Chapter Delapan
*Awal Dari Semuanya*
Selama dua bulan yang dilalui Sakura disini, baik-baik saja. Dia merasa hidupnya baru sempurna sekarang. Mempunyai keluarga yang lengkap, sahabat yang selalu mendukung, dan didampingi orang yang spesial. Hari-hari yang dilaluinya terasa menyenangkan.
Seperti sekarang. Saat ini dia berada ditempat merias diri langganan kakak ipar-nya, Karin. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk pesta pernikahan Itachi dan Hana. Awalnya Sakura tidak ingin kesini, tapi ibu mertuanya bersikeras agar menantu kesanyangannya itu mengikuti perintahnya.
Dan tentu Sakura sendiri tidak dapat menolak, siapapun dirumah Uchiha tidak bisa berangrumen lebih pada nyonya utama Uchiha itu. Alhasil, sampailah Sakura disini, mencoba memerhatikan penampilannya dicermin besar ditempat itu.
"Apakah ini tidak terlalu berlebihan, Nee-san?" tanya gadis itu sedikit risih melihat penampilannya.
Karin lelah menjawab pertanyaan Sakura, ini sudah kelima kalinya dia bertanya begitu. Dan sudah kelima kali pula Karin menjawab dengan jawaban yang sama.
"Sakura, kalau kau bertanya begitu sekali lagi. Serius, aku akan meninggalkan mu disini." Karin tak habsi pikir, penampilan Sakura sungguh menawan. Apalagi yang salah? Apakah rambutnya yang digerai bergelombang itu? Lalu apakah make-up wajahnya yang natural itu? Atau gaunnya yang berpotongan lengan pendek, melekat ditubuhnya, dan mengembang dibagian bawah yang berwarna biru laut itu? Atau pada tiara kecil yang berada dirambutnya itu? Atau pada apa? Dia benar-benar tidak mengerti.
"Tapi Karin-nee, aku-"
"Sakura, masuk kedalam mobil atau aku benar-benar marah padamu."
Sakura lansung berbalik, dan berjalan menuju mobil. Karin yang sedang serius memang mengerikan. Dia tidak mau berurusan dengan kakak iparnya yang seperti itu.
Karin hanya dapat menghela napas melihat kelakuan adik iparnya. Sakura itu menawan, jadi apa saja yang dikenakannya pun tidak akan dapat membuatnya terlihat buruk. Hanya saja, Sakura krisis percaya diri. Kalau tidak dipaksa, dia pasti akan berdiri dikaca besar itu sampai acara selesai.
Ballroom hotel mewah itu sudah dipadati oleh para undangan. Bahkan, tulisan Happy Weeding Uchiha Itachi & Namikaze Hana dengan tinta emas pun ikut menghiasi. Upacara sakralnya sudah dilaksanakan tadi siang, dan sekarang acara resepsi. Time to party!
Sasuke tampak gusar sedari tadi, sudah memerhatikan sekeliling pun dia tetap tidak mendapat jawaban apa-apa. Sekalipun kegiatan ini menjadi kegiatan rutinnya beberapa waktu lalu. Apa yang pria tampan dengan tuxedo-nya ini cari sekarang? Yang membuat teman-temannya jengah dengan kegiatan rutin mendadaknya itu.
"Aku tau kau tidak bisa jauh dari Sakura-chan terlalu lama, teme. Tapi, jangan berlebihan seperti ini." Perkataan Naruto itu sukses membuat Sasuke menatap tajam padanya. Dia berhenti setelah merasa tepukan Sai dipundaknya dan berkata.
"Sudahlah, dari pada kau menatap Naruto seperti itu. Lebih baik kau melihat sesuatu disana, Sasuke."
Sasuke lansung mengarahkan pandangannya pada telunjuk Sai, dan mendapati seorang Uchiha Sakura tersenyum dengan indah. Dia tidak memalingkan wajahnya sedikitpun dari pemandangan yang mempesona itu. Sakura sangat cantik, persis seperti bidadari. Apalagi dengan senyum nya yang sangat indah melangkah perlahan mendekati Sakura, dan memberikan lengannya untuk Sakura gandeng.
