"Hah? Kyu, kau serius?"

Kyuhyun mengangguk. "Kita ambil cuti tiga hari."

.

.

Pair : KyuMin

Cast : Kyuhyun, Sungmin and Other Cast

Rate : T

Genre : Drama, Romance

Length : Chaptered

Warning : Ini ff Remake dari novel lama karya Ari Nur dengan judul yang sama, 'Dilatasi Memori'. Ada beberapa bagian yang saya rubah dengan menambahi atau mengurangi porsi cerita, agar sesuai dengan apa yang diinginkan. Mengingat ini novel straight dan saya mengubahnya menjadi BL, maka mohon dimaklumi jika menjadi sedikit aneh ^^. BXB, M-preg, typo (s).

Summary : Ketika cinta dikhianati, apa yang akan terjadi? Ketika ketulusan disalahartikan, akankah kesetiaan dipertahankan? Kisah cinta mereka tengah diuji!.

Disclaimer : Cerita ini milik Ari Nur. Tapi, seluruh tulisan ini milik saya. Saya hanya meminjam nama-nama orang yang saya cintai ini semata-mata demi kelangsungan cerita.

enJOY

.

.

Berkunjung ke area persawahan memang tidak seistimewa mengunjungi laut atau berwisata ke pegunungan. Tapi coba perhatikan detail yang tersaji; pohon padi yang tertanam rapi, hijau atau kuning, pematangan yang kadang terputus, dan kalau kita melongok lebih dekat, ada ikan-ikan kecil yang berenang di airnya yang bening. Seperti gambar anak-anak SD, sawah sebagai elemen utama, background dua gunung serta matahari di tengah, dan foreground sebuah pohon kelapa. Belum lagi para bapak ibu tani yang begitu agresif menunjukkan eksistensi mereka. Bayangkan tanggung jawab mereka; memberi makan orang satu negara!

Mereka berjalan menyusuri jalan kecil di pinggir sawah. Sandeul berjalan di depan. Dia terlihat sangat gembira. Berlari-lari mengejar kupu-kupu. Lalu berjongkok, memegang rerumputan dan bunga-bunga yang tumbuh di sekitarnya.

Sebenarnya, yang paling membuatnya senang adalah karena untuk beberapa hari dia tidak harus pergi sekolah. Menurutnya, ke sekolah setiap hari kadang-kadang membosankan juga. Mungkin hanya Kyuhyun satu-satunya ayah di dunia yang mengijinkan anaknya untuk membolos.

Biasanya mereka akan mengunjungi kampung halaman Sungmin saat Tahun Baru Korea (Seollal) dan Hari Panen (Chuseok). Tapi karena perhatian mereka saat itu teralih untuk menjalankan beberapa ritual adat, seperti; melakukan jeongjo charye (upacara penghormatan kepada leluhur) dan sebae (memberi salam tahun baru kepada orang tua dan para kerabat), berziarah ke makam leluhur dan mempersembahkan makanan, buah-buahan, minuman, dan hasil panen kepada arwah leluhur. Jadi mereka tidak sempat menikmati suasana desa.

Sungmin dan Kyuhyun berjalan di belakang Sandeul sambil bercakap-cakap.

"Desamu ini cukup maju, ya?"

"Ya, seperti yang kau lihat. Ada pabrik Farmasi di sini. Jalanan juga sudah diaspal. Para petani mengunjungi sawahnya sudah banyak memakai mobil. Pekerja di sawah mereka juga menggunakan jasa tenaga kerja, dan menggunakan alat yang canggih. Tidak hanya padi juga yang dihasilkan, tapi diselingi dengan buah-buahan dan sayur, padi hanya ditanam satu tahun sekali. Tapi, tidak bisa dipukul rata juga. Masih banyak penduduk yang masih menjadi petani tradisonal. Menggunakan alat tradisional, dan memakai sepeda untuk transportasi menuju sawah mereka. Tapi setidaknya tidak ada yang begitu kekurangan untuk kehidupan sehari-harinya. Itu kalau dari segi ekonomi. Kalau iklim sosial menurutku, apalagi di daerah yang rumahnya berdekatan seperti daerahku, menurutku... kurang begitu sehat. Sukanya menggunjing. Ketika satu keluarga mendapat satu masalah, dalam tempo yang singkat, orang satu kampung pasti tahu semua."

