"Taehyung hyung.."
Jungkook bergumam sambil menahan air matanya yang sudah mulai bergenang di matanya.
Tiba – tiba mobil sedan berwarna putih datang dan berhenti tepat dihadapan Jungkook yang tengah duduk termenung meratapi nasibnya pagi ini.
Jungkook melihatnya kaget.
"Eomma.."
Benar saja itu adalah Eomma Jungkook.
"Kookie, kenapa masih disini? Nanti kau bisa terlambat."
"Uangku hilang Eomma, aku tidak memiliki uang untuk membayar Bus makanya aku belum berangkat."
"Jinja? Bagaimana bisa? Kemana Taehyung? Kenapa kau tidak bersama dengannya?."
"Hyung sudah duluan Eomma dia ada tugas penting pagi ini."
Jungkook berusaha menutup – nutupi Taehyung agar tidak dimarahi oleh Eomma-nya.
"Ya sudah kalau begitu ayo naik. Eomma akan mengantarmu."
"Ne.."
Jungkook tersenyum lega dan segera masuk kedalam mobil Eomma-nya.
Sementara itu dilain tempat Taehyung sudah hampir dekat dengan sekolahnya.
Di dalam Bus ia bergumam sendiri.
"Hah.. Biarkan saja Jungkook kebingungan dan bertindak seperti orang bodoh. Tidak akan ada orang yang menolongnya."
Taehyung mengeluarkan beberapa lembar uang Won dari saku bajunya dan melihatnya dengan tersenyum licik.
"Jungkook rasakan penderitaanmu.. Hahahahahahahahahahahaha…"
Taehyung tertawa licik dan mengepalkan kedua tangannya tanda bahwa ia sangat bahagia karena berhasil membuat Jungkook menderita.
"Akulah PEMENANGNYA! Yeahh! Akan kubuat kau menderita Jungkook!."
Taehyung tertawa puas dan tanpa disadarinya seluruh penghuni Bus tengah melihat ke arahnya dengan tatapan yang tak biasa. Taehyung yang mulai tersadar-pun akhirnya menghentikan tawanya dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela untuk menutupi rasa malunya.
Tak lama kemudian Bus yang ditumpangi Taehyung telah sampai ditempat tujuan. Yaitu Sekolah. Ia pun segera turun dan masuk kedalam Sekolahnya.
"Untung saja belum terlambat"
Taehyung tertawa lega sambil berjalan santai menuju kelasnya. Tiba – tiba saja Hyuna, Yeoja yang terkenal paling cantik disekolah datang dan menggandeng tangan Taehyung dari belakang.
"Good Morning Prince Taehyung.."
"Good Morning too Princess Hyuna my Lovely."
Taehyung tersenyum manis dan mencubit pipi Hyuna lembut, Dia terlihat sangat tampan dan imut bila begini.
"Taehyung-ah.. kau sangat cute.. aku benar – benar menyukaimu.."
Hyuna semakin memeluk kuat lengan Taehyung.
"Jinja?. Ayo kita segera ke kelas bersama. Bel akan segera berbunyi."
Taehyung mengalihkan pembicaraan dan berusaha melepaskan tangan Hyuna yang menempel erat pada lengannya.
Seperti biasa suasana kelas Taehyung pagi ini sangat ramai.
"Taehyung-ah.."
Jimin sahabat dekat Taehyung berteriak sambil melambaikan tangannya ke arah Taehyung.
Taehyung tersenyum sambil berjalan ke arah Jimin. Ia menaruh tasnya di bangkunya. Tepat didepan bangku Jimin sambil bersiul – siul senang.
"Hari ini tampaknya ada yang berbeda darimu."
Jimin tersenyum sambil meninju pelan lengan Taehyung.
"Jinja? Haha.. nanti akan aku ceritakan semuanya. Dimana Hoseok?"
"Hoseok? Tadi aku sudah mengirimkan pesan untuknya dan dia membalas katanya dia sudah berada di gerbang sekolah sekarang."
"Ahh.. baguslah. Aku sudah tidak sabar ingin menceritakan cerita indahku pagi ini pada kalian."
