"Jungkook-ah.."

"Tidak, aku tidak mau mendengar apapun."

Taehyung menatap Jungkook dengan serius. Jungkook kembali mengulas senyum namun sedetik kemudian air matanya jatuh. Jungkook menggelengkan kepalanya dan air matanya makin deras.

"Jangan meninggalkanku, aku membutuhkanmu. Jangan menjauh dariku, aku ingin selalu didekatmu. Dan Jangan membenciku, karna aku mencintaimu Taehyung hyung."


Pintu kamar Taehyung tiba – tiba terbuka dengan agak keras, Jungkook dengan cepat menarik tangannya yang tadinya tengah menggenggam tangan Taehyung dan menghapus jejak air matanya. Dibalik pintu, seorang Mark Tuan tampak kacau. Jungkook dan Taehyung terkejut sekaligus takut dengan keadaan Mark yang tidak bisa dikatakan baik – baik saja itu.

"Ah, rupanya kau Mark. Ada apa denganmu Mark? Bukannya kau tadi bilang mau pulang?"

Taehyung bertanya dengan nada panik bercampur khawatir pada sahabatnya itu.

"Taehyung-ah aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?"

"Hey ada apa? Ceritakan padaku. Mana aku tau kau harus apa dan apa yang harus kau lakukan jika kau tak mengatakan kau kenapa."

"Bambam..."

"Bambam? Kenapa Bambam? Bukankah kalian tadi pergi bersama hyung? Kau mau mengantarkannya pulang kan? Dimana ia sekarang? Apa yang terjadi? Kenapa kau datang sendiri? Mana Bambam?"

Jungkook mulai tersadar jika Bambam tidak kembali bersama Mark, ia menjejelkan banyak pertanyaan pada Mark secara tidak sabaran.

"Bambam.. dia.."

"Sebenarnya ada apa Mark?"

Taehyung bangkit dari ranjangnya dan berjalan kearah Mark.

"Aku... aku gagal melindunginya..."

"KATAKAN DIA KENAPA HYUNG? YA TUHAN APA YANG TERJADI?"

Jungkook mulai berteriak histeris karena jawaban dari Mark yang mengejutkan. Gagal melindungi apa maksudnya? Jungkook sangat cemas dan takut sekarang, bagaimana tidak? Bambam adalah sahabat yang paling ia sayangi. Taehyung yang melihat itu segera menenangkan Jungkook dengan mengelus pundak Jungkook.

"Tenanglah, jangan berteriak begitu. Ingat ini rumah sakit Kook. Mark, sebenarnya apa yang terjadi? Ceritakan secara jelas pada kami."

-FLASBACK ON-

"Bam-ie, aku mau mampir ke supermarket sebentar, ada beberapa barang kebutuhan yang harus kubeli. Kau mau ikut turun atau menunggu di mobil saja?"

"Hmm.."

Bambam nampak berpikir dengan ekspresi lucunya membuat Mark gemas dan mencium pipi Bambam tanpa aba – aba. Bambam nampak terkejut dengan tindakan Mark.

"Hyaa hyung! apa yang kau lakukan?!"

Bambam memukul keras lengan Mark dan menatapnya dengan tatapan horor. Sementara Mark mengaduh kesakitan karna pukulan Bambam dan tertawa dengan keras.

"Itu salahmu Bam-ie, karna bertingkah sok imut didepanku."

"Mwoya? Dasar kau ini, setiap ada kesempatan. Aish molla, cepat beli kebutuhanmu segera. Aku akan menunggu di mobil saja."

Bambam mengerucutkan bibirnya lucu membuat Mark semakin gemas melihatnya.

"Yasudah, kau yakin mau di mobil saja?"

Bambam mengangguk dengan mantap.

"Baiklah kalau begitu, ingat tunggu disini saja jangan kemana – mana. Aku akan segera kembali."

"Aish, arraseo. Sudah cepatlah jangan cerewet."

Bambam mendorong tubuh Mark agar segera keluar dari mobil sementara Mark pasrah saja didorong oleh Bambam dan akhirnya ia keluar dari mobilnya untuk memasuki supermarket.

"Apa – apaan dia itu. Bahkan kami belum berkencan, berani sekali dia menciumku."