"Sisi positifnya, tingkat kriminalitas di sini cukup rendah. Remaja yang salah pergaulan juga bisa dibilang tidak ada. Kasus-kasus rumah tangga mungkin hanya terjadi sekali dalam sepuluh tahun. Bisa dibilang ini desa yang damai. Suasananya nyaman. Tapi mungkin karena terlalu nyaman, jadi stagnan. Sulit berubahnya."

Kyuhyun tertawa.

"Seharusnya, kau selesai kuliah kembali ke sini," sindir Kyuhyun. "Membangun kampung halaman, gitu."

"Cita-citaku bukan hanya membangun desa, tapi membangun negara. Kalau negara terbangun, otomatis, seluruh desa termasuk desa ini juga terbangun. Tidak hanya desa, kota juga. Logikanya 'kan begitu."

"Ceile..." Kyuhyun tertawa geli. Kadang nada bicara Sungmin seperti anak-anak.

"Ya kalau ke kota memang niat membangun negara..., kalau hanya melarikan diri?"

"Lihat saja nanti," sahut Sungmin dengan tenang.

"Lagipula, arsitek di desa mana laku. Yang realistis sajalah, Kyu."

"Ya membuat... kandang ayam atau sapi?"

"Masalah itu para petani malah lebih pintar dari kita. Mereka kalau membuat rumah tidak mau memakai arsitek. Mending dirancang sendiri."

Kyuhyun tertawa.

"Bagaimana coba, penataan kawasan pedesaan yang arsitektural?"

"Em... bagaimana, ya...?" Kyuhyun mengerutkan keningnya.

"Susah juga, hampir semua rumah memiliki pekarangan. Bahkan lebih luas dari luas bangunan. Perbandingan solid voidnya jelas tidak seimbang. Mungkin lebih pada tata letak. Rumah yang terbangun kebanyakan sporadis. Hanya yang di pinggir jalan saja yang kelihatan teratur, berpola linear. Tapi anehnya, tidak semua rumah yang dipinggir jalan ini menghadap ke jalan."

Sandeul berlari ketika ada seekor kupu-kupu yang terbang.

"Desa ini... kurang berkarakter." Ucap Sungmin.

"Siapa bilang tidak punya karakter? Kau saja yang kurang jeli mengamati."

"Mungkin karena aku lahir di sini, besar di sini, jadi semua terlihat biasa saja."

"Semua yang kau ceritakan itu menunjukkan karakteristik desamu ini. Pabrik, inovasi para petani, sistem kerja petani baik yang modern ataupun tradisional, juga tentang pekarangan rumah yang luas di depan rumah, yang menunjukkan orientasi rumah adalah ke arah depan. Ini menunjukkan adanya keterbukaan dalam masyarakat. Secara sosial bisa juga disebut potensi. Berbeda sekali dengan masyarakat kota yang halamannya di belakang dengan pintu rumah depan yang selalu tertutup. Tapi aku cukup heran dengan rumah-rumah yang baru dibangun."

"Kenapa?"

"Bentuknya itu tidak jelas. Ingin terkesan modern tapi salah konsep. Seperti Hanok, tapi bukan. Kecenderungan gaya hidup masyarakat ini sepertinya berubah. Arus informasi yang masuk tidak sepadan dengan pertumbuhan intelektualitas. Jadinya, ada semacam gaya hidup suka meniru."

"Sebetulnya hal ini juga tidak hanya terjadi di desa. Di kota juga, 'kan? Kalau di desa, yang ditiru orang kota, kalau di kota, yang ditiru orang luar atau barat. Sama saja."

Kyuhyun hanya tersenyum tipis. Mendongak menatap langit. Langitnya teramat biru.

Beberapa orang petani (tradisional) melewati mereka naik sepeda dengan caping di kepala dan cangkul di pundak. Di barisan paling belakang tampak sepasang suami istri berboncengan. Yang wanita di bonceng di belakang sambil memangku bekal makan siang sambil asik berbincang. Mungkin tentang harga pupuk atau hasil panen.

"Mereka pacaran setiap hari?"

"Sepertinya."

"Wah, asyik, dong! Berarti tidak sempat selingkuh..."

Sungmin tersenyum geli. Kita juga bisa kalau mau. Kau keluar dari SM, dan fulltime di JOY. Hm...

Matahari semakin naik. Mereka kini berjalan menyusuri pematang. Hingga sampai ke tanggul, sepetak tanah di tengah sawah yang ditinggikan, dan sengaja tidak ditanami. Fungsinya untuk menahan air supaya batas sawah tidak bergeser. Tanggul itu seperti gundukan yang dilapisi permadani hijau karena tebalnya rumput yang tumbuh melingkupinya.

