Chapter Lima

*Hangat dan Dingin*

Suasana didalam mobil itu sunyi, bahkan keduanya tidak mampu membuka percakapan. Sambil fokus menyetir, Sasuke juga memerhatikan Sakura. Dia sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, bahkan kecantikan Sakura melebihi kecantikan Shion, primadona sekolahnya. Padahal Sakura hanya tampil sederhana.

Dia hanya memakai blous putih polos untuk dalamnya, lalu memakai cardigan pink lembut untuk luarnya, dan rok kembang hingga lutut berwarna pink cerah. Dengan sandal tali dan sedikit hiasan dirambutnya, rambut nya dia biarkan tergerai indah. Tidak lupa, tas selempang kecil berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga. Sederhana dan manis, membuat perhatian Sasuke teralih pada Sakura sekarang. Dan Sakura sendiri hanya menunduk malu, kenapa suaminya itu memandang begitu lama? Apa ada yang salah dengan penampilannya? Hanya itu yang ada dipikiran Sakura.

"Jadi anak kolega ayah dan ibuku adalah... dirimu?" tanya Sasuke memulai pembicaraannya.

"Hah? Aku tidak mengerti Sasuke-kun." Jawab Sakura bingung pada Sasuke. Mendengar suara Sakura mengalun lembut ditelinganya, dan menyebut panggilannya itu membuat Sasuke ingin sekali memeluk Sakura erat, tapi sekarang? Semuanya terasa canggung.

"Hahh... ibu membohongi ku, lalu kau akan tinggal dirumah ku?" tanya Sasuke lagi, tetapi Sasuke juga merasa pertanyaan itu tidak penting, tentu saja Sakura akan tinggal dirumahnya.

"Ya, Kaa-san juga sudah menyiapkan semuanya untuk ku." Jawab Sakura tenang. Sasuke hanya mengangguk untuk balasannya, namun dari tadi masih ada satu pertanyaan yang mengganjal dihati. Apakah Sakura sudah mengingat nya? Mengingat semuanya? Tapi Sasuke tidak peduli. Sakura menganggapnya sudah ada saja, itu lebih dari cukup. Dia tidak mau membuat hatinya tambah kecewa.


Dari bawah, tampak dua orang pemuda berusia 24 tahun itu sedang duduk dibangku yang ada dibalkon belakang yang menghadap ke taman sambil minum teh hangat. Haruno Sasori dan Uchiha Itachi.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Itachi tiba-tiba sambil menyesap teh-nya.

"Seperti yang kau lihat." Jawab Sasori acuh.

"Maksudku, bagaimana kabar percintaan mu?" tanya nya lagi dengan nada sedikit kesal. "Apakah kau sudah menemukan gadis yang tepat di Eropa?" sambung nya dengan sedikit nada jahil.

"Aku tidak tertarik dengan gadis Eropa jika kau tau."

"Hmm, aku mengerti. Jadi, tidak ada yang bisa menggantikan Konan kan?" tanya Itachi lagi dengan nada yang sama. Mendengar itu, seulas senyum tipis menggembang di bibir Sasori. Sungguh! Dia sangat ingin bertemu Konan saat ini.

"Apa yang kau tunggu? Jangan biarkan Konan menunggu mu selama itu. Setidaknya berilah dia kepastian." Itachi bangkit, lalu memandang Sasori sebentar. "Dan aku ingin, kau mengikuti jejak ku bersama Konan." Ucapnya sambil meninggalkan Sasori dibalkon belakang. Sasori berpikir sejenak. Pada akhirnya, sebuah seringaian terpatri diwajah tampannya itu. 'pasti, aku tak kan kalah darimu, Itachi.'


Semua siswi sekolah elite tersebut memandang kagum pada Lamborghini Veneno yang baru saja berhenti diparkiran, menanti sang pangeran sekolah keluar dari mobil tersebut.

"Kau sudah siap Sakura?" tanya Sasuke sambil memandang ke depan.

"Ya, aku siap Sasuke-kun." Suara Sakura mengecil, sesungguhnya dia gugup saat ini. Bagaimana tidak? Melihat sekumpulan gadis-gadis didepan mobil mereka.

Apakah berita kedatangannya sudah diketahui warga sekolah? Ataukah ini hanya gadis-gadis pengagum suami-nya itu? Memang, ketampanan Sasuke melebihi diatas rata-rata, dan Sakura akui itu.

