.

.

.

2 Side (MinGa)

Yaoi, Boy x Boy

By :Styli

Happy Reading ^^

.

.

.

Suga melangkah keluar dari mobil Jimin, membawa bukunya yang ia letakan dipangkuannya dan memasang ekspresi datarnya dengan biasa. Jimin tersenyum kecil dan ikut keluar memandang kekasihnya yang melangkahkan kakinya untuk pergi tanpa berkata apa-apa. Baru saja Jimin melangkahkan kakinya untuk menyusuli Suga yang sudah sedikit jauh dari hadapannya, tiba-tiba seorang wanita cantik bertubuh tinggi, berambut coklat bersurai gelombang, badannya yang langsing dan dibaluti oleh dress mini serta highheels yang ia gunakan, mencegatnya dengan berdiri dari hadapannya. Jelas saja Jimin memandang heran kearahnya.

"Siapa kamu?" Tanya Jimin.

"Kang Seulgi." Wanita itu tersenyum kecil kearahnya dengan tatapan mempesonanya dan mengibaskan rambut surai coklatnya kebelakang bahunya.

"Ada urusan apa?" tanya Jimin sambil memalingkan wajahnya agar tidak bertatapan dengan gadis tersebut.

"Mungkin kau bisa menelfon eoma-mu dan bertanya padanya." Tanya gadis itu dengan tatapan menggodanya. Tetapi Jimin tidak sama sekali tergoda, dengan segera ia membuka ponselnya tersebut. Belum ia menelfon atau sekedar melihat kontak Ibu nya, ia sudah mendapatkan pesan yang membuat Jimin terdiam bingung dan kaku.

.

Suga terus melangkahkan kakinya dan segera masuk kekelasnya dengan cepat. Ia menghela nafasnya sebenar dan melihat kearah jam, dia bersyukur karena ia tidak telat. Tiba-tiba saja ponselnya berdering bertanda sebuah pesan masuk.

"Chagiyaa~ kamu dimana sekarang?" Suga membuka mata kecilnya dengan lebar ketika membuka pesan dari Jimin tersebut.

"Dikelas 1.19, ada apa? Jangan ganggu aku, aku sedang ada kelas. " ucap Suga sambil menggertakan jari-jarinya di ponsel untuk membalas pesan Jimin, dia menatap bingung ponselnya, Jimin memanggilnya chagiya? Suga benar-benar ingin muntah mendengar Jimin memanggilnya seperti itu, tetapi ia mengeluarkan rona dari pipi chubby-nya seketika.

Jelas saja beberapa menit kemudian, sang dosen datang. Suga dengan cepat menyimpan ponselnya diranselnya dengan ceat dan membuka buku dihadapannya seketika.

"Hari ini kita ulangan, kalian siap?" Seorang dosen memasuki ruangannya dan bertanya dengan nada yang cukup tinggi, hingga membua gemah pada kelas yang hening tersebut.

Krekkk-

Belum sang dosen melanjutkan bicaranya, seseorang membuka pintu kelas tersebut dan memasuki ruang kelas yang sedang hening tersebut. Seorang wanita cantik tersebut berjalan dengan santai memasuki ruangan kelas dan tersenyum menyeringai kearah sang dosen yang tengah berdiri dan menatap bingung kearahnya, begitupun semua mahasiswa disana. Tetapi sebentar, tepat dibelakangnya itu adalah seorang Park Jimin, iya Jimin sang pujaan hati Suga. Suga segera membuka matanya dengan kaget melihat Jimin dengan seseorang kekelasnya, Jimin dengan segera menarik tangan gadis itu agar menjauh dari kelas yang wanita itu kunjungi, tepatnya kelas Suga sekarang.

"Mi-mianhae" Jimin sempat membungkukan bahunya dan segera menarik paksa tangan wanita cantik dihadapannya, Suga menatap tak suka ia benar-benar terdiam kaget dan menahan emosinya.

'Siapa gadis itu? Mengapa Jimin menyentuhnya? Mengapa seakan Jimin mengenalnya?' Suga masih terkejut dan menjadi terlalu memikirkan hal tersebut dengan sangat teramat emosi dan kecemburuan yang mencuat dari dalam dirinya.