Tiba – tiba pintu mobil terbuka, membuat Bambam kaget. Ia ingin memukul kepala Mark karna kesal namun ternyata yang muncul bukanlah Mark, melainkan seorang laki – laki tinggi dengan rambut berwarna coklat terang.

"Hai manis."

"Siapa kau?"

Lelaki itu tersenyum. Tidak, lebih tepatnya lagi menyeringai.

"Keluar kau."

Lelaki itu menarik paksa Bambam untuk keluar dari mobil.

"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!."

Bambam meronta dan berusaha melepaskan cengraman erat lelaki itu di tangannya. Lelaki itu terus menyeret Bambam tak peduli dengan rintihan Bambam minta dilepaskan.

"Tidak! Lepaskan! Tolong.. Tolong aku.. Lepas! Mark hyung tolong aku. Lepaskan ini sakit."

Bambam berteriak dan meronta, ia takut sekali selain itu tangannya juga sangat sakit karna dicengkeram terlalu erat. Lelaki itu kemudian berbalik dan membekap hidung dan mulut Bambam dengan sebuah sapu tangan yang sepertinya sudah mengandung bius didalamnya. Bambam mulai lemas dan kemudian pingsan.

"Ini akan lebih mudah seandainya kau tidak berteriak dan menurut saja."

Lelaki itu mengangkat tubuh Bambam ala bridal style dan kemudian memasukkannya kedalam sebuah mobil. Didalam mobil sudah ada seorang lelaki lain di belakang kemudi.

"Oh, jadi ini kekasih Mark Tuan? Boleh juga."

"Ayo kita segera pergi Jack, sebelum Mark kembali."

"Oke oke, kenapa kau ini terburu – buru sekali sih?"

Mobil itu melaju pergi. Tak lama kemudian Mark keluar dari supermarket dan membuka pintu mobilnya.

"Maaf aku lama tadi dikasir lumayan antri jadi aku- Bambam? Loh kemana dia?"

Mark bingung karna tidak menemukan Bambam di dalam mobilnya. Ia keluar dari mobil mencari Bambam disekitar supermarket. Ia sudah berputar – putar disana sampai 25 menit lamanya tapi tak kunjung bertemu dangan Bambam. Mark berusaha menghubungi ponsel Bambam tapi ponselnya tertinggal di mobil. Tiba – tiba ponselnya berbunyi, panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya. Mark segera mengangkatnya.

"Yobboseo?"

"Mark hyung!."

"Bambam? Apa yang terjadi? Dimana kau sekarang?"

"Aku.. aku aaaaaaaaaaaaaaa."

"Apa yang terjadi? Yobboseo? Hyaa! Bambam yobboseo."

Mark panik setengah mati mendengar teriakan Bambam di ujung teleponnya.

"Hai Mark Tuan, bagaimana kabarmu?"

"Kau?!"

Mark mengenali suara itu. Ya, itu adalah suara Jackson musuh terbesar dari Taehyung dan teman – temannya. Jackson lah yang kemarin mengeroyok Taehyung dan membuat Taehyung berakhir di rumah sakit dengan tangan kiri yang patah.

"Kau apakan Bambam?"

"Hahaha.. santai saja, aku hanya sedikit menjambak rambutnya."

"Brengsek! Jangan menyentuhnya! Aku bersumpah akan membunuhmu!"

"Benarkah kau akan membunuhku? Aku takut. Hahahahahaha."

Mark mengeratkan giginya marah.

"Dengarkan aku Mark Tuan, jika kau ingin kekasihmu selamat kau dan teman – temanmu harus datang ke markasku nanti malam. Jangan pernah berani memanggil polisi, karna aku tak segan untuk menggorok leher mulus kekasihmu ini."

Jackson mematikan teleponnya dari seberang. Mark terdiam sejenak. Tak mungkin ia mengajak Taehyung dan Jimin untuk ikut turun tangan dalam hal ini, tapi tak mungkin juga kalau ia hanya datang berdua bersama Hoseok. Ia tak mau melihat teman – temannya babak belur. Dan pula, yang selama ini memiliki kemampuan fighter yang bagus hanyalah ia dan Taehyung. Mark membanting ponselnya dengan keras.

