Chapter Enam

*Penghuni Baru*

'Aku? Tentu saja aku kekasihnya.' Perkataan perempuan di toilet tadi masih terbayang dikepalanya. Sakura tidak mengerti , apakah benar perempuan itu kekasih suami-nya? Atau dia hanya seorang penggemar yang menganggap suaminya itu kekasihnya? Dan apakah dia harus bertanya kepada Sasuke tentang masalah ini? 'sebaiknya tidak, aku tidak mau membuat masalah kecil menjadi besar, perempuan itu mungkin hanya penggemar Sasuke-kun saja, benar! Hanya penggemar. Dan juga, aku tidak mengetahui nama perempuan itu, bagaimana aku bisa menanyakan nya pada Sasuke-kun?' pikirnya.

Sakura masih memandang jalanan itu dengan pandangan kosong, kejadian tadi memang membuatnya benar-benar terkejut. Melihat Sakura yang diam seperti ini membuat Sasuke ingin tau, apa yang dipikirkan istrinya itu saat ini.

"Sakura? Kau baik-baik saja?" mendengar suara Sasuke yang begitu khawatir membuat Sakura keluar dari lamunannya.

"Ah, ya. Aku baik-baik saja Sasuke-kun."

"Syukurlah kalau begitu, aku pikir ada masalah yang mengganggu mu."

"Tidak, tidak ada Sasuke-kun." Rasanya tidak berkata jujur pada Sasuke juga aneh, pasalnya masalah yang dialaminya ini berhubungan dengan Sasuke. Dan lagipula Sasuke itu suaminya, jadi wajar saja jika seorang istri menceritakan masalah yang dialaminya pada suaminya sendiri.

Tapi... 'ini hanya masalah kecil Sakura, jangan dibesar-besarkan.' Ya, keputusan yang tepat saat ini adalah dengan diam. Setidaknya, sampai masalah ini tidak menimbulkan akibat yang besar.


Suasana dirumah besar itu yang Sakura lihat saat ini adalah ramai. Semuanya berkumpul diruang tengah, sedang membicarakan yang mereka sama sekali tidak tau itu apa. Apakah ada yang dilewatkan oleh mereka? Karena perkumpulan dua keluarga ini yang secara tiba-tiba itu membuat mereka bingung.

"Sasuke? Sakura? Kalian sudah pulang ternyata." Ucap Sasori saat melihat adik dan adik iparnya itu berdiri dengan tampang tak mengerti. Mendengar suara Sasori, membuat dua keluarga itu menatap mereka yang berdiri didekat pintu.

"Kalian sudah pulang? Kalau begitu, ayo bergabung. Sakura-chan, Sasuke-kun." Kata Mikoto berdiri dan berjalan kearah Sakura lalu menggandengnya ke tempat duduk. Ditengah-tengah keluarga tersebut. Sakura menatap mereka satu per satu. Paman, bibi, dan kedua adik sepupunya, mengapa mereka ada disini?

"Sakura, bagaimana kabarmu nak?" tanya bibinya lembut sambil menggenggam tangan Sakura. "Kita sudah lama tak bertemu, bukan?"

"Ya, Tsunade Baa-san, aku baik-baik saja. Apa ada hal penting yang ingin paman dan bibi sampaikan?" Sakura menatap mata paman dan bibinya itu bergantian.

"Begini Sakura, karena kau dan Sasori sudah kembali ke Jepang. Jadi waktu paman disini tidak ada lagi, paman dan bibi mu harus kembali ke Inggris. Dan sebelum ke Inggris, kami ingin pamit padamu terlebih dahulu."

"Begitukah? Kenapa cepat sekali paman. Lalu, bagaimana dengan sekolah Konohamaru dan Moegi?" sebelum menjawab pertanyaan Sakura, Jiraiya memandang kedua anaknya tersebut.

Dia tidak masalah jika Konohamaru tinggal disini, tapi Moegi? Rasanya dia tidak sanggup membiarkan anak gadisnya di Jepang ini yang hanya tinggal dengan Sasori dan Konohamaru. Bukannya tidak percaya kepada kedua pemuda kebanggaan nya itu, tapi... dia yang tidak mau jauh dari putrinya.

