Jungkook hendak berdiri mengambil ponselnya yang ia tinggalkan di kamarnya namun tangan Taehyung mencegahnya.
"Tak perlu, Jimin, Hoseok dan Mark sudah menuju kemari. Jangan terlalu banyak membantu, tetaplah disampingku. Itu saja sudah cukup sekarang."
Taehyung tengah tertidur sekarang. Mungkin karna efek bius atau obat yang telah diberikan dokter padanya. Jungkook dengan setia duduk disamping ranjang Taehyung, menggenggam tangannya sambil menangis. Jungkook sangat ketakutan sekarang, ia khawatir akan hyungnya. Meskipun semua orang sudah meyakinkan bahwa Taehyung baik – baik saja tetap saja hal itu tidak membuat Jungkook tenang.
"Jungkook-ah, pulanglah. Aku dan Hoseok akan berjaga disini. Lagipula eomma appamu juga belum tau kan jika Taehyung dirawat disini? Beristirahatlah, kau sudah menangis seharian hari ini."
Mark menepuk pundak Jungkook pelan. Ia tak tega melihat Jungkook yang terus – terusan menangisi Taehyung. Sementara Jungkook hanya menggeleng.
"Aku mau menemani hyung sampai hyung bangun."
"Lalu kemudian saat Taehyung bangun gantian kau yang pingsan, begitu?"
Jungkook hanya terdiam menanggapi ucapan Hoseok. Sejujurnya ia sangat lelah sekarang, matanya terasa berat. Entah karena ia mengantuk atau karena ia terlalu lama menangis. Tapi ia tak mau bergeming dari tempatnya. Lagipula jika ia pulang tidak akan ada gunanya. Ia tidak akan bisa tidur dan beristirahat dengan tenang. Karna Taehyung tidak ada disampingnya.
"Jungkook-ie, Hoseok dan Mark benar. Kau harus beristirahat, belum lagi kau besok sekolah kan? Ayo kita pulang lalu katakan pada orang tuamu jika Taehyung disini. Sekarang bahkan orang tuamu tidak ada yang tau jika Taehyung terbaring disini. Kau bisa kembali lagi besok."
Ujar Jimin berusaha membujuk Jungkook.
"Apa Taehyung hyung akan baik – baik saja hyung?"
"Hm, tentu saja. Kau tau kan dia rajanya berkelahi. Dia sudah sering kan begini, tentu tidak akan terjadi hal yang buruk seperti biasanya."
Jungkook tersenyum mendengar jawaban Jimin. Ia sedikit merasa lega sekarang. Tapi tetap saja disudut hatinya yang lain ia merasa takut. Taehyung memang sering berkelahi, bahkan tak sedikit undangan peringatan yang diberikan sekolah pada eommanya karena ulah Taehyung. Namun kali ini berbeda. Belum pernah Jungkook melihat Taehyung terluka hingga separah ini. Biasanya hanya akan ada satu atau dua goresan dan luka lebam saja. Tidak separah ini, hingga menyebabkan tangan kiri Taehyung patah.
"Jadi bagaimana? Mau pulang bersamaku?"
Jimin menunjukkan wajah terimutnya dihadapan Jungkook, Mark dan Hoseok yang melihat hal itu merasa mual dan ingin muntah berbeda dengan Jungkook yang malah tertawa karna gemas dengan Jimin. Jungkook akhirnya menangguk.
"Hyung, tolong jaga Taehyung hyung ne. Aku akan segera memberi tau pada eomma dan appa agar mereka kesini malam ini. Tadi aku terlalu panik hingga meninggalkan ponselku di kamar. Maaf merepotkan kalian."
"Ah tidak kok. Santai saja, Taehyung kan sahabat kami juga. Yasudah cepat pulang. Kalau Jimin bertindak aneh – aneh padamu pukul saja kepalanya atau tendang pantatnya dengan keras ya."
Jimin memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Mark. Jungkook menangguk dan tersenyum lalu kemudian membungkukkan badannya (bow).
"Gomawo Mark hyung. Aku pulang dulu ne. Annyeong."
Jungkook telah sampai dirumah namun keadaan rumahnya kosong. Jungkook yang masih ditemani Jimin memutuskan untuk mencoba menghubungi kedua orang tua Jungkook yang tidak ada dirumah. Namun hasilnya nihil, kedua orang tuanya tidak bisa dihubungi kemungkinan keduanya tengah sibuk dengan urusan pekerjaan mereka karena memang keduanya sama – sama gila kerja.
"Hyung, bagaimana ini? Aku sudah mencoba berkali – kali tetapi ponsel eomma tidak bisa dihubungi sementara ponsel appa sibuk."
