"Kenma!" suara sedikit berat dari lelaki tinggi yang seiring dengannya terdengar semakin mendekat.
"Hmm?"
"Ehm, malam ini kau akan ke rumahku kan? Untuk game baru." lanjut Kuroo, kapten tim bola voli sekolah itu nampak bersemangat. "Okay." sementara yang diajakanya bicara masih terfokus layar sentuh ponselnya. Sudah berulang kali Kuroo memberitahu agar tak bermain game saat sedang berjalan seperti ini. Ia bisa saja menginjak sesuatu atau menabrak tiang, tetapi ia tetap saja tak mendengarkannya dengan baik.
"Kuroo! Aku punya perasaan buruk melihat Akaashi San sore ini." Kenma teringat sesuatu, ia baru saja pergi makan bersama anggota tim voli Fukuroudani tersebut. Kuroo nampak sedikit canggung, "-tidak seperti biasanya." lanjut Kenma mengingat-ingat kejadian di kedai ramen yang mereka singgahi beberapa jam lalu.
"Jangan khawatir, kita bisa mengandalkan Bokuto-" sambil merangkulnya Kuroo berusaha tidak terlihat khawatir. Sementara dalam hati ia menyumpahi diri sendiri merutuki betapa cerobohnya tragedi tertukarnya minuman Kenma dan Akaashi.
Kuroo menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali mengusir perasaan bersalah. Ia yakin Bokuto pasti bisa mengatasi semuanya, apalagi ia pasti senang menghadapi pasangannya yang mendadak akan menjadi binal. Sekarang masalahnya adalah, "-rencanaku yang gagal."
"Ada apa? Kuroo?" Kenma mendapati gerak-gerik mencurigakan, walau ia selalu mencurigakan seperti itu. "Haha bukan apa-apa." Kuroo kembali tertawa melanjutkan perjalanan pulang mereka.
"Tadaima!" sambil melepas sepatunya, Kuroo meletakan tasnya di lantai. Kenma turut di belakangnya mengikutinya. "Okaeri!" seorang wanita menyambut mereka, ibunya sedang di rumah menyiapkan makan malam ia baru saja pulang dari berbelanja.
"Sumimasen,-" berusaha sedikit ramah dengan wanita itu Kenma yang sudah sering berkunjung ke rumah itu sudah terbiasa tak nampak gugup sedikitpun.
"Kenma? Kalian sedang berlatih. Bagaimana pertandingannya?" sambil terus menggerakan tangannya bekerja wanita paruh baya itu tersenyum menatapnya.
"Ah Ibu... Tentu saja kami menang. Pergi ke kamarku lebih dulu,-" Menjawab tanya ibunya dan memerintah teman kecilnya itu mendahuluinya.
"Hmm, hei Tetsu bawakan minum untuk temanmu. Juga ada puding di lemari es."
"Iya... Iya..." jawabnya melepas pakaian olahraganya dan memasukannya ke keranjang. Ia hanya mengenakan celana training dan dan kaus tipis yang ia ambil acak dari tumpukan pakaian bersih. Sambil membawa minuman dingin dan puding coklat, "Yo! Duduklah dimanapun."
Kuroo meletakan minuman yang ia bawa di meja. Menyalakan pendingin ruangan dan televisi. Ini adalah kesekian kalinya Kenma berkunjung, tapi sejak mereka meresmikan hubungan mereka sebagai pasangan kekasih ini baru ke tiga kalinya ia datang lagi. Kunjungan pertamanya saat Kuroo demam dan tak berdaya saat tidak ada siapapun dirumahnya. Kunjungan kedua saat mereka mempelajari evaluasi hasil pertandingan dan menu latihan rutin mereka bersama teman sekolah lainnya.
"Ayo kita lihat..." Kenma dan Kuroo mendekati tumpukan kaset game dan menyalakan console game yang ada di bawah meja televisi. "Hmm. Game ini cukup sulit,-" Kuroo membuka kotak plastiknya dan memulai game.