"Konohamaru akan tetap tinggal disini bersama Sasori dirumah keluarga Haruno, Sakura. Tapi Moegi tetap akan ikut kami ke Inggris, aku tidak bisa jauh dari putriku." Sebelum Sakura menjawab perkataan pamannya, Moegi lansung saja menyela dengan keras.

"Aku ingin tinggal dengan kedua Nii-san ku ayah, ayah tidak perlu khawatir."

"Tapi Moegi ibu sudah-"

" Ibu... aku akan baik-baik saja, lagipula dirumah keluarga Haruno ada paman Teuchi dan anaknya yang akan mengurus segalanya, kenapa ibu dan ayah khawatir? Dan juga, bibi Mikoto ada disini." Moegi menatap wajah ayah dan ibunya serius, mencoba meyakinkan orang tuanya agar membiarkannya tinggal di Jepang.

"Moegi benar Tsunade, lagipula aku akan mengunjungi mereka sesekali nanti." Mikoto menggenggam tanagn Tsunade, seolah memberitahukan bahwa anaknya aman bersamanya.

Sakura memerhatikan Moegi, dia begitu gigih meminta untuk tetap tinggal di Jepang kepada orang tuanya. Melihat Moegi yang seperti itu, rasanya dia harus membantunya untuk tetap disini.

"Biarkan Moegi tetap disini paman, bibi. Lagipula, aku bisa menginap disana sesekali. Iya kan ibu?" tanya Sakura pada Mikoto dengan tiba-tiba, yang membuat Mikoto terkejut.

"Ah ya, iya Sakura-chan. Kau boleh menginap disana sesekali." Mendengar jawaban ibunya itu, membuat Sasuke menyerngit tak suka.'kenapa ibu membiarkan Sakura begitu saja?' pikirnya.

"Baiklah, baiklah. Kau boleh tinggal disini Moegi, tapi jangan lupa selalu menghubungi ibu dan ayah." Moegi tersenyum senang mendengar perkataan ibunya itu, lansung saja dia berlari memeluk kedua orang tuanya dan mengucapkan terima kasih. Sakura tersenyum melihat adik sepupunya itu, setidaknya Sakura berhasil membuatnya senang.

"Kalau begitu kami pamit dulu, Mikoto. Aku benar-benar menitipkan mereka padamu."

"Ya, Tsunade. Kalian berdua hati-hati dijalan, dan titipkan salam ku pada ibu."

"Tentu Mikoto, pasti." Tsunade memeluk erat Mikoto, memeluk erat sebagai salam perpisahannya.

Jiraiya bangkit dan melihat mereka satu per satu. Sasori, Sakura, Konohamaru, dan Moegi. Dia meninggalkan anak-anaknya.

"Jaga adik-adik mu Sasori, paman mengandalkan mu."

"Pasti, itu pasti paman." Janji Sasori sambil memeluk pamannya itu.

"Baiklah, kami berangkat. Jaa, minna."

"Jaa.."


Gadis berambut merah muda itu duduk dibalkon kamarnya, dengan tujuan menghirup udara sore yang tenang. Dia memang butuh suasana seperti ini sekarang. Ntah kenapa, melupakan perempuan tadi sangat sulit. Padahal, dia sudah menasehati dirinya sendiri agar tidak mengingat kejadian di toilet tersebut. Tapi, semua usahanya gagal total.

Dia butuh penjelasan saat ini, tapi bukan dari Sasuke. Setidaknya, sekarang belum saat nya. Dia harus mencari informan yang lain, dan pilihannya jatuh pada sahabat Sasuke sendiri. Tentu saja, karena mereka pasti mengenal Sasuke dengan baik. Dan sahabat Sasuke hanya ada dua, Naruto dan Sai.

Naruto? Tidak, Naruto orang yang ceroboh. Disaat seperti ini, dia tidak bisa membicarakan apa-apa pada Naruto. Pilihannya jatuh pada Sai. Ya, benar. Dia harus menghubungi Sai segera mungkin.

"Moshi-moshi, Sakura?"

"Sai! Apa kau free?"

"Ya, aku free Sakura. Ada apa?"

"Apa kau tau tempat minum yang enak?"

"Aku tau."

"Bagus! Kirim alamatnya dan temui aku disana sepuluh menit lagi, dan juga jangan lupa ajaklah Ino."