Jimin nampak berpikir sejenak.
"Ah, mau bagaimana lagi. Sepertinya kau harus menginap dirumah sakit hari ini daripada kau sendirian dirumah sebesar ini. Paling tidak dirumah sakit masih ada Mark dan Hoseok yang bisa menjagamu bila terjadi sesuatu."
"Iya hyung. Sebaiknya aku menginap dirumah sakit saja, aku juga tidak tenang jika tidak bersama Taehyung hyung. Apa hyung tidak keberatan jika mengantarku ke rumah sakit lagi? Ini sudah larut malam aku merasa tidak enak. Aku berangkat sendiri saja hyung."
"Lalu kau mau berangkat naik apa? Berjalan kaki? Jam segini tidak ada bus. Sudahlah tak apa, jika nanti terlalu larut untuk pulang kerumah aku bisa menginap di rumah sakit juga kan."
Jimin tersenyum sambil menepuk pundak Jungkook.
"Yasudah, sebaiknya sekarang kau siapkan barang – barangmu dan juga milik Taehyung. Itu pasti akan berguna kan."
Jungkook mengangguk dan segera berlari ke kamarnya di lantai atas untuk mengambil pakaiannya dan juga milik Taehyung.
Baekhyun tengah duduk termenung di sebuah kedai minum di sudut kota Seoul. Ia sudah menghabiskan banyak botol bir. Tepat pada hari ini, 12 tahun yang lalu Park Chanyeol dan juga istrinya Do Kyungsoo mengalami kecelakaan mobil yang hebat sehingga menyebabkan nyawa keduanya terenggut. Park Chanyeol adalah mantan kekasih Baekhyun yang sampai saat ini belum bisa ia lupakan. Ia terpaksa menikah dengan Daehyun karena orang tuanya yang tergolong kalangan elite di Korea menjodohkan mereka. Akhirnya Chanyeol memutuskan untuk merelakan Baekhyun dan menemukan sosok Do Kyungsoo. Lelaki bermata bulat yang manis, memiliki senyum yang indah dan hati yang baik. Membuat seorang Chanyeol langsung jatuh hati melihatnya. Namun disatu sisi, Baekhyun sama sekali tidak bisa merelakan hubungan mereka. Ia masih menaruh hati pada Chanyeol, ia masih sangat mencintai Chanyeol meskipun ia sudah menjadi istri Daehyun.
"Yeoll-ie, bogoshipo."
Air mata Baekhyun menetes lagi. Mengalir pelan dipipi mulusnya. 12 tahun yang lalu, saat kecelakaan itu terjadi Chanyeol dan Kyungsoo sedang berkendara menuju Busan untuk berlibur bersama dengan putra kecil mereka, Jungkook. Tiba – tiba sebuah mobil box bermuatan makanan instan dari lawan arah oleng, dan menabrak mobil mereka yang berada di depannya. Nyawa Kyungsoo tak tertolong, ia tewas di tempat. Sementara Chanyeol mengalami luka serius di kepalanya dan Jungkook yang terluka kecil di keningnya. Mereka berdua dilarikan ke rumah sakit terbesar di kota Seoul untuk mendapatkan perawatan yang intensif. Setelah mendapat perawatan selama kurang lebih 5 jam lamanya Chanyeol tak dapat bertahan lagi. Ia pergi untuk selamanya bersama dengan Kyungsoo orang yang dicintainya. Baekhyun sangat terpukul atas kejadian itu. Ia masih tak percaya Chanyeol pergi meninggalkannya. Sebelum Chanyeol pergi Chanyeol meminta agar Baekhyun bersedia merawat dan membesarkan Jungkook seperti putranya sendiri karna hanya Baekhyun yang ia punya dan ia percaya. Orang tua Chanyeol sudah tiada, ia tidak punya saudara ataupun kerabat. Sementara Kyungsoo, sejak kecil ia tinggal di panti asuhan dan tidak tau siapa keluarganya.
"Kenapa kau pergi Yeol? Kenapa? Hiks.. Aku.. Aku.. mencintaimu Yeollie hiks.. aku tidak bisa melupakanmu.."
Baekhyun menangis sejadinya, Ia sangat merindukan Chanyeol. Merindukan tawanya, merindukan peluknya, merindukan ciumnya yang dulu hanya didapatkan oleh Baekhyun seorang. Sebelum Daehyun dan Kyungsoo datang ke kehidupan mereka berdua.
