Ia bersiap-siap pergi. Mengambil tas dan beberapa perlengkapan, lalu turun ke basemen, menuju mobilnya yang terpakir di sana.

Hampir satu jam, ia berada di jalanan sambil sesekali membaca alamat yang tertera di kartu nama itu. Akhirnya, sampailah ia di depan sebuah bangunan sederhana.

Jadi ini kantornya... Siwon menggumam. Ia membuka kacamata hitamnya, melangkah masuk.

.

.

Pair : KyuMin

Cast : Kyuhyun, Sungmin and Other Cast

Rate : T

Genre : Drama, Romance

Length : Chaptered

Warning : Ini ff Remake dari novel lama karya Ari Nur dengan judul yang sama, 'Dilatasi Memori'. Ada beberapa bagian yang saya rubah dengan menambahi atau mengurangi porsi cerita, agar sesuai dengan apa yang diinginkan. Mengingat ini novel straight dan saya mengubahnya menjadi BL, maka mohon dimaklumi jika menjadi sedikit aneh ^^. BXB, M-preg, typo (s).

Summary : Ketika cinta dikhianati, apa yang akan terjadi? Ketika ketulusan disalahartikan, akankah kesetiaan dipertahankan? Kisah cinta mereka tengah diuji!.

Disclaimer : Cerita ini milik Ari Nur. Tapi, seluruh tulisan ini milik saya. Saya hanya meminjam nama-nama orang yang saya cintai ini semata-mata demi kelangsungan cerita.

DLDR!

enJOY

.

.

"Aku tidak mengganggu, kan?"

"Sedikit." Sungmin tertawa kecil. Ia tidak menyangka Siwon benar-benar datang memenuhi janjinya. "Tapi maaf, aku ada rapat. Kyuhyun sedang di SM. Kau tidak bilang kalau akan datang."

Siwon hanya tersenyum. "Surprise."

"Sungkyu..."

"Ya, Pak?"

"Ini Pak Siwon, teman Bapak. Tolong temani dulu, ya?"

"Baik, Pak. Mari, Pak."

Siwon mengangguk.

Sungkyu mengantar Siwon untuk melihat-lihat kantor JOY, melihat beberapa produk desainnya yang ditampilkan di hampir semua dinding kantor. Kantor ini belum memiliki ruang pameran. Tapi andaikata disediakan satu ruang pun rasanya tidak cukup. JOY sangat memperhatikan fungsi pendokumentasian. Proyek pertama bahkan masih tersimpan dengan baik. Tak ada satu gambar atau maket yang berakhir di tempat sampah. Dalam lima tahun perjalanannya, JOY sudah menghasilkan beberapa proyek.

Siwon sangat terkesan dengan suasana kantor itu. Berbeda dengan kantor kebanyakan, tidak ada bau asap rokok. Bukan karena AC yang terpasang, tapi karena tidak ada satu pun karyawan yang merokok. Karyawan wanitanya juga terlihat sopan. Sungmin dan suaminya sepertinya memberlakukan peraturan yang cukup tegas, juga memilah karyawannya dengan cukup ketat. Dia takjub karena masih ada kantor dengan nuansa seperti ini di Seoul. Kantor yang sederhana tapi sangat hangat dan nyaman. Kelihatannya tidak mungkin ada affair. Siwon tersenyum.

"Kau hebat, Min. Kabarnya, pendirian JOY ini atas idemu, ya?" ujar Siwon ketika mereka kembali berkumpul di Ruang Rapat. Ia meyampaikan kesan-kesannya tentang JOY.

Sungmin tersenyum cerah. "Terimakasih apresiasinya. Disebut hebat, tidak juga. Biasa saja. Ini juga berkat anak-anak JOY."

"Aku lihat sebagian besar isinya anak-anak muda."

"Begitulah."

"Tapi ada sesuatu yang kurang, kalau aku boleh memberikan kritik."

"Tentu saja."

"Kekurangannya justru pada bangunan kantor ini. Kelihatannya kurang representatif dan, maaf kurang akomodatif juga. Belum menunjukkan citra atau imej sebagai biro Arsitektur."

Sungmin tertawa kecil. "Memang. Kami hanya menyewa. Rencananya dalam dua tahun sudah bisa membuat kantor sendiri. Tapi, yah... sampai sekarang belum terealisasikan. Belum ada dana, belum ada kesempatan."