"Tapi, ada apa Sa-"

"Ini penting Sai, bye." Sai menatap Smartphone ditangannya dengan pandangan aneh. Perlakuan Sakura yang tiba-tiba mengajaknya bertemu ini sangat mencurigakan. Benar-benar membuat Sai bingung.

Setelah menutup telfonnya tadi, lansung saja Sakura bersiap dan mengambil kunci mobilnya. Sai sudah mengirim alamatnya beberapa menit yang lalu, dan dia tidak ingin membuang waktunya dengan sia-sia.

Masalah ini harus tuntas, setidaknya dalam pikirannya. Sakura tidak tau, kalau Sasuke memerhatikannya pergi dari balik kamarnya. Dan mereka juga tidak tau, bahwa gerak-gerik mereka tidak luput dari pandangan Itachi.


"Sasuke," Sasuke berbalik, melihat seseorang yang memanggilnya. Dia melihat Itachi berjalan mendekat, dan lansung duduk disofa kamarnya.

"Ya, Nii-san."

"Boleh aku bercerita padamu tentang sesuatu?"

"Tentu saja Nii-san, silahkan." Sasuke menarik kursi belajarnya agar ia duduk tepat didepan kakaknya.

"Kau tau? Sebenarnya aku tidak setuju dengan rencana Kaa-san yang menikahkan mu itu dulu. Aku berpikir, bahkan kalian saja belum lulus sekolah dasar. Bagaimana bisa menikah?" Itachi tersenyum mengingat kejadian sebelas tahun yang lalu. Kejadian teraneh dan terkonyol yang dia miliki.

"Lalu?"

"Melihat mu yang begitu mencintai Sakura seperti selama ini membuatku tidak menyesal dengan keputusan ku dulu, Sasuke. Tapi, apakah kalian ada masalah?" Sasuke yakin, siapapun yamg melihat Sakura pergi begitu saja seperti tadi, pasti mengira kalau mereka bertengkar.

"Tidak Nii-san, kami baik-baik saja. Tapi..."

"Tapi apa Sasuke?"

"Sakura memang mengatakan kalau dia baik-baik saja, tapi aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dari ku Nii-san." Melihat Sasuke yang begitu khawatir seperti ini, membuat Itachi yakin kalau Sasuke sudah menemukan alasan hidupnya.

Dia senang, setidaknya ada saat dimana Sasuke bertindak seperti adik yang sebenarnya. Melihat sisi lain dari Sasuke, bukan sisi dingin yang biasanya, membuat Itachi tersenyum. 'aku sangat bangga padamu Sakura-chan, kau berhasil melihatkan sisi Sasuke yang lain padaku.' Pikirnya.

"Aku rasa, Sakura tidak ingin membebani mu dengan masalahnya Sasuke. Mungkin saja, dia tidak ingin membuat mu khawatir." Sasuke menghela nafas keras, malahan dengan prilaku Sakura seperti ini tambah membuatnya khawatir.

"Sakura boleh saja berpikiran seperti itu Itachi-nii, tapi dengan sikapnya yang begini tambah membuatku khawatir." Itachi harus menghilangkan kegelisahan adiknya itu, kalau tidak, dia bisa berpikiran yang bukan-bukan tentang Sakura.

"Sudahlah Sasuke, pikirkan apa yang aku katakan. Jika Sakura tidak menceritakannya padamu, berarti masalah itu bukan masalah besar. Yang terpenting, kau harus percaya pada Sakura sendiri. Ingat, dia itu istrimu."

"Baiklah, Nii-san. " apa yang dikatakan Itachi benar, Sakura itu istrinya, jadi dia harus percaya pada Sakura. 'semoga Itachi-nii, semoga apa yang kau katakan itu benar.'


"Sakura!" Sakura melihat tangan Ino melambai padanya. Dengan segera, dia beranjak menemui pasangan itu.

"Apa yang ingin kau katakan, Sakura?" gadis merah muda itu menatap Ino dengan jengkel, dia baru saja datang, apakah Ino tidak bisa menunggunya tenang terlebih dahulu?

"Ino, tidak bisakah kau membiarkan ku duduk dengan tenang terlebih dahulu? Bahkan aku belum melihat buku menunya Ino." Ucapnya kesal pada Ino.

