2 Side

Yaoi, Boy x Boy

Pairing: MinGa (Jimin as seme and Suga as uke)

By : Styli

.

.

.

Suasana kembali hening, Jimin yang sejak tadi terdiam diruang tamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu, tatapannya kosong sejenak. Suga yang membersihkan rumahnya hanya menatap Jimin dari kejauhan, seperti ada yang aneh dengannya.

"Pulang sana" Suga berteriak kecil dari arah dapurnya sambil mencuci piring.

"Baiklah, aku pulang" Jimin mengangkat badannya untuk berdiri dan mengambil jaket yang ia letakan disofa.

"Jimin!-" Suga meneriaki Jimin sebelum ia pergi jauh,lalu dia mendekati Jimin melangkah kearahnya dengan tatapan sayunya.

"Terimakasih ya,aku bukan mengusirmu, tapi- Aku tahu pasti kamu lelah." Suga mengatakan hal yang singkat tetapi disertai dengan senyuman manis dan wajahnya yang kemerahan, Jimin yang melihat senyuman singkat tersebut hanya terpanah dan mengangguk kecil sebelum ia meninggalkan ruangan tersebut.

.

.

Jimin sampai diapartemennya, ia terlihat lengah walaupun sesungguhnya dia tidak melakukan apapun. Dia masuk kekamarnya dan merebahkan seluruh tubuhnya dikasur. Tak lama kemudian Taehyung keluar dari kamar mandi dan melihat kearah Jimin. Dengan segera ia langsung loncat kekasur dan melihat kearah Jimin.

"Apa-apaansih?" Jimin menatap sensi kearah Taehyung, yang baru saja mengejutkannya.

"Jujur padaku, semalam kamu bersama siapa?" Taehyung menatap Jimin dengan dalam.

"Itu bukan urusanmu, pergilah" Jimin membalikan tubuhnya, menghadap berlawanan dari arah Taehyung dan memeluk guling kesayangannya.

"Kau tidak mau kuliah?" tanya Taehyung yang langsung berdiri dan merapihkan kemejanya.

"Kuliah, kamu berangkat duluan saja" Jimin melemparkan kunci mobilnya ke arah Taehyung dan Taehyung hanya tersenyum lebar dan meninggalkan Jimin.

.

Jimin memasuki kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, diselah-selah waktu yang ia gunakan untuk membersihkan tubuhnya, ia memikirkan Suga.

"Apa dia menyukaiku?" ucap Jimin ditengah air shower yang terus membasahi tubuhnya.

"Bibirku ini,sudah dikecup olehnya" Jimin beralih ke washtafel dikamar mandi tersebut sambil menyentuh bibirnya.

.

.

Jimin keluar dari kamar mandi dengan diselimuti handuk dari setengah perutnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, tanda seseorang telah menelfonnya. Jimin yang mengambil ponsel itu, ternganga kaget melihat yang menghubunginya adalah Jungkook, dengan segera ia mengangkat ponsel tersebut.

"Halo- Ju-Jungkook, ada apa?" seketika wajah Jimin memerah dan berkata gugup.

"ah, Jimin- hyung. Apa kau berkuliah hari ini?" tanya Jungkook dengan nada yang lembut.

"i-iya ada apa Jungkook?" , "kemarin Taehyung bertemu denganku, lalu kita berbicara sebentar. Barangnya ada yang ketinggalan. Sepertinya dia hari ini tidak masuk." Mendengar perkataan Jungkook, Jimin terkejut sebentar.

"Tidak ke kampus?tapi tadi dia bilang ingin kekampus. Kau sudah mencoba menghubunginya?" tanya Jimin dengan nada seriusnya.

"Sudah Hyung, tapi tidak diangkat. Aku rasa dia mencoba menjauhiku." Ucapan Jungkook membuat Jimin sedikit bingung.

'menjauhi?maksudnya?' pikir Jimin dalam hati.

"Yasudah kamu tunggu saja diperpustakaan, aku akan segera kesana" Jimin mematikan ponselnya dan segera mengenakan bajunya.

.

.

Sesampainya dikampus, Jimin langung berjalan cepat kearah perpustakaan. Perasaannya saat ini campur aduk, senang karena bertemu Jungkook, bingung karena Suga, dan khawatir karena Taehyung.

Dari kejauhan ia melihat Jungkook yang tengah duduk sambil membaca buku, tapi ditemani oleh teman sejatinya, yaitu Suga. Jimin harus bertemu Jungkook, tapi ia juga harus menghindari Suga. Tetapi untuk sahabatnya kali ini ia akan berkorban.

"Hai" Jimin menyapa mereka dan duduk dihadapan mereka, seperti biasa Suga tidak akan menyauti sapaan tersebut.

"Hai Jimin" Jungkook membalas sapaannya dengan senyuman manis.

