Kekuatan adalah kebenaran mutlak yang paling mendominasi. Pada dasarnya seluruh makhluk hidup memakai hukum yang sama yaitu hukum rimba, namun dalam kehidupan umum menyelubungi hukum tsb dengan berbagai kebohongan seperti hal-hal mengenai kebenaran, cinta, perdamaian dan keadilan.
Sebelumnya:
"Apa alasannya kamu merekomendasikan Naruto?" tanyanya sangsi.
"Naruto adalah informan yang handal seperti Morino Ibiki. Bakat seperti itu harus kita asah dengan menjadikannya chuunin di divisi intelejen." jelas Kakashi.
Setelah berpikir beberapa saat Minato memutuskan untuk menyetujui rekomendasi yang diajukan Kakashi.
"Sekarang, kalian boleh pergi. Dan Kakashi, bawa timmu kemari besok." perintah Hokage. Seluruh jounin langsung menghilang dalam kepulan asap. Melihat para jounin telah pergi dari sana, sang kage menatap langit dengan tatapan sendu.
"Kapan kau akan memaafkan keluarga kita Naruto?" tanyanya entah pada siapa. Tekad bulat telah ia ikrarkan untuk membawa kembali anak yang telah ia buang.
Warning: OOCNaru!StrongNaru!GodlikeNaru!Berantakan!GrayNaru!LiveMinaKushi!TYPO!
Pagi yang cerah, membawa harapan yang baik bagi kehidupan yang akan dijalani. Namun hal itu tak terlihat dari raut wajah sulung Namikaze. Ia memandang makanannya dengan tatapan tak bersemangat. Padahal yang tengah tersaji adalah makanan favoritnya yaitu ramen. Ramen yang selalu ia agung-agungkan, untuk hari ini ia merasa nafsu makanannya hilang entah kenapa. Sumpit di tangannya ia gunakan untuk mengaduk-aduk ramennya.
"Menma, kenapa kau terlihat tak berselera begitu?" tanya wanita rambut merah yang memakai apron senada dengan rambutnya. Melihat sekilas wajah wanita yang memanggilnya tadi, Menma kembali memainkan ramennya kembali. Mata birunya benar-benar meredup, dan itu membuat wanita tadi sangat khawatir. "Aku tengah memikirkan Naruto, kaa-san..." jawabnya tanpa semangat. Wanita yang ternyata adalah ibu dari Menma hanya mengusap surai kuning milik Menma. Mata violetnya bertemu blue shappire milik Menma.
"Bukankah tou-san, telah berjanji untuk membawa Naruto kembali kesini." sang mencoba menyakinkan anaknya. Menma hanya merespon dengan mengangguk kecil.
"Tapi bukan itu masalahnya kaa-san. Kemarin, menurut Kakashi-sensei, Naruto tak pantas menjadi genin. Padahal Naruto sendirilah yang mengalahkan Kakashi-sensei." pernyataan tersebut membuat mata violet milik Kushina membulat sempurna. Senyum tulus seorang ibu tercetak dengan jelas pada wajah ayunya.
"Menma, jika seperti itu mengapa kamu tidak meminta bantuan tou-sanmu?" saran Khusina. Wajah murung Menma langsung menjadi lebih cerah. Ia pun secepat kilat sudah memeluk ibunya.
"Arigatou kaa-san. Aku akan segera ke ruang hokage." kata Menma dengan semangat. Langsung saja ia berlari keluar rumah.
BLAAMM!
Pintu kediaman Namikaze ditutup dengan keras oleh sulung Namikaze. Kushina hanya tersenyum melihat anaknya kembali seperti biasa. Namun lama-kelamaan, ekspresinya menjadi sendu kembali. Ia teringat anaknya yang lain. Anaknya yang telah ia buang dari keluarganya. Ingin sekali ia bisa untuk menghiburnya dalam kondisi apa pun, layaknya ia bertindak bagai seorang ibu yang sejati. Tak terasa air mata mengalir pada pipi putihnya. Bayangan bagaimana kehidupan anaknya selama ini, yang tanpa kasih sayang dari keluarganya sendiri. Hatinya sebagai seorang ibu menangis, menangisi betapa jahat dan buruk dirinya, yang tega membuat anaknya terlunta-lunta bertahun-tahun. Tindakan yang ia lakukan adalah tidakan paling keji dan paling hina di dunia ini. Dirinya lebih hina dari hewan sekalipun mereka tak memiliki akal. Induk singa tak akan tega pada anaknya, seburuk apa pun anaknya. Ia yang seorang manusia berakal, tega membuang anaknya yang tak memiliki chakra. Emosi penyesalan nampak jelas pada raut wajahnya. Ingin sekali ia meminta maaf pada anak yang telah ia buang, bahkan mati pun ia rela agar dapat dimaafkan oleh anaknya.