"Dan terlalu sibuk mengerjakan proyek."

Sungmin kembali tertawa, "Ya, itu juga."

Mereka bertiga duduk di meja rapat. Saling bertukar cerita. Cukup seru sehingga menarik perhatian yang lain. Akhirnya, meja rapat itu penuh orang. Tanpa bermaksud sombong, Siwon menceritakan pengalamannya bekerja di biro arsitektur luar negeri. Anak-anak JOY mengikuti dengan antusias.

"Aku pernah mendapatkan proyek yang kukerjakan dalam waktu enam bulan. Hanya merancang jendela. Bayangkan!"

"Apa standarisasi menjadi seorang arsitek profesional di luar negeri?" tanya seorang anak JOY.

"Sebenarnya sama saja seperti di sini atau dimana pun. Antara lain, mempunyai keunggulan individu, mempunyai kemampuan desain, kreativitas ide, penguasaan teknologi yang baik. Selain itu juga harus bisa presentasi di depan orang banyak, baik lewat narasi, verbal, tulisan, maupun grafis manual dan digital. Sama saja sebenarnya. Dimana-mana juga seperti itu."

"Kalau perlu, juga memiliki kemampuan komunikasi multilingual, peguasaan terhadap beberapa bahasa asing, dan memiliki keterampilan manajemen."

Akhirnya mereka berdiskusi sampai sore. Selain masalah pekerjaan, mereka juga berbincang hal lain. Ternyata , Siwon sedikit tahu perkembangan alumni.

"Dari teman kita satu angkatan, hanya tiga puluh persen yang benar-benar menjadi praktisi. Yang lain ada yang menjadi akademisi, birokrat, kontraktor. Ada yang pindah jalur karena merasa tidak cocok dengan bidangnya. Lebih lucu lagi, ada yang pindah jalur menjadi penulis webtoon."

"Oh ya? Lucu sekali."

"Siapa namanya ya, em... lupa."

"Sama teman sekelas kok lupa." Sungmin tertawa geli. "Namja atau yeoja"

"Yeoja. Dia anaknya pendiam, jadi susah untuk diingat."

Anak-anak tertawa.

Akhirnya, anak-anak JOY tahu bahwa Siwon dan Sungmin pernah sekelas. Hanya satu yang mereka tidak tahu. Mereka pernah hampir menikah!

.

.

"Kyu, kemarin Siwon datang ke JOY."

"Mau apa?" tanya Kyuhyun datar.

"Melihat kantor kita. Dia sangat apresiatif saat melihat karya anak-anak kita," cerita Sungmin bangga.

"Heol... tebar pesona," gumam Kyuhyun tak acuh.

"Apa, Kyu?"

"Ani."

(Sungmin lupa bahwa seorang suami sangat tidak suka ketika istri memuji orang lain di depannya, apalagi yang dipuji itu seorang lelaki. Mungkin sekedar cemburu, mungkin superioritasnya merasa dilanggar, atau mungkin karena ia memang memiliki ego yang tinggi.)

"Ah iya," Kyuhyun menyodorkan ponselnya ke arah Sungmin, "ada sedikit uang. Tolong masukkan ke pembukuan!"

Sungmin membaca angka yang tertera di sana. Dua puluh juta? Banyak sekali!

"Tapi... ini dari mana?"

"Proyek Art Center di Jeju itu akhirnya kembali berjalan. Bersyukur sana, dapat uang malah bingung."

Sungmin masih merasa tidak yakin. "Kyu... kau tidak korupsi, kan?"

Kyuhyun memandang Sungmin dengan serius. Kemudian bicara setengah berbisik, "Sedikit tidak apa-apa, kan?"

"Kyu!"

"Yang lain juga seperti itu. Tenang...! Hal-hal seperti ini sudah menjadi rahasia umum. Semua juga dapat jatahnya."

"Kyu! Sadarlah...!" Sungmin sudah hampir menangis.

"Ih... siapa juga yang korupsi. Kau percaya dengan ucapanku tadi?"

"Kyunie... kau membuatku takut."

Dunia proyek adalah dunia basah. Dunia bergetah. Korupsi sangat bisa kalau mau. Dan semua itu kembali pada individu masing-masing yang menjalaninya. Semoga mereka terjaga dari itu semua.

.

.

