Anne Garbo

Dadah

Disclaimer :Kuroko no Basukemilik Fujimaki Tadatoshi

Warning : peringatan warna warni ada disini. Tapi yang paling saya ingatkan adalah

Saat anda menemukan ranjau typo, dimohon agar jangan diinjak

Suasana kelas penuh haru biru. Semua murid kelas 6A menangis keras-keras begitu guru kesayangan mereka mengumumkan pengunduran dirinya. Furihata Kouki selaku wali kelas mulai merasa tidak enak saat melihat air mata membanjiri wajah murid-murid kesayangannya.

"Pak Guru minta maaf ya, tidak bisa menemani kalian sampai lulus," ucap Kouki sambil mengelus satu per satu murid kelasnya. Kecuali satu.

Ada satu murid yang belum juga bergerak dari tempat duduknya sejak ia mengumumkan pengunduran dirinya tersebut. Ya. Satu-satunya murid yang paling membuat Kouki geleng-geleng kepala. Murid yang membuatnya terpaksa mengundurkan diri karena tidak ingin berurusan dengan komnas perlindungan anak.

Kouki melirik menuju tempat anak itu biasa duduk. Masih duduk manis di kursinya. Tak bergerak. Mata melotot. Mulut terbuka. Apa anak itu baik-baik saja?

Baru mau Kouki hampiri, Akashi Seijuuro – nama anak itu sadar dari keterkejutannya. Matanya mengedip tiga kali, mulut terkatup rapat. Lalu dengan badan gemetar, ia memundurkan kursi. Berusaha untuk bangkit yang justru membuat seluruh kursi dan mejanya ikut bergetar.

"Ti-tidak mungkin!" ucapnya. Terdengar suara petir seperti latar suara. "Ini tidak mungkin!"

Kouki menghampirinya. Merasa kasihan. "Sei.." panggilnya. Satu tangan berusaha menggapai punggung kecil itu.

Bocah berambut merah itu mengangkat wajahnya. Menatap Kouki dengan mata berkaca-kaca. "Apakah ini karena.."

"Karena?"

"Apakah ini karena aku telah poligami?"

Poligami? Apa bocah itu baru saja bilang poligami?

"Jadi adinda menentangnya? Adinda tidak ingin dimadu?"

Dimadu? Apa bocah itu baru saja bilang dimadu?

"Kenapa tidak bilang langsung ke kakanda? Kakanda minta maaf, adinda! Agama mengharamkan perceraian!"

Pe-perceraian?

Dalam hati Kouki menangis. Antara sedih dan bahagia. Satu sisi dia merasa senang bisa bebas dari percakapan gila seperti ini lagi nanti. Di sisi lain, dia merasa telah gagal menjadi pendidik.

Dadah

Kakak beradik itu berjalan bergandengan tangan. Dengan si adik yang sibuk menyanyikan lagu pembuka sebuah acara kartun. Inilah kebiasaan mereka tiap minggu. Berjalan berdua menuju kombini untuk membeli cemilan.

Namun baru setengah perjalanan, Naoki merasakan tangan Kouki lepas dari genggamannya. Ia buru-buru berbalik. Was-was takut adik satu-satunya hilang.

Untungnya tidak. Karena saat ia berbalik, ia melihat Kouki sedang berlari menghampiri kakak-kakak yang memiliki warna rambut mencolok. Buru-buru Naoki menghampiri adiknya.

"Pochi!" seru Kouki sambil menunjuk kepada yang berambut merah. Pemuda yang ditunjuk itu pun menengok. Ekspresinya terkejut karena tidak menyangka akan bertemu dengan anak kecil itu lagi disini.

"Kouki," ucapnya. Ia berjongkok dan mengelus puncak kepala Kouki. "Jalan sendiri lagi?"

Bocah itu menggeleng. "Shama kakak!"

"Kau mengenalnya, Akashi?" tanya si pemuda berambut hijau.

"Bisa dibilang begitu."

Lalu datanglah bocah lain yang lebih tua namun mirip dengan Kouk

"Kouki!" panggilnya.

"Kakak!" balas Kouki dengan nada senang sambil melambaikan tangan.