#Hokage room
5 orang tengah berada di dalam ruangan hokage. Terlihat 2 orang dewasa disana tengah mendiskusikan sesuatu.
BRAAKKK!
Pintu besar ruangan itu didobrak dengan keras oleh bocah rambut kuning. Pelaku pendobrakan tadi hanya tersenyum tanpa dosa.
"Menma, seharusnya kamu mengetuk pintu dahulu." tutur pria dewasa yang mirip dengan bocah tadi. Bocah tadi hanya tersenyum gugup mendengar teguran pria dewasa tadi.
"Baiklah tim 7 sekarang sudah lengkap, Menma, Sasuke, dan Sakura kita akan melakukan misi pertama kita." kata seorang dengan rambut perak yang melawan gravitasi serta dengan sebuah masker yang menutupi hampir seluruh mukanya.
"Sensei, Mengapa Naruto tidak kau panggil?" tanya si pinky.
"Itu karena dia orang yang lemah..." jawaban yang didapat pinky bukan berasal dari gurunya melainkan dari si emo yang berada disampingnya. Nada dan pernyataan yang dikeluarkan sang emo jelas-jelas, ia tengah menghina orang yang bernama Naruto. Sedangkan yang bernama Naruto, seakan tak terpengaruh hinaan sang emo. Pandangannya tetap terfokus pada sebuah buku yang tengah ia baca. 2 pasang mata yang ada disana menatap kagum pengendalian emosi milik Naruto. Pengontrolan emosinya mungkin setara atau lebih dari level jounin.
"Apa maksudmu Sasuke!?" bentak Menma. Mata Menma telah menyiratkan kemarahan pada bocah emo satu itu. Mencengkeram erat kerah baju si Uchiha.
"Kau bahkan tak bisa mendesak Kakashi-sensei, jika bukan karena Naruto kita tak akan menjadi genin..!" imbuhnya. Sasuke hanya mendecih kecil mendengar perkataan Menma. Naruto yang mulai terusik dengan pembicaraan mengenai dirinya. Menutup buku yang tengah ia baca dari tadi.
"Diamlah Namikaze, Uchiha... Apakah kalian tak diajarkan sopan santun oleh keluarga kalian.?" kata Naruto dengan datar. Pandangannya telah menjadi lebih tajam saat melihat sesuatu tengah menuju kearahnya. Dengan refleksnya yang tinggi ia menangkap benda tersebut yang ternyata sebuah kunai dengan kedua jarinya. Seluruh orang disana melebarkan matanya minus Kakashi, Minato dan Naruto yang masih biasa saja.
"Ibiki-san, sambutan anda sama sekali kurang sopan..." kata Naruto dengan datar.
POOFTT...!
Muncul seorang laki-laki paruh baya denga banyak luka pada wajahnya. Raut wajahnya menunjukkan kesan seram yang amat sangat. "Jadi dia bocah itu Hokage-sama?" tanya orang itu dengan nada berat. Seluruh bocah disana minus Naruto merasakan atmosfir yang tak mengenakan.
"Iya dia Naruto, dia akan menjadi chuunin dalam kesatuan divisimu..." kata Minato dengan nada yang menyakinkan. Seluruh murid Kakashi membulatkan matanya minus Naruto mendengar perkataan Minato. Orang berperawakan seram tadi hanya menatap tajam bocah yang disebut Minato tadi. Seakan tak terpengaruh Naruto menatap datar mata setajam elang milik orang itu. Semakin lama hawa intimidasi dari orang berwajah seram tadi semakin mencekam. Menma, Sasuke, Sakura mulai tak kuat menahan beban mental yang sangat berat dari orang itu. Menghela nafas panjang orang tadi mulai mengurangi intensitas hawa membunuhnya.
"Aku cukup terkesan kau tak terpengaruh dengan yang aku lakukan tadi." katanya dengan sedikit senyum di wajahnya. Naruto mulai menaikkan sebelah alisnya, ia bingung dengan orang di depannya tidak sesuai dengan informasi yang telah ia dapat.
"Sebuah kehormatan bisa dipuji oleh anda Ibiki-san, tapi anda salah. Sebenarnya saya sangat terpengaruh dengan intimidasi anda namun dapat saya tutupi. Ini seperti sebuah akuarium penuh dengan air, dimasukkan beberapa ikan di dalamnya. Jika kita tutup akuarium itu dengan kain hitam maka ikan di dalamnya tak akan terlihat, namun bukan berarti ikannya tak ada disana." jelas Naruto. Senyum tertarik semakin terlihat pada wajah seram Ibiki. Dia sangat tak menyangka mendapatkan sebuah berlian yang sudah dibentuk tinggal penghalusan maka ia akan menjadi permata yang sangat mahal. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan merekrut anak emas maka Ibiki pun menyetujui keinginan Hokagenya.
