.

.

.

YoonMin 2 Side

Yaoi,Boy x Boy!

Rated M!

By : Styli

.

.

.

'ja-jadi Suga?!' ucap Jimin dalam hati.

Angin malam menyapa mereka,tampaknya saat ini hanya ada mereka yang pulang ditengah malam seperti ini. Jimin keluar,berdiri dan membuka pintu disisi Suga. Ia mengangkat Suga dengan sekuat tenaga, membiarkan lengan kiri Suga melingkari belakang lehernya dan kepala Suga yang mendongkak kebelakang seakan sudah tak mampu untuk melawan rasa mabuknya.

Sesampainya di lift, Jimin kewalahan sendiri, "Astaga, kamarmu lantai berapa?" Jimin bertanya pada Suga sambil menepak dahinya sendiri.

"lantai 3-hueeek- " Suga menjawab sambil memulaikan aksi mualnya depan Jimin. Dengan segera Jimin menekan lantai 3.

Sesampainya dilantai 3, Jimin tidak mau banyak tanya kepada Suga yang sedang mabuk dan mual, karena menurutnya mendengar orang mual membuatnya ingin mual juga, terkecuali mendengar orang mendes-ah *ambigu nih bocah XD . Dengan segera Jimin meletakan Suga dilantai tepatnya disenderkan disisi tembok dan membuka tasnya untuk mencari kunci kamarnya.

"huff..akhirnya- kamar 304 ya" Jimin mengambil kunci kamarnya, menutup tas Suga dan langsung mengaitkan lengannya dibahunya, Jimin degan segera meletakan tangannya dipinggul Suga agar ia bisa menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

Sesampainya di ruangan milik Suga, Jimin tersontak kaget. Apartemennya memang sedikit berantakan, entah karena Suga sibuk sampai tidak bisa merapikan ruangannya atau memang dia orang yang pemalas seperti wajahnya yang malas-malasan.

Jimin segera melempar tubuh Suga ke ranjang yang sedikit berantakan, tapi Suga tetap tidak melepas eratan gendongan ditubuh Jimin, sehingga tubuh Jimin ikut terjatuh dan hampir menindih tubuh mungil Suga. Jimin tampak lebih kaget, macan dan hawa nafsu milik Jimin seakan bergejolak seketika melihat laki-laki manis itu mendongakan kepalanya dan melingkarkan kedua lengannya dileher Jimin, seakan memanggil kehadiran Jimin. Seakan tak mau kelewatan dengan nafsunya dan benteng pertahanan yang akan hancur *nah loh , Jimin memaksa lengan Suga untuk turun dan Jimin segera bangkit dari posisinya untuk segera duduk disamping Suga.

"Su-Suga, aku pulang dulu yah" Jimin hampir bangkit dari duduknya untuk segera berdiri, tetapi Suga menarik lengannya dan menggeleng pelan dalam tidurnya.

"jangan tinggalkan aku, aku takut sendirian-" Suga mengeratkan pelukannya dilengan kekar milik Jimin. Jimin terdiam kaku seakan tidak tahu harus bagaimana. Jimin semakin mengkantuk saja, seakan matanya tidak bisa menahan untuk tertutup.

" Jangan tidur dulu Jimin- kau harus mencari cara agar melepaskan pelukan ini" ucap Jimin sambil mengusap-usap wajahnya. Tetapi semakin lama Jimin semakin menutup matanya dan pada akhirnya ia tertidur pulas dan hanyut dalam kenyamanan tidurnya.

.

.

Matahari telah datang, burung-burung membangunkan mereka dengan kicauan merdu di depan pintu jendela mereka. Si pria manis berwajah pucat yang tengah tidur sambil memeluk seseorang disampingnya telah mengangkat setengah tubuhnya untuk berduduk malas, matanya yang kecil hanya bisa membuka setengah matanya untuk melihat-lihat, ia segera mengusap wajahnya dan berdiri untuk melangkah kekamar mandi seakan tak menyadari, Jimin yang sejak semalam tidur bersamanya.

"hah- nafasku bau sekali-" Suga membuka mulutnya dan mengeluarkan nafas dari mulut kecilnya seakan mencium nafasnya sendiri yang berbau alkohol tersebut.

