Pada kehidupan kejujuran dan keadilan hanyalah sebuah lelucon bagi masyarakat.
Kekuatan adalah kebenaran mutlak yang paling mendominasi. Pada dasarnya seluruh makhluk hidup memakai hukum yang sama yaitu hukum rimba, namun dalam kehidupan umum menyelubungi hukum tsb dengan berbagai kebohongan seperti hal-hal mengenai kebenaran, cinta, perdamaian dan keadilan.
Sebelumnya:
"Ku kira kalian telah berubah, namun itu hanya dusta." katanya dengan nada sangat kecewa. Membalikkan badan ia berjalan menjauhi mantan keluarganya.
"Aku tak pernah bertindak tanpa ada yang menggangguku. Aku hanya membela diri, aku tak ingin mati begitu saja. Ingat Namikaze, kalian telah memberikan harapan palsu padaku. Maka dari sekarang dan selamanya aku, Naruto tak kan pernah mau melihat wajah kalian bertiga..." kata Naruto lantang sambil berjalan menjauh. Mata kedua orang dewasa tadi hanya membulatkan kedua matanya. Sang wanita mengejar kepergian Naruto dengan penuh penyesalan. Tinggal beberapa meter dari Naruto, muncul sebuah tembok api yang membatasi antara Naruto dan wanita itu. Sang wanita hanya menangis,memanggil nama Naruto dengan penuh penyesalan.
Warning: OOCNaru!StrongNaru!GodlikeNaru!Berantakan!GrayNaru!LiveMinaKushi!TYPO!
Seorang bocah berambut merah api tengah berjalan ditengah hutan. Mata birunya begitu hampa melihat jalan setapak dihadapannya.
Hal itu tak luput dari seseorang bertopeng yang tengah mengawasinya dari tadi. Senyum kemenangan terukir dengan jelas di wajahnya yang tertutup topeng loli oranye. Mata merah darahnya memancarkan kepuasan melihat kondisi psikis milik bocah itu. Seluruh rencana yang tak sengaja ia buat, ternyata sukses besar.
#FLASHBACK
Sebuah sosok yang sungguh aneh muncul di sebuah gang desa Konoha. Sosok itu memiliki tubuh berwarna hitam di satu sisi dan putih untuk sisi yang lain. Tak lama sosok aneh itu muncul, sosok lain muncul dari pusaran angin. Sosok satu ini tak kalah aneh, dengan topeng loli oranye yang hanya memiliki satu lubang yang memperlihatkan mata merah darah dengan tiga tomoe yang berputar dengan pelan.
"Dia ada di depan sana." si belang menunjukkan seorang bocah dengan rambut berwarna merah api. Mata merahnya menatap tertarik pada bocah itu, seolah dia menemukan sebuah berlian yang sangat berharga. Kedua makhluk aneh bin ajaib itu mulai mendekati si bocah. Namun niat mereka harus diurungkan, saat merasakan sebuah bahaya, dengan cepat melesat ke arah bocah target mereka. Mereka langsung bersembunyi di balik pohon. Sebuah ide jahat terlintas pada fikiran pemuda bertopeng. Dengan cepat ia langsung merangkai segel tangan yang cukup banyak.
ULTIMATE BARRIER
Menghentakkan kedua telapak tangannya ke tanah. Sebuah pelindung tak kasat mata muncul mengelilingi daerah sekitar bocah itu agar tak dapat dideteksi oleh orang lain. Dapat dilihat, terdapat pertarungan yang terjadi dalam pelindung yang dibuat oleh pemuda bertopeng. Pertarungan di dalam sana begitu sengit. Mata merahnya menatap sesosok orang lain yang sangat familiar baginya. Segera ia langsung menghilangkan pelindung di tempat pertarungan itu. Dirinya benar-benar bahagia saat melihat pertengkaran yang terjadi di depannya. Seringai iblis terpampang dengan jelas di balik topengnya. Si sosok bertopeng langsung menghilang dalam pusaran angin.
