"Ming..."
Sungmin mendongak.
"Jadikan ini kenangan yang terindah..."
Dengan perlahan Kyuhyun menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya pada bibir sang pemilik hati. Tak butuh waktu lama, kedua bibir itupun bertaut. Saling menumpahkan apa yang tengah mereka rasakan. Dan alam pagi itu, menjadi saksi atas ketulusan cinta mereka berdua.
.
.
Pair : KyuMin
Cast : Kyuhyun, Sungmin and Other Cast
Rate : T
Genre : Drama, Romance
Length : Chaptered
Warning : Ini ff Remake dari novel lama karya Ari Nur dengan judul yang sama, 'Dilatasi Memori'. Ada beberapa bagian yang saya rubah dengan menambahi atau mengurangi porsi cerita, agar sesuai dengan apa yang diinginkan. Mengingat ini novel straight dan saya mengubahnya menjadi BL, maka mohon dimaklumi jika menjadi sedikit aneh ^^. BXB, M-preg, typo (s).
Summary : Ketika cinta dikhianati, apa yang akan terjadi? Ketika ketulusan disalahartikan, akankah kesetiaan dipertahankan? Kisah cinta mereka tengah diuji!.
Disclaimer : Cerita ini milik Ari Nur. Tapi, seluruh tulisan ini milik saya. Saya hanya meminjam nama-nama orang yang saya cintai ini semata-mata demi kelangsungan cerita.
DLDR!
enJOY
.
.
Liburan mereka yang hanya beberapa hari,, ternyata membawa imbas yang cukup signifikan. Badan dan pikiran menjadi fresh. Ada pasokan energi jiwa yang baru, yang akan menjadi bahan bakar untuk menapaki derap kehidupan mereka selanjutnya.
Ketika mereka kembali ke JOY, selain disambut dengan tugas-tugas baru yag menumpuk, juga disambut dengan ledekan anak-anak.
"Ehem-ehem, baru honeymoon kedua ya, Pak?"
"Ya, begitulah," sahut Kyuhyun santai. Honeymoon apaan. Orang perginya sama anak.
Sementara Sungmin danya tersipu-sipu.
"Oh ya, bagaimana pekerjaan kalian?"
Begitu ditanya kerjaan, anak-aak jadi setengah panik. Disana-sini terdengar suara keluhan. Aish! Bagaimana ini! Omo, mati aku! Refrensinya masih kurang. Detailnya belum selesai. Macam-macam.
Kyuhyun tertawa dalam hati. Rasakan! Makanya jangan suka ngeledek!
.
.
Sore kembali melandaskan mereka di perjalanan pulang. Kali ini mereka pulang bertiga. Sandeul baru saja kontrol gigi.
"Aish... salah ambil jalan!"
"Kenapa, Kyu?"
"Pasti macet."
Benar, baru dua kali belok dari pertigaan jalan itu, antrean mobil yang berderet panjang tampak di depan, merayap-rayap seperti semut.
Kyuhyun memukul kemudi pelan, sedikit kesal. Ia pun memandang ke depan, sedikit menerawang, memikirkan sesuatu. Lalu tersenyum melihat tingkah orang-orang di sekelilingnya. Sungmin memejamkan mata, bersandar dengan nyaman. Sandeul duduk tenang di jok belakang yang penuh dengan mainan. Mulutnya komat-kamit, kadang mendesis, memainkan fantasinya. Suasana yang menyenangkan. Bermacam cara yang dilakukan orang untuk memberikan perlakuan terhadap waktu.
"Wah, ini malah bagus, kesempatan," kata Sungmin tiba-tiba.
Kyuhyun menoleh, alisnya terangkat. Kesempatan apa?
"Appa, tolong diperiksa." Sungmin menyodorkan sebuah kertas pada Kyuhyun. Kertas berisi sebuah sketsa wajah yang sebagian sudah diarsir. Kyuhyun mengerutkan dahinya. Memeriksa dengan seksama. Sungmin memang sedang ingin mencoba membuat lukisan wajah. Mencoba dan belajar hal baru, katanya.
