2 Side

Yaoi, Boy x Boy

By :Styli

.

.

.

Ruangan terasa panas, Suga merasa terdesak sekarang, ia merasa takut dengan orang yang sekarang ada disebelahnya di cafenya yang saat ini benar-benar tidak ada pelanggan selain Eun Seuk. Ia berusaha memberontak dan menarik lengannya untuk lolos dari laki-laki tersebut. Dia merasa sudah putus asa sekarang, tetapi lonceng cafe berbunyi menandakan seseorang telah masuk. Suga berdenyit kecil agar orang lain mengetahui bahwa ada laki-laki gila disampingnya.

"Lepaskan aku Eun Seuk! Aku harus bekerja!" Suga berteriak cukup kencang. Tetapi usahanya terasa sia-sia, orang itu tetap tidak melepaskan cengkramannya.

"Aku suka rambutmu yang panjang seperti ini dan wajahmu yang semakin seperti wanita" Eun Seuk tersenyum manis kearahnya dan memainkan setiap helai poni milik Suga.

"Hey. Bukankah dia sudah bilang dia harus bekerja?" seseorang yang baru saja masuk dengan segera tersenyum kearah mereka. Suga sedikit terkejut melihat orang didepannya.

"K-Kamu?!" Ucap Suga sambil menganga kaget melihat orang dihadapannya.

"O-oow, pacarnya sudah datang. Sayangnya dia akan segera menjadi milikku" ucap Eun Seuk sambil melepaskan cengkramannya dan berdiri untuk menatap laki-laki berambut lepek tersebut.

"Aku lelah bertengkar, kemarilah sayang" laki-laki itu menarik tangan Suga, dengan respon yang cepat Suga langsung berdiri dibelakangnya dan memeluk erat tangan laki-laki yang cukup lebih tinggi darinya.

"Sialan kau-" Eun Seuk dengan cepat melayangkan kepalan tangannya untuk segera menyapa pipi laki-laki tersebut. Tetapi dengan cepat laki-laki itu menangkap kepalan tersebut dan memutarnya. Eun Seuk meringis kesakitan dan dengan segera laki-laki tersebut menendang perut Eun Seuk.

"Pergi sekarang!" Ancam laki-laki tersebut dan dengan segera Eun Seuk lari meninggalkan cafe tersebut.

.

"Untuk apa kau menolongku? Kau kan tak mengenalnya?" tanya Suga sambil menyiapkan coffe tersebut dimejanya.

"Aku tahu kau terlihat kurang nyaman dengannya, cengkramannya juga sangat kencang" Hoseok tersenyum kearah Suga

"Minum ini, kamu tidak perlu membayar" Suga meletakan segelas coffe caramel nya di meja laki-laki tersebut, lalu laki-laki itu tersenyum menunjukan giginya.

"Tidak, aku akan membayarnya. Kau kan pegawai disini, pasti gajimu akan dipotong" ucapnya sambil menatap wajah imut Suga yang datar.

"Yasudah, kalau begitu anggap saja ucapan makasih ku sebagai bayaran impas karena kau merebut posisi ku di lomba rap tersebut" Ucap Suga yang spontan berdiri dan meninggalkan meja tersebut.

"Hey, sudah ku bilang itu kesalahanmu. Andai saja kau datang 3 menit lebih awal." Laki-laki itu tersenyum kearahnya. Suga tetap masuk kedalam kamar mandi belakang.

.

.

Sudah lebih dari 2 jam laki-laki tersebut tetap di cafe tersebut, ia terus melihat kearah Suga yang dengan giatnya bekerja, bahkan saat ia membersihkan setiap sudut ruangan.

"Ini sudah malam, cafe akan tutup pulanglah" Suga yang sedang membersihkan lantai dengan asik hanya mengucapkan beberapa kata untuk memerintahkan laki-laki tersebut.

"Ngomong-ngomong kau Suga kan? Aku Hoseok" Hoseok berdiri mendekatinya dan mengulurkan tangannya. Suga tersenyum kecil dan menerima uluran tangan itu.

"Iya aku Suga, sekarang kau boleh pulang" Suga segera mengubah wajah manisnya menjadi datar. Yah sekarang Hoseok berdiri dan meninggalkan Suga, dengan cepat ia telah menghilang dari hadapannya.

.

.

.

Beberapa menit kemudian Suga keluar dengan pakaian kasualnya untuk segera pulang, dia menutup pintu cafe serta menguncinya. Ia berjalan menjauhi cafe tersebut dan segera menuju halte. Selama diperjalanan ia selalu membuka ponselnya, sekedar melihat apakah ada pesan dari Jimin atau tidak. Tetapi tetap kosong, hanya ada pesan dari Jungkook. Ia sekarang sudah sampai di halte, ia duduk dan terlihat lelah. Tiba-tiba seorang pria datang dan duduk disebelahnya.