"Bocah temui aku di markas divisi intelejen besok..." pesan Ibiki singkat. Ia pun menghilang dalam kepulan asap. Naruto pun menutup buku yang ia baca dan mulai pergi meninggalkan ruangan itu. Namun ia dihentikan oleh Sasuke dengan mencengkeram kerahnya.
"Bagaimana kau bisa menjadi chuunin lemah..." tanya Sasuke dengan nada keras dan tak percaya. Naruto tetap memandang datar Sasuke yang tengah emosi.
DUUARRRR...!
Pukulan keras mengenai perut Sasuke hingga membuatnya terpelanting menabrak tembok. Dengan pelan Naruto mulai berjalan kearah Sasuke. Matanya begitu dingin menatap iris onix milik Sasuke.
"Ada tiga hal yang membuatmu tak pantas menjadi chuunin. Pertama kau labil, kau membiarkan emosi menguasai dirimu. Kedua kau bodoh, seluruh hal selalu kau lakukan tanpa pemikiran yang matang. Ketiga, karena kau sombong, kesombongan adalah kelemahan terbesar yang kau miliki." terang Naruto. Merasa tak terima dengan apa yang dilontarkan Naruto, Sasuke berusaha untuk membalasnya. Namun apa daya serangan barusan membuatnya sulit sekali untuk menggerakkan tubuhnya. Dengan tanpa dosa Naruto mulai meninggalkan ruangan tersebut.
"Naruto, jangan berbuat kegaduhan di ruanganku..." tutur Minato yang masih duduk di bangkunya. Naruto pun berhenti tepat saat akan membuka pintu. Mata birunya melirik sedikit wajah mantan keluarganya.
" Aku mengerti...Hokage-sama. Maafkan saya..." katanya tanpa memalingkan wajah. Namun sebuah tangan memegang pundaknya dengan kuat.
"Begitu hinakah, kami di matamu Naruto? Setidaknya beri kami kesempatan yang lain." pinta Menma. Menepis dengan kasar tangan milik orang yang sangat mirip dengannya. Sesama mata biru shappire, saling menatap dengan tatapan yang berbeda. Menma menatap penuh harap dan Naruto menatap datar tanpa emosi.
"Entah mengapa aku sangat sakit hati dengan apa yang telah kalian lakukan padaku dulu. Rasanya sangat sakit hingga aku hampir lupa caranya tuk tersenyum. Aku merasa iri, dengan setiap canda dan tawa yang sering kalian lontarkan. Namun apa daya, aku hanya anak kecil dengan keterbatasan yang banyak, membuatku berpasrah dengan keadaan." jawab Naruto. Mata birunya mulai memunculkan emosi sedih yang sangat jelas. Pernyataan kecil Naruto membuat Menma dan Minato menundukkan kepalanya.
BRRRAAAAKKKK!
Pintu ruangan itu didobrak dengan kasar oleh seorang wanita berambut merah darah. Matanya sembab karena hampir seharian ini ia menangis. Ia berlari ingin memeluk tubuh mungil Naruto. Kurang sedikit lagi tangannya menyentuh Naruto, tubuh Naruto menjadi kobaran api. Tak ayal sang wanita jatuh tersungkur mencium lantai ruangan. Air matanya terus berlinang dari kedua iris violetnya.
"Maafkan kaa-san Naruto... Kaa-san ingin memperbaiki segalanya. Kaa-san mohon kembalilah ke keluarga kita Naruto..." pinta wanita itu. Naruto menatap datar pada wanita di depannya.
"Mudah sekali kau berkata seperti itu... Ku tegaskan sekali lagi Kushina-sama aku bukan anakmu. Aku adalah adik angkat Edward nii-san. Ingat itu baik-baik..." ancam Naruto yang pergi meninggalkan seluruh orang disana masih membeku. Mereka tak pernah melihat Naruto marah hingga seperti itu. Isakan terus keluar dari mulut wanita berambut merah. Melihat itu Menma mengepalkan kedua tangannya. Tanpa kata ia meninggalkan tempat itu menyusul Naruto.
#WITH NARUTO
Kedua kakinya menyusuri jalanan Konoha. Matanya menatap lurus kedepan. Ia seolah menghiraukan seluruh cacian dari para warga desa yang sangat keterlaluan. Tanpa terganggu dengan hinaan tersebut Naruto terus melangkahkan kaki kecilnya.
STAB!STAB!STAB!STAB!