"Kalau begitu, ayo." Lansung saja Sasuke turun dari mobil dan teriakan para gadis itu menggema dihalaman parkir, tapi seketika teriakan itu menjadi sunyi senyap saat Sakura turun sambil menggandeng tangan Sasuke.

SINGGG...

Dan yang memecahkan kesunyian pertama kali adalah NARUTO!

"Waaahh...! itu pasti Sakura-chan!" dan saat itu juga Sasuke merasa temannya yang satu itu sangat-sangat menyebalkan!

"Siapa dia Sasuke-kun? Kenapa dia bisa mengetahui nama ku?" pertanyaan Sakura terlontar begitu saja saat mendengar teriakan Naruto.

"Dia sahabatku, dan masalah dia mengetahui mana mu itu tidak penting. Ayo, kita temui mereka." Sasuke dan Sakura berjalan berdampingan dengan tangan Sasuke yang masih tetap setia menggandeng tangan Sakura. Bagi Sasuke, menggandeng tangan Sakura adalah pelampiasan atas rasa rindunnya, sedangkan Sakura, mencari perlindungan atas tatapan membunuh dari para gadis-gadis tersebut.

"Jadi? Siapa dia? Kenapa dia dekat sekali dengan Sasuke-kun?" tanya para gadis tersebut ke gadis yang lainnya.

"Ntahlah, aku juga bingung. Tapi lihat, dia sepertinya dari klan bangsawan."

"Benar, lihat saja penampilannya, sangat cantik dan elegan. Melebihi Shion-chan sekalipun." Sakura sangat risih saat ini, bagaimana tidak? Semua orang disekolah membicarakan dirinya! Apakah ini resiko dekat dengan pangeran sekolah? Perlakuan orang-orag tersebut membuat Sakura tetap mengcengkram tangan Sasuke kuat-kuat.

"Sudah, tidak apa-apa. Aku yakin mereka tidak akan macam-macam pada mu Sakura, aku janji." Bisik Sasuke dengan mengelus punggung Sakura untuk menghilangkan kekhawatirannya, dan itu berhasil. Elusan tangan Sasuke dipunggung nya membuat Sakura nyaman dan aman.

"Jadi? Ini Sakura-chan?! Waahh... cantik sekali... pantas saja kau tidak bisa pindah ke lain hati. Kau beruntung Teme." Ucap Naruto takjub melihat Sakura kepada Sasuke.

"Singkirkan tatapan mu itu, dan ingat saja sampai Hinata mendengar perkataan mu tadi." Jawab Sasuke dingin.

"Tak apa Sasuke-kun, lagipula Naruto-kun benar. Sakura-chan memang gadis yang cantik." Balas Hyuuga Hinata yang datang dari belakang bersama Yamanaka Ino, kekasih dari Naruto dan Sai. Yang dapat Sakura lakukan saat ini hanya tersipu malu, dia menjadi bahan perhatian sekarang.

"Perkenalkan Sakura, namaku Yamanaka Ino dan disebelah ku ini Hyuuga Hinata." Kata Ino pada Sakura sambil menunjuk Hinata.

"Senang berkenalan dengan mu Sakura-chan." Senyum manis Hinata pada Sakura.

"Sama-sama, aku senang berkenalan dengan kalian. Ino dan Hinata-chan, bolehkah aku memanggil kalian begitu?" tanya Sakura sambil tersenyum kepada kedua gadis cantik didepannya.

"Tentu, kita sahabat sekarang." Balas kedua gadis itu dan lansung memeluk Sakura.

"Ehem! Permisi nona-nona, aku juga akan memperkenalkan diri. Ohayou Sakura-chan, nama ku Namikaze Naruto sahabat dari pangeran es ini." Perkenalan Naruto yang lansung dapat jitakan keras dari Sasuke. Melihat itu, Sakura hanya tertawa ringan. Teman suaminya yang satu ini sepertinya memang aneh dan kekanak-kanakan.

Sasuke terdiam memandang Sakura. Dapat melihat cantiknya wajah Sakura saat ini, memang membuat Sasuke bersyukur. 'arigatou Kami-sama, kau telah mengembalikannya padaku.'

