Pada kehidupan kejujuran dan keadilan hanyalah sebuah lelucon bagi masyarakat.
Kekuatan adalah kebenaran mutlak yang paling mendominasi. Pada dasarnya seluruh makhluk hidup memakai hukum yang sama yaitu hukum rimba, namun dalam kehidupan umum menyelubungi hukum tsb dengan berbagai kebohongan seperti hal-hal mengenai kebenaran, cinta, perdamaian dan keadilan.

Sebelumnya:

"Baiklah, kalian memiliki sesuatu yang unik pada diri kalian masing-masing. Besok kita akan adakan survival test untuk mengetahui kelayakan kalian sebagai genin. Dan satu hal lagi jangan sarapan bila kalian tak ingin mengeluarkan isi perut kalian lagi." Ancam Kakashi pada muridnya. Seluruh muridnya berkeringat dingin mendengar hal itu minus Naruto yang masih santai.
"Kalian boleh bubar." kata Kakashi. Ke empat muridnya mulai beranjak pergi dari atap akademi. Kakashi mengalihkan pandangannya pada langit biru. Ia tersenyum di balik maskernya.
"Kali ini sebuah Ruby yang terbuang akan kembali dan bersinar lebih terang dari yang lain" katanya entah pada siapa.

Warning: OOCNaru!StrongNaru!GodlikeNaru!Berantakan!GrayNaru!LiveMinaKushi!TYPO!

Seorang anak kecil berambut merah tengah duduk di atas atap sebuah gubuk tua. Matanya terfokus pada bulan purnama yang sangat indah. Pikirannya mengenang kejadian saat ia bertemu dengan kakak angkatnya

#FLASHBACK 6 YEARS AGO

Seorang anak kecil berjalan-jalan di tengah hutan yang sangat lebat. Mata birunya terpaku pada sebuah gubuk tua di tengah hutan. Ia pun berusaha berpikir dengan keras, namun dia tak menemukan apa pun di ingatannya. Seingatnya, tempat gubuk itu berdiri sebelumnya adalah sebuah batu yang sangat besar. Rasa penasaran pun muncul pada hati anak ini. Dia mendekat pada gubuk tua itu,
TOK!TOK!TOK!
Bocah itu mengetuk pintu gubuk. Beberapa menit berlalu, namun tak ada tanggapan dari sang tuan rumah. Mengambil sebuah inisiatif, dia pun membuka pintu kayu itu.
KREEK...!
Kepala anak itu melihat ke dalam gubuk itu. Matanya melihat banyak buku yang tertata dengan rapih pada rak-rak. Dengan takut-takut ia mulai menjelajahi ruangan penuh buku itu. Mulut kecilnya tidak berhenti mengungkapkan kekagumannya pada ruang itu. Lama berkeliling, bocah itu menemukan sebuah buah dengan motif yang aneh. Disamping buah itu terdapat sebuah catatan

' Ini adalah buah setan bertipe logia yang apabila kau memakannya maka kau tak bisa diserang kecuali orang itu menggunakan haki. Buah ini akan memberimu kekuatan api yang sangat kuat tapi konsekuensinya adalah kau tak akan bisa berenang di air manapun dan kau akan menjadi lemah saat kau menyentuh air laut. Pilihlah jalanmu dengan bijak.'

Sebuah seringaian iblis muncul di wajahnya. Dengan cepat ia menghabiskan buah itu dengan cepat. Raut mukanya berubah saat merasakan rasa buah aneh itu. Namun keinginan kuatnya untuk mendapatkan kekuatan, ia pun tak masalah jika hanya seperti itu. Panas, hanya itu yang dapat ia rasakan, setiap mili tubuhnya serasa terbakar. Percikan-percikan api mulai bermunculan di sekujur tubuhnya. Suhu ruangan itu, lama-kelamaan menjadi semakin panas.

BYUURRR!

Api di sekeliling bocah itu padam seketika, mendapat guyuran air dari ember. Mata biru anak itu berkilat tajam, menunjukkan bahwa ia sedang marah. Membalikkan badan mungilnya, matanya melihat seseorang pemuda berambut kuning yang tengah membawa ember kosong. Ekspresi bocah itu semakin beringas melihat seseorang berambut kuning, karena kuning adalah warna milik seseorang yang telah membuatnya sangat menderita. Api merah menyala muncul di kepalan tangan mungilnya. Dengan amarah yang menggebu-gebu melempar api tersebut.

