"Sayang sekali jika manusia semanis kau belum memiliki pacar."
"Mwoya? Kau mengejekku."
Bambam memukul lengan Mark dengan gemas dan dibalas tawa renyah Mark.
"Kau tau, sepertinya kita harus mulai berkencan sekarang. Karena aku menyukaimu."
Bambam terkejut mendengar pernyataan tiba – tiba dari Mark.
"Mwoya? Bercandamu tidak lucu hyung."
"Siapa yang bercanda? Aku serius Kunpimook Bhuwakul."
"Aku tidak percaya padamu, kebanyakan namja popu- tunggu dulu, darimana kau tau nama asliku?"
"Kan sudah kubilang aku menyukaimu, tentu saja aku banyak mencari tau tentangmu. Namamu Kunpimook Bhuwakul kau kelahiran Thailand 2 Mei 1997, golongan darahmu adalah B, kau suka mendengarkan musik dan makanan favoritmu adalah cheeseburger dan tomyumkoong."
Bambam melongo mendengar celotehan Mark. Ia tak menyangka Mark tau sebanyak itu tentang dirinya.
"Ke-kenapa kau tau sampai sebanyak itu? Kau stalkerku ya?!"
"Hahaha.. Iya aku stalkermu, bukankah sudah ku katakan kalau aku menyukaimu."
Mark tertawa sambil mengacak surai madu Bambam. Bambam menepis tangan Mark di rambutnya dan bergidik ngeri.
"Aku tidak percaya dengamu hyung."
"Baiklah, coba kau beri aku pertanyaan apa saja tentang dirimu. Aku akan menjawabnya, jika jawabanku benar kau harus mau berkencan denganku besok."
"Mwoya?"
Bambam mengerucutkan bibirnya dengan lucu membuat Mark ingin memakannya saat itu juga jika ia tidak ingat kalau ia sedang mengemudi sekarang.
"Baiklah, berapa tinggi badanku yang sekarang?"
"175cm."
"Berat badanku?"
"52kg."
"Hyaa.. Bagaimana kau mengetahuinya dengan benar? Andweee..."
Bambam menjambak rambutnya. Selama ini tidak ada yang tau berat dan tinggi badan Bambam yang baru, kecuali ia sendiri.
"Jadi bagaimana? Aku menang? Hahahaha."
Mark tertawa dengan lantang. Sementara Bambam masih tak percaya jika Mark benar – benar tau segala tentangnya.
"Hyung bagaimana kau bisa tau semuanya? Bahkan yang tidak pernah ku katakan pada siapapun."
Mark menghentikan mobilnya didepan kedai bingsoo. Ia menatap Bambam sambil menangkup pipi gembul milik Bambam.
"Harus berapa kali ku katakan? Aku menyukaimu."
Mark berkata dengan serius dan Bambam tau itu. Bambam menatap mata Mark lekat, mencari sebuah kebohongan tapi Bambam tak menemukannya.
"A-apa hyung serius?"
"Aku tidak pernah main – main dengan kata – kataku. Percayalah, aku berjanji tidak akan menyakitimu dan akan selalu menjagamu."
Bambam merasa ada ribuan kupu – kupu berterbangan dalam perutnya. Rasanya indah sekali. Pipi Bambam merona merah, Mark yang melihat hal itu tersenyum dan mencubit pipi Bambam gemas.
"Jadi bagaimana?"
Mark bertanya lagi karna merasa belum mendapat jawaban dari Bambam atas pertanyaannya tadi. Bambam mengangguk pelan sambil tersenyum. Manis sekali, siapapun yang melihatnya pasti ingin mencium Bambam saat itu juga, begitupun dengan Mark.
"Gomawo."
Mark sudah tidak tahan lagi untuk tidak memeluk Bambam. Ia memeluk Bambam dan mengelus surai madu milik Bambam yang wangi, ber-aromakan strawberry. Sementara Bambam hanya tertunduk malu dalam pelukan Mark. Dan jangan lupakan semburat merah di pipinya.
"Kau tunggu disini ya? Aku akan masuk dan membelikan bingsoo untukmu dan Jungkook."
Mark melepas pelukannya dan menatap Bambam sambil tersenyum. Bambam menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Mark. Mark mengelus rambut Bambam sayang, lalu kemudian ia turun dari mobilnya untuk membeli bingsoo yang diinginkan Bambam dan Jungkook.
"Ya Tuhan, tadi itu apa? Apa aku bermimpi?"
Bambam mencubit pipinya dengan kencang.
"Aw, sakit. Artinya ini bukan mimpi. Mark hyung bilang ia menyukaiku."
