradu, rukushiki mapun haki juga mendampingi. Entah berapa lama mereka bertarung, namun arena pertarungannya kini tampak hancur. Sesekali terjadi ledakan besar disertai gelombang energi yang menghempas beberapa prajurit marinir lainnya, sehingga kini terlihat korban maupun kobaran api di mana-mana.

Kedua belah pihak terlihat memiliki luka pada tubuhnya, napasnya memburu, dan adrenalin semakin banyak mengalir di tubuh masing-masing petarung.

Hingga akhirnya pertarungan mereda saat Mikoto jatuh terbaring di tanah setelah menerima tebasan dari pedang cahaya milik Kizaru, dan Naruto memiliki lubang menganga di dadanya karena pukulan Akainu yang terlapisi lava.

"Ugh... uhuk..." Naruto memuntahkan darah segar. Terlihat lubang besar seukuran kepalan tangan Akainu pada dada Naruto, tapi ia mengabaikannya dan lebih terfokus dengan keadaan Mikoto. Ia bisa melihat pria tua yang selama ini mengasuh, mendidik, bahkan mengasihinya tergeletak lemas di hadapan Admiral Kizaru. Ia bisa melihat mata penuh kasih dari pria tua itu tertuju padanya, meskipun darah segar terlihat terus keluar dari mulut.

Naruto membulatkan matanya saat melihat Kizaru membuat sebuah pedang dari cahaya dan siap menghunuskannya pada Mikoto. Ia mencoba bergerak untuk melindungi pria tua itu, tapi dihalangi oleh Akainu. "He-hentikan... hentikan... hentikan!" Gumamnya berulang-ulang.

"Heh... inilah yang terjadi jika kau berani melawan Pemerintah Dunia dan Keadilan. Jangan salahkan kami jika kalian kehilangan nyawa, tapi salahkanlah dirimu sendiri yang telah melukai Tenryuubito." Tukas Admiral Akainu sambil mengulas seringaian bengis. "Sekarang saksikanlah sendiri konsekuensinya!"

"Hentikan Kizaru! Jika kau melakukannya, aku..." Naruto tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena harus menyaksinya Kizaru menggerakkan tangan tanpa ragu menghujamkan pedang cahaya mendekati tubuh Mikoto.

30 centimeter

"Hentikan!" Naruto merasa begitu lemah, tidak mampu melindungi orang berharganya. Satu-satunya keluarganya, pria yang selalu menasehatinya, ada untuk menghiburnya, dan memberikan tujuan serta impian.

20 centimeter

"Hentikan!" Bisik Naruto pelan. Air mata mulai tercucur deras membasahi pipinya, hatinya terasa begitu pedih. Ia harus kehilangan seseorang lagi, tanpa mampu melakukan perlawanan sedikit pun.

10 centimeter

"Hen..." Naruto semakin melebarkan matanya saat ingatan asing berlahan memasuki otaknya secara paksa. Ingatan-ingatan semasa kecil seorang bocah berambut pirang, interaksi dengan orang-orang yang lama telah terlupakan, bahkan ingatan tentang kematian seseorang berharga baginya kembali taringat.

5 cen...

"HENTIKAN KIZARU!"

BOMMM

Gelombang energi keluar dari tubuh Naruto bersamaan dengan teriakannya, bahkan kabut hitam tebal dari tubuhnya juga tersebar meluas. Semua tanaman mati dan mengering, ratusan pasukan marinir terjatuh tidak bernyawa, bahkan melempar jauh Akainu hingga pingsan meskipun sebelumnya telah berubah menjadi lava. Luka-luka pada tubuh Naruto menghilang, lubang di dadanya juga berlahan tertutup tanpa menyisakan sedikit pun goresan. Berlahan ia mengangkat tubuhnya untuk berdiri, mata birunya kini berubah menjadi merah, dan tubuh kekarnya terselimuti kabut hitam.