"Sial, apa yang harus ku lakukan."

Mark menjambak rambutnya dengan kencang. Hanya ada satu orang yang sedang memenuhi pikirannya sekarang 'Bambam'.

-FLASBACK OFF-

Mark tertunduk lesu, Jungkook dan Taehyung kaget dengan penuturan Mark.

"Mwo? Bagaimana bisa?"

"Itu salahku, aku meninggalkannya di mobil. Bambam bilang bahwa ia ingin menunggu di mobil saja namun setelah aku kembali ia sudah tidak ada didalam mobil. Aku mencarinya di sekitar kedai supermarket itu tapi tak juga ketemu. Hingga kemudian ponselku berbunyi dan itu Jackson. Bambam bersamanya Taehyung-ah, ia meminta kita untuk ke markasnya malam ini juga bila ingin melihat Bambam selamat. Atau jika tidak, ia mengancam akan mencelakai Bambam. Aku tidak mau hal itu terjadi Taehyung-ah, aku.. aku menyayangi Bambam, aku tak mau terjadi hal buruk padanya. Tapi aku juga tidak mau membuat Jimin dan Hoseok babak belur, tidak mungkin pula aku mengajakmu dengan kondisi seperti ini. Aku harus bagaimana?"

Mark jatuh terduduk dilantai. Ia sudah ingin menangis, nyawa Bambam sedang dalam bahaya sekarang. Ia merutuki kebodohannya sendiri karna telah meninggalkan Bambam di mobil. Seandainya tadi mereka berdua sama – sama memasuki supermarket, maka tidak akan begini jadinya. Taehyung menghela nafasnya, sementara Jungkook hanya terdiam entah memikirkan apa. Taehyung beranjak dari kasurnya dan menghampiri Mark.

"Ayo kita pergi ke markas Jackson dan selamatkan Bambam sekarang."

"TIDAK!"

Jungkook dengan mantap menolak keputusan Taehyung.

"Kau gila hyung? Kau ingin aku mati berdiri karna ulahmu itu? Lihatlah kondisimu, kau seperti ini karna mereka. Lalu.. lalu kau ingin pergi kesana lagi? Kau ingin berhadapan dengan mereka lagi begitu? Tidak! Hiks.. aku tidak mau. Saat kau sakit dan menderita aku juga merasakannya hyung! Sakit hiks.. rasanya disini sakit hiks.."

Jungkook memukul pelan dadanya sambil menangis lagi. Taehyung segera memeluknya dan menenangkan adiknya itu.

"Ssstt.. Uljima. Percayalah padaku, kali ini akan baik - baik saja. Ada Mark, dan Hoseok juga disampingku. Lagipula kau tidak ingin kan sesuatu terjadi pada sahabat terbaikmu?"

"Ta-tapi aku takut hyung terluka lagi. Aku tidak mau melihat itu terjadi lagi hyung, aku takut."

"Tidak akan. Aku berjanji aku akan baik – baik saja."

Jungkook terdiam dalam pelukan Taehyung. Ia bingung harus percaya atau tidak dengan Taehyung kali ini. Di satu sisi hatinya ia tidak mau terjadi hal buruk pada Bambam, tapi di sisi lainnya ia tidak mau melihat Taehyung terluka lagi. Melihat Taehyung terluka parah seperti kemarin dan meringis juga merintih menahan sakit membuat Jungkook merasa kesakitan juga. Ia merasakan sakitnya Taehyung, itu sebabnya ia terus menangis selama Taehyung pingsan.

"Percayalah padaku.."

Taehyung bergumam lirih membuat Jungkook tersadar dari pemikiran rumitnya. Akhirnya ia mengangguk, ia memutuskan membiarkan Taehyung pergi dan menyelamatkan Bambam. Ia percaya pada Taehyung. Taehyung tersenyum dan mengelus rambut hitam Jungkook.

"Mark, hubungi Hoseok suruh ia datang kesini sekarang. Sepertinya kita hanya akan pergi bertiga saja tak mungkin mengajak Jimin yang juga sedang sakit."

Mark mengangguk dan bangkit keluar menuju kamar Jimin dirawat.