Pipi Bambam memerah lagi, Ia cekikikan sendiri didalam mobil mengingat kejadian tadi sembari menunggu Mark kembali dari kedai bingsoo.
Hari sudah mulai malam, matahari senja sudah mulai bersembunyi di barat bumi. Jungkook dan Taehyung masih tetap berdiam diri sejak kejadian tadi sore. Saat Taehyung dengan lancangnya meluncurkan sebuah ciuman di bibir Jungkook. Baik Jungkook maupun Taehyung merasa sangat canggung sekarang, mereka bingung harus berbuat bagaimana. Akhirnya mereka memutuskan untuk diam tak bersuara.
Pintu kamar Taehyung tiba – tiba terbuka menampilkan seorang Mark Tuan dan juga Bambam yang berjalan dibelakangnya dengan membawa kantong plastik yang sudah dapat dipastikan itu adalah makan malam yang mereka beli tadi sore.
"Aku kembali."
Mark masuk dan duduk di sofa panjang di kamar Taehyung. Ia menaruh kantung plastik yang ia bawa tadi di atas meja nakas dikamar itu.
"Hei, kalian kenapa diam saja dari tadi? Dan kenapa dengan pipimu Jungkook-ah? Pipimu merah sekali dan juga dimana bajumu Taehyung-ah? Kalian seperti orang yang habis melakukan sesuatu saja."
Mark menatap curiga ke arah Jungkook dan Taehyung. Jungkook jadi salah tingkah dibuatnya sementara Taehyung cuek – cuek saja dan lebih terlihat seperti tidak peduli dengan tuduhan Mark.
"Aku habis di spon oleh dia, makanya aku tidak memakai baju."
Taehyung akhirnya mengeluarkan suaranya yang sedari tadi ia kurung didalam kerongkongannya.
"Begitu kah? Lalu kenapa dengan pipimu Jungkook-ah?"
Jungkook makin salah tingkah karna Mark menatapnya dengan tatapan jahilnya.
"I-itu karna eum karna aku sedang tidak enak badan. Iya tidak enak badan hehe mungkin karna akhir – akhir ini aku terlalu sering begadang."
Jungkook nampak gelagapan menjawab pertanyaan Mark.
"Oh begitukah? Jadi sebelum Taehyung dirawat disini kemarin kau sudah sering begadang ya? Oh begitu rupanya."
Mark tersenyum jahil ke arah Jungkook sementara Jungkook hanya bisa diam dan menunduk. Ia bodoh sekali memberikan alasan seperti itu. Taehyung baru dirawat disini kemarin lalu ia memberikan alasan pada Mark bahwa ia tidak enak badan karna terlalu sering begadang? Bukankah itu alasan yang lucu, Jungkook kan tipikal orang yang gampang tertidur, bersandar sedikit saja sudah ketiduran. Begadang bukanlah stylenya.
"Sudahlah Mark, bantu aku memakai bajuku."
Taehyung menyudahi acara jahil Mark. Ia melemparkan baju kemeja pasiennya ke arah pria berdarah LA-Taiwan itu.
"Mwoya? Kenapa harus aku? Jungkook kan tadi yang melepasnya, biar Jungkook yang memakaikannya kembali. Ini Jungkook-ah pakaikan pada hyungmu."
Mark hendak melempar kemeja itu ke arah Jungkook, Tapi tiba – tiba Taehyung berdiri dan merebut bajunya.
"Jungkook itu sedang sakit, dia kan tadi bilang sediri jika ia sedang tidak enak badan."
"Ayolah, memakaikan baju tidak akan membuatnya semakin sakit kan? Yeah, kecuali dia terkena penyakit jatuh cinta padamu. Hahahaha.."
Mark tertawa dengan kencang menggoda Taehyung dan Jungkook. Oh ayolah, Mark tidak bodoh untuk mengetahui apa yang terjadi. Taehyung yang tidak memakai baju dan Jungkook yang pipinya memerah, dan satu hal yang mungkin tidak akan disadari jika tidak melihat secara teliti. Bibir mereka berdua, yang sama sama membengkak. Sudah jelaskan apa yang mereka lakukan?
Taehyung memukul kepala Mark dengan tangan kanannya, sementara Mark masih terus saja tertawa karna berhasil membuat Taehyung dan Jungkook semakin salah tingkah.
"Bambam-ah, kau teman Jungkook kan?"
Bambam yang sedari tadi hanya diam disamping Jungkook kaget. Ia menganggukkan kepalanya lucu menanggapi pertanyaan Taehyung. Taehyung berjalan mendekati Bambam dan meninggalkan Mark yang saat ini sudah berhenti tertawa dan melihat ke arahnya dengan tatapan 'apa yang ingin dia lakukan?'
"Nah, karna kau temannya kau pasti mau membantunya kan?"
