.
.
.
HAPPY READING!
Pada kehidupan kejujuran dan keadilan hanyalah sebuah lelucon bagi masyarakat.
Kekuatan adalah kebenaran mutlak yang paling mendominasi. Pada dasarnya seluruh makhluk hidup memakai hukum yang sama yaitu hukum rimba, namun dalam kehidupan umum menyelubungi hukum tsb dengan berbagai kebohongan seperti hal-hal mengenai kebenaran, cinta, perdamaian dan keadilan.
Sebelumnya:
"Sekarang bocah. Selamat datang di divisi Intelejen Naruto." Naruto hanya tersenyum tipis mendengar bahwa dia dapat masuk divisi yang sangat sesuai dengan kemampuan miliknya.
"Terima kasih Ibiki-san. Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Naruto. Hal itu hanya dibalas dengan anggukan.
"Aku ingin menyelidiki masalah tentang Nami no Kuni." imbuhnya. Sekarang muncul sebuah tanda tanya besar dalam benak Ibiki dan Inoichi. Mengapa Naruto meminta menyelidiki sebuah desa yang cukup kecil. "Mengapa kau memintanya?" tanya Inoichi. Sebuah seringai misterius terpampang dengan jelas di wajah yang dikatakan cukup imut.
"Itu akan membantu kita dalam membumi hanguskan Akatsuki." kata Naruto dengan yakin.
Warning: OOCNaru!StrongNaru!GodlikeNaru!Berantakan!GrayNaru!LiveMinaKushi!TYPO!
Matahari yang mulai menyembul, menandakan berakhirnya malam yang kelam. Hari cerah memberikan semangat tambahan pada masyarakat desa itu. Di sebuah kawasan hutan tengah berdiri seorang bocah berambut merah api, tengah mempersiapkan tas punggungnya. Matanya menilik satu persatu, barang yang akan ia bawa. Merasa sudah semua apa yang ia butuhkan, ia pun terbang layaknya sebuah pesawat jet.
#At Hokage place
Sang pemimpin desa Konoha, tengah duduk sembari menatap sebuah kertas. Kertas tersebut berisi tentang misi pengawalan seorang tukang kayu menuju Nami no Kuni. Yang membuatnya bingung adalah salah satu anaknya yang menjabat sebagai anggota divisi intelegensi, meminta untuk bergabung dalam misi rank-C. Padahal tidak biasanya "dia" mau berurusan dengan keluarga sang Hokage.
CKLLEKK...!
Mengalihkan pandangannya dari dokumen yang tengah ia pegang, ke arah pintu terbuka. Di sana telah berdiri beberapa orang yang cukup familiar untuknya.
"Lapor, tim 7 siap menjalankan misi.." kata jounin pembimbing tim 7 dengan sopan a.k.a Kakashi.
"Tou-san, beri kami misi rank yang tinggi." kata seorang bocah berambut kuning a.k.a Menma. Belum sempat untuk membuka mulutnya lagi, sebuah kaki menginjak kakinya dengan keras. Ekspresi kesakitan nampak jelas pada wajah Menma. Sang pelaku hanya memberikan senyuman yang manis namun bagi Menma, ia seolah menatap shinigami. Menma pun hanya diam tak berani berkata. Si gadis pinky a.k.a Sakura hanya memasang wajah tak bersalah. "baiklah kalian akan menjalankan misi rank-C, yaitu mengawal seseorang sampai Nami no Kuni. Masuklah, Tazuna-san..."
Dari balik pintu seorang lelaki tua dengan sebuah botol sake di tangannya.
"Apa mereka yang akan menga-" kata Tazuna harus terpotong saat kembaran Menma a.k.a Naruto datang dengan wajahnya yang begitu datar. Matanya tak lepas dari buku kecil yang akan ia bawa.
"Jadi kau yang akan menjadi klien kami..." katanya tanpa mengalihkan matanya dari buku di tangannya. Tazuna cukup kesal saat mendengar ada yang memotong perkataannya. Belum ada jawaban, Naruto telah pergi dari sana dengan santai.
"Jaga kelakuanmu, di depan klien Naruto...!" tegur Minato santai. Mata birunya melirik sekejap wajah sang hokage.