"Dan perkenalkan juga Sakura, aku Shimura Sai. Sahabat dari suami-mu ini." Lanjut perkenalan Sai yamg membuat Sakura merona hebat, bagaimana tidak? Kata suami dan nada perkataan Sai tersebut membuat wajah Sakura memerah malu.

"Ayo Sakura, aku antar ke ruang kepala sekolah."

"Ya, sampai nanti semuanya."

Sambil berjalan ke ruang kepala sekolah, Sakura memandang kawasan sekolah nya. Terlihat sekali dari desain dan gesturnya kalau sekolah itu sekolah elite. Terlihat mewah dan megah. Setelah berjalan lurus lalu berbelok ke kiri, sampailah mereka di ruang Kepala Sekolah.


Tokk.. tokk.. tokk...

"Masuk."

"Permisi Minato-kouchou."

"Aa.. Sasuke, ada apa? Dan siapa yang disamping mu?"

"A-aku murid baru disini Kouchou, Haruno Rin. Dozou yorishiku." Namikaze Minato memerhatikan murid barunya itu.

"Hm, jadi kau murid baru itu? Anak perempuan dari klan Haruno itu ya. Baiklah, tunggu sebentar." Lansung saja kepala sekolah elite itu mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu disana.

"Ini, antarkan Haruno Sakura ke kelas terebut Sasuke." Ucap Minato sambil memberikan kertas tadi pada Sasuke.

"Arigatou, Kouchou."

"Hm, sama-sama."


"Aku hanya mengantar mu sampai disini Sakura." Ucap Sasuke yang melepaskan genggaman tangannya dengan Sakura sambil berdiri didepan kelas tersebut.

"Ya, arigatou ne. Sasuke-kun."

"Hn. Saat pulang nanti, kau tunggu aku di gerbang sekolah."

"Pasti, Sasuke-kun."

"Jaa." Salam perpisahan Sasuke sambil tersenyum tipis pada Sakura, yang dibalas Sakura dengan senyum yang menawan juga. "Jaa."

Sakura memandang pintu itu dengan gugup. Perasaannya sungguh kacau saat ini, sekarang berbagai pertanyaan bersemayam dikepalanya. Apakah teman barunya itu mau menerima nya atau tidak? Pertanyaan inilah yang sudah ada dikepalanya sejak tadi.

"Permisi nona?" teguran seseorang yang membangunkan Rin dari lamunannya.

"Ah, ya?"

"Kau pasti murid baru itu kan? Kouchou-sama sudah memberitahu ku." Jawab laki-laki yang mungkin berumur 30 atau 40-an itu.

"Hai, sensei. Haruno Sakura, dozo yorishiku."Ucap Sakura sambil ber-ojigi didepan gurunya itu.

"Tunggu disini Haruno, nanti aku akan memanggil mu." Kata Hatake Kakashi, seorang guru matematika yang juga wali kelas baru Sakura.

Lalu Hatake Kakashi sendiri membuka pintu dan berjalan santai memasuki kelas tersebut. Dan Sakura? Dia memandang aneh pada gurunya tersebut.

"Ehem! Ohayou minna."

"Ohayou Kakashi-sensei..." jawab semua murid kelas itu serempak.

"Kita kedatangan murid baru hari ini. Nah, silahkan masuk." Mendengar itu, Sakura melangkahkan kakinya teratur, mencoba untuk tidak gugup didepan kelas.

"Ohayou minna-san. Watashiwa namae no Haruno Sakura, dozou yorishiku." Senyum Sakura sambil ber-ojigi didepan teman-temannya.

Semua murid dikelas tersebut diam memerhatikan Sakura, sungguh! Gadis yang berdiri didepan ini sangat cantik. Terlihat sekali bahwa mata para pemuda dikelas tersebut berbinar kagum. Minus para perempuan disana, mereka sungguh iri dengan kecantikan Sakura, apalagi Sakura berasal dari klan Haruno. Klan yang terpandang di Jepang.

"Baiklah, kalau begitu. Haruno, kau duduk dibelakang Hyuuga. Hyuuga, acungkan tangan mu." Setelah melihat Hinata mengacungkan tangannya, Sakura lansung mengucapkan terima kasih dan segera ke tempat duduknya.

"Oke, kita mulai pelajarannya sekarang."


Selama pelajaran berlansung, Sakura menjadi orang yang tidak fokus. Oh ayolah, siapa yang tidak fokus jika semua orang dikelas tersebut memerhatikannya. Sungguh, benar-benar membuat Sakura risih.