"Bagian sini terlihat arsirannya terlalu tajam, seharusnya diarsir dengan halus agar terkesan seperti bayangan," Kyuhyun menunjuk bagian pipi pada sketsa itu.
"Ah..." Sungmin buru-buru mengambil penghapus dan akan menghapusnya.
"Eits... jangan main hapus seperti itu. Pikirkan cara untuk mensiasatinya tanpa menghapusnya. Seperti mempertajam arsiran yang lainnya, atau opsi yang lain."
Sungmin mengangguk. Mengamati sketsanya dengan seksama. Tapi sejurus kemudian dia hanya menggelengkan kepalanya pelan. Tidak memiiki jalan keluar.
"Berbulan-bulan belajar tapi hanya dapat ini," ledek Kyuhyun.
"Biarin! Aku kan sibuk."
"Sibuk apa? Memangnya aku tidak?"
"Ya... kemampuanku memang hanya segitu. Lagipula itu juga bukan jurusanku. Aku hanya ingin mencoba hal yang baru. Yang penting kan, implementasinya. Biar sedikit kalau ditekuni kan lebih baik daripada banyak tapi tidak ada realisasi."
"Implementasi yang mana, Ming?"
"Aaa... Kyunie!"
Di depan Sandeul, dia selalu memanggil sang suami dengan sebutan Appa atau Kyu, tapi terkadang keceplosan juga, terutama kalo sedang gemas seperti ini.
Sandeul pun serentak tertawa. "Ah, Kyunieee," katanya ikut-ikutan meledek sang Papa. "Apa, Mingie Cayaaaang? Hahaha..."
"Sandeul...!" Sungmin menoleh ke belakang, menegur pelan.
Sandeul pun kembali diam. Sementara Kyuhyun seyam-senyum menahan tawa.
"Ayo, teruskan!"
"Shireo. Besok saja kapan-kapan. Bete!"
Sungmin pun membuang muka ke samping.
Kali ini Kyuhyun benar-benar tertawa.
.
.
Malamnya...
"Main apa, Sayang?"
Sandeul memandang Sungmin dengan tatapan seperti orang yang merasa terganggu. "Aduh, Papa, ini ulusanku. Deulie punya pipaci. Jangan ganggu, dooong!"
Sungmin tertawa. Duh gayanya, kayak orang penting saja!
"Oke, Papa tinggal, ya." Kebetulan, bisa mengerjakan yang lain.
(Anak kecil ternyata butuh privacy? Benar, ternyata dia memang punya dunia tersendiri. Beri dia ruang pribadi tempat dia bisa belajar dengan tenang.)
Dia ingin browsing sebentar. Beruntung, ada isu menarik yang kebetulan dia temukan.
"Kyu, di Seoul yang sudah penuh ini, ternyata masih ada lahan yang kosong," katanya kepada Kyuhyun yang baru masuk menghampiriya.
"Ne, aku sudah tahu."
"Berarti memang tidak ada aktifitas khusus di sana?"
"Kalau pagi, siang, sore sepi. Begitu malam sedikit, jadi tempat yang tidak benar. Mau digrebek juga susah. Soalnya, pendapatan sebagian warga yang tinggal di situ, ya dari sana. Perputaran uangnya bisa mencapai ratusan juta won atau bahkan miliaran. Sementara lahannya tidak produktif lagi untuk pertanian. Benar-benar lahan tidur. Gersang. Tidak bisa menghasilkan apa-apa lagi."
"Ada pengembang yang tertarik ke sana, Kyu?" tanya Sungmin.
"Sampai saat ini belum. Ada kekhawatiran susah laku."
"Coba kita punya uang ya, Kyu?"
"Memangya kalau punya uang mau apa?"