Taehyung tersenyum licik dan semakin membuat Jimin penasaran.
"Memangnya cerita indah apa yang kau alami pagi ini? Ayolah Tae, ceritakan padaku. Kau dapat pacar baru? Atau tadi Hyuna menyatakan cinta padamu? Nanti kau bisa menceritakannya lagi pada Hoseok-kan? Aku sudah tak sabar. Ayolah Tae…"
Jimin yang sudah sangat penasaran dan tidak sabar menarik – narik lengan seragam Taehyung.
Tak lama kemudian Jung Hoseok sahabat Taehyung dan Jimin datang dan langsung duduk di bangku depan Taehyung.
Jimin gembira sekali melihat kedatangan Hoseok.
"Hah, akhirnya kau datang juga. Taehyung punya cerita meyenangkan pagi ini. Dan dia ingin menceritakannya pada kita. Benarkan Tae?."
Taehyung hanya mengangguk – angguk-kan kepalanya.
"Wah sepertinya seru."
Hoseok menjadi sangat antusias ingin mendengarkan cerita Taehyung.
"Hmmhh.. Pagi ini aku berhasil membuat Jungkook menderita."
"Mwo? Bagaimana ceritanya? Kau berhasil mendorongnya hingga tertabrak Bus? Menjatuhkan-nya dari Gedung berlantai 22? Atau memasuk-kannya ke kandang singa?."
"Hyaa.. Jimin.. Meskipun aku tidak menyukainya dan sangat membencinya. Aku juga tidak sejahat itu. Paboya!."
"Yah.. mungkin saja. Kau-kan pernah bilang kalau kau ingin melakukan itu kepadanya."
Jimin nyengir sambil menggaruk – garuk rambutnya.
Kini giliran Hoseok yang angkat bicara.
"Lalu,apa yang terjadi padanya Tae?."
"Tadi pagi aku mengambil semua uang sakunya. Dan sekarang mungkin saja dia sedang kebingungan di halte bus seperti orang bodoh."
Taehyung tertawa sambil melihat kearah luar jendela.
"J-Jungkook..."
Taehyung sangat terkejut melihat Jungkook bersama Eomma-nya tengah berbicara pada wali kelas mereka, di depan gerbang sekolah.
"Kau bilang apa?"
Jimin yang tidak mendengar jelas ucapan Taehyung mendekatkan telinganya pada wajah Taehyung.
"Aaaarrrrggghhh…. Sial…."
BRAAKKK
Taehyung menendang mejanya dengan keras. Membuat seisi kelas terkejut dan melihat ke arahnya bingung.
"Hyaa.. Kim Taehyung, ada apa?."
Taehyung tidak menjawab pertanyaaan Jimin dan lantas pergi meninggalkan kelas dengan marah.
"Hei sebenarnya dia kenapa sih?"
Hoseok yang keheranan menatap Jimin dengan wajah penasaran.
"Entahlah aku juga tidak tau. Setelah menatap keluar jendela dia langsung marah."
Setelah mendengar jawaban Jimin, Hoseok segera menatap ke arah luar jendela.
"Ahh.. pantas saja dia marah. Lihat saja itu."
Hoseok menunjuk kearah luar jendela. Sesaat setelah itu Jimin langsung menoleh ke arah tunjukkan Hoseok dan terlihat Jungkook dan Eommanya yang juga adalah eomma Taehyung tengah berbincang – bincang dengan Mrs. Seohyun.
"Mwo? Jungkook? Ajumma? Bagaimana mungkin mereka bisa bersama? Bukannya tadi kata Tae.."
"Itulah sebabnya Taehyung marah. Karna dia gagal menjaili Jungkook."
Hoseok memotong ucapan Jimin sambil bertopang dagu. Sementara Jimin hanya menghela nafas panjang.
"Bel akan berbunyi sebaiknya kita cari Taetae sekarang. Sebelum dia mendapat masalah lagi"
Jimin berjalan keluar menuju pintu disusul oleh di pintu mereka berpapasan dengan Mrs. Seohyun dan Jungkook yang melintas.
"Oh, itu Jungkookie."