#FLASHBACK END
"Zetsu, dengan begini kita mudah untuk merekrut dia." kata si pemuda bertopeng. Zetsu pun hanya mengangguk paham. Dengan cepat mereka langsung menghampiri bocah itu. Bukan ucapan yang mereka dapat, melainkan sebuah bola api melesat ke arah mereka berdua. Terpaksa mereka harus menghindari serangan itu dengan melompat. Saat mereka di udara serangan lain menyerang mereka. Puluhan shuriken melesat ke arah mereka berdua. Mata mereka berdua membulat melihat serangan itu, langsung saja mereka harus menggunakan shunshin no jutsu. Mereka muncul di sebuah dahan pohon yang cukup besar. Namun mereka tak bisa bernafas dengan lega saat merasakan adanya sebuah bahaya. Sebuah fumashuriken hendak membelah menjadi dua tubuh mereka masing-masing. Si pemuda bertopeng langsung melompat menghidari serangan itu, sedangkan Zetsu malah menghilang kedalam kayu pohon. Lagi-lagi sebuah pukulan berlapis besi hendak menghantam dirinya. Melihat tak ada jalan lain, maka ia pun membuat tubuhnya menjadi tembus. Tak ayal pukulan itu melesat ke tanah dengan cepat.
BUUMM!
Ledakan kecil terjadi saat pukulan itu menghantam tanah dengan keras. Sebuah kawah terbentuk karena pukulan itu. Di tengah kawah itu seorang bocah bermata biru, menatap tajam sosok yang tidak terkena pukulannya.
"Apa yang kau mau dariku?" tanya si bocah dingin. Bukannya takut, malah si pemuda bertopeng malah terlihat tenang. Bocah itu merasakan kekuatan yang mengerikan dari orang yang tengah berjalan ke arahnya. Jika dilihat dari luar mereka begitu tenang, namun pikiran mereka tengah bergelut dengan hebat. Di satu sisi bocah itu tengah memikirkan cara mengalahkan pemuda di depannya, sedangkan si pemuda malah memikirkan cara untuk membujuk bocah di depannya. Jarak antara mereka berdua mulai menipis, keringat dingin mulai mengalir deras dari tubuh mereka masing-masing. Mata biru dan merah saling menatap dengan sangat serius.
"Aku hanya orang yang mencari perdamaian..." kata si pemuda seadanya. Menaikkan sebelah alisnya, si bocah itu benar-benar tak mengerti arah jalan pikiran pemuda di depannya.
"Jangan bercanda, tak ada perdamaian di dunia ini." balas si bocah sakartis. Senyum aneh terpampang pada wajah di balik tubuhnya.
"Ya aku pun berpikir seperti itu. Tapi ada satu cara untuk membuat perdamaian." kata pemuda bertopeng. Sebuah tanda tanya besar muncul di kepala si bocah.
"Manusia memiliki perasaan, perilaku, dan keinginan yang berbeda. Itu membuat perbedaan pendapat yang dapat memicu perang. Asal kau tahu meskipun ada caranya, tapi aku tak percaya pada perdamaian." kata si bocah dengan nada datar. Mata birunya menunjukkan keseriusan yang sangat tinggi. Si pemuda semakin memperpendek jarak antara mereka berdua. Si bocah sudah memasang kuda-kuda bertarung khas miliknya. Kedua tangan dan kaki si bocah telah berkobar api yang cukup besar. Si bocah meluncur dengan cepat ke arah orang bertopeng. Sebuah pukulan keras berlapis api, dihantamkan ke arah wajah si pemuda. Melihat hal itu si pemuda nampak memasang gestur tubuh yang santai.
DUUARRR...!
Ledakan terjadi saat pukulan si bocah mengenai tanah. Sebuah kawah berdiameter 1 meter adalah hasil dari pukulan itu. Yang aneh dari situ ialah, pukulan yang dilayangkan si bocah menembus tubuh si pemuda. Merasa serangannya gagal si bocah langsung bersalto kebelakang beberapa meter. Sebuah tanda tanya besar muncul di kepalanya, bagaimana seorang manusia dapat ditembus layaknya hantu. Pikirannya tengah bergelut dengan hebat, untuk menemukan cara agar dapat setidaknya melukai orang di depannya. Dia telah menggunakan segala kekuatan serang secara fisik yang ia miliki. Pikirannya menuju pada satu hal bahwa ia tengah terkena genjutsu. Angin menjadi bertiup lebih kencang di sekitar tempat pertarungan itu. Tatapan mata dari si bocah menjadi lebih tajam layaknya elang. Aura yang dimiliki oleh si bocah seakan-akan memaksa yang berada disekitarnya untuk tunduk. Hal itu dirasakan si pemuda, yang tengah merasa bahwa ia tengah dibebani batu yang sangat besar dan berat. Aura yang mengintimidasi tadi, perlahan mulai menghilang dari sana. Si bocah jatuh terduduk setelah mengeluarkan salah satu jurus andalan miliknya. Nafasnya begitu memburu, yang membuktikan bahwa ia benar-benar kelelahan. Mata setengah terpejam miliknya menatap tajam lelaki di depannya.