DUUAARRRRRR!

Ledakan kecil terjadi saat bola apinya menabrak sebuah dinding batu, yang entah muncul dari mana. Mata birunya membulat melihat sebuah dinding yang menahan serangannya. Perasaan aneh menjalar pada dirinya, tubuhnya mulai kehilangan kekuatannya untuk berdiri tegak. Berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya, namun apa daya seluruh tenaganya menguap entah kemana. Tubuh mungilnya jatuh terduduk dengan kedua tangan kecilnya membantu menumpu berat tubuhnya. Nafas yang memburu terdengar jelas dari tubuhnya.

TAK!TAK!TAK!TAK!

Langkah kaki seseorang menggema di seluruh penjuru ruangan minimalis itu. Kepala dengan rambut merah itu dia paksa untuk melihat siapa yang tengah mendekat kearahnya. Mata biru yang setengah terpejam itu, menatap sosok pemuda yang berdiri dengan gagah di depannya. Pemuda berambut kuning itu berjongkok di depan anak kecil yang tengah menatap tajam dirinya.
"Seharusnya kau jangan melihatku seperti itu. Aku dan kau tak memiliki permusuhan, bahkan kita tak saling kenal." kata pemuda itu dengan senyum tulus. Mata biru milik anak itu bergetar hebat, ini pertama kalinya ia melihat seseorang tersenyum tulus padanya. Setiap hari yang ia dapat hanya tatapan menghina dari warga desanya. Entah mengapa dia merasa dianggap sebagai dirinya, bukan sebagai makhluk yang sangat hina. Tangan putih milik pemuda itu membelai lembut surai merahnya dengan lembut dan penuh perasaan. "Adik kecil, perkenalkan namaku Edward Elric. Siapa namamu?" tanya Edward dengan nada lembut. Mata blue shappirenya bergetar melihat seseorang yang baru saja ia serang tak berniat untuk menyakitinya.
"Naruto" jawabnya singkat. Edward menaikkan sebelah alisnya mendengar perkenalan Naruto yang tidak memberi tahukan nama marganya. Dengan senyum tulus Edward menatap iris blue shappire Naruto. "Namamu Naruto ya... Kenapa kamu bisa ada di sini Naruto-kun?" tanyanya. Naruto menggigit bibir bawahnya mendengar pertanyaan yang sangat sulit untuk ia jawab. Sekuat tenaga ia mencoba untuk menjawab hal tersebut.
"Aku adalah anak yondaime yang dibuang karena aku hanyalah pengganggu bagi keluarga mereka. Mereka hanya perduli dengan kekuatan tanpa berpikir pada aspek yang lain. Mereka tak melihat keunggulanku, dan hanya melihat kekuranganku." jawabnya dengan begitu sedih dengan nada sarat kesedihan. Mata emas milik Edward membulat mendengar penuturan Naruto. Hatinya benar-benar tersentuh, ia sangat merasa iba terhadap bocah satu ini. Sebuah pertanyaan terlintas di pikirannya, mengapa anak itu dibuang. Menurutnya Naruto memiliki ribuan aspek yang sangat jarang dimiliki anak usianya. Kecerdasan, kelincahan, tata bahasa, analisis dan keteguhan semuanya telah ia miliki, tinggal mengasah dan mengarahkannya, maka Naruto akan menjadi berlian yang sangat berharga kelak. "Naruto-kun, jika kau terbuang, maka aku yang menggantikan mereka. Akan aku ajari bagaimana menjadi bisa dan merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga." tutur Edward dengan nada yang begitu menyakinkan. Mata biru milik Naruto berkaca-kaca mendengar perkataan Edward. Mengusap air matanya dengan kasar, Naruto menatap dengan mata penuh harap wajah Edward.
"Tentu Edward nii-san" katanya dengan yakin.

#FLASHBACK OFF

Senyum tulus di wajah kecilnya tetap terkembang seakan tak akan sirna selamanya. Ingatan masa lalunya benar-benar membuatnya merasa beban di pundaknya lenyap entah kemana. "Naruto, cepatlah tidur. Bukankah besok kau ada tes dari pembimbingmu?" Sebuah suara menginterupsi kegiatannya memandang dewi malam.
"Iya nii-san. Aku akan tidur di luar saja." jawabnya. Dengan perlahan mata birunya mulai terpejam, memasuki alam mimpi.