"Anggap biasa saja Sakura,orang-orang disini cukup berlebihan kurasa." Ucap Ino yang mencoba menenangkan Sakura. Ino tau, menajadi perhatian semua orang itu menjengkelkan, memang benar-benar membuat tak nyaman.

Dan Ino juga tau, pikiran semua orang disini. Wajah cantik, kulit putih porselen, rambut ikal yang tergerai indah, serta mata hijau zamrud itu sukses menarik siapa pun yang memandangnya. Ditambah lagi Sakura berasal dari klan Haruno, klan terpandang di Jepang.

"Ya, tapi kalau lama-lama seperti ini, aku jadi tidak tahan Ino." Balas Sakura dengan sedikit nada kesal. Untung saja dikelas ini ada Ino dan Hinata, kalau tidak, Sakura bisa mati risih!

Sedangkan dikelas lain, tampak sekali pemuda itu cukup tidak tenang. Dia sungguh khawatir dengan istri-nya itu. Apakah dia nyaman dengan sekolah barunya? Apakah dia nyaman dengan kelas dan teman-teman barunya? Tapi semua pertanyaan itu tidak penting, yang lebih penting adalah tidak ada seorang pun yang boleh mengganggu Sakura.

Sakura adalah miliknya, dan dia tidak mau berbagi apapun yang telah menjadi miliknya! Egois memang, tapi itu kenyataannya.


"Selamat datang kembali, tuan muda."

"Hm, senang bertemu dengan mu. Kisame." Kisame hanya tersenyum menanggapi tuan mudanya itu. Tidak ada yang terlalu berubah dari tuan mudanya itu. Hanya saja, postur tubuh dan sikapnya yang jauh lebih dewasa dan berwibawa. Cara bicaranya tetap seperti dulu, tegas dan tenang.

"Silahkan tuan muda, Jiraiya-sama sudah menunggu anda di ruangannya."

"Ya."

Dalam perjalanannya, Sasori memerhatikan gedung tersebut. Walaupun tatanannya tidak berubah, tetapi perabotannya tetap mengikuti zaman. Berada ditempat ini, membuat Sasori merasakan kembali masa-masa dimana ada ayah dan ibunya. 'ayah, ibu, aku sudah kembali'

"Silahkan masuk tuan muda."

"Tentu Kisame, terima kasih." Ucap Sasori kepada orang terpercaya keluarga Haruno tersebut.

Setelah memasuki ruangan itu, Sasori melihat beberapa berkas didalam kotak, beberapa barang-barang yang telah dikemas rapi, dan melihat paman-nya yang begitu sibuk saat ini.

"Ohayou Jiraiya Jii-san."

"Aaa, ohayou Sasori. Kau sudah sampai ternyata." Ucap Jiraiya sambil berjalan ke sofa tengah, tempat dimana Sasori duduk.

"Terima kasih Jii-san, terima kasih karena telah menjaga perusahaan Tou-san tetap aman dan stabil sampai saat ini."

"Jangan berterima kasih berlebihan seperti itu Sasori, Tou-san mu adalah kakak ku, jadi wajar saja aku membantu mu. Lagipula, kau sudah membantu ku di perusahaan Inggris."

"Hm..." setelah membalas perkataan pamannya itu, Sasori berjalan mengitari ruangan tersebut.

"Oh ya, Sasori. Kemaren ada seorang wanita mencari mu." Mendengar itu, Sasori berhenti sejenak, menatap pamannya dengan pandangan ingin tau.

"Dia memakai jas dokter, kau mengenalnya?" Sasori terdiam, mengingat apakah dia mengenal seorang dokter di Jepang.

"Kurasa tidak paman, apakah dia membicarakan tentang Sakura?"

"Tidak, dia tidak membicarakan tentang Sakura sama sekali. Paman juga berpikir begitu, paman kira dia dokter Sakura di Jepang, nyatanya tidak. Dia menanyakan kepulangan mu ke Jepang, sepertinya dia mengenal mu."

"Aku benar-benar tidak tau paman." Jawab Sasori dengan wajah bingung.

"Baiklah, lupakan masalah wanita itu. Bagaimana kabar Sakura?"

"Dia baik paman, tapi ingatannya belum kembali."

"Hm, setidaknnya dia bisa ceria lagi."

