.
.
.
2 Side (MinGa)
Yaoi, Boy x Boy
By :Styli
.
.
.
Di sebuah kelas yang cukup sepi, Suga berlutut dihadapan Namjoon. Tentu saja Namjoon merasa tidak enak dan tidak nyaman, seolah-olah dia sedang habis dipukuli oleh Namjoon. Suga terus merengek dihadapan Namjoon.
"Namjoon. Ku mohon biarkan aku ikut lomba itu." Suga mengeluh kearah Namjoon, orang yang mendapat julukan 'Rap Monster' dikampusnya.
"Apa-apaansih, ayo cepat berdiri. Nanti dilihat orang tidak enak" Namjoon berusaha mengangkat bahu Suga yang tersungkur dibawah agar berdiri.
"Aku mohon biarkan aku ikut lomba itu" Suga terus merengek dilantai tepatnya dihadapan Namjoon.
"Maafkan aku Suga, tapi kamu sudah telat mendaftar, batas maksimum sudah tidak bisa diganggu gugat. Aku sebagai pemimpin harus tegas menghadapi kasus ini" Namjoon dengan segera mengangkat bahu Suga untuk berdiri, lalu Suga menekukkan seluruh wajahnya.
.
Jimin segera mengambil buku yang baru saja membuatnya terkejut dan lari untuk mencari Suga. Dia mencari di setiap kelas, dan menemukan Suga yang sekarang terlihat sedih dan bahunya sedang dipegang oleh Namjoon
"Hei-hei jangan sentuh kekasihku" Jimin datang dan melepaskan pegangan Namjoon dibahu Suga.
"Kamu tidak apa-apakan sayang? Apa kamu dicabul olehnya?" Jimin merangkul kekasihnya, dan menatap tajam kearah Namjoon.
"Apa-apaan sih kamu?" Suga merengek dan mendorong Jimin untuk menjauh darinya.
"Aku mohon Namjoon" Suga merengek lagi kearah Namjoon dan menarik tangan Namjoon, tentu saja Jimin membuka mulutnya dengan lebar dan melihat tangan kekasihnya memegang tangan orang lain.
"Suga-hyung. Mengapa kamu seperti ini- Huaa" dan kali ini Jimin merengek dihadapan Suga sambil berteriak cukup kencang. Dengan segera Namjoon melepaskan pegangan Suga dan meninggalkan mereka. Tentu saja emosinya menjadi-jadi melihat Jimin bertingkah seperti kanak-kanak dan menggagalkan rencananya.
"Jimin! Kau bocah brengsek!" Suga meninggalkan Jimin dikelas tersebut dan berjalan cepat.
"Kok dia yang marah? Seharusnya kan aku?" Jimin tetap menekukan wajahnya dan memajukan bibir bawahnya.
.
.
Sesampainya dikelas, Suga mengacak-ngacak rambutnya dan terlihat lemas.
"Bagaimana ini?" Suga menutup matanya pelan sambil berusaha memikirkan bagaimana caranya agar Namjoon bisa menerimanya dilomba tersebut.
"emm- apa aku tunjukan catatan rap-ku pada Namjoon agar dia tahu bahwa aku berbakat" Suga segera mengambil tasnya dan mencari buku catatannya.
"Astaga! Buku catatanku ketinggalan dikantin" Dengan segera Suga menepak dahinya,berdiri dari bangkunya dan berlari kencang kearah kantin.
Setelah sampai dikantin, Suga berhenti dan langsung memasang wajah datarnya.
"Aku bodoh sekali ya. Sudah pasti buku ku dibawa Jimin." Suga memarahi dirinya sendiri, dengan segera ia ke kelas Jimin. Dan melihat Jimin sudah belajar dikelasnya, Suga tidak ingin mengganggu kuliahnya lalu ia meninggalkan kelasnya dan berniat untuk memintanya saat mereka pulang bersama.
.
.
.
Pelajaran kampus dikelas Suga sudah selesai, semua orang segera keluar dari kelasnya, sedangkan Suga tetap pada posisi duduknya dan mengambil ponselnya. Dengan segera ia mengirim pesan kepada Jimin.
