Yo, maaf lambat update. Harusnya sesuai janji, chapter ini keluar Hari Minggu. Tapi karena ada perubahan jadwal aktivitas di Hari Senin, jadi sekarang baru bisa update. Meskipun ada beberapa scene yang dihilangkan dan dipindahkan di chapter lainnya karena waktu untuk menulis sudah habis. Perubahan jadwal keseharian juga mempengaruhi waktu luang menggarap fic ini.

Mohon maaf jika ada yang kurang puas, autor sendiri juga merasa sama setelah beberapa scene dihilangkan.

Setelah ini, update tidak bisa rutin seperti sebelumnya. Hanya akan di-update setelah chapter selesai, karena sekarang sudah mulai sibuk kembali. Ehm... itu saja. Selamat menikmati!


Saya bukan pemilik Naruto atau One Piece!

Heart Of Sword – Sinar!


Haku, Yuki Haku. Dia merupakan remaja keturunan Klan Yuki yang tinggal di Desa Kirigakure, Elemental. Akan tetapi hidupnya tidaklah seperti kebanyakan orang yang terlahir dari sebuah Klan, justru dirinya dianggap sebagai monster dan aib keluarga. Entah takdir atau hanya kebetulan, ia terlahir di era terjadinya perang sipil Desa Kirigakure, Pembantaian Pemegang Kekkai Genkai.

Di usia dini Haku bisa merasakan segelintir kebahagiaan, saat kedua orang tuanya masih hidup dan ketika ia belum menunjukkan kemampuan mengendalikan es pada ayahnya. Namun setelah kemampuannya diketahui oleh ayahnya, bukannya pujian yang ia terima justru hinaan dan siksaan. Ayahnya yang selalu ia kagumi sebagai sosok pelindung dalam keluarga berubah menjadi monster, menyiksa bahkan membunuh ibunya tanpa ada rasa penyesalan di depan matanya. Kebencian pada ayahnya setelah melihat pria itu dengan mudah mengambil nyawa ibunya membuat amarahnya meluap, ditambah dengan sasaran selanjutnya adalah dirinya. Sehingga dalam keadaan terpuruk ia tanpa sadar menggunakan kekuatan indahnya menjadi senjata mematikan.

Haku yang sebelumnya menganggap ayahnya sebagai monster setelah membunuh ibunya justru tanpa sadar membuat dirinya sendiri menjadi salah satu dari makhluk tersebut. Menyadari hal tersebut membuatnya kehilangan tujuan. Keluarga bahagianya telah hancur karena kekuatannya, ayahnya membunuh ibunya, dan dirinya membunuh ayahnya. Perkataan ayahnya tentang kekuatan yang ia miliki kembali terngiang, dan itu semua benar. Dia saat itu hanya bisa menapaki daratan bersalju Desa Kirigakure tanpa tujuan, serta ditemani oleh kesunyian.

Haku tahu indahnya sebuah keluarga, tapi juga tahu sakitnya kehilangan. Dia pernah merasakan kekenyangan, tetapi ia juga pernah kelaparan. Dia ingat hangatnya selimut yang dibagi bersama ayah dan ibu, namun ia juga ingat dinginnya jalanan bersalju yang dilalui seorang diri. Dia bangga saat menerima pujian dari kedua orang tuanya, tapi dia juga merasakan kepedihan begitu hidupnya menjadi celaan banyak orang-orang.

Namun itu semua tidak menghentikan keinginannya untuk hidup, berharap bisa melewati hari esok lebih baik. Dan harapannya terpenuhi tidak lama setelah ia bertemu seorang monster lainnya, monster yang dikemudian hari ia ketahui memiliki hati lembut melebihi ayah kandungnya.

Seorang pria dengan kepribadian tegas telah memungutnya, dan menjadikan dirinya sebagai alat. Haku sama sekali tidak keberatan, kerena itu lebih baik daripada sendiri atau bahkan hidup tanpa tujuan. Tapi pria itu memberikan lebih dari itu... pria itu memberikannya pakaian hangat, mengajarinya untuk memanfaatkan kekuatannya dengan baik, membuatkan tempat untuk dianggap rumah, menghilangkan rasa kesepiannya, dan yang terpenting membawakan ia sebuah tujuan untuk digapai.

Momochi Zabuza!

Pria itu adalah manusia yang paling Haku hormati hingga sekarang.

Namun seperti orang berharganya yang lain, pria itu juga harus direnggut darinya. Dia masih ingat dengan jelas cucuran darah yang keluar dari dada pria itu, terbunuh di tangan Ninja Desa Konohagakure, Hatake Kakashi.

Saat itu ia baru sadar begitu lemah dirinya.

Dia yang menyebut dirinya sebagai alat pria itu, tapi tidak bisa menyelamatkan nyawa sang pemilik.

Kekuatannya yang dikatakan setara dengan milik monster sama sekali tidak bisa membantu menjaga pria itu.

Tujuannya kembali hilang, hidupnya akan kesepian, harapannya telah sirna.

"Ha..."

"...ku."

"Haku!" Haku tersadar dari lamunannya. Dia melirik seseorang yang memanggil namanya, lantas mengulas senyum.

"Maaf, Naruto-sama. Ada apa?" Tukasnya sambil menghentikan lompatan melewati pepohonan besar.

Naruto hanya bisa cemberut mendengar jawaban Haku. "Ada apa denganmu? Dari tadi aku memanggilmu, tapi kau hanya diam saja... eh, apa kau menangis?" Tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.

"Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Balas Haku singkat.

"Jadi, kau menangis?"

"Apa maksud anda, Naruto-sama?"

"Aku melihatmu menitikan air mata."

"Huh?"

"Aku tetap bisa melihat wajahmu dengan jelas, Haku. Apa kau lupa kekuatan mataku?" Jelas Naruto.

"Oh~ aku tidak menangis. Hanya keringat."

"Heh... keringat ya? Baru berapa menit kita bepergian, kau sudah berkeringat? Apa kau benar baik-baik saja?" Naruto kini terlihat semakin khawatir.

Haku tanpa sadar melebarkan matanya untuk sejenak. "Anda lupa kalau sebelumnya aku pergi mengamati kru Bajak Laut Topi Jerami." Jelas Haku yang sudah mendapatkan kembali ketenangannya.

"Oh, ya. Aku lupa. Hehehe~" Naruto tertawa sambil menggaruk kepalanya bagian belakang.

Melihat Master-nya yang nampak begitu bahagia membuat Haku kembali mengulas senyum lebut di balik topengnya.

"Lanjutkan panduanmu, Haku!" Pinta Naruto yang sudah menghentikan tawanya.

"Baik."

Haku mungkin pernah gagal, tapi itu akan ia jadikan sebagai pelajaran berharga. Dia mungkin telah kehilangan pria yang paling ia hormati, tapi kini dirinya memiliki pria yang paling ia cintai. Meskipun ia berusaha menghilangkan perasaan itu... tidak semestinya sebuah alat memiliki perasaan seperti itu.

Momochi Zabuza mungkin telah tiada, tapi Suoh D. Naruto kini ada untuknya... bukan, dia ada untuk Suoh D. Naruto.

Yah, ada untuk Suoh D. Naruto. Semua berawal sejak dua tahun lalu, ketika dirinya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan membawa mati Gato jatuh ke laut setelah tahu bahwa pengusaha bejat itu menghianati perjanjian yang dibuat dengan Zabuza. Saat itu amarahnya memuncak begitu pria cebol itu mengungkapkan rencana busuk untuk menghianati kontrak, dan memilih membunuh Zabuza daripada membayarnya. Haku sudah siap untuk mati sambil membawa Gato bersamanya, tapi kenyataan berkata lain.

Saat Haku terbangun ia sudah berada dalam deretan banyak orang yang terkekang oleh rantai, baik di pergelangan tangan, kaki maupun leher. Dia nyaris menganggap dirinya berada di Neraka, andai saja tidak ada orang lain dari Kontingen Elemental yang juga bernasib sama. Seorang samurai dari Negara Besi bernama Busujima Saito, menceritakan runtutan tragedi tentang dirinya dan para samurai yang telah menyelamatkannya setelah ia ditemukan terapung di lautan.

Haku hidup karena diselamatkan oleh sekelompok samurai dari Negara Besi yang berlayar meninggalkan Elemental. Para samurai itu menemukan tubuhnya hanyut terbawa arus laut, dan membawanya melewati perbatasan laut Elemental karena tidak bisa lagi kembali. Di sisi lain, para samurai itu juga tidak bisa meninggalkannya yang masih dalam keadaan kritis.

Tidak lama setelah melewati perbatasan, mereka diserang oleh beberapa bajak laut. Sehingga terjadi pertarungan sengit, tapi masih bisa diatasi. Sampai mereka berpapasan dengan kapal Pemburu Budak bawahan salah satu Sichibukai, Doflamingo. Pihak pemburu budak mengira para samurai dari Negara Besi merupakan penduduk Kerajaan Wano, sehingga membuat kapten kru tadi memutuskan untuk menangkap mereka semua. Berharap bisa dijadikan sandra untuk menaklukkan Kerajaan Wano sesuai keinginan salah satu Yonko, Kaido.

Pertarungan besar terjadi, hingga akhirnya mereka dikalahkan. Tapi setelah mengetahui bahwa mereka bukanlah dari Kerajaan Wano maupun anggota penting negara lain, mereka semua dijual sebagai budah di Sabaody Archipelago.

Itu lah cerita yang didengar Haku dari Busujima Saito tentang bagaimana dirinya bisa berada di luar Elemental. Karena selama perjalanan ia berada dalam keadaan tidak sadarkan diri [koma].

Saat itu Haku mengecam keadaannya, berharap mati agar bisa bertemu kembali dengan Zabuza-sama tapi justru hidup karena terselamatkan. Dia tidak lagi memiliki tujuan hidup, kesepian layaknya seseorang yang mengisi luasnya belahan bumi seorang diri, tapi ia tidak lagi mampu mengambil nyawanya kembali setelah terselamatkan. Hidupnya memang kembali berat, tapi ia juga teringat akan adanya harapan seperti saat pertama kali terselamatkan dari amuhan ayahnya.

Saat itu, Haku siap menerima apapun yang akan terjadi dalam hidupnya. Jika menjadi budak adalah masa depannya, ia akan tersenyum saat menjalani hidup. Tapi... kemungkinan itu tidak terjadi, karena orang yang diikutinya sekarang datang memberikan sinar harapan. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga bagi orang-orang yang saat itu juga berada di penjara Toko Perlelangan Manusia.

Yah, Suoh D. Naruto memberikan Haku sinar harapan, tujuan, bahkan kebahagiaan. Kali ini ia akan memastikan kegagalannya di masa lalu tidak terulang, ia akan melindungi orang berharganya hingga darah penghabisan.