Sesekali Kuroo melirik ke arah anak blonde yang tak melepas jaketnya, ia selalu serius dengan apa yang ia mainkan. "Apa Kuroo?" Kenma menyadari lelaki itu tak serius dengan permainan mereka.
"Hmm, bisa aku menciummu?" tanyanya sedikit ragu. "Tentu... Tidak!" jawab Kenma.
"Kita pacaran kan?" Kuroo mendekatinya, memandangi wajahnya yang sedikit sayu dan warna mata amber yang seakan sedang ada dirinya terefleksi disana.
"Jangan melakukan hal aneh!" Kenma menjaga jarak sekarang. "Ya, iya... Aku tidak akan melakukan hal aneh!" Kuroo sedikit masam, ia memakan pudingnya sendiri.
"Ini punya mu." ia memberikan mangkuk kecil dengan puding di depan lelaki yang tak bisa di usik itu.
"Ah? Kemana ponselku?" Kuroo bergegas turun ke lantai satu. Sebelum pakaian kotornya terendam. Ia pasti meninggalkan ponselnya di sana.
"Ah! Ini dia." Kuroo mengambil ponselnya di saku jaket yang ia gunakan hari ini. "-Ah!"
Ia melihat botol kecil yang isinya sudah hampir habis. "Aku melupakan ini. Padahal aku-" Kuroo bergegas kembali ke kamarnya sedikit terburu-buru.
Mendapati gelas milik Kenma sudah habis, ia gagal lagi. "Ada apa Kuroo? Kau aneh sekali hari ini?" lirikan curiga yang mengarah padanya jadi salah tingkah. "Ada apa?" kali ini sedikit mendesak Kenma memandangnya dengan penuh kecurigaan.
"Ah, tidak ada apapun. Bagaimana game nya? Hehe.." Kuroo berusaha terluhat lebih santai kembali duduk di samping lelaki kepala puding itu. Jaket merahnya yang lebih kecil dan tas sekolah yang tergeletak sembarangan.
Kuroo mengecek ponselnya, tidak ada satupun pesan masuk.
"Hei, Kenma. Kenapa kau tidak keberatan saat aku memintamu jadi pacarku?" Wajah datar yang sama sekali tak memandang lawan bicaranya itu sedikit yang sedang serius.
"Entahlah.." Kenma tak ambil pusing.
"Biasanya kau selalu sulit untuk ku ajak mengambil tindakan, tapi aku hanya merasa ada yang aneh saat aku mengatakan padamu untuk ingin pacaran denganmu." Kuroo memutar-mutar arah pembicaraan, ia tak ingin temannya ini jadi sedikit ragu dan berakhir menyakitinya.
"Pertanyaanmu itu bodoh sekali." Kenma meletakan stick gamenya, mengambil mangkuk kecil dan memulai sendokan pertama untuk puding coklatnya. "Hmm, manis." komentarnya dengan mata berbinar melihat puding din gin menggiur itu.
"Kau setuju jadi pacarku bukan karena tak ingin aku memaksamu untuk menerimaku kan?" Kuroo kembali mengutarakan sesuatu yang mengganjal di pikirannya. "Hm.. tidak sama sekali." Kenma meliriknya datar, ia tak heran jika lelaki itu melakukan hal-hal aneh seperti biasanya.
"Minumlah ini!" Kuroo memberikan air minumnya, tentu yang sudah ia beri sebotol mungil aprosidiac yang ia miliki sebelumnya. Kenma melirik nyiyir, sekarang benar-benar aneh.
"Ha? Apa kau menaruh sesuatu di situ?" Tepat sasaran, Kenma tak sebodoh itu menerima perlakuan mencurigakan begitu. "Sudah cepat minum saja." Kuro mendekatinya menarik tubuh itu dan memaksanya minum.
"Hei! Jangan memaksaku!" Kenma menolak, tapi Kuroo menariknya cukup kuat dan memaksanya minum soft drink rasa melon tersebut. Setengah gelas nyaris habis karena pemuda tahun ajaran kedua itu tak bisa menolak tenaga Kuroo.
"Uhuk -" itu membuatnya tersedak, Kuroo baru saja melakukan tidak kriminal pada teman satu timnya ini.
