"Darimana kau tahu aku ada di sini? Mau apa?"
Vic melepas kacamata hitamnya. "Ada yang perlu kubicarakan. Penting."
"Kalau ada perlu, kau bisa menungguku di kantor."
Vic hanya tersenyum.
Donghae dan Jungmo saling berpandangan, sementara Junsu pura-pura tidak melihat.
Perasaan Kyuhyun menjadi tidak enak.
.
.
Pair : KyuMin
Cast : Kyuhyun, Sungmin and Other Cast
Rate : T
Genre : Drama, Romance
Length : Chaptered
Warning : Ini ff Remake dari novel lama karya Ari Nur dengan judul yang sama, 'Dilatasi Memori'. Ada beberapa bagian yang saya rubah dengan menambahi atau mengurangi porsi cerita, agar sesuai dengan apa yang diinginkan. Mengingat ini novel straight dan saya mengubahnya menjadi BL, maka mohon dimaklumi jika menjadi sedikit aneh ^^. BXB, M-preg, typo (s).
Summary : Ketika cinta dikhianati, apa yang akan terjadi? Ketika ketulusan disalahartikan, akankah kesetiaan dipertahankan? Kisah cinta mereka tengah diuji!.
Disclaimer : Cerita ini milik Ari Nur. Tapi, seluruh tulisan ini milik saya. Saya hanya meminjam nama-nama orang yang saya cintai ini semata-mata demi kelangsungan cerita.
DLDR!
enJOY
.
.
Penelitian, sebuah investasi masa depan. Sungmin sangat menginginkannya. Dulu, di JOY pernah ada divisi ini tapi dibubarkan karena tidak ada dana. Dalam skala yang memadai, dana sebuh penelitian bisa senilai dengan biaya pembangunan rental office sepuluh lantai. Tapi jarang sekali ada investor yang mau masuk ke bidang ini. Mereka lebih memilih menginvestasikan dananya untuk commercial project, karena lebih menguntungkan, lebih menghasilkan dalam jangka relatif singkat.
Dan kini ada seorang pengusaha berkelas internasional bernama Nichkhun Buck Horvejkul yang menawarkan kerja sama penelitian kepada Kyuhyun dengan biaya dari perusahaan yang dimilikinya sendiri. Tapi Kyuhyun mengatasnamakan SM, bukan JOY. Hal ini tentu saja membuat Sungmin sangat iri.
"Kenapa bukan JOY yang kau tawarkan"
"Mereka datang ke SM."
"Iya, tapi yang diajak kerja sama kan kau secara individu. Mungkin mereka belum kenal JOY, makanya kau bisa menawarkan."
"Tidak etis, di kantor masa menawarkan perusahan lain."
"Kalau hanya soal tempat, kau bisa mengajak mereka keluar. Lunch, atau ke mana. Atau ajak saja sekalian ke JOY."
"Aku juga memikirkan itu, tapi kukira JOY masih belum mampu."
"Kan belum dicoba...! Kau sepertinya tidak percaya dengan anak-anak kita sendiri."
"Bukan hanya masalah kemampuan. Database tentang semua yang diperlukan dalam riset itu di SM sudah cukup lengkap. JOY belum ada sama sekali."
Itu hanya alasan. Sungmin menghela nafas panjang. Kadang ia merasa Kyuhyun lebih mementingkan SM daripada JOY.
"Terus terang, kalau seperti ini posisiku, aku jadi bingung juga. Di sisi lain, aku juga ingin mengajukan JOY, tapi orang lebih banyak mengenalku sebagai arsitek SM bukan JOY. Aku menyuruhmu menjadi pemimpin JOY, kamu tidak mau. Kan enak, kita bagi tugas seperti dulu. Aku di SM, kau di JOY. Di sana, apa pun yang kau mau, bisa kau putuskan tanpa harus menunggu keputusaanku. Enak, kan?"
"Kyu, Sandeul masih kecil. Aku takut terlalu sering meninggalkannya."
"Selalu Sandeul yang kau jadikan alasan."
Sungmin terdiam.
