Title : Kisah Cintaku

Author : lilily

Pairing : YeWon

Genre : Friendship, Romance

Disclaimer : two-shoot, for Siwon's Birthday, Happy Birthday Our Captain!

Warning : bahasa non-baku and typos everywhere

Summary : Aku rela, meski jika hanya kau jadikan yang kedua, bahkan jikapun aku hanya sekedar teman biasa dimatamu pun tak apa, yang hatiku tahu, aku mencintaimu.

Andai saja akupun diberi kesempatan seperti yang lainnya, tapi mungkin memang sampai disinilah batasanku sebagai temanmu, aku tak pernah memiliki kesempatan lebih itu.

.

.

.

.

.

=Chapter Dua=

.

.

.

.

.

Yesung dan dua orang staf baru lainnya sudah mulai bekerja sejak seminggu yang lalu, kalau kalian bertanya bagaimana hariku ditempat kerja selama seminggu ini? Aku akan menjawabnya dengan satu kata, awkward.

Yesung yang sekarang ternyata jauh lebih pendiam dari Yesung yang aku kenal bertahun tahun lalu.

Aku mengira tinggal bertahun tahun di Kota Seoul akan merubahnya menjadi pribadi yang lebih ceria dan terbuka.

Ternyata aku salah, karena Yesung masih teramat sangat pendiam.

Karyawan yang lain awalnya sempat berbisik bisik mengenai Yesung, siapa dia, kenapa dia mendadak masuk dan bergabung ke perusahaan rekomendsi langsung dari Kim Sajangnim.

Yesung yang memang tidak pernah berada lama di Cheonan membuat orang orang tidak ada yang megenalnya, bahkan dari seluruh karyawan di perusahaan ini, hanya aku yang tahu hubungannya dengan Kim Sajangnim.

Baik Kim Sajangnim ataupun Yesung memang memintaku untuk tidak menceritakannya pada karyawan lain, biarkan mereka tahu dengan sendirinya, karena Yesung tidak ingin ia dianggap masuk kesini hanya karena pemilik perusahaan ini adalah pamannya, Yesung bukan tipe yang suka menggunakan koneksi seperti itu, toh tanpa bantuan siapapun ia kemarin berhasil masuk ke perusahaan swasta cukup besar di Seoul, alasannya pindah kesini semata mata hanyalah karena orang tuanya ingin agar ia menetap di Cheonan.

"Siwon"

Aku yang saat itu tengah fokus membaca salah satu laporan keuangan bulanan, cukup kaget mendengar Yesung yang tiba tiba memanggilku, padahal dari pagi ia tidak berbicara sepatah katapun dan tanpak serius mengetik laporan di komputer miliknya, akupun tak berniat untuk mengganggu.

"ya?" balasku singkat.

"aku tidak mengerti bagian yang ini, bisa kau menjelaskannya padaku?" tanya Yesung menunjuk layar komputer.

Karena aku tak bisa melihatnya dengan jelas dari mejaku, aku memutuskan untuk menghampirinya.

"bagian yang mana?" tanyaku setelah maraih kursi dan duduk di sampingnya.

"ini, kenapa hasilnya bisa begini, tidak sama dengan hasil sebelumnya?"

"oh ini memang ada pengurangan dana dulu, untuk kebutuhan dadakan perusahaan, dan tidak dilaporkan disini, tinggalkan saja bagian yang itu, biar aku nanti yang menyelesaikan bagian itu, ini merupakan pengeluaran tahun lalu, kau kerjakan saja mulai bulan yang ini"

"oh baiklah, terima kasih Siwon"

"sama sama, kalau ada yang ragu tanyakan saja"

Begitulah lebih kurang obrolanku dengan Yesung setiap hari di kontor, kami hanya terlibat obrolan formal, tidak seperti teman lama.

.

.

"Siwon, bisa ke ruanganku sebentar?" Kim Sajangnim menghampiri mejaku.

"baik sajangnim" aku yang saat itu tengah menjelaskan sesuatu pada Yesung mengenai bagian pekerjaan yang belum di pahaminya segera bangkit dari tempat dudukku untuk menuju ruangan Kim Sajangnim.

"Yesung sebentar ya, kau kerjakan saja dulu bagian yang lain"

"oke"

Setelah mendapatkan jawaban singkat dari Yesung aku segera menyusul Kim Sajangnim yang sudah lebih dulu kembali ke ruangannya.

"ada apa Sajangnim?" tanyaku saat sudah berada di ruangan bos ku tersebut.

"kau sedang tidak sibuk tadi kan?"

"tidak sajangnim, aku hanya sedang menjealskan pada Yesung beberapa poin pekerjaan yang masih belum dipahaminya"

"terima kasih sudah membimbingnya, bagaimana dia di kantor? apa ia bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik?"

"tentu saja sajangnim, Yesung menyelesaikan semuanya dengan sangat baik, dia hanya belum paham beberapa poin karena dia masih sangat baru disini"

"lalu bagaimana hubungannya dengan para karyawan lain? Dia sangat pendiam, aku khawatir dia tidak akan berinteraksi dengan siapapun, eommanya datang ke rumahku dan menyampaikan bahwa Yesung masih sering berkomentar bahwa ia ingin kembali ke Seoul, ia masih merasa sangat asing disini"

Jadi Yesung masih belum betah berada disini?

Yesung masih ingin kembali ke Seoul?

Aku mohon Yesung, untuk kali ini tinggal dan menetaplah disini, jangan pergi lagi.

"bantuah ia berinteraksi dengan teman teman disini Siwon, aku percayakan Yesung padamu"

Ucapan Kim sajangnim membuatku kembali tersadar.

"tentu sajangnim, aku akan membantunya"

"dan juga Siwon, kalau boleh aku meminta bantuanmu sekali lagi"

"apa sajangnim?"

"rumahmu dan Yesung tidak terlalu jauh, bisa kau memboncengnya dengan sepeda motormu tiap pulang kantor? aku kasihan melihatnya berdesak desakan menaiki bus, Appanya hanya bisa mengantarkannya tiap pagi, sementara pulang Yesung harus naik bus"

Aku terdiam cukup lama mendengar permintaan atasanku.

"apa kau keberatan? Bukankah kau selalu pulang sendiri?" tanya Kim Sajangnim lagi karena aku tak kunjung menanggapi permintaannya.

"bukan begitu sajangnim, apa Yesung akan bersedia?"

"kenapa tidak? yang aku dengar Yesung sering mengeluh soal harus menaiki bus lumayan jauh seperti itu, aku yakin dia akan dengan senang hati kau boncengi dari pada harus berdesakan di bus"

"baiklah kalau begitu, nanti aku akan berbicara dengannya"

"terima kasih Siwon"

Begitulah, sejak hari itu aku memboncengi Yesung setiap pulang kantor dan mengantarkannya ke rumahnya.

Dan sejak saat itu juga Yesung menjadi sedikit lebih terbuka padaku, dia mulai berbicara lebih banyak, dan juga sudah mulai berinteraksi dengan para karyawan lain.