"Aku akan selalu mengikuti dan melindungimu, Naruto-sama." Batin Haku sambil mengeratkan kepalan tangan. Iris coklatnya di balik topeng dipenuhi oleh semangat, sedangkan bibir ranumnya mengulas senyum tipis.


Alis pirang seorang pemuda nampak terangkat, Mata Merah-nya terfokus pada seorang gadis di dekatnya. Dia tidak tahu kenapa gadis itu terlihat begitu semangat, mungkin gadis berdada rata itu tertarik pada laki-laki? Melihat senyum, senyum dan senyum di wajah gadis keturunan Klan Yuki itu. Ah, tapi sekarang memploklamirkan diri sebagai pemegang marga Momochi.

"Huh~" Naruto mendesah. Dia tidak ingat alasan mengapa ia mengizinkan gadis berambut hitam itu mengikutinya.

"Ada apa, Naruto-sama?" Tanya Haku yang telah menghentikan pergerakannya dan kini tengah menatap khawatir Naruto.

Naruto teringat bagaimana pertama kalinya ia bertemu dengah gadis cantik berbadan pria... eh, maksudnya memiliki badan yang belum berkembang [Gadis dewasa pada umumnya]. Terkecuali jika perkembangan tubuh gadis itu sudah maksimal seperti saat ini, terkesan sedikit menyedihkan.

Yah, kali pertama Naruto bertemu Haku adalah saat ia menghancurkan beberapa Toko Perlelangan Manusia di Sabaody untuk membebaskan para samurai dari Negara Besi yang hendak mencari keberadannya. Dia mendapatkan informasi awal dari salah satu mata-mata milik Mikoto yang masih menjalin kontak dengannya. Mata-mata yang ditugaskan untuk mengawasi Sabaody itu menyampaikan bahwa adanya beberapa samurai berasal dari luar Negeri Wano telah tertangkap dan hendak diperlelangkan.

Mendengar hal itu, Naruto segera meninggalkan latihan mengendalikan kekuatan buah iblisnya meskipun belum usai karena ia tahu bahwa satu-satunya asal samurai selain Negara Wano adalah Kontingen Elemental. Kemungkinan besar mereka berasal dari Negara Besi sangatlah besar, sebab hanya samurai dari negara itu yang mengetahui keberadaan kawasan di luar Elemental. Dia juga telah mengirimkan pesan secara tersirat kepada mereka saat memutuskan untuk memanggil kembali katana-nya.

Setibanya di Sabaody, Naruto merasakan darahnya seakan mendidih melihat aktivitas perbudakan berlangsung secara terang-terangan tanpa adanya pihak marinir maupun Pemerintah Dunia yang menghentikan. Terlebih lagi saat itu yang akan diperjual-belikan adalah keluarganya sendiri, para samurai dari Negara Besi. Sehingga mendorong Naruto untuk mengamuk, melakukan pembantaian besar-besaran, ia bahkan nyaris lepas kendali kembali. Beruntung sebelum lepas kendali ia sudah dihampiri oleh ayah dari gadis yang telah mencuri hatinya, Busujima Saito. Hal itu membuatnya kembali tenang karena menyadari para samurai dari Negara Besi telah terbebas.

Saat itu Naruto berhasil membantu membebaskan semua budak yang hendak di jual, termasuk para samurai dan Haku.

Setelah berhasil meninggalkan Sabaody, Naruto menyuruh para samurai untuk menjelajahi lautan, untuk melihat sendiri keadaan dunia. Beharap para samurai bisa menjadikan apa yang mereka lihat nantinya sebagai bahan pertimbangan, akankah Elemental siap bersatu kembali dengan seluruh dunia. Tapi ia juga meminta beberapa samurai untuk kembali ke Elemental untuk membawa sebagian besar data yang telah dikumpulkannya. Sebab ia belum bisa kembali karena kekuatannya belum sepenuhnya dapat dikontrol. Dia tidak ingin melukai orang-orang yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri, bahkan meninggal karena ia lepas kendali.

Namun satu hal yang tidak diduga Naruto seusainya berpisah dengan semua orang, yaitu Haku, salah satu gadis yang ia tolong justru memilih untuk mengikutinya. Gadis yang saat itu terlihat begitu putusasa mengatakan bahwa selain tidak ada lagi yang diharapkan di Elemental, dirinya juga berhutang setelah diselamatkan dari perbudakan sehingga ia lebih memilih mengabdikan diri pada pria bersurai kuning itu.

Pandangan Haku saat itu mengingatkan Naruto dengan miliknya saat ia baru saja kehilangan sang ayah. Beruntung saat itu dirinya masih disibukkan dengan keinginan membalas dendam, sehingga pikirannya lebih terfokus pada kru para Hunter. Melihat keadaan Haku, membuat Naruto semakin tidak tega jika nantinya harus melihat gadis itu dimanfaatkan orang-orang tidak bertanggung jawab dalam situasi yang terpuruk.

Sedangkan di sisi lain, gadis bersurai hitam itu juga diminta Busujima Saito untuk menjaga Naruto karena samurai itu harus kembali ke Negara Besi membawa semua informasi pemberian Naruto.

Yah, setidaknya itu lah yang dipikirkan Naruto saat menerima permintaan Haku untuk mengikutinya.

"...sama."

"Naru..."

