Pada kehidupan kejujuran dan keadilan hanyalah sebuah lelucon bagi masyarakat.
Kekuatan adalah kebenaran mutlak yang paling mendominasi. Pada dasarnya seluruh makhluk hidup memakai hukum yang sama yaitu hukum rimba, namun dalam kehidupan umum menyelubungi hukum tsb dengan berbagai kebohongan seperti hal-hal mengenai kebenaran, cinta, perdamaian dan keadilan.
Sebelumnya:
"Dia bisa menjadi bidak yang menarik dalam rencana ini. Dengan IQ yang tinggi dan sekarang kekuatan api yang unik menjadikannya benar-benar sempurna." kata orang bertopeng.
Seringai maniak akan terlihat dengan jelas di wajahnya jika saja dia melepaskan topeng lolinya.
"Zetsu terus awasi anak itu. Jangan biarkan informasi apa pun tentangnya sampai terlewat!"
Zetsu mendengar perintah orang bertopeng tersebut hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti dengan perintah yang ia terima. Dengan perlahan tubuhnya terbenam dalam tanah.
"Tinggal menunggu sedikit lagi, maka rencana mata bulan akan terwujud." seru orang bertopeng entah pada siapa.
Warning: OOCNaru!StrongNaru!GodlikeNaru!Berantakan!GrayNaru!LiveMinaKushi!TYPO!
Di sebuah hutan belantara, seorang bocah tengah terlelap dengan posisi terduduk di sebuah batu besar. Sinar mentari pagi menembus lebatnya hutan. Cahaya yang lolos dari haluan daun-daun pohon yang lebat mengenai wajah bocah tengah tertidur pulas. Tak ayal ia pun harus meninggalkan alam mimpi yang membuainya. Mengerjapkan mata blue shappirenya beberapa kali untuk menyesuaikan dengan intensitas cahaya pagi hari. Mengumpulkan seluruh kesadarannya, anak bersurai merah api itu mencoba berdiri dengan menggunakan batu yang tadi malam ia gunakan tidur. "Hoammm...!" Erangan keluar dari mulut mungilnya. Merenggangkan tubuh kecilnya yang kaku paska tidur. Berjalan sempoyongan menuju sebuah sungai yang cukup dekat dengan tempatnya tidur. Membasuh mukanya yang lelah dengan air sungai yang benar-benar membuat penat yang membebaninya berkurang. Menanggalkan seluruh pakaian yang ia pakai, bocah itu membersihkan dirinya di tepi sungai. Saat air membasuh tubuhnya entah kenapa seolah-olah kekuatan yang ia miliki melemah.10 menit kemudian ia selesai mandi dan mengenakan pakaiannya. Api yang cukup besar muncul di kaki bocah itu. Melesat menggunakan api di kakinya untuk terbang layaknya sebuah pesawat jet.
#Akademi
Seluruh siswa akademi tengah harap-harap cemas menanti nasib masa depan mereka. Namun diantara mereka juga ada yang tak memiliki kecemasan tentang hal itu seperti si Namikaze muda. Ia entah kenapa terus menatap ke luar jendela. Mata birunya memandang kosong langit yang biru. Warna yang sama dengan mata darinya dan mata dari seseorang yang terbuang dari bersalah tengah menyelimuti hatinya. Dia merasa bersalah karena dia, kehidupan saudaranya sendiri menjadi hancur. CKLEKK...!
Suara terbukanya pintu ruang kelas itu. Seseorang dengan luka horizontal pada hidungnya, membawa beberapa tumpukan kertas pada tangan kanannya. Kedatangan orang itu menambahkan rasa was-was pada hampir setiap murid. Mata hitam milik orang tersebut memperhatikan satu persatu murid di kelas itu. Matanya terpaku melihat sebuah bangku kosong di paling pojok di ruangan itu.
"Ohayo anak-anak, pagi ini adalah hari pengumuman kelulusan ge-..." perkataan orang itu terpotong saat seorang anak kecil berambut merah menarik ujung rompinya.
"Maaf Iruka-sensei, saya terlambat." kata bocah itu dengan sopan sambil membungkukkan tubuhnya. Entah mengapa senyum kecil terukir pada wajahnya saat melihat kelakuan bocah itu yang sangat sopan. Terbesit rasa bingung saat melihat bocah yang dikenalinya sebagai Naruto, dapat menjadi seseorang yang sangat baik saat diperlakukan baik, dan akan menjadi seorang pembunuh saat merasa terancam. Rasa ingin tahu pun terselip pada hatinya, untuk mengetahui siapa yang mengajari hal tersebut pada Naruto.