Jimin menunjuk ke arah Jungkook yang tengah berjalan kearahnya, bersama dengan .
"Mau kemana kalian?."
Tanya Mrs. Seohyun ketus.
"Kami hendak mencari Taehyung."
Hoseok menjawab pertanyaan maut Mrs. Seohyun dengan sopan.
"Hyungie? Memangnya kemana?."
Jungkook ikut angkat bicara.
"Dia sedang mencari sudutnya sendiri."
Hoseok menjawab pertanyaan Jungkook dengan sinis.
"Apa maksudnya? Hyung kenapa?."
"Bukannya kau yang lebih tau."
Hoseok menjawab singkat pertanyaan Jungkook dan lantas pergi bersama Jimin yang memasang muka bodohnya meninggalkan Mrs. Seohyun dan Jungkook yang terdiam.
"Jungkook, Ayo masuk ke kelasmu sekarang."
Mrs. Seohyun tersenyum dan menepuk pelan punggung Jungkook lalu segera pergi menuju kelas Jungkook, kelas yang akan di ajarnya pagi ini. Sementara Jungkook hanya mengangguk dan berjalan gontai memasuki kelas.
"JUNGKOOKIIIEE.. Akhirnya kau datang juga…"
Bambam senang sekaligus histeris melihat kedatangan Jungkook yang duduk di bangku depan mejanya itu.
"Ne.."
Jungkook tersenyum dan membalikkan badannya ke arah Bambam.
"Kau dari mana saja? Gwenchana? Tak terluka-kan?."
"Ani, Aku baik – baik saja. Hanya saja ada masalah kecil tadi uangku terselip entah dimana. Mungkin jatuh di jalan."
"Ahh.. sukurlah aku lega mendengarnya. Hyaa.. kau tau, tadi pagi aku menaiki bus yang sama dengan Jimin sunbaenim. Kau tau kan? Dia salah satu namja populer di sekolah kita. Dia juga sahabat hyung tampanmu itu."
Bambam bercerita dengan antusias.
Jimin?
Entah mengapa saat mendengar nama Jimin, Jungkook menjadi terhanyut masuk dalam pikirannya.
Jimin.. dia sangat dekat dengan Taehyung hyung. Bahkan dia sangat mengerti hyung. Kemana – mana mereka selalu bersama. Di kamar saja ada banyak foto – foto mereka berdua. Sepertinya Hyung sudah menganggapnya saudara sendiri dan sepertinya ia sangat menyayangi Jimin. Aku iri sekali padanya… Aku saja yang sungguh – sungguh saudara Taehyung hyung tidak pernah merasakan kedekatan seperti mereka. Aku ingin sekali… Tapi hyung sangat membenciku. Mungkin dekat dengan Tae Hyung hanya menjadi sebuah keinginan dan impian untukku.
Jungkook terdiam dan bergumam dalam hatinya.
"Bagaimana? Hebat bukan?."
Teriak Bambam girang. Membuyarkan lamunan Jungkook.
"Ahh.. Mwo? Ahh.. Ne Kau hebat sekali.. benar – benar hebat. "
Jungkook yang memang sedari tadi asyik melamun dan tidak mendengarkan omongan Bambam pun kaget sekaligus bingung. Namun karena tidak mau membuat Bambam kecewa ia terpaksa berbohong dan mengacungkan kedua jempolnya seakan – akan cerita Bambam tadi benar – benar hebat.
"Aish.. Kau tidak mendengarkan ceritaku ya?."
Keluh Bambam kesal sambil memanyunkan bibirnya.
"Dengar kok, Kau benar – benar hebat. Aku bangga punya teman sepertimu. Sudahlah jangan manyun begitu. Jelek tau."
Jungkook menggoda Bambam yang sepertinya masih sebal padanya. Dan Jungkook berhasil, Bambam kembali tersenyum dan lantas mereka tertawa bersama.
"Sudahlah ayo kita belajar. Fighting!"
Jungkook tersenyum kearah Bambam sambil kembali membalik-kan badannya kedepan. Kali ini posisinya sudah membelakangi Bambam.
"Ne.. Fighting!"