Kizaru yang melihat kekuatan pria kecil di depannya melebarkan mata, ia sama sekali tidak menduga kalau anak didikan Mikoto memiliki kekuatan begitu besar. Bahkan haoshoku haki yang dimiliki cukup kuat untuk seorang bocah, mampu membuat tubuhnya merinding. Ia melihat bocah pirang itu tanpa ragu menggigit jarinya hingga berdarah, lantas menorehkan darah itu di tatto lengan kirinya. Kizaru dikejutkan kembali dengan munculnya katana dan wakizashi setelah Naruto mengoleskan darah di tatto tangan kiri.

"Heh... Tenro, Shibien, lama tak berjumpa!" Naruto mengulas seringai bengis, dan seketika menghilang dari tempatnya.

TRANK

Terjadi benturan keras antara Tenro dan pedang cahaya milik Kizaru, sesekali pecikan api keluar dari gesekan kedua senjata milik kedua petarung.

'Death Slicer'

Kabut hitam bercampur biru berbentuk bulan sabit besar mengenai tubuh Kizaru begitu Naruto mencabut wakizashinya dengan tangan kiri. Sehingga melempar Kizaru menjauhi Naruto, dan meninggalkan luka besar menganga di dada admiral itu, tapi tidak mengeluarkan darah sedikit pun.

"Ugh... Sakitnya."

"..." Naruto hanya diam sambil menatap tajam Kizaru.

"Kau hebat juga bocah. Tapi aku tidak terkejut, karena kau murid Pak Tua Mikoto." Ucap Kizaru dengan santai.

"Hei, Pria Tua Bau Tanah! Apa kau baik-baik saja?" Tukas Naruto sambil melirik Mikoto yang masih tergeletek di tanah.

"Ugh... Na-naru-to." Gumam pelan Mikoto dengan terbata. Cahaya di mata pria itu tampak mulai memudar.

"Ya."

Twich

Urat tebal muncul di pelipis Kizaru saat melihat Naruto mengabaikannya, bahkan menganggap kehadirannya tidak ada. Ia segera membuat pedang cahaya, dan hendak menyerang bocah yang mengabaikannya. Namun begitu kakinya bergerak untuk melangkah, tubuhnya terasa kaku, nyeri di dadanya semakin terasa, dan berlahan tubuhnya mulai bergetar. "Apa yang..."

Bruk

Kizaru melebarkan matanya saat tubuhnya tiba-tiba terjatuh, ia sama sekali tidak bisa menggerakkannya. "Hanya dalam satu serangan? Aku sekarang paham kenapa Gorosei meminta kita mengawasi bocah ini. Membunuh dengan instan, melumpuhkan sekali tebasan, regenarasi di luar nalar, dan haoshoku haki yang mengerikan. Potensialnya menjadi monster sangat tinggi."

Sedangkan bocah yang diperhatikan Kizaru tengah terduduk di samping Mikoto dengan air mata terus mengalir keluar dari mata merahnya.

"Na-naruto..."

"Berhentilah berbicara Pak Tua, aku akan mengobatimu." Bentak Naruto sambil mendekatkan kedua telapak tangannya yang terbungkus oleh chakra hijau ke tubuh Mikoto. Namun terhenti saat lengannya digenggam kuat oleh Mikoto, mengisaratkan untuk menghentikan tindakannya.

"Cukup Naruto! Izinkan orang tua ini istirahat. Lebih baik kau gunakan kekuatanmu untuk keluar dari sini." Tukas Mikoto sambil terus mempertahan diri untuk membuka matanya, ia mengabaikan rasa sakit tubuhnya dan berusaha mengulas senyum pada bocah yang sudah dianggapnya sebagai cucu sendiri.

"Aku masih bisa menyelematkanmu..."

"Hidupku tidak lama, Naruto. Kau tahu penyakit yang aku derita, kan?" Kesedihan terlukis di wajah tua Mikoto. "Jika kau benar-benar ingin membantu, hiduplah. Hiduplah, cari kebahagian, bahkan jika menginginkan kau boleh mengembalikan kejayaan Klan Uzumaki, hehehe... Yah, hidup dan carilah kebahagiaan, Naruto!"

Naruto memandang Mikoto dalam diam untuk sejenak, ia bisa melihat senyum penuh ketulusan di wajah pria itu. "Baik. Sesuai keinginanmu, Kakek!"