"Tetsurou! Kau harus mandi!" tetiba suara ibunya terdengar dari lantai satu membuatnya sadar yang ia lakukan cukup kasar, untuk dilakukan pada pacarnya tentu.
"Ba- baka!" Kenma memukul pelan tak membuat Kuroo kesakitan sedikitpun. "Ah, maaf-maaf! Padahal aku hanya bercanda." Kuroo mengambil kotak tissue yang tak jauh darinya. Sebagian tumpah ke lantai dan akan menjadi lengket jika tak segera dikeringkan.
"Ya! Aku akan mandi!" lelaki tinggi itu membereskan mangkuk puding dan gelas yang ia gunakan. Sambil menyeka air di wajah Kenma nampak kesal sejadinya sekarang. Memang teman kecilnya ini selalu senang memaksakan hal-hal yang tak ingin ia lakukan.
Suara langkah tenang terdengar, "-Kenma kau makan malam disini kan?" ia sedikit kaget. "Ah, tapi aku sudah ma-"
"Hah? Baiklah, aku akan menyiapkan makan malam untuk mu juga. Turunlah ke bawah oke!" tak menerima penolakan wanita itu berlalu menutup kembali pintu kamar putranya. Kenma tak pernah bisa menolak apapun, memang kalau ia pikir ulang ia selalu menerima apapun yang diberikan oleh Kuroo padanya juga.
Kuroo POV
Wajahku jadi sedikit lengket, aku akan turun kebawah lalu mandi. Kamar ku sedikit jauh di ujung lorong lantai dua. Harus menuruni anak tangga menuju meja makan yang di sana sudah ada ibuku yang masih mengenakan apronnya. Tangannya masih sibuk dengan menu makan malam kami. Aku rasa aku masih bisa memakan satu porsi lagi jika itu makarel.
Aku melewatinya sambil menuju ke arah kamar mandi. Aku melakukan hal yang parah sekali hari ini, aku jadi ingin tahu apakah Bokuto bisa mengatasi Akaashi malam ini. Aku merendam diriku, hangat ah aku sudah tidak sabar lagi. Astaga sejak kapan aku jadi semesum ini.
Tidak, tidak aku ini pemuda normal yang juga ingin melakukan ini dan itu pada pacarku. Tapi, astaga pacarku satu-satunya ini. Tapi aku tidak akan menyerah.
Dia sangat manis, dan hanya aku yang bisa memaksanya. Aku justeru memaksanya melakukan ah, persetan dengan itu memangnya aku bisa menunggu sampai kami berdua lulus sekolah? Kurang lebih dua tahun lagi.
"Arghh.." aku membenamkan wajah pada air hangat bak mandiku. Menyelesaikannya dengan cepat dan bergabung dengan mereka dimeja makan.
Aku menarik kursi duduk di hadapan teman masa kecilku yang nampak melamun memandangi menu makan malam. Makarel asap yang ibuku buat. Kami memulai makan malam sesekali berbincang soal latihan untuk pertandingan musim ini.
"Kenma? Kau baik-baik saja?" Mendapatinya hanya memandanginya yang tak bergeming sejak makan malam.
Ibuku jadi turut memperhatikannya, "-aku merasa sedikit tidak enak badan." suaranya sengau lemah. Aku menyentuh dahinya, jangan sampai ia terkena demam dimasa pelatihan kami ini.
"Hah? Suhu badannya naik." Aku memandang Ibuku, ia hanya menggelengkan kepala. Memang kami tahu betul tubuhnya tak sebaik anak-anak seumurannya. Ia sebenarnya mudah terkena demam, aku justeru berfikir karena terlalu banyak meminum air dingin pasca latihan hari ini.
"Kau menginap di sini saja? Nanti aku telepon rumahmu." Saranku menyentuh lengannya yang kurus, nafasnya sedikit berat dan sesekali ia memegang tengkuknya. Aku sadar ia mulai berkeringat, aku bahkan sampai lupa yang sudah kuperbuat padanya. Baiklah jika sampai anak ini sakit, aku pasti merasa paling bersalah. Jangan-jangan ini memang karenaku?
