Anne Garbo

Iklan

Disclaimer :Kuroko no Basukemilik Fujimaki Tadatoshi

Warning : peringatan warna warni ada disini. Tapi yang paling saya ingatkan adalah

Saat anda menemukan ranjau typo, dimohon agar jangan diinjak

Yes, Furihata Kouki kecil gemar menonton tivi. Akhir-akhir ini hal yang ia lakukan setelah pulang dari TK adalah berlari ke ruang tivi, menyambar remot, kemudian menyetel apa saja yang sekiranya paling ramai.

Karena kebiasaan ini, ada banyak adegan-adegan di tivi yang Kouki contoh. Ibunya sampai geleng-geleng saat mendengar kata-kata sulit secara polos keluar begitu saja dari mulut anaknya. Misal seperti ini.

Di saat nyonya Furihata sedang menyeduh teh di dapur, si kecil Kouki yang sedang asik bermain di ruang sebelah pun menghampirinya begitu mencium bau harum teh dari arah dapur.

"Mamah.. mamah.. itu teh?"

"Iya. Kouki mau?"

Kouki menggeleng. "Mamah, mamah gak boleh minum teh. Kashian itu ulatnya," jelas Kouki. Wajahnya cemberut dengan pipi menggembung. "Udah pucuk pucuk tapi diambil mamah!" lanjutnya sambil kedua tangan diletakkan di atas kepala kemudian loncat-loncat saat mengucapkan kata 'pucuk'.

Ada juga di suatu hari saat kakaknya, Naoki tidak sengaja jatuh dari tangga. Bukan jatuh yang terlalu parah dan sampai bergulig-guling. Hanya terlewat satu anak tangga sehingga tubuhnya ambruk langsung ke dasar tangga – yang hanya menyisakan dua anak tangga lagi.

Mendengar suara ribut itu, Kouki yang tadinya sedang duduk di ruang tivi menengok ke belakang. Melihat kakaknya yang sudah tergeletak di bawah tangga dengan tangan memegang kepala. Anak terkecil dalam keluarga itu segera berlari menuju kakaknya. Sambil menangis, ia memeluk erat sosok yang sedikit lebih tua darinya itu.

"Kakaaaaaakk!" teriaknya di sela tangis.

Naoki yang tadinya sibuk mengusap kepalanya yang benjol kini malah mengsusap-usap kepala Kouki untuk menenangkan adik satu-satunya itu.

Kouki mengangkat kepalanya. Melihat wajah Naoki dengan wajah bersimbah air mata. "Kakak.. kakak gak apa-apa? Kakak mashih ingat Kouki kan? Kakak gak amnyeshia kan?"

Naoki diam. Amnyeshia? Bahasa baru apalagi itu?

Melihat Naoki yang tiba-tiba diam, tangisan Kouki mengeras. "Mamaaaaaaaaa... Kakak amnyeshia! Amnyeshia!"

Usut punya usut, ternyata amnyeshia yang disebutkan Kouki adalah 'amnesia'.

Iklan

Akashi Seijuuro sebenarnya tidak terlalu suka kerja kelompok. Bukan karena dia sombong. Eh, mungkin sedikit. Tidak, agak banyak. Tapi dia malas dibuat repot oleh anak-anak kecil yang kerjaannya terus bermain sehingga tidak fokus dalam pekerjaan mereka.

Memang dalam hal seperti ini terkadang Seijuuro lupa kalau dia masih bocah kelas 6 SD. Gayanya sok tua. Dalam ngegombalin gurunya pake taktik jadul pula.

Karena Seijuuro merasa tua, maka dari itu dengan sok tua pula ia hari ini sepulang dari kerja kelompok di rumah temannya, ia memutuskan untuk pulang sendiri. Dalam hati menyombongkan diri bahwa hal yang namanya jalan sendiri alias ngangkot alias tidak dijemput supir adalah hal remeh yang seperti debu di ujung kukunya. Tinggal sentil, lalu mental. 'Tuing!'