"Aku menghormati klien yang juga menghormati ninja yang ia bayar."sahut Naruto sembari berlalu meninggalkan segudang pertanyaan di benak orang yang masih berada disana.
"Baiklah tim 7, kita berkumpul di gerbang Konoha 15 menit lagi." kata Kakashi.
#Time skip 15 menit kemudian
Di depan gerbang Konoha tengah berdiri beberapa orang disana. Mereka mulai berjalan meninggalkan kawasan desa Konoha. Kurang lebih 15 menit perjalanan mereka, Naruto melihat hal yang sangat ganjalan.
'Ini aneh, padahal hari ini terang benderang, tapi ada genangan air disini. Jangan-jangan...' Seketika muncul dua orang yang keluar dari genangan air itu. Kedua orang itu berhasil membelah tubuh Kakashi menjadi 2 bagian.
"Satu tumbang. Sekarang tinggal bocah-bocah lemah." kata orang itu. Mereka berdua melesat sembari mengacungkan senjata mereka masing-masing. Jarak mereka terpangkas dengan cepat. Mata dari mereka berdua membulat dengan sempurna saat senjata mereka dapat ditahan dengan seorang bocah. Kedua tangan bocah menjadi berwarna hitam mengkilat dan terlihat menjadi seperti sekeras besi.
"Seginikah kemampuan kalian..." pernyataan sinis keluar dari mulut bocah itu yang tak lain adalah Naruto. Naruto segera mencengkeram kedua tangan milik mereka dengan kuat dengan. Tubuh Naruto mulai terbakar oleh api yang cukup besar. Api itu semakin membesar dan membakar kedua ninja yang menyerang mereka.
ARRRGGHH...!
Jeritan pilu terdengar dengan jelas disana. Api itu semakin membesar hingga mencapai ketinggian 5 meter.
BUUGGGHHH...
Kedua ninja tadi telah menjadi seonggok jasad yang hangus terbakar. Mata Naruto menatap datar kedua jasad tadi. "K-kau membunuh mereka..." kata Sakura dengan terbata-bata. Bagi kunoichi muda ini, baru pertama kali ia melihat pembunuhan di depan matanya. Tubuhnya terlihat bergetar dengan hebat, akhirnya tubuh mungilnya jatuh terduduk. Kedua rekannya yang lain menatap Naruto dengan terkejut, pasalnya meskipun Naruto adalah pribadi yang dingin tapi mereka tak menyangka bahwa Naruto tanpa merasa bersalah saat membunuh orang lain.
"Inilah kenyataan seorang ninja, kematian adalah harga mati." kata Naruto dengan sangat dingin. POFFFTTT...!
Kakashi yang dikira telah mati, kini muncul dari kepulan asap itu. Matanya menatap bingung apa yang sedang terjadi.
"Mereka berdua adalah ninja, padahal ini misi rank-C yang seharusnya, hanya bandit..."tanya Kakashi penuh selidik. Kegugupan melanda Tazuna sekarang dirinya begitu gelisah.
"Kakashi-sensei, bawalah mereka pulang sekarang. Aku akan menjalankan misi ini sendiri." kata Naruto datar. Menma yang mendengar itu naik pitam. Dengan cepat Menma mencengkeram erat kerah baju Naruto.
"Aku tahu kau kuat. Tapi jangan kau berlagak sebagai bos disini." Kedua mata biru itu saling menatap.
"Dengar Namikaze, Aku tak butuh orang seperti kalian, yang masih seperti anak manja. Itu hanya akan membebani misi yang akan aku jalani. Selain itu aku diperintahkan secara khusus oleh divisi intelegensi untuk membantu Tazuna-san." jelas Naruto. Mereka semua terdiam mendengar perkataan berkata apa pun Naruto mulai berjalan dari sana dengan diam, tak lupa ia mengajak Tazuna untuk mengikutinya.
"Benar apa yang dikatakan Naruto. Lebih baik kita kembali ke desa dulu." jelas Kakashi. Mereka ber empat mulai berlari kembali Konoha.
#Hokage office
BRAAAKKK...!
