Disclaimer :

-Masashi kishimoto (Om Maskish, wonder gak akan pernah bosen minjem chara Naruto nya, terutama Hinata dan Sasuke, wkwkwkwkwk)

Genre : hurt/comfort, Drama/romance

Pairing : SasuHina | slight Itahina | slight SasuIno | slight ItaIno

Rated : M min 17+ lahhh….. buat para reader jangan berharap Anu-anuan dulu ya, wonder belum siap. Hehehe…

Warning : AU, OOC, gaje, typo, dll

Wondergrave Proudly Present :

#ASTAGA! Benar-benar diluar prediksi kalau FF SOMETHING bakal dapat respond kayak gini, baru pertama kalinya dapat respond banyak, itu karena gue maksa ya? Wkwkwkwkw…. Banyak yang balik maksa untuk update fast, wow! TERHARU dan BENAR-BENAR berterima kasih banyak! Sempat terlintas untuk mengganti alur agar kalian puas #crying

Apakah aku update terlalu lama? Eheh…. Semoga chapter ini bisa menghibur weekend kalian ya para reader

Chapter ini mungkin ga banyak scene sasuhina nya, ada flashback sasuIno nya, yang bakalan mengambil setengah dari jatah. Oh iya, mau ingetin, FF SOMETHING terdiri dari dua kronologi FLASHBACK, yang satunya, 'TIGA TAHUN LALU' dan yang keduanya 'LIMA TAHUN LALU'. Jadi mohon diperhatikan waktunya ya, biar ga bingung, dan semoga ga bingung \^o^/

FF wonder emang kebanyakan FLASHBACK, #ceilee, mungkin udah ciri khas ya? Btw siapa yang EXO-L diantara reader sini? Pada ikut konser? Wow, semangat konser nya ya! Author dah cukup menghirup udara yang sama dengan para EXO TT_TT #gak penting

Oke deh, selamat membaca

.

.

SOMETHING

Hinata menutup pintu kamarnya erat, dan menyenderkan dirinya di depan pintu, ia tak habis pikir dengan kelakuan adik iparnya yang benar-benar kurang ajar. Ohh… apakah ia juga melakukan hal yang lebih dari itu ketika malam dimana mereka bertemu sebelumnya? Andai saat itu dirinya bertindak sebelum berpikir, mungkin hari ini merupakan pertemuan pertama mereka.

SOMETHING∞©WONDERGRAVE

Hari sabtu ini merupakan hari dimana seluruh keluarga Uchiha berkumpul untuk melakukan kegiatan olahraga bersama. olahraga yang mereka pilih sekarang adalah tennis. Hinata menatap Sasuke kosong dari jauh yang sedang bermain dengan suaminya. Sasuke berperilaku seperti biasa membuat Hinata semakin dongkol. Padahal dirinya sudah melakukan kesalahan, tapi ia belum meminta maaf sekalipun kepadanya.

"Hinata-chan?"

Merasa tidak direspon, Mikoto mengguncang pelan bahu Hinata, sehingga membuat Hinata kaget. Ia langsung menatap mertuanya bingung. "Ha'i?"

"Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu? Ada apa sayang? Cerita saja dengan ku." Hinata menggeleng pelan.

"Ti-tidak, sepertinya aku hanya kurang fit." Cicit Hinata, yang membuat Mikoto tersenyum "Kalau begitu terjunlah ke lapangan, gantikan Itachi."

"Eh?"

"Maksud ku, bermainlah bersama adik iparmu, hitung-hitung untuk mengakrabkan diri dengannya." Ujar Mikoto dengan nada antusias. Hinata menggaruk tengkuknya pelan lalu tersenyum terpaksa, "A-anoo…."

"Hey! Itachi-kun, Sasuke-kun! Hinata ingin bermain juga! Dasar kalian!" Hinata terkesiap dan mencoba untuk mencegah Mikoto. Namun semua terlambat, Itachi sudah berlari untuk menghampiri mereka, ia memberikan Hinata raketnya seraya memberi tongkat estafet untuk menyambung permainan. Hinata mendesah pelan, sebelum kemudian benar-benar pergi ke lapangan. Ia melirik Sasuke sejenak dan menemukan seringaian dari Sasuke yang mungkin sudah sering Hinata lihat.

"Mau taruhan?" ujar Sasuke sambil menggenggam bola tennis dan belum melakukan servis.

"Ja-jangan me-mengatakan ha-hal yang aneh. Ce-cepat servis"

"Ahh… tidak menarik. Kalau begitu aku akan bercerita dengan okaa-san saja, kau main saja sendiri." Sasuke melenggang kan dirinya seraya pergi dari lapangan, Hinata kembali terkesiap, dia takut akan perbuatan yang bodoh mungkin dilakukan oleh Sasuke.

"Ja-jangan, ba-baik… kau ingin bertaruh a-apa?" Hinata agak sedikit bercicit. Ia takut jika Mikoto dan Itachi akan mendengar mereka.

"Heh baka, jarak kita dengan mereka jauh. Untuk apa kau berbisik." Sasuke terkekeh geli. Hinata menatapnya sebal.