Pelan tapi pasti, akhirnya Yesung bisa berbaur dengan kami semua di perusahaan ini, yang semuanya berjumlah lebih kurang 26 orang.

Aku sudah pernah mengatakan kalau kami baru perusahaan kecil bukan?

dan entah Kim Sajangnim memang sengaja atau tidak, sejak saat itu juga aku sering harus mengikuti pelatihan dan meeting dengan beberapa client di luar, hanya aku dan Yesung.

Pegawai lain memang sering juga mengikuti pelatihan, namun Yesung akan selalu kebagian mengikuti pelatihan bersamaan denganku.

Jujur aku senang, karena dengan begitu aku bisa lebih dan makin dekat dengan Yesung, aku jadi memiliki waktu lebih banyak untuk bersama dengan Yesung.

.

.

"Siwon, kami lihat kau sangat dekat dengan Yesung, kenapa kalian tidak pacaran saja, kami lihat kalian sangat cocok"

Komentar salah satu rekan kerjaku suatu siang saat kami tengah makan siang di kantin dekat kantor, kebetulan siang itu Yesung tak ikut dengan kami.

Yesung memang jarang ikut sebenarnya, karena dia lebih sering membawa bekal sendiri dari rumah.

Aku tertawa mendengar saran rekanku tersebut.

"aku dekat dengannya karena memang kami teman masa kecil, kalian jangan mengartikan lain" ujarku.

"kami tidak mengartikan lain, kami hanya menyarankanmu untuk memacarinya"

Aku lagi lagi tertawa.

"kalian tidak mengenal Yesung, dia itu sudah memiliki kekasih"

"eh? Benarkah? Lalu kenapa kami tidak pernah melihat kekasihnya? Ia selalu datang dengan diantar oleh Appanya, dan setiap pulang selalu denganmu, bahkan setiap acara perusahaan yang berjarak lumayan jauh juga selalu pergi denganmu"

"itu karena kekasihnya sedang tidak berada disini"

"dimana dia?"

"dia sedang bertugas di Jeju"

"apa dia dari Cheonan juga"

"iya, dia juga asli dari sini, kalian tahu Choi Seunghyun?"

"oh! Choi Seunghyun?! Aku tahu dia, bukankah dia anggota militer itu?"

"iya, nah dia kekasih Yesung"

"oh..."

Entahlah, hanya perasaanku saja, atau rekan kerjaku memang tampak kecewa begitu mengetahui Yesung sudah memiliki kekasih.

Merekapun sudah tidak lagi membicarakan soal Yesung setelah itu.

.

.

=Author POV=

.

.

Yesung sampai di rumah pukul 6 sore, tadi ia ada acara dengan beberapa orang karyawan lainnya ke ibukota provinsi/?

"bagaimana tadi acaranya Yesung ah?" tanya Eommanya begitu Yesung memasuki rumahnya.

"membosankan seperti biasa eomma"

"kau selalu mengatakan pekerjaanmu membosankan disini"

"karena memang sangat membosankan, sudah ya eomma, aku mau mandi dulu, aku sangat lelah hari ini"

Tanpa menunggu persetujuan sang Eomma, Yesung langsung berlalu memasuki kamarnya.

Yesung memang masih belum menyukai pekerjaannya disini, atau lebih tepatnya ia masih belum menyukai kembali menetap di Cheonan, ia benar benar telah terlanjur mencintai Seoul, namun apa daya kedua orang tuanya tetap memaksanya untuk kembali kesini, jadilah Yesung bersikap dingin sejak kepulangannya dari Seoul sebulan yang lalu.

"bagaimana hubunganmu dengan Seunghyun?" pertanyaan sang Eomma langsung menyambutnya begitu ia keluar dari kamar mandi.

Entah kapan eommanya itu masuk ke kamarnya, untuk tadi dia keluar menggunakan bathrobe, bagaimana kalau tadi ia keluar telanjang? Karena tak jarang Yeseng melakukannya, keluar dari kamar mandi tanpa menggunakan handuk.

"Yesung" panggil eommanya lagi karena Yesung masih diam tak menjawab pertanyaannya, ia sibuk memilih pakaian di lemarinya, lalu masuk kembali ke kamar mandi.

"aku dan Seunghyun hyung baik baik saja eomma" jawab Yesung akhirnya setelah ia keluar dari kamar mandi, dengan berpakian lengkap.

"kapan terakhir kali kau menghubunginya?"

Yesung memutar kedua bolah matanya mendengar pertanyaan sang eomma, Seunghyun pasti mengadu lagi, menyebalkan.

"aku akan menghubunginya sekarang"

"jangan bersikap terlalu dingin dan cuek padanya Yesung ah, eomma tidak ingin kegagalan yang sama terulang lagi"

Dan ini, ini adalah topik yang paling dibenci Yesung.

Saat dimana eommanya masih belum bisa move on dari kegagalan hubungannya dengan Shin Hyesung terdahulu.

Sebenarnya kegagalan itu tidak berefek apapun terhadap Yesung, karena dari awal dia memang tidak memiliki perasaan apapun terhadap putra sang walikota tersebut, keluarganyalah yang mengatur hubungan tersebut, dan Yesung tidak punya pilihan untuk menolak, jadi ia pasrah saja saat kedua keluarga sepakat untuk mnggelar pertunangan, dan langsung akan menikah begitu Yesung menyelesaikan studinya.

Ia tidak memiliki perasaan apa apa terhadap Hyesung, ditambah hubungan jarak jauh diantara mereka saat itu membuat komunikasi diantara keduanya benar benar tidak berjalan dengan lancar, hingga Hyeung ragu dengan keseriusan Yesung dalam hubungan ini, dan memutuskan pertunangannya secara sepihak dengan Yesung.

Hyesung menikahi orang lain.

Keluarga atau lebih tepatnya kedua orang tua Yesung adalah menjadi orang yang sangat terpukul atas kegagalan itu, karena dari awal kedua orang tua Yesung terutama lagi eommanya, sangat menginginkan Hyesung menjadi menantunya, bahkan selama ia menjalin hubungan dengan Hyesung selama lebih kurang tiga tahun, Yesung merasa yang menjadi anak eommanya adalah Hyesung, bukan dirinya, karena sang eomma akan selalu memarahinya dan berpihak pada Hyesung tiap kai mereka terlibat pertengkaran.

"eomma masih belum bisa menerima keputusan Hyesung hyung? Astaga eomma dia bahkan sudah memiliki seorang putri saat ini"

"eomma sudah melupakannya"

"lalu kenapa eomma masih saja mengungkitnya?"

"eomma hanya mengingatkanmu, sikap terlalu cuekmu itu membuat pacarmu ragu terhadap keseriusanmu, Hyesung dulu memutuskanmu dengan alasan dia merasa kau tidak pernah mencintainya"

"aku memang tidak pernah mencintainya"

"Yesung!"

Yesung memejamkan matanya, dia sangat lelah dan ia sedang tidak ingin berdebat dengan eommanya saat ini.