Suara gebrakan meja terdengar dengan keras di ruang hokage. Tangan sang kage meremas kertas yang ia pegang. Matanya menatap tajam 2 orang yang ada di depannya.
"Apa maksudnya ini..?" tanya sang kage dengan penuh penekanan. "Ini adalah misi yang diajukan oleh Naruto sendiri. Selain itu menurutnya ini adalah terobosan untuk menghancurkan Akatsuki." kata orang dengan luka melintang di wajahnya a.k.a Ibiki. Sang Hokage masih sangat bingung mengenai apa yang ada dipikiran salah satu anaknya.
"Huft... kenapa aku sampai tak tahu, jika ada Akatsuki yang pernah memasuki desa ini." Tangan sang kage hanya dapat memijat kepalanya. Raut wajahnya nampak begitu lelah.
"Dapat dikatakan, ini seperti kejadian penyerangan kyuubi dulu. Menurut Naruto, orang ini adalah orang yang sama pada penyerangan itu." kata Ibiki.
"Cih... sepertinya aku harus mengirim bantuan." sahut Minato.
CKLEEK...!
Empat orang ninja yang amat familiar memasuki ruangan. Mata sang Hokage menatap penuh selidik ke empatnya. "Maaf Hokage-sama, tim 7 membatalkan misi rank-C yang berubah menjadi misi rank-A ke atas." lapor Kakashi. Minato kembali memijit keningnya, prediksi dari anak sulungnya sangat tepat. "Neko, panggil tim Guy sekarang" panggil Minato. Muncul seorang anbu dengan topeng kucing. dia menunduk hormat pada sang kage.
"Tim 7 Kakashi dan Guy, bantu Naruto menjalankan misi ke Nami no Kuni." titah sang kage. Mereka mengangguk paham apa yang diperintahkan Minato. Mereka semua mulai meninggalkan tempat itu.
"Seharusnya anda tak perlu memberi Naruto bantuan. Saya yakin Naruto pasti sanggup menyelesaikan ini semua." kata Ibiki. "Mungkin kau benar, tapi aku tak ingin Naruto terluka."
#Naruto side
Naruto dan Tazuna kini telah berada diseberang sungai. Mereka berdua berjalan pelan dalam diam. Mereka seolah sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. "Apakah masih jauh Tazuna-san?" tanya Naruto datar. Mata birunya terus menatap lurus ke depan.
" Mungkin sekitar 2 km lagi kita akan sampai." jawab Tazuna. Terdapat kegugupan yang sangat jelas di tiap katanya. Matanya sesekali melirik bocah yang berjalan disampingnya. Belum sepat ia ingin bertanya, sebuah pedang besar meluncur ke arahnya. Naruto seketika menggunakan tangannya yang sudah mengeras seperti besi sebagai tameng.
Tink...!Jleb...!
Pedang besar itu menancap di tanah beberapa meter di depan Naruto dan Tazuna. Naruto yang berhasil menangkis pedang itu harus merelakan dirinya terseret beberapa meter kebelakang.
"Hebat juga kau bocah, berhasil menghindarinya. Serahkan saja orang tua itu dan akan ku biarkan kau hidup." Kata seorang pemuda dengan kain yang melilit hampir seluruh wajahnya. Orang itu berdiri dengan angkuh sambil di atas pedang yang masih tertancap di tanah. "Missing-nin Kirigakure Zabuza, pemegang pedang kubikiriboco( maaf kalo salah), Baiklah jika begitu akan kuserahkan dia padamu." kata Naruto dengan datar. Tazuna yang mendengarnya hanya dapat tersenyum kecut. Zabuza mulai melangkah menuju Naruto yang masih berdiri dengan tenang. Jarak mereka tinggal beberapa meter, membuat Naruto menyeringai tipis melihatnya. Menggeser sedikit kakinya, sebuah percikan api merambat dari kaki Naruto menuju tempat Zabuza berdiri. Ternyata di dekat kaki Zabuza terdapat beberapa kaleng minuman yang ternyata berisi bubuk mesiu.
DUAARR...!