"Jim, aku tunggu didepan gerbang"
Dengan langkah cepat Suga menarik tasnya dari meja dan meninggalkan kelasnya yang sudah kosong tersebut.
.
Ia menunggu Jimin didepan gerbang kampusnya sambil memperhatikan setiap orang yang lewat dan melihat kearah jam diponselnya beberapa kali. Tak lama seorang laki-laki yang ia tunggui muncul juga bersama Taehyung sang sahabatnya.
"JIMIN!" Suga berteriak kearah Jimin dengan wajah datarnya, dengan langkah santai dan wajah tekuknya ia menghampiri Suga bersama Taehyung.
"Mana buku-ku? Kembalikan cepat" Suga menatap sebal kearah Jimin dan membiarkan tanganya melaju kedepan arahnya dengan telapak terbuka, mengisyaratkan untuk segera mengembalikannya.
Jimin tidak berbicara sama sekali dan tidak menunjukan ekspresi apapun, ia mengambil buku tersebut dari tasnya dan memberikannya ke Suga. Suga terdiam bingung, ada apa dengan pacarnya? Apa dia marah dengannya?
"Sua-hyung, ayo kita pulang bersama saja" Taehyung tersenyum kearahnya, tetapi Suga menggeleng kecil dan menatap mereka dengan sayu.
"Aku harus bekerja, aku telat 30 menit karena kalian." Suga terdiam sebelum akhirnya meninggalkan mereka. Taehyung membuka matanya dengan lebar, ketika dengan santainya Jimin hanya melihat Suga yang sudah semakin menjauh dari penglihatannya dan kemudian hilang.
"Ayo pulang" ajak Jimin dengan wajah datarnya, Taehyung terdiam bingung. Merasa tidak mau ikut campur, Taehyung hanya mengikuti kemauan sahabatnya tersebut.
.
.
Jimin terlihat begitu tenang didalam mobilnya, bahkan ia masih bisa bernyanyi didalam mobilnya. Taehyung jengah juga melihat Jimin yang seolah-olah tidak peduli dengan perasaan Suga, ia yakin pasti Suga sangat hancur melihat Jimin seperti ini.
"Jim, kau tidak mau minta maaf dengan Suga setelah membuatnya menunggu?" Taehyung menatap Jimin dengan wajah bingungnya.
"Tidak, siapa suruh menunggu?" Jimin menjawabnya sambil tersenyum kecil. Taehyung semakin emosi saja melihat sahabatnya bertingkah seperti itu.
"kamu ini sayang tidak sih dengan Suga?" Taehyung berdecik emosi pada akhirnya.
"Belum, karena jujur saja. Aku hanya ingin pacaran, dan aku baru merasakan kenyamanan dengannya" Jimin tersenyum kearah Taehyung seakan semuanya adalah main-main.
"Kamu benar-benar gila Jimin, aku harus memberitahu pada Suga-hyung" Taehyung mengambil ponselnya dengan segera Jimin merenggut ponsel tersebut sambil mengendarai mobilnya.
"Kan sudah ku bilang aku merasakan nyaman dengannya, kamu kenapa sih Tae? Urus saja Jungkook" Jimin mengeluh malas pada Taehyung.
"Jungkook bilang padaku jika hati Suga hancur maka dirinya juga" Taehyung mengerutkan dahinya sambil bergumam emosi.
.
.
.
"Ah, Mengapa Jimin tidak mengirim pesan untuk sekedar menyapa?" Suga mengacak-acak rambutnya.
"Hais- mengapa rambutku sudah seleher? Karet kuncir, dimana ya? Jika terlihat oleh bos mati aku" Suga melihat rambutnya dengan kaca kecil miliknya. Dengan segera Suga mencari karet kuncirnya ditasnya dan akhirnya mendapatkannya. Ia menyisir rambutnya dengan tangannya lalu mengikatnya. Sungguh saat ini Suga seperti wanita poninya yang halus dengan panjang sedahi itu ia biarkan keluar dan rambut belakangnya ia ikat rapih, dia sangat manis saat ini.