(Seharusnya dia merasa tersanjung. Lihat, betapa Kyuhyun sangat mendukung karirnya. Di saat yang lain ribut membicarakan suami yang tidak mendukung karir pasangannya. Tapi bukan itu yang Sungmin rasakan. Ia merasa Kyuhyun tidak memahaminya.)
"Tolong lebih rasional."
Mereka jarang bertengkar. Dan ketika bertengkar, menjadi sangat terasa sekali imbasnya. Sungmin sangat tidak suka pertengkaran. Ia memilih mengalah...
"Kyu, mian..."
Kyuhyun hanya mengangguk. Wajahnya datar. Tanpa senyum.
"Ah ya, kau mau mandi? Pakai air panas, Kyu?"
"Pakai tanya segala!"
Sungmin yang sudah turun emosinya, jadi panas lagi.
.
.
"Ming, bubur spesial."
Sungmin pura-pura tidak mendengar.
"Kau masih marah, ya, masalah penelitian tadi?" Kyuhyun menggoda. "Minnie Sayaaaang... kau terlihat sangat cantik jika sedang marah seperti itu. Persis... em..."
"Kau ini, ish!" diangkatnya bantal lantai itu. Hendak dilempar ke arah Kyuhyun.
"Eh, awas, nanti kena buburku!"
"Kapan Hwang ahjumma masaknya"
"Yang masak bukan Hwang ahjumma, tapi aku."
"Pantas kau tadi lama sekali di belakang. Sejak kapan kau bisa memasak? Apakah keadaan dapurku baik-baik saja? Aku harus segera memastikannya." Ucap Sungmin sambil beranjak berdiri. Tapi belum sampai berdiri tangannya sudah ditarik Kyuhyun untuk kembali duduk.
"Ish... kau sangat tidak percaya padaku. Dapurmu baik-baik saja. Sekarang cepat dicoba, mumpung masih hangat. Dijamin enak!"
Sungmin melirik jam dinding. Pukul 23.30. "Ah, masa makan malam-malam?!"
"Takut gemuk? Santai sajalah..."
"Kalau aku gemuk, kau juga yang cerewet."
"Ayolah... sekali ini saja. Kan tidak setiap malam. Aku suapin." Kyuhyun menyendok masakan buatannya itu dan menyodorkannya ke mulut sang belahan jiwa.
Akhirnya Sungmin menyambut suapan itu, lalu manggut-manggut. "Hmm... enak!" Jelas saja, dia buatnya dari bubur kemasan instan, lalu sosis, ayam, kornet semua dia masukkan... Sungmin tersenyum geli.
Kyuhyun tersenyum bangga, kemudian menyendok ke mulutnya sendiri. Lalu kembali ke mulut Sungmin. Begitu seterusnya hingga bubur satu mangkok itu habis.
"Kau tidak mengerjakan sesuatu? Pekerjaanmu kan banyak."
"Nanti saja..."
"Tumben."
Kyuhyun tidak menjawab, mengambil mangkok kotor untuk dibawa ke belakang.
"Kyu, biar aku yang mencucinya."
"Tidak perlu... untuk malam ini full service. Tuan arsitek kan sedang sibuk," ucapnya santai.
"Yah... baiklah, biar sekalian," gumam Sungmin tak kalah santai.
Beberapa menit kemudian Kyuhyun sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dan dia bukannya segera bekerja, malah duduk bertelekan lengan, menyender dinding.
Percakapan ringan mengalir begitu saja di antara mereka.
Suara Gloria Estefan mengalun membuaikan. Sungmin menyisir perlahan rambutnya dengan jari tangannya, dari depan menuju belakang. Tanpa sadar, Kyuhyun tengah menatapnya. Intensif, penuh muatan. Tanpa kedip. Disertai senyuman lembut di balik genggaman tangan yang menopang mulut dan dagu.
Dan Sungmin baru tersadar ketika waktu berlalu tanpa ada percakapan.
Kyuhyun terus menatapnya. Sungmin tetap pura-pura tidak tahu. Dia menikmati tatapan itu. Merasakan adanya radiasi cinta pada lapisan udara di sekitarnya. Kadang dia mendongak, pura-pura menanyakan sesuatu untuk megetahui apakah Kyuhyun masih menatapnya atau tidak. Dan dia mendapatkan mata itu tetap sama.