Bambam mengepalkan kedua tangan didepan pipinya yang chabi sambil tertawa semangat.
Dan jam pelajaran Mrs. Seohyun pun dimulai.
Sementara itu suasana dikelas 2A nampak gaduh. belum datang sehingga para siswa masih asik sendiri dengan kegiatan masing – masing. Pintu kelas terbuka membuat seisi kelas terkejut dan suasana menjadi hening sejenak. Dan ternyata yang membuka pintu adalah Jimin dan Hoseok.
"Hyaa.. kalian mengagetkan saja aku kira datang."
Hyuna si primadona kelas berteriak ke Jimin dan Hoseok.
"Hehe.. mianhe."
Jimin nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dan kemudian suasana menjadi ramai kembali. Jimin dan Hoseok memutuskan untuk duduk kembali ke kursinya.
"Sebenarnya Taehyung pergi kemana? Kita sudah mengitari seisi sekolah tapi tak menemukannya."
"Entahlah, aku juga bingung dengan Taehyung yang semakin hari semakin aneh saja."
Jimin menyandarkan tubuhnya pada kursi tanda bila ia lelah sekali mencari Taehyung yang entah berada dimana sekarang.
Di lain tempat, Taehyung tengah duduk termenung menatap ke arah langit. Suara eommanya masih terngiang di telinganya.
-Flashback-
"Eomma tahu bahwa kau yang telah mengambil uang adikmu. Taehyung-ah kenapa kau begitu jahat pada Kookie? Dia itu adikmu. Beruntung tadi eomma lewat dan menemukannya di halte bus."
"Aku lebih suka kau tidak menemukannya."
"Taehyung-ah dia adikmu, dia menyayangimu. Kenapa kau begitu membencinya?"
"Tidak, dia bukan adikku dia bukan anak Appaku. Dia adalah anak selingkuhanmu! dia tidak ada hubungan darah denganku."
"Jaga bicaramu Kim Taehyung!"
"Apa yang harus ku jaga? Apa aku salah? Itu kenyataan yang sebenarnya kan?"
Baekhyun mendesah mendengar pernyataan Taehyung.
"Berhentilah bersifat seperti anak kecil, kau sudah besar. Berhentilah membuatku lelah. Tolong jangan berlaku jahat dan keterlaluan lagi pada Jungkook. Kenapa kau selalu saja membuatku marah? Kau itu menyusahkan tidak pernah sekalipun membuat orang tuamu senang."
Taehyung merasa ada yang menghantam dadanya dengan keras. Sakit sekali rasanya mendengar eomma kandungnya berkata begitu.
"Ya tentu saja, aku memang tidak pernah membuat kau bahagia. Karna yang bisa membuatmu bahagia hanya Jungkook. Untuk itu aku minta maaf, jika hal yang kulakukan tak pernah benar dimatamu. Tapi aku tidak akan berhenti membenci Jungkook dan juga sandiwara busuk kalian di depan Appaku."
Taehyung mematikan teleponnya secara sepihak dan kemudian membanting ponselnya ke lantai.
-Flashback Off-
Taehyung mendesah lagi dan lagi. Matanya sudah mulai berair tapi air matanya tak juga menetes. Jika kalian tahu, Sebenarnya Taehyung sangat menyayangi Jungkook. Ia selalu mengawasi Jungkook dari jauh memastikan bahwa adiknya aman dan baik – baik saja. Akan tetapi jika ia mengingat Jungkook adalah anak dari kekasih eommanya hatinya terasa begitu sakit. Appanya tidak tahu apa – apa tentang identitas Jungkook yang sebenarnya. Yang tuan Daehyun tahu, Jungkook adalah anak sahabat Baekhyun yang hidup sebatang kara dikarenakan kecelakaan tragis yang merenggut kedua orang tuanya. Baekhyun lah yang memaksa Daehyun agar mau mengadopsi Jungkook. Jungkook tidak bersalah memang, dia juga tidak tahu apa – apa tentang siapa dia sebenarnya.
"Jungkook-ah mianhe, aku sudah jahat padamu. Tapi jika saja kau tahu bagaimana sakitnya hatiku."
