For naw, saya harus move on dari yang namanya tragedy flashdisk patah.

Untuk menjawab pertanyaan, apa yang terjadi apabila Sei dan Kouki besar bertemu.

Berjalan-jalan keliling toko buku, sudah lama Kouki tidak melakukannya semenjak ia mengajar SD. Ya, Kouki menjadi pengangguran saat ini. Terdengar menyedihkan, tapi itulah pilihan hidupnya. Lebih baik menganggur daripada dijebloskan ke penjara karena tuduhan cuci otak anak di bawah umur.

Kouki menghela nafas. Dalam hati berfikir, apa didikannya salah? Apa ilmu yang dia tuntut empat setengah tahun di universitas itu salah Kouki cerna?

Maka dari itu, Kouki memutuskan di hari menganggurnya seperti ini ia gunakan untuk banyak-banyak belajar lagi. Kalau perlu, Kouki akan ambil S2 jurusan Psikologi Anak. Ia rasa orang tuanya masih bisa bersabar menunggu tiga atau empat tahun lagi sampai Kouki jadi benar-benar independen. Lagipula, uang hasil mengajarnya di SD masih utuh karena tiap bulan dia masih dapat transferan. Maklum, keluarga Furihata itu lumayan mampu.

Kouki berkeliling di rak-rak bagian psikologi. Mencari buku apa saja yang berhubungan dengan psikologi anak sambil berusaha untuk tidak mengambil referensi yang sama dengan diktat yang ia dapat saat kuliah. Karena mungkin saja itu diktat sesat. Dan pengalaman Kouki adalah buktinya.

Lalu saat tangannya hendak meraih sebuah buku di rak atas, ada tangan lain yang meraih ke buku yang sama. Ah, adegan klasik opera sabun.

Kouki reflek menarik tangannya saat ujung jarinya bersentuhan dengan tangan sosok asing tersebut. Ia menengok. Melihat seorang pria berambut merah magenta yang lebih dulu mengambil buku yang diincarnya.

"Maaf. Kamu ingin menginginkan buku ini?" tanya pria tersebut sambil menyodorkan buku yang hendak Kouki ambil. Kouki terdiam sebentar. Melihat pria di depannya ini mengingatkan dia akan seseorang.

"O-oh! T-tidak. Aku hanya ingin melihat sampulnya. Itu buatmu saja," ucap Kouki sambil mendorong balik buku tersebut.

Pemuda berambut merah itu pun ikut diam. Seperti sedang meneliti wajahnya. Kouki mundur satu langkah. "A-ada apa?"

Orang itu menggeleng. "Kau mengingatkanku kepada seseorang."

"EH!" Kouki terkejut dengan mulut ternganga.

"Kau baik-baik saja?" tanya pemuda itu.

"Tidak! Maksudku iya! Maksudku, aku tadi juga berpikiran serupa."

Lalu hening. Mereka berdua saling tatap. Tenggelam dalam pikiran masing-masing sambil meneliti wajah satu sama lain. Hingga pemuda berambut merah itu yang mulai bertanya.

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanyanya dengan satu alis naik dan senyum tipis.

Kouki terpana. Wajahnya tersemu merah dan menggeleng pelan. "Entahlah. Sepertinya baru kali ini bertemu."

Pemuda di depannya itu terkekeh. Entah kenapa merasa lucu, Kouki pun ikut tertawa.

"Aneh ya," ucapnya. Kouki pun mengangguk.

Waktu berlalu pelan-pelan. Kekehan tawa mereka memelan yang dilanjutkan dengan helaan nafas pelan.

"Namaku Akashi," ucap Akashi sambil mengulurkan tangan. Senyum tipis kembali tersungging di wajah rupawannya. "Apa setelah ini kau tidak keberatan minum kopi bersamaku?"

Kouki menyambut tangannya. "Aku Furihata, dan aku tidak keberatan."

Tik.. tok..

Eh? Akashi?

Anne Garbo

Buku dan Cafe

Disclaimer :Kuroko no Basukemilik Fujimaki Tadatoshi

Warning : peringatan warna warni ada disini. Tapi yang paling saya ingatkan adalah

Saat anda menemukan ranjau typo, dimohon agar jangan diinjak

Kouki tidak mau dibilang dunia itu sempit atau bagaimana. Dia juga tidak bisa mengatakan kalau dia beruntung atau sial. Nama pria tampan yang duduk di depannya ini adalah Akashi. Nama yang persis seperti nama mantan muridnya yang membuat dia trauma sampai-sampai. Berarti ada kemungkinn kalau mereka adalah saudara. Pantas saja rasanya pernah lihat!