"Huh?" Naruto memandang terkejut ke arah Haku. "Haku, ada apa?"

"Anda baik-baik saja, Naruto-sama?"

"Yah, memangnya kenapa?"

"Dari tadi anda tidak menjawab panggilanku."

"Oh~ maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu. Jadi, apa yang ingin kau tunjukkan?" Tanya Naruto pada gadis bertopong tadi.

"Hem~ lihatlah itu!" Haku menjulurkan telunjuknya kearah tempat yang tidak jauh dari keduanya.

"Itu..."

"Yah."


-Lokasi yang ditunjuk Haku-

BOMMM

Ledakan besar terjadi karena serangan seorang remaja yang memakai topi jerami mengenai dinding es. "Kau ya, yang mencuri Merry?" Tukas pemuda tadi sambil menunjuk seseorang yang memakai kimono berwarna pink.

"Bukan!"

"Oh, maaf kalau begitu. Tapi, kalau bukan kau lantas siapa? Hanya kau yang ada di sini." Lanjut pemuda tadi sambil membungkukkan bandannya.

"Lu-luffy, apa kau benar-benar Luffy?" Tanya seorang gadis berambut oranye [jingga/orange].

"Apa maksudmu itu, Nami? Tentu saja aku Luffy." Bentak Luffy sambil menunjukkan wajah yang seolah-olah tersakiti oleh perkataan gadis bernama Nami itu.

Luffy, adalah nama pemuda yang memakai topi jerami tadi. Dia memilik nama lengkap Monkey D. Luffy, dan merupakan seorang Kapten Bajak Laut Topi Jerami. Pemuda itu terlihat kurus meskipun memiliki napsu makan yang tinggi. Pemuda itu memiliki rambut hitam, serta mata yang sewarna dengan rambutnya. Berwajah tampan tapi selalu memasang raut kekanak-kanakan, meskipun wajahnya memiliki bekas luka sayatan benda tajam di sudut luar bagian bawah mata sebelah kiri. Tubuh tingginya yang mencapai 174 cm terbalut oleh rompi merah dengan kancing terbuka, serta celana pendek selulut berwarna biru.

"Ta-tapi sejak kapan kau terlihat seperti orang pintar? Tidak, tapi sejak kapan kau terlihat seperti sedang berpikir? Apa lagi meminta maaf seperti itu?" Tambah Nami.

"Hem~ Hem~" Semua kru Bajak Laut Topi Jerami mengangguk secara bersamaan, menyetujui perkataan Nami.

Nami merupakan Navigator dalam kru Bajak Laut Topi Jerami. Gadis itu memiliki rambut oranye dengan mata berwarna coklat. Nami merupakan seorang gadis yang terobsesi dengan benda-denda berharga, mulai dari uang, emas, permata, dan benda lain selama memiliki harga yang tinggi dan bisa diuangkan. Dia juga menyukai jeruk, bahkan rela menanam pohonnya di atas kapal [Merry] demi mempermudah untuk mendapatkan buah kesukaannya.

"Kalian!" Bentak Luffy dengan raut wajah penuh ketidakpercayaan. "Kenapa jahat sekali? Menghinaku secara berkelompok."

Perdebatan pun terjadi di anta kru Topi Jerami, bahkan terkadang disertai dengan hinaan. Tidak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka tengah diawasi/amati oleh dua orang asing... eh, maksudnya satu orang asing, sebab satu orang lainnya berada di depan kru bajak laut itu, meskipun hanya klon.


-Tempat Naruto dan Haku-

Hening!

Keduanya mengamati dengan seksama apa yang tengan terjadi di hadapan mereka.

"Kenapa klon-mu bertarung dengan mereka, Haku?" Naruto melirik gadis bertopeng di sebelahnya. Dia penasaran dengan rencana gadis itu, pasalnya Haku merupakan orang yang tidak menyukai kekerasan. Tapi kali ini ia justru disuguhi sesuatu yang berlawanan dengan kebiasaan gadis penyandang klan Yuki dan Momochi itu.

"Fufufu~ Aku tadi hanya meminjam kapal mereka saat semuanya pergi mengumpulkan emas di Apper Yard."

"Kau mencurinya?"

"Tidak, meminjamnya. Aku menininggalkan pesan di tempat bersandarnya kalap mereka agar bisa datang ke tempat ini."

"Hanya itu?" Naruto menatap datar Haku seakan menunggu gadis bersurai hitam itu untuk mengatakan semua rencana yang dimiliki.

"Aku membawanya kesini agar bisa bertarung dengan bebas untuk melihat tingkat kekuatan mereka. Aku tidak ingin jika mereka membawa bahaya mendekati anda, Naruto-sama." Lanjut Haku sambil mengulas senyum di balik topong yang menutupi wajah cantiknya.

"Harusnya aku sudah tau. Dia memang tidak suka kekerasan, tapi kalau sudah berurusan dengan keselamatanku gadis ini bahkan rela mengambil julukanku, Shinigami." Batin Naruto yang nampak lesu dengan menundukkan kepalanya.