Taehyung memejamkan matanya. Hembusan angin menerpa kulit wajahnya.
"Kau disini lagi."
Sebuah suara yang sangat familiar masuk ke gendang telinga Taehyung. Ya tentu saja itu adalah Kim Seokjin, orang yang akhir – akhir ini mengisi hati Taehyung.
"Yaah mau bagaimana lagi, memang disini tempatku bersembunyi."
Taehyung membuka matanya dan tersenyum ke arah Seokjin.
"Jadi kau kenapa lagi? Ada masalah dengan adikmu? Atau eommamu?"
Seokjin duduk disamping Taehyung sambil menyodorkan sebuah permen untuk Taehyung.
"Dua – duanya."
Taehyung membuka permen lolipop mini yang diberikan Seokjin dan memasukkan kedalam mulutnya.
Seokjin hanya ber-oh ria mendengar jawaban Taehyung.
"Kau sendiri kenapa? Merindukan Namjoon lagi?"
Seokjin tertawa mendengar pertanyaan Taehyung.
"Hahaha nampaknya kau begitu mengerti hatiku ya Kim Taehyung."
Taehyung hanya tersenyum mendengar gurauan Seokjin.
"Hyaa.. kau tau kedai ramyun baru di belakang sekolah kita? Aku dengar disana ramyunnya enak sekali. Bagaimana kalau nanti sepulang sekolah kita mencobanya? Aku yang traktir."
"Oke aku setuju!"
"Aigoo kau ini kalau mendengar makanan saja cepat."
Seokjin geleng – geleng kepala melihat sifat Taehyung yang satu itu.
"Ya mau bagaimana lagi makanan kan tidak boleh ditolak. Hahahaha."
Taehyung dan Seokjin tertawa bersama. Perlahan penat dan beban di otak Taehyung memudar begitu saja dan itu semua berkat Kim Seokjin.
Bel istirahat telah berbunyi. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas dengan ceria. Ada yang pergi ke kantin, ke lapangan basket untuk melihat pertandingan basket antara anak kelas 3C dan kelas 2B. Ada juga yang lebih memilih berdiam diri didalam kelas saja sambil merilekskan tubuhnya. Jungkook dan Bambam salah satunya.
"Woaahh Jungkook-ie bukankan sudah gila? Mengajar kita 3jam nonstop tanpa jeda dan sekarang memberikan kita pekerjaan rumah sebanyak ini. Aigoo bisa – bisa rontok rambutku."
Bambam memasang wajah memelasnya dan Jungkook hanya tertawa melihat wajah Bambam yang lucu.
"Bagaimana kalau kita mengerjakan bersama? Mungkin akan terasa lebih mudah."
"Itu ide bagus! Lagipula kau kan pandai pasti kau bisa mengerjakannya kan? Dan itu akan sangat membantuku Kookie."
Bambam tertawa girang menanggapi tawaran Jungkook.
"Baiklah, nanti pulang sekolah kerumahku saja kita belajar bersama."
"Mwo? Ke rumahmu? Jinja? Aaaaa Aku paling senang jika kau ajak kerumahmu. Aku bisa bertemu hyung tampanmu dan juga teman – teman tampannya itu. Aaaaa semoga saja nanti hyungmu juga mengajak teman – temannya kerumahmu Kookie. Aaaaaaaaaaa senangnyaaaaaa"
Bambam berteriak seperti orang gila saking senangnya. Dan Jungkook hanya geleng – geleng kepala menanggapi sahabatnya yang satu itu.
-SKIP TIME-
Saat yang ditunggu Bambam datang, yaitu saat pulang sekolah. Bambam menggandeng tangan Jungkook dan berjalan riang menuju gerbang sekolah.
"Oh hyung."
Jungkook memanggil Taehyung yang tengah berdiri didepan kelas 3B. Nampaknya ia tengah menunggu salah satu siswa kelas 3B. Entah siapa, Jungkook tak tahu. Taehyung hanya cuek menanggapi sapaan Jungkook, Ia menoleh sekilas dan kembali asik dengan ponselnya.
"Apa hyung akan pulang terlambat hari ini?"
"Bukan urusanmu. Pulanglah."