Sekejab Mikoto melebarkan matanya, lantas menutupnya. "Heh, aku senang mendengarnya. Aku ingin segera menemui Kushinada, bidadariku." Tukas pria tua itu sambil mengulas senyum untuk terakhir kalinya.

Tes Tes

Gerimis mulai jatuh membasahi bumi, menemani tetsan air mata Naru yang mulai deras mengalir.

"KIZARU!"

BLASH

Kabut hitam tebal keluar dari tubuh Naruto secara tidak terkendali, bersamaan dengan teriakan penuh amarah. Mata merahnya meririk ganas Kizaru, layaknya predator yang siap menerkam dan mencabik mangsanya. Kabut hitam yang membungkus tubuhnya semakin menyebar dan membunuh semua di dekatnya, tumbuh-tumbuhan, hewan, marinir, bahkan bangunan tempatnya bertarung mulai runtuh. Hanya menyisakan Kizaru dan Akainu yang mulai mendapatkan kembali kesadarannya.

Naruto lantas membuat bola hitam berukuran besar dari kekuatan buah iblisnya dan siap melemparkan bola itu ke tempat terbaringnya Kizaru.

Sedangkan Kizaru hanya bisa melebarkan matanya, karena tubuhnya sudah tidak mampu lagi bergerak untuk menghindari serangan penuh amarah pria kecil di depannya.

"Mati kau..."

'Lava Dome'

Rencana Naruto terhambat karena sebuah kubah melingkar dari lava memisahkan dirinya dengan Kizaru dan memenjarakan dirinya.

"Hah... Terima kasih, Sakazuki. Aku berhutang padamu, sebenarnya tadi aku sudah pasrah untuk mati." Gumam pelan Kizaru

"Heh... Itu karena kau tidak pernah serius dan meremehkan lawan, Borsalino." Jawab Akainu sambil mengulas seringai penuh kemenangan.

"Ya, aku tau."

'Ryuusei Kazan'

Tidak berselang lama Naruto melihat lava layaknya meteor turun dari langit menghujani tempatnya berdiri.

WUSH

Naruto memandang datangnya seranganan dengan diam, namun tetap melemparkan bola hitam ditangannya kearah tergeletaknya Kizaru meskipun kini telah terpisah oleh dinding lava.

BOMMM

BOOOMMMMM

Serangan bola hitam Naruto mengawali ledakan, lalu dilanjutkan dengan ledakan dari serangan lava milik Akainu.

Naruto hendak melanjutkan kembali serangannya, dan mengabaikan beberapa meteor lava mendekatinya. "Masih belum cukup! Aku harus membunuh manusia cahaya itu. Sekali lagi, dan lebih..."

DUG

Pandangan Naruto menggelap, bersamaan dengan adanya rasa nyeri di tengkuknya.

.

.

.

Saat Naruto terbangun beberapa hari kemudian, ia justru berada dalam perawatan Pasukan Revolusi. Ia sempat disambut oleh Dragon, selaku pemimpin Pasukan Revolusi. Putra Monkey D. Garp itu bahkan dengan senang hati menawari Naruto untuk bergabung menjadi anggota revolusi setelah memperlihatkan harga kepala [Poster Bounty] miliknya. Tentunya bukan hal asing, Naruto lagi-lagi mendapatkan nama baru.

Suoh D. 'Shinigami' Naruto

Dead or Alive

327.000.000

Cukup mengesankan, tapi juga menyedihkan. Calon anggota CP-9 yang merupakan salah satu anjing peliharaan Pemerintah Dunia justru memiliki bounty pada kepalanya, parahnya lagi dengan nilai cukup tinggi.

Tentu saja Naruto menolak semua tawaran putra milik Garp itu. Saat itu, ia lebih memilih untuk sendiri. Setelah melihat orang berharganya mati tepat di hadapannya untuk yang kedua kalinya, ia sama sekali tidak ada niatan untuk menjalin hubungan lagi. Terlebih kekuatan dari buah iblisnya masih belum ia kuasai. Naruto juga baru saja mendapatkan kembali ingatannya, sehingga semakin banyak beban pikirannya.

Setelah itu lah Kisuke mengantar Naruto pada persembunyian lain milik Mikoto. Tempat yang sebelumnya belum pernah ia kunjungi, dan merupakan salah satu persembunyian teraman milik Mikoto.