Bambam mengangguk lagi. Jungkook menatap Taehyung dengan bingung sementara Mark sudah tau Taehyung sedang merencanakan sesuatu.
"Kan Jungkook sedang tidak enak badan sepertinya ia kelelahan kasihan sekali kan dia, kepalanya pasti pusing. Sedangkan aku jika terus tidak memakai baju begini bisa – bisa aku masuk angin. Aku sudah meminta bantuan pada Mark dan kau tau sendiri dia tidak mau melakukannya. Jadi maukah kau membantuku? Hitung – hitung meringankan beban sahabatmu."
Taehyung memasang senyum termanisnya membuat Bambam merasa malu sendiri. Jungkook melirik ke arah Bambam sementara Mark terkejut dengan tindakan Taehyung.
Bam-ie hajima. Aku tidak mau kau menyentuh hyungku. Tolak itu Bam-ie kau tidak boleh melakukannya.
Jungkook bergumam dalam hati yang tentu saja tidak didengar oleh Bambam. Tapi ternyata Dewi Fortuna tidak sedang berpihak padanya, ia melihat dengan ekor matanya Bambam mengangguk tanda setuju dengan permintaan Taehyung. Taehyung memberikan bajunya dan melirik ke arah Mark sambil menyeringai. Taehyung tau kalau Mark menyukai Bambam, ia sengaja mengerjai Mark agar Mark mau membantunya.
"Hyaa.. apa – apaan kau ini, mana berikan bajunya padaku."
Dan benar saja, Mark merebut baju Taehyung ditangan Bambam. Sudah pasti ia tidak rela jika Bambamnya melakukan itu pada Taehyung. Bambam hanya boleh melakukan itu padanya kan. Taehyung terkekeh melihat Mark yang nampak marah padanya, ia duduk di tepi ranjang menunggu Mark memakaikan bajunya. Sementara Mark dengan ogah – ogahan akhirnya membantu Taehyung meskipun dengan perasaan kesal.
Daehyun tengah duduk di balkon kamar hotelnya. Menikmati secangkir kopi dengan semilir angin malam yang menyapu wajahnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi empuk yang ia duduki. Daehyun meraih ponselnya dan mengecek apakah ada pesan atau telepon yang masuk namun ternyata kosong. Karna merasa bosan akhirnya ia memutuskan untuk membuka galeri gambar di ponselnya. Sebuah senyum terukir saat ponselnya menampilkan gambar foto keluarga yang diambil kurang lebih satu tahun yang lalu saat ia, Baekhyun, Taehyung dan Jungkook tengah berlibur ke pulau Jeju. Dalam foto itu Jungkook dan Taehyung ada ditengah sementara Daehyun berada di sebelah kanan Taehyung dan Baekhyun di sebelah kiri Jungkook. Mereka berempat berpose 'peace' di hamparan bunga di pulau Jeju yang kala itu tengah bermekaran. Mereka memang jarang menghabiskan waktu bersama, jadi saat mereka bisa melakukan liburan keluarga itu akan menjadi hal yang benar – benar quality time. Daehyun jadi semakin merindukan Taehyung dan Jungkook. Meskipun mereka berdua itu seperti bawang merah dan bawang putih, si Taehyung yang jahat dan si Jungkook yang baik hati tetapi Daehyun tau kalau mereka berdua sebenarnya saling menyayangi. Daehyun menyayangi Jungkook seperti putranya sendiri, ia tidak pernah membeda – bedakan antara Taehyung dan Jungkook. Meskipun ia tau sebenarnya Jungkook adalah anak dari mantan kekasih Baekhyun. Kalian pasti heran bagaimana ia bisa tau? Padahal selama ini Taehyung saja selalu mengira bahwa ayahnya itu tidak tau. Daehyun itu terlahir dari kalangan elite, atau biasa disebut dengan kaum caebol. Ia memiliki mata – mata yang ia tugaskan untuk mengikuti Baekhyun dan mencatat segala gerak – gerik Baekhyun sejak orang tua Daehyun menjodohkan mereka berdua. Sebenarnya dari awal perjodohan Daehyun sudah menyukai Baekhyun, bahkan mencintainya. Akan tetapi Baekhyun punya seseorang yang special dihatinya, dan Daehyun tau itu. Tapi Daehyun membuat itu seolah – olah ia tak tau, Daehyun tau Baekhyun masih sangat mencintai mantan kekasihnya dan tidak bisa melupakannya, Daehyun tau Jungkook anak Park Chanyeol mantan kekasih Baekhyun yang sudah meninggal dunia karna kecelakaan mobil, Daehyun tau Baekhyun lebih menyayangi Jungkook daripada Taehyung yang notabennya adalah putra kandungnya, Daehyun tau Baekhyun tak pernah mencintainya. Tapi, Daehyun juga tau bila Jungkook tak ada sangkut pautnya dalam masalah ini, ia hanyalah seorang anak kecil yang tak tau masalah orang tua. Jungkook anak yang baik, ceria, jujur dan menyenangkan. Daehyun tak pernah membencinya meskipun ia anak mantan kekasih Baekhyun, malah ia sangat bersyukur Jungkook hadir diantara keluarga mereka. Paling tidak ada yang memperhatikan Taehyungnya ketika Daehyun tengah disibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk setiap harinya. Karna Baekhyun tak mungkin memperhatikan Taehyung layaknya Jungkook. Ponsel Daehyun tiba – tiba berbunyi, ada panggilan masuk.
