Chapter Tujuh
*U.S & U.S*
Karin hanya tersenyum melihat reaksi Sakura, dia sudah mendengar cerita itu dari ibunya. Awalnya Karin terkejut, ternyata tidak hanya dia yang mengalami masa-masa sulit. Sakura juga, ntah siapa yang harus dikasihani sekarang. Kalau saja kecelakaan itu tidak terjadi, Sakura pasti lansung memeluknya saat ini.
Sedangkan Karin sendiri? Masa-masa sulitnya dimulai karena penyakit sialan itu, bahkan dia tidak mau mengingat masa-masa dimana hanya ada selang infus, obat-obatan, dan perawat yang menemani nya. Tidak ada kerabat ataupun orang tua.
Pseudomonas itu adalah mimpi buruk yang dia dapatkan, harus dikarantina selama lima tahun itu membuatnya tidak bisa apa-apa. Bahkan untuk belajar saja dia harus dirumah sakit.
"Nee-san," Karin memalingkan wajahnya kearah pintu depan, melihat Sasuke sudah seperti ini dia merasa memang sudah meninggalkan rumah terlalu lama.
"Ah, Sasu-kun? Kau sudah pulang?" Karin tau, Sasuke tidak suka dengan panggilan spesial darinya itu. Dari sofa yang dia duduki, dia bisa melihat ekspresi kesal Sasuke.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu Nee-san, Nee-san tau sendiri kalau aku tidak menyukainya." Kakak perempuannya itu tertawa kecil mendengar jawabannya, ternyata adiknya tidakberubah banyak. Dia masih seperti dulu.
"Yaya, aku tau. Lagipula kau dari mana saja? Tega sekali meninggalkan Sakura sendirian seperti itu." Bukan menjawab pertanyaan Karin, Sasuke malah memandang Sakura dengan tersenyum. Sedangkan Sakura, dia menatap Sasuke tidak mengerti.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan Sakura, Karin-nee. Hati-hati dengan ucapan mu." Sekarang Karin ingin tertawa keras.
Sasuke sungguh menggemaskan, menatap Sakura dengan senyuman dan mendeklarasi perasaannya secara tidak lansung. Melihat Sakura tambah membuat Karin ingin tertawa lebih keras lagi, Sakura hanya menatapnya dan Sasuke dengan polos. Kenapa pasangan ini begitu lucu? Benar-benar membuatnya gemas.
"Sasuke, kau tau satu hal?" ucapnya sambil tertawa pada Sasuke. "Aku baru saja dirumah, dan kau sudah membuatku tertawa senang seperti ini. Sikap mu benar-benar menggemaskan." Sasuke tau, kalau Karin sedang menertawakannya saat ini. Tapi, dia tidak ambil pusing. Dia hanya menarik tangan Sakura dan berkata.
"Ayo, Sakura. Kau ikut dengan ku."
"Ta-tapi Sasuke-kun, Karin-nee baru saja-" terlambat, Sasuke malah menyeretnya ke lantai atas.
"Ibu, aku tidak suka dengan sikap Sasuke! Apa-apaan dia? Membawa Sakura pergi dengan seenaknya saja!" kata Karin kesal sambil menatap Sasuke dan Sakura yang menghilang diujung tangga.
"Sudahlah Karin-chan, ibu tau pasti kau mengenal sikap adikmu itu. Lagipula, Sakura-chan juga tinggal disini. Jadi kau bisa menemuinya kapan saja bukan? Sekarang, kembali ke cerita mu, siapa laki-laki itu?" gadis itu menunduk malu dengan perkataan ibunya, wajahnya menjadi memerah.
"Ituu... dia..."
"Aku tidak suka melihat mu bersikap seperti itu pada Karin-nee, Sasuke-kun." Sakura menarik tangannya dari genggaman Sasuke. Dia kesal, benar-benar kesal. Sikap Sasuke tadi sungguh kelewatan. Dia bersidekap dan memalingkan wajahnya dari Sasuke.
"Aku rindu padamu Sakura, aku hanya ingin menikmati waktu dengan istri ku saat ini." Gadis itu tetap diam, tidak beranjak dari tempatnya sedikit pun. Bahkan kata-kata manis Sasuke tetap tidak mempan membuatnya luluh.