"Pulangmu malam sekali, tidak baik gadis kecil pulang sendirian" ucap laki-laki tersebut dan mengejutkan Suga seketika.

"Astaga! Hoseok! Kau mengagetkanku, mengapa kamu masih disini?" Suga berdecik terkejut sedikit dan memandangnya dengan tatapan sayunya.

"Hahaha, kau kan gadis kecil yang imut. Aku juga ingin pulang bersamamu, nanti laki-laki gila itu datang mengganggumu lagi" mendengar Hoseok berbicara seperti itu, Suga hanya mengangguk bingung.

"Aku bukan gadis kecil, aku seorang laki-laki. Dan umurku sudah menginjak 23 tahun, kamu pulanglah, aku akan segera dijemput kekasihku" ucap Suga sambil mengambil ponselnya dikantungnya.

"wajahmu seperti gadis kecil dan- aku tahu kau adalah kekasih Jimin, dia tidak akan menjemputmu kan?" tanya Hoseok, Suga terdiam dan terkejut.

'darimana dia tahu?' ucap Suga dalam hatinya.

"Aku mengenal Jimin sejak SMA, jadi aku tahu dia tidak akan telat menjemput kekasihnya" Hoseok tersenyum kearah Suga,sedangkan Suga hanya berdiam kaku menatap ponselnya.

"Apa pedulimu? Bahkan kau tak mengenalku." Suga membangkitkan tubuhnya untuk segera meninggalkan Hoseok. Dengan cepat Hoseok menahannya dengan berlari dan berdiri didepannya.

"Aku hanya ingin berteman denganmu, apakah aku salah?" Hoseok merengek kearahnya dengan manja, Suga hanya mengangkat satu alisnya dan memasang wajah jijiknya.

.

"Aku tidak mau memanggil mu hyung, aku ingin memanggilmu noona saja" ucap Hoseok yang mencairkan suasana heningnya didalam bus bersama Suga.

"Aku tidak peduli." Ucap Suga dengan wajah yang dingin dan menatap kearah luar jendela bus tersebut.

"Aku tidak yakin Jimin benar-benar tulus menyayangi seseorang" Hoseok berkata kecil dalam senyumnya sambil menundukan kepalanya.

"Apa maksudmu?" tanya Suga yang langsung melihat kearahnya.

"Aku dan dia pernah bertengkar hanya untuk satu orang yang sama-sama kita sukai" Hoseok tersenyum dan mengangkat kepalanya.

"Saat kamu SMA?" tanya Suga, lalu Hoseok mengangguk. Suga segera menghela nafasnya dan tersenyum kecil.

"Lalu siapa yang dipilih, kamu atau Jimin?" tanya Suga.

"Tentu saja Jimin" ucapnya dengan wajah yang berubah menjadi dingin. Suga menjadi tidak enak hati melihat Hoseok merubah wajahnya seperti itu.

"Kamu harus lebih berhati-hati dengan pria itu" Hoseok menatap Suga dengan tatapan seriusnya lalu keluar pada saat halte pemberhentian tiba. Suga hanya duduk untuk berhenti dihalte selanjutnya.

"hati-hati? Memangnya Jimin pernah berbuat apa? Jangan-jangan Hoseok hanya ingin membalas dendamnya melaluiku, aku tidak boleh dekat-dekat dengannya." Ucap Suga sambil menyenderkan kepalanya pada kursi dibus tersebut.

.

.

Suga terbangun dari tidurnya, matanya masih setengah terkantuk. Ia membiarkan ruangan miliknya berantakan, dengan segera ia mengambil ponselnya di meja kecilnya dan membukanya. Ternyata ada pesan masuk dari Jimin, Suga membuka kedua matanya dengan lebar dan langsung membuka pesan tersebut.

"Suga"

"Suga-hyung, aku menjemputmu ya hari ini."

"Suga-hyung, aku sudah sampai nih"

"Suga-hyung aku sudah menunggu 30 menit, apa kau masih marah denganku? L"

Suga segera berlari keluar apartemennya dan turun kebawah untuk mencari Jimin, ia melihat mobil Jimin dari kejauhan. Ia berjalan santai kearah mobil Jimin tanpa menyadari ia masih menggunakan boxer dan kaus putih yang kebesaran miliknya, serta wajah yang kusut.

"Astaga, hyung!" Jimin keluar dari mobilnya dan melepas jaketnya untuk menutupi setengah tubuh Suga yang terlihat jelas dimatanya.

.

.

"Aku belum mandi, ini semua karena kau bocah!" Suga berdecik emosi dan mengusap matanya, menjadi terlihat manis. Sekarang mereka sudah di ruang tamu apartemen milik Suga, tepat duduk bersebelahan di sofa yang cukup besar tersebut.