Mereka pun berhenti dan duduk-duduk di atas tanggul itu. Rasanya seperti naik sampan melayari lautan hijau.

Sungmin mencoba mentransformasikan suasana pagi itu ke dalam lukisan pensil. Sandeul duduk di sampingnya, takjub melihat pelbagai binatang kecil merambat di dedaunan. Dia takut, geli, sekaligus ingin tahu. Juga suara burung yang berkicau dengan riang. Kyuhyun tidur terlentang, memejamkan mata, menikmati matahari. Membiarkan sinarnya yang hangat menyapu kulit wajahnya.

Sungguh pagi yang damai.

.

.

"Sandeul mana?" tanya Kyuhyn yang baru dari kamar mandi.

"Diajak Halmeoni-nya ke pasar."

"Papaaaa...! Appaaa...!" Sandeul berjalan riang dengan digandeng Halmeoni-nya.

"Nah, itu dia, baru dibicarakan."

Kali ini Sandeul muncul dengan mulut penuh makanan. Saos tampak memenuhi bibir hingga ke pipi, cemang-cemong. Tangan kirinya memegang tokkebi Hotdogs, yang sukses membuatnya cemang-cemong tadi. Sementara tangan kanannya memegang Hotteok dan kue beras. Mungkin semua jajanan di pasar diborong semua. Sandeul memang suka mencoba makanan yang belum pernah dia rasakan, dan jarang dia temui.

Sungmin hanya bengong, tapi kemudian tersenyum senang. Tidak pernah Sandeul makan selahap itu. Makan atas inisiatif sendiri, tanpa disuruh-suruh atau dibujuk-bujuk. Juga memilih sendiri jenis makanan yang disukai.

"Makan sambil duduk, Sayang! Dari mana saja?"

Sandeul pun dengan semangat membuaka mulutnya untuk mulai bercerita. Makanan yang ada di mulutnya pun berhamburan keluar. Brul.

.

.

"Sarapan, Nak."

"Ne, Eommonim."

Ibu tidak tahu bagaimana menghadapi menantunya yang pendiam ini.

Kyuhyun memandangi punggung wanita tua itu.

"Eomma...," bisiknya lirih. Sangat lirih.

(Jiwa sentimennya kembali naik, menyeruak ke permukaan jiwa. Ia adalah seorang anak berumur sebelas tahun, yang akan pergi sekolah. Sedang dibuatkan sarapan oleh ibu. Setiap pagi, setiap hari. Apakah setiap ibu selalu begitu? Alangkah senangnya kalau begitu.)

Mata Kyuhyun berkaca.

"Ah iya, kimchinya belum Eomma siapkan. Sebentar ne, Eomma hangatkan dulu."

"Ne."

Kyuhyun menunduk.

(Apakah seorang ibu aka selalu membuatkan masakan kesukaan anak-anaknya? Tentu saja. Ibu akan membuatkan masakan untuk seluruh keluarga. Lalu semua berkumpul untuk makan bersama. Lalu masing-masing akan bercerita tentang pengalamannya. Dan ibu akan setia mendengarkan. Begitu setiap hari.)

"Ini, Nak."

"Terimakasih, Eommonim."

(Dulu, dia mengira, dia memang tidak memiliki ibu. Tapi kemudian pelajaran di sekolah mengajarkan bahwa setiap manusia pasti memiliki ibu, kecuali Adam dan Hawa. Kalau tidak punya ibu, pasti tidak akan ada di dunia ini. Ia terus menyangkal, atau menghibur diri. Ternyata dia memang memiliki ibu. Hanya tidak bisa bertemu.)

"Lho, kok belum dimakan?"

"Oh... eh... menunggu Sungmin, Eommonim."

"Sungmin sedang ku suruh ke warung. Tadi sudah pesan kamu disuruh makan dulu. Apa tidak suka masakannya, ya? Ya di kampung adanya hanya seperti ini."

"Ini sudah lebih dari cukup."

Kyuhyun menyendok banyak-banyak, lalu mengunyah cepat-cepat. Berpacu dengan air matanya yang sudah ingin keluar, menyesakkan. Setelah berpuluh tahun memendam kerinduan kepada sesosok ibu yang tak pernah datang. Tapi sayang, air matanya jauh lebih cepat dari kunyahannya. Masakan yang sangat lezat jadi terasa pahit. Kerongkongannya terasa tersumbat. Dia pun menuangkan air dan meminumnya, tetap terasa pahit. Suara-suara itu tak pernah berhenti merongrongnya...