CKLEEK...!
Suara pintu terbuka, 2 sosok berbeda gender terlihat akan memasuki ruangan. Melihat kedua orang tersebut tatapan Naruto langsung berubah menjadi dingin dan menusuk. Melihat kedua orang itu mulai mendekat ke arah depan kelas, Naruto langsung berjalan menuju pojok ruangan kelas. Kedua orang itu menatap sedih punggung kecil milik Naruto.
"Ehm...! Anak-anak, kita kedatangan tamu terhormat yaitu Hokage-sama dan Kushina-sama." tutur Iruka untuk menghilangkan suasana canggung. Kedua orang yang diketahui sebagai Hokage dan istrinya mengalihkan pandangannya pada murid-murid kelas itu.
"Saya sebagai hokage konoha akan mengumumkan bahwa kalian semua lulus.."
"HOREEE...!"
"YAYYY...!"
Banyak teriakan ungkapan tentang kelulusan mereka dari akademi menjadi seorang genin Konoha. Dari sekian banyak yang bahagia menjadi genin ada seseorang yang tersenyum sinis di sudut ruangan itu. "Huh...! Benar-benar bodoh. Untuk apa kalian berbahagia seperti itu, pemikiran yang naif." pernyataan sinis keluar dari mulut murid yang berada di pojok yang tak lain adalah Naruto. Satu kelas seketika senyap mendengar perkataan Naruto, tatapan mereka langsung diarahkan pada si bocah surai merah itu. "Apa maksudmu Naruto? Bukankah wajar jika kita berbahagia ttebane." Tanya wanita bersurai senada dengan warna rambut Naruto.
"Kushina-sama, jika anda adalah seorang ninja seharusnya anda mengetahui jika telah menyandang gelar sebagai ninja Konoha kita selalu berada dalam keadaan yang mempertaruhkan nyawa kita. Jika menurut observasiku selama ini, para genin yang mengetahui resiko ini hanya 1 orang selain saya yaitu Shikamaru." tutur Naruto dengan nada yang terkesan merendahkan. Mendapat jawaban dari Naruto, wanita yang dipanggil Kushina tadi hanya diam membatu tak dapat menyangkal apa yang Naruto katakan. "Sebenarnya apa maksudmu mengatakan hal seperti itu Naruto?" kali ini giliran sang yondaime bertanya pada Naruto. Memutar matanya dengan bosan, Naruto benar-benar merasa bosan dengan seseorang yang tak memiliki pikiran sepertinya.
"Tak ada maksud apa pun. Saya hanya memastikan bahwa apa yang saya pikirkan itu salah. Namun, apa yang saya pikirkan benar terjadi. Merayakan nyawa mereka terancam, benar-benar naif. Mungkin ini lah hal yang cocok bagi sebuah dunia yang begitu naif." jawab Naruto seadanya. Memasang pose berpikir Naruto mengurut keningnya sendiri.
"Mungkin ini lah yang menjadikan Konoha lemah setiap tahunnya. Seorang emo penuh dendam, seorang anak manja, bahkan fansgirl pun ikut menjadi ninja?! Desa macam apa ini? Menyedihkan..." lanjut Naruto.
"Sudahlah Naruto, kau terlalu kasar pada mereka..."Kata seseorang yang tengah berjongkok di jendela yang terbuka. Seluruh orang di kelas itu mengalihkan direksi pandangannya ke asal suara itu. Naruto yang familiar denga suara orang itu membulatkan matanya. Pasal orang itu adalah orang yang paling berharga baginya.
"Edward nii-san, kenapa ada di sini?" Tanya Naruto kepada orang yang diketahui sebagai Edward. Seluruh menyipitkan matanya karena Naruto dapat berkata dengan nada yang begitu bersahabat. Terbesit pertanyaan, apa hubungan Naruto dengan pemuda berambut kuning itu. Melihat dirinya menjadi perhatian, Naruto memasang wajah datarnya lagi. Lain halnya dengan Edward, dia malah tersenyum dengan manis yang membuat beberapa murid perempuan bersemu merah. "Mohon maaf, siapa anda? Dan kepentingan anda di sini?" tanya Iruka dengan sopan. Pemuda bernama Edward itu hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Oh...maaf. Saya Edward Elric, dan kepentingan saya di sini hanya untuk melihat adik saya, Naruto." Bagaikan sebuah tombak, pengakuan Edward menusuk tepat pada hati keluarga Namikaze.