Tarikan tangan Sasuke lah yang menjadikan Sakura berada dipelukannya tersebut membuat gadis itu terkejut. Tapi tetap, Sakura tidak membalas pelukannya.
"Sakura..."
Menyerah, dia kalah telak saat ini. Kadang-kadang, melihat Sasuke bersikap manis seperti sekarang, membuat hati dan pikirannya tidak bekerja seimbang.
Sakura menrik tanganya perlahan membalas pelukan Sasuke, yang membuat Sasuke tersenyum karena merasakan tangan Sakura membalas memeluknya.
"Tapi, aku tidak enak dengan Karin-nee. Dia baru saja disini, dan Sasuke-kun malah mebawa ku pergi."
"Dia pasti mengerti Sakura, sekarang diam dan tenang." Sasuke merasakan Sakura menghela napas dipelukannya. Dia tau, istrinya itu pasti tidak enak hati pada kakaknya. Tapi, Karin harus mengerti saat ini. Dia hanya ingin berdua dengan Sakura.
Sasuke juga tidak tau kenapa dia bersikap seperti ini, sikap ini dimulai saat Sakura sudah berada didekatnya. Tiga hari yang dilalui Sakura disini, masih tidak cukup untuk membayar sebelas tahun yang dilaluinya sendirian. Sepertinya pemuda itu mulai bergantung pada istrinya, kalau tidak ada Sakura? Mungkin dia tidak bisa menikmati hidup.
"Sasuke-kun..."
"Hn."
"Kurasa sebaiknya aku ke kamar. Dan, Sasuke-kun juga harus istirahat bukan?"
"Biarkan seperti ini dulu, Sakura." Sakura menggeleng dan mencoba melepaskan pelukan Sasuke.
"Tidak bisa Sasuke-kun, aku harus menghubungi Ino lagi. Lagipula, nanti Sasuke-kun juga bisa memelukku kapan saja bukan? Jadi sekarang lepaskan." Pemuda itu mepelaskan pelukannya, tapi tetap menahan pergelangan tangan Sakura.
"Baiklah Sakura. Dan jangan lupa, ingat janji mu." Ucap Sasuke sambil meninggalkan Sakura dengan sedikit kesal.
Melihat Sasuke sudah menuju kamarnya, membuat Sakura tersenyum ringan. Satu fakta, Uchiha Sasuke hanya menunjukkan sifat manja-nya hanya pada sang istri tercinta.
Naruto menatap pantulan penampilannya dicermin. Melihat penampilannya rapi seperti ini, membuat siapapun yakin kalau Naruto ingin menemui seseorang yang spesial. Dan, siapa lagi kalau bukan Hinata.
Dia sudah membuat janji dengan Hinata jam setengah empat sore, dan sekarang jam tiga. Masih cukup waktu untuk sampai ditempat pertemuannya. Dia mematut sekali lagi penampilannya, dan mengambil kunci mobilnya di atas meja kecil disamping tempat tidur.
Dia segera berjalan menuju pintu utama untuk ke garasi mobil keluarga Namikaze, dia tidak mau melewati pintu bawah tanah dimana garasi mobil keluarga Namikaze berada. Dengan melewati pintu itu, akan membuat perjalanan menuju mobil menjadi berputar, karena harus melewati dapur terlebih dahulu.
"Itachi-nii?" panggil Naruto saat menemukan Itachi berdiri didepan pintu utama.
"Apa kabar Naruto? Aku hanya ingin memberikan ini pada Kaa-san, kiriman dari ibuku." Balas Itachi sambil mengangkat paper bag yang dibawanya.
"Aku kira, Nii-san hanya ingin bertemu Hana Nee-chan. Mizuki, tolong bawa ini kedalam dan berikan kepada ibuku." Naruto mengambil paper bag yang disodorkan Itachi, dan memberikannya pada maid tersebut. Setelah melihat maid itu pergi, Itachi menatap Naruto dari atas sampai bawah. 'rapi sekali bocah ini, aku yakin sekarang dia ingin pergi menemui Hinata.' Pikirnya.
"Naruto, ikut aku, ada yang ingin aku bicarakan." Pemuda pirang tersebut menatap Itachi tak percaya, tidakkah dia tau kalau Naruto sudah serapi ini? Dia ingin menemui kekasihnya, tetapi sepertinya kakak iparnya itu ingin menggagalkan rencana.