#SKIP TIME

Malam yang membuai seluruh orang untuk memasuki alam mimpi, telah terganti dengan sang surya yang membangunkan manusia untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing. Di dalam hutan seorang anak kecil tengah melakukan push up di sebuah padang rumput yang cukup luas.
"246...247...248...249...250"
Merasa sudah cukup melakukan aktifitasnya, anak itu mulai beranjak dari sana untuk membersihkan dirinya yang penuh keringat. Menuju sungai terdekat, ia pun hendak membersihkan dirinya.

15 menit kemudian, ia sudah mengenakan baju dalaman warna hitam dengan jubah merah darah. Untuk bawahan ia memakai celana standart jounin, dengan sepatu boot hitam sebagai alas kaki. Rambut merah apinya, dibiarkan berantakan dengan sebuah rambut mencuat layaknya antena. Dengan santai ia mulai pergi menjauhi hutan yang cukup lebat itu.

#TRAINING GROUND 7

Di sebuah lapangan tengah terlihat tiga orang tengah berkumpul disana. Mereka memiliki ekspresi yang berbeda satu dengan yang lain. Jika kita lihat satu-persatu, bocah-bocah itu tengah bergelut dengan pemikiran mereka masing-masing. Suasana begitu hening karena tak ada yang berniat untuk memecah suasana canggung tersebut. Satu-satunya perempuan disana tengah gelisah memikirkan apa yang akan diujikan dalam test kali ini. Bocah berambut kuning malah memilih memandang langit dengan tatapan kosong. Beda lagi dengan si emo, ia malah menyeringai tipis menunggu test tersebut.

2 jam berlalu, namun belum juga tampak batang hidung guru mereka. Si pinky yang awalnya gelisah menjadi menggerutu tidak jelas. Si kuning juga mengikuti apa yang dilakukan si pinky.

POOFFTT!

Seorang bermasker dengan rambut perak yang melawan gravitasi. "Maaf aku terlambat, tadi ada nenek tua yang ingin pulang dengan membawa belanjaan yang banyak. Sebagai orang yang baik, aku membantu nenek itu membawa belanjaannya pulang. Saat aku akan kemari ada seekor kucing hitam. Untuk menghindari sial aku mengambil jalan memutar, yang membuat aku tersesat di jalan yang bernama kehidupan." jelas pemuda itu.
Para muridnya hanya ber-sweatdrop ria mendengar alasan gurunya.
"ALASAN MACAM APA ITU!" teriak si kuning dan si pinky, sedangkan si emo hanya meng-iyakan dengan trademarknya yang khas. Sang guru yang mendapat respon seperti itu, hanya mengeluarkan eye smile.
"Baiklah sekarang, kita mulai tesnya. Aku memiliki 3 lonceng. Tugas kalian, merebut lonceng ini dariku. Tapi sebelum itu, dimana Naruto?" tanyanya kepada ketiga muridnya. Respon dari ketiganya hanya menggeleng tanda tak tahu.
"Sepertinya dia ketakutan sensei" jawab si pinky asal. Mengangguk paham gurunya langsung memasang posisi siap bertarung.
"Baiklah, batas waktu sampai makan siang. MULAI!" teriaknya. Dengan cepat ketiga muridnya menghilang dari sana, menyembunyikan diri mereka masing-masing. Senyum tipis terukir di wajahnya tak kala muridnya dapat menyembunyikan diri mereka dengan baik. Berjalan santai, ia tetap membaca buku laknatnya.

POOFFTT!

Ia menghilang dalam kepulan asap.