"Kalau aku menang, aku akan benar-benar menjadi pemilikmu." Ujar Sasuke beserta seringaian yang masih mengerikan, muka Hinata benar-benar merah saat ini. "K-kau gi-gila? Be-benar benar kekanakan. Kau tau aku le-lebih dewasa da-darimu, berhenti mem-permainkan kakak i-iparmu!" Sasuke tertawa jahat.

"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai kakak iparku. Bukankah kau sendiri yang menawarkan diri, huh—?"

"I-itu….."

"Bagaimana? Kau bisa memberi taruhan juga." Hinata menggigit bibir bawahnya, ia kesal dengan kelakukan Sasuke. Lelaki berambut raven itu benar-benar sialan.

"Baiklah, ka-kalau a-aku me-menang, maka minta maaflah kepadaku, dan juga… jauhi aku." Ujar Hinata dengan muka seriusnya. Sedang Sasuke tertawa mengejek lalu kemudian menyiapkan posisi servisnya. Dan bola itu pun melambung.

"Itachi-kun, apa benar kau akan pergi keluar kota lagi besok?" Mikoto bertanya kepada anaknya yang sedang mengelap keringatnya.

"Hn, kerjaan menungguku okaa-san."

"Benarkah?" Mikoto agak ragu dengan Itachi. Semasa Fugaku bekerja, setau dia cabang konoha tidak memiliki peran yang begitu penting. "Apa kau menyimpan sesuatu dari Okaa-san dan Hinata?" Itachi menghentikan kegiatannya sejenak dan menatap ibunya yang cemas. Itachi kemudian tersenyum lembut kepada ibunya. "Tidak ada. Ibu tidak usah khawatir, pekerjaan ku lancar-lancar saja. Ibu tenang saja." Lama Mikoto menatap Itachi untuk mencari kebohongan di mata Itachi namun hasilnya nihil, ia kemudian membalas senyuman Itachi lalu mengambiil sepotong semangka, ia memberikan semangka tersebut kepada anaknya.

"Kau harus kuat, makanlah yang banyak."

Itachi mengambil semangka tersebut dan mulai memakannya.

"Kau menyebalkan, sa-Sasuke-san!" jerit Hinata histeris begitu kesempatan menang sudah kandas dari tangannya. Sasuke tertawa puas. Hinata meninggalkan Sasuke sendirian di lapangan. Ia merutuki dirinya sendiri dan menyesali keputusannya. Mengapa tidak sekalian saja Hinata mengajak Sasuke bermain panahan? Satu-satunya olahraga yang bisa ia lakukan adalah panahan, dan dia bahkan pernah meraih medali emas dari panahan. Sudahlah… satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah pasrah dan bertahan sampai semua ini berakhir. Lagipula Sasuke mungkin tak akan lama di mansion ini. Sasuke menyusul Hinata dari belakang. Sasuke hanya tersenyum simpul melihat siluet gadis itu dari belakang.

Hinata duduk di pinggiran gazebo, tepatnya didepan Itachi yang sedang makan semangka bersama mertuanya. Dengan tidak sabarannya, Hinata menyambar semangka di piring dan memakannya dengan hati dongkol dan mukanya pun belepotan oleh air semangka namun tidak ditanggapinya. Mikoto dan Sasuke terkekeh melihat kelakuan Hinata, sedang Itachi terdiam melihat kelakuan Hinata.

"Apa terjadi sesuatu Hinata?" tanya Mikoto tiba-tiba, membuat Hinata berhenti memakan semangkanya. Ia menatap kesal kearah Sasuke yang juga menyeringai kearahnya. Hinata menghembuskan nafas panjang lalu meletakkan semangkanya di piring kembali.

"Tidak, aku kehausan." Ucap Hinata, mengundang tawa dari Mikoto. Hinata tak habis pikir, kelakuan jahil dari Sasuke ternyata diturunkan dari Mikoto. Kini ia tau alasannya. Semenit berikutnya Hinata terdiam seperti patung. Karena Itachi mengelap mukanya yang belepotan air semangka dengan sapu tangan putih miliknya.

"Bersihkan mukamu, kau Nyonya Uchiha." Dan setelahnya Itachi beranjak, meninggalkan Hinata yang masih terdiam menatapnya. Mikoto dan Sasuke juga terdiam melihat mereka berdua.

"Ahh.. aku pamit." Itachi menunduk memberi hormat sebelum kemudian benar-benar pergi. Muka Hinata memerah akibat kelakuan Itachi barusan. Ini kali pertamanya Itachi melakukan hal tersebut. Mikoto pun mulai sibuk menjentikkan jarinya didepan mata Hinata dan memanggil-manggil Hinata, namun tak ada jawaban darinya. Sasuke hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua wanita Uchiha itu, dan dia pun memutuskan untuk menyusul Itachi.

Sasuke mencoba memanggil Itachi agar menunggunya namun tak ada respon. Sasuke mengecilkan suaranya begitu menyadari Itachi pergi keruang panahan. Rasa penasaran memenuhi hatinya, dan ia pun langsung mengendap-endap untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh Aniki nya.

"Moshi-moshi Ino-chan." Dan Itachi berhasil membuat Sasuke menegang.

"Itachi-kun….. a-ada ma-masalah yang serius" suara Ino benar-benar membuat Itachi khawatir. Karena suara itu bergetar dan ketakutan.