'Tunggu aku Bam-ie, aku akan menyelamatkanmu segera.'

Selepas kepergian Mark menuju kamar Jimin, Taehyung mendudukkan dirinya diatas ranjang. Ia menghela nafasnya kasar. Entah hal buruk apalagi yang akan menimpanya. Bisa – bisa tangan kanannya juga ikut patah sebentar lagi.

"Jungkook-ah."

"Ne hyung."

"Berjanjilah padaku kau akan tetap disini bersama Jimin. Jangan kemana – mana hingga aku kembali. Arraseo?"

Jungkook diam. Lebih tepatnya tak menjawab perintah dari Taehyung. Ia masih nampak ragu atas keputusan Taehyung. Ia tak ingin Taehyung mengalami hal buruk lagi untuk kedua kalinya. Seakan tau kemana arah pikiran Jungkook, Taehyung langsung memeluk dan mengelus punggung adik kecilnya itu. Jungkook diam dalam pelukan Taehyung sampai beberapa detik kemudian Taehyung melepas pelukannya dan mengecup singkat kening dan bibir Jungkook.

"Aku akan kembali, aku berjanji."


Bambam tersadar dari pingsannya, ia duduk dilantai dengan tangan yang terikat keatas. Bambam bingung kenapa ia berada disini, ia tidak ingat apa yang terjadi dan juga kenapa tangannya diikat keatas begini. Hanya sekarang ia merasa sangat pusing.

"Kau bangun juga."

Sebuah suara mengagetkan Bambam, ia menoleh ke arah suara itu berasal dan menemukan dua orang lelaki bertubuh gempal. Satunya memakai topi bertuliskan 'WANG' dan satunya lagi rambutnya berwarna coklat terang.

"Si-siapa kalian?"

Lelaki berambut coklat terang berdiri dan berjalan ke arah Bambam. Ia berjongkok didepan Bambam lalu mengangkat dagu Bambam dan berbisik pelan di telinganya.

"Ingatlah hal ini, kau sekarang milikku."

Tanpa aba – aba lelaki itu melumat bibir Bambam secara tiba – tiba membuat Bambam terkejut bukan main. Bambam menggeliat menggerak – gerakkan tubuhnya dan menggelengkan kepalanya keras untuk melepaskan ciuman itu akan tetapi lelaki itu semakin menekan tengkuk Bambam dan mengunci pergerakan Bambam sehingga Bambam tak berdaya.

"Hyaa! Kim Yugyeom Stop it! Kita hanya menculiknya bukan memperkosanya you know."

Lelaki bertopi menarik paksa tubuh lelaki yang sudah diketahui bernama Kim Yugyeom itu dari Bambam.

"Maaf Jack, aku sudah tidak tahan melihat betapa manisnya dia."

Yugyeom menyeringai dan kembali duduk di sofa seperti posisinya semula, sementara Bambam hanya diam dan menatap Yugyeom dengan tatapan benci.

"Hei bocah, jawab pertanyaanku. Apa kau kekasih Mark Tuan?"

Bambam hanya diam, Jackson berjongkok didepan Bambam dan menatapnya tajam.

"Kau tuli? Aku bertanya apa kau kekasih Mark Tuan?"

Bambam tetap diam dan menatap balik ke arah Jackson dengan tatapan tak kalah tajam.

"Baiklah, tak perlu jawaban darimu pun aku juga sudah tau. Yugyeom, kita ubah rencana. Aku ingin kau menyetubuhinya didepan Mark Tuan saat mereka tiba disini nanti."

Bambam melebarkan matanya mendengar apa yang dikatakan Jackson barusan. Ia mendengar Yugyeom tertawa di ujung sana dan melihat Jackson menatapnya dengan tatapan 'itulah jika kau berani melawanku'

Jackson berdiri dan hendak berjalan ke arah Yugyeom sampai suara Bambam menginstuksinya untuk berhenti.

"Aku bukan kekasihnya, ia hanya mengajakku untuk menemaninya membeli makan malam untuk Kim Taehyung dirumah sakit. Aku bukan siapa – siapanya, bahkan aku tidak mengenalnya dengan baik. Aku hanya teman dekat adik Taehyung, Jungkook. Sungguh aku tidak berbohong."