#SAKURA PLACE

Gadis muda berambut musim semi ini tengah kebingungan mencari pujaan hatinya. Haruno Sakura nama dari gadis yang beranjak dewasa. Ia berpikir bahwa tes ini adalah tes kesungguhannya dalam memperjuangkan cintanya. PUKK...
Pundak kecilnya di tepuk oleh seseorang. Tak ayal itu membuatnya membalikkan tubuhnya. Saat ini yang tengah ia lihat adalah gurunya yang berdiri di belakangnya. Matanya menangkap gerak bibir dari gurunya di balik masker. Sesuatu yang diucapkan gurunya tak dapat ia dengar. "KYAAA...!" Tak berselang lama teriakan terdengar dari Sakura, sebelum ia pingsan. Kakashi hanya sweatdrop melihat muridnya pingsan karena genjutsu kelas C.
"Bukankah ia ahli dalam genjutsu di akademi?" tanya Kakashi pada dirinya sendiri. Pikirannya harus ia tunda saat beberapa kunai melesat kearahnya. Dengan refleknya sebagai veteran perang dengan mudah ia menghidari kunai tersebut. Tersangka pelemparan yang serangannya gagal, memilih bertarung secara terang-terangan. 2 bocah berbeda warna rambut muncul di hadapan Kakashi. Uchiha Sasuke dan Namikaze Menma adalah tersangka pelemparan kunai tadi yang tengah berdiri di hadapan Kakashi. "Serangan yang cukup bagus. Namun sayang tak mengenaiku." ujar Kakashi. Tanpa aba-aba Menma dan Sasuke melesat maju ke arah Kakashi. Serangan-serangan dilancarkan baik oleh Menma maupun Sasuke, namun Kakashi hanya menangkis seluruh serangan mereka berdua. Merasa yang mereka lakukan tak membuahkan hasil. Kedua bocah itu mundur beberapa meter dari guru mereka. Tanpa menunggu lama keduanya, langsung merangkai segel beberapa segel tangan.

FIRE REALEASE: FIRE BALL

WIND REALEASE: WIND CUTTER

Dari masing-masing mulut kedua bocah itu menyemburkan api dan angin. Kedua elemen yang saling mendukung tadi bergabung menciptakan bola api yang sangat besar. Ukuran dari bola apinya lima kali dari ukuran semula. Bola api dengan diameter 10 meter melesat ke arah Kakashi. Tak mau mati konyol, Kakashi segera merangkai beberapa segel tangan.

EARTH RELEASE: GIANT EARTH WALL

Sebuah dinding besar dari tanah muncul di depan Kakashi, melindunginya dari jutsu api milik Sasuke dan Menma.

BLAARRR...!
Ledakan kecil terjadi saat dua jutsu berbenturan. Kakashi benar-benar tak mengira jika kerja sama antara Menma dan Sasuke begitu baik. Pemikirannya harus buyar saat dua orang hendak menusuknya dengan kunai dari samping kanan dan kiri. Terlambat bergerak Kakashi harus rela tertusuk kunai itu. Senyum kemenangan terukir di wajah mereka berdua.
POOFFTT..!
Namun sayang senyum mereka harus hilang saat target yang mereka tusuk menjadi kepulan asap. Mereka mencoba mencari keberadaan guru mereka. Namun yang mereka dapati hanya padang rumput.

EARTH RELEASE: EARTH TRAP

Sebuah suara membuat mereka meningkatkan kewaspadaannya. Dari dalam tanah sesuatu seperti menarik mereka ke dalam tanah. Seluruh tubuh mereka masuk kedalam tanah dan hanya menyisakan kepala mereka saja. Kakashi yang melihat karyanya hanya tersenyum dalam maskernya.
"Uh... itu tadi hampir saja. Namun sayang, itu belum cukup untuk mengalahkanku." ujar Kakashi. Membalikkan tubuhnya mata Kakashi menangkap seseorang yang dari tadi ia cari. "Naruto, jadi kau dari tadi sudah berada di sini dan bersembunyi. Karena tanpa chakra jadi aku tak bisa melacakmu." tutur Kakashi. Naruto yang tengah berdiri dengan percaya diri hanya menghela nafas panjang. Tanpa menunggu waktu lagi Naruto langsung melesat ke arah Kakashi. Sebuah tendangan dilayangkan Naruto dengan keras. Merasa tak ada waktu menghindar Kakashi menahan tendangan Naruto dengan kedua tangannya menyilang di depan dada. Namun sayang tendangan dari Naruto sangat kuat, yang membuat Kakashi meringis dan terseret beberapa meter kebelakang. Tak sempat Kakashi ingin membalas, sebuah pukulan sudah menuju wajahnya. Dengan reflek yang bagus, Kakashi menghindari pukulan itu dengan menyampingkan kepalanya. Merasa gagal Naruto langsung, memberikan tendangan sapuan. Kakashi yang melihat itu langsung bersalto kebelakang beberapa meter dari Naruto. Naruto yang melihat itu hanya tersenyum tipis saat Kakashi masuk dalam rencana yang telah ia persiapkan dari tadi. Kaki Naruto mengeluarkan percikan api yang membakar minyak di dekat kakinya. Minyak yang terbakar itu mengarah ke tempat Kakashi yang akan mendarat. Kakashi yang menyadari hal itu membulatkan matanya, pasalnya di bawahnya terdapat sebuah tong kecil penuh bubuk mesiu. Dengan cepat ia langsung men-sunshin dirinya menuju pohon di belakangnya.