Ulangan telah tiba, Suga menjadi terlalu memikirkan Jimin dan gadis tadi. Suga menjadi sedih dan menghilang dari pikirannya. Dia menjadi sangat emosi seketika, ia mengerjakan ujiannya dengan hati yang tidak tenang, tetapi tetap menjawabnya dengan benar. Suga bukanlah orang yang merusak nilai ujiannya hanya karena hal sepele.

Ketika jam pelajaran selesai, Suga segera mencari Jimin kekelasnya dan bertanya pada Taehyung, tetapi jawaban Taehyung hanya menggeleng kecil. Suga mencarinya disekitar kampus tetapi tetap tidak menemukan batang hidungnya sama sekali. Suga berdecik kecewa, ia dengan cepat mengambil ponselnya dan menahan bendungan air matanya yang bisa kapan saja terjatuh. Ia menelfon Jimin tetapi ponselnya tidak aktif, Suga pun menyerah dan terdiam dalam rasa kecewanya yang benar-benar dalam.

Ia berjalan menuju perpustakaan, Suga merasa perpustakaan adalah tempat dimana ia bisa menenangkan diri dan jauh dari keramaian yang malah membuatnya stress. Sesekali Suga membuka ponselnya berharap ada kabar dari Jimin. Tetapi memang tidak ada satupun, Suga menjadi sangat sedih dan terdiam.

'Jimin brengsek. Lihat saja nanti' ucapnya dengan ekspresi yang geram dan membuka bukunya dengan cepat serta memakaikan earphone-nya ke telinga mungilnya.

.

.

Jimin membuka matanya dengan lebar tak percaya, gadis dihadapannya hanya terkekeh melihat ekspresi Jimin yang seakan tak percaya. Sesekali Jimin menatapnya dengan kesal, karena gadis ini tidak mau menghilang dari hadapannya sama sekali ketika Jimin sudah mengusirnya. Dan berusaha meyakinkannya jika ia tak mengenali gadis dihadapannya.

"Sunbae- ini, masih saja tak mengenalku. Aku Kang Seulgi. Sahabat Kim Yeri, mantanmu yang pernah kau sakiti itu." Ucap Seulgi sambil tersenyum miring kearah Jimin.

"Lalu kau mau apa?" tanya Jimin dengan tatapan tidak suka.

Jimin saat ini sedang menggenggam ponselnya, tetapi Seulgi dengan segera merampasnya dari genggaman Jimin dengan tidak sopan.

"Ow- kau sudah punya kekasih ya? Eit- tapi- apa kau seorang gay?" tanyanya sambil tersenyum meledek ketika membuka ponsel mendapati wallpaper-nya bersama Suga sedang saling merangkul, tetapi dengan wajah yang juga terlihat datar – wajah Suga maksudnya.

"Oh- astaga! Ini oppa yang tadi keluar dari mobilmu ya? Wah memang terlihat seperti wanita-" ucapan gadis itu benar-benar membuat Jimin jengah dan geram juga.

"Apa dia seorang berkelamin ganda?" tanyanya sambil berbisik kedekat telinga Jimin dengan nada yang menggoda dan lirih. Jimin sudah mengepalkan tangannya dengan kencang seakan ingin sekali memukul gadis gila tersebut dihadapannya. Tetapi Jimin segera tersadar dia tidak boleh menyakiti wanita.

Dengan tiba-tiba, Seulgi meninggalkannya dan memasuki kampusnya tersebut. Aneh menurut Jimin sebenarnya ia tidak peduli, tetapi sepertinya ia telah membawa ponsel Jimin dan terlihat sedang membuka ponsel milik Jimin tersebut.

Jimin segera mengejarnya dengan langkah yang cepat, ia takut gadis gila itu akan berkata yang tidak-tidak dengan Suga. Tentu saja benar, ia memasuki kelas Suga tanpa mengetuknya. Benar-benar gila menurut Jimin, ia segera ikut masuk kedalam kelas tersebut, dan segera menarik tangan Seulgi dengan paksa untuk keluar. Seulgi sempat bersitatap dengan Suga dan tersenyum miring.