"Ya, aku juga senang dengan keadaanya sekarang."

Setelah itu, Sasori dan pamannya membicarakan tentang bisnis, sampai...

"Permisi Sasori-sama, ada yang ingin bertemu dengan anda."

"Siapa Kisame?"

"Aku juga tidak tau Sasori-sama, sepertinya ada hal yang penting. Dia menunggu anda di Kafetaria."

"Baiklah, aku kesana. Aku pergi dulu paman."

"Ya, hati-hati Sasori."

"Hm.." setelah pamit, Sasori meninggalkan ruangan itu dan pergi ke lantai satu untuk ke kafetaria.

"Pria atau wanita Kisame?"

"Wanita Jiraiya-sama, dia memakai jas dokter."

"Hahh... perempuan itu lagi, siapa dia?" sekarang, Jiraiya cukup penasaran dengan wanita ber-jas dokter tersebut


Sasori berjalan santai ke kafetaria. Sepanjang perjalanan, banyak wanita yang mencuri-curi pandang kearahnya, tentu saja hal itu biasa bagi Sasori. Tidak di Jepang maupun di Inggris, setiap wanita yang melihatnya pasti lansung terpesona. Tapi, maaf nona-nona, hati seorang Haruno Sasori tetap setia pada cinta pertamanya.

Sesampainya di kafetaria, Sasori memerhatikan keadaan. Sudah berada disini pun, dia tidak melihat wanita yang dimaksud Kisame. 'mana wanita itu? Benarkah dia sudah menunggu ku?' setelah memerhatikan seluruh isi kafe, mata Sasori lansung tertuju pada wanita ber jas dokter yang duduk disudut kafe. 'sepertinya, itu dia.' Segera saja Sasori melangkah ke tempat wanita itu.

"Permisi nona, kau yang ingin bertemu dengan ku?"

Deg!

'suara ini? Aku benar-benar sudah lama tidak mendengarnya'

"Nona? Kau tidak mendengar ku?" karena mendengar perkataan Sasori tersebut, wanita itu mengangkat kepalanya dan menjawab.

"Aku masih mendengar mu Sasori, ohayou."


"Bagaimana kabar mu?" tanya Sasori pada Konan saat mereka duduk ditaman gedung tersebut.

"Seperti yang kau lihat." Balas Konan berusaha tenang.

"Hm, aku tidak menyangka kau akan melanjutkan study mu ke kedokteran."

"Ya, awalnya ayah mengajak ku ke dunia bisnis. Tentu saja aku menolak, dan beliau menerimanya. Lagipula, ini cita-cita ku sejak dulu bukan?" ucap Konan membalas basa-basi Sasori, sebenarnya ia jengah dengan suasana basa-basi ini, namun Sasori tampak tak berniat berniat menghilangkan suasana tersebut.

"Hm." Oke! Cukup! Dia sudah tidak tahan dengan suasana ini terus-menerus. Bukan basa-basi dengan Sasori yang dia inginkan, penjelasan dan kepastian dari pemuda tersebut dengan dirinya yang ia perlukan saat ini.

"Sasori... a-aku... aku..." sial! Kejadian ini terulang lagi. Bagaimana dia bisa begitu lemah didekat Sasori?

"Aku... a-aku... ingin-"

Greb!

Perkataan Konan terputus karena secara tiba-tiba Sasori memeluknya erat.

"Maafkan aku, maaf Konan. Maafkan aku karena tak menghubungi mu, maaf karena pergi begitu saja, maaf karena tidak memberimu kepastian, maaf, maaf Konan." Air matanya mengalir begitu saja di pundak Sasori, dia tidak tau harus berbuat apa untuk menahan air matanya. Ia menyeka air matanya, melepaskan pelukan hangat Sasori dan berkata,

"Sudah, aku sudah memaafkan mu. Lagipula itu tidak sepenuhnya salah mu bukan? Aku saja yang tidak berani mengungkapkannya dari awal." Senyum Konan tenang sambil menggenggam erat tangan Sasori.

Hahh.. betapa senangnya ia pindah ke Jepang saat ini. Melihat orang yang kau cintai tersenyum hangat padamu, ini benar-benar berasa dirumah.

"Aku mencintai mu."

Deg!

Tidak ada hal yang lebih membahagiakan daripada mendengar orang yang kau cintai membalas perasaan mu, dan mengatakan dia mencintaimu didepan mu. Lansung saja Konan meloncat kepelukan Sasori dan memeluknya erat.