Ledakan cukup besar tepat mengenai Zabuza, tak ayal tubuh Zabuza harus terpental cukup jauh. Hampir disekujur tubuhnya mengalami luka bakar yang sangat parah.
"Cih sial kau licik sekali bocah..." kata Zabuza yang kesulitan untuk berdiri. Pedang yang ia bawa tergeletak di tempat ledakan tadi. Naruto mulai mendekati Zabuza dengan pedang milik Zabuza yang tengah ia seret. "Di dunia ninja yang berlaku hanya ada hukum rimba, tak ada yang lain." kata Naruto dengan dingin. Zabuza menatap tajam bocah yang tengah melangkah ke arahnya. Naruto berdiri di samping tubuh Zabuza yang tergeletak tak berdaya. Tangan kiri Naruto mengeluarkan sesuatu dari kantong ninjanya. Beberapa senbon terselip diantara jari-jarinya. Dengan sekali lemparan semua senbon itu tepat mengenai titik ditubuhnya, yang membuat Zabuza tak bisa menggerakkan tubuhnya. Jangankan untuk bergerak, untuk berbicara saja sudah tak bisa. Naruto menyeret pedang beserta pemiliknya dengan santai.
"Tazuna-san, ayo kita ke tempat tinggalmu..." ajak Naruto yang sudah berjalan mendahuluinya. Tazuna segera menyusul Naruto yang berada di depannya. Baru beberapa meter mereka beranjak muncul seseorang dengan topeng hunter-nin berlambang Kirigakure.
"Maaf ninja-san, saya ingin mengambil tubuh Zabuza yang anda bawa..." pinta sang hunter-nin.
"Maaf aku tak berniat menyerahkannya padamu, ada yang harus ku lakukan dengannya." kata Naruto datar. Mata birunya yang tajam menatap orang di depannya.
"Jika menginginkannya, ikuti aku ke rumah Tazuna-san. Aku akan memberikanmu ayahmu dan hadiah yang menarik Haku-san." imbuh Naruto. Sang hunter-nin hanya melebarkan matanya saat identitasnya terbongkar.
"Bagaimana kau tau..?" tanya Haku penasaran. Seringai tipis tercetak di wajah datar Naruto.
"Ikuti aku kalau kau menginginkan jawaban." kata Naruto yang terus berjalan yang diikuti Tazuna dibelakangnya. Mau tak mau Haku pun harus mengikuti Naruto, karena rasa penasarannya yang begitu tinggi.
#SKIP TIME
Naruto, Haku, Tazuna dan Zabuza yang diseret oleh Naruto sampai di kediaman Tazuna. Kini Naruto, Haku(tanpa topeng) dan Tazuna sedang duduk dengan ekspresi serius dari masing-masing. Sedangkan Zabuza tengah berada di salah satu kamar milik Tazuna.
"Baiklah akan ku jelaskan satu-persatu. Pertama aku adalah chuunin Konoha, yang ditugaskan untuk membantu Tazuna-san, selain itu..." Naruto yang pertama kali buka suara mengeluarkan sebuah gulungan dari kantong ninjanya. "Ini adalah rincian dari misi yang ku dapat dari Konoha." Mata milik Tazuna dan Haku meneliti larik demi larik tulisan di gulungan itu. Mata mereka seketika membola melihat rincian misi bocah berambut merah api di depannya.
"Kenapa kau memberitahukan misimu Naruto-san." tanya Haku. Seringaian tipis kembali menghiasi wajah Naruto.
"Entahlah, hanya iseng." kata Naruto begitu enteng. Nampak Haku maupun Tazuna sweatdrop mendengar jawaban Naruto yang dapat dikatakan sangat tidak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan.
" Yang jelas ini semua ada kaitannya dengan kalian dan misi yang tercantum di gulungan itu." kata Naruto dengan senyum yang begitu misterius. TOK!TOK!TOK!
Pintu kediaman dari Tazuna diketuk oleh seseorang. Mereka bertanya-tanya siapa yang berkunjung ke rumahnya.
"Sebentar, akan kulihat siapa?" Tazuna angkat bicara. Ia pun mulai membuka pintu, terlihat Tazuna berbicara dengan tamunya. Tazuna pun mempersilahkan masuk tamunya. Mata Naruto menatap penuh selidik beberapa orang yang ia kenal sebagai sesama ninja dari Konoha.