"Putramu sudah besar Yeoll-ie, dia sudah remaja. Sekarang ia berusia 15 tahun dan ia selalu mengingatkanku padamu. Ia sangat ceria, hyperactive, happy virus. kurasa ia adalah duplikatmu. Aku sangat menyayanginya lebih dari putraku sendiri. Semua karnamu Yeoll-ie. Jadi tidak bisakah kau kembali dan bersamaku lagi? Hiks.."
Baekhyun membenturkan pelan keningnya ke meja. Ia menangis dalam diam, hingga akhirnya kesadarannya mulai hilang akibat minuman keras yang sudah ia teguk. Ia terlelap dalam keheningan malam yang tidak memberinya jawaban atas hatinya.
Sementara itu Jungkook dan Jimin sudah berada dirumah sakit sekarang. Mark dan Hoseok tengah tertidur di sofa. Jimin juga sudah mulai mengantuk ia mengucek matanya yang sudah mulai berair.
"Aku ngantuk sekali. Hoaamm."
Jimin menguap lagi. Namun ia bingung harus tidur dimana. Bodohnya tadi ia dan Jungkook tidak berpikir untuk membawa kasur lipat dan sejenisnya untuk alas mereka tidur malam ini. Akhirnya karna tidak ada pilihan lain ia menghubungi suster jaga dan meminta beberapa selimut dan juga bantal. Ia menggelar selimut yang diberikan suster menjadi beberapa tumpuk agar terasa empuk meskipun dilantai.
"Wah akhirnya aku bisa tidur juga. Hoaamm."
Jimin lagi – lagi menguap. Ia merebahkan tubuhnya dikasur buatannya dan mengisyaratkan Jungkook untuk tidur disana juga. Jungkook menurut dan tidur disamping Jimin untuk mengistirahatkan tubuhnya yang juga sudah sangat lelah.
Keesokan paginya Jungkook terbangun karena sinar matahari yang mengenai matanya. Ia duduk dan mengumpulkan segenap tenaganya, mengerjap ngerjapkan matanya dengan lucu dan kemudian menguap. Hingga ia sadari posisinya saat ini tengah berada diatas ranjang rumah sakit bukan diatas tumpukan selimut seperti tadi malam. Ia menoleh kearah sofa dan mendapati Taehyung tengah terduduk disana sambil menonton tv. Hoseok, Mark dan Jimin yang semalam juga berada disini sudah tidak ada, hanya ada Taehyung dan dirinya dikamar ini.
"Hyung? Kau sudah sadar?"
Jungkook sangat senang melihat Taehyung. Kemudian tanpa sadar ia berlari dan memeluk Taehyung erat.
"Tentu saja."
Jawab Taehyung singkat. Tangan kiri Taehyung masih digips karena patah. Dan keningnya yang masih dibalut perban karena lukanya kemarin. Taehyung merasa pundaknya basah, seperti yang ia duga Jungkook sedang menangis sekarang.
"Hyaa.. kenapa kau ini cengeng sekali."
Jungkook tidak menjawab. Ia hanya memeluk Taehyung dan menangis. Ia lega karna hyungnya baik – baik saja. Ia lega karena hyungnya sudah sadar dan menjadi galak dan cuek seperti biasanya. Perlahan tangan kanan Taehyung bergerak dan mengelus rambut hitam Jungkook. Ia membiarkan Jungkook menangis dan malah menyamankan posisinya untuk memeluk Jungkook lebih erat.
"Sudahlah, tidak usah berlaga sedih begitu. Aku baik – baik saja."
"Aku.. Hiks.. Aku takut hyung."
"Apa yang kau takutkan? Kau lihat tak ada masalah denganku kan?"
"Kenapa hyung sampai begini? Apa yang terjadi?"
"Itu bukan urusanmu kenapa aku begini dan apa yang terjadi. Sama sekali tidak ada hubungannya denganmu."
Jungkook diam dalam pelukan Taehyung. Ia sudah berhenti menangis meskipun sesegukan masih sesekali terdengar dari bibirnya.
"Dimana eommamu?"
"Hyung dia eommamu juga, tolong berhenti mengatakan begitu."
Jungkook melepas pelukannya dan menatap wajah Taehyung. Taehyung selalu saja begitu, menanggap bahwa hanya Jungkook anak eommanya sedangkan dia tidak.
"Memangnya aku salah? Dia kan memang eommamu."
"Tapi dia eomma hyung juga, dia eomma kita."
Taehyung sedang malas beragumen dengan Jungkook jadi ia memilih untuk diam dan tak bertanya lebih lanjut.
"Hyung, berjanjilah padaku tolong jangan bilang begitu lagi. Aku merasa sakit jika hyung begitu. Eomma juga eommanya hyung bukan eommaku saja. Jika hyung berkata 'eommamu' aku merasa sepertinya hyung tidak suka bersaudara dan punya eomma yang sama denganku."
