chapter 2

pada kehidupan kejujuran dan keadilan hanyalah sebuah lelucon bagi adalah kebenaran mutlak yang paling mendominasi. pada dasarnya seluruh makhluk hidup memakai hukum yang sama yaitu hukum rimba, namun dalam kehidupan umum menyelubungi hukum tsb dengan berbagai kebohongan seperti hal-hal mengenai kebenaran, cinta, perdamaian dan keadilan.

Sebelumnya

Naruto langsung menghilangkan pedang apinya, dan berniat meninggalkan tempat itu, Namun sebuah tangan menahan bahunya.

"Naruto, apakah kau ingin membunuh saudaramu?" tanya Minato yang tengah memegang bahu Naruto.

Memicingkan sebelah matanya, Naruto menepis tangan Minato dengan kasar.

"Ku katakan sekali lagi, Namikaze-sama. Aku Naruto, tak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga anda." tegas Naruto.

Ia pun hendak pergi dari tempat tersebut. Kaki Naruto terbakar dengan cukup besar. Menggunakan api di kakinya, Naruto terbang layaknya jet, meninggalkan lapangan dan Minato yang masih menatap tangan yang tadi telah ditepis oleh Naruto...

Warning: OOCNaru!StrongNaru!GodlikeNaru!Berantakan!GrayNaru!LiveMinaKushi!TYPO!

Minato memandang tanganya dengan tatapan yang sulit diartikan. Marah,kesal,sedih,menyesal, seluruh emosi bercampur menjadi satu, melihat betapa menyedihkan dia adalah pemimpin desa terbaik namun, menjadi seorang orang tua yang benar-benar gagal. Pandangan matanya beralih, menatap Menma yang tengah pada posisi terduduk dengan sorot mata yang begitu ketakutan, tubuhnya bergetar tak karuan dengan seluruh tubuh dibasahi keringat dingin yang terus mengucur. Minato mendekati dan langsung menggendong tubuh Menma yang menggigil ala bridal style.

"Tenanglah Menma, itu tak akan terjadi lagi padamu, Tou-san berjanji."

Ketakutan pada wajah Menma berangsur-angsur menjadi lebih tenang dan jatuh terlelap pada gendongan Minato.

'akan aku buat Naruto kembali ke keluarga kita, itu pasti' batin Minato.

"Iruka, maaf atas gangguan ini. kau bisa melanjutkan kegiatanmu." tutur Minato.

"Hai, Hokage-sama" balas Iruka.

Setelah mendapat balasan dari Iruka, Minato langsung menghilang dalam kilatan kuning. Melihat kepergian Minato, Iruka mengalihkan pandangannya ke para calon genin yang masih diam di tempat mereka masing-masing.

"Baiklah anak-anak, besok adalah pengumuman ROTY dan pengumuman kelulusan genin." terang Iruka.

#Tempat Naruto

Di tengah hutan yang dapat membuat bulu kuduk seseorang merinding, seorang bocah berdiri termangu menatap jauh entah kemana. mata birunya begitu kosong bagai tak memiliki jiwa dalam raga mungilnya. Air mata trus mengalir pada pipi kecoklatan miliknya. Tangannya trus terkepal dengan erat hingga buku jarinya memutih.

"AAAARRRRRGGGHHH!" Teriakan yang menggambarkan betapa hancurnya mental sang penyeru. Api merah menyala, berkobar dengan liar disekitar tempatnya berdiri. Menggambarkan bahwa sang pemilik api tak ingin diganggu. Deretan gigi putihnya saling beradu menghasilkan suara yang dapat di dengar jelas oleh telinga manusia.

DUAARRRR!

Ledakan terjadi saat tanah menghantam tubuh mungil Naruto. Tubuh Naruto terseret beberapa meter sebelum tubuhnya berhenti menabrak sebuah batu yang besar dan meninggalkan bekas seperti jaring laba-laba pada batu besar tersebut. Dengan mata setengah terpejam Naruto berusaha melihat siapa pelaku penyerangan dirinya, matanya membulat sempurna saat melihat sosok yang amat familiar dimatanya, tengah berjongkok dengan kedua tangan tengah menyentuh tanah serta percikan-percikan listrik berwarna biru di sekeliling orang itu.

"Edward nii-san" Naruto gemetar saat menyebut nama orang yang perlahan namun pasti tengah menuju ke arahnya. Orang yang dipanggil Naruto dengan Edward tersebut berdiri dengan gagah di depan Naruto yang masih menempel pada batu besar tadi. Mata biru Naruto terus bergerak tak karuan seolah-olah tak ingin mempertemukan pandangannya dengan pemuda yang masih berdiri di depannya. Pemuda yang cukup dewasa tersebut menyentil dahi Naruto dengan pelan.

