"Lho, lagunya kok jadi bagus seperti itu, Sayang?" tanya Sungmin gemas.
Bisa ditebak, Sandeul pun terbahak-bahak...
.
.
Pair : KyuMin
Cast : Kyuhyun, Sungmin and Other Cast
Rate : T
Genre : Drama, Romance
Length : Chaptered
Warning : Ini ff Remake dari novel lama karya Ari Nur dengan judul yang sama, 'Dilatasi Memori'. Ada beberapa bagian yang saya rubah dengan menambahi atau mengurangi porsi cerita, agar sesuai dengan apa yang diinginkan. Mengingat ini novel straight dan saya mengubahnya menjadi BL, maka mohon dimaklumi jika menjadi sedikit aneh ^^. BXB, M-preg, typo (s).
Summary : Ketika cinta dikhianati, apa yang akan terjadi? Ketika ketulusan disalahartikan, akankah kesetiaan dipertahankan?. Kisah cinta mereka tengah diuji!.
Disclaimer : Cerita ini milik Ari Nur. Tapi, seluruh tulisan ini milik saya. Saya hanya meminjam nama-nama orang yang saya cintai ini semata-mata demi kelangsungan cerita.
enJOY
.
.
Suatu hari ketika dia tiba di rumah sepulang kerja, Sungmin hanya bisa tercengang. Dinding rumah itu sudah penuh coretan.
"Sandeul-ee...! membuat gambarnya kok di dinding, bukannya di kertas. Kan kemarin sudah Papa belikan buku gambar!"
"Ndak bica, Pa, ini piti-piti."
"Apa itu piti-piti?"
"Ah, Papa ini ndak gaul, cih! Piti-piti, ya piti-piti!" Kini malah Sandeul yang memarahi Papanya.
"Kalau Appa marah, bagaimana?"
Sandel hanya melenggang dengan wajah tak berdosa. Dia sangat bangga dengan hasil karyanya. Dia juga heran, kok papanya malah memarahinya. Memangnya dia salah apa?
"Kyu!"
"Apa sih, ribut sekali!" Kyuhyun muncul dari garasi.
"Lihat kelakuan anakmu! Kreatif sekali!"
Kyuhyun hanya terkejut sesaat. Kemudian wajahnya kembali datar. "Memang kenapa?" tanyanya santai.
"Kok kenapa? Kau ini bagaimana, sih?!"
"Kau seperti anak kecil, Ming. Begitu saja ribut!"
Sungmin merasa kadang Kyuhyun terlalu memanjakan Sandeul. Apapun yang diperbuat selalu dibenarkan.
"Appaaa! Piti-piti Deul-ee...!" serunya kerika melihat Appa kebanggaannya datang.
"Apa itu, piti-piti?!" Sungmin masih kesal.
"Maksudnya grafitti. Bukan grafitti namanya kalau melukisnya di buku gambar," Kyuhyun berkata tenang.
Benar juga.
"Tapi, Kyu, lalu kita biarkan semua dinding terkena coretan. Kalau ada tamu 'kan malu."
"Kau lebih sayang tamumu daripada anakmu?"
"Bukan begitu, sih..."
"Ya sudah, sekarang begini saja. Sandeul, sini, Honey, Appa kasih tahu sesuatu."
Kyuhyun berjongkok memegang pundak putranya.
"Sandeul boleh membuat gambar di dinding, tapi dinding teras belakang itu. Dekat taman belakang itu. Tidak boleh di tempat lain. Soalnya, kalau Sandeul membuat gambar sembarangan, rumah kita jadi jelek, Sandeul mengerti?"
Sandeul mengangguk.
"Di dinding ruang tamu, Sandeul boleh coret-coret tidak?"
Sandeul menggeleng.
"Di kamar?"
Sandeul kembali menggeleng.
"Ruang makan?"
"Ndak boyeh!"
"Teras belakang, dekat taman?"
"Boyeh!"
"Pintar! Sandeul anak pintar pasti mengerti. Sekarang kita high five dulu!" Kyuhyun mengangkat tangannya. Sandeul meyambut dengan gembira.