"kenapa? Apa yang terjadi?" ada sedikit keraguan dari Ino untuk memberitahukan Itachi, sehingga membuat Itachi benar-benar naik pitan untuk mengetahui apa yang terjadi. "Cepat katakan kepadaku Ino, kau tau aku tak suka menunggu."

Terdengar helaan nafas panjang dari seberang, "A-aku takut kau akan meninggalkanku setelah aku mengatakannya."

"Ino… kau tau aku sangat menyayangimu. Katakan sekarang."

"Baiklah, kau memaksaku. Awalnya aku tidak percaya kalau aku benar-benar mengalaminya, tapi aku sudah mengetes dengan test pack, dan ternyata aku benar-benar mengandung."

Itachi terdiam, "A-apa? Test pack?"

"Aku positive hamil Itachi-kun! Aku benar-benar bahagia."

Itachi melongo tak percaya, ada sedikit kebahagiaan dihatinya. Namun statusnya adalah sebagai suami saat ini. ia bingung, apa ia harus menyangkal atau tidak. "Dimana kau sekarang Ino?"

"Aku sedang di perjalanan menuju Tokyo. Aku benar-benar ingin menunjukkannya kepadamu."

Itachi memijit pelipisnya pelan sambil mendesah panjang. "Ino, dengarkan aku. Tetaplah di Konoha. Aku akan menyusulmu besok." Terdengar nada kekecewaan dari Ino, namun Itachi tetap bersikeras, karena bagaimanapun ini bukanlah saat bagi Ino untuk memunculkan diri. Ia kemudian ingat akan kelakuan spontannya kepada Hinata. Arghhh….. Itachi agak mengeram frustasi, seharusnya ia tidak menyentuhnya. Sudah 3 tahun dia bertahan dan mencoba bersikap dingin terhadap Hinata, agar Hinata terluka dan menyerah untuk menjadi istrinya dan memutuskan untuk bercerai duluan.

Akhirnya Ino mengalah dan mengatakan kepada Itachi akan menunggunya di konoha saja. Itachi merasakan kelegaan di dalam hatinya dan langsung memutuskan sambungan telefon.

Dilain sisi, Sasuke masih menyimak didepan ruang panahan. Badannya bergetar hebat dan dia mematung. Menyadari langkah yang semakin mendekat, Sasuke langsung berlari agar Itachi tak mengetahui keberadaan dirinya saat ini.

SOMETHING∞©WONDERGRAVE

SASUKE POV

Aku berjalan pelan menyusuri koridor mansion yang tampak sepi. Aku tak menyangka, alasan aniki ku memperlakukan Hinata dengan buruk, ahhh bukan…. Aku sudah menyangkanya, namun aku tak menyangka kalau wanita simpanannya itu adalah Ino. Ya… Ino

Masih terbesit didalam otakku, betapa nista nya cara dia menghindariku saat itu. 5 tahun lalu dia mencampakkanku dan benar-benar membuatku hancur. Dia pun bahkan serasa tak menyesal. Benar-benar menjijikkan.

Aku merasa malu, aku malu karena kakakku berselingkuh dengan wanita yang sangat parah. Aku merasa kasihan, aku kasihan karena kakakku berselingkuh dengan wanita yang salah. Aku menyandarkan diriku di dinding. Berusaha menstabilkan nafasku. Aku benar-benar….

Tidak menyangka

Tenagaku serasa tersedot ketika mendengar nama Ino disekitarku. Ingin sekali aku menghapus dia, namun rasanya aku tak bisa. Aku mendengar langkah kaki mungil yang mendekatiku, namun kuhiraukan.

"Apa yang kau lakukan disini?" mungkin tak ada cara lain, aku pun tak menanggapi makhluk itu dan langsung berjalan kembali menuju kamarku. Aku hanya ingin sendiri saat ini.

SASUKE POV END

.

.

.

FLASHBACK ON (5 tahun lalu)

Dengan senyum iblisnya, dia merebut kotak bekal seorang gadis yang sudah ketakutan sedari ia muncul. "Arigatou nee, bitch." Ucapnya kasar, yang kemudian meninggalkan gadis itu sendirian ketakutan melihatnya. Orang-orang yang ada disekitarnya pun mulai ngeri melihat lelaki itu, beberapa dari mereka berbisik-bisik, dan ada yang masuk kelas untuk menghindari masalah.

Ia adalah lelaki paling ditakuti di sekolah ini, paling dibenci oleh para guru, paling berandal dari semua berandal, ia seperti dikirimkan oleh neraka langsung melalui Delivery Express.

"Yo! Sasuke!" seseorang berambut pirang menegur lelaki bernama Sasuke itu. "Ahh gawat, sensei akan marah melihat seragammu lagi." Lelaki berambut nanas itu mengambil dasi yang Sasuke lingkarkan di lehernya begitu saja. Sasuke menepisnya pelan lalu kemudian tatapannya membidik kawannya yang lain yang tampak masih tertidur pulas.

"Kapan si pangeran tidur itu akan bangun, Naruto?" ujar Sasuke, Naruto mengendikkan bahunya, lalu menggelengkan kepalanya. "Oy, Shikamaru." Sasuke menepuk meja dimana Shikamaru tertidur. Sontak membuat Shikamaru kaget. Shikamaru menatap Naruto dan Sasuke tidak setuju.