Selesai makan malam aku membuka dua futon, setelah mencuci tangan dan sikat gigi aku berniat untuk segera tidur. Kenma sudah duduk di futon mengecek ponselnya, ia mengikat rambutnya dengan karet. Aku bisa melihat dengan jelas lehernya yang kurus. "Ada apa?" yang aku memastikan ia baik-baik saja.
"Ah tidak, aku hanya mengirim pesan pada Shouyo." jawabnya. Wajahnya memerah, keringat di tengkuk dan celana panjang ku yang ia kenakan terlihat kebesaran.
"Hm..." aku duduk di sampingnya membantunya melipat ujung celana hingga semata kakinya. Pergelangan kaki kurus yang pucat , "-kuro." suaranya sedikit lemah memanggilku. Aku menoleh, ia memegang lehernya sepertinya tenggorokannya sakit atau semacamnya.
"Mungkin kita harus cepat tidur." Saranku padanya yang jelas nampak terlihat demam.
Aku memegang dahinya lagi, aku mencoba mengingat apakah kami memiliki obat. "Hnnn-" nafasnya terdengar sedikit berat saat aku menyentuh pipinya yang terasa hangat.
"Ku- kuro.."
Whoa whoa whoa, ia memegang telapak tanganku. Tatapannya seperti menginginkan sesuatu aku melihat kerut alisnya yang memelas seperti seekor anak kucing. "Oh Tuhan jangan-jangan?" aku ingat apa yang sudah ku berikan padanya sebelum makan malam.
Ekspresinya yang mendadak ero dan dia mengulum ujung ibu jariku. Astaga aku akan mati mimisan sekarang. "Kenma!" Aku menubruknya, membuatnya berbaring melintang di futon kami.
"Panas-" suara separuh mendesah, nafasnya terasa hangat bisa kurasakan. Dadanya yang naik turun menahan sesuatu dalam dirinya. "Kenma-" aku berbisik, bisa melihat wajahnya yang bertemu. Bibir merah muda merekah yang terus memanggil namaku lirih. Aku membuka kancing demi kancing piyamaku yang ia kenakan.
Menyusuri tubuh kurus, badannya yang mungil dan dadanya yang halus. "Ah... Hnngg...-" ia mendesah setiap aku menyentuh puncuk tumpul dadanya yang merah muda itu. "Ku- kuroo-h..."
Aku yang menunggu reaksi ini sejak sore dan sudah membayangkan hal-hal mesum sejak siang tak bisa menahan lagi sebentar lagi aku akan mimisan hebat. Aku bisa merasakan benda tumpul yang bukan milikku memukul bagian pahaku, ia menggesekannya dengan nakal seperti itu. Aku sudah tidak tahu ekspresi jahat seperti apa yang sekarang ku tunjukan padanya.
"Panas sekali-" ucapnya, jadi aku membantu melepas pakaiannya. Sebelum itu mengikat kedua tangannya ke atas dan menahannya agar dia tidak mendadak mencakarku walau aku tau dia tidak begitu. Astaga tangannya kurus sekali, lemah rasanya jika aku terlalu kasar aku bisa mematahkannya.
Aku merangsek hingga bisa mencium aroma tubuhnya yang manis mengundang. Pinggangnya yang ramping dan kulitnya yang berkeringat membuatku kian gelap mata. Tuhan manapum maafkan aku.
"Tenang, tenang, aku harus rileks..." aku berusaha mengumpulkan kesadaranku sendiri sekarang. Aku tidak boleh memberikan kenangan yang buruk saat melakukan ini.
"Hyah..." Kenma sedikit menahan suaranya, lalu menghimpitkan kedua kaki saat aku mengincar kelelakiannya yang sejak tadi sudah tidak bisa menanti. Aku menggenggamnya, sedikit lembab, ia pasti sudah cukup sabar menahannya.
"Jika kau berisik, ibuku bisa menemukan kita." aku membisikinya, telinganya memerah terlihat sangat manis membuatku ingin melumatnya. Sesekali ia membusungkan dada. Mengulum bibirnya sendiri berusaha meredam suaranya.