Seperti itu, berkali-kali.
Kyuhyun beranjak dari duduknya. Menghampirinya, hingga tak ada jarak di antara mereka.
"Minnie... Sayangku..."
Dengan lembut dan penuh hati-hati Kyuhyun meraih tubuh di depannya. Menuntunnya... mengajaknya mengarungi malam menggairahkan yang panjang.
(Perlahan, Sungmin merasa dibawa menyisir pinggiran sungai di kaki bukit nan menghijau. Pucuk-pucuk pohon cemara menari gemulai, tertiup dingin angin pegunungan. Di bawah kaki, lapisan lumut dan pakis begitu tebal, begitu nyaman. Sementara suara air gemericik, membeningkan hati.
Begitu sejuk.
Begitu tenang.
Begitu damai.
Betapa ia ingin selamanya berada di sana.)
Di luar, hujan tiba-tiba turun, tidak deras, hanya gerimis, membingkai dua hati dalam perasaan saling mencintai...
.
.
Hari itu, JOY kedatangan tamu penting. Seorang pengusaha properti bernama Jeong Ji Hoon meminta Sungmin untuk menjadi arsitek dalam proyek rencana pembangunan sebuah pusat perbelanjaan. Sungmin tentu merasa terkejut.
"Kyu, kau ya, yang merekomendasikanku?" tanyanya kepada Kyuhyun ketika Pak Ji Hoon sudah pulang.
"Lho?" Kyuhyun menggidikkan bahu. "Tidak. Beliau sendiri yang meminta."
"Kenapa aku? Kenapa bukan yang lain?"
Kyuhyun tertawa. "Kau ini, diberi kepercayaan kok malah tidak percaya? Bukankah ini proyek yang sangat kau impikan?"
"Entahlah, akan kupikirkan dulu."
.
.
Proyek sebuah pusat perbelanjaan? Shopping mall! Hm...
Sungmin tidak henti-hentinya takjub.
Dulu, sebelum mengenal arsitektur dan industrinya. Dia sangat membenci mall. Baginya, bangunan itu hanya wadah bersenang-senang bagi masyarakat hedonis yang butuh kompensasi atas sifat konsumtifnya. Ditambah lagi dengan stereotip mall yang identik dengan sesuatu yang negatif. Tapi ternyata, dibalik semua itu, ada skenario besar berimplikasi positif, baik bagi pemerintah maupun masyarakat.
Dengan perencanaan yang baik, hal-hal yang tidak diinginkan terjadi bisa ditekan seminimal mungkin. Sehingga nilai manfaatnya lebih besar daripada buruknya.
Lantas, mampukah dia? Mengapa Pak Ji Hoon begitu mempercayainya? Padahal, sebagai arsitek, dia belum terlalu banyak pengalaman. Lalu, bagaimana dengan Sandeul? Dia masih dalam masa emas pertumbuhan. Dia tidak mau karena pekerjaan, lantas sang buah hati terabaikan. Tapi, kapan lagi kesempatan ini datang? Lagi pula, sebuah kepercayaan dari klien harus dihargai dengan sebaik-baiknya.
Ini merupakan proyek bangunan tunggalnya yang ketiga.
Hingga larut malam, Sungmin masih sibuk menimbang-nimbang.
.
.
"Kyu..."
Kyuhyun menoleh. "Bagaimana sudah diputuskan?"
Sungmin menunduk.
"Hm?"
"Aku masih memikirkan Sandeul."
"Ya sudah. Kamu tanyakan saja padanya. Boleh tidak Papanya mengerjakan proyek?"
"Kau ini. Anak kecil masa ditanya seperti itu?"
"Eh... coba dulu."
Sungmin merengut kesal.
.
.
Ternyata, dua minggu kemudian, sang klien datang lagi. Dan untunglah, Sungmin sudah menentukan jawabannya. Dia akan merancangnya berdua, dengan salah seorang yang ditunjuk. Hal itu sudah dia diskusikan semalam dengan Kyuhyun.