"Lalu aku akan percaya denganmu?"

Bambam menelan ludahnya dengan susah. Ia berusaha nampak tenang dan tidak takut dengan Jackson dan Yugyeom.

"Aku tidak memaksamu untuk percaya padaku memang itulah kenyataannya."

"Kita akan tau jawabannya jika Mark Tuan dan teman – temannya itu sudah datang kemari nanti."

"A- apa kau mengira ia akan kesini hanya untuk menyelamatkanku? Kau ini bodoh sekali ya. Aku kan sudah bilang, aku bukan siapa – siapanya lalu untuk apa dia buang energy hanya untuk datang menyelamatkan orang yang baru ia kenal."

"BERANI SEKALI KAU BILANG AKU BODOH."

Jackson berteriak dan menjambak rambut Bambam dengan kencang membuat si pemilik rambut meringis kesakitan.

"Sekarang aku tau kenapa kau selalu kalah dari Taehyung dan teman – temannya. Kau payah."

Jackson semakin marah mendengar ejekan Bambam, ia menampar keras pipi Bambam hingga ujung bibir Bambam yang memang sudah membengkak akibat ciuman brutal Yugyeom sobek dan mengeluarkan sedikit darah.

"Kau benar – benar akan.."

"Bos, Kim Taehyung sudah ada didepan sekarang."

Jackson tersenyum licik, ia menatap Bambam sebentar kemudian beralih menoleh ke arah Yugyeom.

"Tunggu apalagi, persilahkan tamu kita masuk dan Yugyeom bersiaplah di posisimu."

Anak buah Jackson mengangguk menuruti perintah Jackson. Jackson berdiri untuk duduk di sofa merah tepat setelahnya Yugyeom beranjak dan menghampiri Bambam.

"Tenang saja, aku tidak se-keji Jackson. Aku bisa jadi sangat lembut asalkan kau menurut. Diamlah maka tidak akan terjadi apapun. Aku tidak akan melakukan apapun padamu."

Yugyeom berbisik pelan ditelinga Bambam, sementara Bambam hanya diam tak bersuara. Yugyeom melepas kancing kemeja Bambam satu persatu, Bambam tetap diam. Ia mengambil sebotol air mineral dan menyiramkannya ke celana Bambam lebih tepatnya ke area paha dan selangkangan Bambam dan mengibaskannya sedikit ke kening dan leher Bambam. Membuat seolah – olah itu adalah keringat Bambam yang bercucuran karna nafsu yang memburu. Ya, Yugyeom memang tak berencana melakukan hal yang tidak – tidak pada Bambam. Ia hanya menyeting seolah – olah ia telah melakukannya untuk memancing kemarahan Mark. Terdengar suara keras dentuman pintu, sudah dipastikan itu adalah Taehyung dan teman – temannya. Dan benar saja, Taehyung, Mark dan Hoseok datang sesuai undangan Jackson.

"Woah. Kalian tiba juga akhirnya. Welcome to my paradise, welcome to your hell."

Jackson menyambut mereka dengan tepuk tangan. Sementara Taehyung, Mark dan Hoseok hanya menatap lurus ke arah Jackson.

"Baiklah teman – temanku yang baik, aku punya sebuah permainan disini. Permainannya sangat mudah kalian hanya harus mengalahkan mereka."

Jackson menunjuk anak buahnya yang berdiri dibelakang Jackson.

"Lalu selagi kalian bertarung aku akan menyuguhkan sebuah hiburan yang menarik yang akan membuat kalian lebih bersemangat. Dan itu ada disana."

Jackson menunjuk ke arah belakang dan anak buah Jackson yang tadinya berdiri dibelakang Jackson mulai bergeser ke samping. Tepat di depan tembok Bambam terduduk dilantai dengan tali yang mengikat tangannya ke atas. Kancing baju yang terbuka memperlihatkan sedikit tubuh Bambam, Bibir yang membengkak dan sedikit luka sobek di ujungnya, kening dan leher yang bercucuran keringat serta celana jeans Bambam yang basah tepat di daerah selangkangannya. Tepat disebelah Bambam duduk Yugyeom yang memeluk Bambam dengan agresif dan mengendus di leher Bambam. Mark tampak sangat marah melihat hal itu, Bambam hanya menatap Mark dengan tatapan sendunya dan itu membuat Mark semakin ingin membunuh siapa saja yang sudah menyakiti Bambam dan membuatnya seperti ini.