"Apakah itu Naruto yang selama ini ku kenal?" Tanya Edward lembut dengan senyum manis yang terukir di wajah tampannya. Tangan yang tadi untuk menyentil dahi Naruto beralih mengelus surai kuning anak itu.

"Bukankah aku pernah berkata bahwa, dunia ini akan selalu berubah, jadi trus perkokoh tekadmu Naruto." Tutur Edward dengan tegas.

"Tapi ini-..." Perkataan Naruto terpotong saat telunjuk Edward menutup mulut Naruto.

"Kau tak perlu menjelaskannya, karena aku melihat semua yang terjadi di ujian genin tadi. Aku tahu kau benar-benar marah saat mendengar dengan mudahnya Hokage itu menyebutmu anaknya. Tapi aku juga tak bisa menyalahkan Hokage itu untuk memanggilmu anaknya karena kalian masih terikat hubungan darah." jelas Edward yang berjalan menjauh dari Naruto yang masih tertunduk meresapi segala perkataan dari Edward. Naruto benar-benar menganggap pria yang berjalan menjauhinya, sebagai kakak, guru dan orang yang paling berharga baginya. Entah bagaimana ia bisa bertahan dari jurang kegelapan jika saat itu Naruto tidak bertemu dengan Edward. Segala hal tentang Edward adalah hal yang harus ia pelajari. Memejamkan kedua matanya Naruto pun terlelap, memasuki alam mimpinya.

#Namikaze mansion

Di ruang tengah keluarga Namikaze, sang nyonya Namikaze tengah sibuk dengan kegiatan bersih-bersihnya. Namun kelihatannya kegiatan harus dihentikan karena seseorang mengetuk pintu kediaman Namikaze. Pintu rumah kediaman Namikaze pun terbuka, dan masuklah Minato dengan Menma yang masih tertidur dalam gendongan Minato.

"ASTAGA! Minato, apa yang terjadi dengan Menma?" tanya wanita itu.

"Sebelum itu, apakah Naruto sudah pulang Kushina?" tanya Minato.

"Eh...Naruto, sepertinya belum pulang. Aku tidak melihatnya dari pagi."

"Haaahh...sudah kuduga, kita benar-benar tidak mengetahui tentang Naruto." Minato pun menidurkan Menma ke sofa rumahnya.

"Apa maksudmu Minato? Naruto itu anak kita tebane." sangkal Kushina

Tangan kanan Minato pun memijit keningnya layaknya orang tengah frustasi. Duduk merebahkan diri pada sofa yang berada di samping tempat Menma tertidur.

"Kau tahu, yang membuat Menma seperti ini adalah Naruto." Tutur Minato yang tengah memandang Menma yang masih tertidur. Mata violet milik Kushina membulat saat mendengar pernyataan Minato. Kaki jenjangnya mengambil beberapa langkah kebelakang karena mendengar kabar yang mengejutkan baginya.

"I-i-itu tidak mungkin Minato, Naruto itu tidak mungkin berbuat seperti yang kau katakan. Selain itu, Menma lebih kuat dari Naruto yang tanpa chakra."

Menghela nafas panjang, Minato menatap Kushina dengan serius.

"Entah bagaimana Naruto dapat mengeluarkan kekuatan yang aneh, ia dapat memanipulasi api dengan sesuka hatinya. Selain itu tubuhnya dapat berubah menjadi api, seolah-olah Naruto adalah api itu sendiri." terang Minato

Penjelasan dari Minato membuat Kushina jatuh terduduk. Tubuhnya bergetar tak karuan. Minato yang tak tega melihat keadaan istrinya yang tak karuan, mencoba untuk menenangkannya.

"Sejujurnya, yang paling menyakitkan, Naruto menganggap kita bukan keluarganya." sambung Minato

"hiks...hiks...hiks...bagaimana bisa Naruto menjadi seperti itu ttebane?" Tanya Kushina disela tangisnya.

Minato memegang kedua pundak Kushina, mata violet dan shappire saling menatap. Gestur tubuh Kushina kembali tenang saat mata milik suaminya menatap matanya.

"Aku berjanji, Naruto pasti akan kembali ke rumah ini."

Mendengar ucapan suaminya, Kushina menjadi lebih tenang. Mata violetnya yang sempat meredup, telah mendapatkan sinarnya kembali.