"Kyu, bagaimana kalau aku join dengan Hongki?"
"Jangan. Kurasa dia jangan diberi proyek sebesar itu dulu."
"Donghae?"
"Proyeknya yang sekarang selesainya masih lama."
"Kalau Ryeowook?"
"Hm... boleh juga. Proyeknya sudah hampir selesai, kan?"
Sungmin mengangguk. "Coba kalau kau tidak ikut proyek penelitian itu, kita bisa mengerjakannya berdua."
"Oo... jangan, paling-paling nanti aku yang mengerjakan," goda Kyuhyun yang langsung disambut dengan cubitan sang 'istri'.
Pak Ji Hoon datang bersama dua orang asistennya. Seorang namja yang masih muda dan seorang yeoja. Alasan Pak Ji Hoon memilih Sungmin karena melihat hasil rancangan Sungmin yang memiliki desain unik. Bangunannya tidak terlihat megah dan mononjol. Tapi entah kenapa, seperti ada perasaan nyaman sehingga orang ingin datang dan betah berlama-lama.
"Saya pikir, kalau saya membuat mall yang di rancang oleh Pak Sungmin, akan ada banyak pengunjung yang datang."
Pak Ji Hoon juga menerangkan sistem manajemen bisnis yang akan dia terapkan nanti.
"Baik Pak Sungmin dan Ryeowook-ssi, saya percaya pada Anda berdua. Oh ya, masalah rancangan struktur, Pak Sungmin tidak perlu khawatir, saya sudah menghubungi beberapa konsultan. Mungkin minggu depan sudah ada hasilnya. Nanti kita atur jadwal pertemuannya."
Sungmin mengangguk. "Terimakasih atas kepercayaan anda, Pak. Kami akan berusaha memberikan yang terbaik."
Percakapan itu pun diakhiri dengan penandatanganan kontrak.
.
.
"Sayang, Papa punya cerita baru."
"Apa, Pa?"
"Sini, Sayang sambil tiduran!" Sungmin membaringkan tubuh Sandeul dan membungkusnya dengan selimut. "Pakai bantalnya, ya...!"
Sandeul menuruti semua perintah itu sambil terus memandangi sang Papa. Matanya menyorot ingin tahu. Dia selalu penasaran dengan kata 'cerita baru'.
"Ceritanya... Papa punya sebuah proyek. Dengar ya... Papa mau membuat shopping mall!"
"Copimol apa, Pa?"
"Itu, yang kita belanja kemarin. Yang Sandeul naik troley. Yang naik kereta dorong itu. Ingat?"
Sandeul mengangguk.
"Kalau Papa berhasil membuatnya dan bagus. Papa akan membuat banyak orang lain bahagia. Tapi kalau hasilnya jelek, nanti gedungnya bisa ambruk. Papa akan membahayakan nyawa orang banyak, Sayang."
Sungmin tahu, Sandeul belum sepenuhnya mengerti apa yang dia bicarakan. Tapi dia membiasakan Sandeul untuk terbawa dengan suasana narasi. Di mana dia akan merasa nyaman dengan cerita. Baiasanya, kalau sudah seperti itu, Sandeul akan tertidur. Ternyata kali ini tidak. Mata bening itu mengerjap-ngerjap mengikuti alur cerita, berusaha untuk mengerti. Sementara tangannya mengusap-usap pipi, rambut, dan hidung sang Papa.
"Makanya, Sandeul harus membantu Papa. Sandeul mau kan bantu Papa?"
"Yah!" Sandeul mengangguk mantap.
"Sandeul janji tidak rewel?"
"Yah!"
"Oke, sekarang Sandeul bobo, ya!" Sungmin membenarkan letak selimut Sandeul dan mengecup kening putranya itu dengan sayang.
.
.
Merancang tentu membutuhkan refrensi. Tapi, hanya melihat dari buku atau internet tentu saja tidak cukup. Perlu ada yang disebut rasa ruang, yakni merasakan langsung dimensi dan pengalaman yang diberikan oleh sebuah ruang. Jadilah dia memiliki agenda survey mall, kalau perlu, semua mall yang ada di seluruh Seoul. Asyik juga, sekalian jalan-jalan.