(Tentang sepenggal kisah nestapa seorang anak yatim piatu. Tentang sebait nyanyian masa kecil tidak bahagia.)

Ibu datang dari belakang untuk membereskan meja makan. Mendapatkan mata menantunya merah berair.

"Kepedasan ya, Nak? Maaf, Eomma kemarin membuat kimchinya terlalu banyak memasukkan bubuk cabenya." Ibu pun tertawa renyah.

Kyuhyun pura-pura ikut tertawa, untuk melegakan, untuk meyakinkan bahwa masakan ibu betul-betul enak. Atau, untuk menutupi aura hatinya yang sebenarnya.

.

.

Sungmin menghampiri Kyuhyun yang sedang asyik dengan seperangkat gadget-nya. Dia tertawa geli.

"Katanya selama di rumah, kau tidak mau diganggu urusan kantor."

"Ternyata tidak bisa." Kyuhyun tersenyum masam.

"Apa kabar JOY?"

"Baik. Aku baru rapat online dengan para ketua divisi. Kau ada usul?"

Sungmin menggeleng.

"Tumben."

Sungmin tertawa kecil. "Tidak. Hanya kupikir, kau terlihat kurang percaya dengan mereka. Biarlah, Kyu. Sekali-kali kita beri mereka kepercayaan penuh."

"Maunya sih seperti itu. Tapi kelihatannya belum bisa. Mereka, baru ditinggal "Bapak-Ibunya" sebentar saja sudah kelabakan. Aku juga berpikir, kapaaan... mereka bisa mandiri."

Sungmin tertawa, "Oh ya, Kyu, kemarin katanya ingin bertemu eomma. Sekarang 'kan sudah bertemu. Ngobrol sana, mumpung eomma sedang senggang!"

Kyuhyun sedikit tersentak, tapi Sungmin tidak melihatnya. Dia malah tertawa-tawa.

"Tapi kalian membicarakan apa ya? Masa membicarakan arsitektur, mana eomma mengerti. Terus eomma cerita tentang arisan minggu kemarin. Tidak nyambung sama sekali, hahaha..."

"Tidak lucu," kata Kyuhyun datar, membuat Sungmin berhenti tertawa.

"Kau kenapa, sih? Marah, ya?"

Kyuhyun tidak menjawab.

"Kyunie..." Sungmin menggoyang-goyangkan lengan Kyuhyun. "Kau kenapa, kok diam?"

"Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya heran. Eomma-mu cantik, baik, bijaksana, kok bisa punya anak sepertimu. Sudah jelek, kacau, sukanya tertawa lagi."

"Ooo..." Sungmin tersenyum lega. "Begini juga, kau mau denganku."

"Yah... terpaksa... tidak ada yang lain."

Sungmin kembali tertawa.

Kalau aku punya ibu, aku mungkin juga suka tertawa..., gumam Kyuhyun diam-diam. Dipandanginya wajah Sungmin yang begitu polos, tanpa beban. Lalu, dia pun ikut tertawa meskipun sumbang. Tertawa dan terus tertawa. Hingga lenyap segala kesedihan itu...

Ibu yang mendengar suara-suara tawa, diam-diam mengintip dari dalam rumah. Dia terheran-heran melihat keduanya. Ada apa sih tertawa terus? Jangan-jangan mereka...

.

.

Angin bertiup lembut menggoda sinar matahari sore yang hangat. Di pinggiran batas desa, ada sebuah lapangan rumput yang cukup luas. Biasa digunakan sebagai area publik masyarakat, misalnya untuk berolahraga seperti sepak bola, panggung pertunjuka, dan lain-lain. Lapangan itu semakin terasa luas karena dikelilingi sawah pada ketiga sisinya. Sawah dengan bentangan entah berapa hektar. Di seberang sawah, tampak garis hitam abu-abu yang merupakan batas desa lain. Garis itu terbentuk dari pepohonan yang samar-samar membentuk bingkai kaki langit.

Puluhan anak bermain di sana. Berkejaran. Berguling-guling. Bercanda. Saling main pukul. Saling menendang. Mengejar-ngejar ayam. Menaiki keledai. Bermain bola. Tertawa. Berteriak. Bebas. Lepas.