"Masuklah." Jimin membuka pintu mobilnya dan mendorong Seulgi kedalam mobil tersebut. Lalu Jimin masuk kedalam mobilnya juga tepat duduk bersebelahan, Jimin mengendarai mobil itu dengan tatapan emosinya.

"Kau gila? Kau baru mengenalku lalu se-agresiv ini? Kau menghina kekasihku dan bahkan ingin menggangguku dengannya?" ucap Jimin sambil tetap menatap lurus kedepan, ia benar-benar ingin muntah melihat gadis aneh tersebut.

"Jimin-oppa, kau tahu? Aku menyukaimu semenjak kau berpacaran dengan Yeri, mengapa kau dan Hoseok-oppa sampai bertengkar hanya untuk mendapatkan cintanya? Kau benar-benar mengambil jalan yang salah." ucap Seulgi sambil merangkul tangan Jimin, dengan cepat Jimin menepis lengan Seulgi dan menatapnya dengan jijik.

"Inilah, mengapa aku membenci wanita. Mereka yang menyakitiku lalu mereka juga yang bilang aku salah dasar gila." Jimin benar-benar muak dengan Seulgi dan menghentikan mobilnya ditepian jalan.

"Turunlah." ucap Jimin sambil menghela nafasnya.

"Kau ingin menuruniku ditengah jalan sekarang? Hais- kau sudah gila? Ingat ibu-mu punya hutang budi dengan ibuku, dan satu lagi aku tidak akan membiarkan kau dengan pasanganmu itu-" Ucap Seulgi dengan tatapan kesalnya. Jimin sudah tidak kuat dengan celotehan gadis gila tersebut. Ia keluar dan membukakan pintu mobil disisi Seulgi itu.

"Kau benar-benar mengusirku?" Seulgi keluar dengan tas mewahnya tersebut dan menatap Jimin dengan wajah kesalnya.

"Lihat saja, akan kuberitahu ibumu soal ini." Seulgi mengepalkan tanganya dan menunjukan ponsel milik Jimin kearahnya.

"Kembalikan." Ucap Jimin dengan wajahnya yang dingin.

"Ups-" Seulgi menjatuhkan ponselnya dari genggamannya dan menginjaknya saat Jimin ingin mengambilnya ditanah. Jimin dengan tetap bersabar mengambil pecahan ponselnya tersebut. Ia benar-benar sampai emosinya saat ini, tetapi ia coba untuk menahannya karena yang dihadapannya adalah seorang wanita dari sahabat mantannya, yang mungkin saja membalas dendam.

"Kau benar-benar sama dengan Yeri, sama dengan potongan harga baju yang dijual di pasar malam." Jimin tersenyum kecil dan menaikan sudut alisnya, lalu meninggalkan Seulgi dan melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan tepian jalan. "Sialan kau Park Jimin! Kau akan lihat nanti!" ucap Seulgi sambil mengambil ponselnya di kantongnya.

.

.

Suga saat ini sedang menangkup wajahnya dengan earphone yang masih dengan setianya mengalunkan musik rap-nya di telinga mungilnya, ia sedang memejamkan matanya. Iya Suga sedang tertidur manis sekarang, manis sekali. Hoseok mendekatinya dan duduk disebelahnya, sungguh Hoseok menatap wajah Suga dengan penuh penghayatan. Cantik sekali- bahkan pesona wanita manapun kalah dengannya. Ia tersenyum kecil dan mengambil ponselnya, ia membuka kameranya dan beberapa kali mengambil gambar wajah Suga yang manis, berkulit pucat dan berwajah imut tersebut. Lalu Suga membuka matanya dengan pelan saat kepalanya hampir terjatuh, Hoseok dengan segera berpura-pura menyanyi lirik rap yang ia tulis di secarik kertasnya. Suga terkejut kecil melihat Hoseok sudah ada dihadapannya, ia menarik earphone-nya dari kuping kecilnya dan terdiam bingung.