"Kurasa, lain kali saja Itachi-nii. Aku ada janji dengan Hinata-chan ku."
"Baiklah, kemarikan ponsel mu." Sekarang dia benar-benar bingung dengan sikap kakak iparnya itu, tadi mengajaknya sekarang meminta ponselnya. Naruto masih memerhatikan Itachi mengotak-atik ponsel tersebut.
"Aku sudah memberi tau Hinata bahwa kau akan terlambat setengah jam lagi. Masalah beres, ikut aku." Naruto menghirup napas dengan gusar, dia lansung melihat pesan yang dikirim Itachi untuk Hinata dan mengimpan ponselnya dikantong celana.
"Yaya, kau menang Nii-san." Mereka berjalan menuju kursi santai yang berada ditaman halaman rumah.
"Baik, lansung saja. Apa ada sesuatu hal yang terjadi pada Sasuke dan Sakura disekolah, Naruto?" tanya Itach sambil memandang Naruto serius. Pemuda pirang itu berpikir, rasanya, dia tidak mengingat kalau Sasuke dan Sakura punya masalah disekolah. Mereka berdua terlihat baik-baik saja, jadi apa yang dikhawatirkan Itachi?
"Seingat ku tidak Itachi-nii, mereka berdua tampak baik-baik saja disekolah. Kenapa kau berpikiran seperti itu?" Itachi menatap pintu depan dari tempat duduknya. Dari jauh, dia melihat Hana membawa secangkir teh yang mendekat ke arah mereka.
"Tidak ada yang penting sebenarnya, aku hanya ingin tau saja. Bagaimana Sasuke dan Sakura disekolah." Dia tidak menceritakan semuanya kepada Naruto. Kalau dipikir-pikir, dia yang menghilangkan kekhawatiran Sasuke kemaren, dan sekarang? Kenapa dia yang menjadi begitu khawatir?
"Itachi-kun? Kenapa tidak memberitau ku kalau ingin datang." Karena ucapan Hana yang tiba-tiba diantara mereka, membuat Naruto bangkit dari kursinya.
"Baiklah Itachi-nii, karena Hana-nee sudah disini, aku ingin pergi melakukan pekerjaan ku yang kau tunda tadi. Jaa." Kata Naruto sambil meninggalkan pasangan tunangan tersebut.
"Jadi, katakan padaku kenapa kau tidak menghubungi ku, Itachi-kun?!" sepertinya, memikirkan Hana yang sedang marah lebih baik daripada mengurus masalah adiknya.
"Sakura? Boleh aku masuk?" merasakan seseorang memanggilnya, gadis itu lansung menatap pintu kamarnya yang terbuka.
"Tentu saja Karin-nee, silanhkan." Karin berjalan memasuki kamar bernuansa pink-pastel tersebut. Dia segera mengambil tempat disofa kamar Sakura.
"Aku punya hadiah untuk mu, anggap saja ini sebagai hadiah pernikahan." Ucap Karin sambil memberikan sebuah kotak hadiah kepada Sakura.
Gadis itu lansung membukannya dan terkejut menatap hadiah tersebut. Sebuah foto, foto berukuran 15 x 10 cm itu. Foto tersebut adalah gambar dua orang anak perempuan yang berbeda usia dengan gaya berpelukan disebuah taman.
"Ini adalah kau dan aku, umur mu 5 tahun saat itu dan aku 9 tahun. Ini sebelum aku dan kau mendapat masa-masa sulit." Sakura tidak percaya dia sedekat itu dengan Karin dulu. Apalagi melihat ekspresi kedua gadis kecil tersebut tersenyum lebar.
"Benarkah Karin-nee?"
"Ya, dan ini juga. Satu lagi hadiah dari ku." Sebuah foto lagi, dengan ukuran yang sama. Hanya disini, terdapat anak berbeda gender tersenyum manis dengan mengenakan Hakama dan Kimono. Manis sekali.
"Ini aku dan Sasuke-kun?" tanya Sakura.