(Suara mereka begitu membahana mengetuk pintu angkasa. Menyanyikan pujian alam raya. Dunia yang indah dan bahagia.)

Sungmin memandang tanpa bosan. Benar kata Kyuhyun, di sinilah sebenarnya tempat mereka. Di sinilah seharusnya Sandeul sekolah. Bukan di sebuah tempat yang dibatasi tembok-tembok dengan alat-alat permainan yang artifisial.

Lihatlah, Sandeul yang pertama kali begitu takut dikejar anak kedelai, kini berbalik mengejar-ngejarnya. Seorang anak yang sedikit lebih besar darinya main tubruk sehingga dia jatuh, terjengkang di atas rumput tebal. Sandeul ingin menangis, tapi anak itu malah tertawa-tawa. Akhirnya, Sandeul pun ikit tertawa.

Belum pernah Sungmin melihat Sandeul seriang itu. Direkamnya semua adegan itu dengan handycam. Potret masa kecilnya kini terputar lagi. Akan tetapi, rasanya ada sesuatu yang kurang. Jumlah anak-anak tidak sebanyak jamannya dulu. Dan entah rasanya anak-anak sekarang tidak seriang dia dulu. Seperti ada sesuatu... entahlah.

Tapi bagi seorang Sandeul, suasana ini sudah sangat luar biasa baginya. Secara fisik, dia terlihat paling montok dibandingkan dengan anak-anak seusianya, paling bersih kulitnya, paling bagus performance-nya, tapi terlihat paling tidak lincah. Anak-anak lain yang kakinya lebih kurus panjang, berlari cepat seperti kijang.

Sungmin menoleh ketika Kyuhyun menghempaskan tubuh disampingnya. Wajahnya terlihat lesu.

"Baru bangun, Kyu?"

"Hm."

"Eh, Kyu, mau naik Sapi tidak?"

Kyuhyun mengangkat alis, lalu memperhatikan sapi-sapi yang sedang merumput dan anak yang naik di atasnya. Dia memandang ngeri sekaligus geli. "Kamu saja sana!" bisik Kyuhyun.

Sungmin tertawa geli. Tuan eksekutif naik Sapi? Ow, bisa jadi berita bagus di majalah bisnis atau ekonomi dengan headline "Cara Baru Seorang Eksekutif dalam Mengisi Waktu Luang". Diam-diam, diarahkannya handycam ke wajah Kyuhyun, close up samping. Hm, wajah yang tampan. Keras sekaligus lembut. Sangat berkarakter. Poninya beriap tertiup angin. Matanya sedikit menerawang, entah apa yang sedang ia pikirkan. Semoga saja bukan memikirkan bagaimana jika tanah seluas ini dibuat kapling-kapling lalu didirikan perumahan di atasnya. Sungmin kembali tersenyum.

Perlahan matahari membentuk sapuan warna di langit barat. Salam terakhirnya di hari ini untuk penghuni bumi. Ia sudah lelah dan ingin tidur sejenak.

Seluruh peserta pesta lapangan itu pun bubar. Sandeul dipanggul sang Appa, berlari-lari kecil sambil tertawa riang. Sungmin berjalan mundur di depannya, masih dengan handycam-nya. Mereka kembali ke rumah sang ibu dengan riang.

.

.

"Kyu, tidak apa-apa aku memberi dua puluh ke eomma?"

"Memangnya kenapa? Uang-uangmu sendiri, kok."

"Uangmu juga. Makanya itu aku minta ijin."

"Oh ya? Itu kan hanya etisnya saja. Uang dua puluh juta tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang beliau berikan padamu. Beruntung kau diberi kelebihan uang. Tidak semua orang memiliki kesempatan seperti ini."

Mata Sungmin berkaca. "Gomawo. Kau memang sangat bijaksana, Kyu. Saranghae..."

"Kasih bonus, dong!" Kyuhyun menunjuk bibirnya, dengan ekspresi wajah yang tidak berubah.

"Ih, kau ini! Nanti dilihat eomma."

"Memang kenapa? Bagus, 'kan. Biar eommonim tahu kalau rumah tangga anaknya rukun, bahagia, dan sejahtera."

"Baiklah." Sungmin pun hendak merangkul Kyuhyun.

Pada saat itu, ibu masuk. Beliau pun tersenyum.