"Jadi, apa yang kau bicarakan dengan Taehyung kemarin?" tanya Jimin, seakan tidak mau mendengar pembicaraan mereka, Suga mengambil earphone-nya dan memasangkan di kedua daun telinganya. Jimin hanya menatap Suga bingung.

"Jadi begini, beberapa hari lalu aku dengan Tae-hyung memang sangat dekat, terakhir kami bertemu kemarin. Dia bilang padaku, bahwa dia harus menjauhiku agar bisa menjaga perasaanmu. Padahalkan aku dan dia saling suka, tapi memang benar kau menyukaiku?" tanya jelas Jungkook kearah Jimin. Jimin tersontak diam tidak tahu harus berbicara apa.

"Ti-tidak, mengapa Taehyung tidak jujur saja denganku?" tanya Jimin dengan nada seriusnya.

"Karena katanya kamu terlihat benar-benar menyukaiku, bahkan kau mendekati Suga untuk mendapat informasi tentangku." Mendengar perkataan Jungkook tentang dirinya. Suga langsung menatap tajam kearah Jimin.

"Aku?" tanya Suga sambil menatap tajam kearah Jungkook. Lalu Jungkook hanya mengangguk. Suga menutup bukunya dan segera pergi meninggalkan mereka.

"Su-suga.." Jimin memanggil pelan namanya, sebelum dia benar-benar meninggalkannya.

"- maafkan aku Jimin-hyung. Tapi aku tidak menyukaimu, aku menyukai Tae-hyung." Perkataan Jungkook seketika mengiris hati Jimin. Yah Jimin sepertinya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Jungkook, tetapi semuanya terasa hambar ketika langkah memulai perjuangannya telah usai.

"ahaha- tidak apa Jungkook, aku juga tidak begitu menyukaimu. Tae memang sedikit sensitive, aku akan berbicara dengannya nanti." Jimin memasang senyum palsu kearah Jungkook, lalu Jungkook tersenyum ramah dan meninggalkan Jimin diperpustakaan tersebut.

Jimin mengeluarkan ponselnya dari sakunya, berniat untuk menghubungi Taehyung. Tetapi tiba-tiba, ada sebuah pesan masuk dari Taehyung.

"Jimin, maafkan aku. Sebenarnya niatku mendekati Jungkook adalah untuk menjodohimu dengannya, tetapi aku terkejut mendengar perkataannya, bahwa dia menyukaiku. Aku segera menjelaskan semuanya dan meninggalkannya, jangan marah padaku Jimin".

Jimin yang melihat pesan singkat tersebut hanya bisa menghela nafas, mengapa Taehyung melangkah mundur dengan Jungkook?, andai saja Taehyung menjelaskan baik-baik, pasti Jimin akan memakluminya. Dengan segera Jimin mencoba menelfon Taehyung.

"Halo- Ji-Jimin" ucap Taehyung dengan nada gugupnya.

"Dengarkan penjelasanku dulu Jimin-" Taehyung masih berusaha menjelaskan semuanya.

"Tidak perlu ada yang dijelaskan Tae. Aku mengerti sekarang, perasaan tidak bisa dipaksakan bukan? Jika kau menyukainya, seharusnya kau berusaha mendapatkannya, bukan malah menjauhinya." Jimin tersenyum sambil berbicara dengan Tae di telfon.

"Ta-tapi Jim" , "Sudahlah, lagi aku tidak menyukai Jungkook kok" Jimin menyudahi telfonnya tanpa berbicara apapun lagi. Entahlah perasaan Jimin memang biasa saja, Jimin pun heran pada awalnya memang menyakitkan tetapi mengapa rasanya hambar?

.

.

Jimin melangkahkan kakinya untuk keluar dari perpustakaan tersebut dan melihat Suga tengah berdiri menunggunya. Seakan merasa bersalah dengan Suga, dia menghampiri Suga.

"Ma-afkan aku" Jimin menunduk pelan, lalu Suga menggeleng.

"Kau melakukan yang benar Jimin" Suga tersenyum singkat. Jimin menatap Suga dengan tatapan bingung mengisyaratkan untuk segera memberitahunya.

"Kau menolongku, tanpa meminta imbalan agar aku merasa berhutang budikan denganmu?" Suga tersenyum tajam saat ini, Jimin hanya membulatkan matanya.

"Tidak kok, aku akan jujur. Sebenarnya pada malam itu, aku berfikir akan bertemu Jungkook di klub itu tapi-" belum selesai Jimin berbicara,Suga segera meninggalkannya. Jimin hanya terdiam kaku, kali ini perasaannya benar-benar mengalir kencang. Apa ini yang namanya cinta? Apa Suga yang sebenarnya ia sukai?.

.

.

Suga segera berlari kencang dari hadapan Jimin dan pergi kekamar mandi.