"aku mencintai Seunghyun hyung sekarang eomma, kalau itu bisa membuatmu bisa lebih tenang"

"bagaimana eomma bisa tenang? walaupun kau mengatakan kau mencintai Seunghyun tapi sikapmu sama sekali tak menunjukkan kalau kau mencintainya"

"sikap seperti apa yang harus aku tunjukkan agar eomma merasa bahwa aku memang mencintai Seunghyun hyung? Apa aku harus menyusulnya ke Jeju dan tinggal dengannya disana?"

"kau terlalu cuek padanya, kau hanya akan menghubunginya sekali seminggu bahkan kadang tidak pernah sama sekali, kau juga seringkali mengabaikan text darinya, dan tidak pernah menanyakan kabarnya, Seungyun sering mengeluhkan ini pada eomma, dia bahkan bertanya apakah kau memiliki kekasih lain"

"astaga eomma, aku yang dulu mendekati Seunghyun hyung duluan, kalau bukan karena aku menyukainya eomma pikir untuk apa aku melakukannya? Aku bukan tipe yang suka menjalin hubungan dengan orang lain, aku hanya pernah menjalin hubungan dengan Hyesung hyung, dan sekarang dengan Seunghyung, dan juga aku bukan tipe yang suka bermanja manja dan membicarakan hal hal tidak penting di telepon, aku akan sangat cepat bosan, bukankah eomma juga sangat tahu sifatku? Kalau memang Seunghyun tidak bisa menerima sifatku apa adanya, ya sudah suruh saja dia memutuskanku, aku tidak akan memaksa untuk bertahan dengan namja egois seperti dia"

Yesung benar benar jadi tersulut emosi, ini bukan pertama kalinya Seunghyun mengadu pada eommanya mengenai sikap Yesung yang dianggap Seunghyun sangat cuek terhadapnya.

Dia lelah dengan sikap Seunghyun yang satu ini, kenapa harus melibatkan eommanya?

Jujur Yesung mencintai Seunghyun, bahkan dulu memang dialah yang pertama kali mendekati Seunghyun terlebih dahulu, saat itu Seunhyun bertugas di Seoul.

Yesung tahu Seouhyun juga berasal dari Cheonan, walau saat kecil ia tidak pernah bertegur sapa dengan Seunghyun sekalipun, namun Yesung tahu siapa Seunghyun, dan begitupun sebaliknya, Seunghyun juga mengenal Yesung, keluarga mereka memang tergolong cukup dekat.

Katakanlah itu love at first sight, karena Yesung langsung jatuh cinta pada Seunghyun sejak pertama ia melihatnya di kampusnya kala itu, dan tahu mereka berasal dari daerah yang sama, mereka terlibat percakapan yang cukup panjang, dan begitulah semuanya mengalir secara alami, tiga bulan setelah pertemuan itu, mereka resmi berpacaran.

Kedua keluarga yang mengetahui kabar tersebut sangat senang, mereka sangat menyambut baik hubungan Yesung dan Seunghyun, kedua keluarga sama sama berharap hubungan mereka akan berakhir di pelaminan, terutama lagi keluarga Yesung, mereka tak ingin Yesung kembali gagal seperti hubungannya dengan Shin Hyesung terdahulu.

Namun beberapa bulan belakangan ini Yesung mulai jengah dengan sikap dan sifat jealous dan overprotective Seunghyun, seunghyun melarang Yesung melakukan ini dan itu, harus begini dan begitu, memberinya kabar setiap detik, dan kalau perlu tidak usah bekerja, Yesung diam saja di rumah, biar dia saja yang bekerja.

Hell semua itu bertentangan dengan prinsip hidup Yesung.

Ia tidak suka diatur dan di dikte, ia suka hidup bebas.

Bebas dalam artian masih dalam konteks yang lurus, ia tidak suka diatur atur dan dibatasi, Yesung juga seorang namja, ia bisa menjaga diri dan juga memiliki hak untuk melakukan apa yang ia suka.

"eomma, aku benar benar lelah hari ini, bisa eomma tinggalkan aku sendirian? Aku ingin segera beristirahat"

"baiklah, eomma minta maaf terlalu ikut campur dalam urusan asmaramu, eomma hanya ingin yang terbaik untukmu Yesung ah, sebelum kau istirahat makanlah dulu"

"iya eomma aku mengerti, aku akan menghubungi Seunghyun hyung sebentar lagi, dan juga tadi aku sudah makan di luar"

"baiklah kalau begitu, selamat beristirahat, jangan paksakan menghubungi Seunghyun kalau kau memang sangat lelah" ujar sang eomma sebelum meninggalkan kamar Yesung.

Yesung hanya menghela nafas pelan, ia tahu eommanya hanya terlalu sayang padanya.

Yesung meraih hp nya dan merebahkan diri di kasur.

Ia langsung mendial nomor kekasihnya.

"hallo sayang"

"hyung"

"hmm?"

"kau tadi menelepon eomma?"

"iya sayang, aku kangen dengan calon mertuaku"

"apa yang hyung sampaikan pada eomma?"

"tidak ada, aku hanya menanyakan kabar eomma dan keluarga disana"

"bohong, hyung pasti mengadu lagi, eomma barusan memarahiku"

"eh? Benarkah? Maafkan hyung sayang, hyung hanya sedikit bercerita mengenai kau yang sulit hyung hubungi belakangan ini"

"hyuuuungg sudah berapa kali aku bilang, tidak usah libatkan eomma dalam masalah ini"

"hyung minta maaf"

"selalu begini, hyung selalu meminta maaf, aku sudah katakan kalau aku sangat sibuk belakangan ini, aku baru bekerja di perusahaan paman, aku harus beradaptasi dan sangat banyak hal yang harus aku pelajari, seharusnya hyung menegerti, bukannya sedikit sedikit mengadu pada eomma"

"iya sayang hyung tahu, hyung minta maaf"

"..."

"sayang..."

"..."

"kenapa diam? kau marah ya?

"aku lelah kita terus terusan berdebat karena masalah ini hyung, dari awal aku sudah pernah mengatakan ini pada hyung, aku bukan tipe yang suka mengumbar kata kata cinta dan selalu memberi kabar setiap menit, aku tidak suka berbicara banyak, jadi aku tidak suka kita harus saling menelepon setiap hari, tanpa aku kasih kabarpun harusnya hyung tahu, aku tetap mencintaimu"

"iya sayang, hyung benar benar minta maaf"

"ya sudah hyung kalau begitu aku tutup dulu teleponnya ya, aku sangat lelah hari ini, aku tadi ada pelatihan ke pusat kota"

"baiklah, selamat beristirahat sayang"

"hyung juga"

"eh tunggu, dengan siapa kau tadi pergi?"

"pelatihan?"

"iya?"

"aku pergi dengan Siwon"

"lagi?!"

"hyung..."

"kenapa kemana mana kau selalu pergi dengannya Yesung?"