"Aku dimana?" tanyanya dengan tatapan polos, sungguh Suga imut sekali saat ini. Bertanya dengan tatapan sayunya dan memanyunkan bibirnya. Membuat Hoseok bergetar dan menggerutukan lidahnya saat ini juga.

"Y-ya di perpustakaan lah bodoh" mendengar Hoseok berbicara kata bodoh dihadapannya, membuat matanya terbuka lebar.

"Bodoh?! Katamu apa? Bodoh?!" tanyanya sambil menatap Hoseok dengan tatapan datar tetapi menusuk. Hoseok yang tadinya bergetar gemas menjadi bergetar takut dibuatnya, dengan segera ia melanjutkan menyanyi rap-nya dengan nada yang pelan.

"Kau sekarang yang benar-benar bodoh, kau ini sedang apa sih?" tanya Suga sambil menyilangkan kedua lengannya didepan dadanya.

"Yah mempersiapkan rap-ku di lomba nanti lah." ucap Hoseok sambil terdiam sebentar dan menulis beberapa kata di kertas itu kemudian.
Dengan cepat Suga menarik secarik kertas tersebut dan menatap bingung kearah Hoseok, Hoseok pun dibuat bingung dengan Suga. Tetapi ia percaya, Suga tidak akan merobeknya, bukan?

"Bisa kau nyanyikan ulang?" tanya Suga sambil menatap kearah kertas tersebut, dengan segera Hoseok menyanyikan rap-nya dengan sedikit ragu. Sesaat Hoseok selesai, Suga menahan tawanya dan membiarkan pipi merah tersebut menahan tawanya.

"A-ada apa?" tanya Hoseok sambil menarik kertas tersebut dari genggaman Suga.

"ceh-, Kau bernyanyi dengan tempo yang tidak pas dengan lirik. Tempo mu terlalu mellow dan romantis cocok untuk orang sedang dimabuk cinta, tetapi mengapa lirikmu mengacu pada sebuah sindiran yang keras?" tanya Suga sambil tersenyum kecil, Hoseok tersenyum kagum mendengar perkataan Suga.

"Kau seperti sudah berbakat sekali, noona!" ucapnya sambil tersenyum riang kearahnya, tentu saja Suga membuka matanya dengan terkejut.

"Apa?! Noona?!" tanya Suga sambil memukul lengan Hoseok dengan cukup kencang.

"Yak! Bocah! ku ingatkan padamu- ehmmmm!" Suga belum menyelesaikan celotehannya, namun Hoseok sudah membekap mulutnya karena semua mahasiswa disana sudah menatap mereka dengan tatapan sinisnya. Hoseok pun akhirnya keluar dengan tetap membekap mulut Suga dan mengambil tasnya serta beberapa kertas yang ia tinggalkan dimeja.

Hoseok membawanya keluar dan dengan kesalnya Suga menggigit tangannya yang menutupi mulutnya dan jelas saja Hoseok meringis kesakitan, Suga pun menatapnya dengan kesal.

"Kau ini apa-apaan sih?" Suga menatapnya dengan datar.

"Habis kau berisik sekali, kau benar-benar seperti bayi yang terus merengek." Ucap Hoseok sambil memandang malang kearah tangannya.

"Kau yang gila! Kau memanggilku Noona-!" Suga menatap sensi kearahnya lalu meninggalkannya.
Hoseok ingin mengejarnya, namun Suga sudah menghilang jauh dari hadapannya, Hoseok hanya tersenyum manis melihat kearah Suga. Betapa manisnya dan galaknya Suga itu, bagaimana bisa Jimin mendapatkannya? Apa dengan cara memanggil orang pintar? *Bang Hoseok juga mau? :v

.

Hoseok terbentang dikasurnya, beberapa kali ia tersenyum membuka ponselnya dan membuka galerinya. Sungguh ia menatap foto Suga yang sedang tertidur di perpustakaan.

"Sangat manis." Ucap nya sambil tersenyum menyeringai, lalu dengan segera ia menggelengkan kepalanya dan mematikan ponselnya.