-Markas Besar Marinir-

Sengoku, seorang pria paruh baya yang menjabat sebagai Fleet Admiral [Laksamana] Angkatan Laut tampak sibuk berkutat dengan tumpukan dokumen. Namun pikirannya melayang jauh pada pertemuan bersama anggota Sichibukai beberapa hari lalu. Berharap keputusannya memberikan kesempatan pada Kapten Bajak Laut Korohige untuk menjadi calon anggota Shicibukai bukanlah hal yang salah, melihat sampai saat ini ia belum pernah mendengar aktivitas serta kemampuan bajak laut itu. Tapi yang terpenting, ia hanya bisa berharap bahwa kapten misterius itu tidaklah lebih bejat daripada mantan Shicibukai, Crocodile. Dia merasa lelah menghadapi tindak kriminalitas yang dilakukan baik bajak laut maupaun kriminal lainnya, terlebih lagi jika harus mendengar komplain dari Gorosei.

"Mungkin sudah waktunya aku melepas jabatan sebagai Fleet Admiral, dan menikmati masa tuaku?" Batin pria berambut hitam kriting/afro itu.

Sengoku merupakan pria bertubuh tinggi, memiliki kulit putih dan berbadan kekar tetapi tetap gesit, sedangkan wajahnya dihiasi oleh kumis tebal serta jenggot yang panjang. Dia mengenakan kacamata lensa bening berbingkai hitam, seragam marinir putih dan emas yang dihiasi oleh berbagai mendali penghargaan. Dia juga memiliki kebiasaan unik menggunakan topi marinir yang diatasnya terdapat figuran seekor burung camar dan mantel putih yang nampak kebesaran ditubuhnya.

"Yo, Sengoku!" Suara keras membuyarkan lamunan petinggi marinir itu. "Kau mau kripik? Aku baru saja membelinya, HAHAHA~"

Sengoku hanya bisa mendesah pasrah saat melihat siapa yang datang menemuinya. "Garp! Kenapa kau datang ke sini?" Ucapnya dengan nada tegas.

"Oh, jangan terlalu serius seperti itu Sengoku! Hal itu tidak cocok bagimu yang sudah tua." Balas Garp dengan begitu santai.

Twich

Urat tebal bermunculan di pelipis Sengoku. "Kau itu yang terlalu santai, bertingkah layaknya anak-anak. Sadarlah dengan umurmu, Garp!" Bentaknya sambil melepaskan napas panjang. "Kenapa kau ke sini? Aku sedang sibuk. Jika tidak ada kepentingan, cepat pergi! Aku tidak ada waktu untukmu."

"HAH~" Garp menampakkan wajah kecewa dan terkejut. "Memangnya ada masalah apa?" Tukas pria berpangkat Wakil Admiral itu.

"Keluargamu, Garp." Jawab Sengoku sambil memandang tajam teman seangkatannya. "Gara-gara cucumu aku tidak bisa istirahat untuk beberapa hari ini."

"Luffy? Memang ada apa antara kau dan Luffy?" Tanya Garp sambil menaikkan alisnya sebelah.

"Karena dia telah mengalahkan Crocodile, sekarang aku disibukkan dengan pemilihan anggota baru Shicibukai. Gorosei menyerahkan keputusan pada pihak marinir untuk memilih pengisi kursi kosong itu." Jelas singkat Sengoku.

"BHAHAHA~ Lihatlah Sengoku! Cucuku memang hebatkan, mengalahkan salah satu Sichibukai begitu memasuki Grandline."

"BUKAN ITU INTI PERKATAANKU, GARP!" Bentak Sengoku yang nampak semakin frustasi menghadapi pria seumurannya.

"Ya. Ya... aku tau!" Balas Garp dengan santai sambil kembali menikmati kripik dibawanya tadi.

Monkey D. Garp, penyandang julukan 'Garp the Fist' atau lebih dikenal dengan 'Hero of the Marines' merupakan pria tua yang menjabat sebagai Wakil Admiral di Angkatan Laut. Memiliki tubuh tinggi dengan kulit tan, berdada bidang, bertubuh kekar dan terdapat bekas luka di pelipisnya sebelah kiri.

"Huf~" Sengoku hanya bisa kembali mendesah mendengar nada malas Garp. "Kenapa aku harus berurusan dengan orang sepertimu."

Pria penyandang inisial D di tengah namanya itu memandang malas Sengoku dengan iris birunya. "Apa hanya karena ulah Luffy kau terlihat begitu frustasi?" Ucap Garp dengan nada yang nampak serius.

Pria berjulukan 'Sengoku the Buddha' itu memandang datar Garp untuk sejenak. "Tenryuubito memintaku untuk segera melacak dan menangkap bocah didikan Mikoto, Suoh D. Naruto. Gorosei juga setuju dengan permintaan mereka, melihat tindakan yang pernah dilakukan bocah itu. Belum lagi dia juga memiliki buah iblis yang sangat berbahaya, sehingga membuat Gorosei khawatir dengan rencana bocah itu untuk masa mendatang."

"Ah~ Shinigami..."

"Yah. Kita kehilangan jejaknya sejak satu setengah tahun lalu, setelah dia mengamuk di Sabaody. Kita tidak tau rencana apa yang dimiliki bocah itu, dan hal itulah yang menakutkan. Jika memandang siapa yang menjadi gurunya, maka tindak kepasifannya selama ini patut diwaspadai. Apa lagi Kizaru yang telah membunuh Mikoto, mau tidak mau kita telah menjadi salah satu tergetnya. Sial, kenapa semua penyandang inisial D begitu merepotkan." Lanjut Fleet Admiral.