"Memang aku tidak suka."
Jawab Taehyung cuek. Ia mengalihkan pandangannya pada televisi yang ada didepannya.
"Wae? Hyung memangnya apa salahku?"
"Banyak."
"Apa? Sebutkan."
"Ya pokoknya banyak."
"Hyung selalu saja begitu. Membenciku tanpa alasan."
"Siapa yang bilang tanpa alasan? Aku bilang tadi kan banyak."
"Kalau begitu katakan, apa?"
"Tidak mau."
"Lalu bagaimana aku bisa tau alasannya kalau hyung tidak mau mengatakannya. Bagaimana aku bisa berubah jadi yang hyung mau jika hyung tidak bilang apa mau hyung."
"Aku tidak memintamu berubah."
"Kalau begitu berhenti bersikap begitu padaku."
"Bersikap bagaimana? Memang seperti ini karakterku."
"Tidak, hyung tidak begini pada Jimin hyung, Mark hyung dan Hoseok hyung."
Jungkook meneteskan air matanya lagi. Baru kali ini ia berani berbicara sepanjang ini tentang hal yang selama ini mengganjal hatinya pada Taehyung.
"Sama saja, kau saja yang tidak tau."
"Aku tau hyung! Hiks.. Aku Cuma ingin kau sayang layaknya saudara bukan seperti musuhmu yang selalu ingin kau singkirkan."
Taehyung kaget mendengar teriakan Jungkook. Ia merasa ada yang meremas hatinya dengan keras melihat Jungkook berteriak sambil menangis seperti ini. Ia sudah sering menjahili Jungkook atau membuat Jungkook kesusahan tapi ia tak pernah melihat Jungkook sampai seperti ini. Ia merasa sangat bersalah sekarang.
"Annyeonghaseyo."
Terdengar suara dari arah pintu yang berhasil mengalihkan Taehyung dan Jungkook. Ternyata itu adalah Bambam yang datang dengan membawa sekeranjang buah – buahan. Ia bermaksud untuk menjenguk Taehyung dan menemui Jungkook sahabatnya. Jungkook menghapus air matanya kasar dan mencoba memasang wajah cerianya lagi.
"Oh Bamie, kau datang."
Jungkook berjalan menghampiri Bambam dan langsung memeluknya. Bambam mengangguk dalam pelukan Jungkok dan tertawa pelan. Lalu mereka melepas pelukan mereka dan Bambam menyapa Taehyung.
"Annyeonghaseyo Taehyung hyung."
Ia membukkukkan badannya (bow) dan hanya dibalas anggukan saja oleh Taehyung.
"Kau tidak sekolah Bamie?"
Bambam menggeleng dan tertawa.
"Percuma sekolah kalau temanku yang pintar ini tidak ada."
"Bamie, seharusnya tidak boleh begitu. Sekolah kan lebih penting."
"Aniyo, sahabatku lebih penting."
Bambam memeluk Jungkook lagi. Menghiraukan Taehyung yang juga berada diruangan itu. Namun Taehyung cuek – cuek saja dan malah asik dengan acara running man yang sedang ia tonton di televisi.
"Permisi, Tuan Taehyung saatnya berganti botol infus. Infusnya sudah habis kan?"
Seorang suster datang dan mengakhiri adegan pelukan KookBam. Ia berjalan ke arah Taehyung dan melepas botol infus dari selang yang menyalurkan air infus itu ke tangan Taehyung. Taehyung tidak merespons bahkan menoleh pun tidak. Dasar ice prince -_-
"Nah Taehyung-ssi, botol infusnya sudah diganti sekarang kau beristirahatlah agar cepat pulih. Mari ku bantu naik ke ranjangmu."
"Aku ingin sekali beristirahat suster, tapi dua orang didekat pintu itu sangat berisik dan mengganggu. Bisakah kau usir mereka keluar dari sini?"
Taehyung melirik kearah Jungkook dan Bambam yang justru mangap mendengar pernyataan Taehyung. Sementara suster hanya menoleh singkat ke arah KookBam dan kemudian tertawa.
"Bukankah mereka temanmu? Mengapa mengusir mereka keluar?"
Suster membantu Taehyung berdiri dan membaringkan Taehyung di kasur.
"Mereka bukan temanku, yang berambut hitam itu adalah adikku sedangkan yang berambut pirang, aku tidak tau dia siapa ku kira tadi dia jasa antar makanan."