Naoki mendekat lalu dengan gemas mencubit kedua pipi Kouki. "Jangan suka menghilang begitu, ya ampun! Kakak jadi khawatir!"

"Maahhf" balas Kouki. Maksudnya ingin mengatakan 'maaf' tapi susah karena pipinya sedang ditarik ke kanan-kiri.

"Kakak siapa?" tanya Naoki pada Seijuuro. Merasa heran kok adiknya bisa kenalan sama abang-abangan begini. Jangan-jangan orang ini yang menyebarkan virus tidak benar kepada Kouki? Memikirkan itu, mata Naoki langsung menyipit tidak suka.

Seijuuro tersenyum. "Nama saya Akashi Seijuuro. Saat itu pernah bertemu Kouki di jalan ini."

"Kakak ini pernah kashih Kouki banyaaaaaaakk Pochi!" Kouki menambahkan.

"Yang ngajarin Kouki poligami?" tanya Naoki pada Kouki. Seijuuro melongo mendengar pertanyaan itu.

Kouki dengan lugu mengangguk. Naoki melotot. Seijuuro juga. Kouki menggigit jempolnya lalu menggeleng. Naoki mengerutkan kening. Seijuuro lega.

"Jadi yang benar yang mana? Yang begini?" tanya Naoki sambil menganggu. "Atau begini?" tanyanya lagi sambil menggeleng.

Kouki malah memutar kepalanya sambil tertawa meledek. Angguk-angguk. Geleng-geleng.

"Poligami?" tanya Seijuuro pada Naoki. Heran kok kata seberat itu diucapkan sanak anak kecil yang bahkan dengan tinggi baru selututnya.

"Waktu itu Kouki bilang, dia diajakin poligami sama kakak-kakak." Jelas Naoki.

"Kenapa bisa begitu? Siapa yang ajari?" kali ini pemuda yang berambut hijau yang bertanya.

Naoki menggeleng. "Tidak tau. Pokoknya dia pulang-pulang sudah ngajakin aku poligami."

Pemuda berambut merah itu menghela nafas. Tangan kembali memainkan puncak kepala anak kecil berumur lima tahun tersebut yang masih asik angguk-angguk geleng-geleng. Dalam hati berpikir orang edan mana yang berani mengontaminasi pikiran polos anak kecil. Pedofil kah? Dunia ini makin tidak aman.

"Kak Shei, poligami yuk! Jadi ishteri ketiga Kouki!" ujar Kouki. Senyum lebar sampai semua gigi susunya terlihat. "Nanti Kouki kashi Pochi shepuluh!"

Ya Tuhan! Anak selugu dan semanis ini pasti banyak yang mau culik. Seijuuro tidak bisa membayangkan apa saja yang pedofil itu lakukan sampai-sampai mengajarkan poligami.

"Kouki, kata pak polisi, Kouki cuma boleh punya satu istri," Seijuuro berbohong. Ancam-mengancam anak kecil. "Kalau punya lebih dari satu istri, nanti dipenjara loh!"

Biarkan Seijuuro berbohong, ya Tuhan! Demi mengembalikan ke jalan yang benar dan melindungi malaikat kecil ini dari segala macam yang tidak-tidak.

FIN

Sebenernya dari kemaren aku nunggu-nunggu ada yang nanya, "Kenapa Kouki dan Sei ada dua?" atau ada yang ngeluh karena pusing ceritanya dipaksa nyambung2in, terutama karakternya yang bisa dobel.

Ternyata, pembaca PAPEPO ini anehuhuk tak disangka jenius rupanya! Bisa mengikuti alur edan yang sebenernya bukan alur, tapi genangan di atas daun talas. Why? Karena dunia disini sempit bener yeh! Sei kecil ketemu sama dua Kouki, dan Kouki kecil bisa ketemu dua Sei. Jadi para bocah ini jangan-jangan bisa melompati waktu? Ataukah memang di dunia itu normal ada dua orang dalam satu waktu?

Kalian bingung gak sih? Aku yang komen gini aja bingung! /lu authornya woi!/

Intinya, nikmati sajalah~ gitu kan ya?