"Yobboseo."
"Tuan, aku sudah menemukan dimana tuan Baekhyun sekarang."
"Bagus, terus ikuti dia. Cari tau apa yang dia lakukan."
Jimin sedang berjalan terburu – buru ke kamar inap Taehyung. Ia sudah keburu lapar dan Mark bilang jika dikamar Taehyung sedang ada pesta iga bakar. Bukan Jimin namanya jika tidak tertarik mendengar kata 'pesta makanan' bahkan ia rela ngebut agar tidak ketinggalan acara makan enak dan gratis itu. Dasar perut lebar kkkk~
Karna terlalu terburu – buru Jimin jadi tidak melihat sekitar, ia tidak sengaja menabrak seorang dokter yang membawa banyak rekap medis ditangannya. Alhasil semua rekap medis yang dibawa dokter itu jatuh dan berterbangan karna tabrakan mereka.
"Aish jinja, apa yang ku lakukan. Astaga, chusomnida. Maaf dokter, aku terburu – buru jadi tidak tau kalau ada dokter yang berjalan didepanku."
Jimin membungkukkan badannya merasa tidak enak, sementara si dokter tadi hanya menjawab 'ne gwenchana' sambil berjongkok mengambil semua kertasnya yang terjatuh. Jimin yang menyadari hal itu segera berjongkok juga dan membantu dokter itu memungut kertasnya.
"Ah, kamshamnida. Maaf sebenarnya aku terburu – buru juga jadi aku tidak hati – hati. Kalau begitu aku permisi dulu. Annyeong."
Dokter itu membungkuk sekilas dan tersenyum ke arah Jimin. Jimin mengerjapkan matanya berkali – kali dan matanya tak bisa berhenti mengikuti kemana arah perginya dokter itu hingga dokter itu menghilang. Jimin terdiam seperti orang bodoh dengan mulutnya yang sedikit menganga, Hoseok yang memang sedang mencari Jimin dari tadi menepuk pundak Jimin pelan.
"Astaga, manis sekali."
Senyum Jimin merekah dibibirnya membuat Hoseok bingung.
"Hah? Apa kau bilang tadi?"
Jimin tersadar dengan kehadiran Hoseok disampingnya. Jimin tersenyum garing dan menepuk lengan Hoseok.
"Ah kau Hoseok, hehe. Tidak, aku tidak bilang apa – apa. Ayo kita pergi."
Jimin berjalan meninggalkan Hoseok untuk menuju kamar Taehyung sementara Hoseok menatap Jimin dengan bingung.
"Dasar anak aneh."
Acara makan – makan di kamar Taehyung sudah selesai. Mereka melewatinya dengan candaan dan tawa ringan. Well, Bambam dan Jungkook juga sangat menikmatinya. Ternyata teman – teman Taehyung sangat menyenangkan, begitulah kira – kira yang ada dipikiran Jungkook.
"Hyaa.. untuk merayakan keluarnya Taehyung dari rumah sakit, bagaimana kalau besok kita pergi ke taman bermain? Sepertinya akan sangat asyik."
"AKU SETUJU!"
Hoseok nampak antusias dengan ide Mark. Mark tertawa dan berhigh five ria dengan Hoseok sambil menunggu jawaban dari yang lain.
"Boleh juga, lagipula aku bosan seandainya dirumah saja."
Taehyung menyetujuinya juga tinggal Jungkook, Bambam dan Jimin yang belum memberikan suaranya. Semua mata mengarah ke arah mereka bertiga yang memang duduk bersebelahan. Jungkook mengangguk sambil tersenyum demikian pula dengan Bambam yang nampak bersemangat.
"Jadi semua orang setuju, bagaimana denganmu Jimin-ah?"
Jimin hanya diam, sepertinya ia melamun.
"Jimin-ah."
"Jimin Jimin Jimin."
"Park Jimiiinnnn."
"Chimchim."