Bambam mempoutkan bibirnya dan memberikan ekspresi -_- sementara Jungkook dan suster dalam ruangan itu tertawa karna celetukan Taehyung dan ekspresi lucu Bambam.
"Taehyung-ah sebenarnya siapa yang mengeroyokmu hingga kau terluka separah ini?"
Mark menarik kursi disebelah ranjang Taehyung dan duduk diatasnya. Sementara Hoseok hanya berdiri sambil menyilangkan tangannya. Bambam dan Jungkook sedang pergi ke kantin rumah sakit bersama Jimin. Mark dan Hoseok memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya pada Taehyung. Karena jika ada Jungkook disana sudah pasti Taehyung tidak akan mengatakan apa alasannya.
"Jackson dan kawanannya. Mereka mengirim pesan padaku untuk datang ke belakang gedung kosong sendiri karena jika tidak mereka akan menyebarkan berita tentang adikku."
"Lalu kau dengan bodohnya datang sendirian? Bukankah kemarin kau akan pergi bersama Seokjin?"
"Mau bagaimana lagi, aku tidak mungkin membawa kalian. Aku mendapatkan pesan tepat saat aku dan Seokjin sudah ada didepan kedai ramyun."
Hoseok menghembuskan nafasnya kasar mendengar jawaban Taehyung.
"Taehyung-ah, setidaknya kau bisa memberi tau kami kan dan kita bisa menyusun rencana bersama sehingga kau tidak sampai terluka separah ini. Lalu bagaimana dengan Jackson dan kawanannya?"
"Hahahaha.. ayolah kau seperti tidak kenal aku saja. Meskipun aku terluka parah aku tidak mungkin kalah."
"Jadi kau berhasil mengalahkan mereka?"
Taehyung mengangguk.
"Aku tidak akan membiarkan mereka mengganggu adikku dan membuatnya sedih."
"Aku bingung denganmu. Kau bilang kau tidak menyukainya kau selalu berlaku jahat dan menjahilinya tapi kau tidak terima jika ada orang lain yang ingin menyakitinya. Kau ini sepertinya sakit jiwa."
Mark geleng – geleng kepala melihat sifat aneh Taehyung yang sampai sekarang sama sekali tidak ia pahami. Sementara Taehyung hanya tertawa kecil.
"Kurasa kau jatuh cinta pada adikmu sendiri."
Mark dan Taehyung spontan menoleh ke arah Hoseok.
"Kenapa? Benar kan? Lagipula meskipun itu benar itu tak ada masalah. Kau dan Jungkook sama sekali tak ada hubungan darah. Ibumu berbeda, ayahmu juga berbeda. Ya persamaannya hanya ayahnya dan ayahmu terlibat cinta yang rumit dengan ibumu."
"Kau gila? Mana ada jatuh cinta seperti itu."
"Ya bisa saja kan Mark. Benci tapi cinta."
Mark sudah akan menyela lagi tapi kemudian pintu kamar Taehyung terbuka. Jimin, Bambam dan Jungkook masuk kedalam sambil masih sedikit tertawa karena candaan mereka sepanjang jalan tadi.
"Hai teman – teman. Aku membawakan kalian makanan."
Jimin berteriak heboh sambil memamerkan kantung plastik yang berisi makanan sementara Mark dan Hoseok memutar bolanya malas menanggapi Jimin.
"Hyaa.. Park Jimin. Ini rumah sakit bukan lapangan bola, jangan berteriak akan banyak pasien yang terganggu karena suara melengkingmu itu."
Jimin hanya nyengir menanggapi omelan Taehyung.
"Hyung sudah makan?"
Jungkook duduk ditepi ranjang Taehyung sambil mengelus tangan kanan Taehyung.
"Belum."
"Apa suster belum kesini untuk mengantar makanan? Ini sudah waktunya makan siang kan."
"Belum ada yang kesini."
Jungkook hendak berdiri untuk memanggil suster namun tangan Taehyung mencegahnya.
"Mau kemana kau? Sudahlah biarkan saja nanti jika memang sudah waktunya makan pasti diantar."
"Tapi hyung sudah waktunya meminum obatmu."
"Ayolah, dokter dan suster lebih tau kapan waktunya minum obat daripada kau."
Jungkook mengalah dan kembali duduk ditepi ranjang Taehyung.
"Hyaa.. Apa ini? Tteopokki? Jadi makanan yang kau belikan untuk kami adalah Tteopokki?"
"Itu juga makanan kan."
"Jadi di kantin rumah sakit hanya ada tteopokki? Kalian makan ini tadi?"
"Tentu saja tidak, tadi kami makan Jjamppong. Jinja enak sekali."