"Akujuga mencintai mu Sasori-kun, sangat."

"Hm, aku tau." Ucap Sasori sambil membalas pelukan Konan.

Sungguh! Betapa bahagianya Sasori saat ini, dan kembali ke Jepang? Tidak buruk. Ini sangat bagus malah, benarkan Sasori? 'Ya.'


"Bagaimana kau setuju dengan nya Sakura-chan?" tanya Naruto disela jam makan mereka.

Saat ini waktunya istirahat. Sakura, Sasuke, Naruto, Hinata, Sai, dan Ino duduk bersama dikantin sekolah. Mereka mengambil tempat ditengah kantin, yang hasil menarik perhatian seisi kantin. Tampang rupawan, kekayaan melimpah, dan klan terpandang tentu sukses menarik perhatian semua orang.

"Kau tidak lihat prilakunya? Kalian itu seperti perumpamaan Hold and Cold! Kau orangnya hangat dan ramah, sedangkan dia dingin dan acuh. Aku tidak mengerti." Naruto menggeleng tidak mengerti.

"Aku tidak menyuruhmu mengerti Naruto." Suara dingin Sasuke menguar diantara mereka.

"Lihat! Dia sudah kembali ke sikap dingin dan acuhnya. Sebenarnya, apa yang mau membuatmu menikah dengannya Sakura-chan? Aku tidak percaya kalau kau mencintainya, yaa ampun... jadi, apa yang membuat mu mau menikah dengannya?" pertanyaan Naruto sukses membuat Sakura terdiam. Benar juga, apa yang membuatnya mau menikah dengan Sasuke? Ini baru terpikirkan sekarang.

Sakura melihat suasana disekelilingnya, semua mata dimeja itu memandang Sakura menunggu jawaban. Tapi, jawaban apa yang mau diberikan kepada mereka? Yang bahkan kenyataannya sendiri Sakura tak tau.

"Mmm... itu... ak-"

Teeeetttt...

Perkataan Sakura terpotong oleh bel masuk kelas. 'hahh... penyelamat, thanks god!'

"Sebaiknya kita ke kelas, bel sudah berbunyi. Eerr... ayo!" ucap Sakura bangkit meninggalkan mereka yang terdiam. Segera sadar, lansung saja Hinata dan Ino mengerjar Sakura.

"Sakura, tunggu...!"

"Aku tidak tau kalau dia belum mengingat mu, Sasuke. Maaf, sebaiknya kita pergi ke kelas." Kata Naruto merasa bersalah pada Sasuke.

"Hn." Balas Sasuke yang memandang sendu jalan yang dilalui Sakura. 'ternyata kau belum mengingatnya Sakura.' Ucap Sasuke sendu dalam hati.


Didalam kelas berisikan 25 orang siswa terlihat sekali kalau salah satu diantara mereka sangat tidak fokus. Haruno Sakura, yang ada dipikirannya saat ini bukanlah pelajaran matematika yang dijelaskan oleh gurunya, melainkan kejadian saat waktu istirahat yang lalu.

Saat ini dia masih bingung harus menjawab apa jika ditanya seperti tadi. 'aku harus bertanya pada Sasori-nii tentang masa lalu ku.'

Tuk

Sakura menatap bola kertas yang ada dimejanya dengan pandangan tak mengerti. Lansung saja dia membuka bola kertas tersebut.

Apa yang kau pikirkan? Apakah kejadian tadi?*Ino

Ya, kau benar. Aku benar-benar bingung tadi, apa aku salah dengan melarikan diri? Dari tulisan yang Ino baca, pasti saat ini Sakura merasa bersalah. Ingatannya masih belum pulih, bagaimana bisa Sakura dikatakan bersalah? Yang seharusnya bersalah adalah Naruto! Ya, benar.

Simpan rasa bersalah mu itu Sakura, dan salahkan Naruto. Dia yang memulainya, kau harus menghajarnya! Seketika Sakura tertawa kecil membaca balasan Ino, dia seperti tau betul kalau Sakura membutuhkan candaan saat ini.

Kau hanya membuat ku tertawa Ino, aku tidak tahan kalau melihat Hinata menangis hanya karena aku menghajar Naruto.