"Baiklah, ini bukunya. Kau pesan minuman mu dan cepat ceritakan apa yang terjadi."

"Tidak bisakah kau bersabar? Huh, dasar!" dia mengambil buku menu dari tangan Ino dengan kesal lalu membaca menunya cepat.

"Sekarang, ceritakan apa yang terjadi." Kata Ino dengan antusias setelah Sakura selesai memesan minumannya.

"Baik, ini masalah antara aku, Sasuke-kun, dan seseorang." Sai yang sedari tadi diam sekarang menatap Sakura bingung, begitu juga dengan Ino. Apakah seseorang yang dimaksud Sakura adalah orang ketiga?

"Apa maksud mu Sakura?" tanya Sai padanya.

"Begini, Ino kau ingat saat aku meminta izin pada Anko-sensei saat jam pelajarannya tadi?"

"Ya, ada apa?"

"Jadi, saat aku di toilet, ada seorang perempuan menghampiri ku. Dia dengan gigih mengatakan bahwa aku adalah kerabat jauh-nya Sasuke-kun, aku mencoba menyangkalnya, dia tetap tidak mendengarkan ku. Tapi..."

"Tapi?"

"Saat aku menanyakan hubungannya dengan Sasuke-kun, dia mengatakan bahwa dia. Dia, kekasihnya Sasuke-kun."

"APA?!" reaksi dari Ino dan Sai adalah terkejut. Ino berpikir, sepengetahuan nya, Sasuke tidak ada hubungan apa-apa dengan orang lain selain Sakura. Lalu, tiba-tiba saja ada seseorang yang mengaku sebagai kekasihnya. Atau jangan-jangan...

"Sai-kun, apakah orang itu adalah Shion?" Sai berpikiran sama dengan Ino, dia juga berpikir bahwa orang itu adalah Shion.

"Shion? Siapa dia?" tanya Sakura sambil menatap Ino dan Sai bergantian.

"Dia mantan kekasihnya Sasuke, Sakura." Sakura merasakan nyeri didadanya, jadi selama dia tidak disini, Sasuke mempunyai hubungan dengan orang lain? Padahal mereka terikat pernikahan.

"Bagaimana itu bisa terjadi Sai?" dia butuh kejelasan. Ya, Sakura sangat butuh kejelasan.

"Jangan berpikiran aneh, Sakura. Sasuke menerimanya bukan karena menyukai apalagi mencintai Shion, dia hanya menerima gadis itu karena dia tidak ingin semua usaha Shion sia-sia. Lagipula, selama ini, Sasuke hanya menganggap Shion teman, tidak lebih." Mendengar sedikit penjelasan dari Sai, cukup membuat perasaannya tenang. Tapi, apakah dia bisa mempercayai perkataan Sai?

"Percaya pada apa yang Sai-kun katakan Sakura, Sasuke hanya mencintai mu. Aku sendiri saksinya, selama dengan Shion, dia tidak pernah begitu peduli. Tapi, saat bersama mu, aku melihat semuanya. Tatapannya, sifat protektifnya, kekhawatirannya, kecewa kau tidak mengingatnya, dan dia tersenyum saat melihat kau tertawa. Tersenyum Sakura, tersenyum!" Ino menceritakannya penuh semangat kepada Sakura. Pasalnya baru kali tadi dia melihat Sasuke tersenyum. Pemandangan langka.

"Ino benar Sakura, percayalah pada apa yang kami katakan." Sai mencoba meyakinkan Sakura, menghilangkan pikiran buruk Sakura pada sahabatnya itu.

"Akan aku coba Sai, terima kasih."


Sudah sedari tadi Sakura sampai dirumah utama kelurga Uchiha, tetapi dia tetap tidak mau keluar dari mobilnya itu. Untuk saat ini, rasanya dia tidak sanggup bertemu Sasuke. Beberapa kenyataan tadi membuat perasaanya tidak tenang. Entah kenapa, mendengar Sasuke pernah mempunyai hubungan dengan orang selain dirinya, rasanya cukup menyakitkan.

Apalagi orang tersebut menganggap hubungannya dengan Sasuke masih ada, lagipula kenapa Sasuke mau menerima gadis itu jika dia hanya dapat membuatnya terluka.