"Aku tidak akan membagi kan jawabanku saat ulangan lagi jika kalian tetap seperti ini." Naruto tercengang mendengar perkataan Shikamaru, dia pun langsung merangkul akrab Shikamaru. "Eh, jangan setega itu Shikamaru, kami hanya ingin mengajakmu untuk makan siang bersama." bujuk Naruto, Sasuke menggelengkan kepalanya, lalu kemudian memilih untuk duduk di kursinya yang tak jauh dari kursi Shikamaru dan Naruto.

"Pembohong, aku tau kalau Sasuke sudah merebut jatah makan siang anak lain lagi." Sindir Shikamaru, sambil menunjuk sudut bibirnya kearah Sasuke. Sasuke sontak langsung memegang sudut bibirnya dan menemukan sisa nasi disana. Sasuke mengeram kesal dan mengangkat kedua tangannya. "Baiklah, aku menyerah. Gomen, lanjutkan tidurmu." Sasuke mempersilahkan Shikamaru kembali tidur. Shikamaru berdecak, ia tau kalau IQ Sasuke lumayan tinggi, dan mungkin bisa menandinginya. Tapi melihat keberandalan Sasuke, itu tidak mungkin, ditambah image nya yang benar-benar buruk diantara guru, sekali nilainya bagus, guru pasti tau kalau Sasuke mencontek. Tapi, bagaimanapun, Sasuke adalah teman sejatinya, begitu pula Naruto. Ketika Shikamaru ingin melanjutkan tidurnya, guru pun keburu datang. Kali ini pelajaran biologi, kebanyakan praktek, dan Orochimaru-sensei yang dingin sebagai guru mereka. Shikamaru mendesah sebal, ia tak akan bisa minggat dan tidur di atap bersama Naruto dan Sasuke. Sasuke juga tampaknya sebal ketika kedatangan Orochimaru.

"Siapkan buku dan jas lab, kita akan percobaan ujian praktek." Ucap Orochimaru singkat namun mampu membuat semua siswa lelah akan kelakuannya. Mereka sudah hafal benar.

"Ahh… tapi sebelum itu, sensei akan memperkenalkan siswi baru." Para siswa cowok langsung bersorak ketika mendengar kata-kata 'siswi baru' dari sensei.

Trio macan yang berada dibelakang saling pandang sejenak lalu kemudian menangkap seorang siswi yang masuk ke kelas. Gadis itu berambut pirang dan ia menguncir rambutnya tinggi. Badannya semampai seperti miss universe, dan wajahnya cantik natural.

"Konnichiwa, watashi wa Yamanaka Ino-desu, kalian bisa memanggilku Ino, mohon bantuan selama 1 semester kedepan." Semua siswi tampak melihat Ino iri, karena siswa-siswa mulai berbisik mesum satu sama lain.

Sasuke masih asyik mengunyah permen karet sambil memperhatikan Ino didepan.

"Kau bisa duduk disamping Sasuke." Ujar Orochimaru menunjuk bangku kosong disamping Sasuke. Semua siswa dan siswi dikelas itu langsung terkesiap, dan menatap ngeri kearah bangku kosong di samping Sasuke, sedang Sasuke masih asyik mengunyah permen karet sambil melipat tangannya. Ino tersenyum begitu mata birunya bertemu dengan mata onyx milik Sasuke.

Hari ini, mereka praktek membelah tikus dengan asisten lab mereka masing-masing yang tentunya sensei sudah membaginya dengan rata.

Sasuke menatap Ino yang telaten membelah tikus tanpa merasa jijik, biasanya cewek akan menjerit manja namun Ino tidak. Malahan Sasuke nge boss saja didepan Ino.

"Namamu Sasuke Uchiha kan?" Ino membuka pembicaraan, dan hanya dibalas Sasuke dengan 'Hn' saja. Ino tidak merasa sakit hati dan malah mengangguk seperti mengerti. "Boleh ku panggil Sasuke-kun saja?" tanya Ino kemudian dan hanya dibalas 'Hn' oleh Sasuke.

"Kau tidak takut denganku?"

"Hah—?" Ino menghentikan kegiatannya dan menatap Sasuke yang ada disampingnya. "Apa yang salah denganmu? Apa kau buronan?" tanya Ino disertai kekehan lalu kemudian melanjutkan kegiatan membelah tikusnya.

"Iya, aku buronan." Balas Sasuke menyeringai, Ino kembali terdiam namun kemudian ia tersenyum kearah Sasuke, membuat Sasuke kaget. Ino seperti tidak mempunyai rasa takut saja.

"Kalau begitu kita sama. aku juga buronan." Jawab Ino kemudian meletakkan pisau bedah. Ia melihat hasil pekerjaanya puas. Ia pun mengangkat tangannya, mengatakan kepada sensei kalau kelompok mereka selesai membedah. Orochimaru langsung menghampiri mereka, dan menatap Sasuke yang masih mengunyah permen karet tanpa rasa bersalah.

"Setelah ini buatlah laporannya." Ujar Orochimaru dingin, lalu ia menunjuk kearah Sasuke. "Aku ingin dia yang membuatnya." Dan Orochimaru meninggalkan mereka berdua. Ino menatap Sasuke, Sasuke membalas tatapannya.

"Apa?" tanya Sasuke bingung

"Apa lagi? Kapan kita akan mengerjakannya?"

