Anne Garbo

Kencan

Disclaimer :Kuroko no Basukemilik Fujimaki Tadatoshi

Warning : peringatan warna warni ada disini. Tapi yang paling saya ingatkan adalah

Saat anda menemukan ranjau typo, dimohon agar jangan diinjak

Ini kencan! Itu yang Seijuuro pikirkan.

Tapi bagaimana ia tidak berpikir seperti itu. Saat ini ia sedang berdua dengan guru tercin- ehem kesayangannya di bawah pohon rindang sambil berpegangan tangan. Seijuuro berusaha menahan seringaiannya. 'Ini kencan! Ini kencan!'

Meski sebenarnya bukan kencan. Begini ceritanya..

Seijuuro yang lagi-lagi dengan sok dewasa menginginkan untuk tidak perlu dijemput saat pulang sekolah. Ia yang tersisa sendirian di kelas, sedang asik membuka google map untuk merencanakan lewat jalur mana ia akan pulang nanti. Tentu saja Furihata Kouki selaku wali kelas menghampiri muridnya yang jarang telat dijemput.

"Kenapa masih disini, Sei-kun?" tanya Kouki. Tangannya dengan lembut menepuk pundak Seijuuro.

Bocah itu menengok sekilas lalu kembali kepada gadget yang menjadi pusat perhatiannya. "Membuat rute pulang," ucapnya.

Kouki mengintip dari balik punggung kecil itu. Melihat tampilan peta elektronik dari gadget yang anak itu pegang. "Rute? Memangnya kamu tidak dijemput?"

Seijuuro menggeleng. "Hari ini tidak."

Guru SD berambut brunet itu jongkok dan kedua tangannya berada di sisi tubuh Seijuuro. Memaksa anak itu berputar menghadapnya. "Yakin kamu pulang sendiri? Rumahmu jauh loh."

Mengangkat satu tangannya yang kemudian diletakkan di pipi Kouki untuk dielus perlahan, "Jangan ragukan kakanda,"

Tindakannya itu membuat si guru menunduk lemas. Dan bocah itu menyeringai senang.

'Kena deh!' gumamnya. Entah kenapa Seijuuro selalu bangga kalau mendapat respon malu-malu gurunya.

Kouki menghela nafas lalu mengangkat wajahnya. Ia telah memutuskan! "Sei-kun, apa kamu tidak keberatan menunggu sekitar sepuluh menit lagi? Setelah itu, kita akan pulang bersama," ucap Kouki.

Ia tidak bisa membiarkan anak polos macam Seijuuro yang kemana-mana bersama supir kini jalan sendirian. Bahkan ia tak bisa membayangkan bagaimana tuan muda Akashi jalan kaki di pinggir trotoar apalagi naik bus.

Sedangkan wajah si bocah berambut magenta tersenyum seumringah. "Jangankan sepuluh menit, adinda. Sepuluh tahun pun akan kakanda tunggu hanya demi berkencan denganmu."

Seijuuro salah paham. Kouki mendadak migrainnya kumat.

Kencan

Seijuuro tidak bisa menyeringai senang lebih dari ini. Bagaimana tidak, ia berjala berdua dengan adindanya, bersebelahan dan berpegangan tangan sepanjang jalan. Bangganya dia. Bahagianya dia.

Begitu matanya menangkap kedai eskrim, murid kelas 6 SD ini berkata, "Apakah adinda ingin eskrim? Akan kakanda belikan."

"Sei-kun, bisa hentikan panggilan itu?"

"Yang mana?" tanya bocah itu polos.

"Yang adinda dan kakanda. Sei-kun tidak boleh memanggil Pak Guru adinda. Mungkin kalau di lingkungan kelas Pak Guru maafkan, tapi kalau di luar begini.."

"Memangnya kenapa?"

Pertanyaan polos itu lagi. Rasanya Kouki ingin menarik rambut-rambut di kepalanya. "Tidak pantas, Sei-kun.."

Hening. Kouki mulai khawatir kalau Seijuuro merasa sedih. Maklum, guru penyayang murid ini paling tidak tahan jika melihat anak kecil menangis. Se-kurang ajar apapun anak itu.

"Baiklah.." gumam Seijuuro yang Kouki dengar. Bocah itu mengangkat kepalanya, menatap Kouki dengan wajah sedih – bukan, malah ada seringai dewasa disana. "Jadi mau kakanda panggil seperti apa? Cinta?"

Ya Tuhan! Cobaan apa lagi ini? Kouki lelah! Stop! Stop! Kamera mana, kamera? Kouki mau melambaikan tangan menyerah! Mas, gak kuat masss!