"kemana mana? Kenapa hyung seolah membuatnya aku seperti sudah pergi kemana saja dengan Siwon? aku hanya akan pergi dengannya kalau itu urusan pekerjaan, kami berada di devisi yang sama, jadi aku selalu melakukan kunjungan pekerjaan bersama dengannya"

"setiap pulang kau juga terus membonceng dengannya"

"astaga hyung, bukankah aku juga sudah pernah meminta izin soal ini padamu sebelumnya? dan hyung bilang waktu itu tidak apa apa"

"iya waktu itu hyung bilang tidak apa apa, tapi lama lama hyung cemburu juga sayang"

"hyung... Siwon itu temanku, temanku satu satunya sejak kecil, hyung tidak perlu cemburu padanya, lagipula Siwon tahu kok mengenai hubungan kita"

"Siwon tahu? Siapa yang memberitahunya?"

"iya, dan bahkan semua karyawan disini juga tahu, aku tidak tahu siapa yang memberitahu mereka"

"baiklah, tapi hyung masih cemburu, kau menghabiskan lebih banyak waktu dengan Siwon dibandingkan dengan hyung"

"lalu aku harus bagaimana hyung? Siwon itu rekan kerjaku, tentu saja aku lebih banyak menghabiskan waktu dengannya, lagi pula semua ini kan sifatnya pekerjaan, diluar itu aku tidak pernah bertemu dengan Siwon"

"tetap saja hyung cemburu"

Yesung memijat keningnya yang mulai terasa nyut nyutan, ia tidak berbohong mengenai ia sangat lelah hari ini, pelatiahn tadi siang benar benar melelahkan, dan sekarang kekasihnya membuat ulah.

"kalau begitu kenapa hyung tidak pulang saja dan menetap di Cheonan? Dengan begitu hyung bisa menjemput dan mengantarku setiap hari dan juga bersama denganku setiap aku tidak bekerja"

"kalau hyung bisa hyung sudah melakukannya sayang, namun masa tugas hyung disini masih ada satu setengah tahun lagi"

"lalu aku harus bagaimana hyung? Aku serba salah dimatamu"

"hyung sudah pernah memintamu untuk tidak usah bekerja sayang, kau di rumah saja, hyung akan mentransfer semua kebutuhanmu"

Hell! Yesung benar benar sudah muak sekarang.

"hyung, aku lelah, lain kali kita sambung lagi, aku ingin istirahat, selamat malam"

Tanpa menunggu jawaban dari Seunghyun, Yesung langsung memutuskan sambungan telepon dengan kekasihnya dan mematikan hp nya setelah itu.

Yesung kesal, benar benar kesal, rasanya ia ingin berteriak sekencang kencangnya, namun pada akhirnya Yesung hanya bisa menangis dalam diam sebagai wujud pelampiasan kekesalannya.

Kenapa bisa jadi seperti ini? Seingatnya dulu waktu baru baru berpacaran sifat Seunghyun tidak seperti ini.

Seunghyun sangat baik dan selalu mengerti Yesung.

Yesung sangat suka bercerita pada Seunghyun karena ia selalu merasa ditanggapi dan pemikiran mereka kerap kali sama, namun beberapa bulan belakangan ini Seunghyun mulai berubah.

Sifat asli Seunghyun yang bossy dan over protective mulai kelihatan, dan Yesung tidak menyukai semua itu, ia merasa terpenjarakan dengan sikap kekasihnya yang seperti itu.

Ingin rasanya Yesung meminta putus, tapi Yesung tahu urusannya tidak akan se simple itu, karena hubungan mereka sudah diketahui oleh keluarga kedua belah pihak.

Seunghyun yang memberi tahu keluarganya terlebuh dulu, dan keluarga Seunghyun yang notabenenya cukup dekat dengan keluarga Yesung, memberitahukan mengenai hubungan putra mereka pada eomma Yesung, jadilah kedua keluarga heboh dan rempong ikut campur dalam hubungan mereka, padahal Yesung niatnya hubungannya dengan Seunghyun ini biar mereka berdua saja yang tahu.

Yesung berencana baru akan memberitahu keluarganya kalau mereka benar benar sudah berencana untuk membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, namun nyatanya Seunghyun sudah terlanjur membeberkan hal tersebut pada keluarganya dengan alasan ia sangat serius menjalin hubungan dengan Yesung dan pasti akan membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius.

Yesung hanya bisa pasrah setelah itu, dari sanalah awal pertama kali Yesung mulai merasa kesal dengan sikap Seunghyun yang seenaknya dan suka mengambil keputusan sendiri.

Bagaimana kehidupannya nanti? Entahlah, Yesung tidak ingin memikirkannya, kepalanya sakit terasa seperti akan pecah, ia segera merebahkan dirinya di ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Beruntung besok sudah akhir pekan, jadi dia memiliki waktu dua hari untuk terbebas dari urusan pekerjaan.

.

.

.

"pagi Yesung" senyuman hangat dan menawan milik Siwon langsung menyambut Yesung begitu ia memasuki ruangannya senin pagi itu.

"pagi.."

Yesung hanya menjawab singkat, ia masih kurang enak badan akibat kelelahan dan terlalu banyak pikiran sejak kemarin.

"kau terlihat agak pucat Yesung, apa kau sakit?"

"tidak, aku hanya kurang tidur semalam"

Siwon baru akan menanyakan apa alasan Yesung bisa kurang tidur, saat seorang rekan kerja mereka masuk ke ruangan tersebut.

"ehmm! Apa aku mengganggu? Pangeran perhatian sekali dengan tuan putrinya huh?" goda Sungjae, rekan kerja mereka tersebut.

Yesung dan Siwon hanya tertawa bersamaan.

Memang sudah bukan hal yang baru lagi kalau para karyawan disini suka menggoda Yesung dan Siwon, karena hanya mereka yang merupakan karyawan lajang disini, jadilah mereka menjadi bahan ledekan dan kerap dijodoh jodohkan.

Yesung dan Siwon mencoba menanggapi semua itu dengan santai, toh mereka semua tahu kebenarannya, anggap saja semua ini intermezzo pekerjaan.

"ada apa hyung?" tanya Siwon setelah tawanya reda.

"ini ada surat pelatihan untuk Yesung, baru datang tadi pagi, mereka meletakkan dimejaku"

"oh, pelatihan untuk kapan?" tanya Yesung memeriksa surat tersebut

"tadi aku lihat untuk kamis besok" uajr Sungjae.

"hmm iya untuk kamis besok, tapi hanya aku sendiri? Biasanya minimal 3 orang setiap pelatihan seperti ini" tanya Yesung begitu membaca surat yang hanya ditujukan untuk staff accounting.

"sepertinya iya" komentar Sungjae lagi.

"pelatihannya dimana Yesung? Berapa hari?" tanya Siwon.

"wah wah kau sudah takut akan ditinggal lama oleh Yesung huh?" Sungjae kembali menggoda.

"tentu saja, aku tidak bisa jauh jauh dari Yesung" jawab Siwon membalas godaan Sungjae, yang hanya disambut dengan kekehan pelan oleh Yesung, ia sudah terbisa dengan semua candaan seperti ini.

"dua hari Siwon, Kamis dan Jum'at, pelatihannya di.. woah di Seoul?!" Yesung langsung terlonjak kaget begitu menyadari bahwa pelatihan selama dua hari yang akan diikutinya besok diadakan di Seoul.