Siwon sedang duduk sendiri, bergelut dengan pikirannya. Memikirkan pertemuannya kembali dengan Sungmin. Ternyata Tuhan masih memiliki skenario untuk mereka berdua. Setelah kejadian itu.

Menikah? Siwon menghembuskan nafas beratnya.

Dia memang belum pernah menikah. Tapi bukan berarti tidak pernah berusaha untuk menikah. Siwon mencoba menuruti keinginan keluarganya untuk hidup normal dan menikah dengan yeoja. Hingga akhirnya dia menemukan orang yang tepat. Yeoja yang dia sukai tiga tahun lebih muda darinya. Atas nama tanggungjawab, dia datang melamar menghadap orangtua yeoja itu. Dia tidak ditolak, tapi orangtua mengijinkan mereka menikah jika si yeoja sudah lulus. Kisah yang umum terjadi dimana-mana. Atas nama tanggungjawab pula, dia bersedia menunggu sambil mempersiapkan masa depan lebih baik.

Tiga tahun bukan masa yang singkat. Banyak hal yang kemudian terjadi. Godaan datang silih berganti. Perasaannya terhadap yeoja itu menjadi gamang. Seperti ada rasa jenuh atau apalah namanya karena sudah terlalu lama menunggu. Demikian juga sebaliknya.

Tepat satu bulan sebelum yeoja itu lulus, dia mendapat tawaran bekerja di luar negeri. Rencana pernikahan sudah di depan mata, tapi dia tetap harus pergi setelah sebelumnya terjadi pertengkaran cukup hebat.

Tanpa diduga, yeoja itu memutusnya begitu saja. Dia pun pulang, untuk mengklarifikasi segalanya. Tapi yang lebih berbicara bukan lagi cinta, melainkan harga diri. Harga dirinya merasa dilecehkan. Lalu dengan cepat yeoja itu mendapatkan pengganti. Semua perngorbanannya sia-sia. Saat itulah dia baru teringat seseorang...

Ternyata seperti ini perasaan ditolak. Sakit sekali. Mungkinkah ini karma? Ah tidak, dia lebih suka menyebutnya takdir. Meskipun demikian, ada trauma psikologis yang dirasakannya. Dia menjadi takut untuk melangkah ke sana. Sebagai kompensasi, dia menyibukkan diri dengan bekerja. Pagi, siang, malam. Ke sana kemari, berpetualang, mencari pengalaman baru, atau mencari seseorang, sadar atau tanpa sadar...

Hingga kini...

Kau semakin cantik, Min. Semakin matang usiamu membuatmu semakin terlihat cantik. Cantik luar dalam. Sepertinya suamimu sangat bisa mencukupi segala kebutuhanmu. Tapi, apakah kau benar-benar bahagia dengan pernikahanmu itu?

Kyuhyun. Hm... aku tahu orang seperti apa dia. Pergaulan, pandangan hidup, dan komunitas yang membentuknya. Kalau seorang Kyuhyun memang benar-benar suami yang setia, aku sangat terkesan!

Kalian berangkat dari latar belakang yang berbeda. Dengan gaya hidup yang berbeda. Kenapa bisa menyatu? Asam di gunung garam di laut bercampur dalam satu wadah. Sungguh ajaib!

Apakah dia iri? Ah, tidak terlalu tepat jika disebut iri. Atau cemburu? Mungkin. Dia memang cemburu, bukan pada Sungmin, tapi pada kebahagiaannya.

Di tengah dunia yang hiruk-pikuk, dia merasa kesepian.

Tersisih, tak berarti.

.

.

Kantor itu tak pernah sepi. Disaat ada waktu luang atau break, mereka habiskan untuk diskusi. Selalu ada diskusi. Umumnya yang dibahas adalah tema-tema populer, seperti bagaimana menjaga keseimbangan antara karier dan keluarga. Bagaimana cara mendidik anak yang baik, bagaimana menjaga komunikasi dengan pasangan, dan lain-lain. Hari sabtu, jadwal kerja mereka cukup santai, jam kerja hanya sampai jam tiga sore. Selebihnya termasuk lembur.

"Pak, ada tamu," bisik Hyukjae, salah seorang karyawan JOY saat diskusi sedang berlangsung.

"Siapa?"

"Namja. Tampan, eh... cantik," jawab Hyukjae bingung.