"Apa-apaan sih aku ini? Dia kan pacar Jimin. Bodoh!" Hoseok segera memukul kepalanya sendiri dengan ponselnya. Tetapi ia tersenyum kemudian mengingat bagaimana Suga tersenyum kecil kearahnya, serta memarahinya dengan wajah imut dan mungilnya.

"Kasihan dia. Jimin, kau bodoh jika menyakitinya. Argh-! Aku ini kenapa sih?" Hoseok mengacak-acak rambutnya sendiri di kamarnya.

.

.

.

Saat ini Suga benar-benar sedang berada di cafe-nya untuk bekerja seperti biasa, ia sedang membersihkan beberapa meja dengan kain bekasnya dan mengeluarkan nyanyian rap-nya seperti biasa. Tiba-tiba saja lonceng berbunyi, padahalkan ini sudah larut malam dan cafe akan tutup pikirnya. Tetapi yang datang bukanlah pelanggan biasa tetapi kekasihnya yaitu Jimin.

"Jimin?" Suga menatapnya dengan wajah yang datar, Jimin tahu pasti ia sedang marah. Tetapi kenapa Suga menatapnya seolah biasa-biasa saja? Lalu Jimin mendekatkan langkahnya ke arah Suga, sepertinya Jimin sedang mabuk? Tetapi Suga tidak menyadarinya?. Suga memang menatapnya dengan tatapan datarnya tetapi dijumpai juga kata-kata yang menyakitkan.

"Untuk apa kesini? Untuk mengakhiri hubungan kita?" tanya Suga dengan tatapan tajam dan mata yang berbendung genangan air matanya tersebut.

"Sayang. Jangan menangis. Jangan membuatku bersalah lagi- Cukup sudah aku merasa bersalah dengan orang tuaku!" ucap Jimin dengan keras dan mendekatkan dirinya dengan Suga, ia segera sadar Jimin sedang mabuk saat ini. Suga menjauhkan langkahnya dan memundurkan dirinya seketika.

"Kau ingin kemana sayang?" tanya Jimin dengan mata yang memerah dan tatapan menyeringai tersebut.

"Pergi dari sini-!" Suga segera melempar kain tersebut kearah wajah Jimin. Jimin segera menyeringai menatap Suga dengan penuh emosi dan berlari kearahnya. Jelas saja Suga ketakutan melihatnya.
Suga berlari untuk menuju pintu keluar, tetapi Jimin terlihat akan menghalanginya dan berlari kecil kearahnya, Suga sempat mendorong kecil Jimin tetapi yang ia dapatkan malah Jimin semakin kasar dan semakin kuat. Suga berlari kekamar mandi dan mengunci dirinya didalam kamar mandi.

"Apa sih yang dilakukan bocah itu?!" tanya Suga dengan wajah panik dikamar mandi.

Sudah sekitar 10 menit ia dikamar mandi, ia merasakan keheningan dari luar. Ia sudah tidak mendengar rontahan Jimin lagi. Ia membuka pintu itu pelan-pelan dengan penuh hati-hati.

"BINGGO CHAGIYA!" Teriak Jimin yang sedang mabuk itu membuat Suga terkejut, dengan cepat Jimin menarik bahu Suga dengan kasar, membawanya kedalam kamar mandi dan mengapitnya pada sudut tembok.

.

.

.

.
Hello.
Semoga ceritanya ga ngebosenin ya. Kalo udah ngebosenin kasih tau ajh hahah.

Lagi niat banget lanjutin hobi dari dulu-

Oia makasih yang udah review, gua udah baca semua loh.
Boleh kali kasih saran lewat review. Siapa tau aja ada yang bisa disangkutin buat jadi ide hahaha.
Jangan Cuma dibaca, dan di review 'next', but thankyou so much:*

.
Mian juga kalo banyak kesalahan EYD.
Oia keselipan juga tuh HoGi (Hoseok - Yoongi), MinSeul (Jimin-Seulgi) dan beberapa couple lainnya.
Semoga suka ya kalian hehehe.
Saranghae :3