Hari itu juga Naruto baru mengetahui kalau Kisuke ternyata adalah Pasukan Revolusi. Kisuke diminta oleh Dragon menyusup di Kerajaan Drum untuk memantau situasi di sana. Namun beberapa tahun setelah berhasil menyusup, ia harus angkat kaki dari negeri itu karena adanya pemilihan 20 dokter terbaik oleh Wapol untuk melayaninya sebagai dokter pribadi raja, dan membantai sisanya.

Naruto hanya mengulas senyum kecut mendengar cerita milik Kisuke.


Sekarang

Naruto mengelengkan kepalanya mencoba melupakan ingatan pedih masa lalu. Kini ia mengenakan Hakama dengan keseluruhan kain berwarna abu-abu, dan tidak lupa jubah biru muda yang memiliki lanbang pusaran berwarna biru tua dibagian kedua sisi dada serta punggungnya. Sedangkan kakinya terbalut tabi putih dan jarinya mengapit pengait sandal geta.

Pada pinggulnya terselip katana dan wakizashi miliknya, Tenro dan Shibien. Naruto mengulas senyum tipis, saat mengingat bagaimana respon tubuhnya begitu menyentuh kembali Tenro dan Shibien.

Naruto merasa perlu berterima kasih kepada Kisuke yang telah membawanya ke Sky Island setelah pertemuannya dengan Dragon. Berkat Kisuke lah ia mampu mengendalikan dan memahami kekuatannya lebih dalam di pengasingannya. Dokter gila itu merupakan pemakan buah iblis dengan kemampuan melakukan teleportasi dari satu tempat ke tempat lain, menyerupai teknik Shunkō yang dibuat Naruto bersama Mikoto menggunakan fuuinjutsu. Dokter itu jugalah yang telah menyelamatkannya di pertarungan melawan Kizaru dan Akainu.

BLARRR

"Ugh..." Naruto terkejutkan saat telinga dan kenbunsoku haki miliknya mendengar suara ledakan petir. Ia lantas bergegas membuka jendela kamarnya, dan mendapati langit pada pulau yang tidak jauh dari tempatnya terselimuti oleh awan hitam saat Naruto mengaktifkan dojutsut-nya. Sesekali terlihat kilatan petir biru merambat pada awan itu, lalu turun menyambar daratan potongan Pulau Jaya.

"Enel. Jadi itu kekuatan miliknya. Terlihat lebih mengerikan dari pada Biri – Biri no Mi yang kumiliki dulu." Gumam pelan Naruto. Mata merahnya melebar saat melihat gumpalan bola hitam berukuran besar turun mendekati daratan Pulau Bidadari. "Lebih baik aku memeriksanya. Aku merasakan keberadaan yang kuat selain Enel di sana."

Tubuh Naruto berubah menjadi kabut hitam dan bergerak mendekati tempat pertempuran. Ia tahu siapa Enel, dan tidak melakukan apapun karena sama sekali tidak memiliki urusan. Selama ini yang ia lakukan adalah berlatih dan mencari letak Poneglyph. Naruto tidak pernah sekalipun berselisih dengan God of The Skypia, sehingga perselisihan bahkan pertarungan pun tidak pernah terjadi di antara keduanya.

Saat Naruto sampai di tempat pertarungan, ia hanya mendapati Enel yang terbaring tidak sadarkan diri di atas gumpalan awan. Tubuhnya terlihat babak belur akibat pertarungan sebelumnya, bahkan wajahnya sulit untuk dikenali. Melihat hal itu, Naruto segera memeriksa tubuhnya untuk memastikan bahwa dirinya tidak lupa membawa bekal buah-buahan seperti kebiasaaannya sejak kecil.

"Ada!" Tukasnya penuh kebahagiaan sambil menatap sebuah apel merah di tangannya. "Enel, akan aku pastikan kau tidak melakukan hal-hal seperti hari ini lagi."

JLEP

Naruto langsung menghunuskan wakizashi-nya yang terselimuti haki tepat pada jantung pria pemploklamir diri sendiri sebagai Tuhan itu. Tidak berselang lama, buah yang tadinya sempat diletakkan Naruto di dada Enel mulai berubah warna menjadi biru dan memiliki ukiran motif khas buah iblis.