"High five!"
Akhirnya, keduanya saling tertawa. Hahaha...
Dua hari kemudian, dinding rumah itu sudah penuh coretan lagi. Dari ruang depan sampai belakang. Kali ini giliran Sungmin yang tertawa...
Namanya juga anak-anak, eh balita!
.
.
Hari Minggu adalah hari keluarga. Seperti keluarga lainnya, biasanya mereka berekreasi, mengunjungi kebun binatang atau ke toko buku. Atau di rumah saja, tidak kemana-mana, memanfaatkan kebersamaan yang dirasa sangat berharga.
Seperti hari ini, Sandeul sudah menyiapkan skenarionya. Dia mengajak sang appa bermain drama. Sungmin memakaikan kostum yang diinginkannya, yaitu setelan jas kecil lengkap dengan dasi mungilnya.
"Deul-ee jadi Bos. Appa jadi kalyawan ya, Pa!"
"Oh, Sandeul jadi Bos? Oke, deh. Lalu Appa disuruh melakukan apa?"
Sandeul memberi beberapa intruksi, "Mali lapat dulu. Ambilkan tas itu!"
"Baik, Bos."
"Bopen cama ketasnya mana?"
"Ini, Bos."
Kyuhyun menurut saja apa yang diperintahkan. Mereka duduk di seperangkat meja kursi kecil dengan setumpuk kertas yang akan dihiasi benang kusut oleh Sandeul. Pura-puranya sedang menandatangani kontrak. Dia pernah melihat sang appa melakukan hal itu dengan klien saat dia "berkunjung" ke JOY.
Tapi baru sebentar, Sandeul sudah kegerahan. Dilepasnya baju "kebesarannya", ganti dengan kaos singlet dan celana pendek. Dia juga sudah bosan dengan permainannya.
Sementara Sungmin dibantu Hwang Ahjumma –sang maid- membuat cake di dapur. Dia kaget ketika tiba-tiba ada dua kepala dengan posisi miring, muncul di pintu dapur. Badannya tidak terlihat. Satu di kanan, satu di kiri.
"Papa... kuenya cudah matang beyuuuuum...!" teriak si kepala kecil.
"Iya. Kita sudah lapar nih, Paa...!" teriak si kepala yang besar.
Sungmn menoleh kaget. Kemudian tertawa geli. Tersipu-sipu. "Aduh, mian... belum, Sayang. Papa jadi gugup, nih. Setelah ini mau di-oven dulu. Sabar, ne...!"
"Oke...!"
Dua kepala itu menghilang. Berganti dengan suara ribut. Ada teriakan-teriakan. Suara jeritan. Disusul dengan suara tawa terbahak-bahak.
Sepuluh menit kemudian dua kepala itu muncul lagi di pintu dapur. Tetap dengan sapaan yang sama. Sungmin kembali tersipu-sipu, menjawab dengan jawaban yang sama. Bapak-anak itu pun kembal ke teras belakang.
"Honey, kita main tablet, yuk!"
"Ayuuuuuk!" Sandeul berteriak gembira.
Pada ulangtahunnya yang ketiga, Kyuhyun menghadiahi Sandeul tabletnya yang sudah tidak dipakai tapi masih berfungsi dengan baik. Konon, permainan komputer melibatkan daya penalaran logis. Salah satu cara untuk merangsang kecerdasan logis-matematis. Begitu kata apara pakar pendidikan anak.
Sandeul sibuk bertanya dengan permainan baru yang diajarkan appanya. Ini apa, Pa? Itu apa, Pa? Kyuhyun pun menjawab dengan sabar. Memang butuh kesabaran dalam menjawab pertanyaan ingin tahu mereka. Penjelasan yang diberikan juga harus sederhana dan tidak mengandung kebohongan.
Sandeul sangat cepat bosan pada sesuatu yang monoton. Kyuhyun harus mengganti dengan permainan yang baru lagi.