Sungmin pun bangkit, berjalan pergi. "Sandeul mana ya... Sandeul... Sayang...! Kamu di mana, Sayang?"

Sementara Kyuhyun hanya menunduk, kalem, seperti prinsipnya, tetap tenang di segala situasi...!

.

.

"Ming, bangun!"

Sungmin mengerjap-ngerjapkan mata indahnya. Lalu menguap beberapa kali. Dia masih sangat mengantuk. Matanya memicing melihat jam dinding, "Baru jam 4, ada apa?"

"Ayo bangun, kita ke sawah!"

"Apa? Ke sawah? Mau apa?"

"'Kan kemarin aku sudah bilang."

"Oh iya..."

Sungmin pun bangun. Tubuhnya masih lemas. Ruhnya baru saja kembali ke tubuhnya. Berbeda dengan Kyuhyun yang sudah berpakaian lengkap, siap pergi. "Oke, kita tulis pesan dulu untuk eomma. Minta tolong pada eomma untuk menjaga Sandeul kalau dia bangun."

Ternyata ibu sudah duluan bangun, sedang berkutat di dapur.

"Eomma, titip Sandeul kalau dia bangun."

"Lho, kalian mau ke mana?" tanya ibu kaget.

Sungmin pun mendekat, membisikkan sesuatu. Sang ibu pun manggut-manggut, tersenyum arif.

.

.

Mereka berjalan dalam keremangan sinar bulan. Bayangan pepohonan membuat suasana jadi seram. Untung ada beberapa titik bintang di langit.

"Kyu, aku masih lemas... jalannya pelan saja, ya..."

"Semalam begadang, ya?"

"Ne, ngobrol dengan eomma sampai jam satu."

"Pasti membicarakanku."

"Ih, GR... tapi, iya sih sedikit. Hehehe..."

"Ya sudah, sini kugendong. Berat badanmu tidak naik, 'kan?"

"Ah, kau bercanda!"

Ternyata Kyuhyun tidak bercanda. Dia benar-benar melakukannya. Sungmin terpekik senang. Jarang ada momen seperti ini. Biasanya, Kyuhyun akan menggendongnya kalau dia tertidur di ruang tengah atau di studio. Ketika bangun, tahu-tahu sudah tidur dalam pelukan Kyuhyun.

(Sungmin bisa merasakan detak jantung Kyuhyun yang berdebaran. Dia suka detak jantung itu. Detak jantung yang suka dia dengarkan jika sedang lelah atau sedih. Kyuhyun selalu menyediakan dada atau bahunya untuk sekedar bersandar, kapan pun dia butuh.)

"Kyu, kalau aku tertidur, bagunkan ya..." Sungmin berbisik manja.

"Oh, kuceburkan ke sawah kalau kau berani tidur!"

"Coba kalau berani! Nanti kau dimarahi eomma, lho..."

"Masa, sih? Aku 'kan menantu kesayangan. Paling kau yang dikira iseng, main-main ke sawah terus terpeleset."

"Ih!" Sungmin merengut manja. "Eh, Kyu, kalau kita berpapasan dengan orang, kita bisa dikira maling jam segini keluyuran."

"Kau 'kan bisa bela diri. Keluarkan dong jurus-jurusmu!"

"Lho, harusnya kau yang melindungiku."

"Ya sudah, kita berdua kabur saja. Malingnya suruh menyerahkan dirinya sendiri ke pihak yang berwajib."

Sungmin terkikik, Kyuhyun kadang-kadang sangat konyol.

Percakapan lirih itu mereka akhiri ketika sampai di pinggir sungai.

Sungmin membentangkan tangannya lebar-lebar. Membiarkan udara segar masuk ke paru-parunya. Di belakangnya, dengan perlahan Kyuhyun menyusupkan tangannya pada pinggang Sungmin, memeluknya erat dari belakang, dan menaruh wajahnya di pundak sang terkasih.

Momen ini pun mereka gunakan untuk saling intropeksi. Mereka saling mengungkapkan perasaan yang tak sempat terungkap ke permukaan. Saling mengoreksi kesalahan. Saling menyatakan keinginan demi kebaikan masa yang akan datang.

"Kau dulu."

"Sifat jelek dulu atau baik dulu?"

"Yang jelek dulu."

"Kau terkadang masih keras dan kasar."

Kyuhyun tertawa kecil. "Ya, itu memang sudah watak. Susah dirubah. Sekarang sifat baik."