"Kakashi-sensei dan Guy-sensei, mengapa tim Guy dan tim Kakashi kemari?" Sebuah tanda tanya besar muncul di kepala Naruto. Dia bingung mengapa ada bantuan juga.
"Kami diperintahkan oleh Hokage-sama untuk membantumu..." jelas Kakashi.
"Jika hanya kalian berdua aku mengerti, tapi para mengapa para amatir disini juga..." jawab Naruto kelewat santai. Mendengar itu seluruh anggota tim Kakashi maupun Guy merasa tersinggung.
"Apa kau bilang BRENGSEK! Aku ini seorang Uchiha klan terkuat di dunia." kata Sasuke yang begitu arogan. Tak ada respon berarti dari Naruto, ia tetap mempertahankan wajah datarnya.
"Dengar Uchiha, ada sebuah fakta bahwa Uchiha itu bukanlah klan terkuat melainkan klan Otsusuki adalah klan terkuat di dunia. Namun eksistensinya telah menghilang karena klan itu terpecah menjadi klan Uchiha dan Senju." jelas Naruto. Mereka begitu terkejut mendengar bahwa ada klan yang melebihi dan awal dari klan Uchiha.
"A-apa maksudmu, itu semua hanyalah bohong..." sangkal Sasuke.
"Ini adalah sebuah sejarah asli dari nenek moyangmu, selain itu terdapat kutukan yang akan terus menaungi klan Uchiha. Dan untuk kutukan itu biarlah waktu yang menjawabnya."jawab Naruto. Mereka kembali tercengang, Naruto memiliki informasi, yang bahkan Konoha tak memiliki arsipnya.
"Begini saja kalian genin tim Guy dan Kakashi lawanlah aku, jika kalian menang maka ku biarkan kalian ikut andil misi ini, tapi jika kalian kalah maka kembalilah ke Konoha." tantang Naruto. Tanpa menunggu jawaban Naruto sudah keluar dari rumah Tazuna. Merasa diremehkan mereka bergegas mengejar Naruto. "Sepertinya ini akan menarik bukan, Kakashi?" tanya Guy "Ya, aku ingin tahu bagaimana mereka mengalahkan Naruto.
#tengah hutan
Naruto terus berdiri dengan santai meskipun dia akan melawan 6 orang genin terbaik Konoha.
"Kalian sudah siap... Mulai!" titah Naruto. Mereka berenam sudah bersembunyi ke penjuru hutan. Naruto hanya tersenyum tipis, melihat mereka semua dapat bersembunyi dengan baik. Akan melangkahkan kakinya, Naruto harus menghindari puluhan senjata yang mengarah padanya. Belum sempat bernafas lega, Lee sudah berada di sampingnya dengan kaki yang siap menghantam wajahnya. Tak mau kalah Naruto menundukkan kepalanya untuk menghindari tendangan Lee, melihat ada kesempatan Naruto hendak men-tackle kaki Lee. Sebagai seorang ahli taijutsu Lee dengan mudah menghindari serangan Naruto dengan melompat ke atas. Naruto yang berniat menyerang Lee harus terhenti saat Sakura yang berada tak jauh darinya melemparkan beberapa kunai peledak ke arahnya. Tak mau mati muda, Naruto melompat ke belakang untuk menghindari serangan itu. Namun itu adalah sebuah kesalahan karena beberapa tali baja melilit tubuhnya. Pelaku a.k.a. Sasuke dengan cepat merangkai beberapa handseal.
FIRE REALEASE: FIRE BALL Api keluar dari mulut Sasuke merambat melalui kawat menuju Naruto dengan sangat cepat.
DUAARRR...!
Ledakan cukup besar dengan telak mengenai Naruto. Asap yang cukup pekat membumbung tinggi di tempat Naruto. Yang cukup mengejutkan, Naruto keluar dari tempat yang terbakar tanpa ada luka sedikit pun.