"Appa mau ke mana, Pa?" Tubuh mungil itu mengikuti Kyuhyuh dari belakang.
"Ambil mainan Sandeul di kamar."
Boks mainan itu ditumpahkan ke lantai. Alat transportasi mainan; mulai dari pesawat, kapal laut, kereta api, mobil, sepeda motor sampai sepeda gerobak penjual es krim tersedia lengkap. Juga lego, uang logam, uang kertas mainan, dan berbagai jenis mainan tampak berhamburan kemana-mana.
"Kaja kita kumpulkan! Mobil kecil, dengan mobil kecil. Mobil besar, dengan mobil besar. Terus mainan yang lain juga disendirikan. Oke?"
Sandeul mengerjakan instruksi itu dengan semangat.
Mereka bermain mengklasifikasikan benda-benda. Ini juga masih bagian dari pelatihan kecerdasan logis. Sekalian merapikan koleksi Sandeul yang sudah berantakan.
Sungmin melongok sebentar ke teras belakang dan mendapatkan dua orang itu sedang "sibuk". Dia pun kembali ke dapur meneruskan proyeknya, sementara Hwang Ahjumma sibuk memasak untuk masak siang.
"Wortel ini beli di mana, Ahjumma?"
Hwang Ahjumma menoleh dan menatap sang pemilik rumah dengan gugup. Dia masih canggung. Baru dua minggu dia bekerja di situ.
"Di pasar. Kenapa, Tuan?"
"Kalau memilih wortel, pilih yang masih muda. Jangan yang sudah tua seperti ini."
"Memangnya cara membedakannya bagaimana?"
"Lihat matanya." Sungmin mengambil sebuah wortel dan menunjuk pangkalnya. "Kalau bulatannya kecil, itu tandanya masih muda. Kalau besar seperti ini, berarti sudah tua."
Hwang Ahjumma mengangguk-angguk. Dia cukup kagum pada majikannya. Seorang namja. Dengan karier yang bagus, tapi pintar memasak. Sangat paham terhadap anaknya. Terhadap suami sangat mesra. Dia tidak mempermasalahkan kesamaan gender antara 'suami istri' tersebut. Yang dia tahu, mereka keluarga yang sangat baik dan harmonis.
Tips-tips yang didapat, dia catat dengan baik-baik.
Setengah jam kemudian, barulah kue itu benar-benar matang. Dengan riang, Sungmin menara kue-kue tersebut di piring. Lalu dibawanya ke teras belakang. Dia ingin memberi kejutan.
"Halo everybody, kuenya sudah mataaaang...!"
Sepi. Tidak ada sahutan. Sungmin melongok ke teras. Dua sosok tubuh terlentang di lantai. Tertidur nyaman. Di samping mereka, sebuah boks besar yang berisi mainan terlihat sudah rapi.
Sungmin pun tercengang.
.
.
PT JOY Associate, sebuah biro arsiktetur yang kini hampir meninggalkan masa balita.
Sebuah kantor sederhana, di pinggiran kota Seoul.
Bangunan itu sebenarnya sebuah rumah tinggal yang sudah tidak dipakai oleh pemiliknya lalu disewakan. Setelah diadakan renovasi sana-sini, maka jadilah sebuah kantor tempat PT JOY menjalankan aktifitasnya.
Seperti umumnya perusahaan muda, JOY beberapa kali mengalami perubahan struktur untuk mencari format yang tepat. Hingga pada akhirnya struktur yang terbentuk menjadi empat divisi yang lebih spesifik, yaitu Divisi Perancangan, Divisi Drafter, Divisi Maket, dan Divisi Nonteknis.
Struktur yang ada tidak terlalu kaku. Pembagian divisi yang dimaksudkan untuk kejelasan tugas. Kadang bisa jug aperancang membuat sendiri maketnya karena permintaan dari klien. Drafter juga bisa mengerjakan perancangan dengan skala yang kecil, misalnya pada detail, seperti pintu atau jendela. Atau proyek dalam skala kecil seperti rancangan satu ruangan atau satu detil tertentu.