"Mwo? Kalian makan jjamppong dan hanya membelikan kami tteopokki? Kalian pelit sekali sih."
Hoseok kesal, sementara Jimin, Jungkook dan Bambam hanya nyengir kuda.
"Mianhe hyung, tadi aku akan membelikan kalian jjamppong juga tapi kata Jimin hyung kalian tidak suka dan Jimin hyung malah merekomendasikan tteopokki."
"Sudahlah makan saja yang ada jangan banyak mengeluh."
Taehyung memotong perdebatan kecil teman – temannya. Hoseok dan Mark akhirnya pasrah saja dan mulai memakan tteopokki meskipun dengan wajah yang tidak ikhlas.
Matahari senja menyinari jalanan kota Tokyo. Daehyun baru selesai dengan pekerjaannya, ia memutuskan untuk merilekskan tubuhnya dan berjalan – jalan di ibu kota Jepang itu. Besok pagi ia akan kembali ke Seoul, ia sengaja memilih jadwal keberangkatan paling pagi karena ia sudah rindu sekali dengan kedua putra kesayangannya Taehyung dan Jungkook. Daehyun duduk di sebuah taman yang rindang, tepat dibawah pohon sakura yang sangat indah. Ia mengambil ponselnya didalam saku celananya dan menekan nomor ponsel Taehyung namun tidak tersambung, ia mencobanya lagi tetapi hasilnya sama. Sepertinya ponsel Taehyung mati. Daehyun lalu menghubungi putra bungsunya dan ia tersenyum senang karena panggilannya tersambung.
"Yobboseo."
"Yobboseo appa!"
"Hallo kid, How are you?"
"Aku sehat appa. Bagaimana dengan appa? Aku rindu sekali, sudah 2bulan tidak bertemu dengan appa."
"Jinja? Appa juga merindukanmu kid. Besok appa akan pulang ke Seoul dengan pesawat paling pagi, appa janji besok kita jalan – jalan sepuasnya kemanapun kau mau. Dimana kakakmu?"
"Oh, itu dia. Kemarin aku berusaha menghubungi appa namun hp appa sibuk. Hyung sekarang berada dirumah sakit appa."
"Di rumah sakit? Bagaimana bisa? Ia sakit apa?"
"Aku juga tak tau appa, hyung tidak mau cerita. Sepertinya ia berkelahi lagi tetapi kali ini parah sekali, tangan kirinya patah."
"Anak itu tidak pernah berubah ya. Berarti sekarang kau sedang dirumah sakit?"
"Ne, aku sedang dirumah sakit. Taehyung hyung sedang tertidur sekarang."
"Apa eommamu ada disana? Berikan ponselmu padanya, appa ingin bicara."
"Eomma tidak disini appa. Aku sudah menghubunginya juga dari semalam hingga siang ini namun nomor ponselnya tidak bisa dihubungi."
"Jadi eommamu tidak tau kalau kakakmu ada di rumah sakit sekarang?"
"Sepertinya begitu.."
"Baekhyun memang sudah benar – benar keterlaluan. Kookid, jaga hyungmu dulu ne besok pagi setelah pesawat appa sampai di Seoul appa akan segera ke rumah sakit. Appa akan menghubungimu lagi nanti."
"Ne appa, hati – hati ne. Annyeong."
"Annyeong."
Daehyun mematikan panggilannya. Ia membuang nafasnya kasar.
"Baek, kau sudah sangat keterlaluan. Sebegitu tidak peduli kah kau pada Taehyung? Dia adalah anak kandungmu sendiri."
Daehyun meraih ponselnya lagi, ia memencet nomor seseorang dan menekan tombol call.
"Cari dimana Baekhyun sekarang! Kau harus sudah menemukannya sebelum malam ini."
Taehyung terbangun dari tidurnya. Ia duduk diam melihat Jungkook yang tengah memainkan ponselnya.
"Dimana yang lain?"
Jungkook menoleh ke arah Taehyung sambil tersenyum.
"Jimin hyung dan Hoseok hyung pulang. Sementara Mark hyung dan Bambam sedang pergi mencari makan malam untuk kita nanti."
Taehyung hanya ber-oh ria.
"Jungkook-ah badanku lengket semua, aku ingin mandi."
"Mandi? Mana boleh hyung. Hyung saja masih di gips dan tangan hyung masih di infus."
"Ini tidak nyaman sekali."
"Apa hyung mau aku spon air hangat saja agar tidak lengket? Kalau mandi masih belum boleh hyung."
"Baiklah, spon air hangat saja daripada tidak sama sekali."
"Sebentar aku akan mengambilkan handuk dan air hangat untukmu."