"AKU AKAN MEMBUNUHMU BRENGSEK!"

Mark berlari ke arah Yugyeom namun ia dihadang oleh segerombolan anak buah Jackson.

"Jangan terlalu terburu – buru Mark Tuan, santailah sedikit. Just rilex. Kau harus bisa melewati kami dulu untuk bisa sampai ke kekasihmu."

Mark meninju anak buah Jackson yang menghalanginya, ia tak peduli dengan permainan apapun yang direncanakan Jackson. Yang ia inginkan sekarang hanyalah menghajar kalau perlu menghabisi Yugyeom karna sudah berani menyentuh Bambamnya. Namun ternyata tak semudah itu, anak buah Jackson yang lain tak membiarkan Mark dengan mudah mencapai Bambam. Ia dihadang lagi dan perkelahian tak dapat dihindari. Taehyung dan Hoseok ikut membantu Mark dalam melawan anak buah Jackson, meskipun Taehyung hanya bisa menggunakan tangan kanannya saja. Selama kurang lebih 30menit lamanya banyak tendangan, pukulan bahkan beberapa dari mereka telah tumbang. Hoseok sudah tak kuat lagi untuk berdiri, ia terjatuh terlentang dan menghirup udara secara rakus. Melawan kurang lebih 35 orang dan mereka hanya bertiga, itu adalah hal sulit. Mark dan Taehyung masih kokoh berdiri meskipun luka sudah banyak menghiasi wajah dan tubuh mereka. Hanya 10 orang lagi anak buah Jackson yang tersisa. Mark meregangkan kedua tangannya, cukup melelahkan menyingkirkan 25 orang. Ia menoleh kearah Taehyung dan menepuk pundak Taehyung.

"Ayo kita selesaikan. Jungkook menunggumu disana dengan khawatir. Ayo kita habisi mereka karna telah berani menyentuh Bambam."

Taehyung hanya tersenyum tipis menanggapi Mark. Mereka kembali maju untuk melawan 10 orang yang tersisa. Taehyung berlari sambil menendang 2 orang yang menghalanginya lalu tangannya meninju seorang lainnya yang ada didepannya. Taehyung menendang perut, kaki dan dada mereka hingga mereka bertiga akhirnya tumbang. Mark pun demikian, dengan kemampuan matrial arts-nya ia berhasil membuat empat orang lainnya tumbang, namun hal buruk menimpa Mark. Salah seorang dari mereka memukul punggung Mark dengan balok kayu besar dan membuat Mark jatuh tersungkur. Taehyung terkejut melihat itu namun saat ia hendak berlari menuju Mark anak buat Jackson sudah terlebih dahulu memukul perutnya dengan balok kayu juga hingga Taehyung terjatuh juga. Jackson dan Yugyeom tertawa puas dan Bambam menangis. Mark hendak bangkit lagi namun anak buah Jackson memukul kepalanya lagi dengan balok. Mark kembali jatuh, ia merasa pandangannya menjadi buram ia hanya bisa melihat Bambam yang menangis meskipun wajah Bambam tak begitu terlihat jelas. Matanya seakan berbicara pada Bambam 'maafkan aku' dan itu membuat air mata Bambam semakin deras.

"Bagaimana? Menyerah? Hahahaha."

"Hentikan.. hiks.. kumohon.."

Bambam sudah tidak sanggup lagi melihat Mark yang tak berdaya. Jackson tak menggubris Bambam ia masih terus tertawa dengan lantang. Sampai sebuah suara gebrakan pintu menginstrupsinya untuk berhenti. Semua mata mengalihkan pandangannya ke arah pintu.

"Park Jimin? Kau."

"Yap, jangan lupakan aku Jackson. Maaf aku datang terlambat teman – teman."