"Oy, Jimin-ah. Aish, dia melamun kawan."
"HYAA! PARK JIMIN!"
"Hah? Apa? Apa? Ada apa? Apa ada makanan datang lagi? Atau kalian mau pulang? Baiklah ayo."
Jimin kaget dengan teriakan serempak dari teman – temannya. Jujur saja dari tadi ia tidak mendengarkan apa yang didiskusikan oleh teman – temannya. Semua manusia disana –kecuali Jimin- memutar bola matanya malas. Oh ayolah jadi ternyata Jimin tidak memperhatikan mereka dari tadi.
"Sebenarnya kau ini melamunkan apa sih? Kami sepakat mau pergi ke taman bermain besok untuk merayakan kesembuhan Taehyung dan untuk merayakan keluarnya Taehyung dari rumah sakit. Kau mau ikut tidak?"
"Jadi Taehyung sudah mau keluar dari rumah sakit ini begitu? KAPAN?"
"Makanya jika ada temanmu yang berbicara dengarkan. Jangan melamun sendiri. Besok pagi Taehyung akan keluar dari rumah sakit tepatnya jam 7pagi. Nah langsung dari sini kita langsung pergi ke lotte world untuk bermain dan bersenang –senang."
"MWO? BESOK PAGI? JAM 7? ANDWEEE."
Jimin berteriak histeris membuat teman – temannya kaget sekaligus bingung. Temannya sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit harusnya ia senang kan? Kenapa ia malah histeris begitu.
"Kau ini kenapa sih? Temanmu keluar dari rumah sakit dan sembuh kau malah histeris sendiri. Kau tidak suka aku sembuh?"
Taehyung kesal dengan sikap Jimin yang menurutnya sangat aneh itu.
"Bu-bukan begitu Taehyung-ah tentu saja aku senang. Hanya saja... Haish susah menjelaskannya bagaimana."
Jimin menjambak rambutnya frustasi membuat Taehyung dan kawan – kawan makin bingung dibuatnya.
"Kau ini sebenarnya kenapa sih? Aneh sekali. Kau demam? Sakit jiwa? Makanmu kurang? Atau kau mabuk?"
Hoseok memberondong pertanyaan ke Jimin. Jimin membuang nafasnya kasar.
"Jadi begini, aku sedang menyukai seseorang."
"Ne? Jinjayo? Nuguya? Waahh kenapa kau tidak pernah bercerita."
Hoseok nampak antusias dengan cerita Jimin.
"Aku menyukainya saat pertama kali bertemu dengannya."
"Ah, love at the first sight? Aku juga mengalaminya hyung."
Semua mata tertuju pada Bambam sekarang termasuk Mark yang nampak penasaran.
"Jinjayo? Kau juga mengalaminya? Dengan siapa?"
Bambam nampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Jimin. Mark menatap Bambam intens, yakin kalau jawaban Bambam adalah dirinya.
"Seseorang yang aku temui saat di perpustakaan. Dia tampan, baik, dan yang jelas aku ingat adalah senyumnya indah sekali. Aku merasakan jutaan kupu – kupu terbang dalam perutku saat aku melihatnya. Awalnya aku pikir aku terlalu berlebihan, mungkin saja itu karna aku lapar makanya perutku terasa aneh. Aku memprinsipkan pada diriku bahwa aku hanya mengaguminya bukan menyukainya. Tapi setelah aku bertemu dengannya lagi dan lagi ternyata rasanya pun tak jauh berbeda. Aku tetap merasakan hal yang sama."
Bambam tersenyum manis di akhir ceritanya. Dan semua orang sekarang sudah sibuk menggoda dan men-cieciekan- Bambam. Tidak termasuk Mark yang justru nampak berfikir siapa orang yang sudah berhasil membuat Bambam jatuh cinta itu. Mendengar cerita Bambam bahwa ia bertemu pria itu di perpustakaan membuat Mark yakin itu 100% bukan dirinya. Membaca buku saja ia malas apalagi ke perpustakaan. Jika sangat terpaksa karna tugas dari songsaenim atau karna ia tidak ada tempat membolos lagi baru ia pergi ke perpustakaan tapi bukan untuk membaca melainkan tidur disudut perpustakaan dengan nyaman. Dan seingatnya ia tak pernah melihat atau bertemu dengan Bambam.
"Artinya orang yang kau sukai itu satu sekolah dengan kita? Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku Bamie."
Kini Jungkook mulai heboh sendiri dengan Bambam.
"Sebenarnya ini adalah sebuah rahasia Kookie. Tapi karna ternyata Jimin hyung mengalaminya juga maka aku ceritakan. Hehe."
"Bam, katakan siapa orang itu."