"Itu percuma, meski kau menggunakan itu untuk memecahkan genjutsu, tapi kita saat ini masih dalam dunia nyata." jelas si pemuda. Mata merahnya berputar dengan pelan menatap si bocah.
"Aku ingin merekrutmu menjadi anggota akatsuki." tuturnya. Mata biru bak samudra milik si bocah menatap penuh tanya pada ajakan si pemuda.
"maaf saja aku tak tertarik menjadi anggota kelompokmu..." jawab si bocah seadanya. Dengan segenap kekuatan yang ia miliki, dia berusaha berdiri meskipun tubuhnya bergetar dengan hebat. Menggunakan CONQUEROR HAKI membuat tubuh kecilnya menjadi lemah tak berdaya.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Tapi jika kau ingin bergabung maka panggilah namaku. Tobi, itulah namaku." katanya. Pemuda yang bernama Tobi itu perlahan mulai terhisap dalam pusaran angin. Mata samudra milik si bocah terus menatap datar tempat Tobi menghilang. Beberapa detik berlalu, akhirnya si bocah mulai beranjak dari tempatnya berdiri. Meskipun dengan langkah gontai dia terus memaksa untuk berjalan menuju tempat yang ia sebut rumah.
#SKIP TIME
Keesokan harinya, si bocah terbangun dari tidurnya. Sebuah ranjang berukuran minimalis menjadi tempatnya tidur semalam. Gubuk reot menjadi tempatnya berlindung dari dinginnya udara malam hari. Mata sayu khas orang yang baru bangun tidur terlihat dengan jelas. Keluar dari gubuk reotnya, si bocah mulai berjalan menuju sungai yang berada di dekat rumahnya. Ia bermaksud ingin mandi di tepi sungai itu.
15 menit kemudian si bocah telah siap dengan pakaian khas miliknya. Wajah yang semula kusam, menjadi terlihat lebih segar. Merasa sudah cukup ia pun berlari menjauhi hutan yang lebat itu.
#HOSPITAL
Di sebuah ruangan rumah sakit Konoha, kini tengah terbaring seseorang bocah laki-laki tertidur dengan pulas. Dua orang dewasa dengan penuh kekhawatiran menunggu anaknya bangun dari tidurnya. Nampak raut kesedihan diantara raut kekhawatiran yang berada di wajah mereka berdua.
"Minato kenapa mereka berdua bisa bertarung?" tanya pada lelaki dewasa yang sangat mirip dengan bocah yang tengah tertidur di ranjang rumah sakit. Mata birunya mencoba menatap iris violet milik istrinya tersebut.
"Aku juga tak tahu. Hanya Naruto yang dapat menjawab pertanyaanmu. Karena Menma saat itu dalam kondisi lepas kendali." kata Minato seadanya.
"Tapi Minato Naruto sangat membenci kita. Bahkan seluruh orang di desa ini tak mengenal Naruto dengan baik." balas istrinya dengan nada putus asa.
TOK!TOK!TOK!
Sebelum Minato akan membuka mulut, perbincangannya harus terpotong karena ada yang sedang mengetok pintu ruangan itu.
"Masuk" suruh Minato dengan halus. Kini terlihat seorang pemuda bermasker dan kedua muridnya yang berbeda gender.
"Maaf Hokage-sama, Kushina-sama. Saya Sasuke dan Sakura hendak menjenguk Menma." kata si pemuda seraya memberikan eye smile. Minato dan Kushina pun hanya mengangguk paham. Mereka memberi jalan untuk tiga orang tadi menjenguk Menma.
"Bagaimana dia bisa seperti ini?"tanya pemuda bermasker. Minato hanya mendesah dengan panjang mendengar pertanyaan itu.