Pasalnya selama beberapa kali ia mengikuti pelatihan, belum pernah yang di adakan di Seoul.

Padahal Yesung sudah rindu setengah mati dengan kota tersebut, dan belum pernah berkesempatan untuk kesana sejak tiga bulan bekerja disini.

Ini benar benar kesempatan emas untuknya, kebetulan pelatihannya dilaksanakan pada hari kamis dan jumat, ia jadi langsung berlibur selama dua hari di Seoul setelah itu, perfect!

Siwon ikut tersenyum melihat wajah berbinar Yesung setelah mengetahui pelatihan yang akan diikutinya dilaksanakan di Seoul.

Siwon tahu betapa besar keinginan Yesung untuk bisa sekedar berkunjung ke Seoul selama ia bekerja disini, Yesung memang sudah lebih terbuka padanya, jadi sedikit banyaknya Yesung sudah berkeluh kesah pada Siwon mengenai kerinduannya terhadap kota Seoul tersebut.

Sangat wajar memang, karena Yesung sudah menghabisakan separuh usianya dikota besar tersebut dan sekarang ia harus mendadak kembali terkurung di kota kecil ini, bahkan merekapun tidak tinggal di pusat kota Cheonan.

Sungjae ikut tersenyum dan menggelengkan kepala pelan melihat tatapan Siwon pada Yesung, ia memutuskan untuk meninggalkan ruangan tersebut.

Para karyawan disana memang bisa membaca bahwa dibalik setiap candaannya terhadap Yesung, Siwon memang menyimpan perasaan lebih terhadap namja manis tersebut, hanya Yesung mungkin satu satunya orang yang tidak menyadarinya.

.

.

.

=back to Siwon POV=

.

.

Aku mengantarkan Yesung menuju stasiun kereta menuju Seoul sore itu.

Harusnya Yesung berangkat ke Seoul besok pagi, namun ia bersikeras untuk kesana lebih awal.

"hati hati disana nanti, kabari aku kalau ada apa apa" ujarku saat kami menunggu kereta yang akan ditumpangi Yesung datang.

Yesung tertawa pelan, membuatku ikut tersenyum.

"kau sudah seperti kekasihku saja Siwon" komentar Yesung dengan senyuman masih terukir di bibirnya, namun ia tidak menatapku, ia sibuk dengan hp nya, sepertinya tengah mengirimi pesan pada seseorang.

Mungkin Seunghyun hyung?

Ah terserahlah, aku sedang tidak ingin memikirkan siapa yang sedang dikirimi pesan oleh Yesung.

"anggap saja begitu" ujarku lagi.

Yesung lagi lahi hanya tertawa pelan.

"baiklah, aku akan mengabarimu kalau terjadi apa apa denganku disana, tapi tidak perlu khawatir, Seoul lebih seperti rumahku sendiri dibandingkan dengan Cheonan" ujar Yesung masih tak menatapku.

Bersamaan dengan itu kereta yang kami tunggu datang, aku segera berdiri membatu memebawakan koper Yesung.

"aku pergi dulu Siwon, terima kasih sudah mengantarku" ujar Yesung menatap langsung kedua mataku, dengan senyuman manis masih bertengger di bibirnya"

Aku hanya bisa mengangguk tanpa bersuara, mendadak saja aku tidak bisa bersuara.

Tatapannya melumpuhkan urat sarafku.

Aku bahkan masih berdiri mematng disana saat kereta tersebut sudah mulai berjalan meninggalkan stasiun.

Aku pasti sudah benar benar gila jatuh cinta sedalam ini pada namja yang sudah memiliki kekasih.

Aku harus mempersiapkan mentalku untuk patah hati mulai dari sekarang.

.

.

.

Waktu berjalan dengan begitu cepat, hingga tanpa terasa kini sudah enam bulan berlalu sejak aku bekerja dengan Yesung.

Aku makin mencintainya setiap harinya, rasa ini benar benar menyiksaku, aku tak bisa mengungkapkannya pada Yesung karena semua itu percuma, Yesung sudah memiliki kekasih dan hubungan mereka sudah sangat serius, bahkan kabar burung yang beredar mereka sudah merencanakan pernikahan.

Aku memang tidak pernah menanyakan kebenaran kabar tersebut secara langsung pada Yesung, karena sepertinya ia tak suka kehidupan pribadinya dengan Seunghyun hyung dibahas.

Pernah beberapa kali para karyawan disini menanyakan hubungan Yesung dan Seunghyun secara langsung pada Yesung, namun Yesung langsung mengalihkan topik dan terlihat sangat tidak nyaman dengan peertanyaan tersebut, karena itu aku memutuskan untuk tidak pernah membahas soal itu dengan Yesung.

Ah pernah sekali aku bertanya padanya, saat itu kami tinggal berdua saja di kantor, karena ada pekerjaan yang tanggung untuk ditinggal, jadi kami telat pulang satu jam dari jam pulang kantor, dan sialnya saat kami hendak pulang, hujan deras tiba tiba mengguyur Cheonan, jadilah kami berdua terjebak cukup lama di kantor.

"Yesung, apa Seunghyun hyung tidak marah?"

Yesung tampak sedikit terkejut dengan pertanyaanku saat itu.

"maksudmu?"

"kita sering pergi bersama, kau tahulah bagaimana warga disini, mereka mungkin sudah memebicarakan hal ini, aku yakin Seunghyun sudah mendengar atau mengetahui soal kita yang sering berpergian berdua"

"kita pergi karena urusan pekerjaan Siwon, tidak ada haknya untuk marah, ah hujannya sudah mulai reda, ayo kita pulang sekarang"

Aku tersenyum tipis, Yesung benar benar menghindari pembicaraan ini.

Sejak saat itulah aku tidak pernah lagi membahas hubungannya dengan Seunghyun hyung.

Aku bercanda dengannya dan karyawan lain layaknya Yesung tidak memiliki kekasih, aku akan selalu memanggil Yesung itu kekasihku tiap kali rekan rekan kerja sudah menggoda kami, dan Yesung selalu hanya tertawa menanggapi semua itu.

Tidak pernah terlihat guratan merah dipipinya menanadakan ia malu karena digoda seperti itu, Yesung terlihat santai dan biasa saja menanggapi itu semua.

Mungkin karena Yesung tidak memiliki perasaan istimewa terhadapku sedikitpun, jadi ia sama sekali tidak merasa canggung.

Ah aku jadi sakit sendiri mengingat kenyataan ini, bertahun tahun lamanya, cintaku masih saja bertepuk sebelah tangan.

.

.

Aku terlanjur berkecil hati dan merasa tak pernah punya kesempatan untuk mewujudkan cintaku, sampai aku lupa kalau tuhan akan selalu memberikan setiap umatnya peluang dan kesempatan.

Yesung sudah dua hari tidak masuk dengan alasan sakit.

Aku sangat khawatir dan rasanya aku ingin datang ke rumahnya, handphonenya tidak aktif selama dua hari ini.

Apa sakitnya parah? Apa mungkin ia dirawat di rumah sakit?