Kyuhyun dengan setia mengawalnya selama Ryeowook tidak bisa ikut. Tapi kadang, Sungmin harus sabar mendengar komentar Kyuhyun terhadap desain bangunan yang sedang mereka kunjungi. Komentarnya jarang yang positif.
"Mengkritik memang mudah. Coba kalau kita sendiri, belum tentu bisa!"
"Itu kan kau!" timpal Kyuhyun tenang.
Sungmin cemberut, "Ish, sombong!"
Kali ini mereka mengunjungi sebuah mall yang berada di pusat kota Seoul. Setelah memarkir mobil di basemen, mereka keluar dari bangunan itu. Lalu berdiri di seberang jalan untuk mengambil jarak pandang yang tepat. Mereka lupa membawa kamera. Akhirnya, mereka hanya memotret lewat ponsel. Setelah selesai, mereka pun melangkah masuk.
Sungmin baru merasakan benar bahwa bangunan komersial memang memiliki karakter yang berbeda dengan bangunan lain.
Mereka terus berjalan, mengamati sekitarnya, sambil sesekali mengarahkan ponselnya pada sesuatu yang dianggap penting. Sepanjang perjalanan itu pula Kyuhyun tidak berhenti memberikan kritikannya. Sambil mendengarkan Kyuhyun yang semakin sibuk mengkritik, sesuatu tiba-tiba terbesit dalam benaknya.
.
.
Sebenarnya, Sungmin lebih senang bekerja saat Sandeul sudah tidur. Tapi, sang permata hatinya itu ternyata begitu serius menanggapi ketika Sungmin bilang bahwa dia harus "membantu Papa". Padahal yang dimaksud membantu adalah dengan tidak mengganggu konsentrasinya.
Di sisi lain, dia ingin melatih Sandeul untuk "menjadi orang sibuk". Bahwa hidup adalah untuk bekerja dan memberi, bukan untuk santai dan bersenang-senang. Yah, mungkin dia bisa sedikit "diberdayakan"...
"Sayang, tolong ambilkan penggaris!"
Sandeul segera berlari. Dan kembali dengan benda yang dibutuhkan.
"Terimakasih, Sayang."
"Apalagi, Pa?"
"Ambilkan pensil di rak itu."
Tangan mungil itu menggapai sebuah tabung plastik yang berisi pensil, rapido, jangka, sablon, dan sebagainya. Tiba-tiba ... Prak! Karena tidak sampai, dia menyenggol tabung plastik sehingga menggelinding ke lantai. Seluruh isinya berhamburan.
Aduuuh...! Sungmin mengeluh, menghampirinya. Ini bukannya mempercepat pekerjaan, tapi malah sebaliknya. Tapi dia tetap berusaha tersenyum. Apalagi ketika melihat mata bening itu menatapnya dengan cemas, takut dimarahi.
"Tidak apa-apa, Sayang. Ayo, sekarang dimasukkan lagi."
Sandeul tersenyum gembira. Dengan semangat, dilaksanakannya intruksi sang papa. Setelah selesai dia menundukkan badannya, "Maaf, Papa."
"Iya, Papa maafkan. Lain kali hati-hati... kalau tidak sampai, naik pakai kursi, ya."
Sandeul mengangguk, lalu meminta tugas berikutnya. "Apalagi, Pa?"
"Em... bilang sama Hwang Ahjumma di belakang. Papa minta tolong buatkan teh. Sandeul juga boleh kalau mau.
Sandeul mengangguk.
"Bilangnya yang bagus, ya!"
Selesai tugas itu, Sandeul minta tugas berikutnya.
"Tugas Sandeul sudah selesai. Terimakasih. Sekarang, Sandeul bobo, ya?"
"Cilo. Deulie mau membantu Papa." Tangan mungilnya menggapai pinggiran meja. Dia berjinjit, dagunya terangkat sementara matanya berkedip-kedip, berusaha mengetahui apa yang ada di atas meja.
"Papa sedang membuat apa?"
"Membuat gambar, Sayang."
"Gambal copimol?"