"Bagaimana mungkin..." Mereka yang melihat Naruto dapat selamat tanpa cidera sedikit pun hanya dapat terkejut. Naruto yang melihat itu kembali diam, tanpa berniat melakukan apa pun. Melihat Naruto yang memilih diam, Neji langsung mencoba menyerang Naruto.
JYUUKEN Tangan Neji yang telah terselimuti chakra menghantam perut Naruto dengan keras. Tak ayal Naruto harus rela tubuhnya terlempar beberapa meter. Lagi-lagi mereka dikejutkan saat Naruto berdiri dengan tegak tanpa ekspresi kesakitan sedikit pun. Belum sempat Naruto bergerak Menma telah siap menghantam tubuh Naruto dengan rasengan yang cukup besar.
"Rasakan ini Naruto!" Bukannya mengenai Naruto, malah serangan itu menembus tubuh Naruto yang telah menjadi api. Kejadian ini layaknya de javu bagi Menma.
DUAARRR...!
Serangan ber-rank A itu sukses menghantam tanah dengan keras. Sebuah kawah dengan diameter 3 meter adalah hasil dari jutsu Menma. Tak mau Naruto memiliki kesempatan menyerang, Menma lebih memilih berkumpul dengan anggota yang lain. Ke-enam bocah itu menatap Naruto yang sedang melangkah ke arah mereka dengan serius. Tanpa perduli ekspresi musuh di depannya, Naruto terus mendekati ke-enamnya tanpa takut.
"Aku cukup terkesan dengan kerja sama kalian, tapi mungkin cukup sampai disini saja." kata Naruto. Ekspresinya begitu dingin, mata birunya menjadi begitu tajam. Apalagi api yang tak terlalu besar terus menyelimuti tubuhnya. Memejamkan sejenak matanya, Seketika Naruto mengeluarkan Haki raja miliknya. Mau tak mau tim Guy dan Kakashi harus jatuh berlutut bahkan ada yang pingsan seperti Tenten dan Sakura.
"Tunduklah di bawahku, jatuh dan menyerahlah." kata yang penuh dengan intimidasi itu membuat Neji, Lee, Sasuke dan Menma bergetar dengan hebat. Entah kenapa Aura milik Naruto layaknya seekor elang yang mengincar mangsanya. Entah berapa kali mereka ber-empat harus mati-matian menjaga agar kesadaran tetap pada tubuh mereka. Suasana yang mereka rasakan begitu berat, bahkan hanya untuk bernafas. Naruto yang semakin mendekati mereka, membuat mereka semakin tak sanggup menahan tekanan mental yang begitu dahsyat. Kesadaran mereka telah mencapai batasnya masing-masing, dan ketika Naruto tepat di depan mereka, hanya gelap yang mereka lihat. Melihat korbannya telah pingsan Naruto mengeluarkan buku dan pulpen dari kantongnya. Naruto menuliskan observasinya tentang latih tanding kali ini.
" Kalian boleh keluar Guy-sensei, Kakashi-sensei." kata Naruto tanpa mengalihkan pandangannya pada buku yang ia pegang. Kakashi dan Guy berjalan dengan santai ke arah Naruto. Mereka kagum dengan kemampuan milik Naruto yang masih menyimpan segudang misteri.
"Kemampuan yang mengagumkan Naruto, kau dapat mengalahkan 3 prodigy dari klan elit du Konoha." puji Kakashi. Naruto tak menanggapi pujian dari sang guru.
" Jika kalian berkenan aku ingin melawan Guy-sensei" kata Naruto yang akhirnya melihat kedua guru pembimbing itu. Guy yang mendengarnya, menjadi amat tertarik untuk melihat kemampuan Naruto dengan duel satu lawan satu dengannya.
"Baiklah, aku setuju Naruto. Dan Kakashi aku ingin kau menjadi wasit pertandingan ini." tutur Guy. Kakashi hanya mengangguk paham. Naruto langsung memasang kuda-kuda khas miliknya. Guy yang melihat itu, juga memasang kuda-kuda miliknya.
"Baiklah... Mulai!" kata Kakashi.