Jungkook beranjak dari kursinya menuju kamar mandi disudut ruangan. Sementara Taehyung berpindah posisi menjadi duduk ditepi ranjang. Jungkook kembali dengan membawa ember berukuran sedang berisi separuh air hangat dan juga handuk kecil didalamnya. Ia membantu melepas gendongan tangan berwarna biru yang menyangga tangan kiri Taehyung yang di gips. Lalu perlahan membuka kancing baju pasien yang dikenakan Taehyung. Sekarang Taehyung dalam keadaan half naked, Terlihat dada bidang dan perut abs milik Taehyung. Pipi Jungkook memerah semerah tomat, ia meremas handuk dan mulai mengelapkannya ke tangan kanan Taehyung. Taehyung tersenyum tipis melihat perubahan ekspresi Jungkook dan pipinya yang sudah merah padam. Perlahan ia memajukan kepalanya kehadapan wajah Jungkook.
"H..Hyung.."
Jungkook gugup, ia makin menundukkan kepalanya karena malu.
"Kau Kenapa hm?"
Taehyung semakin menggoda Jungkook ia tertawa pelan sambil menatap wajah Jungkook intens. Jungkook tidak menjawab ia kembali berjongkok dan membasuh handuknya lagi kemudian memerasnya dan mengelapkannya ke leher Taehyung. Taehyung memejamkan matanya menikmati sentuhan Jungkook meskipun terhalang sebuah handuk. Jungkook semakin gugup melihat wajah Taehyung yang tampan dari dekat begini.
"Tampan sekali."
Gumam Jungkook tanpa sadar. Taehyung yang mendengar itu langsung tertawa keras.
"Iya aku tau aku memang tampan sekali."
Jungkook menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Bodoh sekali, bagaimana bisa ia seceroboh itu. Ia malu sekali sekarang. Tapi memang Jungkook tidak bisa berbohong, Taehyung tampan sekali. Dan semua orang pasti akan setuju dengan Jungkook.
"Iya kau memang tampan hyung."
Jungkook kembali melanjutkan aktifitasnya, kali ini ia turun ke dada bidang dan perut abs Taehyung. Jungkook bisa melihat nipple coklat Taehyung menegang, mungkin karna usapan pelan dari handuknya. Taehyung masih memejamkan matanya dan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Jungkook mengusap wajah Taehyung dengan lembut, jarak mereka sangat dekat sekarang. Jungkook bahkan bisa merasakan hembusan nafas Taehyung begitupun sebaliknya. Tiba – tiba Taehyung membuka matanya tepat ketika Jungkook membasuh pipinya, bagai terhipnotis Jungkook diam tak bergeming menatap mata Taehyung. Tanpa sadar tangan kanan Taehyung tergerak untuk mendorong tengkuk Jungkook lebih turun. Taehyung mengeliminasi jarak antar keduanya dan perlahan melumat lembut bibir Jungkook. Jungkook memejamkan matanya dan menikmati benda kenyal milik Taehyung yang menyentuh bibirnya. Taehyung menggigit bibir bawah Jungkook sehingga mau tak mau Jungkook membuka mulutnya dan itu membuat akses lidah Taehyung untuk masuk semakin mudah. Taehyung memasukkan lidahnya kedalam mulut Jungkook, mengabsen gigi – gigi rapi Jungkook dan menarik lidah Jungkook untuk bermain bersama lidahnya. Jungkook yang semula hanya diam akhirnya larut dalam permainan Taehyung, ia mulai menggerakkan bibir dan lidahnya untuk membalas lumatan Taehyung. Hanya ada suara decakan dari kedua bibir mereka yang saling bertautan. Hingga akhirnya mereka menyerah karena sama – sama membutuhkan oksigen. Mereka berdua terengah – engah dengan benang saliva panjang yang masih menyambung di antara bibir mereka. Taehyung mengusap bekas saliva yang ada di sekitar bibir Jungkook, dan Jungkook hanya menunduk diam karena ia masih belum bisa mengendalikan debaran jantungnya yang serasa mau lepas saat ini.
"H..Hyung.. kenapa kau menciumku?"
Taehyung diam mendengar pertanyaan Jungkook, ayolah dia tidak punya jawaban yang tepat atas itu. Tidak mungkin ia bilang jika ia memang sudah ingin melakukannya dari lama, atau sebenarnya dia sudah sering mencuri satu kecupan dari bibir Jungkook ketika ia tengah terlelap.
"Molla."