"Iya, pintar." Sekelebat ide melintas di kepala Sungmin. "Sayang, Papa minta tolong buatkan gambar, ya! Em... buatkan... gambar rumah kita. Please!"
"Cilo! Deulie mau membuat gambal copimol juga sepelti Papa."
(Lihat, si pintar berinisiatif! Bukan berarti dia tidak patuh pada perintah. Tapi ruang jiwanya sungguh luas, ruang bebas intervasi. Ruang jiwa tempat tumbuh kembangnya tanaman kreatifitas. Tapi awas, tanaman akan layu ji tersiram oleh doktrinasi.)
Rani menyesali doktrin kecilnya tadi. Kenapa dia ikut menentukan bahwa yang digambar harur rumah?
Di pojok ruangan, Sandeul tengah berkubang dengan kertas, crayon, pensil warna, spidol dan lain-lain. Sungmin tersenyum. Kini dia bisa sedikt tenang. Dia sendiri bingung mau mulai dari mana. Belum ada ide. Sindrom umum yang dialami para perancang saat mengawali pekerjaannya. Sebenarnya, pekerjaan perancangan belum dimulai, baru pekerjaan perencanaan. Pengukuran di lapangan baru di mulai minggu ini. Maka, dia mengisi waktu dengan melihat-lihat refrensi di majalah dan buku-buku.
Sungmin beranjak sejenak untuk "asistensi" asisten kecilnya. Dia ingin tahu apa yang digambar Sandeul.
Tentu saja hanya gambar bulat, kotak-kotak, dan segitiga. Tapi tunggu! Gambar itu... sangat utuh. Titik permulaan dari goresan pertama bersambung dengan titik ujung dari goresan terakhir. Gambarnya sudah bukan benang kusut lagi. Menggoreskannya pun dengan cara yang halus, tidak serabutan.
"Ini apa, Sayang?" Telunjuk Sungmin mengarah ke salah satu gambar yang berbentuk bulat.
"Copimol."
"Yang ini?"
"Lumah Deulie."
Sungmin mencoba menelusuri alur imajinasinya.
(Jangan sekali-sekali membiarkan imajinasi seorang anak terpangkas. Imajinasinya lebih tinggi dari gunung dan lebih dalam dari lautan. Jangan sampai masa indah itu hilang karena bisa jadi dia tidak akan pernah mengalaminya lagi. Karena dia akan menjadi orangtua yang penuh dengan segala batasan yang terkadang dibuat-buat sendiri.)
Akhirnya kegiatan gambar-menggambar itu selesai. Sandeul sudah bosan.
Sungmin mendudukkan Sandeul di pangkuannya. "Terimakasih, Sayang. Sandeul pintar sudah membantu Papa hari ini. Tapi tugas Sandeul sudah selesai. Sekarang, Sandeul bobo, please!"
Sandeul menggeleng, membuat Sungmin mulai pusing.
"Ya sudah, Sandeul duduk di sini saja, ya. Istirahat."
Sandeul didudukkan di kursi sampingnya.
"Itu namanya apa, Pa?"
"Oh, ini? Gambar denah."
"Gam-bal de-nah." Sandeul tidak takut mencoba mengucapkan kata-kata baru dengan cara mengejanya. "Itu?"
"Gambar tampak."
"Gam-bal tam-pak."
Sandeul terus-menerus bertanya. Itu untuk apa? Itu namanya apa? Kenapa seperti itu? Anak yang pintar. Sangat kritis. Tapi Sungmin menjadi tidak bisa konsentrasi. Lahi-lagi dia harus memutar akal.
"Ah, begini saja. Sandeul ikut membuat gedung. Pakai lego. Bagaimana?"
Mata bening itu berbinar. Lalu kepalanya mengangguk mantap, "Yah!"
"Membuat apa, Pa?"
(Nah, kalau dia bertanya, baru berikan alternatif)
"Ya shopping mall juga. Sama seperti Papa."
Mata bening itu berbinar kembali dan kepalanya mengangguk mantap, "Yah!" Dia pun berlari ke kamarnya mengambil lego, lalu mulai bermain. Barulah Sungmin sedikit merasa tenang. Dia pun sudah mulai mendapat inspirasi. Tapi baru beberapa menit...