Tapi Akashi yang di depannya ini super tampan Ya Tuhan! Cara bicaranya santun dan sopan. Sedikitpun tak terdengar kata adinda maupun kakanda. Kouki sampai-sampai salah tingkah duduk di depannya.

"Ada apa Furihata?" tanya Akashi. Wajahnya tampak cemas.

Kouki menggeleng. "Tidak, bukan apa-apa."

Tangannya dengan gemetar mengambil cangkir the kemudian meminumnya. Salah tingkah karena diperhatikan terus.

"Ngomong-ngomong, Furihata kuliah jurusan psikologi anak?"

"Eh?"

"Buku tadi.. tentang psikologi anak kan? Ku kira-"

"Tidak! Maksudku ya!" Kouki meruntuki dirinya sendiri dalam hati. "Maksudku, iya buku itu tentang psikologi anak. Tapi aku sedang tidak kuliah."

"Sedang tidak?"

"Iya. Aku baru berniat untuk melanjutkan pendidikan akhir-akhir ini."

Akashi mengambil cangkir kopinya. Sebelum minum, dia bertanya, "Hmm.. Memangnya umur Furihata berapa?"

"Dua puluh empat."

Uhuk! Akashi tersedak.

Kouki ikut panik. Badannya maju ke depan dan buru-buru menyodori Akashi dengan sapu tangan. "Kamu tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa." Akashi menerima sapu tangan yang disodori oleh Furihata dan digunakan untuk menyeka bibirnya. "Aku hanya terkejut," ucapnya sambil terkekeh sendiri. Kouki memiringkan kepalanya karena bingung. "Ku kira kita seumuran."

Kouki jatuh terduduk di kursinya. Dia kira ada apa tiba-tiba Akashi terbatuk seperti itu. Kan Kouki masih terngiang berita kopi beracun di tivi pecan lalu.

"Memangnya umur Akashi berapa?"

"Sembilan belas."

Kali ini Kouki yang tersedak liurnya sendiri.

Melihat ekspresi terkejut Kouki, Akashi kembali tertawa pelan. "Memangnya kamu pikir umurku berapa?"

Wajah Kouki merona dan segera menunduk. Menjauhkan diri dari tatapan dan senyum miring Akashi. "Aku merasa tidak enak kalau kukatakan."

"Tidak apa-apa. Katakan saja. Aku sudah terbiasa mendengar orang-orang yang mengatakanku seperti orang tua."

Kali ini Kouki yang tertawa. Pemuda brunet itu mengangkat sedikit kepalanya. Melihat Akashi dengan mata jenaka yang tersembunyi di bali poni. "Aku tidak berpikiran setua itu." Kouki tertawa lagi. "Ku kira umurmu dua puluh dua."

Akashi melebarkan senyuman miringnya. "Well, tidak separah mereka, berarti."

Mereka tertawa berdua yang tak lama reda menjadi senyuman yang dilempar satu sama lain. Suasana café yang hampir ramai jadi terabaikan. Sibuk dengan dunia masing-masing.

Sampai Akashi yang bergerak terlebih dahulu. Pemuda berambut magenta itu merogoh tasnya dan memberikan buku yang sempat mereka rebutkan di toko buku itu kepada Kouki. "Buatmu."

"Eh? Tidak perlu! Untukmu saja."

Akashi mendorongnya ke depan Kouki. "Untukmu saja. Kamu kan perlu untuk sekolah lagi. Kuliah S2 ya berarti?"

Kouki menatap buku itu. "Memangnya kamu tidak perlu?"

"Tidak terlalu sih. Aku hanya ingin membacanya karena akhir-akhir ini aku dekat dengan seorang anak kecil yang sering kabur dari rumah." Akashi mendadak terdiam. Seperti telah menyadari sesuatu. "Dan aku baru sadar kalau anak itu mirip sekali dengan kamu."

"Eh?" tanya Kouki. Namun tangannya menerima buku tersebut. "Te-terimakasih. Uangnya akan aku-"

"Tidak perlu. Aku akan senang kalau kamu mau menerimanya," ucap Akashi. "Tapi kalau mau ditukar dengan nomor telepon juga boleh. Mungkin saja aku bisa bertanya-tanya tentang anak kecil itu padamu, Kak Furi." Akashi mengakhiri kalimatnya dengan nada main-main.

Kouki merona, namun mengangguk setuju.

Buku dan Cafe

Sebelum mereka berpisah di depan café, Akashi memanggilnya.

"Apa kamu mau ikut aku ke kombini?"

"Untuk apa?"

"Beli Pocky. Kamu pasti menyukainya!"