"Yap, benar. Itu foto saat kalian menikah dikuil. Lucu sekali bukan? Sasuke mempunyai satu, dan sekarang foto itu pasti terpajang dikamarnya. Kau tau Sakura, kalau bukan karena penyakit sialan itu, aku pasti tidak akan melewatkan momen indah tersebut."
Sasuke juga sudah menceritakannya tadi, bahwa Karin selama ini hidup dikarantina di New York. Pseudomonas yang dideritanya sudah menyebar keseluruh tubuh, bahkan kecil kemungkinan untuk dia hidup waktu itu. Tapi sekarang lihat, bahkan Karin sehat-sehat saja.
"Untuk belajar saja aku harus dirumah sakit, dan aku berjanji akan pulang ke Jepang setelah aku sukses dan lepas dari sakit itu. Apalagi kau juga disini, aku senang." ucapnya sambil tersenyum pada Sakura.
Sakura tidak kuasa menahan untuk tidak memeluk Karin. Ternyata, apa yang dilalui kakak iparnya itu lebih sulit dari nya. Dia saja masih ada neneknya dan Sasori yang menemani, kalau Karin? Dia sendirian.
"Sekarang kita sudah lepas dari masa-masa kelam itu Nee-san, dan kami semua juga tidak akan membiarkan masa kelam itu mengahmpiri Karin-nee lagi." Kata Sakura yang masih memeluk Karin.
"Semoga Sakura, terima kasih banyak." Karin melepaskan pelukannya dari Sakura, dan menatap Sakura dengan senyuman.
"Baiklah, sekarang sudah malam. Kau dan aku pun butuh istirahat, selamat malam Sakura."
"Selamat malam Karin-nee."
Saat ini, hanya ada mereka bertiga dimeja kantin. Sakura dengan novelnya, Hinata dengan majalahnya, dan Ino dengan ponselnya. Mereka sibuk dengan kegitan masing-masing. Bahkan hanya sampai memesan minuman.
Ketiga pengawal dari masing-masing putri tersebut pun tidak ada ditempat. Jadi, dimana ketiga pemuda itu?
"Hahh, sayang sekali Sai-kun tidak disini. Padahal, aku ingin melihatkan gelang pasangan yang cantik padanya." Keluh Ino sambil meletakkan ponselnya diatas meja.
"Mereka sedang belajar olahraga dengan Guy-sensei Ino, kau tau sendiri kalau guru yang satu itu penuh dengan semangat." Ucap Sakura setelah menyeruput jus-nya.
"Yang dikatakan Sakura-chan benar, Ino-chan. Sabar sedikit ya?" tanya Hinata setelah meletakkan majalahnya dan mengelus lembut bahu Ino.
"Yaya, Guy-sensei memang seperti itu. Dan Sakura, bagaimana keadaan mu sekarang?" Sakura mengangkat kepalanya, mencoba mencari jawaban dimata Ino dari kata-katanya.
"Apa maksud mu Ino-chan? Keadaan apa?" bukannya Sakura, malah Hinata yang bertanya pada Ino.
"Kerabat jauh?" ucap Ino sambil mengangkat bahunya cuh, dan menyeruput Milkshake-nya.
"Ahh, masalah itu sudah selesai Ino. Seperti yang kau katakan, aku tidak memikirkannya selagi tidak berdampak buruk padaku."
"Tapi, Shion cukup keterlaluan Sakura-chan. Ino-chan sudah menceritakan semuanya kepada ku." Ino mengangguk cepat setelah mendengar perkataan Hinata pada Sakura, dia mencoba meyakinkan kalau seharusnya Sakura membalas perbuatan Shion. Sakura akan menjawab pernyatan Hinata jika saja dia tidak mendengar teriakan menjengkelkan itu.
The prince is coming.
"Sebaiknya, kita bicarakan nanti. Lihat! Mereka datang." Tunjuk Sakura kepada ketiga pemuda yang baru datang itu. Mereka bertiga berjalan mendekat, menempati tempat duduk yang tersisa dimeja itu.
"Sakura, setelah ini, naiklah ke atap, dan tunggu aku disana." Gadis itu menatap pemuda didepannya ini bingung.
"Mengapa Sasuke-kun?"
"Aku ingin bicara dengan mu, sekarang aku ke ruang ganti. Jaa." Ucap Sasuke bangkit sambil mengusap kepala Sakura dan meninggalkannya dengan kebingungan.