"Ayo, kau harus bersama ku. Kita akan lengkap jika begini." Sakura hanya mampu tersenyum manis mendengar perkataan Sasuke, dia menggandeng tangan Sasuke dan berjalan bersama-sama menikmati pesta. Sakura bahagia, sangat bahagia. Tapi, dia takut, jika terlalu bahagia seperti ini. Pasti ujung-ujungnya akan berakhir buruk.
Shion memandang pasangan itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Sebenarnya, dia ingin sekali menolak undangan Naruto untuk datang, tapi Naruto memaksanya. Kalau dipikir-pikir, apa maksud Naruto mengundangnya kesini? Untuk memperlihatkan kebersamaan Sasuke bersama Sakura itu? Atau ini ide dari Sasuke agar dia tau kalau Sasuke sudah hidup bahagia tampanya.
Sampai saat ini, Shion tetap mencari celah agar dia dapat memisahkan pasangan itu. Tapi, Sasuke selalu bersama Sakura. Seperti sepasang sepatu, tidak akan berfungsi kalau yang satunya tidak ada. Ino hanya memandang jauh Shion dari mejanya, kenapa perempuan itu ada disini?
"Hinata, kenapa Shion ada disini?" bisik Ino pada Hinata yang ada disebelahnya.
"Aku juga tidak tau Ino-chan, mungkin Naruto-kun yang mengundangnya."
"Benar, hahh... dasar baka!" Sakura mendengar apa yang dibicarakan Ino dan Hinata sedari tadi.
Dia mengikuti arah pandang Ino, dan menemukan Shion duduk sendirian yang berjarak tiga meja dari tempatnya. Benar! Orang itu yang mengaku-ngaku sebagai kekasihnya Sasuke. Dalam pikiran Sakura, mungkin sekarang lah saat yang tepat untuk melihatkan kepada Shion kalau Sasuke itu suaminya.
"Naruto, bukankah dia satu sekolah dengan kita kan? Kenapa tidak diajak saja? Hei! Ayo bergabung disini!" merasa Sakura memanggilnya, Shion melangkah mendekati mereka. Apa tujuan Sakura memanggilnya?
"Hai semua dan Sasuke." Sakura melihat dengan jelas kalau Sasuke menengang saat Shion menyapanya. 'sekarang aku berpikir, pasti ada sesuatu yang tejadi, ya kan Sasuke-kun? Apa yang kau sembunyikan dariku?' pikir Sakura sendu.
"Silahkan duduk, kita belum berkenalan kan? Aku Uchiha Sakura, kita pernah bertemu ditoilet waktu itu." Tambah mendengar suara Sakura, membuat Sasuke lebih tegang lagi. Jadi, Sakura sudah bertemu Shion sebelumnya? Semoga saja Shion tidak berkata yang aneh-aneh. 'Uchiha ya? Kita lihat saja nanti apa yang terjadi Uchiha Sakura.' Bathin Shion sinis sambil menatap tangan Sakura.
"Terima kasih, namaku Shion."
Ino dan Hinata yang sedari tadi memerhatikan mereka, takjub pada Sakura. Memperkenalkan diri sebagai Uchiha? Briliant sekali Sakura. Dan pada saat yang sama, telfon Sasuke berbunyi, menghilangkan suasana asing ini.
"Aku akan pergi sebentar, ayah ingin berbicara dengan ku." Ucapnya sambil mengusap tangan Sakura dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Setidaknya, dia dapat menghirup udara bebas.
"Ayah."
"Ah, masuk Sasuke." Pemuda itu berjalan pelan, ke tempat ayahnya berada.
"Ada apa ayah memanggil ku?"