"Tidak bisa-" mata kamarnya itu kini berubah jadi tangisan, "-apa kita harus berhenti?" aku malah luluh sekarang melihatnya tidak berdaya. Tapi ia menggeleng lemah, dengan tangannya yang terikat dan aku yang sedang on seperti ini. Astaga aku seperti iblis yang akan melahapnya bulat-bulat.
"Aku-" sambil malu-malu ia tak berani menatapku, Ya Tuhan lucu sekali. "Aku juga ingin menyentuhmu." bisikannya sangat lembut, memanja dan manis mati sekarangpun aku rela. Aku hanya bisa menegup ludah ingin meyakinkan ini semua bukan hanya mimpi.
"Kuroo-" suaranya sedikit lirih sekarang membuatku semakin tidak tega. Akhirnya aku melepaskan ikatan dikedua tangannya, membantunya duduk dengan perlahan. Dengan cekatannya tangan mungilnya itu mengincar benda keramat di pangkal pahaku yang sudah meronta-ronta sejak melihatnya bersikap aneh.
"Besar sekali-" terlihat sedikit kekecewaan di wajahnya. Aku tak tau disebabkan oleh apa. "Hei! Jangan menggodaku dengan kata-kata itu. Atau aku akan memperkosamu disini." bisikku menatapnya bermaksud mendominasi melihat wajahnya yang sedikit kecewa barusan kini berubah jadi datar.
"Ack-" tiba-tiba aku merasa genggamannya menguat hebat, "-kau ingin menghancurkanku?"
Aku meringis menahan sakit sekaligus nikmat secara bersamaan. Tak ingin kalah, biar ku berikan pelajaran untuk anak ini. "Kuro?" ia kaget saat aku menjatuhkannya lagi dan mengincar vitalnya sekarang.
Melakukan oral dan memberinya penetrasi adalah saat yang paling aku suka, aku tidak tahan melihat ekspresinya yang seperti anak perempuan. Pemalu, wajahnya yang lebih mungil dan balutan rambut blonde yang jatuh ke pipi. Sepasang tatap sayu dengan bundar warna bagai purnama.
"Ah... Aku akan ah.. Berhenti..." Ia menahan kepalaku yang berada tepat dibawahnya. Ia menjambak pelan seakan ingin aku menghentikannya padahal aku yakin dalam hatinya tak seperti itu. Aku juga tidak bisa lagi menunggu.
Aku sudah sangat siap, aku akan menyerangnya rasanya ingin mendekapnya dan mengoyaknya sampai tidak berdaya.
Mengarahkan apa yang kupunya menuju liang intinya. Ia mengup ludah dan aku bisa mendengar suaranya yang menangis, namun tak menghindariku. "Kuroo-" seperti meminta pengampunan, sekarang aku tak tau apa yang sebenarnya ia harapkan dariku.
"Tch-" aku menarik jemari yang memberikannya penetrasi agar tak terlalu menyakitkan baginya. Ia menatapku pilu, ah aku malah berpikir itu hal yang manis? Apa ada yang aneh dariku?
"Besar sekali, aku takut." Mendengarnya sendiri mengatakan hak itu, sambil menarik nafas panjang aku tidak akan ragu-ragu.
"Hei! Kenma-" aku mendekati wajahnya yang tak karuan bercampur keringat dan airmata. Menyeka air mukanya yang menetes, menatap sepasang kelereng hidup sewarna amber yang memantulkan cahaya dari liar jendela.
Menarik tangannya yang mungil itu meraba dadaku, rasanya aku juga akan mati sekarang. Jujur saja aku sangat gugup tapi tetap ingin melakukannya.
"Ha- ah... Ku kuro..." ia menahan suaranya saat aku mulai menyerangnya. "Shit, susah sekali." ternyata tak semudah yang ku kira. Ia tak membuka dengan sendiri jadi aku harus membuat Kenma lebih rileks lagi. Maka aku mengusap rambutnya yang jatuh di pipi. Mendekatkan wajahku sambil tersenyum memastikan ini baik-baik mengecup bibirnya yang lebih kecil dariku. Menyisakan sedikit rasa manis disana. "Huff..." ia memejamkan mata seperti berusaha merilekskan tubuhnya sekarang.