Dengan rasa penasaran, Sungmin segera bergegas ke ruang tamu.

"Hai... masih ingat aku?"

KIBUM?

Sungmin terkejut sekali. Ingatannya langsung tergiring ke beberapa tahun silam, saat mereka masih bersama dengan tujuh teman yang lain masih bekerja di SM dan tergabung dalam sebuah tim drafter bernama Tim Sembilan. Mereka pernah konflik. Meskipun memakan waktu yang cukup lama, tapi berakhir dengan baik. Kibum datang ke pernikahannya dan mereka saling meminta maaf. Setelah itu mereka tidak pernah bertemu hingga sekarang.

Mereka berpelukan. Lama sekali. Setelah saling melepaskan, keduanya kembali berpelukan. Satu kali terasa tidak cukup. Kini mereka duduk berhadapan. Saling memandang. Sambil tersenyum.

"Kau kemana saja, Kibum-ah?"

"Aku mengambil Urban Design di Belanda. Lalu S3 di Amerika. Selesai, pulang, kerja di biro sambil mengajar."

Usia duapuluh sembilan tahun sudah doktor. Luar biasa!
"Oh ya, Min, apa kabar Mister Akechi?"

Sungmin tertawa. Dia hampir lupa, dulu anak-anak Tim Sembilan menyebut Kyuhyun "Mister Akechi" karena kemiripannya dengan tokoh komik dalam serial Kindaichi.

"Baik."

"Eh... dia tidak galak lagi kan setelah kalian menikah?"

Sungmin tersipu. "Ah, tidak juga. Oh ya, kamu pasti sudah menikah? Kenapa tidak mengundang kami? Sekian lama tidak ada kabar," kata Sungmin gemas.

Kibum terdiam. Ekspresi wajahnya perlahan berubah.

"Kau ingat... Zhoumi?"

"Tentu saja. Ada apa denganya"

"Aku pikir dia akan menungguku. Ternyata..."

Kibum kembali terdiam.

"Dia menghianatimu?"

"Bukan. Bukan salahnya. Aku yang tidak tegas. Dan itu membingungkan baginya. Dia menyangka aku menolaknya. Lagi pula, dia ingin segera menikah. Akhirnya dia bertemu dengan seseorang dan sekarang sudah memiliki dua anak." Kibum tersenyum.

Sungmi termangu. Tidak menyangka sama sekali Kibum akan mengalami nasib seperti itu.

"Kadang-kadang, aku merasa tidak kuat, Min. Aku merasa.. apalah artinya semua gelarku, semua yang aku miliki, kalau aku tidak mendapatkan apa yang paling kuinginkan."

Kibum bisa dikatakan sosok yang nyaris sempurna. Tampan. Kaya. Berpendidikan tinggi. Jangan-jangan, karena hal itu, semua jadi segan mendekatinya.

"Bumie, apa yang bisa kubantu?"

Kibum menggeleng. "Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Ah ya, bagaimana kabar teman-teman kita di Tim Sembilan dulu?"

"Yunho dan Jaejoong masih di SM. Yoochun kabarnya jadi ke Australia."

"Iya. Aku tahu. Dia keluarnya lebih dulu daripada aku. Hanya beberapa bulan setelahmu."

"Junsu masih di SM, sudah menjadi senior. Yah, masih lucu seperti dulu."

"Junsu? Aku jadi merindukan mereka. Aku ingin sekali bertemu anakmu. Mirip kau atau si Mister Akechi."

"Mainlah ke rumah." Sungmin tersenyum. Dia masih merasa takjub. Dalam waktu yang berdekatan, dia bertemu dengan dua sahabat lamanya. Hidup memang penuh kejutan.

.

.

Mereka berjabat tangan.

"Nickhun."

"Kyuhyun. How are you?"

"Baik." Pria berkebangsaan Thailand itu tertawa kecil. Matanya bersinar ramah.

Kyuhyun tersenyum. Rupanya kliennya ini fasih berbahasa Korea.

Hari ini Kyuhyun dikontrak kerja sama oleh sebuah biro luar negeri untuk proyek penelitian. Penelitian itu diberi nama Proyek Haigas yang membuat riset tentang rumah tradisional korea atau biasa disebut Hanok.

'Lagi-lagi SM. Kapan JOY bisa seperti ini?' batin Kyuhyun.