Mark bertanya dengan tidak sabar bahkan terdengar sangat dingin. Tentu saja, ia kecewa karna ternyata Bambam sudah menyukai orang lain. Tapi kenapa Bambam menerima ajakannya untuk berkencan? Hati Mark serasa pecah menjadi dua.
"Orang itu, hm... kalau aku mengatakannya apa yang akan kudapatkan?"
"Aku akan membantumu mendapatkannya Bam, aku berjanji. Asalkan aku kenal dengannya dan dia satu sekolah dengan kita saja itu mudah."
Mark merasa semakin sedih karna Hoseok malah ada dipihak Bambam dan mau membantunya mendapatkan orang yang ia suka. Ayolah Hoseok, temanmu ini juga menyukai Bambam. Hatinya hancur Hoseok.
"Kau mengenalnya hyung, kalian satu angkatan."
Dan satu clue lagi yang berhasil didapatkan oleh Mark.
"Sepertinya dia playboy dilihat dari gayanya, ia disukai banyak orang. Terkadang aku tidak percaya diri. Bagaimana mungkin ia menjadi kekasihku, memangnya aku ini siapa. Tapi segala pemikiranku berubah saat kami pergi keluar bersama."
Mark semakin down dibuatnya. Jadi Bambam sudah pernah berkencan dengan orang yang ia suka itu? Pergi keluar bersama berdua bukankah itu bisa dibilang kencan?
"Sudahlah jangan berbelit – belit katakan saja siapa orangnya. Lama sekali."
Mark bergumam ketus. Dan semua tertawa. Terutama Hoseok, Jimin dan Taehyung. Ya, mereka tau jika Mark menyukai Bambam sejak lama hanya saja ia suka bingung bagaimana cara mendekatinya makanya Mark lebih memilih mencari tau dulu tentang Bambam alias menjadi stalkernya. Baru kemudian ia pelan – pelan mendekati Bambam.
"Kau."
Bambam tersenyum manis. Mark awalnya sedikit tidak bisa mencerna apa maksud Bambam tapi sedetik kemudian ia tertawa dan memeluk Bambam dari samping. Dan membuat seisi ruangan kamar Taehyung heboh meneriaki pasangan baru ini.
"Sudah kuduga itu pasti aku. Tapi kapan kita pernah bertemu di perpustakaan?"
Bambam berpikir sejenak sambil memejamkan matanya.
"Saat kau tertidur. Waktu itu aku sedang jam kosong. Karna aku tergolong bodoh dalam pelajaran Fisika aku memutuskan untuk memanfaatkan waktu itu untuk belajar. Aku pergi ke perpustakaan dan mencari buku tentang Fisika tapi sialnya aku tidak mendapatkan meja kosong, hanya tersisa satu saja di sudut perpustakaan dan disana ada kau yang sedang tertidur.
Mark berusaha mengingat – ingat kejadian yang diceritakan Bambam. Tapi tetap saja tidak ingat. Tentu saja tidak ingat kan saat itu ia sedang tidur. -_-
"Baiklah, beri tepuk tangan yang meriah untuk si stalker yang ternyata sudah disukai oleh objek –stalkernya- terlebih dahulu."
Semuanya bertepuk tangan dengan heboh menyambut MarkBam couple. Sementara Bambam hanya tersenyum malu dan Mark yang nampak sumringah.
"Ok then, back to the topic. Siapa orang yang kau sukai itu Park Jimin?"
Semua mata menatap kearah Jimin menunggu konfirmasi dari anggota ter-bantet- di gank mereka itu.
"Itu dia, aku baru bertemu dengannya hari ini dan aku belum tau siapa namanya."
"Lah? Memangnya kau bertemu dengannya dimana?"
"Disini, dirumah sakit. Sebelum aku sampai dikamar Taehyung untuk acara makan – makan."
"Mwo? Apa dia pasien disini?"
"Sepertinya bukan. Ia dokter."
"Bagaimana ciri – cirinya?"
"Ia manis, berambut pi-"
"Permisi, tuan Taehyung-ssi aku akan memeriksamu sebentar."
Belum sempat Jimin menyelesaikan kata – katanya seorang dokter masuk keruangan Taehyung membuat acara bercerita mereka bubar. Jimin seperti mendapat jackpot saat itu. Yap, dokter itu adalah dokter yang tadi bertabrakan dengan Jimin. Dokter itu adalah dokter yang disukai Jimin. Astaga, Tuhan kau baik sekali.
Taehyung berbaring di ranjangnya dan dokter sudah mulai memeriksanya.
"Taehyung-ssi kau sudah benar – benar sehat. Dan besok kau sudah bisa pulang."
Taehyung mengangguk senang.