"Te-terserah Sei-kun saja.." jawab Kouki. Dia sudah pasrah. Makin dilarang anak ini akan makin memunculkan ide-ide yang aneh. Sudahlah.

Bocah kelas 6 SD itu tersenyum riang. Pertama senang kalau si adindanya ini malu-malu kucing. Tapi ternyata malah mau dipanggil cinta. Sip! Gak sia-sia perguruannya selama ini dari koleksi lakon drama kakeknya. Tok cerrr!

"Kalau begitu, tunggu disana dulu ya, cinta. Kakanda akan belikan dulu."

Seijuuro mencelos pergi. Kouki berjalan terseok menuju kursi taman. Sepertinya benar deh, dia harus mengajukan surat pengunduran diri segera. Kalau tidak, dia benar-benar bisa diadukan ke lembaga perlindungan anak atas.. atas apa Kouki tidak tau. Toh dia korban!

Kencan

"Kakak," tegur Kouki kecil saat melihat kakaknya sedang asik bermain game. Bocah berumur lima tahun itu memeluk Naoki dari belakang lalu bergelayut disana. Berusaha mendapatkan perhatian.

"Hmm?" balas Naoki.

"Kita poligami, yuk! Kouki boshan!"

Naoiki menjatuhkan game di tangannya. Buru-buru berbalik untuk melihat Kouki, sekedar memastikan apakah kata berat tadi benar diucapkan oleh adiknya yang polos.

"Kouki, tadi kamu bilang apa?"

Kouki mengedipkan mata dua kali. "Kouki boshan!"

"Bukan, yang sebelum itu!"

"Poligami yuk!"

Naoki diam. Mata membulat. Ini bukan mimpi! Kouki, adiknya tersayang yang paling polos sedunia bisa berkata seperti itu! Kata yang bahkan Naoki baru pertama kali dengar saat tidak sengaja membaca majalah ibunya dua minggu lalu! Dan Kouki masih belum bisa membaca!

"Kakak, poligami yuk? Tapi.. tapi Kouki mau jadi ishteri pertama, kan.. kan Kouki shudah pernah – pernah jadi ishteri kedua."

Naoki kedip-kedip. Ya Tuhan! Adiknya habis diapain sama siapa?

"Kouki, siapa yang mengajarkan kamu kata itu?" tanya Naoki sambil menggenggam kedua bahu kecil milik adiknya.

"Teman kakak!"

"Hah?"

"Kemarin Kouki ketemu teman kakak! Jatuh depan kombini! Kurang konshen-terashi. Trush Kouki kashih Achua!"

Siapa lagi orang itu?!

FIN←

Terimakasih atas semua reviewnya~ Anne senang!

Awalnya kurang percaya diri dengan tulisan kemarin ahahaha! Seperti.. 'Aku menghancurkan karakter mereka berdua demi apa?!' Tapi kalian menikmatinya, jadi agak lega.

Chap ini mempunyai perjuangan lebih! Mungkin alur dan plot nya berantakan. Narasinya kurang.. Anne udah mulai kehilangan moodnya ah =..= dan sepertinya bercandaan ini makin keterlaluan. Merasa seperti itu? /udah tau keterlaluan malah dilanjutin!/ gemplak/

Omake

Seijuuro menatap malaikat ke atas. Melihat bagaimana sosok kecil itu berbayang seperti memiliki sayap dari cahaya matahari. Air yang diulurkannya, seperti sebuah uluran kebahagiaan dari Dewa.

Seijuuro bangkit. Membersihkan sedikit kotoran di celananya. Lalu menggenggam kedua tangan kecil itu. Mengabaikan botol air yang tadi diberikan.

"Malaikat," ia berujar. Makhluk kecil itu diam kebingungan. "Jadilah istriku!" pinta Seijuuro.

"Ishteri?" bocah itu bertanya.

Pertanyaan yang membuat Seijuuro tersentak akan kesadaran. "Tunggu! Aku sudah punya adinda!" Seijuuro berbalik, memunggungi Kouki yang kini menggiigit jempolnya karena bingung. "Tidak! Aku tidak berani mengkhianati adinda!"

Lalu Seijuuro berbalik lagi. Kali ini menatap si bocah kecil dengan tatapan mantab. "Jadilah istri keduaku! Hukum melegalkan poligami karena kakanda sanggup menyayangi kalian berdua!"

Bocah itu masih diam. Jempol masih digigit. Seijuuro kembali bertanya "Mau kan poligami dan jadi istri keduaku?"

Dengan lugu Kouki mengangguk. "Mau!"