Disatu sisi, Sakura kasihan dengan nasib gadis yang bernama Shion tersebut. Kenapa? Karena selama ini Sasuke tidak pernah mengganggap hubungan mereka itu ada. Tetapi disisi lain, Sakura juga kesal. Shion tetap menganggap Sasuke itu kekasihnya!

Sakura berjalan gontai menuju kamarnya, dia butuh tidur. Pikirannya sudah lelah dengan masalah ini.

"Sakura..."

"Maaf Sasuke-kun, aku lelah. Aku ingin tidur." Sakura tetap menaiki tangga, dia sungguh lelah saat ini, dan juga dia tidak bisa bertemu Sasuke untuk sekarang.

Tap!

Sakura menghentikan langkahnya saat Sasuke menahan pergelangan tangan nya.

"Aku tidak bisa diam seperti ini Sakura, tidak saat sikapmu seperti ini padaku."

"Sasuke-kun –"

"Biarkan aku bicara Sakura, kau harus mendengarkan ku. Jangan membuat ku khawatir seperti ini, kau tau betapa gelisahnya aku saat menunggumu pulang.."

"Sasuke-kun –"

"Kau tau Sakura, kita tidak ba-" perkataan Sasuke terpotong saat Sakura tiba-tiba memeluknya. Dia lansung membalas pelukan Sakura dengan erat, sangat erat. Rasanya dia tidak akan bisa melepaskan Sakura.

Begitu pula dengan Sakura, melihat sikap Sasuke tadi. Dia tidak akan bisa menghindari Sasuke, sikapnya tadi dapat menghilangkan pikiran buruknya. Mungkin, perkataan Sai dan Ino benar.

"Sasuke-kun, apakah aku bisa mempercayai mu?" tanya Sakura yang masih dalam pelukan Sasuke.

"Tentu Sakura, kau sangat bisa mempercayai ku."

Sakura berpikir, kenapa orang lain dapat mempercayai suaminya, sedangkan dia tidak? 'Sai, aku akan percaya kata-kata mu.' 'Itachi-nii, aku berharap perkataan mu itu benar.' Perkataanya dalam masing-masing pikirannya.

"Sasuke-kun?"

"Hn?"

"Besok, aku ingin berangkat sekolah dengan mobilku. Bisakan?"

"Tidak, Sakura,"

"Ayolah, lagipula Ino bilang bahwa Sasuke-kun ada jadwal latihan bola basket besok."

"Tetap tidak, Sakura."

"Ayolah, Sasuke-kun. Kumohon..."

"Hahh, baiklah."


Pagi ini Ino datang lebih awal ke sekolah, melaksanakan piket kelasnya yang tertinggal kemaren. Pada jam seperti ini memang, hanya setengah dari murid sekolah itu yang datang.

Ino memerhatikan kelasnya, sepi. Bahkan tempat duduk Sakura dan Hinata juga kosong.

"Ino.." mendengar seseorang memanggilnya, Ino melihat kearah pintu kelas.

"Shion."

"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"

"Ya, tentu saja."

"Apakah kau mengenal kerabat jauhnya Sasuke-kun?" kerabat jauh? Rasanya Ino pernah mendengar kata-kata ini.

"Begini, Ino kau ingat saat aku meminta izin pada Anko-sensei saat jam pelajarannya tadi?"

"Ya, ada apa?"

"Jadi, saat aku di toilet, ada seorang perempuan menghampiri ku. Dia dengan gigih mengatakan bahwa aku adalah kerabat jauh-nya Sasuke-kun, aku mencoba menyangkalnya, dia tetap tidak mendengarkan ku. Tapi..." 'memang benar, perempuan itu adalah Shion.'

"Maksud mu, gadis yang bersama Sasuke kemaren?"

"Ya." Sekarang Ino tersenyum dalam hati, Shion harus mendapat ganjarannya.

"Kerabat jauh? Yang benar saja, gadis yang Sasuke gandeng itu adalah istrinya."

"Istri? Jangan bercanda Ino." Shion kesal pada Ino, dengan seenaknya saja Ino menyebut gadis itu istrinya Sasuke.

"Aku tidak bercanda, kalau kau tidak percaya padaku. Silahkan saja tanya pada Sasuke."