Suga segera mengambil sikat gigi dan odol yang ada ditempat perlengkapan mandi berwarna biru muda disisi washtafel tersebut. Dia segera mengoleskan odol di lapisan sikat gigi tersebut dan segera membersihkan giginya.

"emm- semalam aku kerja ya?oia aku kerja, tapi kapan aku pulangnya,ya?" Suga berbicara sambil bergerumul, dengan segera ia mencuci mulutnya dengan air dan mencuci wajahnya.

'ayah- bagaimana keadaanmu?soal uang..UANG?!SEMALAM?!' Tersontak Suga kaget mengingat kejadian semalam, Suga dengan cepat mencuci mulutnya dan membuka matanya dengan lebar. *walaupun matanya dipaksakan sebesar apapun akan tetap kecil sih.

Suga berjalan cepat dan kaget melihat seseorang tertidur dikasurnya menghadap berlawanan dari arahnya sekarang dan tertutupi dengan selimut. Suga menghampirinya dan mengambil bantal, dengan segera ia memukul-mukul ke arah Jimin dan mendekap kepala laki-laki itu.

"SIAPA KAMU?! KAMU MENIDURIKU?! DASAR BRENGSEK BRANGAS! KAKEK TUA!" Ucap Suga sambil mengeluarkan kata-kata informalnya dan menindih duduk dibadan laki-laki didepannya.

"Aku Jimin!" Jimin berucap sambil bergerumul dalam dekapan dan memaksa Suga untuk melepaskan cengkramannya pada bantal yang mendekapi wajahnya.

"Jimin?!" Suga segera melepaskan bantal yang ada ditangannya, Jimin langsung menghela nafasnya,dan mereka sekarang saling bertatap bingung.

'Ji-jimin?dia meniduriku?' ucap Suga dalam hati, "aku tidak menidurimu, aku menolong mu semalam" ucap Jimin sambil mengatur nafasnya karena dekapan bantal yang kencang tadi.

Suga segera mengganti posisinya menjadi berdiri dan berlari keluar. Jimin yang melihat tingkah Suga hanya memiringkan kepalanya dengan bingung dan mengambil ponselnya yang berdering di sakunya.

"Hyaa!Jiminie! dimana kau?kemana kau semalam? Mabuk diklub?" tanya Tae dengan nada yang keras dan membuat Jimin sedikit terkejut.

"Aku memang dari klub, lalu aku menginap dirumah seseorang. Aku berniat pulang tetapi aku juga sudah lengah, jadi aku tidur bersamanya" Jimin mengacakan rambutnya sendiri dan mengusap wajahnya dengan kasar.

"APA?! TIDUR BERSAMA?! KAU GILA YAH-" , "Sudahlah- aku mau mandi, selamat tinggal" Jimin segera mematikan ponselnya dan terdiam sebentar, sebelum akhirnya ia meninggalkan kamar Suga *kurang lebih setengah jam,eh itu lama yah.

.

.

Suga menunduk dan terdiam, sekarang ia sudah terlihat rapih dengan hodie berwarna putih yang kebesaran sehingga membuat tubuhnya terlihat kecil serta dengan jeans pensil yang terlihat fit dikakinya. Dan sekarang di meja makannya sudah penuh dengan beberapa makanan. Jimin melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari kamarnya, dan betapa terkejutnya melihat Suga dari kejauhan menatapnya dengan wajah merah merona.

"K-kau memasakan ini untukku?" Jimin menunjuk kearah makanan yang ada dimeja. Dan respon dari Suga hanya mengangguk dan menunduk pelan. Jimin yang melihat si pria dingin dan pucat bertingkah aneh seperti itu membuatnya sedikit bingung.

Jimin dengan segera duduk dikursi dan mengambil piring untuk segera makan, Suga dengan cepat mengambil cangkir dan air di lemari es tanpa berbicara satu katapun. Jimin hanya tersenyum kecil dan kebingungan melihat tingkahnya yang aneh.

"Jujur saja Jim, apa yang kau lakukan semalam?" tiba-tiba Suga bertanya hal yang membuat Jimin tersedak dan mengeluarkan nasi yang ada dimulutnya yang belum ia kunyah.