"Entahlah Kakashi. Tapi Menma bertarung dengan Naruto dan membuat Menma seperti ini." jawabnya
"Jika menurut asumsiku dapat dipastikan bahwa yan bersalah dalam kasus ini adalah Menma." balas Kakashi. Semua orang disana bertanya-tanya mengapa Kakashi menyalahkan Menma.
"Apa maksud sensei? Si brengsek itu telah berbuat seperti ini." kata si emo. Mata onix bertemu satu sama lain.
"Naruto adalah tipikal orang yang tak ingin mencari perkara. Tapi ia sangat senang menjadi pemecah perkara." kata Kakashi santai.
"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Kushina.
"Yah itu karena aku sering meminta solusi dalam setiap masalah yang cukup pelik. Itulah mengapa aku sedikit mengenalnya." jawabnya. Semua orang semakin bingung dengan Kakashi, bagaimana mungkin salah satu jounin elit meminta solusi dari Naruto.
"Jangan bercanda sensei." sekarang giliran si pinky buka seluruh pandangan tertuju pada gadis muda yang berada disitu, namun itu tak berlangsung lama karena direksi pandangan mereka meminta penjelasan dari Kakashi.
"Bisa dibilang Naruto telah dewasa sebelum waktunya, atau mungkin ia adalah orang dewasa yang terperangkap dalam tubuh anak-anak." jelas Kakashi. Mereka makin penasaran dengan diri Naruto yang terkesan penuh misteri.
"Bukan hanya aku yang berpikir seperti itu, tapi hampir para jounin elit pernah berurusan dengan Naruto. Bahkan Nara Shikaku hampir setiap hari menemui Naruto untuk membantunya menyusun strategi perang." imbuh Kakashi. Seluruh orang disana merasa tak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Kakashi. Mereka mengetahui Naruto adalah bocah yang dapat dikatakan jenius tapi untuk menjadi seorang konsultan para jounin, ini adalah sebuah berita baru bagi mereka. Di hati Kushina dan Minato merasakan kebanggaan dan penyesalan secara bersamaan.
"Jadi kau dapat membujuk Naruto untuk mau menemui kami, Kakashi?" pinta Kushina. Kakashi menghela nafasnya dengan berat. Ia mengetahui bahwa permintaan yang diajukan Kushina sangat sulit untuk dipenuhi.
"Akan aku coba sebisaku."kata Kakashi. Kakashi pun mulai pergi dari sana menggunakan shunshin.
"Semoga kau berhasil Kakashi" harap Kushina. 2 murid Kakashi yang lain pun turut meninggalkan ruangan itu.
#DIVISI INTELEGENT
Seorang bocah berambut merah api kini terlihat tengah duduk di sebuah kursi tunggu dengan sebuah buku yang selalu ia baca. Matanya sama sekali tak ingin beralih dari buku yang ia baca.
"Kau datang juga bocah."sebuah suara dari seorang lelaki dewasa mengganggu kegiatan membaca si bocah.
"Ya karena kau yang memintaku kesini. Selain itu ada hal yang lebih penting." balas si bocah yang menatap serius mata hitam yang begitu tajam. Senyum tertarik terpampang dengan jelas pada wajah yang dapat dikatakan begitu menyeramkan. Ia tak habis pikir dengan bocah di depannya, hampir setiap waktu dia memiliki informasi yang terbaru dan sangat penting bagi desanya.
"Ikut aku sekarang bocah. Kita bicarakan di ruanganku." kata lelaki dewasa itu. Akhirnya si bocah mengekori pria tadi menuju ruangannya.
#IBIKI OFFICE
Di sebuah ruangan yang cukup besar terdapat seorang pria dewasa dengan rambut yang diikat ekor kuda. Ia tengah mencari dokumen yang begitu penting di lemari penyimpanan. Raut kebingungan terpancar pada wajahnya.
CKLEK..!
Pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan dua orang yan berbeda usia. Mereka berdua merasa heran melihat seseorang yang tengah bingung mencari sesuatu di lemari dokumen.
"Inoichi, kau mencari apa?" tanya orang yang membuka pintu.
"Dokumen tentang Akatsuki, Ibiki." jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya. Sebuah tanda tanya besar muncul saat melihat salah satu dari anggota divisi introgasi. Meskipun Ibiki adalah seorang ketua divisi intelejen tapi dia juga merangkap sebagai anggota dari divisi introgasi.