Aarrgh aku tidak bisa fokus menyelesaikan pekerjaanku selama dua hari ini, sampai aku mendapat teguran dari Kim Sjangnim, dan di panggil ke ruangannya.

"kau kenapa Siwon, selama kau bekerja disini belum pernah kau membuat kesalahan se fatal ini, untung tadi aku membaca ulang dengan teliti, kalau tidak perusahaan bisa menderita kerugian yang sangat besar karena kecerobohanmu"

"maafkan aku sajangnim, aku benar benar minta maaf, aku akan lebih teliti dan lebih hati hati untuk selanjutnya"

Aku hanya bisa meminta maaf berulang ulang pada atasanku tersebut.

"kau terlihat kacau selama dua hari ini, apa karena Yesung tidak masuk?"

Tanya Kim Sjangnim tepat sasaran, aku dibuat membeku oleh pertanyaannya.

"apa kau khawatir karena ia tidak masuk dengan alasan sakit dan kau sama sekali tidak bisa menghubunginya?"

Aku langsung mengangkat kepalaku menatap atasanku, apa maksud pertanyaannya?

"apa kau sekhawatir itu padanya?"

"a- aku..."

Aku tak mampu menemukan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Kim Sajangnim.

"Yesung tidak sakit, aku harap hal ini bisa membuatmu sedikit lebih tenang dan bisa fokus pada pekerjaanmu" ujar Kim Sajangnim yang lagi lagi membuatku terkejut.

Tidak sakit? Lalu kemana dia?

"mak- maksud Sajangnim?"

"seminggu yang lalu Yesung meminta izin padaku kalau ia ingin mengambil cuti selama seminggu, ia mengaku terlalu banyak masalah belakangan ini dan ia tidak bisa fokus bekerja, ia butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan diri"

Oh...

Jadi Yesung tidak sakit, aku benar benar lega sekarang, thanks God.

"kau tahu kalau Yesung sudah memiliki kekasih bukan Siwon?" aku kembali menoleh cepat mendengar pertanyaan Kim Sajangnim, apa maksudnya menanyakan hal ini padaku?

"ke- kenapa sajangnim menanyakan hal itu?"

"kau tahu resiko apa yang harus kau tanggung menyukai seseorang yang sudah memiliki kekasih, kau harus siap untuk patah hati"

Mulutku terbuka lebar mendengar ucapan Kim Sjangnim.

Dia tahu kalau aku menyukai Yesung? oh tamatlah riwayatku!

"b- bukan begitu sajangnim, anda salah pa-"

"tidak perlu membantahnya Siwon, semuanya terlihat jelas" ujar Kim Sajangnim memotong ucapanku.

Aku jadi membisu sekarang, aku tidak berani lagi bersuara.

Kim Sajangnim pasti akan memarahiku karena telah berani menyukai keponakannya, terlebih lagi saat ponakannya tersebut sudah memiliki kekasih.

"aku sudah menduga dari dulu kalau kau memang memendam perasaan lebih terhadap Yesung, namun aku juga masih belum 100% yakin, tapi setelah melihat bagaimana kacaunya pekerjaanmu sejak Yesung tidak masuk karena alasan sakit, aku jadi sepenuhnya yakin sekarang, kau memang menyukai ponakanku"

"ma- maafkan saya sajangnim" aku hanya menunduk meminta maaf, tidak berani lagi menatapnya.

"ini"

Kim Sajangnim menyerahkan selembar kertas padaku, sebuah alamat dan juga sebuah nomor handphone tertera di kertas tersebut.

Aku tidak mengerti apa maksud kertas tersebut dan aku juga tidak berani untuk bertanya.

"itu alamat villaku di daerah Daegu, Yesung sedang berlibur sendirian disana"

Aku langsung mengangkat kepalaku lagi dan menatap atasanku terkejut.

Apa maksudnya memberikan alamat villa yang sedang di tempati Yesung padaku?!

"pergilah kesana dan temui dia, sepertinya bukan hanya Yesung yang butuh rehat sejenak dari pekerjaan, kaupun membutuhkannya"

"Sajangnim..." aku benar benar tidak tahu harus berkata apa, Kim Sajangnim benar benar mengejutkanku.

"itu nomor yang sedang dipakai Yesung saat ini, ia sengaja mematikan hp nya karena tidak ingin diganggu siapapun, tapi kalau kau yang menghubunginya aku yakin Yesung sama sekali tidak akan keberatan"

"t- tapi..."

"dibandingkan Seunghyun, aku lebih suka kau Siwon ah, aku lebih mempercayakan Yesung padamu"

Lagi lagi aku hanya bisa membuka mulutku lebar mendengar penuturan atasanku.

Kim Sajangnim berada di pihakku?

Tuhan... aku tidak pernah menyangka hari ini akan datang.

"pergilah sekarang, tapi ingat, jangan sampai ada yang tahu kalau kalian disana, katakan pada yang lain kalau kau akan mengikuti pelatihan"

Aku masih belum beranjak dari posisiku, aku masih belum bisa mempercayai ini semua nyata atau tidak.

"Siwon.."

Panggilan dari Kim Sjangnim kembali menyadarkanku.

"terima kasih sajangnim, terima kasih"

"jangan berterima kasih sekarang, kau harus membawa Yesung yang ceria kembali, kalau ia masih kembali dengan wajah murung dan terlihat memiliki beban, aku tidak akan segan segan memecatmu"

Aku tersenyum tipis mendengar ancaman Kim Sajangnim, ancamannya adalah lampu hijau untukku.

"aku siap menjalankan tugas Sajangnim, aku permisi dulu"

Ujarku meninggalkan ruangannya dan langsung mengemasi barang barangku.

Sesuai permintaan Kim Sajangnim tadi, sebelum berangkat aku mengatakan pada rekan kerjaku kalau aku akan mengikuti pelatihan selama beberapa hari di Seoul.

.

.

.

Aku sampai di Daegu pukul 8 malam, karena tadi aku pulang dulu ke rumah untuk mengambil beberapa lembar pakaian, dan juga sempat kesulitan menemukan alamat villa Kim Sajangnim.

Aku memang telah menyimpan nomor yang sedang di pakai Yesung namun aku memilih untuk tidak menghubunginya.

Setelah cukup lama berputa putar dengan sepeda motorku, akhirnya aku menemukan alamat yang aku cari.

Seorang security langsung membukakan pintu gerbang untukku, sepertinya ia sudah tahu kalau aku akan datang, mungkin tadi Kim Sajangnim sudah meghubunginya.

Setelah memarkirkan motorku, aku langsung masuk ke dalam villa yang tidak terlalu luas tersebut.

Aku tidak menemukan Yesung dimana mana, apa ia sudah tidur?

Aku memutuskan untuk mandi terlebih dulu dan mengganti bajuku, perjalan panjang yang ku tempuh dari Cheonan kesini tadi cukup membuatku berkeringat.

Usai mandi aku berdiri di balkon kamar untuk melihat pemandanga di luar, aku masih belum tahu dimana keberadaan Yesung.