"Terimakasih dokter Yoongi."
Slash, Jimin mengetahui nama dokter itu. Yoongi, nama yang indah. Cocok untuk wajah semanis itu.
"Kalau begitu, aku permisi. Selamat Taehyung-ssi."
Dokter Yoongi tersenyum dan beranjak keluar. Tidak, jangan dulu ini terlalu singkat, dan ini tidak boleh terjadi. Jimin berfikir keras mencari cara agar bisa berlama – lama dengan dokter manisnya itu.
'BRUUKK'
Jimin jatuh tersungkur di lantai. Yap, benar sekali ia sedang pura – pura pingsan. Semua orang di ruangan itu seketika kaget sekaligus panik sampai – sampai Taehyung yang semula berbaring di ranjangnya langsung berdiri dan menghampiri Jimin.
"Hyaa Jimin-ah, ireona. Hyaa.."
Hoseok menepuk pipi Jimin tapi Jimin tak kunjung sadar, bergerak saja tidak. Dokter Yoongi memerintahkan beberapa perawat untuk membantu mengangkat tubuh Jimin ke ranjang milik Taehyung.
"Sebenarnya dia kenapa? Tadi melamun terus, lalu jatuh cinta tiba – tiba pingsan. Jangan – jangan dia kesurupan setan labil. Aww.. kenapa memukulku sayang?"
Bambam menjitak kepala Mark keras. Sementara Mark hanya mengelus kepalanya yang malang.
"Lagian kau ini, jangan begitu ini rumah sakit tau. Banyak setannya. Nanti kalau setannya marah karna mendengar perkataanmu tadi bagaimana? Dan pula siapa yang kau panggil sayang?"
Bambam mengerucutkan bibirnya sebal, membuat Mark nyengir.
"Sudah – sudah kalian ini. Bagaimana keadaan Jimin dok? Dia kenapa?"
"Entahlah aku tidak bisa memastikannya karna suhu badannya normal tensinya juga normal. Dan kulihat saat aku masuk tadi dia sehat – sehat saja bahkan sempat bersenda gurau dengan kalian bukan? Atau mungkin dia kelelahan ya?"
Dokter Yoongi bingung sendiri dengan peristiwa –purapura- pingsannya Jimin.
"Yasudah, saranku lebih baik temanmu dipindahkan dikamar inap sendiri agar bisa mendapatkan perawatan intensif."
Taehyung berbaring diatas ranjangnya. Besok ia sudah keluar dari rumah sakit dan seperti rencana sebelumnya besok ia akan pergi ke taman bermain bersama teman – temannya. Membayangkannya saja Taehyung sudah senang sekali. Yah, begitulah rumah sakit kan sangat membosankan. Sekarang suasana kamar Taehyung sepi. Hanya ada Jungkook disana. Mark dan Bambam pulang sedangkan Hoseok menemani Jimin diruangannya karna adegan –pura-pura- pingsannya tadi. Taehyung menoleh ke arah Jungkook dan melihatnya sedang memainkan ponsel.
"Jungkook-ah,sudah malam. Ayo tidur."
Jungkook mengalihkan pandangannya dari ponsel dan beralih menatap Taehyung.
"Ne hyung."
Jungkook mengangguk sambil mengulas senyum. Ia berdiri dan hendak menuju sofa namun tangan Taehyung mencegahnya.
"Mau kemana?"
Jungkook bingung dengan pertanyaan Taehyung, bukankah tadi ia menyuruhnya tidur?
"Tentu saja pergi tidur hyung."
Seakan tau arah pikiran Jungkook, Taehyung langsung menggeser posisinya hingga menyisakan space kosong yang bisa ditempati oleh satu orang diatas ranjangnya.
"Jangan tidur disofa, disini saja."
Jungkook terdiam dan tak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Wae? Bukankah dirumah kita juga tidur di satu ranjang yang sama?"
"Bukan begitu hyung, hanya saja..."
"Lupakan soal ciuman tadi, itu terjadi karna situasi yang sedang mendukung saja."
Jungkook tersenyum lebih tepatnya tertawa pelan.
"Lalu, apa setiap malam saat aku sedang tertidur di kamar kita dan kau mengecup bibirku itu juga karna situasi yang mendukung juga?"
Taehyung terkejut mendengar pertanyaan Jungkook. Jadi selama ini dia tau?
Jungkook duduk ditepi ranjang Taehyung dan menggenggam tangan Taehyung.
"Maafkan aku hyung, aku tau karnaku kau jadi diabaikan oleh eomma. Meskipun kau selalu jahat padaku, aku tau kalau sebenarnya kau sangat menyayangiku."
Taehyung diam tak bersuara.
"Hyung, bukankah kita tidak memiliki ikatan darah?"