"Jorok banget sih!" Suga memarahi Jimin dengan nada yang sedikit tinggi. Lalu Jimin dengan segera menengguk air yang barusan diberi Suga.

"Sumpah demi, aku tidak melakukan apapun padamu" Jimin meyakinkan Suga.

"Lalu bagaimana bisa aku pulang bersamamu, bodoh?" Suga menatap tajam kearah Jimin.

"heh- semalam aku sedang bosan, lalu aku keklub didekat kampus dengan pemikiran, siapa tahu aku bertemu itu aku mencari toilet. Tidak sengaja, aku melihatmu sedang mabuk dan dikejar oleh laki-laki tua, kau terjatuh dengan kancing celanamu yang terbuka. Aku ibah denganmu, aku membantumu keluar dari sana dan membawamu pulang ke apartemenmu, tidak mungkin aku meninggalkanmu dengan keadaan mabuk. Jadi, aku berniat membawamu pulang, tapi-" saat Jimin sedang asik bercerita, Suga menghentikannya dengan mengisyaratkannya untuk berhenti dengan bahasa tangannya, dengan seketika Jimin berhenti.

"Halo ayah, maaf aku belum bisa mengirimkan uang untukmu" Suga mengangkat telfon dari ayahnya. Suga mengerutkan dahinya dan wajahnya nampak sedih. Jimin yang melihat Suga seperti itu entah mengapa cukup terhanyut suasana.

"Ayah, jaga kesehatanmu. Jika kamu mulai lelah, istirahatlah dan jangan bekerja. Ne appa . saranghae" Suga mematikan ponselnya dan melihat kearah Jimin, Suga sedikit terkejut melihat Jimin tersenyum kearahnya.

"Ada apa?" tanya Suga dengan wajah datarnya dan kembali pada ekspresi yang kosong.

"tidak kok, jadi aku lanjutkan atau tidak?" Jimin bertanya pada Suga, lalu Suga mengangguk.

Jimin memang menjelaskan semua kejadian yang dialaminya. Suga pun akhirnya mengetahui kalau Jimin tidak melakukan apapun dan hanya tidur disampingnya. Tetapi Jimin tidak jujur pada Suga tentang kejadian pentingnya, dimana Suga mencium bibirnya dan memang pada saat itu hal bodoh terjadi, Jimin malah membalas ciuman Suga dengan hangat.

Anehkan? JELAS ANEH!

Sebenarnya pada saat kejadian itu, Jimin hanya terbawa hawa nafsunya saja, yah karena Jimin pun mudah sekali terbangkit nafsu, tapi dengan segera Jimin mendorong tubuh Suga, karena takut melewati batas. Dan alasan mengapa ia tak memberitahu Suga, karena ia takut Suga akan malu pada kejadian malam itu dan kecewa pada dirinya sendiri karena sudah terlanjur jujur bilang bahwa dia menyukai Jimin.

Tapi tunggu-

Suka? Sejak kapan Suga menyukainya? Padahal mereka baru bertemu, tetapi Jimin akan segera menjauhi Suga. Menurutnya Suga bukanlah tipe idealnya, walaupun niatnya mendekati Suga hanya untuk Jungkook, tapi itu akan menyakitinya bukan? Itu hanya membuat mereka semakin dekat saja, terlebih ternyata Suga laki-laki yang sedikit menyeramkan benar-benar menyukainya, itu akan mempersulit keadaan lagi menurutnya.

.

.

.

Haha.

udah sampe chapter 3 nih. menurut kalian gimana?

oia untuk panggilan ckup panggil MiNny aja *alay yah, bukan karena badan gua yang mini kok. itu gabungan nama aja

abis kalo dipanggil thor berasa kaya pahlawan yang bawa golok itu, eh salah maksudnya yang bawa palu jumbo itu loh *krik

Oia soal Chapter 2, Mianhae banyak kalimat yang hilang dan banyak EYD yang ga digunakan, sebenarnya udah ditulis bener2, entah pas di update ilang kemana. Tapi udah dirapihin lagi kok, cek aja deh hehe.

gomawo ^^