"hyung sih terlalu rindu denganku, sampai-sampai bersemangat seperti itu" Jimin menatap nakal kearah Suga, Suga hanya membalasnya dengan tatapan setengah kantuknya tersebut.

"Aku tidak rindu denganmu, hanya saja aku terkejut dan refleks lari keluar bodoh!" Suga menampar pelan pipi Jimin, lalu Jimin dengan segera tertawa manis dan memegang erat lengannya.

"Aku juga rindu denganmu, hyung" ucap Jimin sambil tersenyum kearah Suga yang sedang terduduk silang disofanya tersebut, lalu mendekatkan dirinya kearah Suga. Suga sempat menolak kecil dan mendorongnya.

"Le-lepaskan" namun dengan segera Jimin mendorong bibirnya kearah Suga dan mengecup dalam kearah bibirnya yang lembut, ia melumati bibir itu dan membasahinya.

Suga dengan nikmat memejamkan matanya dan mulai membuka belahan bibirnya, ia menjatuhkan kepalanya pada sisi ujung sofa tersebut dan mengalungkan tangannya di sepanjang leher Jimin dan Jimin menyiku kedua lengannya di sisi tubuh Suga agar tidak jatuh menindihnya. Jimin menggigit bibir mungil itu bergantian, lalu memberikan ruang nafas untuk Suga dan beralih pada lehernya, ia memberikan tanda pada lehernya dengan menggigitnya serta menjilat dan menghirup aroma tubuh milik Suga tersebut. Tangan Jimin pun mulai bermain nakal dan menyentuh pipi bokong milik Suga. Suga segera tersadar Jimin melakukan hal yang bernafsu, Suga menghentikannya dengan cara mendorongnya.

"Kenapa?" Tanya Jimin yang sekarang sudah terjatuh di bawah sofanya.

"Dasar otak mesum, aku tidak akan membiarkan kau melakukan hal itu sebelum kita menikah!" Suga membentak Jimin dengan nada yang sedikit tinggi dan wajah yang merona.

"Tapi kau suka kan? , aih- hyung sakit! Kau tega sekali" Suga segera memukul kepala Jimin dan meninggalkannya ke kamar mandi.

.

.

.

Sekarang Suga sudah didalam mobil bersama Jimin untuk berjalan menuju kearah kampusnya, selama perjalanan hati Suga menjadi gugup semenjak kejadian tersebut. Lalu menatap Jimin yang sedang mengendarai mobil tersebut dengan wajah meronanya yang manis.

'bibir tebal itu, tangan yang menyiku tubuhnya agar tidak menindihku itu, wajahnya itu selalu membuatku tergoda dan ketagihan tapi aku harus menahan diriku' ucap Suga dalam benaknya sambil menatap Jimin dengan senyumnya yang lebar dan manis.

Jimin yang melihat Suga tersenyum kearahnya menjadi tersipu sendiri, dia jarang sekali melihat senyumnya seperti itu, Jimin sadar bahwa Suga sekarang sedang nyaman dan bahagia didekatnya. Tetapi Jimin belum mendapatkan jawaban hati tentang perasaannya dengan Suga, tetapi ia akan selalu berusaha untuk bisa dekat dengan Suga dan menyayanginya.

"Jadi, kamu benar-benar mengakui jika kamu merindukanku kan?" Jimin tertawa kearahnya, dan Suga segera mencubitnya serta memalingkan wajahnya. Dengan segera Suga bertanya sesuatu padanya.

"Apa kau mengenal Hoseok, teman sekampus kita?" tanya Suga. Jimin pun menghela nafasnya dalam-dalam.

"Darimana kau mengenalnya?" tanya Jimin dengan wajah yang datar, Suga segera menyadari kekasihnya memang terlihat memiliki masalah dengan Hoseok.

"Oh- tidak, tidak mengapa." Suga tersenyum kecil kearahnya dan mengurungkan niat pertanyaannya kepada Jimin.

"apa kau mengenalnya? Atau ada urusan dengannya?" tanya Jimin dengan wajah yang dingin.

"Tidak, aku hanya disuruh pak dosen Heong memberikan informasi padanya untuk segera mengumpulkan laporan observasinya" Suga menghela nafas dan memalingkan wajahnya kearah luar jendela mobilnya.

'sebenarnya aku ingin bertanya, apa kau sungguh serius denganku?atau hanya main-main seperti yang Hoseok katakan?' tanya Suga dengan khawatir didalam hatinya.

.

.

.

.

Annyeong~

Kenapa ya, gua gabisa lihat review terbaru?

Kalo ada yang tau, tell me why? lewat PM kasih taunya ya.

.

review, please? ^^