DUAAARRR!

Ledakan terjadi saat, api mengenai tong penuh mesiu itu. Api yang sangat besar berkobar dengan liar. Kakashi yang melihat itu hanya meneguk ludahnya dengan kasar. Pasalnya ia tidak menyangka jika akan disudutkan secara telak seperti ini. Saat ia akan bernafas lega, dua buah dinding api membatasi pergerakannya. Mata hitamnya menilik lebih jeli, ternyata pelaku penyerangan itu adalah Naruto yang dari sisi kanan dan kirinya mengeluarkan tembok api yang masih menyala. Tak ingin menunggu gurunya merespon terlebih dahulu, Naruto langsung melemparkan beberapa shuriken ke arah Kakashi. Sebagai jounin elit Kakashi dengan mudah menghindari shuriken-shuriken yang dilempar Naruto.

STABB!STABB!STABB!

Seluruh shuriken yang ia lempar hanya menancap pada pohon. Menyeringai tipis, Naruto benar-benar puas saat gurunya masuk dalam rencana kecilnya.
"Naruto, apakah hanya seper-..." perkataan Kakashi terpotong saat merasakan tubuhnya tak dapat digerakkan. Matanya membulat saat melihat beberapa benang baja melilit tubuhnya yang berasal dari shuriken tadi. Menatap tak percaya pada Naruto yang tengah menarik benang baja. Dalam maskernya ia tersenyum bangga, ada anak didiknya yang mampu mengalahkannya.
"Baiklah Naruto, aku menyerah..." katanya dengan nada lemah. Naruto yang mendapat respon seperti itu dari gurunya hanya mengerutkan dahinya. "Padahal aku masih memiliki sepuluh cara lain untuk mengalahkan sensei. Tapi satu cara pun ternyata sudah cukup ternyata." katanya pada Kakashi. Senyum Kakashi semakin mengembang saat mendengar calon anak didiknya, benar-benar seorang ahli strategi. Tali baja yang mengikatnya, langsung lepas dari tubuhnya. Ketiga anak muridnya yang lain berjalan ke arahnya dengan wajah bingung.
"Apakah tesnya sudah selesai?" tanya Sakura. Pertanyaan Sakura hanya dibalas anggukan oleh Kakashi.
"Memang tesnya sudah selesai. Dan yang mengalahkanku adalah Naruto sendirian." jawab Kakashi seadanya. Pernyataan tadi membuat tiga orang tadi terkejut. Seakan tak terpengaruh Naruto hanya membaca bukunya kembali. Sasuke langsung mendekat ke arah Naruto, mencengkeram erat baju Naruto.
" Kenapa kau bisa sekuat ini?! Seharusnya aku yang menjadi terkuat, bukan kau yang pecundang!" bentaknya. Naruto memandang datar Sasuke yang membentaknya. Perlahan api muncul pada tubuh Naruto, yang membuat tangan Sasuke terlepas dari bajunya.
"Dengar Uchiha, aku ini lemah. Karena aku bisa mati. Yang membuatku menang bukanlah kekuatan, tapi pemikiranku. Kau ini hanya mengandalkan otot, tapi otakmu adalah otak udang." kata Naruto dengan nada semakin naik pitam mendengar kata Naruto yang menginjak-injak harga dirinya. Pukulan dilepaskan Sasuke untuk Naruto, namun pukulannya ditahan oleh Kakashi.
"Sudahlah Sasuke, jangan bertengkar. Naruto apakah kau sudah tahu maksud tes ini?" selidik Kakashi. Naruto menutup bukunya dan menatap Kakashi.
"Metode ini diciptakan oleh Sandaime-sama. Metode ini bertujuan untuk mengetes kerja sama murid dalam kondisi sulit. Dikatakan kondisi sulit adalah saat muridnya melihat lonceng yang diperebutkan kurang dari jumlah murid yang dididik. Ini membuat pemikiran para siswa bertumpu pada cara agar memperoleh lonceng tersebut. Selain itu pelarangan sarapan membuat stamina tubuh berada dalam kondisi terendah. Mau tak mau, untuk menang cara satu-satunya genin harus bekerja sama dengan rekan satu timnya untuk mengalahkan jounin pembimbingnya." jelas Naruto panjang lebar. Ketiga murid yang yang lain, hanya dapat terkejut mendengar penjelasan panjang Naruto tadi. Lain halnya dengan Kakashi, ia malah memberikan Naruto eye smile terbaiknya.
"Tapi bagaimana bisa mengalahkan Kakashi-sensei sendirian?" tanya Sakura dengan nada heran.
"Terdapat perbedaan antara aku dan kalian. Kalian mengandalkan serangan kalian, namun aku mengalahkan sensei karena strategi dan informasi. Aku memiliki biodata secara lengkap seluruh jounin elit." tuturnya sambil menunjukkan sebuah buku yang cukup tebal. Mereka bertiga menyipitkan matanya, melihat buku yang cukup tebal itu.
"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Menma curiga. Pasalnya informasi tentang jounin elit adalah informasi yang cukup rahasia. "Ini adalah hasil dari observasiku sendiri. Selain observasi secara langsung aku juga mencari informasi dari sumber-sumber lain seperti buku." terangnya. "Baiklah, untuk Menma, Sasuke, dan Sakura selamat karena kalian akan menjadi genin." kata Kakashi mantap.
"Lalu bagaimana dengan Naruto?" tanya Sakura bingung.
"Untuk Naruto, dia tidak cocok sebagai seorang genin." jawab Kakashi seadanya.
Rekan setim Naruto mengeluarkan ekspresi yang bermacam-macam, Sasuke tersenyum merendahkan, Sakura memandang kasihan, dan untuk Menma dia merasa tak terima. Naruto yang menjadi objek bahasan hanya acuh tak acuh.
"Baiklah, besok kalian berempat datanglah ke ruang Hokage jam 8 tepat" pesan Kakashi. Menma yang merasa tak terima ingin memprotes apa yang dikatakan gurunya tadi.