Selain struktur perusahaan, juga ada yang disebut struktur proyek, yang terbentuk ketika ada proyek dan berakhir ketika proyek itu selesai, dan jumlahnya sesuai dengan jumlah proyek yang sedang ditangani.
Dalam proyek cukup sering terjadi overlaping. Satu orang bisa merangkap beberapa tugas dan paling sering terjadi pada drafter. Tapi sejauh ini, permasalahan seperti itu masih bisa diatasi.
JOY mengalami kemelut justru pada tahun-tahun pertama berdiri. Terutama berkaitan dengan jumlah karyawan perusahaan. Juga masalah pemasukan proyek; kadang bisa datang beberapa proyek sekaligus hingga mereka kerepotan, kadang tidak ada sama sekali hingga mereka harus mencari-cari.
Seiring dengan perampingan struktur, mereka membatasi jumlah karyawan agar tetap 27 orang. Jumlah itu adalah jumlah seluruh komposisi, mulai direktur, manager design, staf hingga bagian konsumsi dan cleaning service. Komposisi basic pendidikannya pun beragam.
Kyuhyun tetap menjabat sebagai direktur utama membawahi semua divisi, tapi dia sendiri tidak mengerjakan pekerjaan perancangan, hanya sebagai pengawas karena dia masih menjabat sebagai arsitek di SM. Wakil direktur dipegang Donghae. Dia juga berperan sebagai arsitek senior dan pengawas sekaligus. Sedangkan Sungmin masuk ke divisi perancangan, sebagai pengawas sekaligus perancang.
.
.
Di salah satu ruang yang paling luas yaitu ruang rapat, beberapa orang karyawan JOY berkumpul untuk menyaksikan presentasi proyek bangunan sebuah ruko yang diketuai oleh Jungmo. Presentasi tersebut dalam bentuk animasi yang digarap oleh anggota tim proyek, Jay.
"Durasi berapa, Kyu?" bisik Sungmin pada Kyuhyun yang duduk di sampingnya. Dia sedikit geli mendengar musik latarnya, nge-rock.
"Tiga menit. Nge-render-nya delapan belas jam." Kyuhyun menoleh pada Jay, "Kamu kenai berapa?"
"Sepuluh juta, Pak," jawab Jay dengan wajah sumringah.
Kyuhyun mengangguk-angguk.
Tepuk tangan pun bergema ketika animasi itu selesai diputar.
Jay memandang ke arah Kyuhyun dengan harap-harap cemas.
"Coba putar ulang!"
"Baik, Pak."
Animasi itu pun kembali diulang. Kyuhyun mengamatinya lebih detail.
"Stop! Apa itu?" tangan Kyuhyun menunjuk ke sebuah objek yang terpampang di layar OHP.
"Sclupture, Pak."
Kyuhyun mengerutkan keningnya, "Memang bentuknya seperti itu?"
"Sebenarnya tidak. Aslinya cukup rumit, jadi saya buat lebih sederhana."
"Berarti tidak sesuai dengan aslinya, kan? Berarti 3D max yang kamu buat ini belum representatif, 'kan?"
Jay nyengir, "Jadi harus diperbaiki ya, Pak?"
"Terserah."
Anak-anak sudah hafal kata 'terserah' versi Kyuhyun berarti harus.
Ponsel milik Kyuhyun berbunyi.
"Ming, aku harus ke SM. Kau pulang duluan, ne."
Sungmin mengangguk, "Hati-hati, Kyu."
"Jay, karyamu sudah cukup bagus. Hanya ada beberapa yang memang harus kamu perbaiki karena karya yang baik bukan sekedar bagus, tapi juga benar. Oke? Mian, kami harus pergi dulu."
Dalam hati Jay misuh-misuh. Di mata Bos, tidak ada yang benar. Ada... saja yang kurang. Kalau begini kapan selesainya? Dasar perfeksionis!
.
.
Hari baru menjelang senja ketika Kyuhyun muncul di pintu.
"Kok sudah pulang, Kyu? Tumben."