Naruto tahu bukanlah haknya untuk menghakimi seseorang, tapi ia juga tahu kalau seseorang seperti Enel tidak akan berubah hanya dalam sekali kekalahan. Terlebih lagi orang yang memiliki masalah God kompleks, mereka akan kembali sampai keinginannya tercapai. Seandainya Enel hanya salah memilih jalan dan memiliki tujuan yang baik, Naruto akan membiarkannya. Namun Enel tidak lah jauh dari para Tenryuubito, ingin menguasai segalanya.

Sehingga Naruto memilih untuk mengakhiri Enel dan memastikan kekuatan besar dari buah iblis Goro – Goro no Mi tidak jatuh ke tangan orang lain yang lebih berbahaya serta tidak bertanggung jawab.

Merasa puas rencana dadakannya berjalan lancar, Naruto segera bangkit. Matanya kini tertuju pada kapal milik Enel yang masih melayang dan bergesekan dengan gumpalan awan tempatnya berdiri.

"Sepertinya Kedai Ramen akan segera terbuka!" Naruto mengulas senyum lebar.


~ Berakhir ~


- Seiteki Taishōgun [征狄大将軍 panglima penaklukan orang barbar] : Jabatan di bawah Kaisar dan Shogun [Sei-i Taishōgun].

- Suoh : Berarti Naga [Dragon]

- Inisian D. sudah disinggung di chapter sebelumnya secara tersirat, tentunya nama Suoh Mikoto juga bukan milik saya. Nama Suoh Mikoto berasal dari K-Project, awalnya mau menggunakan karakter itu, tapi karena masih terlalu muda jadinya hanya mengambil nama dan sedikit penampilannya.


Buah Iblis baru Naruto :

Nama : Kuroma – Kuroma no Mi [Black Art/Black Magic/Necromancy]

Jenis : Logia

Kemampuan :

1. Kendali akan kematian : Mengendalikan Kabut Hitam Beracun yang dapat membunuh secara instan semua mahluk hidup. Sedangkan benda mati menjadi berkarat/keropos/hancur [Hanya berfungsi pada teknik tertentu].

2. Kendali akan kehidupan : Dapat menghidupkan manusia dan hewan, namun makhluk yang dihidupkan menjadi zombi abadi selama pemakan buah masih hidup. Sedangkan benda mati berubah menjadi monster, tapi tidak memiliki kecerdasan sendiri sehingga pemakan buah harus memberi perintah langsung.

3. Devil Curse : Dapat menghilangkan kekuatan pemakan buah iblis secara permanen [menyegel], fiktim tidak dapat menggunakan kekuatannya meskipun buah itu sendiri masih bersemanyam dalam tubuhnya sehingga melarang fiktim untuk memakan buah lainnya karena buah belum berinkarnasi namun tetap bersemanyam dalam tubuh mereka. Sebagai bayaran teknik ini, pemakan buah Kuroma akan kehilangan kemampuannya selama 100 hari.

4. Mengizinkan tubuh pemakan untuk menjadi Kabut Hitam [elemen buah] layaknya logia pada umumnya.

5. Memberikan pemakan buah tingkat penyembuhan tubuh yang tinggi, serta keabadian [Immortality].

Kelemahan : Sebagai bayaran teknik Devil Curse, pemakan buah Kuroma akan kehilangan kemampuannya selama 100 hari. Kemampuan buah ini tergantu pada emosi, jika pemakan memiliki emosi negatif maka kekuatannya akan lepas kendali, tetapi jika pemakan buah memiliki emosi positif baru bisa mengendalikan kekuatannya dengan mudah [Seperti Jinchuriki]. Tentunya pemakan juga memiliki kelemehan layaknya buah iblis pada umumnya, air laut/batu laut.

AN : Yami – Yami no Mi memiliki 6 kemampuan : Menyerap, Membuang, Gravitasi, Regenerasi, dan bisa memakan lebih dari satu buah Devil Fruit bahkan menghilangkan kemampuan pemakan buah lain dengan menyentuhnya.


Silahkan tinggalkan reviews!

Salam... Deswa.