POOOFFFTT!

Namun sebelum melontarkan protesannya, Kakashi telah menghilang dalam kepulan asap. Naruto yang melihat itu segera terbang menjauh, menggunakan api di kakinya. Ketiga rekan timnya pun turut meninggalkan timnya.

#HOKAGE ROOM

Di dalam ruang hokage tengah berkumpul beberapa jounin pembimbing yang melaporkan hasil dari tes yang mereka ujikan.
"Jadi tinggal Kakashi yang belum melaporkan hasil dari tesnya." kata sang Hokage. Seluruh jounin di sana sudah mengira bahwa Kakashi akan terlambat pada pertemuan kali ini.

POOFTT!

Dari kepulan asap muncul sosok yang tengah diperbincangkan.
"Kakashi, apa laporan tetang hasil tes yang kau berikan?" tanya sang kage. Kakashi hanya menggaruk tengkuknya sendiri.
"Namikaze Menma, Sasuke Uchiha, Haruno Sakura lulus sebagai genin." katanya dengan tegas. Semua yang disana minus Kakashi menyipitkan matanya mendengar laporan dari Kakashi.
"Lalu bagaimana dengan Naruto?" tanya satu-satunya wanita disana dengan penasaran.
"Untuk Naruto, aku tidak meluluskannya sebagai genin." katanya enteng. Seluruh jounin disana membulatkan matanya, pasalnya mereka tahu meskipun Naruto tak memiliki chakra, tapi ia memiliki fisik kuat dan IQ yang tinggi.
"Tapi aku merekomendasikan Naruto menjadi chuunin." imbuhnya Sang hokage bingung mendengar rekomendasi yang diajukan Kakashi. Para jounin yang lain malah tersenyum mendengar hal itu.
"Apa alasannya kamu merekomendasikan Naruto?" tanyanya sangsi.
"Naruto adalah informan yang handal seperti Morino Ibiki. Bakat seperti itu harus kita asah dengan menjadikannya chuunin di divisi intelejen." jelas Kakashi.
Setelah berpikir beberapa saat Minato memutuskan untuk menyetujui rekomendasi yang diajukan Kakashi.
"Sekarang, kalian boleh pergi. Dan Kakashi, bawa timmu kemari besok." perintah Hokage. Seluruh jounin langsung menghilang dalam kepulan asap. Melihat para jounin telah pergi dari sana, sang kage menatap langit dengan tatapan sendu.
"Kapan kau akan memaafkan keluarga kita Naruto?" tanyanya entah pada siapa. Tekad bulat telah ia ikrarkan untuk membawa kembali anak yang telah ia buang.

.

.

.

.

.

.

.

TBC