"Kau ini, aku pulang cepat, comment! Pulang malam apalagi."
Sungmin tersipu. "Ya, bukan begitu. Kok, tumben? Aku sih, senang-senang saja Kyu, jam segini sudah di rumah."
Dan yang paling histeris adalah Sandeul. Jarang sekali dia mendapatkan appa-nya pulang sementara dia belum tidur. Bukan main senangnya. Langsung saja diajaknya sang appa bermain.
"Sandeul tidak boleh bermain. 'Kan harus mengerjakan PR."
"Ah, Papa... Candeul mau main cama Appa...!"
"PR? PR apa?" Kyuhyun tidak terlalu tahu tentang masalah sekolah Sandeul.
"Biasa, PR harian."
Dengan keheranan, dilihatnya buku-buku sekolah Sandeul.
"Ya sudah. Appa sekarang mandi, habis itu, Sandeul mengerjakan PR dengan Appa. Nah, kalau sudah selesai semua, baru kita main. Oke?"
"Holeeee!" Sandeul pun berlarian keliling ruangan meluapkan kegembiraannya.
.
.
"Anak umur tiga tahun, masih playgroup, dikasih PR. Apa-apaan ini?! Konyol!"
"Mungkin... untuk melatih disiplin, Kyu," kata Sungmin sabar.
"Bukan masalah disiplin yang ku persoalkan. Pola pikir yang mereka kembangkan itu yang tidak kumengerti. Masa kanak-kanak adalah untuk bermain, bukan dibebani dengan tugas-tugas yang tidak jelas seperti itu."
"Lho, kau juga setuju 'kan, saat aku usul Sandeul masuk ke sekolah itu."
"Aku tidak menyangka akan sekonyol ini."
"Tapi itu sekolah favorit."
"Jangan tertipu oleh kemasan. Kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya. Kini aku baru percaya bahwa ternyata memang benar, sekolah terbaik bagi anak-anak adalah ibunya sendiri. Sekolah-sekolah itu untuk menampung anak-anak yang ditinggal ibunya. Ibunya yang malas mengasuh dengan alasan sibuk bekerja.
"Kau sendiri yang menyuruhku kembali ke JOY. Andaikata aku harus di rumah saja juga tidak masalah. Di rumah atau di kantor aku tetap seorang arsitek. Kau juga yang bilang, semua bisa dibuat fleksibel." Kali ini Sungmin benar-benar tersinggung.
"Kau tidak mengerti apa yang ku maksud," sahut Kyuhyun datar. Wajahnya tegang. Matanya menerawang. Tampaknya dia sedang berpikir.
Dalam soal pendidikan anak, dia memang sedikit bereda pendapat dengan Sungmin. Ada saja hal-hal yang membuat mereka berselisih.
"Saat kecil, aku selalu sibuk dengan les ini les itu. Saat itu, aku ingin sekali terbebas dari semua beban-beban itu. Ingin sekali bermain, tapi Abeoji tidak pernah mengijinkan."
"Dan sekarang, kau bisa memetik hasilnya, 'kan? Aku mau ikut les, les di mana? Orang di desa tidak ada yang membuka les bahasa. Sekarang sudah tua seperti ini baru kebingungan belum menguasai ini, belum bisa itu. Aku tidak ingin Sandeul nanti seperti itu."
"Bukan, bukan seperti itu yang kurasakan."
Kedunya terdiam.
Tiba-tiba Sungmin menjadi geli. Kyuhyun iri padanya. Dan sebaliknya, dia iri pada Kuhyun. Mereka kok jadi saling iri. Saling merasa bahwa yang lain lebih beruntung dan sebaliknya. Kyuhyun merasa tidak beruntung karena kehilangan masa kecil, sementara Sungmin merasa masa kecilnya minim fasilitas.
"Bersyukurlah, Ming. Lahir di desa, merasakan udara segar setiap saat. Alam menjadi karibmu."
Kini keduanya kembali terdiam. Terbawa ke sebuah perenungan yang dalam.