Taehyung kembali dibuat terkejut oleh Jungkook. Jadi sebenarnya Jungkook sudah tau semuanya begitu? Tapi sejak kapan?
"Arra, aku tau hyung. Tolong maafkan appaku ne, karnanya Daehyun appa dan kau jadi sedih dan sakit."
"Jungkook-ah.."
"Tidak, aku tidak mau mendengar apapun."
Taehyung menatap Jungkook dengan serius. Jungkook kembali mengulas senyum namun sedetik kemudian air matanya jatuh. Jungkook menggelengkan kepalanya dan air matanya makin deras.
"Jangan meninggalkanku, aku membutuhkanmu. Jangan menjauh dariku, aku ingin selalu didekatmu. Dan Jangan membenciku, karna aku mencintaimu Taehyung hyung."
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
HUAHAHAHAHA APA INI APAAAA? YA ALLAH INI ABSURD SEKALI ;A; , READERS MAAFKAN HASIL KARYA *SAMPAH* INI.
WEELLLL, AUTHOR MINTA MAAF KARNA CHAPTER INI KURANG MEMUASKAN :"(
AUTHOR KEHABISAN IDE DAN MUNCULNYA MALAH INI :""" KAYANYA EMG IDE AUTHOR GAPERNAH BAGUS DEH -_- OKEFIX :")
BTW PARA VKOOK SHIPPER MAAPKEUN YA DI CHAPTER INI VKOOKNYA DIKIT, NGEGANTUNG LAGI ENDINGNYA. KAN BIAR KALIAN PENASARAN :3 HUAHAHAHAHA..
TERUS DI CHAPTER INI LAGI PENGEN AJA MENCERITAKAN MARKBAM (KARNA BANYAK YANG REQUEST MARKBAM DIBANYAKIN) AUTHOR UDAH NEPATIN JANJI LOH YA DERS /? TERUS INI RADA RL LIFE SOAL PERTEMUAN MINYOON. JADI ABIS AUTHOR KECELAKAAN KAN AUTHOR DIBAWA SAMA MAMAKE KE RS BUAT RONSEN, EH GA SENGAJA PAPASAN AMA DOKTER GANTENG BUAANGGETTTT ;A; TAU GA MUKANYA MIRIP SIAPA? MIRIP HANBIN IKON ASDFGHJKL!
AUTHOR NANYA KE DOKTER YANG NGERONSEN "DOK, ITU DOKTER SIAPA? GANTENG BANGET."
TERUS SI DOKTER BILANG "ITU DOKTER MAGANG DEK, IYA MASIH GANTENG NAMANYA JUGA DOKTER MUDA. DULU PAS SAYA MASIH MAGANG JUGA MASIH GANTENG KEK GITU."
AUTHOR LANGSUNG NGAKAK KARNA PERBANDINGANNYA JAUH SEKALI :"""3
DAN PAS KELAR DI RONSEN AUTHOR MUNYERIN RS AMPE PEGEL TAPI GAK KETEMU LAGI MASA :") SEDIHNYA.
BTW, MAAF YA TELAT UPDATENYA. MAAF KARNA MENUNGGU LAMA :") NEXT TIME JANJI BAKALAN ASAP DEH. TERUS AUTHOR JUGA PUNYA FF BARU NIH YANG MAU DI PUBLISH. ADA 2 SIH VKOOK AMA MARKBAM TAPI YANG ITU JAUH BERBEDA AMA FF INI. SEKALIAN VOOTING DEH YA DERS, KALIAN PENGEN AUTHOR SHARE YANG MANA DOLO :*
TERUS INI SEPERTI BIASA, TERIMA KASIH BUAT READERS YANG MAU NGEREVIEW DI CHAPTER 3, KARNA KALIAN AUTHOR MANGATTSS.. BIG THANS TEMAANNNN..
daphnaap, YulJeon, vikialower21, Jvz1230, tayhyung, Riska971, BigSehun'sjunior, yuna kim, yoitedumb, jnjk, Nur372, ulyalenivk3001, vkook, Melinda, urihunhan, Kookie-laTae, siscaMinstalove, humaira9394 .
BUAT YANG LAIN, TETEP DITUNGGU YA REVIEWNYA. AUTHOR BAKAL LEBIH SEMANGAT MENULIS DAN BRB UPDATE KALAU KALIAN RESPONS. MASA FF INI VIEWERSNYA 2000LEBIH YANG NGEREVIEW CUMA DIKIT L
POKOKNYA REVIEW REVIEW REVIEW, SEMAKIN BANYAK REVIEW SEMAKIN CEPAT AUTHOR UPDATE J
THANKSEU READERS~ CHU~~