Tak apa, Hinata pasti mengerti. Lagipula, maaf sebelumnya, aku melihat perasaan kecewa pada Sasuke. Dia pasti sedih karena kau belum mengingatnya. Sakura menghela nafas lagi, kali ini perasaan bersalah itu datang lagi, perasaan bersalah kepada Sasuke karena membuatnya kecewa.

"Haruno? Apa yang kau lakukan?" melihat Kakasih mendekat kearahnya, Sakura lansung melempar bola kertas tadi kepada Ino.

"Tidak ada, Sensei."

"Baiklah, sekarang perhatikan lagi pelajarannya." Meliha Kakashi kembali kedepan, lansung saja Ino membuka balasan surat dari Sakura.

Ntahlah, kadang orang beranggapan kalau tidak mengetahui apa-apa itu baik. Tapi bagiku, sepertinya mengetahui sesuatu lebih bagus daripada tidak sama sekali*Sakura.


Shion menatap pantulan wajahnya di cermin dengan tatapan kosong, kejadian tadi pagi masih terbayang dikepalanya. Sasuke menggandeng seseorang? Dan seseorang itu juga dari klan Haruno. 'apakah benar jika Sasuke-kun sudah mempunyai istri? Apakah perkataan Naruto itu benar?' pikirnya.

Pasalnya, dia tidak pernah mendengar Sasuke dekat dengan perempuan manapun kecuali dirinya. Dan hari ini, dia mendapat kejutan yang sangat besar.

Dia berpikir, bahwa pulang sekolah nanti dia akan berbicara pada Sasuke tentang hubungan mereka, tapi sekarang? Semuanya terasa sia-sia.

Disaat dia sedang berpikir, dia mendengar suara air. Dan dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu perempuan itu disini. Toilet Wanita.

"Kau? Kerabatnya Sasuke-kun kan?" Sakura melihat kesamping, merasa seseorang sedang berbicara padanya.

"Kau berbicara dengan ku?" tanyanya dengan wajah bingung.

"Ya, siapa lagi yang ada disini. Jadi kau kerabat jauhnya Sasuke-kun kan?" Sakura memandang perempuan didepannya ini dengan pandangan tak mengerti. Kerabat jauh? Hei! Sasuke itu suaminya!

"Bukan, aku bukan-"

"Tentu saja kau kerabatnya, lagipula, mana mungkin Sasuke-kun bisa dekat dengan perempuan lain jika itu bukan kerabatnya."

"Tapi, aku bukan-"

"Aku mengerti, kau tidak perlu menjelaskannya. Dan, saat aku tidak bersama Sasuke-kun sekarang, aku minta kau menjaganya ya?" sekarang Sakura benar-benar bingung dan juga jengkel. Apa-apaan perempuan didepannya ini? Dan siapa pula dia sebenarnya?

"Tunggu, kau? Siapanya Sasuke-kun?"

"Aku? Tentu saja aku kekasihnya." Dan selanjutnya yang terjadi adalah Shion meninggalkan Sakura yang terdiam dengan semua perkataannya. 'dia? Kekasihnya Sasuke-kun?'.

*TBC*


ini chapter lima udah up yaaa^^

balasan review dulu:

Bougenville: ini udah lanjut yaa^^ makasi review nyaa::))

uchiha javaraz: ini udah update;;)) mind to review again?^^

yencherry: aku juga gak bisa mastiin ini fic ampe chap brapa, dan masalah konflik, gak berat kok tenang aja^^ review again?

tomato: oke, silahkan tinggalkan jejak lagi yaa^^

Kirito Asuna: chap ini udah panjang kah? mind to review again?^^

echaNM: tenang B) ini udah up kok^^ review again?

fansanisme: ini udah lanjut^^ makasi reviewnya;;))

williewillydoo: dia memang pasti balik kok^^ mind to review again?

orange: ini udah lanjut, pertanyaan mu terjawab di chapter ini yaa^^ makasi reviewnya::))

Onii - Chan: salam kenal juga^^ udah terjawab di chap ini yaa::))

BlackHead394: ini udah next^^ mind to review again?;;))

Luca Marvell: pertanyaan mu terjawab di chap ini yaaa^^ review again?::))

terima kasih juga bagi yang udah fav&foll dan Read&Review^^

dan maafkan saya jika typonya masih beterbaran yaa;;))

see you chapter enam^^

Sign, TaySky1998