Sudah beberapa kali dia mengikuti kegiatan riset, tapi belum ada satu riset pun yang dirasa mempunyai format yang jelas. Dia sedang mencari format terbaik yang akan dia terapkan pada JOY nanti. Selama ini JOY sering try and error. Hal itu cukup membawa kerugian.

Kyuhyun mengamati siapa saja yang hadir dalam forum itu. Arsitek, sejarawan, antropolog, budayawan, sosiolog, dan pakar sejarawan lokal. Komposisi yang cukup meyakinkan. Menunjukkan sebuah riset yang hebat.

Kyuhyun terkejut bukan main melihat siapa yang ada di samping Nickhun dan mengaku sebagai istri Nickhun. Dia satu-satunya yeoja dalam kelompok riset itu.

Victoria!

Yeoja itu terlihat semakin cantik. Semakin berkarakter seiring dengan pertambahan usianya. Kyuhyun merasa sedikit gugup.

(Sejenak bayang-bayang masa lalu melintas. Hanya selintas datang dan kemudian melintas pergi.)

Vic menatapnya tajam. "Apa kabar, Hyunie?" tanyanya setelah selesai meeting.

Panggilan itu pun masih sama. Hanya Vic yang memanggilnya seperti itu.

"Baik. Selama ini kau tinggal dimana?"

"Lebih sering di Thailand."

"Aku senang kau sudah menikah. Kelihatannya kau bahagia. Kuucapkan selamat."

Vic tersenyum masam. "Terimakasih. Kabarnya kau sudah memiliki anak?"

"Begitulah. Anakku dua, tapi yang pertama sudah meninggal saat masih bayi."

"Wow, cukup produktif."

Bagi yeoja seperti Vic, jumlah anak lebih dari satu baginya sudah menakjubkan.

Vic memperhatikan Kyuhyun yang tidak memegang gelas. "Kau tidak minum? Ternyata kau masih seperti dulu, anti minum saat sedang bekerja."

"Yah... maaf, aku harus pergi."

"Hyunie..."

"Ya?"

"Aku senang bisa bertemu lagi denganmu."

Kyuhyun mengangguk. Meneruskan langkahnya.

Diam-diam Vic tersenyum misterius.

.

.

Dari SM, Kyuhyun menuju JOY untuk asistensi tugas. Kebetulan Sungmin belum pulang, jadi dia sekalian menjemputnya.

Setibanya di sana, ternyata Sungmin masih menerima tamu di ruangannya. Kyuhyun mampir dulu ke studio, memberi asistensi seperti biasa. Kemudian berdiskusi dengan anak-anak JOY, menerima curhat-curhat mereka. Dia akan memberi beberapa masukan untuk mereka pertimbangkan. Setengah jam kemudian Sungmin datang ke ruang itu, setelah menyelesaikan semua pekerjaannya dan siap untuk pulang. Kyuhyun menoleh, tersenyum.

Mata mereka bertemu.

(Pandangan mata itu, pikir anak-anak, seperti seorang pangeran melihat bidadarinya datang. Lembut, berbinar. Tetapi begitu dalam, begitu fokus. Sepertinya tidak ada orang lain yang perlu lagi dilihat.)

Anak-anak mulai berdehem. Keduanya sedikit tersipu.

"Baiklah, kami pulang dulu." Kyuhyun menyalami anak buahnya satu per satu. Memberikan spirit kepada anak-anak yang berniat lembur malam itu.

Di perempatan lampu merah. Sungmin terlihat serius dengan tabletnya. Memeriksa sesuatu. Hingga pada akhirnya dia iseng membuka sebuah artikel dengan judul yang membuatnya tertarik. Sebagian Besar Eksekutif Berselingkuh. Begitu bunyinya. Kyuhyun melirik sekilas kemudian mencibir. "Artikel seperti itu dibaca. Sama sekali tidak bermutu."

"Merusak konsep diri seseorang ya, Kyu?" Sungmin tertawa geli.

"Membuat orang split personality."

"Sekali-kali tidak ada salahnya membaca artikel seperti ini. Aku tidak akan terpengaruh," ucap Sungmin tenang. "Kyu, dengarkan, ya. Ciri-ciri eksekutif yang selingkuh."

Apakah pasangan Anda mulai melakukan hal-hal seperti di bawah ini?