Sejak percakapan malam itu, Kyuhyun menjadi lebih perhatian terhadap Sandeul. Sungmin merasa ada untungnya juga meskipun dia masih belum mengerti bagaimana sebetulnya jalan pikiran Kyuhyun.
.
.
Entah mengapa, malam ini Kyuhyun merasa begitu tenteram, begitu damai. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat, tapi dia belum ingin tidur. Di sampingnya Sandeul tidur dipeluk sang papa. Keduanya sudah pulas.
Kyuhyun menyalakan lampu tidur. Mengganjal punggungnya dengan bantal, duduk di tepi pembaringan. Memandangi dua wajah itu tanpa bosan.
Apakah aku bisa menjadi suami yang baik bagimu, Ming? Apakah aku bisa menjadi appa yang baik bagimu, Sandeul?
Kyuhyun sejak kecil yatim piatu. Dia tidak punya presenden bagaimana menjadi seorang ayah karena dia tidak pernah bertemu ayah kandungnya. Tapi dia punya ayah angkat yang sangat baik.
Sandeul, betapa beruntungnya kamu. Kamu memiliki orangtua lengkap, yang sangat mencintaimu.
Ada suasana haru yang tiba-tiba menyelimutinya. Kyuhyun tidak ingin apa-apa. Dia hanya ingin bersyukur.
Appa...
Di manapun engkau berada, aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku sekarang juga sudah menjadi appa. Kau pasti akan sangat senang melihat cucumu. Sandeul pintar meskipun sedikit keras kepala. Dia juga montok dan sangat lucu.
Eomma...
Di manapun eomma kini, aku hanya ingin mengabarkan bahwa aku sangat bahagia.
Alangkah indahnya kalau kalian masih hidup. Betapa meriahnya kalau kita semua berkumpul. Biasanya antara ibu mertua dan menantu suka berselisih. Sungmin sangat manja dan kadang seperti anak kecil. Mungkin eomma akan cerewet kepadanya. Kyuhyun tersenyum. Tapi aku yakin, kalian pasti akan saling menyayangi.
Kyuhyun turun dari tempat tidur. Lalu berjalan menuju ke ruang kerja. Duduk sambil memutar-mutar kursinya. Punggungnya santai menyender, wajahnya tengadah dengan mata terpejam. Alunan blues terdengar sayup-sayup.
(Dalam keperkasaannya sebagai seorang lelaki, sesungguhnya Kyuhyun merasa kekanakan. Konon, jiwa kekanakan itu takkan pernah hilang berapa pun usia pemiliknya. Ia menetap seumur hidup, tersimpan di salah satu lapisan jiwa dan akan muncul sewaktu-waktu. Jiwa kekanakan yang teramat manis. Jiwa kekanakan yang membuat seseorang menjadi sentimentil.)
Kali ini Kyuhun benar-benar ingin menangis.
Appa... aku ingin bertemu sebentar... saja.
Eomma... aku ingin berlutut padamu, membasuh kakimu, merasakan kasih sayangmu.
Eomma...
Aku ingin eomma.
"Ssst... Ming... Minimi... ireona!"
Sungmin hanya bergerak ke samping, lalu tidur lagi.
"Hei, ireonaaaaa...!"
Sungmin mengeliat. Mata indahnya mengerjap-ngerjap pelan.
"Apa... sih, Kyu...?"
"Makanya bangung dulu!"
"Aaah... ngantuk..."
"Ming, sekarang kita berkemas. Besok kita pulang. Aku ingin bertemu eomma."
"Eomma siapa?"
"Ya eomma-mu. Masa eomma-ku."
"Hah? Kyu, kau serius?"
Kyuhyun mengangguk. "Kita ambil cuti tiga hari."
.
.