"HAHAHA~ Kizaru membunuh Mikoto? Itu adalah hal terkonyol yang pernah aku dengar, Sengoku! Kau tahu sendiri kemampuan pria tua itu, bahkan aku saja tidak mampu mengalahkannya. Dan kau ingin mempercayai bahwa Mikoto telah mati di tangan Kizaru? Jangan bercanda! Kalaupun aku bisa melihat mayatnya, aku tetap tidak akan percaya. Apa lagi sampai sekarang kita masih belum bisa menemukan tubuhnya. Pak tua itu belum mati, Sengoku!" Bantah Garp.

"Aku tau. Tapi aku yakin kalau dia tidak akan melakukan pergerakan..."

"Ya. Dia bahkan lebih malas daripada Aokiji. Maskipun begitu, dia akan keluar dan bertindak jika terjadi sesuatu yang membahayakan pada bocah Shinigami itu."

"Itulah yang membuatku sedikit ragu mangkapnya, meskipun bocah itu kembali membunuh Tenryuubitu saat mengamuk di Sabaody."

"HAHAHA~ Sekarang dia pasti sudah bertambah kuat! Bocah itu memiliki bakat yang besar, aku masih ingat bagaimana dia menendang semua bokong didikan baru Zephyr ketika Mikoto mengajaknya berkunjung ke sini." Tukas Garp yang kini kembali menikmati kripik.

Melihat tindakan temannya, Sengoku segera merebut kripik beserta kantongnya dari tangan Garp. "Kau sudah memakan bagianmu!" Ucapnya sambil memakan kripik yang di bawa Garp tadi. Dia mengabaikan pria tua yang saat ini tengah menggerutu.

"Sengoku, boleh aku minta satu saja." Tukas Garp dengan memelas.

"Tidak!"

"Tch... ambil saja semua!" Ucap Garp yang terlihat kecewa, tapi beberapa saat kemudia dia kembali mengulas senyum. "Aku masih punya satu bungkus lagi, dan aku tidak ingin membaginya denganmu!" Lanjutnya sambil mengelurkan 1 bungkus kripik baru.

"Garp, jika kau ingin berbagi kenapa bukan itu yang kau berikan padaku?" Komplain Sengoku yang kini menatap tajam pria pemilik inisial D itu.

"Huh... kau sendiri yang memilih bahkan mengambilnya secara paksa dari tanganku." Bantah Garp.

Kedua pria tadi saling bertatapan untuk sejenak, lantas tertawa bersamaan. Setelah beberapa saat berlalu menikmati kripik masih-masing dalam diam, Garp akirnya angkat bicara. "Hei, Sengoku. Berapa sekarang harga kepala bocah itu?"

"Huh?" Sengoku menaikkan alisnya sebelah, ia lantas menatap Garp dengan pandangan penuh kritisi. "616.000.000 beri."

"HAHAHA~ Aku bisa membeli banyak kripik dan donat dengan uang sebanyak itu!" Ucap Garp sebelum beranjak meninggalkan ruang kerja milik Fleet Admiral Angkatan Laut.


-Dua jam kemudian dengan Naruto, Haku, dan kru Topi Jerami-

"Wah~ Lezatnya. Ini ramen terenak yang pernah aku rasakan." Tukas Kapten Kru Topi Jerami. "Han-jhi, ahu hing u hajar huha haeng senak buatan Pria Monster itu!" [Sanji, aku ingin kau belajar membuat ramen seenak buatan Pria Monster itu!]

"Ya. Ya... telan dulu makananmu sebelum berbicara, Luffy!" Tutur pemuda yang bernama Sanji.

Dua jam berlalu semenjak pertemuan langsung antara Naruto dan kru Topi Jerami, dan mereka kini tengah menikmati pesta di halaman kediaman milik pemuda penggila ramen. Mereka berinteraksi begitu akrab, meskipun sebelumnya sempat beradu kekuatan, dan seluruh kru Bajak Laut Topi Jerami kalah secara telak di tangan kedua orang pemilik rumah.

Yah, meskipun tidak semuanya terlihat akrab, sebab tiga di antar keseluruhan kru milik Luffy tetap bersembunyi diatas kapal.

Setelah selesai berpesta, kru Bajak Laut Topi Jerami segera berkemas untuk kembali ke Laut Biru.

"Hei, Pria Monster. Kau dan Gadis Es Bertopeng itu harus bergabung dengan kru-ku!" Naruto menaikkan alisnya sebelah mendengar perkataan Kapten Bajak Laut Topi Jerami, pasalnya beberapa waktu lalu pemuda itulah orang yang paling membencinya.

"LUFFY!" Teriak Nami, Usopp dan Chopper bersamaan. Mereka tahu kalau kaptennya sering mengajak orang yang baru ditemui untuk bergabung dengan kru, tapi tidak menyangka jika kapten bertubuh karet itu akan menawari orang yang hampir membunuh seluruh kru menjadi salah satu bagian dari mereka.

"Ara~" Sedangkan Robin hanya mengulas senyum misterius sambil sesekali terkikik lirih melihat tingkah ketiga temannya.

Sedangkan Zoro dan Sanji hanya memandang bosan kearah Luffy dan Naruto, meskipun mata keduanya menyorotkan ketertarikan dengan jawaban pemuda yang beberapa waktu lalu sempat menendang bokong mereka.

"Dan kenapa aku harus bergabung?" Tanya Naruto, ia merasa tetarik dengan jawaban Luffy.

"Hem~ kau bisa membuat monster, pandai bermain pedang, dan tentunya karena kalian berdua adalah ninja." Jelas Luffy penuh semangat.