.
Kringg!
Bel Caffe berbunyi menandakan seseorang hadir.
"Selamat so—re" Suga tersenyum dan membalikan tubuhnya, seketika wajahnya berubah ketika yang memasuki caffe tersebut adalah mantan kekasihnya.
"Wow, sekarang aku bertemu lagi dengan Min Yoongi, kamu semakin seperti gadis cantik saja ya. Apa kabarmu?" tanya laki-laki yang sekarang dihadapannya yang membuat wajah Suga geram seketika.
.
.
Flashback
"Jangan dekati aku lagi! PERGILAH!" Suga berteriak kearah laki-laki dihadapannya dengan luka memar dipipinya.
"Berhenti membuatku emosi sayang. Kau ini pacarku! Kenapa kamu memotong rambutmu begitu pendeknya?!SUDAH KU BILANG AKU TIDAK SUKA." Laki-laki itu membentak Suga dan mencengkram tangannya. Suga hanya menangis dan meringis kesakitan.
"HYA! JONG EUN SEUK LEPASKAN. Aku sudah bilang padamu,kita putus. Kau tak berhak melarangku memotong pendek rambutku!Aku laki-laki Eun Seuk!" Suga melepaskan cengkramannya dan berteriak tepat dihadapan laki-laki tersebut.
"Ma-maafkan aku, apa lukamu baik-baik saja?" laki-laki itu mencoba menyentuhnya, lalu Suga menepis tangannya dengan kasar lalu berlari kencang dari hadapannya. Merasa tidak dihormati, Eun Seuk berlari mengejarnya dan menarik lengannya. Suga bukanlah laki-laki yang kuat dia benar-benar menuruni ibunya yang lemah lembut dan berparas cantik, manis dan imut *yah hanya saja kelaminnya tak mendukung
"Kenapa kamu tidak menghargaiku?!" Eun Seuk melayangkan tamparan lagi ke pipi mungil milik Suga. Suga terjatuh tersungkur dan menangis.
"HEY PRIA BRENGSEK!" seseorang berteriak dari belakang dan mengisyaratkan Suga untuk kabur.
"Siapa kamu?Hah?!" Eun Seuk memalingkan wajahnya kearah laki-laki bertubuh lumayang tinggi, berambut hitam dan berponi rata sperti anak-anak culun biasanya.
"A-aku Park Jimin, mengapa?hah-" Jimin berkeringat parah dan Suga hanya melihatnya dari agak jauh serta lari dan tersenyum kearah Jimin.
.
.
.
"Mau pesan apa?" Suga menatapnya dengan garang dan tidak mau melanjutkan obrolannya.
"Wah- ternyata Suga tetap seperti es batu ya, tetap dingin saat musim panas" senyum laki-laki itu singkat.
"Aku pesan Machiato" Eun Seuk meninggalkan meja tersebut. Suga panik, Suga takut, Suga bergetar.
"Tidak-tidak,aku harus berani" Suga mengantarkan secangkir Machiatonya kearah lelaki brengsek tersebut.
.
"Selamat menikmati" Suga meletakan gelas tersebut dan segera meninggalkan meja tersebut, tetapi Eun Seuk menarik lengannya dengan kasar.
"Lepaskan aku Eun Seuk! Aku harus bekerja" Suga menarik lepas tangannya dan mencoba untuk berdiri, tetapi yang ia dapatkan malah Eun Seuk menarik lengannya dengan kencang untuk duduk lagi.
"Aku suka rambutmu yang panjang seperti ini dan wajahmu yang semakin seperti wanita" Eun Seuk tersenyum manis kearahnya.
"Hey. Bukankah dia sudah bilang dia harus bekerja?" ucap seorang laki-laki misterius dengan jaket abu-abunya dan berambut lepek tersebut.
"Ka-kamu?!" Suga menganga kaget melihat laki-laki yang baru saja datang.
.
.
.
mmm-
Udah update story baru nih.
Semoga kali ini puas sama chapter ini, soalnya jujur aja sering banget gapuas gua sama cerita yang gua buat sendiri.
review, please? :3