"Hah? Kita?" Sasuke melongo tak percaya. "Apa maksudmu kita? Tentu kau yang mengerjakannya sendiri. Aku hanya menumpang nama. Kau tak tau asas kelakuan lelaki saat kerja kelompok?"

"Sensei menyuruhmu yang melakukannya. Aku hanya akan membantu, lagian kita kelompok, ya tentu saja kita mengerjakannya bersama."

Sasuke mendekatkan wajahnya kepada Ino, Ino agak memundurkan dirinya. "Apa yang kau lakukan?"

"Kau tidak takut kepadaku?" Ino terkekeh, lalu kemudian menjauhkan Sasuke. "Kau bukan siluman, untuk apa aku takut? Bagaimana kalau pulang sekolah nanti? Aku benci menunda tugas. Kita kerumahmu ya?"

Sasuke menggeleng, "Aku yang akan kerumahmu." Dan kemudian Sasuke meninggalkan Ino dan juga kelasnya, bersama Shikamaru dan Naruto yang telah selesai juga. Ino melihat kepergian Sasuke dan kemudian terkekeh geli. Setelah siswi lain meyakinkan kalau Sasuke sudah pergi, mereka langsung mendekati Ino dan berkenalan.

"Tenten desu" ujar seorang wanita bercepol dua kepada Ino, ia kemudian menyambut tangan tenten, menjabatnya lembut. "Yoroshikune…"

"Ino-chan, kau berhati-hatilah dengan dia." Ujar tenten mengundang muka bingung dari Ino. "Dia siapa?" tanya Ino, tenten mendecak sebal, "Siapa lagi? Si Sasuke itu." Ino hanya menampilkan senyumnya. "Kenapa? Dia lelaki yang baik."

"Kau ini, dia itu sangat menyeramkan! Dia buronan no.1 para guru, suka berulah. Satu minggu pasti selalu ada masalah besar. Kalau tidak tawuran, dia pasti masuk polisi karena berulah di jalan dengan berbagai masalah lain. Kegiatan rutinnya juga mengambil secara paksa bekal anak perempuan secara random." Cerita tenten semangat, sambil merangkul Ino untuk pergi ke kantin bersamanya. Ino hanya menanggapinya dengan lucu. Bagi Ino, Sasuke tak mengerikan, malahan itu adalah perilaku biasa ketika lelaki sedang mengalami masa pubertas.

Seperti yang telah dijanjikan, Sasuke pulang bersama dengan Ino, bukan karena alasan khusus, melainkan karena masalah biasa, yakni kerja kelompok. Rumah Ino tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, rumah minimalis yang sederhana.

"Masuklah" ujar Ino kepada Sasuke yang masih sibuk melihat perkarangan rumah Ino yang begitu rapi. Sasuke mengangguk dan mengikuti perintah Ino.

"Ino-chan, okaerinasai…" dan kehangatan langsung menyeruak begitu Sasuke masuk, ia disambut senyuman hangat dari seseorang berusia kepala 3, dan kemudian wanita itu mempersilahkan Sasuke untuk duduk didekat penghangat. Sasuke hanya menurut sambil mencuri pandang untuk menelusuri rumah minimalis milik Ino. Tak lama Ino datang dengan ocha dan makanan kecil. Seragamnya juga sudah ia ganti dengan dress rumahan yang menurut Sasuke sangat manis ketika Ino memakainya. Ia juga memakai bando dan mengurai rambut pirangnya.

"Aku akan mengambil laptopku, Sasuke-kun." Ujarnya kemudian sambil tersenyum, Sasuke membalas senyuman Ino dengan anggukan.

Mereka pun memulai pekerjaan mereka ketika Ino membuka laptopnya. Sasuke pun mulai mengetik asal, tak lama terdengar kekehan, yang ternyata Ino menertawakannya. "Kau mengetik apa Sasuke? Kenapa lamban sekali?" ejeknya

"Diam…." Ujar Sasuke sedikit menggeram, ia benar-benar tak suka disindir seperti ini. "Berikan kepadaku" Ino merebut laptop yang ada ditangan Sasuke. "Untuk laporan, tidak boleh langsung isi, kau harus membuat pendahuluannya terlebih dahulu…." Ino menjelaskan kepada Sasuke panjang lebar, namun Sasuke bukannya konsentrasi, dia malah menatap Ino dari tadi, ia menelusuri wajah Ino yang begitu rupawan. "Cantik….." gumam Sasuke tidak sengaja, sehingga membuat Ino berhenti menjelaskan dan menatap kearah Sasuke.

"Apa?" Sasuke yang tersadar akan kebodohannya, langsung mengayunkan tangannya didepan wajah Ino. "Tidak a-ada a-apa-apa." Sasuke langsung mengambil ocha yang sudah disuguhkan untuknya dengan terburu-buru, Ino tampak mencegah Sasuke, "Ahhhh….." Sasuke menjerit ketika merasakan begitu panasnya Ocha tersebut, karena kaget, ocha itu pun tumpah dibadan Sasuke, membasahi pakaiannya.

"Hati-hati… itu panas." Ujar Ino yang menurut Sasuke terlambat. "Hihihihi….. kau ini ada-ada saja." Ino beranjak dari tempatnya, meninggalkan Sasuke.