"Papa... cudah!"
Sungmin terpaksa menghentikan lagi pekerjaannya. Mengamati "bangunan shopping mall" milik Sandeul.
"Wah... bagus sekali. Anak Papa memang yang terbaik. Tapi, tempat parkirnya mana?"
"Oh." Sandeul berlari ke kamar, mengambil beberapa mobil-mobilan kecil, lalu menatanya di depan bangunan itu. "Di cini, Papa."
"Oke. Terus, tempat untuk belanja, mana?"
"Ini."
"Kalau gudangnya?"
Sandeul mendongak bingung. "Gudang apa, Pa?"
"Itu, tempat menaruh barang-barang."
"Beyum ada."
"Ya sudah, Sandeul terusin lagi, ya. Papa tolong dibuatkan juga restoran, toko buku, pos satpam..., terus apa lagi, ya? Apa sajalah terserah Sandeul."
"Cama luma bapak pleciden ya, Pa?"
"Itu juga boleh." Sungmin tersenyum geli.
Diberikan tugas sekalian banyak. Agar durasi "Papa cudah"-nya bisa lebih lama. Sekarang, barulah Sungmin bisa sedikit lebih tenang.
Sungmin kembali melanjutkan alur pikirannya yang terputus. Mungkin... membuat skenario ruang terlebih dahulu. Lalu membuat matriks atau program ruang. Atau... membuat skenario pembentukan massa.
Glassblock atau blackblock? Sungmin cenderung blackblock, kotak hitam, tersembunyi, tak terbaca. Desain seperti keluar dari kotak sulap yang ajaib. Imajinatif. Sulit diikuti jejaknya dan tiba-tiba hasilnya sudah jadi. Tapi kali ini dia harus menggunakan metode glassblock, eksplorasi desain secara transparan dan bisa diikuti jejaknya, karena dia harus berhadapan dengan klien.
Sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dalam perancangan adalah bagaimana menciptakan image atau citra bangunan yang sesuai sehingga bisa menarik pengunjung, tetapi tidak terkesan arogan. Ingat citra bangunan komersil. Ini dia tugas arsitek!
Alur pikiran Sungmin semakin mengelana...
Hingga ke ujung langit...
"Papa cudaaaaah!"
Sungmin tersentak. Imajinasinya seketika buyar. Dilihatnya lantai itu sudah penuh. Sandeul mendongak minta pujian.
"Bagus! Very good!"
Sandeul tertawa senang. Kali ini dia tidak meminta tugas lagi. Dia asyik menerapkan "pemikiran-pemikirannya" lagi.
Sungmin kembali merenung. Pembentukan massa... hm, lagi-lagi tidak ada ide. Suara Sandeul yang sedang berbicara sendiri menarik perhatiannya. Iseng, dia memperhatikan hasil karya sang permata hati. Balok-balik itu... aha!
Sungmin memperhatikan balok-balok itu lebih cermat. Entah apa yang ada dalam pikiran Sandeul sehingga dia menyusun balok-balok itu menjadi bentuk seperti itu. Sungmin membuat interpretasi sendiri. Massa tunggal... dipecah-digabung.. ditambah-dikurangi... horisontal-vertikal... Sungmin menatap takjub.
"Sandeul... terimakasih, Sayang. Sandeul sudah membantu Papa dengan sungguh-sungguh."
"Ya, cama-cama." Sandeul mengulurkan tangan, menyalaminya. Formal. Dia pernah melihat Appa-nya melakukan itu.
(Jangan pernah bilang kepada anak, "Jangan ganggu ..." dia sama sekali bukan oknum pengganggu. Dia hadir membawa pencerahan. Dia hadir membawa keajaiban.)
Tapi... ini sudah jam sepuluh malam. Belum pernah Sandeul tidur selarut ini.
"Sandeul, sudah malam, Sayang. Ayo tidur!" ini bujukan yang ketujuh kali. Sang asisten kecil rupanya tidak mau berhenti. Mungkin dia bangga karena merasa "terlibat".