Sebenarnya, dia juga tidak tega melibatkan Sasuke. Karena anaknya itu masih dalam kegiatan menimba ilmu. Tapi, mau bagaimana lagi.
"Intinya saja Sasuke, ayah ingin agar kau mengurus perusahaan yang ada di California sementara waktu. Itachi akan pergi berbulan madu bersama istrinya, jadi ayah hanya bisa mengandalkan mu. Perusahaan disana membutuhkan perhatian lebih." Kalau ayahnya sudah meminta seperti ini, itu tidak mungkin ditolak.
"Baiklah ayah, berapa lama?"
"Hanya dua minggu."
Dua minggu? Itu waktu yang cukup lama, tapi menolak permintaan ayahnya juga tidak baik. Lagipula, kalau dia merindukan Sakura, dia bisa menghubungi istrinya itu.
"Baik, ayah. Aku akan berangkat besok." Ya, hanya dua minggu. Dan semuanya selesai.
"Kalau sudah sampai, segera menghubungi ku ya? Sasuke-kun." Ucap Sakura sambil mengancingkan jaket Sasuke dan memakaikan topinya.
Saat ini mereka berada di Narita Airport. Sasuke lebih memilih menaiki pesawat umum daripada pesawat pribadi.
"Tentu saja Sakura, sekarang kembalilah pulang. Kau pasti lelah gara-gara pesta semalam." Sasuke memeluk Sakura erat, mencoba mengingat wangi Sakura saat dia pergi jauh nanti. Cherry.
"Baiklah, jaa Sasuke-kun."
Sasuke hanya mampu tersenyum saat Sakura melangkah pergi meninggalkannya. Kenyataannya, dia tidak bisa jauh dari Sakura. Tapi untuk membawa Sakura pergi pun rasanya tidak mungkin.
Setelah melihat Sakura pergi dengan mobilnya, Sasuke segera memasuki wilayah bandara. Tapi, langkahnya terhenti saat suara memanggilnya.
"Sasuke-kun..."
"Shion?"
Mereka duduk dikafetaria bandara, Shion mengajaknya untuk berbicara. Sasuke juga tak habis pikir, darimana Shion tau dia berada disini.
"Lansung saja, aku tidak punya banyak waktu." Shion hanya diam, tak menanggapi perkataan Sasuke.
Dia tidak menyesal mengikuti Sasuke dan Sakura kemarin, sehingga dia tau Sasuke akan pergi sekarang. Gadis itu memantapkan langkahnya untuk memisahkan Sasuke dari Sakura. Dan, inilah waktu yang tepat.
"Harapan utuk hubungan kita memang tidak ada sepertinya, apalagi gadis itu datang. Semuanya terasa berbeda, aku seperti racun bagi Sasuke-kun. Makanya, Sasuke-kun tidak pernah berbicara padaku lagi."
Gadis itu tetap tersenyum saat pemuda didepannya ini tetap diam. Rasanya, lebih baik seperti dulu. Walaupun Sasuke mengacuhkannya, dia tetap menatap Shion jika perempuan itu bicara. Tapi sekarang, jangankan menatap, melirik pun enggan.
"Yang kau katakan itu istriku, Shion. Dari awal, harapan untuk hubungan kita nol. Tidak ada." Shion tersenyum getir mendengar perkataan tajam Sasuke. Hatinya terasa lebih sakit saat Sasuke mengatakannya terus terang. Dan semua karena, Haruno Sakura. Bukan Uchiha lagi baginya.
"Sepertinya memang begitu, makanya kemarikan ponsel mu, Sasuke-kun." Tangan Shion bergetar, dia mencoba menahan tangisnya sekarang.
Sasuke memandang uluran tangan itu dengan aneh, apa maksud perempuan ini? Kalau ingin mencari kenangan tentang dia? Sasuke sudah menghilangkan sejak Sakura datang. Dan kenangan itupun hanya nomor ponsel, bahkan foto dirinya dengan Shion saja enggan dia simpan.