Ino kembali dengan sebuah kaos di tangannya, ia menyodorkannya kepada Sasuke. "Gantilah pakaianmu dengan ini, kau akan masuk angin." Sasuke menerimanya dan kemudian beranjak. Ia melepas kancing kemejanya. "Hey! Apa yang kau lakukan!" Ino menjerit dan menahan tangan Sasuke. Sasuke menatap Ino yang mukanya sudah memerah. "Jangan ganti disini, pergi kekamar mandi saja sana!" Sasuke terkekeh lalu kemudian dengan cepat meninggalkan Ino yang masih memerah akibat perbuatan Sasuke.

Sasuke pergi kearah yang ditunjuk Ino. Namun sialnya, ada dua pintu disini. Sasuke menggaruk kepalanya pelan, dan kemudian memilih masuk ke pintu sebelah kanan. Ia salah masuk ruangan. Ternyata ia berada dikamar Ino sekarang, Sasuke mengetahuinya setelah melihat foto-foto Ino yang terpajang begitu manisnya. Kamar Ino begitu rapi, hangat dan wangi. Sasuke menyimpulkan bahwa Ino adalah anak yang baik dan berprestasi. Terlihat tropi dan medali yang dipajang juga dipojok kamarnya. Sasuke tersenyum dan mendekati deretan tropi itu.

Juara kelas, cerdas cermat nasional, dan kebanyakan adalah medali Panahan.

CEKLEK….

"Sa-Sasuke-kun, apa y-yang kau lakukan?" Sasuke terkejut, ia melihat Ino yang ada di bibir pintu. Sasuke menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Gomen, aku salah masuk. Hehe…." Ino tersenyum melihat Sasuke yang salah tingkah. Sasuke menunjuk tropi yang dimiliki Ino. "Kau jago main panahan ya?" Ino mengangguk, lalu mendekati Sasuke, ia elus salah satu tropi.

"Aku menyukai panahan. Sasuke bisa main panahan?" tanya Ino, dan mendapat gelengan dari Sasuke. "Aku belum pernah mencobanya. Kau mau mengajariku… kapan-kapan?" tawar Sasuke, Ino mengangguk pelan. "Boleh, dengan senang hati."

"Bagaimana kalau minggu ini? dirumahku?" tawaran Sasuke membuat Ino terkejut, namun kemudian ia mengiyakannya.

Minggu yang ditunggu-tunggu bagi Sasuke, karena hari ini Ino akan datang kerumahnya. Mikoto tampak bersemangat dan bahagia melihat anaknya yang melakukan hal normal. Ia jadi penasaran dengan seseorang yang akan dikenalkan oleh Sasuke. Untuk pertama kalinya, Sasuke memiliki teman SMA perempuan.

Ino menganga tak percaya melihat rumah Sasuke yang begitu besar layaknya istana tradisional yang sering ada di Dorama. Ketika ia masuk, ia sudah disambut oleh para maid, dan mereka mengantar Ino keruang panahan. Diperjalanan, seorang wanita cantik yang tak lain adalah ibunya Sasuke—Mikoto menyambut Ino dengan riang. Ino memperkenalkan dirinya dengan sopan, dan dengan mudahnya ia akrab dengan Mikoto. Mikoto bercerita singkat mengenai Sasuke, dan ia juga mengatakan bahwa Ino adalah wanita pertama yang diajak Sasuke kemansion.

Sampailah Ino di ruang panahan, ia mendapati Sasuke yang sudah berpakaian rapi dan seperti sedang mencoba membidik sasaran. Ino tertawa melihat tingkah Sasuke.

"Sasuke-kun…." Sapa Ino sehingga membuat Sasuke tersadar dan ia menyunggingkan senyum kearah Ino. "Ino… kau sudah datang." Ino mengangguk, Sasuke kemudian mempersilahkan Ino untuk mengganti pakaiannya. Sasuke menatap Ino dengan tatapan kagum, mengapa ia begitu cantik memakai apa saja. Ino menguncir rambut pirangnya, sehingga menampilkan lehernya yang jenjang, membuat Sasuke melongo akan kelakuan Ino.

"Ayo kita mulai." Sapaan Ino membuat Sasuke tersadar, ia kembali keakal sehatnya dan berdeham keras. Ino tertawa melihat kuda-kuda Sasuke yang berantakan dan posisinya yang tak tepat.

"Ikuti aku Sasuke, posisikan dirimu seperti yang aku lakukan." Sasuke memperhatikan Ino, dan kemudian menurutinya. "Jangan terlalu kaku." Perintah Ino. Ino memperhatikan Sasuke, sehingga membuat Sasuke terdiam mematung. Ino mendekatinya dan kemudian membenarkan posisi tangan Sasuke, Ino melakukannya dari belakang Sasuke, sehingga Ino seperti memeluknya dari belakang. Tangan Ino juga menggenggam kedua tangan Sasuke yang memegang busur, Sasuke sampai tidak bernafas dan menahan semua kegiatannya. "Kunci targetmu dan….. bidik." Ino pun melepaskan anak panah bersamaan dengan Sasuke yang melemas karena akhirnya Ino berhenti memeluk(?) Sasuke. Sasuke mengambil nafas sebanyak-banyaknya. "Kau mengerti?" ujar Ino yang menyadarkan Sasuke dari lamunannya. Sasuke pura-pura mengangguk mengerti.