"Kenapa kau mencarinya?" tanya Ibiki. Inoichi hanya menghela nafasnya dengan panjang saat mendengar pertanyaan itu dari Ibiki. Mau tak mau ia harus menghentikan aktivitas pencariannya sejenak. Saat dia melihat Ibiki, matanya terfokus pada seorang bocah yang berada di belakang Ibiki. Bocah yang merasa diperhatikan itu hanya menunjukkan ekspresi yang begitu tenang.
"Sebelumnya, siapa bocah di belakangmu?" tanya Inoichi. Ibiki mendengar hal itu malah menjukkan senyum yang aneh.
"Dia adalah calon anggota divisi intelejen." kata Ibiki. Mendengar hal itu lantas membuat Inoichi merasa tekejut bukan main, karena
ada bocah seumuran dengan anaknya menjadi anggota divisi intelejen.
"Jangan bercanda Ibiki, mana mungkin umur sebelia ini akan menjadi anggotamu?" balas Inoichi.
"Maaf lancang, tapi seseorang tidak dinilai dari seberapa tua dia tapi dari tingkat kualitas yang dimiliki orang tersebut." kali ini si bocah yang angkat bicara, karena ia merasa tak terima saat diremehkan tentang kemampuan intelejensinya. Si bocah perlahan mulai mendekati Inoichi yang menatap dirinya dengan serius.
"Anda mencari tentang Akatsuki bukan?" tanya si bocah. Inoichi hanya diam tak merespon apa yang dikatakan anak itu. Bocah itu pun mengeluarkan sebuah buku kecil dari sakunya. Ibiki dan Inoichi menatap dengan intens buku yang dipegang bocah itu.
"Buku apa itu, Naruto?" tanya Ibiki penasaran. Naruto hanya diam tak membalas, namun buku yang ia pegang dilemparkan ke arah Ibiki. Dengan sigapnya, Ibiki menangkap buku milik Naruto. Ia membaca halaman demi halaman buku itu, matanya terus menatap serius setiap tulisan yang tertera disana.
"Apakah ini benar?" tanya Ibiki tak percaya. Mata hitam milik Ibiki menatap serius manik shappire milik Naruto.
"Aku bisa menjaminnya, tapi isi dari buku itu masih kurang lengkap." tutur Naruto. Kali ini mata birunya menatap dengan sangat serius Ibiki.
"Aku hanya mencantumkan 3 dari seluruh anggota Akatsuki, informasinya pun masih belum cukup untuk mengantisipasi gerakan dari Akatsuki. Tapi satu hal yang pasti, tujuan mereka adalah BIJUU." jelas Naruto dengan penekanan pada kata bijuu. Hal itu membuat Ibiki bingung karena informasi ini sudah cukup untuk menjadi acuan.
"Bolehkah aku melihatnya juga."kata Inoichi. Tanpa menunggu waktu buku kecil itu dilemparkan oleh Ibiki. Mata Inoichi meneliti setiap informasi yang tertera di dalamnya. Matanya seketika membulat, tanpa jeda ia menatap takjub bocah belia di itu mampu membuat sebuah acuan yang sangat vital bagi desanya.
"Bukankah aku tak salah orang, Inoichi?" tanya Ibiki dengan nada yang aneh. Mau tak mau Inoichi pun harus menyetujui Naruto masuk di dalam divisi intelejen.
"Sekarang bocah. Selamat datang di divisi Intelejen Naruto."
Naruto hanya tersenyum tipis mendengar bahwa dia dapat masuk divisi yang sangat sesuai dengan kemampuan miliknya.
"Terima kasih Ibiki-san. Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Naruto. Hal itu hanya dibalas dengan anggukan.
"Aku ingin menyelidiki masalah tentang Nami no Kuni." imbuhnya. Sekarang muncul sebuah tanda tanya besar dalam benak Ibiki dan Inoichi. Mengapa Naruto meminta menyelidiki sebuah desa yang cukup kecil.
"Mengapa kau memintanya?" tanya Inoichi. Sebuah seringai misterius terpampang dengan jelas di wajah yang dikatakan cukup imut.
"Itu akan membantu kita dalam membumi hanguskan Akatsuki." kata Naruto dengan yakin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