"Apa maksudmu? Naruto itu anakku, jangan mengaku sebagai kakaknya. Kau itu hanya orang asing." Perkataan dengan nada keras itu keluar dari bibir sang nyonya Namikaze. Ekspresi dari Naruto telah berubah menjadi lebih menggelap dari semula. Berbeda dengan Naruto, Edward malah masih mempertahankan senyum di wajahnya. "Secara teknis, anda adalah ibunya, karena anda yang melahirkan Naruto. Namun secara praktek saya yang lebih memiliki hak untuk menjadi keluarga Naruto. Itu karena saya yang merawat, mengajari, dan menjaga Naruto selama ini." jelas Edward dengan senyum yang masih tercetak pada wajahnya. Terdiam, seluruh bentakan yang akan Kushina keluarkan, seolah-olah hilang tak berbekas. Menundukkan kepalanya, Kushina meremas ujung baju dengan kuat. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa Naruto adalah anaknya, Namun Naruto pun tak ingin melihat ke arahnya walau hanya sedetik saja. Air mata berlinangan dari iris violetnya.
"Hokage-sama, langsung saja anda lanjutkan acaranya." Anjuran dari Edward pada sang Hokage. Iris biru milik yondaime menatap sejenak iris emas milik Edward. merasa apa yang dikatakan Edward ada benarnya, Minato pun melanjutkan acara yang sempat tertunda tadi.
"Baiklah, sekarang pengumuman ROTY, yang mendapat gelar ROTY adalah Uchiha Sasuke. Dan untuk pembagian tim adalah sebagai berikut(Skip aja males nulis). ...Tim 7 Uchiha Sasuke, Namikaze Menma, Haruno Sakura dan Namikaze Naru-..."
"Maaf Hokage-sama, nama saya NARUTO dan hanya NARUTO." perkataan Minato terpotong oleh sanggahan Naruto. Minato mencoba menatap wajah Naruto, namun yang di dapati hanya Naruto yang tengah membaca sebuah buku.
"Huft..." menghela nafas panjang, Minato masih berpikir mungkin Naruto masih perlu waktu untuk dapat kembali ke keluarganya.
"Baiklah, saya ralat. Tim 7 Uchiha Sasuke, Namikaze Menma, Haruno Sakura dan Naruto dengan pembimbing Hatake Kakashi. (lanjutannya sama kayak Canon.)
"Kalian dapat menunggu pembimbing kalian." tutur Minato. Setelah mengucapkan itu, Minato dan Kushina beranjak meninggalkan ruangan itu. Edward yang masih berada di kelas itu, mulai mendekati Naruto. Edward pun Mengelus dengan lembut surai merah milik Naruto "Naruto, selamat untuk kelulusanmu. Tapi ingat, semakin tinggi lapisan atmosfir, maka akan semakin sedikit oksigen yang dapat kau hirup. Dan yang paling penting, hukum seorang alchemist PERTUKARAN YANG SETARA." kata Edward. Mata emas miliknya menatap serius iris biru milik Naruto. Senyum terkembang pada wajah Naruto.
"Itu pasti akan selalu aku ingat nii-san. Ucapanmu adalah pedomanku." kata Naruto membusungkan dadanya. Menanggapi itu Edward hanya tersenyum kecil.
"Oh iya Naruto, aku pulang dulu. Hari ini giliran kau memasak kan?" setelah mengatakan Edward meninggalkan kelas itu.
(SKIP TIME 2 HOURS)
Kini terlihat renang kelas itu begitu sepi, hanya tinggal 3 orang laki-laki dan seorang perempuan di kelas itu. Ekspresi dari ke empat orang itu berbeda-beda, untuk si gadis pink ia tengah mondar-mandir di depan kelas, si rambut kuning tengah menggerutu tak jelas, untuk si emo, ia tengah duduk dengan wajah datar dan si rambut merah sedang tenggelam pada acara membacanya.
POOFFTT...!
Kepulan asap muncul di depan kelas, memperlihatkan seseorang laki-laki dewasa dengan rambut perak yang melawan gravitasi. Orang itu tengah membaca buku bersampul oranye dengan angka 18+ pada ujung buku itu.
"Jadi kalian yang menjadi muridku, baiklah kalian temui aku di atap."
POOFFTT...!
Setelah mengatakan itu orang itu menghilang pada kepulan asap.
"Apa-apaan dia itu, setelah menunggu selama ini dia dengan santainya menyuruh kita ke atap!" kata si pinky "Aku setuju ingin rasanya aku menabrakkan rasengan ku padanya." tambah si kuning menyetujui kata si pinky.
"Sudahlah dobe, lebih baik kita ke atap sekarang." kata si emo.
Mereka bertiga pun beranjak dari sana.