"Jimin, aku tahu kamu akan merasa bersalah" Suga tertawa kecil dengan manisnya. Niatan Suga adalah menjahili Jimin ternyata. Sesungguhnya ia tidak marah pada Jimin hanya saja sedikit sebal, makanya dia berniat menjahilinya.

"Jimin- kalau kamu tahu. Aku menyukaimu dan hanya bisa menatapmu dari jauh, aku tidak memiliki keberanian apapun untuk mendekatimu" Suga tersenyum kearah kaca depannya.

Suga segera melangkah pergi dari kamar mandi. Dan menuju keluar dari kampusnya untuk bekerja. Suga berjalan menuju halte didekat kampusnya dan membeli es krim untuk ia jilati sepanjang waktu ia menunggu bus datang.

Dari kejauhan Jimin melihat kearah Suga dengan tatapn bingung dan mendekatinya.

"Suga?" Jimin melihat kearah Suga yang sedang menjilati es krimnya itu dengan tenang.

"ada apa?" tanya Suga dengan wajah datarnya. Melihat Suga merseponnya dengan biasa, Jimin mulai senang.

"Kamu sudah tidak marah denganku?" tanya Jimin dengan nada tinggi dan senyum lebarnya.

"Apa sih bocah?untuk apa aku marah padamu?" tanya Suga sambil memutarkan bola matanya.

"Ahhh- Bahagianya" Jimin tersontak memeluk Suga, dengan keadaan yang tidak nyaman Suga memaksanya untuk melepaskannya.

"Minggir bodoh!" Suga mendorong Jimin dengan paksa.

Tetapi Jimin malah mendekatkan wajahnya dengan wajah Suga, hidung mereka bersentuhan membuat Suga gugup tak karuan.

"Bibirmu banyak krim es krim" Jimin membersihkan bibir Suga yang penuh dengan cairan krim dengan jemari-jemarinya dengan lembut, membuat Suga terkaku dan merona seketika.

"Se-sebenarnya ada apa sih denganmu?!" Suga mendorong tubuh Jimin dengan kencang. Jimin hanya terkekeh melihat Suga yang malu.

.

"Lalu, mengapa kamu tadi meninggalkanku?" tanya Jimin dengan Suga yang sekarang ada didalam bus.

"Aku hanya ingin menjahilimu, habisnya kamu menggunakanku hanya untuk mendekatimu dengan Jungkook" Suga berbicara sambil memasang wajah datarnya.

"Ku pikir kamu cemburu. Hahaha" Jimin tertawa dihadapan Suga, dan Suga segera menyambutnya dengan tatapan sayu yang tajam kearahnya.

"Bagaimana dengan perasaanmu melihat Jungkook dan Taehyung?" tanya Suga sambil membuka buku bacaannya kembali.

"biasa saja" Jimin menghela nafas dan tersenyum singkat kearahnya.

"Apa? Biasa saja? Padahal baru saja aku ingin membantumu" ucap Suga sambil tetap fokus membaca buku bacaannya.

"Kalau saja kau mengejarnya lebih dahulu dan coba berani pasti-" belum Suga selesai berbicara, Jimin menyenderkan kepalanya dibahu mungil milik Suga dan memejamkan matanya sejenak. Suga yang melihat Jimin dengan detail didepan wajahnya hanya merona dan bingung.

"Biarkanlah, aku juga tidak begitu menyukainya. Sekarang aku sedang meyukai orang lain" Jimin berbicara dan tersenyum disenderan bahu milik Suga.

"Ji-Jimin, menyingkirlah" Suga mencoba mendorong kepala Jimin, Jimin memang kembali sepenuhnya ke posisi duduk semula tetapi dengan tatapan lembutnya ke Suga. Suga yang melihat tatapan Jimin itu terkaku manis dan memerah.

"Ji-Jimin, kamu ap-" belum selesai Suga berbicara, bibir Jimin sudah menyentuh permukaan bibir tipis milik Suga. Suga membuka mata kecilnya dengan besar dan mendorong Jimin dengan kencang seketika.

"Bodoh! Ap-apa yang kamu lakukan?" Suga memerah merona dan memukul dada Jimin, dia sangat terkejut ketika Jimin melakukan hal-hal yang aneh terhadapnya.

.

Jimin melakukan hal itu tanpa ia ketahui, entah mengapa perasaannya sekarang sangatlah nyaman berada disisi Suga, rasanya ia ingin memeluk Suga yang manis dan berkulit pucat tersebut. Jimin mengetahui perasaannya sekarang. Kali ini ia tidak akan melepaskan Suga-nya.

.

.

.

Cie udah sampe Chapter 4

Sebenarnya sih mau dibikin chapter panjang, tapi takut ngebosenin.

Mau bikin chapter sampai mereka tunangan, nikah and m-pregnant (?)

yang setuju review ya

gua suka baca review nya karena gara-gara itu gua jadi semangat buat lanjutin cerita.

gomawo. :3