Aku mengedarkan pandangaku ke sekitar pekarangan villa, dan akhirnya mataku menangkap Yesung tengah duduk menghadap kolom kecil terletak di selatan villa, aku langsung bergegas turun untuk menghampirinya.

"hai..."

Sapaku begitu berada dibelakangnya.

Yesung sempat terlonjak kaget dan terlihat sangat terkejut melihatku.

"si- siwon... kenapa kau bisa ada disini?" tanyanya.

Aku hanya tersenyum dan mengambil posisi duduk di sampingnya.

Ia masih mentapku, menunggu jawaban dariku.

"sajangnim memberikan alamat villa ini padaku, jadi aku langsung kesini"

"paman memberitahumu?! Kenapa bisa?!"

"aku membuat kesalahan cukup besar tadi siang di kantor yang hampir saja merugikan perusahaan, dan Sajangnim menegurku"

"lalu?"

"sajangnim tahu aku tidak bisa berkonsentrasi bekerja sejak kau tidak masuk, aku pikir kau masuk rumah sakit"

Yesung kini mengalihkan tatapannya kedepan, sepertinya ia sudah mendapatkan jawaban yang ia cari.

Kami terjebak dalam diam setelah itu, tidak ada dari kami yang bersuara sekitar setengah jam setelahnya.

"terima kasih" bisik Yesung pelan, namun aku masih bisa mendengarnya.

"untuk?" tanyaku tak kalah pelannya.

"semuanya" ujarnya sambil tersenyum tipis, namun ia tak menatapku.

Aku memberanikan diri menggenggam tangannya.

Yesung sempat tersentak dan menoleh padaku sebentar sebelum akhirnya kembali menatap ke depan, namun ia tak menarik tangannya dari genggamanku.

"kau ada masalah apa? kenapa sampai meminta cuti selama seminggu?"

Tanyaku bebrapa saat kemudian.

"tidak ada, aku hanya sedang ingin menyendiri" jawabnya.

"apa aku menganggumu?" tanyaku lagi.

Yesung hanya menggeleng tanpa menatapku.

Kami kembali terjebak dalam diam, dan aku masih menggenggam tangannya.

"Yesung..." panggiku lagi setelah sekian menit.

Dia menoleh, mata kami bertatapan.

Mata indahnya menatap langsung ke dalam mataku, duniaku rasanya berhenti berputar, aku tenggelam dalam tatapan bening itu.

Aku memberanikan diri mengikis jarak diantara kami, aku sudah mempersiapkan diri kalau Yesung akan menghindar atau bahkan lebih parah menamparku, namun diluar dugaaku Yesung justru memejamkan matanya saat jarak kami sudah semakin dekat, dan dengan lembut aku mengecup bibir yang sudah menjadi fantasiku selama sekian tahun itu.

Tadinya aku hanya berniat untuk mengecup sekilas, namun nyatanya aku tak mampu melepaskan bibir itu begitu aku mengecap manisnya, terlebih Yesung sama sekali tak menolakku, membuatku jadi lebih berani menghisap dan menguum bibirnya.

Kami berciuman dengan lembut cukup lama, sampai kebutuhan akan kebutuhan oksigen memaksa kami untuk melepaskan pagutan bibir intim tadi.

"maaf" ujarku pelan sambil menghapus jejak saliva di sudut bibirnya dengan ibu jariku.

Aku tiba tiba merasa bersalah telah berani menciumnya, padahal aku tahu ia sudah memiliki kekasih, aku seperti menjebaknya untuk berselingkuh.

Yesung tak menjawab, ia justru menyandarkan kepalanya di bahuku. tanganku otomatis memeluk pinggangnya.

Aku bisa merasakan tubuh Yesung terasa sangat dingin, sudah berapa lama ia duduk disini?

"Yesung ah sebaiknya kita masuk sekarang, tubuhmu sangat dingin, kau bisa sakit"

"biarkan begini sebentar Siwon, jangan pergi" cegah Yesung sambil membenamkan wajahnya di dadaku saat aku hendak berdiri.

Akhirnya aku tak punya pilihan lain selain mendekapnya dengan erat, aku harap dekapanku bisa membuatnya sedikit lebih hangat.

Beberapa saat kemudian aku bisa merasakan bahu Yesung bergetar. Apa Yesung-ku menangis?! Dia membuatku sangat panik.

"ye- yesung ah, kau kenapa? kenapa menangis?"tanyaku berusaha mengangkat wajahnya, namun ia makin membenamkan kepalanya di dakaku.

apa ia menangis karena aku cium tadi? Apa dia menyesal? Berjuta pertanyaan berkecamuk di kepalaku.

"Yesung ah? Apa kau menangis karena ciuman kita barusan? Kau merasa bersalah pada Seunghyun hyung? Ini bukan salahmu, aku yang bersalah, aku yang menciummu, jangan menagis lagi, kau tidak bersalah"

Aku bisa merasakan Yesung menggeleng sebelum mengangkat wajahnya dan menatapku dengan mata berairnya.

Hatiku terasa nyeri melihat mata indah itu berlinang air mata.

Aku hanya bisa kembali memagut bibirnya dengan bibirku dengan lembut, aku ingin Yesung tahu bahwa aku sakit melihatnya dalam keadaan seperti ini, ada apa sebenarnya dengan Yesung-ku.

Kami masih terus berciuman dengan tubuh yang menempel sempurna, tidak ada yang ingin melepaskan pagutan bibir kami, kami berciuman seolah tak ada lagi haru esok.

.

.

Aku tidak tahu apa dan bagaimana semuanya terjadi, seingatku tadi kami masih berada di taman dan saling memagut bibir masing masing, namun saat ini aku sudah berada di kamar dengan Yesung, dengan kedaan Yesung yang tengah mendesah dibawahku, full naked.

Tubuh Yesung jauh lebih indah dari yang pernah ku bayangkan dan dari yang pernah hadir dalam mimpi basahku selama ini, membuat nafsuku benar benar berada di atas puncak.

"Siwo- aaaahh shhh aahhhh Siwon Siwwonnnnnhh"

racaunya terus menyebut namuku saat aku terus menghujam titik paling sensitif dalam tubuhnya.

Tubuh kami dibanjiri keringat, dan kami sama sama tidak bisa berpikir jernih saat ini, erangan erotis Yesung membuatku semakin menggila dan semakin menghentakkan milikku ke dalam tubuhnya

"siwon! aaaaaaaaaaahhhh" Yesung mendesah panjang saat akhirnya ia mencapai puncak kenikmatannya, dia langsung terlukai tak berdaya, sementara aku masih sibuk mengentakkan milikku ke dalam hole sempit miliknya, menacri orgasme ku sendiri, hingga akhirnya aku menumpahkan seluruh cairanku di dalam tubuh Yesung, aku langsung ambruk diatas tubuhnya setelah itu.

Cukup lama kami berdua terengah mengatur pernafasan, hingga akhirnya aku tersadar aku masih menghimpit tubuh Yesung.

Aku akhirnya bangkit dan melepas penyatuan tubuh kami, Yesung sedikit meringis, dan saat itulah aku baru sadar banyak darah yang berceceran di sprei putih tersebut.