Jungkook sudah biasa dengan sikap Taehyung, ia tersenyum dan tetap nampak ceria.
"Ah ne, hari ini aku dan Bambam akan mengerjakan tugas bersama hyung. Hyung jangan pulang malam – malam ne. Kookie pulang, Annyeong."
Jungkook berpamitan kepada Taehyung dengan melambaikan tangannya dan mulai melangkah pergi.
"Jungkook-ah tunggu dulu."
Jungkook berhenti dan menoleh ke arah Taehyung dengan bingung.
"Ne hyung?"
"Kau pulang naik apa?"
"Aku dan Bambam akan naik bus hyung."
"Tidak, jangan naik bus."
Taehyung mengeluarkan beberapa lembar uang won dari sakunya.
"Ini, kalian naik taksi saja sepertinya akan turun hujan. Kalau kalian naik bus akan kerepotan nanti."
Taehyung menyodorkan uangnya pada Jungkook. Sementara Jungkook malah nampak bingung sekaligus senang dengan sikap Taehyung. Baru kali ini Taehyung nampak begitu peduli pada Jungkook, padahal biasanya ia cuek – cuek saja dan bahkan lebih cenderung tidak peduli pada Jungkook.
"Hyaa! Aku berbicara kepadamu. Kenapa diam saja? Kau mau tidak? Kalau tidak mau yasudah."
"Ah ne, mianhe hyung. Oh Jeongmal gomawoyo, aku akan naik taksi. Hyung juga cepat pulang jangan pulang malam. Annyeong hyungie."
Jungkook tertawa senang sambil melambaikan tangannya ke arah Taehyung. Sementara Taehyung hanya ber "Hmm" ria menanggapi lambaian Jungkook.
"Woaahh Kookie, beruntungnya kau memiliki hyung sebaik Taehyung hyung. Sudah tampan, baik, perhatian. Ahh aku iri denganmu."
"Kau tahu, baru kali ini dia bersikap begitu. Aku juga bingung. Biasanya ia akan sangat cuek bahkan tidak peduli sama sekali padaku."
"Yeah apapun itu, yang jelas sekarang rencana bertemu hyungmu dan teman – temannya gagal karena hyungmu pulang terlambat hari ini."
Bambam berjalan lesu berbeda dengan Jungkook yang sangat bersemangat.
"Hei bocah pirang, kenapa wajahmu tertekuk begitu?."
Jungkook dan Bambam menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara.
"M-Mark Hyung."
Bambam membuka mulutnya dengan lebar melihat salah satu murid 'populer' menyapanya dengan sebutan bocah pirang. Karena rambut Jungkook hitam dan rambutnya yang pirang, sudah pasti Mark menyapanya kan?
"Hei tidak perlu terpesona begitu melihatku. Jungkook-ie dimana hyungmu?"
"Taehyung hyung masih didalam koridor, tepatnya didepan kelas 3B sepertinya menunggu seseorang."
"Ah sudah pasti dia menunggu Seokjin. Padahal dia sudah ada janji denganku dan Jimin untuk membicarakan project kedepan. Kalau sudah begini pasti janji kami akan batal."
"Seokjin? Siapa Seokjin? Aku tidak pernah dengar teman hyung yang bernama Seokjin."
Jungkook memiringkan kepalanya lucu.
"Kau tidak tahu? Dia itu teman kencan hyungmu. Atau mungkin mereka sudah jadian sekarang. Yasudah aku pergi menemui Taehyung dulu. Sampai jumpa Jungkook-ie. Dan kau pirang, jangan menekuk wajahmu kau jadi terlihat jelek."
Mark tertawa sembari mengacak rambut Bambam dan pergi meninggalkan mereka berdua. Bambam nampak spechles dengan perlakuan Mark barusan. Sementara Jungkook terdiam.
Teman kencan? Sudah jadian? Berarti ia kekasih hyungie? Hyungie sudah memiliki kekasih?
Entah kenapa Jungkook menjadi sedih. Mendengar hyungnya sudah memiliki kekasih bukankah harusnya ia senang? Tapi hatinya malah terasa aneh. Seperti ada yang memukul dadanya. Apa ini? Jungkook bukan sedang cemburu kan?