"Apakah kita telah berbuat salah pada Naruto berbuat seperti itu?" tanya Kushina.

"Haahh... kita telah membuat kesalahan besar, karena selama ini tidak pernah memperhatikannya sama sekali." sahut Minato

Menundukkan kepalanya, Kushina benar-benar tidak mengetahui jika telah membuat kesalahan yang sangat besar. Memorinya kembali mengingat segala sesuatu tentang Naruto. Namun sayang ia benar-benar tidak mengetahui tentang Naruto. Apa hobinya? Apa kesukaannya? Siapa temannya? Pertanyaan tentang Naruto terus terngiang di benak Kushina. Sekarang Kushina sangat bersalah pada Naruto. Ia berharap agar Naruto mau memaafkannya dan kembali menjadi satu keluarga yang utuh. Kushina sangat ingin sekali bertemu anaknya.

#Uchiha Mansion

BUUMMM!

Suara ledakan kecil terjadi di training ground Uchiha saat sebuah bola api dengan diameter 2 meter menghantam sebuah pohon yang tak berdosa. Tak ayal sang korban hantaman bola api itu menjadi hangus tak berbentuk. Tersangka pembakaran, hanya menatap datar korban hantaman jutsunya. Deretan gigi putihnya saling beradu, tangannya mengepal dengan erat hingga buku jarinya memutih.

"Kenapa?! Kenapa bocah lemah itu mempunyai jutsu sehebat itu? Kenapa bukan aku yang seorang Uchiha?!" teriakan bocah emo tersebut menggema diseluruh Uchiha Mansion.

"HEEYAAHHH!"

BUUMMMM!

Tanah yang di pijak bocah itu terbentuk kawah diameter setengah meter, saat pukulan berlapis chakra menghantam tanah pijakannya. Debu mengepul di sekitar kawah tadi.

"Aku harus bisa mengalahkan si lemah itu, dengan begitu jalanku menuju membunuh Itachi semakin dekat."

Seringaian iblis terukir dengan jelas pada wajah bocah Uchiha itu. Mata onixnya memancarkan keinginan yang begitu kuat untuk mengalahkan seseorang yang tadi dia sebut dengan sebutan si lemah.

#Unknown place

Sesosok makhluk yang bisa dikatakan cukup unik maupun aneh muncul dari lantai ruangan tersebut. Tubuhnya berwarna hitam dan putih dengan sesuatu seperti tumbuhan venus fly trap yang menyelimuti tubuhnya. Sosok itu menatap seseorang yang tengah membelekanginya. Orang tersebut membalikkan tubuhnya menghadap sosok yang muncul dari lantai tadi.

"Ada berita apa Zetsu?" Tanya orang bertopeng lolipop berwarna oranye dengan sebuah lubang di bagian kanan topeng yang memperlihatkan mata merah darah dengan 3 tomoe yang bersinar dalam gelapnya ruangan itu. Sebuah senyuman aneh terukir pada wajah makhluk setengah putih dan hitam yang dipanggil Zetsu tadi.

"Berita ini tentang si jenius Namikaze yang tidak memiliki chakra. Aku melihat bocah itu dapat memanipulasi api sesukanya, dan yang lebih hebatnya dia dapat mengubah tubuhnya menjadi api." katanya dengan nada konyol.

Mata merah darah milik orang bertopeng memancarkan sebuah ketertarikan mendengar berita yang disampaikan Zetsu. Tiga tomoe pada matanya berputar dengan pelan, memberi kesan menakutkan pada orang ini.

"Dia bisa menjadi bidak yang menarik dalam rencana ini. Dengan IQ yang tinggi dan sekarang kekuatan api yang unik menjadikannya benar-benar sempurna." kata orang bertopeng.

Seringai maniak akan terlihat dengan jelas di wajahnya jika saja dia melepaskan topeng lolinya.

"Zetsu terus awasi anak itu. Jangan biarkan informasi apa pun tentangnya sampai terlewat!"

Zetsu mendengar perintah orang bertopeng tersebut hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan perintah yang ia terima. Dengan perlahan tubuhnya terbenam dalam tanah.

"Tinggal menunggu sedikit lagi, maka rencana mata bulan akan terwujud." seru orang bertopeng entah pada siapa.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Energy flow: Trims sarannya. Buat kenapa gubuknya gak ketahuan ada di chapter depan

Dan bagi yang sudah baca fic ane ini ane ucapin terima kasih….

akaryuzetsu99 LOG OUT…