Jackson terkejut dengan kedatangan Jimin. Memang sejak awal Jackson sudah merasa aneh karna hanya melihat Mark datang bertiga dengan Taehyung dan Hoseok. Karna biasanya mereka selalu berempat bersama Park Jimin. Jimin berjalan menghampiri anak buah Jackson yang masih tersisa dan menendang kepalanya dengan gerakan salto. Ia mengambil balok yang terjatuh dan memukulkannya pada yang lainnya. Tak butuh lama untuk Jimin menyelesaikan tugasnya. Seluruh anak buah Jackson sudah tumbang semua sekarang. Tiba – tiba terdengar suara sirine polisi, Yugyeom dan Jackson beserta anak buahnya langsung kabur dan berlari meninggalkan Jimin, Bambam, Mark, Taehyung, dan Hoseok yang masih tergeletak dilantai. Jimin tertawa melihat mereka semua panik karna mengira ada polisi datang, padahal sebenarnya itu hanya suara dari ponsel Jungkook yang bersembunyi dibalik tembok.

"Hahaha.. Jungkook-ah keluarlah."

Jungkook keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Jimin.

"Apa mereka semua sudah pergi hyung?"

"Tentu saja, aku kan sudah bilang mereka itu bodoh. Ayo kita bantu yang lainnya."

Jimin menghampiri Bambam dan melepaskan ikatan Bambam. Sementara Jungkook membantu Taehyung untuk duduk.

"Gwenchana hyung?"

Taehyung mengangguk dan tersenyum menanggapi pertanyaan Jungkook.

"Mark hyung."

Bambam memeluk kepala Mark. Mark menutup matanya.

"Mark hyung katakan sesuatu hiks.."

"Aku lega."

Mark menggenggam tangan Bambam erat dan masih menutup matanya. Sungguh ia lega sekali Bambam berada disampingnya lagi. Bambam hanya diam dan memeluk Mark semakin erat, lihatlah luka lebam di wajah Mark. Bukankah itu semua karenanya?

"Kau sudah disampingku sekarang. Aku berjanji apapun yang terjadi tak akan kubiarkan hal ini terjadi lagi padamu. Aku berjanji."

Mark membuka matanya dan mengeratkan genggaman tangannya pada Bambam. Bambam mengangguk.

"Aku percaya padamu hyung."


Sesuai dugaan Taehyung sebelumnya, sesampainya mereka kembali ke rumah sakit, Taehyung mendapat omelan besar – besaran dari dokter Yoongi. Bagaimana tidak, luka yang lama baru saja sembuh ia malah mencari luka baru lagi. Alhasil Taehyung gagal keluar dari rumah sakit esok pagi. Tak hanya Taehyung, Jimin juga mendapat omelan dari dokter manisnya itu karna telah ikut – ikutan berkelahi padahal tadi sore ia pingsan, well dokter Yoongi masih tidak tau kalau pingsannya Jimin hanya pura – pura saja. Sementara itu diantara mereka Mark lah yang mendapat luka paling serius sehingga harus dirawat seperti Taehyung.

"Jadi ini artinya aku gagal pulang besok?"

Tanya Taehyung dengan ekspresi memelas dan sedih yang dibuat – buat. Akting Taehyung memang sangat buruk.

"Tentu saja, ini salahmu sendiri Taehyung-ssi. Sebenarnya kalian ini apa? Gangster? Yakuza? Mafia? Kenapa suka sekali berkelahi."

Dokter Yoongi menggelengkan kepalanya heran dengan kelakuan Taehyung dan kawan – kawan itu.

Jungkook merasa tidak enak hati pada dokter Yoongi karna ini juga termasuk salahnya karena mengijinkan Taehyung ikut berkelahi. Ia berkali – kali meminta maaf atas namanya dan atas nama Taehyung hingga akhirnya dokter Yoongi pergi ke ruangan Mark untuk melihat kondisinya.

"Ah, aku jadi tidak enak pada dokter Yoongi. Gara – gara aku mengijinkan hyung pergi ia jadi kerepotan dan mengambil shift malam untuk mengurus hyung dan Mark hyung."

"Sudahlah, untuk apa dipikir. Itu kan memang tugasnya. Sekarang yang penting Bambam baik – baik saja. Mark pun juga pasti merasa lega sekarang."