"A-aku capek…" ucap Sasuke dan langsung berjalan menuju bangku yang tersedia untuk beristirahat. Ino melongo tak percaya, padahal mereka baru saja mulai. Ino pun menurut dan mengikuti Sasuke pergi ke rest chair.

"Rumahmu sangat besar…" puji Ino

"Tapi tidak sehangat rumahmu…." Ujar Sasuke "Disini hanya ada aku dan okaa-san. Aniki ku sangat jarang dirumah, dan otou-san workaholic." Jelas Sasuke santainya, entah mengapa ia merasa sudah terbiasa disamping Ino. Ino mengangguk mengerti, ia tersenyum lirih, Sasuke tidak tau apa arti senyuman itu. "Kau pasti sangat kesepian…." Sasuke berhenti menatap Ino, ia agak menunduk, matanya hanya tertuju ke papan target. Perlakuan Ino selanjutnya membuat Sasuke terkejut. Ino mengelus rambut ravennya lembut.

"Lelaki baik sepertimu, mengapa orang mengabaikannya? Kau kurang kasih sayang ya?" Ino mengatakan nya dengan sedikit terkekeh geli. Sasuke entah untuk kesekian kalinya kembali terpesona kepada Ino.

"Ino-chan….."

"Uhm?"

"Sepertinya aku mencintaimu….."

"Hah?" Ino kaget, ia menatap Sasuke yang tampak menatapnya serius. Onyxnya menatap Ino tajam, menuntut jawaban saat itu juga.

"Sasuke—" Ino belum menyelesaikan perkataannya, namun Sasuke sudah memotongnya. "Aku tau kita baru bertemu, tapi untuk pertama kalinya bagiku. Selain Shikamaru dan Naruto yang memang teman semasa kecilku….. kau orang yang pertama kali menghargaiku." Ino tak bisa berkata apa-apa. "Ini mungkin terdengar konyol, namun aku tidak bisa menstabilkan jantungku ketika aku bertemu denganmu." Dan setelahnya Sasuke menarik tengkuk Ino dan mengecup bibir Ino lembut.

"Aku akan membuktikannya….. kalau aku serius." Ino masih mematung, sedang Sasuke pergi meninggalkannya Ino yang tak berkutik. Sasuke takut jika ia lama-lama berada didekat Ino, ia bisa kalap dan mempraktekkan semua video yang pernah ia tonton.


Shikamaru dan Naruto melongo melihat seragam yang Sasuke pakai, tumben-tumbenannya ia memakai atribut lengkap walau masih sangat berantakan. Sasuke juga membawa tas hari ini, seperti sangat berniat.

"Dia kenapa? Apa aku tertidur sangat lelap kemarin sehingga tak menyadari ada badai yang datang?" tanya Shikamaru kepada Naruto, Naruto menggelengkan kepalanya menandakan bahwa dia juga tidak mengerti. Sasuke yang terus mendapatkan tatapan tersebut langsung memukul meja. "Apa aku tidak boleh memakai seragam?" Shikamaru dan Naruto saling pandang, lalu mereka bersamaan menggelengkan kepalanya. "Kau bisa memakai nya semamumu Sasuke." Ledek Shikamaru, yang kemudian mereka bubar karena sensei telah datang. Hari ini lagi-lagi pelajaran dari Orochimaru menyebalkan.

Sasuke merasa canggung ketika menyadari Ino memandanginya sedari tadi. Sasuke berdeham keras, "Ada apa?" tanya Sasuke tanpa membalas tatapan Ino, ia masih malu akan perkataan nya di mansion.

"Kau memakai seragammu…."

Sasuke menggeram, "Emang salah bagiku memakai seragam?" Ino menggeleng kuat, namun justru itu membuat Sasuke kesal, ia memukul mejanya sehingga membuat semua yang ada dikelas memusatkan perhatian kearahnya termasuk Orochimaru yang mendeath glare nya, namun tak dihiraukan oleh Sasuke. Sasuke malah melepaskan jasnya dan membuang dasinya begitu saja. Setelahnya ia berlari keluar kelas. Ino terkekeh geli melihat kelakuan Sasuke.

Sasuke menidurkan dirinya diatap. Ia tau Orochimaru pasti tak akan tinggal diam setelah kelakuannya yang minggat dari kelasnya secara terang-terangan. Namun apa boleh buat, ia tak kuat menahan malu didepan Ino.

Tiba-tiba pintu atap terbuka, Sasuke memejamkan matanya. "Ini tempatku, silahkan cari tempat lain saja." Ujar Sasuke tanpa melihat siapa yang datang.

"Sasuke-kun….." suara familiar Ino membuat Sasuke terkesiap, Sasuke langsung bangun dan beranjak berdiri. Ino tampak tersenyum, ia membawa dasi Sasuke. Ia kemudian mendekati Sasuke yang mematung.

Tanpa penolakan, Sasuke membiarkan Ino yang mulai menegakkan kerahnya. Ino memasangkan dasi kepada Sasuke. "Ketika pertama kali kita bertemu, dari matamu, aku sudah menemukan bahwa kau adalah lelaki yang baik."

"Apa maksudmu?" Sasuke memiringkan kepalanya, muka Ino memerah, karena Sasuke meminta Ino mengatakan hal memalukan secara implicit.