"Luffy, apa kau lupa mereka sebelumnya mencoba membunuh kita? Dia itu 'Shinigami', Luffy!" Celah Usopp dengan badan bergetar sambil menunjuk pemuda bersurai pirang di dekat Luffy.

"Itu benar Kapten Luffy. Jadi tolong pertimbangkan kembali keputusanmu!" Rengek Chopper yang mulai menitikan air mata.

"KALIAN ITU BICARA APA?" Bentak Luffy sehingga menakuti Usopp dan Chopper. "Dia tadi membagi makanannya dengan kita, jadi dia itu orang baik. Lagian aku juga ingin memiliki kru seorang ninja!"

"Sudahlah kalian berdua, kita tidak bisa merubah keputusan Luffy." Ucap Nami penuh kecewa. "Kita hanya bisa berharap kalau nantinya pria itu tidak membunuh kita semua." Lanjut gadis bersurai oranye yang kini tampak begitu depresi.

"Kau tau luffy, aku mau bergabung dengan kru-mu."

"YOSH! Aku punya kru seorang... tidak, dua orang ninja! Ayo berpesta!" Teriak Luffy penuh semangat.

"Tapi sayangnya aku tidak bisa!"

Mendengar perkataan selanjutnya dari Naruto, membuat Luffy menghentikan cengiran lebarnya. "Huh? Ehhhhh~ kenapa?"

"Aku masih memiliki urusan yang harus diselesaikan dan tujuan kita saat ini masih bersimpangan." Jelas singkat Naruto.

"APA? Kalau begitu izinkan kami membantumu!"

"Uhuh~" Naruto menggelengkan pelan kepalanya. "Aku juga ingin mengunjungi suatu daerah di luar Grandline. Mungkin membutuhkan waktu lama, satu atau dua tahun. Aku ingin menyelesaikan semua kepentinganku di tempat itu sebelum kembali ke lautan."

"Memangnya kau tidak bisa mengunjunginya setelah aku menjadi Raja Bajak Laut?"

"Tidak, jika aku menundanya sampai saat itu... mungkin daerah yang ingin aku kunjungi sudah hancur."

"Jadi, jadi..." Luffy memandang Naruto penuh kekecewaan. "Tapi kau akan bergabung setelah urusanmu selesai, kan?"

"Lihat saja nanti saat kita bertemu kembali!"

"Baiklah, aku akan menunggumu!"

"Eh~ Luffy-san, tanganmu berkata lain!" Tukas Haku saat melihat kedua tangan Luffy tetap menggenggam erat lengan Naruto dan juga miliknya.

"HAHAHA~ menunggu pantatmu!" Tukas Zoro sambil tertawa lepas melihat tingkah Luffy.

"Dasar Karet Kampret... lepaskan genggamanmu dari tangan Haku-chan!" Teriak Sanji dengan amarah yang membara.

"Ara~ Sencho-san jadi lebih nakal fufufu~" Tutur Robin sambil tertawa lirih. Dia lantas mengulas senyum saat melihat kerjasama Sanji dan Nami menghajar Luffy. "Memangnya daerah mana yang ingin kau kunjungi, Naruto-san?"

Sejenak Naruto melirik gadis arkeolog di sampingnya. "Kampung halamanku."

"Oh~"

Interaksi antara Naruto, Haku dan kru Topi Jerami berlangsung untuk beberapa waktu. Hingga gadis navigator kru Topi Jerami mengingatkan mereka bahwa sudah waktunya kembali ke Laut Biru sesuai janjinya kepada salah satu gadis dari Pulau Angel.

Naruto memandang kepergian kru Bajak Laut Topi Jerami sambil tersenyum, ia merasa senang bisa bertemu dengan orang-orang yang menarik. Kapten yang bodoh tapi berwibawa, Pendekar Pedang tidak tahu arah tapi berhati baja, Navigator mata duitan tapi menjunjung tinggi persahabatan, Penembak yang pandai bersilat lidah tapi penuh ambisi, Koki mesum tapi jiwanya membara, Dokter penakut tapi berhati lembut, Arkeolog berdarah dingin tapi haus akan kasih sayang. Huh... jika ia belum memiliki rencana, Naruto pasti dengan senang hati bergabung dengan mereka.

Sejenak Naruto menengadahkan wajahnya, menatap langit biru. Berharap teman-teman barunya selalu terjaga, meskipun sering tertimpa marabahaya melihat siapa yang memimpin mereka. "Haku, mari berkemas. Aku ingin menemui pamanku sebelum pergi mengambil kapal di Water 7, setelah itu kita bisa pulang ke Elemental." Tukas pemuda berambut pirang itu kepada rekannya

"Baik." Balas Haku.

Naruto hanya memandang datar gadis bersurai hitam yang kini melangkah menuju kediaman yang mereka tinggali. "Andai saja yang kau sanggah di dadamu adalah buah melon, maka aku setuju kalau kau memiliki tubuh menawan. Tapi sayang, kau hanya menyanggah buah apel." Batin pemuda penggila ramen itu sambil terus memperhatikan pergerakan Haku dari belakang. "Sepertinya aku tau kenapa Haku berdada rata, karena perkembangannya lari ke bokongnya. Tapi tetap saja... Nah, apel lebih baik daripada berwajah cantik tapi justru memiliki pedang diantara kedua kakinya."

"Haku, jangan lupa membawa apel!" Naruto ternyata juga menyukai buah apel.