TBC
(Sclupture : Pahatan)
Kekeke kenapa pada takut kalau konfliknya bakal berat? Tenang saja, konfliknya tidak lebih berat dari berat badannya Ming kok, ups... :-D
Ah... sekali lagi saya minta maaf jika ada yang kurang nyaman dengan panggilan Appa-Papa, mohon dimaklumi, ne... #puppyeyes
Terimakasih untuk sambutan hangatnyaaaaa ^^ #hug
Adelia Santi : Kekeke ngikutin novelnya aja eon ya ceritanya... namanya juga remake :). Ah ya... review-nya eon emang nggak bisa langsung muncul, soalnya nggak log in, biasanya baru muncul 3 hari kemudian, tapi tenang saja, sudah masuk lewat email kok ^^. Makasih ya sudah RnR ^^.
KyuMin Cho : Hehehe tidak terlalu berat kok, Cuma rada bikin greget aja :3. Ah... iya, bagaimanapun Ming kan laki ya. Oke ini lanjutannya... terimakasih sudah RnR ^^.
5351 : Kita tunggu saja di chapter2 selanjutnya, hehe. Ini lanjutannya, terimakasih sudah RnR ^^.
allea1186 : Ah... terimakasih untuk pengertiannya, semoga bisa menikmati ceritanya ^^. Ini next-nya, dan terimakasih sudah RnR ^^.
ayyu. annisa. 1 : Iya... ini lanjutannya, terimakasih sudah RnR ^^.
sissy : Kekekeke iya, ini lanjutannya, terimakasih sudah RnR ^^.
JoyELF : Kekeke itu masih rahasia, ini lanjutannya, terimakasih sudah RnR ^^.
LiveLoveKyumin : Nggak berat-berat amat kok, cuma agak bikin gemes aja, hehe. Eng... bisa iya, bisa tidak, ditunggu saja ya... ini next-nya, terimakasih sudah RnR ^^
anieJOYer : Hehehe mianhe, saya benar2 minta maaf untuk ketidaknyamanannya, mohon dimaklumi :). Terimakasih sudah RnR ^^.
haifa : Kekeke iya... semoga saja ya, SEMANGAT! ^^. Terimakasih sudah RnR ^^.
Kim Yong Neul : Nanti juga dia akan menunjukkan batang hidungnya, keke. Iya, semoga saja ya... ini lanjutannya, terimakasih sudah RnR ^^.
Shyuuu : Belum, ini masih pemanasan, hehe, mungkin beberapa chap lagi :). Ini lanjutannya, terimakasih sudah RnR ^^.
gyumin4ever : Ah... chingu sudah baca novel ini? Novel jaman2 saya SMA ini, hehe, ceritanya menarik, dan hubungan lakon utamanya yang manis2 sepet mengingatkan saya pada KyuMin :3. Mianhe untuk ketidaknyamanan itu... makasih udah RnR ^^.
abilhikmah : Iya ^^. Terimakasih sudah RnR ^^.
riesty137 : Kekeke lha itu yang telponan kan juga sudah lumayan romantis :3. Ditunggu saja ne romantisme mereka, hehe, ini lanjutannya... terimakasih sudah RnR ^^.
PRISNA : Hehehe mianhe... saya benar-benar tidak bisa menuliskannya. Mohon dimaklumi ya, untuk ff iniii saja ^^. FIGHTING! Terimakasih sudah RnR ^^.
Okalee : Hehehe terimakasih, iya... saya emang selalu kepikiran kalo gimanapun Ming itu laki :3. Terimakasih sudah RnR ^^.
fitriKyuMin : Annyeong... selamat datang ^^. Keke sandeulnya emang ngegemesin... terimakasih udah RnR ^^.
Tika137 : Saya juga pengeeen :3. Terimakasih sudah RnR ^^.
Big Thank's to:
Adelia Santi, KyuMin Cho, 5351, allea1186, ayyu. annisa. 1, sissy, JoyELF, LiveLoveKyumin, anieJOYer, haifa, Kim Yong Neul, Shyuuu, gyumin4ever, abilhikmah, riesty137, PRISNA, Okalee, fitriKyuMin, Tika137
Semua yang sudah follow/favorit dan semua yang sudah berkenan membaca walaupun tanpa sengaja ^^
#bow
Sampai jumpa di chapter selanjutnya, saranghae ^^.