Aku langsung membelalakkan mataku menyadari hal tersebut.

Yesung masih virgin?!

Yesung menyerahkan kevirginannya padaku?!

Atau lebih tepatnya aku telah merenggut kevirginan Yesung?!

"Ye- Yesung ah, kau... kau masih-"

Aku tidak sempat menyelesaikan pertanyaaku karena Yesung sudah terlebuh dulu meraih tengkukku dan kembali mempertemukan bibir kami.

Yesung menciumku, sangat lama.

Ia tersenyum lembut padaku setelah tautan bibir kami terlepas.

"aku lelah Siwon, aku ingin tidur, dalam pelukanmu" ujarnya sambil menyandarkan kepalanya di dadaku, ia melingkarkan tangannya di perutku dan memeluknya dengan erat.

Yesung sepertinya tidak ingin menjawab pertanyaanku, akhirnya aku hanya meraih selimut dan menutupi tubuh naked kami, tidak sampai sepuluh menit kemudian terdengar dengkuran halus Yesung, Yesung-ku sudah langsung tertidur, kegiatan panas kami beberapa saat lalu pasti sangat menguras tenanganya.

Aku kembali teringat bahwa aku baru saja mengambil keperawanan Yesung, aku tidak percaya hal ini, aku pikir Yesung sudah menyerahkannya pada kekasihnya, pada Hyesung ataupun Seunghyun, aku tidak pernah menyangka kalau aku, yang tidak memiliki hubungan apapun dengannya akan merebut semua itu.

Pikiranku berkecamuk antara rasa senang dan bersalah, aku merasa senang karena moment ini adalah moment yang sudah menjadi hayalanku selama bertahun tahun. dan aku merasa bersalah karena aku telah menjerumuskan Yesung, aku telah membuatnya berselingkuh dari kekasihnya, aku bahkan menidurinya, meniduri sahabatku sendiri.

Aku tidak pernah berniat untuk ini saat tadi sore aku datang kesini, semua terjadi dan mengalir dengan sendirinya.

Drrrrttt...

Drrrttt...

Aku sempat terlonjak mendengar getaran hp yang terletak di maja nakas, itu hp ku.

Dengan sedikit kesusahan, karena Yesung yang tengah tidur dengan memelukku begitu erat, aku akhirnya berhasil meraih hp tersebut, hp tersebut sudah tidak bergetar lagi.

Aku memerksa ID pemanggil yang barusan memanggilku.

Kim Sajangnim?!

Aku cukup kaget membaca nama bos ku tertera di layar hp ku sebagai ID yang barusan memanggilku, ada apa dia menghubungiku tengah malam begini?

Akhirnya aku memutuskan untuk menghubunginya balik.

"halo"

"halo Sajangnim, ada apa? kenapa sajangnim menghubungiku tengah malam begini?"

"aku hanya ingin memastikan apa kau sudah jadi sampai di villa atau belum" jawab bosku di seberang sana.

"sudah sajangnim, aku sudah sampai sejak pukul 8 tadi"

"apa barusan aku mengganggu sesuatu?" tanyanya yang sukses membuat aku gugup bukan main, aku lelaki dewasa, aku sangat mengerti kemana arah pertanyaannya.

Aku mendengar bos ku terkekeh pelan di seberang sana, ia benar benar membuatku mati kutu.

"mana Yesung?" tanyanya akhirnya karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya yang tadi.

"Yesung sudah tertidur Sajangnim"

Aku tidak percaya aku berbicara melalui telepon dengan atasanku tepat sesaat setelah aku bercinta dengan keponakannya sendiri.

Bos sialan kenapa ia harus menelpon di saat seperti ini? Apa ia sengaja ingin menggodaku?!

"aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau sampai kau berani menyakiti Yesung, Choi Siwon" ujar Kim Sajangnim terdengar serius.

"aku hanya menyakitinya sedikit sajangnim" ujarku yang entah mendapat keberanian dari mana, dan aku bisa mendengar Kim Sajangnim tergelak diujung sana.

"lebih dari itu, aku akan mengulitimu hidup hidup kalau sampai nanti Yesung menitikkan air mata karenamu" ujarnya lagi setelah tawanya reda, aku ikut tersenyum sekarang.

"aku bisa pastikan kau tidak akan pernah kesempatan untuk mengulitiku hidup hidup Sajangnim, karena aku tidak akan pernah membiarkan Yesung menitikkan air mata karenaku" ujarku mantap.

"baiklah, aku pegang kata katamu, lanjutkanlah kembali kegiatan kalian, aku tidak percaya Yesung benar benar sudah tidur" ujarnya sebelum memutus sambungan telepon tersebut.

"aisssh aku tidak berbohong, Yesung benar sudah ter-"

Aku tidak menyelesaika ucapanku saat aku menyadari Yesung ternyata memang sudah terbangun kembali.

"hei kenapa kau bangun? Tidurlah lagi" ujarku sambil kembali meletakkan hp di meja.

"siapa yang menelepon?" tanyanya dengan suara seraknya.

"pamanmu"

"paman? Untuk apa dia menelepon malam malam begini?"

"untuk menggodaku"

Muka Yesung langsung memerah mendengar ucapanku barusan, sangat menggemaskan.

Aku meraih dagunya dan mencium bibirnya dengan lembut, Yesung dengan senang hati membukakan mulutnya untukku, kami kembali terlibat dalam sebuah ciuman yang panjang.

Dan entahlah, apa kami akan melanjutkan ke ronde selanjutnya atau kami bisa mengontrol diri hanya samapai tahap ciuman ini saja, yang aku tahu saat ini baik tubuhku maupun tubuh Yesung sudah kembali terangsang akibat pertarungan lidah yang kami lakukan, apapun yang terjadi setelah ini, aku tidak ingin lagi membaginya dengan kalian, aku ingin melewati dan menikmatianya berdua dengan Yesungku.

Karena setelah ini aku tidak tahu lagi apa aku masih akan memiliki waktu seperti ini dengan Yesung atau tidak.

aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, saat kami kembali ke Cheonan dan menjalani hidup seperti biasa, Yesung-ku akan kembali menjadi kekasih Seunghyun dan aku akan kembali menjadi pecundang yang mencintai temannya secara diam diam selama bertahun tahun.

Entahlah bagaimana kisahku ini akan berakhir nanti, yang jelas saat ini biarkan aku menghabiskan malam ini bersama dengan Yesung, Yesungku.

.

.

.

.

.

=end=

.

Ahahaha akhirnya tamat XD

Ini chapter kepanjangan, mungkin ada yang ketiduran banyanya wkwkwkw

Dan juga,,, ini ff percobaan pertama berani naikin rating! Pasti aneh kan? Hahaha maklum belum pernah bikin yang beginian sebelumnya,

Kritikan dan saran dari teman teman sangat lily butuhkan untuk membangun cerita yang lebih baik ke depannya...

Thankyu buat semua review di chapter kemaren, thankyou juga buat yang udah baca chapter panjang ini,

Lily tunggu masukannya~~~