Sering pulang larut malam atau pulang pagi,

Sering keluar kota padahal sebelumnya tidak pernah,

Pasokan bulanan berkurang,

Suka berdandan berlebihan,

Sering menerima SMS atau telepon secara sembunyi-sembunyi,

Terlihat seperti menyembunyikan sesuatu,

Dia menjadi dingin atau sebaliknya, dia menjadi lebih mesra dari sebelumnya.

Nah, kalau ciri-ciri tersebut ada pada suami atau istri Anda, maka waspadalah!

Kyuhyun hanya mencibir. Sementara Sungmin tertawa geli. "Sebagian besar eksekutif selingkuh. Lihat, Kyu, perbandingannya tujuh puluh dibanding tiga puluh. Yang penting kita masuk yang tiga puluh ya, Kyu?"

Kyuhyun hanya tersenyum masam.

"Oh ya, setelah ini aku mau reuni dengan teman-teman kuliahku dulu."

"Dimana?"

"Saphire Blue."

"Di kafe? Kenapa tidak di kampus? Atau di gedung, mungkin? Memangnya berapa angkatan?"

Kyuhyun tertawa kecil. "Hanya berempat. Ya... teman akrablah. Kabarnya mendadak. Baru tadi pagi. Kebetulan semua sedang di Seoul."

"Kalau tahu seperti ini, kau tidak usah menjemputku tadi. Biar aku naik taksi saja."

"Hanya sebentar."

Akhirnya keempat sahabat itu pun bertemu. Cukup mengharukan. Ternyata hanya Kyuhyun yang membawa 'istri'. Sungmin harus tahu diri. Dia pun permisi dengan alasan belanja di supermarket seberang jalan.

.

.

"Lama sekali, ya? Maaf."

"Kalian membicarakan apa, sih? Katanya sebentar. Tahu seperti ini, aku pulang sendiri. Sekarang pasti sudah sampai rumah." Sungmin sibuk mengomel.

Kyuhyun tertawa. "Aku juga tidak menyangka kami akan bercerita banyak. Lama tidak bertemu. Dan ternyata, semua sudah menjadi orang hebat. Selain menjadi arsitek, mereka juga punya sambilan. Changmin, punya perusahaan properti. Minho, punya biro dua, di Busan dan Jepang. Jonghyun, broker yang diperhitungkan. Sepertinya hanya aku yang sedikit ketinggalan."

"Kau tidak cerita tentang JOY?"

"Cerita, tapi aku lebih merasa kalau JOY itu karyamu, bukan aku."

Sungmin menoleh heran. "Kenapa kau berfikir seperti itu? Itu ide kita."

"Ya, tapi ide awalnya kan darimu."

"Tapi..." Ah sudahlah. Percuma berdebat dengan Kyuhyun.

"Ada juga yang kabarnya tidak terlalu bagus. Jonghyun, baru saja bercerai."

Sungmin menoleh, sedikit kaget. "Cerai?"

"Iya."

"Mereka punya anak?"

"Tiga. Yang sulung ikut dia. Dua yang kecil ikut eommanya."

"Selalu saja anak-anak yang menjadi korban."

"Itu sudah jelas. Dia yang lebih dulu menikah, dia yang lebih dulu memiliki anak, dia juga yang lebih dulu bercerai."

"Dia cerita masalahnya?"

Kyuhyun menggeleng. "Kelihatannya masalah klasik, ketidakcocokan. Dia bilang, karier, uang, dan segalanya tidak lagi berarti apa-apa kalau rumah tangga tidak bahagia."

Keduanya terdiam.

"Seperti apa ya, rasanya bercerai?" Sungmin menggumam.

"Katanya... sangat pedih."

Sungmin tercenung.

"Payahnya lagi, dia masih sangat mencintai istrinya. Sudah membuka hati untuk orang lain katanya."

"Ya sudahlah. Pasti ada pelajaran yang bisa mereka ambil."

Seperti apa rasanya bercerai? Sungmin benar-benar tak berani membayangkan!

.

.

Donghae dan Jungmo melangkah memasuki kantor SM. Interiornya terlihat sangat elegan. Orang-orang dengan mutu internasional ada di sini.

Kapan JOY bisa seperti ini? Donghae membatin.

Tapi dia merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada pancaran aura dingin, asing, angkuh, tidak manusiawi. Jauh dari kesan hommy. Sangat berbeda dengan suasana JOY yang hangat dan penuh keakraban. Atau memang seperti ini yang namanya kantor besar?.