"Ahh!" Aku berhasil membuatnya terlonjak sedikit meringis, entah apa yang ia rasakan bersama kukunya yang menancap di lengan atasku. Ia mencengkramnya kuat, tubuhnya membusur dan kepalanya mendongak. Kakinya mengejang hebat dan aku baru menyadari ia baru saja ejakulasi.
"Ahh... Kuroo." suaranya yang bergetar, dan tubuhnya yang hangat itu melekat dengan tubuhku. Tangannya memelukku erat sekali aku bisa merasakan nikmat luar biasa di bawah perutku. Aku sempat tak bergeming karena melihatnya yang orgasme hanya dengan sekali hentakan.
"Hei bisakah aku mulai, hmm bergerak di dalammu?" suaraku sangat pelan sampai tak yakin ia mendengarnya. Ia hanya mengangguk pelan dengan wajahnya yang tak karuan menahan letupan yang ia rasakan sekarang.
Tanpa sadar ia melingkarkan tangannya di tengkukku. Mengikuti gerakanku yang pelan dan stabil. Sesekali matanya mengerjap entah sakit atau nikmat, aku hanya merasa iri sekali dengan bagian diriku sendiri yang bisa memasukinya seperti ini.
"Kuro-" suaranya memanggilku lemah. "Hmm-" aku mendekatinya, mengecup bibirnya yang bergetar sesekali memanggil namaku. Ketika ia mulai terbiasa, dan membuka matanya melihatku dalam-dalam seperti menyelami alam pikiranku yang dipenuhi tentangnya saat ini.
"Hari ini makarel."
Aku tak mengerti apa yang ia katakan, melanturnya parah sekali.
"Kau suka makarel?" ia mengatakannya lagi sambil sedikit tersenyum. Aku masih tidak mengerti, aku sedang menikmati yang satu ini, jadi aku hanya diam dan fokus mendapatkan klimaks ku juga.
"Kuro-" suaranya menahanku lagi untuk meningkatkan kecepatan, linangan matanya kini tumpah karena gerak yang kami buat. "Kau bilang anak perempuan berambut panjang itu lebih baik?"
Seketika aku menghentikan gerakanku, aku menatap wajah yang terpejam mengerang di bawahku. Rambutnya yang di cat terang, wajahnya yang masih penuh peluh dan bibirnya yang ia lumat sendiri. Perlahan menatapku saat matanya kembali terbuka. Seperti apa ekspresiku sekarang? Aku ingin tahu, kadang karena ia terlalu tertutup dan mulai menyembunyikan sesuaty dariku.
"Ada apa?" aku tahu ada sesuatu yang salah. Aku mendekatkan tubuhku, aku tak ingin ada sesuatu yang mengganjalnya di hatinya soal diriku saat ini. Aku mendekapnya, dia kecil sekali, selalu sekecil ini? Hangat dan selalu mudah menangis, aku tidak pernah bisa membiarkannya sendirian bepergian. Selalu memikirkannya sebelum tertidur dan orang pertama yang selalu ku khawatirkan setiap waktu.
Aku sampai lupa, ia punya kekhawatiran yang lebih tinggi soal bagaimana orang-orang berpikiran tentangnya. Hanya karena aku pernah bicara seorang gadis kecil berambut panjang itu lebih baik, membuatnya jadi memikirkannya seperti ini. Konyol sekali.
"Aku lebih suka yang penurut." gumamku mengecup keningnya lebih lembut. Aku buruk sekali hari ini, "-aku menyukai seseorang yang gemar makan Pai Apel dan sedikit pemalas..." sambil tersenyum aku menyentuh bibirnya yang ranum itu. Lehernya yang jenjang dan tulang selangka di balut kulit putihnya. "Orang yang paling kusukai, dan yang terbaik untukku selalu ada didekatku. Selalu memperhatikanku dan mengkhawatirkan hal-hal aneh." aku jadi tertawa sendiri melihat wajah masam yang menggembungkan pipi itu. Astaga dia manis sekali, aku selalu melihatnya setiap hari tanpa. Aku tidak pernah melewatkan kesempatan untuk melihat wajahnya satu haripun.