"Kau suami yang baik, juga Appa yang baik. Terkadang aku merasa kau lebih memahami Sandeul, daripada aku yang melahirkannya."

"Oh, begitu. Masa, sih?"

"Kau sekarang lebih down to earth, lebih membumi. Tidak seboros dulu. Kalau aku bagaimana, Kyu?"

"Terkadang kau masih sedikit kekanakan. Tapi sudah sedikit berubah, terutama sejak ada Sandeul."

"Aku sering takut tidak bisa menjadi Papa yang baik dan 'istri' yang baik..."

"Kau pasti bisa, Ming..."

"Ne, Kyu..."

"Aku bukan malaikat. Aku hanya manusia biasa yang sangat rentan berbuat salah. Banyak orang bilang aku ini jenius, kaya, dan sebagainya, tapi aku tidak merasakan efek dari itu semua. Aku lebih merasakan bahwa untuk menjadi manusia yang baik sangatlah berat."

Sungmin mulai terisak.

"Kalian, kau dan Sandeul, adalah tanggungjawabku. Bantu aku untuk menjalani semua ini. Aku mohon kerja samamu. Karena aku takkan mampu sendirian."

Kyuhyun merenggangkan pelukannya dan membalikkan tubuh Sungmin. Kedua tubuh itu kembali menempel, berpelukan, dengan sangat erat.

"Ming..."

Sungmin mendongak.

"Jadikan ini kenangan yang terindah..."

Dengan perlahan Kyuhyun menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya pada bibir sang pemilik hati. Tak butuh waktu lama, kedua bibir itupun bertaut. Saling menumpahkan apa yang tengah mereka rasakan. Dan alam pagi itu, menjadi saksi atas ketulusan cinta mereka berdua.

.

.

TBC

Hah... akhirnya kelar juga. Saya mohon maaf dengan sangat atas keterlambatan update ff ini. Salah satu faktornya tidak lain dan tidak bukan tentang OTP kita. Kekeke, mereka emang canggih banget kalo bikin mood porak-poranda :3. Ah... sudahlah, yang pasti, KyuMin is REAL! ^^.

allea1186 : Kekeke Kyu emang kejammmm #korbanFF. Ditunggu saja ya, makasih sudah RnR ^^.

fitriKyuMin : Hehehe maklum ketularan Hae :3 #DitendangBangIkan. Saya akan lebih senang lagi kalau ditunjukkan dimana saja kesalahannya, maklum masih belajar. Iya, mereka pulang kampung, makasih sudah RnR ^^.

PRISNA : Eh... sudah kok, awal banget malah, keke. Semoga saja, saya juga nggak tega :'(. Hehe Destiny ya, kirain udah nggak ada yang baca tuh ff saking jamurannya, entahlah chingu, saya juga pengen banget nyelesaiin itu, nggak tenang kebayang itu terus, tapi bang ilham lagi nggak mau deket2 saya, huhu :'(. Makasih untuk dobel reviewnya, hehe ^^.

ayyu. Annisa.1 : Eng... untuk konfliknya masih sedikit lama, tapi chap besok orang di masa lalu mereka akan mulai muncul :). Makasih sudah RnR ^^.

Guest : Saya juga tidak mengerti dan bingung dengan komentar anda o_O.

LiveLoveKyuMin : Iya, karena saat masalah muncul, Sandeul-lah yang paling tersakiti. Tentang arsiteknya pasti ada, tapi memang di sini nanti konfliknya dalam keluarga KyuMin. Makasih sudah RnR ^^.

5351 : Hehehe menurut saya sih, semoga menurut chingu juga begitu deh, saya juga nggak tega :(. Kekeke di chap ini dia juga sedikit melankolis :3. Makasih sudah RnR ^^.

Okalee : Iya, KyuMin JJANG! Dinovelnya memang interaksi mereka dibuat senatural mungkin, dan karena kisah cinta mereka yang manis2 sepet itu, saya jadi inget KyuMin, dan memutuskan untuk meremake-nya :3. Makasih sudah RnR ^^.

Guest : Ini next-nya :-D. Makasih sudah RnR ^^.

Bluepink : Terimakasih... novelnya memang menarik kok :-D. Ini lanjutannya, makasih sudah RnR ^^.

haifa : Kekeke konfliknya masih disimpen dulu :3. Maaf ya nggak bisa asap update-nya, tau sendiri kan hal2 yang terjadi kemaren, hehe. Makasih sudah RnR ^^.