Shion tidak memperdulikan tatapan tajam Sasuke, yang dia perlukan hanya nomor Sakura. Hanya itu, dan rencananya akan berhasil. Setelah dia menemukan nomor ponsel Sakura, dia mengirim nomor itu dan segera menghapus pesan terkirim dari ponsel Sasuke.
"Tidak ada Shiom, jika kau mencari sesuatu yang berhubungan dengan mu di ponsel ku."
"Memang tak ada, dan lihat, ayah mu menghubungi mu Sasuke-kun." Lansung saja Sasuke merebut ponselnya dari tangan Shion dan pergi menjauh untuk menjawab panggilan ayahnya.
"Moshi-moshi?"
"Sakura, ini aku. Shion."
Ckittt...
Gadis itu lansung berhenti mendadak saat mendengar suara yang tidak ingin dia dengar. Shion menghubungi nya? Untuk apa?
"Ya, ada apa Shion?"
"Tidak ada, aku hanya ingin meminta maaf padamu. Karena, sepertinya sikap ku kemarin kurang sopan." Sakura mendengar Shion was-was, berharap apa yang dikatakan gadis itu hal yang tidak buruk.
"Tak apa, kita kan baru saling mengenal. Jadi wajar jika kau bersikap seperti itu." Ucapnya pelan mencoba menghalau pikiran buruk yang ada dikepalanya. Tapi, pikiran itu terhenti saat dia mendengar suara Sasuke. 'Sasuke-kun? Kenapa dia ada bersama Shion? Ini? A-apa yang terjadi sebenarnya?' pikiran Sakura benar-benar kacau sekarang.
"Ah, kau sudah kembali Sasuke-kun? Baiklah, aku akan menghubungi lagi kapan-kapan. Bye." Shion dengan sengaja tidak menyebut nama Sakura, karena dia tidak ingin rencana nya gagal.
Dan gadis yang berada dimobilnya itu? Dia terdiam, tangannya bergetar. Kenapa Sasuke bisa bersama Shion? Kenapa? Bukankah Sasuke akan pergi ke California? Kenapa? Bagaimana? Kepala terasa pusing, dan air matanya mengalir begitu saja dengan deras. Hatinya sakit. Sangat-sangat sakit. Sehingga, untuk berteriak saja rasanya tidak mampu.
Sasuke bangkit dari kursinya, mengambil tasnya tampa menatap Shion sedikit pun.
"Aku harus pergi sekarang."
"Ya. Sayonara, Sasuke." Shion tidak bergeming sedikit pun dari tempatnya. Menatap Sasuke jauh darinya seperti ini, memang membuat hati gadis itu tidak rela.
Dalam pikirannnya, dia tidak akan membiarkan Sasuke melangkah menjauhinya sedikit pun. Dan tadi adalah salah satu langkah awal, langkah awal yang cerah untuk mengambil Sasuke kembali.
Gadis itu tersenyum senang, Sakura pasti merasakan sakit yang dia rasakan saat ini. Dan itu baru duri pertama. 'masih kah kau berani menyebut dirimu Uchiha, eh? Haruno?' sinis Shion dalam pikirannya.
.
.
.
.
.
*TBC*
Chapter 8 up^^
Balasan review:
A panda-chan: ini udah lanjut::)) review again?^^
Syahidah973: ini udah update;;)) review lagi?^^
Bougenville: ini udah lanjut::)) review again?^^
williewillydoo: siapa ya? xD hehe::)) review lagi?^^
ayuua: ini udah lanjut ;;)) review lagi?^^
BlackHead394: yukk mari kita bacok xD ini udah next;;)) review again?^^
yencherry: ini udah lanjut ::)) review lagi?^^
Hikaru Sora 14: ini udah next;;)) review again?^^
Jamurlumutan462: hehe :D ini udah next ;;)) review lagi?^^
Terima kasih bagi yang udah fav&foll dan read&review dan maaf bila typo bermunculan^^
Sign, TaySky1998