Beberapa kunai menancap pada dinding kayu disebelah Naruto. Mata birunya menatap tajam seseorang yang menjadi pelaku pelemparan. Mata birunya bertemu mata merah darah dengan pupil vertikal layaknya hewan buas yang menatapnya nyalang. Aura berwarna merah darah menyelimuti sosok itu. Dengan cepat sosok itu telah berada di depan Naruto, tangannya terkepal siap memukul perut Naruto dengan keras. Dengan refleks yang tinggi Naruto berhasil menangkap kepalan tangan tersebut. Tak mau tinggal diam Naruto, langsung menendang rusuk kanan orang itu dengan keras. Namun serangannya gagal saat orang tadi bersalto kebelakang. Saat di udara orang tadi masih sempat melemparkan beberapa shuriken ke arah Naruto. Dengan sigap Naruto menangkis shuriken-shuriken tadi dengan kunai di kedua tangannya.
TRANK!TRANK!TRANK!
Suara dentingan antara kunai dan shuriken, menggema di sepanjang gang tersebut. Tak mau tinggal diam Naruto menghirup udara sebanyak-banyaknya kedalam paru-parunya.
DRAGON BREATH Sebuah bola api dengan intensitas besar keluar dari mulut Naruto. Bola api dengan diameter lima meter itu menuju musuh Naruto. Orang yang menyerang Naruto tadi tak dapat menghidari bola api yang menuju ke arahnya.
DUAAARRR!
Ledakan kecil terjadi saat bola api itu mengenai orang misterius itu. Terlihat kondisi dari target bola api tadi sangat memperihatinkan, baju yang ia pakai telah hilang entah kemana menyisakan celana bawahannya saja. Di sekujur tubuhnya terdapat luka bakar yang sangat besar. Namun aura merah darah kembali menyelimuti tubuh orang misterius tadi. Luka bakar yang terdapat pada tubuhnya lama-kelamaan mulai pulih seperti sedia kala. Mata merahnya bersinar dalam gang sempit itu. CRING!CRING!CRING!
Saat akan kembali menyerang Naruto, beberapa rantai chakra keluar dari dalam tanah. Rantai chakra tadi mengikat pergerakan orang misterius itu.
ROAAAARRR...!
Sosok itu meraung dengan buas, ia berusaha membebaskan diri dari rantai yang mengikatnya.
SRINGGGG...
Seorang pria dewasa muncul tepat dihadapan sosok tadi. Dengan cepat ia menempelkan kertas segel di kening sosok itu. Seluruh chakra berwarna merah darah yang menyelimuti tubuhnya perlahan mulai menghilang. Tubuhnya jatuh pingsan digendongan pria tadi. Sang pria menggendong tubuh bocah tadi dengan gaya bridal style. Mata birunya menatap wajah milik Naruto. Ia memandang serius bocah didepannya. "Apa yang kau lakukan Naruto!?" bentak pria tadi. Naruto hanya menundukkan kepalanya, mata birunya memancarkan kekecewaan yang sangat besar. Tangan kecilnya terkepal dengan erat. Muncul lagi seorang sosok wanita yang memandang khawatir bocah yang dalam gendongan pria tadi. Direksi matanya ia ubah untuk melihat wajah Naruto. Memandang tajam bocah yang tengah menundukkan kepalanya itu.
"MENGAPA KAU MENYAKITI MENMA, NARUTO!?" bentak wanita itu. Mendengar itu Naruto semakin menundukkan kepalanya. Air matanya menetes pada tanah yang ia pijak. Ingin sekali ia menyangkal bahwa ia yang melakukannya. Namun apa daya lidahnya kelu tuk berucap. Dengan seluruh keberanian yang ia miliki, Naruto kembali menatap mantan kedua orang tuanya. Pandangannya penuh emosi negatif. Air mata terus berlinangan di kedua matanya.
"Ku kira kalian telah berubah, namun itu hanya dusta." katanya dengan nada sangat kecewa. Membalikkan badan ia berjalan menjauhi mantan keluarganya.
"Aku tak pernah bertindak tanpa ada yang menggangguku. Aku hanya membela diri, aku tak ingin mati begitu saja. Ingat Namikaze, kalian telah memberikan harapan palsu padaku. Maka dari sekarang dan selamanya aku, Naruto tak kan pernah mau melihat wajah kalian bertiga..." kata Naruto lantang sambil berjalan menjauh. Mata kedua orang dewasa tadi hanya membulatkan kedua matanya. Sang wanita mengejar kepergian Naruto dengan penuh penyesalan. Tinggal beberapa meter dari Naruto, muncul sebuah tembok api yang membatasi antara Naruto dan wanita itu. Sang wanita hanya menangis,memanggil nama Naruto dengan penuh penyesalan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