#Atap
Di atap tengah terdapat lima orang yang berkumpul di sana. Jika dilihat mereka semua memiliki variasi warna yang tidak sama.
"Baiklah kalian sudah berkumpul. Kita isi hari ini dengan perkenalan." kata sang guru berambut silver.
"Kenapa tidak sensei beri contoh." balas si pinky. Mendapat balasan seperti itu si Silver hanya menganggukkan kepalanya. Menutup buku yang ia terus baca ia pun meneliti masing-masing sosok di hadapannya.
"Baiklah. Aku Hatake Kakash, yang kusuka banyak, yang tak kusuka tak ada, dan cita-cita belum terpikirkan." Ketiga anak didiknya sweatdrop berjamaah mendengar perkenalannya.
'Jadi hanya namanya saja' pikir mereka bertiga.
"Sekarang mulai darimu pinky." tunjuk Kakashi pada satu-satunya perempuan di sana.
"Aku Haruno Sakura, kesukaanku(melirik bocah kuning dan emo),yang tak ku suka(melirik bocah rambut merah). cita-citaku( melirik bocah kuning dan emo) KYAA!" kata pinky.
'fansgirl' pikir Kakashi.
"Giliranmu kuning" tunjuk Kakashi pada bocah kuning. Si bocah kuning berdiri dengan membusungkan dadanya.
"Aku Namikaze Menma, anak Yondaime Hokage. Yang kusuka ramen dan latihan, yang tak kusuka orang lemah. Dan cita-citaku membawanya kembali(melirik si bocah merah) serta menjadi Hokage terkuat sepanjang masa ." kata si kuning.
'menarik' pikir Kakashi.
"Sekarang kau emo" tunjuk Kakashi pada si emo.
"Aku Uchiha Sasuke, yang kusuka dan yang tak kusuka tidak ada, ambisiku membunuhnya." kata si emo 'pendendam' pikir Kakashi.
"Giliranmu merah" tunjuk Kakashi pada si rambut merah. Menutup buku yang ia baca dari awal, si merah menegakkan tubuhnya.
"Aku Naruto, kesukaanku ilmu, orang lemah, dan penelitian. Yang tak kusuka orang kuat, pemikiran naif. Dan cita-citaku mengetahui rahasia alam semesta yang kita tinggali." kata si merah dengan menatap langit biru. Mengangkat sebelah alisnya, Kakashi sangat bingung dengan perkenalan yang di katakan Naruto.
"Naruto, mengapa kau menyukai orang lemah dan membenci orang kuat?Dan apa maksudmu dengan rahasia alam semesta?" tanya Kakashi. Memejamkan mata birunya sejenak, Naruto menghela nafas panjang.
"Alasanku sangat simpel, lemah akan menyadari bahwa dia adalah makhluk lemah, sedangkan kuat menyombongkan kekuatan yang ia miliki meskipun ada yang lebih darinya. Hasirama dan Madara disebut dewa namun pada nyatanya mereka hanya manusia yang memiliki kekuatan. Orang kuat selalu menindas yang lemah itu sudah menjadi prinsip di dunia ini. Itulah mengapa aku muak dengan orang kuat. Jawaban yang kedua adalah aku mencari ilmu yang membuatku mengetahui seluruh alam semesta. Cara alam semesta ini terbentuk, bergerak dan berakhir. Aku ingin mencari hal yang disepelekan para shinobi, namun amat bernilai harganya. Dan satu alasan lagi aku mencari rahasia alam semesta, aku ingin tahu, mengapa aku harus terlahir menjadi aku..." kata Naruto dengan tatapan penuh tekad. Semua tercengang dengan yang disampaikan oleh Naruto. Kakashi yang telah tersadar dari tercengang mencoba memecahkan suasana.
"Baiklah, kalian memiliki sesuatu yang unik pada diri kalian masing-masing. Besok kita akan adakan survival test untuk mengetahui kelayakan kalian sebagai genin. Dan satu hal lagi jangan sarapan bila kalian tak ingin mengeluarkan isi perut kalian lagi." Ancam Kakashi pada muridnya. Seluruh muridnya berkeringat dingin mendengar hal itu minus Naruto yang masih santai.
"Kalian boleh bubar." kata Kakashi. Ke empat muridnya mulai beranjak pergi dari atap akademi. Kakashi mengalihkan pandangannya pada langit biru. Ia tersenyum di balik maskernya.
"Kali ini sebuah Ruby yang terbuang akan kembali dan bersinar lebih terang dari yang lain" katanya entah pada siapa.
.
.
.
TBC