"Membuat perumahan! Soal laku tidaknya, pintar-pintar saja kita membuat promosi. Atau, kita buat kapling-kapling. Kita buat sayembara. Kita undang arsitek-arsitek terbaik dari seluruh Korea Selatan, yang masih muda-muda. Suruh membuat rumah. Konsepnya terserah. Yang jelas tidak sama seperti perumahan pada umumnya. Dan yang penting lagi benar-benar fungsional, solutif, dan inovatif. Satu lagi, tidak durhaka pada lingkungan."
Sungmin menangkupkan kedua tangan di dagunya. "Bayangkan kalau perumahan itu sudah jadi. Akan ada puluhan atau ratusan rumah atau bahkan ribuan, dengan desain terbaik dan sangat arsitektural. Mungkin akan menjadi yang pertama di negara ini. Tidak boleh ada ratifikasi desain. Tidak akan ada rumah yang sama persis berderet-deret seperti ruko."
"Terus, Ming, bermimpi. Aku suka mendengarkan mimpimu."
"Ah, Kyuniee...!"
Saat itulah Sandeul lewat. "Ah, Kyunieee." Telunjuknya menuding-nuding. Kedua alisnya terangkat dan mulutnya mengerucut. Lalu berbisik, "Ssst... jangan pacalan telus, ya...!"
Sungmin berusaha mengejar tubuh yang sudah lebih dulu melarikan diri itu.
"Kaciaaaan deh, Papaaa...! Hahaha...!"
Sandeul berlarian mengelilingi meja makin sambil tertawa terbahak-bahak. Pantatnya bergoyang ke sana kemari seperti mau lepas. Dia menjerit-jerit saat Sungmin berhasil menangkap tubuhnya, lalu menggelitik pinggangnya.
"Miaaaaan, Papa. Miaaaaan. Hahaha...!"
"Mian, mian! Siapa yang mengajarkan bicara seperti itu, heh?"
"Appa!"
Sungmin menoleh ke arah Kyuhyun. Kyuhyun mengerutkan kening, menggeleng.
Sungmin melotot ke arah Sandeul. "Bukan, tuh!"
Sandeul cengar-cengir.
Sungmin sebenarnya tahu dari mana Sandeul memperoleh kata-kata itu, tapi dia sengaja menguju, apakah Sandeul jujur atau tidak.
"Dali itu!" Sandeul menunjuk televisi.
"Sandeul nonton apa, hayo!"
"Dlama."
"Siapa yang menyuruh?"
"Wang Jumma."
"Hwang Ahjumma? Papa tanyakan, ya?"
"Ani! Ani! Cendili, kok. Papaaa, Deulie mau main lagi." Sebelum mendapat persetujuan, Sandeul sudah berlari ke tempatnya semula.
Sungmin menarik nafas prihatin. Dia tidak bisa mengawasi Sandeul dua puluh empat jam.
"Kyu, bagaimana kalau pinjam uang di bank?" tanyanya setelah kembali ke ruangan tempatnya bersama Kyuhyun tadi.
"Wah, sekarang sistemnya dipersulit. Dana untuk perumahan dibatasi."
"Tidak ada jalan lain, Kyu?"
Kyuhyun mulai khawatir kalau Sungmin sudah mulai aneh-aneh. Idenya sering gila-gilaan. "Kecuali kalau ada investor yang mau menambahkan sahamnya kepada kita. Tapi ya... itu, kita harus punya kredibilitas. Selain itu, kita juga harus lihat siapa dulu investornya. Mereka juga terkadang asal main tekan, mentang-mentang punya uang."
Mencari investor? Dia sudah pernah memikirkannya. Tapi bukan untuk mengembangkan menjadi seperti yang diangankan Sungmin. Dia ingin mengembangkan secara wajar seperti developer lain.
Kyuhyun tercenung.
.
.
Hari ini, keluarga kecil itu pergi mengunjungi KH Fair di KNTEX yang rutin diadakan setiap tahun. Ratusan pengembang berlomba menampilkan "produk terbaiknya" untuk menarik perhatian konsumen.