Jawab Taehyung singkat, ia kemudian membawa Jungkook ke dalam pelukannya. Entah hal gila apa yang sudah dilakukan Taehyung hari ini, atau entah setan darimana yang merasukinya sehingga ia sampai seberani ini. Jungkook hanya terdiam dalam pelukan Taehyung, ia bisa merasakan debaran jantung Taehyung yang sama kuatnya dengan miliknya.
Mark dan Bambam memasuki sebuah restoran Iga panggang dikawasan Hongdae. Mereka segera memesan 4 bungkus Iga panggang untuk mereka makan nanti malam bersama Jungkook dan Taehyung dirumah sakit. Saat makanan sudah mereka dapatkan, Mark segera membayar dan menarik tangan Bambam menuju mobil untuk segera kembali kerumah sakit.
"Kau ingin beli sesuatu tidak?"
Mark bertanya pada Bambam yang sedang membenarkan sabuk pengamannya.
"Sebenarnya ada, aku dan Jungkook ingin makan bingsoo."
"Kau tau dimana tempat bingsoo yang enak di kawasan ini?"
"Ne, tentu saja. Setelah ini belok ke kanan dekat Gedung Far East Broadcast."
Mark mengangguk dan mengemudi ke arah yang dimaksud Bambam.
"Hei pirang, aku punya pertanyaan."
"Eoh? Pertanyaan apa?"
"Apa kau sudah punya pacar?"
Bambam mengerjapkan matanya lalu kemudian ia tersenyum lucu dan mengalihkan pandanganya ke arah jendela.
"Belum."
Jawabnya pelan namun dapat didengar oleh Mark. Mark tertawa puas atas jawaban Bambam.
"Sayang sekali jika manusia semanis kau belum memiliki pacar."
"Mwoya? Kau mengejekku."
Bambam memukul lengan Mark dengan gemas dan dibalas tawa renyah Mark.
"Kau tau, sepertinya kita harus mulai berkencan sekarang. Karena aku menyukaimu."
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
ASTAGA INI APA XD
WELL AKHIRNYA CHAPTER INI TERCIPTA DENGAN SEGALA KEKACAUAN YANG ADA :")
JADI BEGINI READERS, AKHIR – AKHIR INI COBAAN BERTUBI- TUBI MENGHAMPIRI AUTHOR /BACKSOUND FILM RELIGI/ DIMULAI DARI DOMPET AUTHOR BESERTA ISINYA HILANG, HAPE AUTHOR RUSAK PADAHAL BANYAK KERANGKA FF YANG AUTHOR SIMPEN DIDALEMNYA, TERMASUK CHAPTER 3 INI DAN HARI INI TEPAT TANGGAL 06-10-2015 AUTHOR ABIS KECELAKAAN DITABRAK DARI BELAKANG, SYUKUR ALHAMDULILLAH AUTHOR GPP READERS. JADI BISA NGEPOST CHAPTER 3 YANG BARU AUTHOR SELESAIKAN SORE INI.
NAH DI CHAPTER 2 ALHAMDULILLAH YAH UDH MULAI BANYAK YANG NGEREVIEW, AUTHOR SENANG SEKALI SAMPE TERHARU :")
BIG THANKS YAH BUAT thiefhanie fha , Riska971 , machillaloannindisch1 , daphnaap , ismisofifia , AMAIhimitsu , blueewild951230 , YulJeon , BigSehun'sjunior , Phikukcb19 , vikialower21 , urihunhan .
SEPERTI BIASA YANG LAIN AUTHOR TUNGGU REVIEWNYA, AUTHOR AKAN LEBIH SEMANGAT NGELANJUTIN KALAU KALIAN MAU RESPONS BUKAN JADI PEMBACA YANG PASIF :")
OH IYA KEMARIN ADA YANG MINTA RATINGNYA DINAIKIN SEIRING BERJALANNYA CHAPTER, JADI AUTHOR IKUTIN DEH MAUNYA READERS ADA ADEGAN KISSINGNYA DAN RATINGNYA AGAK NAIK HIHIHI.. TERUS KEMARIN ADA JUGA YANG MINTA MARKBAM MOMENT DIBANYAKIN, KALAU MARKBAM TIAP CHAPTER AUTHOR USAHAIN SELALU ADA MOMENT MEREKA KOK TENANG SAJA ;)
JADI BEGITU SAJA DULU :"), INTINYA TERIMA KASIH SUDAH MENGIKUTI FF INI SAMPAI DI CHAPTER INI, REVIEWNYA TOLONG YA BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT NGELANJUT, KRITIK DAN SARANNYA JUGA SANGAT AUTHOR BUTUHKAN. SUDAH BEGITU SAJA.
.
SARANGHAE READERS 3 SEE YOU NEXT CHAPTER~~