Jungkook mengangguk menanggapi perkataan Taehyung. Ia duduk disamping ranjang Taehyung dan menggenggam tangan Taehyung.

"hmm.. hyung.. soal yang aku bicarakan tadi sebelum Mark hyung datang.. aku.."

Taehyung meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Jungkook. Mengisyaratkan agar Jungkook diam dan berhenti bicara.

"Sebelumnya dengarkan aku. Aku akan mengakui sesuatu hal padamu."

Jungkook diam, menunggu Taehyung menyelesaikan kata – katanya.

"Sebenarnya aku sangat mencintaimu Jungkook-ah. Aku selalu ingin melindungimu, ingin melihatmu tersenyum, ingin memelukmu, ingin menciummu. Tapi bila aku teringat jika kau adalah anak dari selingkuhan eommaku rasanya kebencianku padamu mulai terbakar kembali. Maafkan aku atas perbuatanku selama ini yang terkesan jahat, jahil dan terlalu kekanak – kanakan."

Taehyung menggenggam erat tangan Jungkook dan menatap lurus ke arah bola mata Jungkook.

"Maafkan pula atas pengakuanku yang terlambat. Tapi.."

Taehyung mengambil nafas dan membuangnya dengan kasar.

"Kau tau kita hanya akan bisa berdampingan tapi tak akan bisa bersatu, selamanya kau adalah adikku dan aku adalah kakakmu. Meskipun tak ada darah yang sama mengalir didalam tubuh kita. Jadi aku ingin, kita sama – sama saling melupakan perasaan kita masing – masing."

"Wae hyung?"

Air mata Jungkook mengalir begitu saja dipipinya. Sakit sekali mendengar Taehyung berkata seperti itu.

"Kenapa menurutmu ini hal yang mustahil? Kau dan aku berbeda ayah hyung. Ibu kita juga berbeda lalu kenapa kita tak bisa bersama?"

"Karna jika appa tau identitasmu yang sebenarnya dia pasti akan membencimu."

"Apa yang harus ku benci Taehyung-ah?"

Taehyung dan Jungkook dikejutkan dengan suara yang berasal dari pintu kamar inap Taehyung. Suara yang sangat familiar dan sangat mereka kenal.

"Appa.."

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

HUAHAHAHAHAHAHA :"""D YA ALLAH INI ABSURD SEKALI ;A;

AUTHOR MINTA MAAF KARNA CHAPTER INI KURANG MEMUASKAN SEKALI DAN MAAF JUGA UPDATE CHAPTERNYA KELAMAAN :"""D

SEBENERNYA INI CHAPT UDH KELAR DARI LAMA CUMA AUTHOR SUKA MALES MULU MAU ON :"""""D

MAAPKEUN YA DI CHAPTER INI VKOOKNYA DIKIT, NGEGANTUNG LAGI ENDINGNYA. HAHAHAHA :""""D

MAAF KARNA MENUNGGU LAMA :")

*PADAHAL GAK ADA YANG NUNGGU :""D

RATINGNYA AUTHOR NAIKIN YA DERS /? JADI M NIH XD

GITU AJADEH JANGAN BANYAK2 YAH :')) MAKASIH YG UDH REVIEW MAAF DI CHAPT INI GABISA DISEBUTIN SATU2 AUTHOR LAGI REMPONG..

KALAU DICHAPT INI RESPONSNYA BANYAK DAN BAGUS YA SUKUR2 AUTHOR BAKAL SHARE NEXT CHAPT, KARNA SEJUJURNYA INI FF UDH KELAR DERS CUMAN TINGGAL SHARE DOANG :"D

KALAU TERNYATA YANG REVIEW DIKIT DAN GAK ADA YANG MAU LANJUT YASUDAH DI CUT SAJA SAMPAI DISINI :''''))

DAN TERIMAKASIH BANYAK YANG SUDAH MENGIKUTI FF INI SAMPEK SEJAUH INI. KALAU MASIH MAU LANJUT POKOKNYA REVIEW REVIEW REVIEW DEH HEHEW :3

YAUDAH GITU AJA :'D AUTHOR TERLALU BANYAK CINCONG NIH.

.

THANKSEU READERS~ CHU~~