Tapi tidak semua produk bisa dibilang bermutu. Baik dari segi desain maupun kualitas bangunan. Tidak semua masyarakat paham akan kondisi ini. Terutama masyarakat berpaham hedonis yang menjadikan rumah sebagai simbol kemewahan, representasi diri yang berlebihan. Mereka tidak peduli kualitas ataupun nilai bangunan, yang penting terlihat wah. Sesuai tren. Desainnya sangat artifisial, dibuat-buat. Penuh dengan polesan. Besar, megah, tapi kosong makna. Terkesan angkuh. Mungkin tidak peduli atau mungkin tidak tahu.
Karyawan pemasaran, bahkan manajernya, sudah seperti penjual obat yang dengan gencarnya mempromosikan dagangannya.
"Perumahan ini utilitasnya kacau," bisik Kyuhyun di telingan Sungmin. Tidak enak kalau sampai terdengan orang lain.
"Kok kamu tau?"
Kyuhyun hanya tersenyum kalem.
"Kyu, lihat, perumahan ini."
"Kemasannya saja yang terlihat meyakinkan."
Kening Rani berkerut.
"Perumahan itu hanya mengandalkan desain yang sedang laku di pasaran tanpa mempertimbangkan struktur atau hal-hal yang lebih detail lainnya. Lihat infrastrukturnya tidak diselesaikan dengan baik. Bisa membuat orang sengsara kalau begini."
Sungmin melirik setengah kesal. Perasaan, semua di mata Kyuhyun tidak ada yang sempurna. Semua kena kritik. Tapi, ia suka mendengar komentar Kyuhyun yang sedikit sinis tapi cerdas.
Sementara kedua orang tuanya sibuk berdiskusi, Sandeul paling suka mengamati maket-maket yang terletak di tengah ruangan, berderet-deret. Meskipun mejanya sering lebih tinggi dari kepalanya sehingga harus minta tolong kepada sang Appa atau Papa untuk menggendongnya. Dalam hati ia heran, orang-orang tua ternyata suka juga main rumah-rumahan.
"Eh, Kyu, kalau yang ini kelihatannya memang lumayan bagus."
"Oh, iya, dong. Siapa dulu developernya!"
"PT SJ"
"Anak perusahaan SM Group," kata Kyuhyun kalem.
Sungmin langsung mencibir. "SM lagi...!"
"Jangan seperti itu, kau juga pernah kerja di sana."
SM Group adalah sebuah perusahaan di bidang properti; developer, biro konsultan arsitektur, sekaligus kontraktor. Kyuhyun bekerja di biro bagian konsultan arsitekturnya, sejak lulus kuliah hingga sekarang dan tetap bekerja di sana meskipun sidah mendirikan biro sendiri.
"Pak Kyuhyun" sapa seseorang di belakang mereka.
Kyuhyun tersenyum. Rupanya salah seorang relasinya. Keduanya saling berjabat tangan, lalu terlibat percakapan.
Sungmin hanya mengangguk sambil tersenyum, tapi tidak ikut bergabung. Ia lebih sering tidak mengenal mereka, kecuali orang-orang yang pernah berhubungan dengan JOY. Ia kembali mengamati gambar-gambar perumahan itu. Sampai terdengar suara seseorang menyapanya dengan halus...
"Sungmin."
Sungmin kontan menoleh. Dan, ia hanya bisa terpaku saking terkejutnya. Sesaat lamanya, ia hanya bisa mematung, tak percaya pada siapa yang dilihatnya.
Namja berusia tiga puluhan itu tersenyum. Mengucapkan salam. Menanyakan kabar. Ritual seseorang yang baru bertemu setelah sekian waktu berlalu.
Mata Sungmin berkaca. Tenggorokannya tercekat. "Berapa tahun kitak tidak bertemu"
"Hampir... sembilan tahun."
"Kamu seperti hilang di telan bumi."
Namja itu tersenyum kecut.
"Banyak yang sudah terjadi..."
"Ya, banyak sekali yang sudah terjadi."