Ino menutup kembali kerah Sasuke begitu ia selesai memakaikan dasi. Ia tatap mata Sasuke, "Jadilah dirimu sendiri Sasuke-kun. Jangan pernah berpikir bahwa aku bodoh mengabaikanmu. Oh iya, aku sudah menyiapkan bekal untukmu, jangan merebut jatah makan siang orang lain lagi. Oke?" Sasuke mulai menyunggingkan senyuman nakalnya, Ino segera berpaling dan ingin pergi meninggalkan Sasuke. Namun Sasuke segera meraih pergelangan tangan Ino, dan kembali menyatukan bibir mereka. "Aku tidak akan melepaskanmu, walau apapun yang terjadi." Dan Sasuke memeluk Ino erat. Berusaha merasakan kehangatan dari Ino. Ino membalas pelukan Sasuke.

FLASHBACK OFF

Tok tok tok…..

Gedoran pintu itu membuat Sasuke terbangun dari mimpinya. Sasuke menggeram frustasi sekaligus kesal. Ia menatap tajam kearah pintu, siapa yang berani mengganggunya. Dengan malas, Sasuke membuka pintu tersebut dan menemukan Hinata yang menunduk dan takut takut berada dihadapannya.

"Apa?" Sasuke benar-benar sedang malas meladeni istri Baka Aniki nya saat ini. kepalanya rasanya benar-benar mau pecah.

"A-ano….."

"Kalau kau memerintahkanku untuk bungkam, aku sedang malas membahasnya." Sasuke mencoba untuk menutup pintu kamarnya, namun Hinata menahannya.

"Ka-kalau begitu, batalkan saja taruhan kita tadi siang." Hinata menatap Sasuke dengan puppy eyesnya. Sasuke menghembuskan nafas panjang.

"Terserah kau saja. Kau ingin menganggapnya apa, aku tidak peduli." Sasuke pun kini benar-benar menutup pintunya. Hinata masih terdiam, ia tidak percaya begitu mudahnya Sasuke menarik taruhan itu.

"Dia bodoh ya?" gumam Hinata, tapi ia bersyukur, seharusnya sedari kemarin ia melakukan ini, kalau ternyata sangat mudah untuk merayunya. Hinata pun pergi meninggalkan kamar Sasuke dan bersenandung ria menuju kamarnya.

Ketika ia membuka kamarnya, ia terkejut melihat Itachi disana, tampak ia sedang mengemasi barangnya.

"Itachi-kun?" Hinata menyapanya, dan Itachi hanya melihat Hinata sebentar dan kembali berkutat dengan kopernya. Hinata mendekat, dan kemudian membantu merapikan pakaian yang sudah Itachi susun. "Apa kau benar-benar akan pergi besok? Padahal baru tiga hari kau disini." Nada bicara Hinata benar-benar sedih. Itachi menghembuskan nafasnya panjang. "Maafkan aku Hinata, aku memiliki pekerjaan yang menuntutku untuk pergi." Hinata mendesah kecewa, ia menghentikan kegiatannya.

"Itachi-kun….." Itachi tampak menunggu lanjutan perkataan Hinata sembari merapikan pakaiannya lagi. "Apa yang kau pikirkan saat kau akan menikahiku?" Itachi menghentikan kegiatannya, dan kini menatap balik Hinata yang sepertinya benar-benar serius.

"Apa kau menikahiku karena kasihan melihatku?" Hinata tiba-tiba mengingat ketika pertama kali ia bertemu dengan Itachi.

Itachi terdiam, "Aku kasihan melihat hiashi dengan hutangnya." Hati Hinata merasa mencelos ketika mendengar perkataan dari Itachi.

"Aku kasihan dia sampai rela menjual anaknya sendiri." Hinata benar-benar mematung. Menyadari suasana yang tak nyaman seperti ini, Itachi meninggalkan Hinata. Tanpa bisa Hinata dengar, Itachi bergumam, "Maafkan aku … Hinata." Dan Itachi benar-benar meninggalkan Hinata yang mematung.

Hinata rasa ia tidak bisa menangis saat ini, ia melangkahkan kakinya seperti zombie menuju kamar mandi.

Ia hidupkan shower dan ia pun duduk di bathtub dengan menekuk lututnya. Ia peluk dirinya sendiri. Pikirannya kosong.

.

.

.

SOMETHING∞©WONDERGRAVE©TBC

#NB LAGI

LANJUT? Boleh! Udah siap tuh chapter tiga menunggu! Duh, gak tega mau ngancem kalian lagi, wkwkwkwkwkwk XD #ketawa nistah

Btw sang author lagi UTS nih #gak ada yang nanya, enggak kok, bukan mau bilang hiatus. Chapter tiga dah jadi, tinggal publish ^^v

Tapi….. #SMIRK dilihat dari review sekarang, tambahin 20++ lagi yahhh! Buat suplemen chapter berikutnya!

Oh iya, makasih juga buat FEEDBACK kalian semua, wonder ga bisa membalas satu persatu, mungkin hanya bisa bilang terima kasih, dan menulis dengan semangat untuk melanjutkan nih cerita, dan semoga kalian tidak kecewa ya

Dan juga untuk MY CEO diputuskan hanya ditulish DISC aja, tapi gak dihapus, seperti permintaan kalian

Makasih semuanya! Ku cinta kalian semua~~~~