Ye868 : Kekeke gombal-gembel ala Kyu :3. Makasih sudah RnR ^^.

Tika137 : Hem... semoga :-D. Makasih sudah RnR ^^.

sissy : Amiiiiiiiiin :-D. Iya... hwaiting! Makasih sudah RnR ^^.

nciskjs : Akan ada sedikit2 plesbek-nya, tapi tidak menyeluruh, hanya yang bersangkutan dengan orang di masa lalu mereka yang dijelaskan :-D. Yang di dalam mobil bakal muncul di chap depan, hehe. Makasih sudah RnR ^^.

Kim Yong Neul : Iya, ini lanjutannya :-D. Makasih sudah RnR ^^.

riesty137 : Lho... bukannya dari awal sudah romantis2an, keke, semoga kali ini romantis deh :-D. Ini lanjutannya, makasih sudah RnR ^^.

Arevi. are. vikink : Hehehe, coba deh dibaca dulu, nggak seseram itu kok, apa saya ganti aja ya summary-nya :3. Yang pasti nggak akan sampai 20 chap, hehe. Makasih sudah RnR ^^.

kiran. theacyankEsa : Eh... kenapa takut? Coba deh baca dulu, nanti kalo takut beneran, sembunyi di balik punggung eonni deh, keke. Nggak, konfliknya masih sedikit lama kok, tapi orang masa lalu mereka akan muncul di chap depan. Mungkin seperti Lee Sungmin kemarin, sekitar 16 chap :-D. Makasih sudah RnR ^^.

Chella-KMS : Hehehe karena ini tentang keluarga, pastinya konfliknya tentang masalah dalam rumah tangga :3. Eng... chap besok sosok itu akan muncul, dan bisa jadi... :-D. Saya hanya mengikuti cerita dalam novelnya :). Makasih sudah RnR ^^.

anakyumin : Ah... kamu sudah pernah baca novel ini juga? Terimakasih... saya hanya mengikuti yang ada di novelnya saja kok :). Makasih sudah RnR ^^.

abilhikmah : Iya :-D. Makasih sudah RnR ^^.

kyumin pu : Iya, chap 2 juga sudah update, silahkan membaca jika berkenan^^. Makasih sudah RnR ^^.

LEE MINKA : Hehehe maaf banget ya udah ngebuat nggak nyaman, tapi mau bagaimana lagi, mohon dimaklumi :-D. Bang Jungmo udah ada porsinya sendiri itu, jadi karyawan :3. Ini lanjutannya, makasih sudah RnR ^^.

Yuuhee : Alesan Kyu pulang telat nggak ada penjelasannya kok, hehe. Oke ini lanjutannya, makasih sudah RnR ^^.

gyumin4ever : Nah itu... saya cuma punya yang ini doang, hehe. Nggak punya yang novel pertama, padahal seru ya, tentang awal sukanya Kyu ke Ming, dan upaya Kyu untuk ngedeketin Ming, dengan tugas2 yang menyebalkan :3. Eng... bagaimana kalau chingu saja yang buat, saya jadi pembaca pertama deh :-D. Makasih sudah RnR ^^.

Adelia Santi : Hahaha nggak kok eon, akunya juga lagi nggak mood nulis kemaren2 gara2 mikirin OTP, jadinya rada lama deh update-nya :-D. Hehehe ntar kalo plesbek-nya sejauh itu, jadi nggak fokus ke cerita ini eon, ini sebenarnya novel sekuel, yang novel pertama diceritakan tentang awal pertemuan mereka sampe' akhirnya nikah, dan berhubung punyanya yang ini doang, jadi yang ini aja deh yang diremake :-D. Konfliknya masih sedikit lama eon munculnya, ini lanjutannya, makasih sudah RnR ^^.

Big Thank's to:

allea1186, fitriKyuMin, PRISNA, ayyu. Annisa.1, LiveLoveKyuMin, 5351, Okalee, Guest, Bluepink, haifa, Ye868, Tika137, sissy, nciskjs, Kim Yong Neul, riesty137, Arevi. are. vikink, kiran. theacyankEsa, Chella-KMS, anakyumin, abilhikmah, kyumin pu, LEE MINKA, Yuuhee, gyumin4ever, Adelia Santi

Semua yang sudah follow/favorit dan semua yang sudah berkenan membaca walaupun tanpa sengaja ^^

#bow

Sampai jumpa di chapter selanjutnya, saranghae ^^.