Untuk beberapa lamanya mereka saling terdiam. Ada kepingan-kepingan memori yang tiba-tiba datang berhamburan, dilatari sebuah bangunan kampus dan tawa-tawa keceriaan. Juga ada kepingan kebencian, kepingan kesedihan...
Flasback
Ia dikenal sangat care terhadap teman-temannya. Tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk menyakiti siapa pun. Apalagi seorang sahabat yang sangan dia kenal baik.
"Min, mian..."
Sungmin mencoba tersenyum. "Aku suka kau berani terus terang. Untungnya, kita belum benar-benar terikat."
Wajah itu terlihat tegar. Ia menatap dengan takjub.
"Sudah, ya. Aku mau kuliah dulu."
Namja mungil itu melangkah pergi.
"Min...!"
"Apa...?" Namja itu berhenti melangkah, tapi tidak berbalik. Suaranya terdengar sengau.
"Kamu... menangis"
Tak ada jawaban.
"Min...?"
"Apa... lagi...?"
"Kita tetap berteman, kan?"
"Oh... tentu..." Aku tidak yakin. "Eh, sudah, ya..."
Namja mungil itu meneruskan langkahnya, meninggalkannya. Andai ia tau, wajah itu telah banjir air mata. Selanjutnya, ia jarang melihat namja mungil itu ke kampus. Ia sendiri sibuk mempersiapkan tugas akhir. Mereka jadi jarang bertemu.
Sampai enam bulan kemudian, saat ritual kelulusan...
"Selamat, ya!"
"Kau kapan?"
Sungmin menggidikan bahu.
"Masih ambil kuliah?"
"Ne. Banyak yang harus diulang. Oh ya, kapan undangannya?"
"Secepatnya. Kapan menyusul?"
"Doakan saja. Setelah ini ke mana?"
"Mungkin Seoul. Kebetulan aku ada tawaran kerja di satu biro di sana."
"Good luck!"
"Gomawo." Ia tersenyum. "Min..."
"Hm?"
"Semoga ini bukan pertemuan terakhir. Aku berharap, suatu saat bisa bertemu denganmu lagi."
"Oh ya? Baiklah. Kita buat saja reuni satu angkatan. Nanti, tujuh tahun yang akan datang. Biar aku uga sudah ketemu jodoh, hehehe..." Ketemu? Untuk apa? Aku malah berharap sebaliknya...
Flasback End
"Papaaa..."
Sungmin tersentak, kembali terlempar ke alam nyata.
"Anakmu?"
"Iya. Ayo, Sayang, kenalan sama Siwon Samchon!"
Tangan mungil itu terulur. "Cho Candeul, Deulie."
"Aduh... pinternya! Siapa tadi namanya?"
"Cho Sandeul, dia suka menyebut dirinya Deulie. Appa-nya bermarga Cho."
"Baru satu?"
"Iya. Anakku yang pertama meninggal saat baru saja lahir."
"Oh..." Siwon manggut-manggut. "Oh ya, mana suamimu?"
"Itu." Sungmin menunjuk ke arah Kyuhyun yang sedang sibuk berbincang dengan relasinya.
Siwon tersenyum simpati. Ya, aku sudah pernah melihatnya...
"Anakmu sudah berapa?"
Siwon sedikit terkejut. Kemudian tersenyum masam. "Belum ada."
"Oh..." Sungmin sedikit terkejut. "Oh ya, mana istrimu? Aku ingin kenalan."
"Aku... belum menikah."
Kali ini Sungmin benar-benar terkejut. "Apa?! Belum menikah? Kamu bercanda!"
Siwon tersenyum menunduk. "Aku tidak seberuntung dirimu," ucapnya lirih.
Sungmin cukup shock dengan kabar yang baru saja dia dengar. Apa yang terjadi sebenarnya? Ada apa dengan wanita itu? Wanita yang lebih kau pilih sehingga kau meninggalkanku? Menuruti keinginan keluargamu. Lama ia tercenung. Seribu pertanyaan menggantung di kepalanya. Hingga ia tersadar ketika seseorang menyentuhnya. Ia menoleh. Ternyata Kyuhyun.