Naruto langsung melesat dengan begitu cepat ke arah Guy. Tak mau kalah Guy juga berlari ke arah Naruto. Naruto langsung melayangkan pukulan uppercut ke arah Guy. Dengan refleks yang sangat mumpuni, dengan mudah Guy mengindari serangan milik Naruto, dengan menggeser sedikit tubuhnya. Melihat adanya celah, Guy hendak menendang rusuk Naruto. Berkat Haki sensor miliknya yang selalu aktif, Naruto menggunakan kedua lengannya untuk menangkis serangan Guy. Merasa serangannya tak membuahkan hasil, Guy mencoba memukul wajah Naruto. Tak tinggal diam Naruto melompat kebelakang untuk menghindari serangan Guy. Namun, hal itu malah digunakan oleh Guy untuk menendang Naruto di udara. Tak ada celah untuk menghindar, Naruto memilih menyilangkan kedua tangannya untuk menahan tendangan Guy. Saking kuatnya tendangan Guy, membuat Naruto harus merelakan tubuhnya menabrak beberapa pohon hingga tumbang. Menyeka darah di ujung bibirnya, Naruto langsung mengaktifkan Haki pertahanannya. Tangan dan kaki Naruto kini berwarna hitam dan keras layaknya besi.
"Guy-sensei, akan ku tunjukkan salah satu jurusku." tangan Naruto yang menghitam kini dilapisi oleh api yang begitu panas. "Inilah mode Gear 1 milikku." Dengan itu Naruto telah melesat dengan kecepatan tak masuk akal ke arah Guy. Menggunakan api di tangan dan kakinya sebagai pendorong layaknya sebuah pesawat jet. Memfokuskan seluruh api miliknya di anggota gerak tubuhnya, menjadikan kecepatan Naruto meningkat dengan drastis. Namun kelemahan pada Gear 1 pertahanan milik Naruto juga menurun dengan drastis, karena seluruh kekuatannya hanya di fokuskan ke anggota gerak tubuh. Guy yang melihat Naruto telah menghilang memasang sikap siaga. Tanpa dapat ia antisipasi, Naruto telah berada di sampingnya dengan pukulan berlapis api. Karena kecepatan yang tak bisa diikuti serangan Naruto dengan telak menghantam wajah si maniak latihan. Tak ayal pipi kiri Guy terbakar dan harus rela terseret beberapa meter. Belum sampai ia berhenti Naruto sudah ada di sampingnya, Naruto menghantamkan tumit kakinya ke perut Guy. Saking kuatnya tendangan itu, hingga membuat kawah dengan diameter 1 meter. Guy yang menjadi korban hanya dapat merasakan kesakitan seperti di hantam dengan besi panas. Guy tergeletak tak berdaya di tengah kawah. Naruto yang berniat meninggalkan tempat itu harus jatuh terduduk. Mata milik Naruto bergerak sangat liar, beberapa kali ia batuk darah. Kakashi yang sedang menggendong Guy, harus teralihkan saat melihat Naruto batuk darah.
"Kau baik-baik saja Naruto?" tanya Kakashi khawatir. Belum pernah ia melihat kondisi Naruto hingga batuk darah. "Yah, inilah efek penggunaan Gear 1 milikku. Aku memaksakan tubuhku untuk menggunakan kecepatan yang hampir sama dengan kecepatan orang bersin. Dapat dikatakan aku melaju hingga mencapai kecepatan 4,2 m/s. Karena tubuhku tak bisa menahan efek dari tekanan udara yang berlebihan. Membuat beberapa organku mengalami disfungsi, terutama jantung dan paru-paru." jelas Naruto dengan ekspresi kesakitan yang sangat jelas. Kakashi tak berniat untuk bertanya lebih lanjut karena Naruto sudah berjalan menuju rumah Tazuna.
"Sepertinya Naruto berusaha membuktikan sesuatu padamu sensei, tapi mungkin semuanya telah terlambat sekarang..." gumam Kakashi pada dirinya sendiri. Ia begitu merasa kasihan terhadap gurunya yang telah kehilangan anaknya. Namun disatu sisi Naruto mungkin sudah jengah untuk mendapatkan keluarganya kembali.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Kalau berkenan tulislah sepatah dua patah kata tentang cerita ini di kolom review...
ARIGATOU GOZAIMASU