Beberapa anak JOY kenal baik dengan orang-orang SM. Selain karena sama-sama rekan kerja Kyuhyun, mereka juga sering bertemu di forum-forum arsitektur.

"Hai, Junsu!"

"Eh, Donghae. Apa kabar?"

"Baik."

"Mau bertemu Pak Kyuhyun, ya? Sudah janjian?"

Tepat saat itu Kyuhyun keluar dari ruangannya.

"Junsu, kami akan ke lokasi dulu. Mau ikut?"

Junsu melihat jam. "Boleh."

Mereka berempat memasuki mobil Kyuhyun.

"Bagaimana perasaanmu Jungmo, melihat karya pertamamu akan dibangun?"

Jungmo tidak menjawab. Tapi wajahnya terlihat sumringah. Beberapa kali dia tersenyum sendiri.

Setibanya di lokasi, terlihat kesibukan pembangunan sebuah ruko. Pelaksanaan baru pada tahap awal, baru fondasi. Mereka saling bertegur sapa dengan para tukang dan mandor. Tiba-tiba ada seorang wanita datang ke tempat itu mencari Kyuhyun.

Vic? Kyuhyun sangat terkejut.

"Darimana kau tahu aku ada di sini? Mau apa?"

Vic melepas kacamata hitamnya. "Ada yang perlu kubicarakan. Penting."

"Kalau ada perlu, kau bisa menungguku di kantor."

Vic hanya tersenyum.

Donghae dan Jungmo saling berpandangan, sementara Junsu pura-pura tidak melihat.

Perasaan Kyuhyun menjadi tidak enak.

.

.

TBC

PS : Kekeke mumpung mood saya sedang baik. Pengen buru-buru ngelarin ini biar nggak ada beban :3. Terimakasih masih ada yang mau menyemangati dan mengapresiasi tulisan ini, keke, meskipun terasa benar-benar drastissss, haha, saranghaeeeee 3. Ah... ya, saya mengurangi penggunaan kosa kata bakornya, hanya untuk beberapa poin saja masih digunakan, entahlah... sekarang saya lebih nyaman seperti itu, mohon dimaklumi ^^.

Haifa : Kekeke makasih juga untuk semangat dan apresiasinya ^3^. Hehe chapter kemaren kurang baku, ya? Terlalu hanyut sama bahasa novelnya kaya'nya, semoga chap ini lebih baik. Fighting!

Raya137 : Keke akhirnyaaaa :3. Kyu lagi cemburu tapi sok acuh, hoho #towel2. Terimakasih untuk reviewnya ^3^.

Ovallea : Saya juga T_T. Tapi ini demi kesejahteraan umat (?) #plak. Hehe nggak sampe' angst kok... happy ending pula, baca terus aja :3. Terimakasih untuk reviewnya. Hwaiting! ^3^

PumpkinEvil137 : Aihh... makasih untuk komentar2nya :3. Hehe saya bukan tipe2 pemarah kok, apalagi untuk masukan seperti itu. Tapi masalahnya... nanti akan ada banyak 'Pak' dicerita ini, dan saya bingung nanti manggilnya seperti apa TT_TT. Kalau ada solusi silahkan utarakan, saya akan menerimanya dengan lapang dada ^^. Cerita ini lumayan konfliknya, jadi ya... hehe, terutama chap ini, biang masalahnya muncul :3. Terimakasih untuk semangat, doa dan revewnyaaaa, semangat! ^3^

Cacing : Fufufu aku akan selalu mengenalmuuu :3. Ngasih semangat apa ngatain, sih? -,- #timpuk. Mau dapet peran apa? Ulat-ulat merayap?. Makasih reviewnya ya adikku cantiiiik ^3^.

Zagiya : Mwehehe maafkan tangan saya yang khilaf ini :3. Ini next-nya... semoga suka. Makasih untuk reviewnya ^3^.

Abilhikmah : Makasih ya untuk reviewnya ^3^.

Big thank's to:

Haifa, Raya137, Ovallea, PumpkinEvil137, Cacing, Zagiya, Abilhikmah

Semua yang sudah follow/favorit dan semua yang sudah berkenan membaca walaupun tanpa sengaja ^^

#bow

Sampai jumpa di chapter selanjutnya, saranghae ^^.