Jungkook menghembuskan nafasnya kasar.
"Ayo Bamie kita pergi."
Bambam mengekor dibelakang Jungkook dengan ekspresi bodohnya yang diakibatkan oleh Mark tadi.
Jungkook merebahkan badannya di sofa. Sementara Bambam duduk di kursi sambil bersandar. Akhirnya mereka telah selesai mengerjakan tugasnya. Rasanya lega sekali semuanya tuntas namun mereka berdua mulai merasa haus dan lapar.
"Bamie, kau ingin makan atau minum apa?"
"Apa saja Kookie yang penting tidak merepotkanmu."
Jungkook berdiri dan berjalan ke arah dapur untuk membuat mie instan dan minuman untuk mereka berdua. Tiba – tiba saja suara bel bertubi tubi terdengar dari pintu depan. Nampaknya yang memencet tombol itu sangat tidak sabaran.
"Bamie, bisa kau tolong aku untuk membukakakan pintunya?"
Jungkook berteriak dari dapur.
"Ne Kookie."
Bambam berlari ke arah pintu dan membukakan pintunya.
"Oh, Taehyung hyung? Apa yang terjadi denganmu?"
Bambam nampak terkejut melihat Taehyung yang penuh dengan luka lebam dan keningnya yang mengeluarkan banyak darah segar.
"Siapa yang dat.. Hyung apa yang terjadi? Kau kenapa bisa begini?"
Jungkook panik melihat Taehyung yang terluka parah. Taehyung terhuyung dan jatuh ke badan Jungkook. Jungkook memegang Taehyung dan membawanya ke sofa.
"Hyung tolong katakan kau kenapa? Apa yang terjadi?"
Jungkook mulai menangis, Taehyung hanya meringis menahan sakit. Kepalanya sakit sekali, badannya terasa remuk. Perlahan tangan Taehyung bergerak, ibu jarinya mengusap air mata Jungkook yang jatuh dipipi gembul Jungkook.
"Jangan menangis, aku benci melihatmu menangis karna kasihan padaku."
Taehyung kembali meringis kesakitan.
"Tahan sebentar ne hyung, aku akan menelpon eomma."
Jungkook hendak berdiri mengambil ponselnya yang ia tinggalkan di kamarnya namun tangan Taehyung mencegahnya.
"Tak perlu, Jimin, Hoseok dan Mark sudah menuju kemari. Jangan terlalu banyak membantu, tetaplah disampingku. Itu saja sudah cukup sekarang."
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
HUAAA APA INI? APAAA ;A; OTAK BUNTU NIH JADINYA BEGINI MAAPIN AUTHOR READERS /SUNGKEM/
KENAPA KOK PAS TBCNYA GITU? SOALNYA CERITA ADA APA DENGAN TAEHYUNG AKAN DIKUPAS DI CHAPTER SELANJUTNYA PEMIRSA. DAN AUTHOR EMANG SUKA BIKIN ORANG KEPO.
DI CHAP INI EMANG SENGAJA AUTHOR TUNJUKKAN SISI LAIN DARI KIM TAEHYUNG YANG ASLINYA SAYANG TAPI BENCI SAMA JUNGKOOK. #EAAKK XD
TERUS MAKASIH BUAT YANG KEMAREN DI CHAP 1 UDH NGEREVIEWS. Buat thiefhanie fha, Temannya Han Kang Woo, ismisofifia , daphnaap , Riska971 dan YulJeon . DITUNGGU PARA READERS YANG LAIN YANG BELUM KASIH REVIEWS SEMOGA DI CHAPTER ANCUR INI KALIAN BERMUNCULAN XD
BOCORAN BUAT NEXT CHAPTER, TERNYATA TAEHYUNG ITU BABAK BELUR GITU DEMI JUNGKOOK. DAN NEXT CHAPTER TAEHYUNG DINGIN DINGIN PERHATIAN GIMANAAA GITU SAMA JUNGKOOK HIHIHI..
.
OKE. SEE YOU ON NEXT CHAPTER~~ SARANGHAE READERS 3