"Tidak, aku tidak percaya. Kau salah Ino, Sasuke-kun tidak mungkin mempunyai istri. Aku akan menanyakannya nanti, kau pasti salah." Ucap Shion kepada Ino sambil berjalan cepat meninggalkan kelas itu.

Ino tertawa melihat ekspresi Shion tadi, rasanya sangat puas setelah Shion mendapat balasannya. 'rasakan itu! Dasar pengganggu!' bathinnya sambil tertawa.


Penghuni kamar bernuansa merah jambu itu sibuk belajar dimeja belajarnya. Dia ada ujian matematika besok, jadi sebisa mungkin dia berusaha untuk mendapatkan nilai bagus. Tetapi, dia lansung menghentikan kegiatannya setelah mendengar Smartphone-nya berdering.

"Moshi-moshi, Ino?"

"Sakura! Kenapa kau pulang cepat tadi?"

"Kepala ku sedikit pusing, lagipula besok ada ujian matematika, aku harus belajar." Sakura masih mendengarkan Ino, walaupun mata tetap pada buku yang ada diatas meja.

"Kau bilang kepala mu pusing, tetapi kau tetap belajar? Seharusmya kau istirahat Sakura." Apa yang Ino katakan memang benar, tapi dia hanya tidak ingin membuang waktu.

"Aku hanya tidak ingin membuang waktu ku Ino."

"Yaya, lakukan sesuka mu. Kau tau Sakura, apa yang aku dan Sai-kun katakan kemaren memang benar. Gadis itu adalah Shion!" Sakura terdiam mendengar perkataan temannya itu.

"Jadi, dia memang Shion?"

"Ya! Dia sungguh menyebalkan, dengan seenaknya saja dia menyebut mu kerabat Sasuke. Tapi tenang Sakura, aku sudah memberinya pembalasan."

Tok.. tok.. tok..

"Masuk."

"Nyonya muda, nyonya besar menyuruh anda untuk ke ruang tengah."

"Baik, aku akan kesana." Setelah mendengar jawaban Sakura, maid tersebut lansung meninggalkan nyonya muda-nya itu.

"Ino, kita bicara lagi nanti. Aku ada urusan sebentar."

"Baik Sakura, bye."

"Bye." Sakura memastikan telfonya tertutup, lalu meletakkan nya diatas meja. Dan keluar dari kamar itu untuk menuju ke ruang tengah.

Sesampainya Sakura diruang tengah, dia melihat Mikoto sedang berbicara dengan seseorang. Dia berpikir, kali ini, siapa lagi orang itu? Sakura sendiri merasa tidak mengenal orang itu. Tapi melihat keakrabannya pada Mikoto, membuat Sakura yakin kalau orang itu bukan orang asing.

"Sakura-chan, ayo duduk disini." Mendengar Mikoto memanggilnya, gadis merah muda itu berjalan mendekat kearah mereka dan duduk disamping ibu mertuanya.

"Nah, Sakura-chan. Perkenalkan, ini Karin."

"Ka-rin?"

.

.

.

*TBC*


Chapter Enam is Up^^

balasan review:

uchiha javaraz: sasu setia kok^^ tenang aja;;)) review again?::)

A panda-chan: Ya! kalian sudah putus! hehe, review again?^^

orange: aku gak bosan kok^^ ini udah lanjut::)) mind to review again?

Chichak Deth: makasi^^ boleh kok;;)) review again?::))

BlackHead394: ini udah update;;)) mind to review?^^

yencherry: ini udah lanjut::)) review lagi?^^

Luca Marvell: yang penting ikutin terus aja yaa^^ makasi reviewnya::)) review again?

fansanime: ini udah update^^ review lagi?;;))

Hikaru Sora 14: tenang B) sasu tidak akan berkhianat kok^^ mind to review again?;;))

Okaerioka: makasi banyak^^ boleh kok;;)) review lagi yaa::))

echaNM: ini udah lanjut^^ review lagi?;;))

williewillydoo: ada alasannya kenapa gak Karin yg jadi saingan Sakura::)) review lagi?^^

Euri-chan: salam kenal juga^^ yang penting ikutin terus aja yaa;;)) ini udah next::)) review lagi?

terima kasih juga bagi yang udah Fav&Foll serta Read&Review^^

dan kalo typo-nya masih ada, maafkan saya yaa;;))

Sign, TaySky1998