Karena tidak punya saudara aku selalu menganggapnya seperti adik lelaki yang selalu membutuhkanku. Tapi nyatanya, yang kuinginkan memang lebih dari itu. Tidak ingin ia melihat siapapun, sudah bagus ia hanya berkeliaran di sekitarku dan memperhatikanku. Kata-katanya yang entah jujur atau jahat, dan memang seperti itulah dia. Padaku yang tidak pernah menyembunyikan sesuatu jadi aku akan sangat kesal jika ia mulai diam ya dia memang pendiam tapi ini dalam arti dia mengabaikanku. Tapi itu sering terjadi.
"Aku harap, kau cukup hanya dengan aku jadi diriku sendiri." Sekarang ia nampak sendu, apa yang sudah kulakukan? Tunggu apa dia sekarang mabuk? Tidak, bukan seperti itu.
Aku berusaha menenangkannya dengan mengusap pipinya yang sedikit lembab. Masih merona merah muda manis begitu. Aku ingin mencumbunya sampai pagi.
"Suka sekali, sangat suka tahu. Tanpa kau membalasnya aku sudah tahu kau juga menyukaiku." aku mencium bibir lebih lembut, tak sepanas sebelumnya hanya lebih intens.
"Kenma? Bisa aku keluar di dalam?"
Ah, ia tersenyum sekarang, menutupi wajahnya dengan tangannya yang kurus itu. Lucu sekali, aku jadi merasa bodoh sampai repot-repot memaksanya meminum itu, astaga tidak keren sekali.
"Setelah memaksaku aku meminta izin padaku? Aneh seperti biasanya." aku mendengarnya dengan sangat jelas. Sedikit tawa dari wajahnya yang jadi merona itu. Ia tidak akan semanis ini jika bersama orang lain selain aku, aku yakin sekali.
"Aku, jadi-" ia berusaha bangkit dari posisinya. Ia tidak mengizinkanku klimaks sekarang. Oh tidak, dia mencoba menunggangiku?
"Kenma? Ap-" setengah mati aku terbelalak tak percaya. Masih dengan setengah menundukan wajahnya yang malu-malu manis sekali itu.
"Ha- ah... Hnnn" ia benar-benar diatasku sekarang. Sial, kulitnya yang berkeringat terlihat lebih jelas. Wajah ero yang akan membuatku cepat orgasme itu sangat berbahaya.
"Ah.. ahn.." erangannya terdengar lebih jelas. Aku menahan pinggulnya yang ramping, mengecup bibirnya agar hanya aku yan gbisa mendengarnya. Karena aku tidak ingin membaginya dengan siapapun. Jujur saja aku bukan orang yang akan sebaik itu, memang menyimpannya sendiri hanya untukku adalah cara terbaik. Menyembunyikannya hanya untuk diriku, dan tidak membiarkan siapapun selain aku yang ia butuhkan.
"Shit! Aku akan keluar jika kau seliar ini." kisuhku menahan diriku sesaat. Pijatannya sangat kiat membuatku bagai akan meleleh dari dalam. Nafas memburu dan debaran yang seperti bom waktu. Kakinya bergerak naik turun cepat dan cepat lagi, lebih dalam dan intens. Lebih kuat dan bertenaga, keringat dari keningnya yang mengalir dari tubuh yang polo. Aku bisa menjamahnya sesuka hati saat ini.
"Kuro-. Ka..." ia masih terus menahan stabilitas gerakannya.
"Suka, aku juga menyukaimu."
Menuju puncaknya yang kedua. Ekspresi ekstasinya yang menggairahkan, aku tak bisa menahan lebih lama lagi untuk tidak mengeluarkan semuanya. Sial ini lebih parah dari squat lima puluh kali. Dadaku rasanya akan pecah, aku menahan tubuh Kenma yang menggelinjang nyaris jatuh ke belakang. Dadanya yang membusung ke arahku. "Ah, Kuro-" ia meletakan wajahnya di pundakku dan memelukku dengan lemah setelahnya.