"Oh ya, kenalkan. Ini suamiku."
Keduanya saling berjabat tangan. Lalu berbincang sekadarnya, basa-basi. Saling bertukar kartu nama dan saling menawarkan untuk dikunjungi.
.
.
"Ciwon Camchon ganteng ya, Pa?" celetuk Sandeul dalam perjalanan pulang.
Sungmin menoleh, "Eoh? Sandeul suka?"
"Ne. Camchon itu pintel, ndak?"
"Tentu, dulu kan teman kuliah Papa."
"Candeul mau kayak Camchon itu. Kalau Candeul cudah becal."
"Lho, katanya mau seperti Appa!"
"Ndak jadi. Deulie mau kayak Camchon itu."
Sungmin tertawa memandang ke arah Kyuhyun, mengira suaminya juga akan tertawa. Ternyata Kyuhyun hanya diam.
"Papa... beli kue, dong!" tangan mungil Sandeul menunjuk ke toko kue yang terletak di pinggir jalan.
"Appa, bisa berhenti sebentar, kan? Sandeul ingin kue!"
Kyuhyun memelankan mobilnya tanpa menjawab.
"Sandeul ikut turu apa di mobil saja?"
"Ikut tulun."
"Kaja!" Sungmin menoleh ke arah suaminya. "Appa mau apa?"
Kyuhyun hanya menggeleng. Lalu menunduk tak acuh, membuat Sungmin semakin heran. Tapi ia enggan menanyakannya. Mungkin lelah. "Ayo, Sayang!" dibimbingnya Sandeul turun dari mobil.
.
.
Ia menamakan dirinya arsitek kaki lima. Keluar masuk biro, pindah dari satu tempat kerja ke tempat yang lain. Naluri petualangannya menuntunnya begitu. Ia sangat takut pada kemapanan. Kemapanan berarti kematian jiwa. Atau sebenarnya, hal itu merupakan kompensasi dari kegelisahan jiwanya. Ia mencari sesuatu, dan selalu mencari..., tapi apakah itu?
Ia memandang ke luar jendela.
"Pak Siwon, ada telepon di line tiga."
"Oke, terimakasih. Yoboseyo? Mianhamnida, hari ini saya tidak bisa. Kita bertemu lain kali, bisa, kan? Baiklah. Iya. Terimakasih. Selamat siang."
Ia bersiap-siap pergi. Mengambil tas dan beberapa perlengkapan, lalu turun ke basemen, menuju mobilnya yang terpakir di sana.
Hampir satu jam, ia berada di jalanan sambil sesekali membaca alamat yang tertera di kartu nama itu. Akhirnya, sampailah ia di depan sebuah bangunan sederhana.
Jadi ini kantornya... Siwon menggumam. Ia membuka kacamata hitamnya, melangkah masuk.
.
.TBC
Whoah... #guling2. Mencoba menyelesaikan yang terbengkalai. Setahun lebih, ya? Hehe maafkan saya #bow.
Kebetulan juga ini remake, jadi udah ada bahannya, tinggal menyesuaikan dan sedikit merubah yang perlu dirubah. Tapi sama aja sih sebenarnya, nunggu mood ^^.
-Ah ya... KNTEX di atas itu aslinya KINTEX, tingkat Internasional, tapi nggak etis banget kalo saya buat seperti itu sedangkan di dalamnya banyak karya asal-asalan, makanya saya rubah. Mohon dimaklumi ^^
-Percakapan di mobil itu juga asal-asalan pikiran saya, haha, maaf kalo ternyata salah ^^.
-Untuk 'Pak Kyuhyun' dan 'Pak Siwon', hehe, ribet kalo kudu pake' sajangnim atau sejenisnya -3-
-Maaf kali ini tidak bisa membalas komentar di chap sebelumnya ^^.
-Maaf juga untuk typo yang bejibun di chap 3 kemaren, keke
Udah ah, cuap2nya, semoga berkenannnnnnnnn ^^.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya, saranghae ^^.