-Negara Teh ~ Elemental-

Sabaku no Gara, anak termuda dari Karura dan Rasa kini terlihat begitu senang. Tawa lepas mengerikan keluar dari mulut remaja mantan Ninja Desa Sunagakure itu, tangannya bergerak dengan lentur untuk mengendalikan pasir guna menghancurkan markas bandit yang ia temui di perjalanan mencari lawan kuat. Semenjak kematian ayahnya, sang Yondaime Kazekage di tangan Orochimaru, ia memutuskan meninggalkan desa dan berpetualang mencari lawan yang kuat untuk membuktikan bahwa eksistensinya di dunia bisa diakui banyak orang.

Pelariannya meninggalkan desa tidaklah mudah, ia harus membunuh puluhan ninja yang mengejarnya. Namun setelah itu, perjalan hidupnya relatif mudah. Desa Suna tidak lagi mengutus ninja karena saat itu mereka masih dalam keadaan kritis setelah kegagalan menginvansi Desa Konoha. Mereka tidak memiliki kesempatan menang melawan Konoha yang memiliki dua dari Sannin, Kiiroi Senko, dan Shinobi no Kami. Beruntung pihak Suna dimanfaatkan Orochimaru sehingga Konoha bisa menerima aliansi kembali setelah ketegangan antar kedua Negara dan Desa mereda, meskipun Suna harus membayar ganti rugi yang besar.

Gara memanfaatkan situasi kritis itu untuk pergi meninggalkan Suna, ia sudah cukup dengan tindakan penduduk desa asalnya. Di lain sisi Suna juga tidak lagi memiliki ninja yang bisa menandinginya semenjak kematian Yondaime Kazekage, sehingga hidupnya tidak lagi menantang. Dia ingin menjadi kuat, bahkan yang terkuat. Gara merasa eksistensinya terancam semenjak kekalahannya di tangan Jiraiya saat bertarung melawan Petapa Katak itu ketika Suna melakukan invansi di Konoha bersama dengan Desa Otogakure.

'Sabaku Kyū'

Gara mengepalkan tangan dengan erat sehingga membuat pasir yang dikendalikannya menghancurkan tiga orang bandit sekaligus. Terlihat pasir itu menjadi merah kehitaman karena terbasahi oleh darah segar milik para bandit tadi.

"Ya. Lagi... lagi... 'Ibu' menginginkan lebih banyak lagi darah." Gumam pemuda berambut merah itu sambil menyeringai buas.

Sabaku no Gara merupakan Jinchuriki dari Iblis Berekor Satu, Shukaku. Dia memiliki rambut merah pendek seperti ayahnya, dengan pupil mata berwarna hijau. Jika mantan ninja Desa Suna ini tidak ditakuti, kemungkinan matanya yang tidak berpupil maupun beralis itu akan dijadikan sebagai bahan ejekan untuknya. Terdapat bercak hitam mengelilingi matanya akibat isomnia, dan terlihat semakin mencolok karena Gara memiliki kulit putih seperti kebanyakan penduduk Suna. Tepat di dahinya sebelah kiri terukir tatto kanji 愛 [ai/love] berwarna merah, sebuah ungkapan atau kata yang sampai sekarang belum ia ketahui artinya. Remaja berusia 15 tahun itu memiliki tinggi 166 cm, dengan berat yang terbilang normal bagi standar Ninja Suna, 51 Kg.

Pemuda bersatus Jinchuriki itu mengenakan jubah merah yang dipasangkan dengan celana panjang berwarna hitam. Di bagian luar jubah ia mengenakan rompi berwarna coklat yang terkait oleh satu pengikat di pundak kiri, dan pada pinggangnya melingkar dua buah sabuk [ikat pinggang] yang digunakan untuk mengikat tabung berisi pasir.

Setelah puas melihat hasil kerjanya dan memastikan tidak ada lagi bandit yang hidup, Gara segera beranjang meninggalkan markas bandit tadi. Dia tidak ingin membuang banyak waktu, karena ia berencana meninggalkan Elemental. Setelah merasa terombang-ambing saat berpetualang dan lelah dengan kejaran ninja lemah dari berbagai desa yang diutus untuk menangkapnya, 'Ibu'-nya menyarankan untuk mengarungi lautan. 'Ibu'-nya menyampaikan bahwa pelindung yang memisahkan Kontingen Elemental dengan dunia luar telah melemah semenjak 30 tahun lalu, sehingga memungkinkan seseorang untuk melewatinya.

"Beruntung aku mendengarkan cerita Kakek Rikudo saat itu, mengenai dunia di luar sana. HAHAHA~ Aku akan terbebas setelah anak ini mati, karena di luar sana tidak ada orang yang mengetahui fuuinjutsu." Gara terus melangkah menuju Pelabuhan Degarasi milik Negara Teh tanpa menyadari bahwa Iblis yang tersegel di tubuhnya memiliki rencana tersendiri. "Fufufu~" Tanpa sadar sang Iblis mengeluarkan suara kikikan.

"Ibu, ada apa?" Gumam Gara saat mendengar suara kikikan di kepalanya.

"Uh, tidak ada apa-apa. Hanya hidungku yang kemasukan pasir." Gara menghentikan langkahnya untuk sejenak bagitu mendengar jawaban 'ibu'-nya, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Namun tidak lama setelah itu, Gara kembali melanjutkan pergerakannya.


~ Berakhir ~


Silahkan tinggalkan reviews!

Salam... Deswa.