"Aku membuatnya jadi kotor." gumamnya setengah sadar. Jatuh ke pelukanku, aku hanya tertawa puas sekarang. Jadi terpikir bagaimana jika kami benar-benar melakukanya secara sadar seperti apa ekspresi yang akan dia tunjukan padaku.
Jadi membereskan ini adalah sisa pekerjaanku malam ini sebelum tidur.
oOo
"Kau merasa lebih baik?"
Kenma mengangguk pelan, hari ini ia akan pergi bersama Kuro ke tempat latihan. Matahari sudah menyingsing dan cahaya silaunya sudah menyinari jalanan.
"Kau serius baik-baik saja?" Kuroo melirik sambil mengenakan sepatunya. Sementara pemuda yang tak lebih tinggi darinya itu melempar tatap kesal padanya. "Kaki ku sakit!" jawabnya sedikit muram. Sementara teman satu tim volinya itu hanya menahan tawa.
"Tapi, semalam kau manis sekali." sambil bisik menggoda sementara Kenma hanya berusaha tak memperdulikannya itu hanya membuatnya lebih muram hari ini.
Maka dengan wajah berseri-seri dari biasanya. Pemandangan sehari-hari yang jadi lebih menyenangkan dan pemuda blonde yang selalu nampak tak minat apapun itu hanya mengikutinya sampai camp pelatihan.
Seorang siswa dengan seragam trainee putih bertolak pinggang menunggu kedatangannya dengan wajah sedikit kesal. "Bro, bagaimana malammu?" dengan wajah tanpa bersalah, Kuroo merangkul lelaki dengan seragam putih-putih itu.
"Hmm?" Bokuto nampak tak senang disapa siapapun pagi hari ini. Memang sejak tadi moodnya nampak jelek, melakukan hal yang setengah-setengah membuatnya tidak puas sama sekali.
"Ada apa dengan aura Bokuto San sejak pagi?" bahkan rekan setimnya sama sekali tak berani mengganggunya. Tatapannya lebih tajam daripada Kageyama yang biasa. Ia seperti siap menelan orang bulat-bulat. Siapa yang berani mengusiknya, lebih buruk lagi jika ia merusak pertandingan nanti.
"Jadi kau kurang puas ya.. Hmm mungkin memang dosisnya kurang. Semalam aku berhasil membuat kucingku meminumnya... Hahaha." dengan senyum kemenangan lelaki tinggi itu justeru membuat Bokuto kian geram.
"Berikan aku full dosisnya, baru aku akan mengampunimu!" Bokuto tidak ingin bermain setengah ronde seperti tadi malam. Sementara kapten nyentrik kucing hitam itu tertawa terpingkal-pingkal melihat Bokuto akhirnya ingin mencobanya juga. Memangnya siapa yang bisa menahan rasa ingin tahu jiwa muda seorang remaja di usianya saat ini.
Kenma menatap dari kejauhan, ia sudah bergabung dengan rekan-rekan satu sekolahnya. Ia hanya merasa badannya sakit setelah kejadian tadi malam. Mungkin ia akan lebih waspada dengan lelaki itu. Ia jadi menyesal mengatakan hal-hal yang memalukan seperti tadi malam. Padahal ia yakin ia tak perlu membuat pengakuan yang seperti anak perempuan begitu. Awalnya ia tak yakin bisa bersikap normal setelah kejadian tadi malam. Tapi rupanya Kuroo bisa bersikap tetap seperti dirinya sendiri seperti itu. Aneh dan menyebalkan, maka baginya saat ini ialah yang paling aneh bisa-bisanya ia tertarik dengan lelaki itu. Tetapi ia tak pernah bisa mengelak soal dengan siapa lagi memangnya ia bisa terbuka seperti itu?
"Ah, aku benci diriku sendiri."
P SIDE – KurooKen
zZenSan