Sudah 15 menit sejak Sasuke mengajaknya bertemu diatap. Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan Sasuke? Dia sudah menebak-nebak sedari tadi, tapi tetap tidak menemukan jawaban yang tepat. Lagipula, Sasuke juga terlalu lama diruang ganti. Seharusnya, dia sudah disini sejak 5 menit yang lalu.
"Sakura..." Sakura melihat kebelakang dan menatap Sasuke dari tempat duduknya.
"Maaf sudah membuat mu lama menunggu, aku ingin memberikan ini padamu." Ucap Sasuke sambil menyodorkan kota kecil padanya.
Dia memerhatikan kotak beludru kecil itu, dari luar tampak mewah dengan tulisan perak Uchiha Sasuke & Uchiha Sakura. Dengan tak kuasa, Sakura membuka kotak itu dan lansung tidak percaya dengan apa yang ada didalamnya.
Sepasang cincin berlian yang cantik, dengan lambang Uchiha dan inisal U.S & U.S .
"Inilah hadiah pernikahan sebenarnya dari Karin-nee, dia ingin aku yang memberikannya kansung padamu. Kemarikan tangan mu, Sakura." Sasuke mengambil tangan Sakura, dan mesematkan cincin tersebut dijari masinnya.
"Mulai sekarang, nanti, atau kapanpun, kau akan tetap menjadi istriku." Sakura tidak tahan untuk tidak memeluk Sasuke erat. Sekarang dia merasa, kalau dia tidak akan bisa hidup tampa Sasuke.
"Pasti, itu pasti Sasuke-kun." Jawabannya yang masih memeluk Sasuke.
Dan seorang gadis yang memerhatikan mereka sejak tadi? Dia merasa menyesal! Sangat-sangat menyesal! Kenapa dia mengikuti pasangan itu jika hanya membuatnya terluka seperti ini. Dia bertekad, bahwa kebahagian yang Sakura rasakan itu hanya sementara. 'lihat saja, aku akan merebut Sasuke-kun dari mu!' bathinnya sambil meninggalkan tempat memuakkan itu. Dalam hati, Shion berjanji bahwa dia tidak akan menginjakkan kaki di atap lagi. Tempat paling tidak disukainya disekolah.
.
.
.
.
.
*TBC*
Chapter tujuh is up^^
Karena urusan didunia nyata, aku jadi lama update, maaf yaa;;))
Balasan review:
A panda-chan: Ini udah lanjut:) karin itu kakak perempuanya Sasuke, review lagi?^^
Uchiha javaraz: karin disini jadi kakak perempuannya Sasuke:) makasi reviewnya^^
Fansanime: hubungan sasusaku lancar kok;;)) tenang aja::)) review lagi?^^
Bang Kise Ganteng: karin jadi kakaknya Sasuke;;)) mind to review again?^^
Williewillydoo: ini udah lanjut::)) tapi karin disini gak jahat yaa :D review again?^^
BlackHead394: ini udah next;;)) review lagi?
Orange: sasukan emang sweet;;)) mind to review again?^^
Hikaru Sora 14: ini udah next;;)) review again?^^
Okaerioka: ini udah update lagi::)) review?^^
Bougenville: ini udah lanjut;;)) review lagi?^^
ArukichiArakida: karin kakaknya Sasuke::)) ini udah next, review lagi?^^
echaNM: ini udah update;;)) karin itu Cuma kakak perempuan sasuke kok :D review again?^^
yencherry: ini udah banyak kah? Udah lanjut;;)) mind to review again?^^
JungHa-'ySasu: karin adalah bagian dari keluarga Uchiha xD ini udah next;;)) review lagi?^^
Luca Marvell: bukan kok, karin aku buat chara baik disini::)) review again?^^
Niau: ini udah lanjut :D makasi review nya^^
Bagi yang belum jelas tentang Karin, coba preview lagi deh chapter tiga, waktu adegan di bandara #yaelah kayak film aja xD# abaikan trus bagi yang ingin tau tentang penyakit karin bisa di searching di paman google :D dan kalo masih ada typo saya mohon maaf yaa;;)) see you chapter selanjutnya^^
Sign, TaySky1998