Siang hari itu terik. Seijuuro sudah berjalan entah sudah berapa meter. Ia sedikit-sedikit ingat belokan-belokan yang ia lalui saat menuju rumah teman sekelasnya tadi. Tapi ia tidak memperhitungkan jarak, rupanya. Apa kakinya masih terlalu pendek hingga untuk mencapai belokan berikutnya saja tidak sampai-sampai? Seijuuro membatin untuk banyak-banyak minum susu setelah ini.

Sampai akhirnya ia berhenti di depan kombini. Pintu yang terbuka karena ada orang keluar dari dalamnya itu meniupkan angin sejuk rasa kamper jeruk. Seijuuro diam sejenak. Melirik ke dalam. Mungkin bisa membeli susu atau mungkin sekedar menumpang mendinginkan diri di bawah AC.

Tapi bocak sok dewasa ini menggeleng. Merasa harga dirinya akan terlukai jika dia menyerah kalau hanya sampai sini sudah tergoda ngadem di bawah AC. Kalau begitu kenapa tidak panggil supir untuk jemput saja sekalian.

Ia menggeleng. Kemudian terus melangkah. Badannya ditegapkan gagah dengan langkah besar-besar. "Apa kata adinda kalau baru seperti ini saja kakanda sudah menyerah!" gerutunya.

Seijuuro sibuk dengan pikirannya, hingga tidak menyadari ada sepasang mata bulat yang memperhatikannya. Mata yang memiliki warna sama dengan guru kesayangannya itu membulat lucu. Tertutup sekian detik saat bulu matanya menyapu kala mengedip. Kepalanya miring ke kanan karena heran. Heran melihat seorang kakak berambut merah yang seumuran kakaknya tidak jadi masuk ke kombini meski terus saja curi-curi pandang.

Furihata Kouki nama anak itu. Yang lagi-lagi kabur dari rumah untuk membeli Pocky. Namun sayang pintu otomatis Kombini tidak mau terbuka meski ia sudah berdiri di depannya. Gagal dinotis sebagai orang.

Rasa penasaran Kouki menguat. Dikit-dikit ia mengikuti kakak yang seumuran kakaknya. Melihat bagaimana kakak itu berjalan yang tadinya tegap kini makin membungkuk lemas.

Hingga si kakak itu tersandung kerikil dan jatuh. Kouki segera berlari menghampiri.

Seijuuro mengangkat kepalanya saat melihat sepasang kaki yang lebih kecil darinya berdiri di depan tubuhnya yang sedang terlungkup di tanah. Seorang anak kecil dengan kaos longgar, celana selutut, topi besar di kepala, dan tas selempang di bahu.

Anak kecil itu tidak tertawa meski Seijuuro sudah siap ditertawakan. Anak kecil itu malah membuka tas nya dan mengeluarkan sebotol air dan menyodorkannya ke Seijuuro.

"Ada achua?" tanya anak itu. Kepalanya dimiringkan dan meletakkan botol minumannya di tangan Seijuuro.

"Daya konshen-terashi-mu kurang," ucapnya lagi sambil susah payah melafalkan kata konsentrasi. "Butuh achua!"

FIN

Sedikit menjawab pertanyaan Calico, kenapa judulnya PAPEPO?

Oke. Ini ada sejarahnya. Ceritanya, Anne terkena virus fedo. Dan ingin membuat cerita Akafuri no pedo. Tapi terlalu eksplisit. Tadi mau diplesetin jadi Akafuri no Pepo. Tapi setelah di translate, pepo dalam bahasa swahili (?) berarti demon, jadinya Anne plesetin lagi jadi PAPEPO.

Intinya, ini drabble yang dibuat untuk menyebarkan virus fedo dengan membuah salah satu atau kedua tokoh utama di cerita ini menjadi anak-anak.

Semoga kalian tertular~