"Cilo. Deulie mau membantu Papa."
Haduh... ternyata mau ikut begadang? Sungmin membuatkan susu agar mengantuk, lalu pergi ke kamar.
"Papa sudah lelah. Papa mau tidur. Sandeul ikut?"
Sandeul tahu, sang Papa mengelabuinya supaya tidur. Dia pun menggeleng.
"Papa mau membuat denah sambil tiduran. Punggung Papa pegal." Sungmin mengambil kertas yang dijepit hardboard. "Kaja, Honey! Papa akan ajarkan cara menggambar. Tapi, bereskan dulu mainannya."
Antara percaya dan tidak, Sandeul mengikuti sang papa memunguti kembali balok-balok itu. Mencuci kaki dan tangannya, lalu berjalan terhuyung ke kamar. Baru sebentar dia sudah tertidur. Wajahnya terlihat kelelahan.
Duh, malaikat kecilku... Sungmin mencium keningnya. Besok kau akan menjadi arsitek yang hebat. Menjadi penerus Appa dan Papa, ya, Sayang...
Dia merasa luar biasa lelah. Bukan lelah karena pekerjaannya. Dia belum menghasilkan apa-apa. Tapi lelah karena menahan sabar. Lelah bagaimana menjaga perasaan Sandeul agar tetap enjoy. Lelah menjaga jiwanya agar tetap sehat. Ternyata, bekerja sambil mengasuh anak, bukan perkara mudah.
Menggambar sambil berbaring di atas banyal yang empuk memang sangat nyaman. Bisa gawat kalau ketiduran. Untunglah, suara mobil Kyuhyun terdengar menderu memasuki halaman. Sungmin bangkit untuk menyambutnya,
"Wah... 'istri'ku yang cantik mau membuat shopping mall. Keren, nih!" sapa Kyuhyun ketika melihat kertas-kertas berserakan di meja kerja.
Sungmin kesal kalau Kyuhyun sudah mulai meledek.
"Nanti jangan-jangan desainnya lucu. Di beberapa sisi ada bangunan yang menyerupai kelinci. Lalu cat-nya berwarna pink. Banyak tempat bermainnya. Tapi sepertinya seru juga kalau seperti itu. Anak-anak dan remaja pasti senang. Oh ya, strukturnya diperhitungkan benar, ya. Nanti kalau roboh, kita akan repot. Kau bisa dituntut."
"Kalau aku masuk penjara, kau juga yang susah. Tidak ada yang menyiapkan makan, tidak ada yang menemani tidur..."
"Gampang! Aku bisa mencari pengganti secepatnya. Banyak yang mau denganku."
"Ishh... menyebalkan!"
Kyuhyun terkikik, berlalu ke kamar mandi.
.
.
Mereka melihat matriks di whiteboard. Di sana terlihat proyek yang sedang dikerjaka oleh setiap karyawan JOY, sehingga dapat diketahui mulainya dan kapan selesainya.
"Untuk drafternya, dua orang cukup tidak, Pak? tanya Ryeowook kepada Sungmin. Mereka sedang berunding untuk membentuk tim perencana.
"Lebih baik tiga orang. Hangeng, Heechul dan... siapa, ya?"
"Hyukjae atau Taemin?"
Sungmin melihat ke arah matriks kerja. Pekerjaan Hyukjae selesai tiga hari lagi, sedangkan Taemin masih seminggu lagi.
"Hyukjae saja. Lalu 3D max-nya?"
"Em, Doojoon mungkin, Pak. Estimatornya bisa Hyukjae."
"Yang membuat maket, Key dan Jonghyun. Mungkin Hangeng dan Heechul bisa membantu juga. Jadi, cukup, ya?"
Akhirnya, tim pun selesai dibentuk. Tapi, belum langsung bekerja karena harus melalui rapat umum. Kalau tidak disetujui, akan dibentuk tim lagi. Mereka pun membentuk satu tim alternatif sebagai cadangan.
"Pak, boleh saya bertanya?"
"Kenapa, Ryeowook-ah? Sungmin tersenyum santai.
"Bapak enak, ya. Pak Kyuhyun sangat mendukung karir anda."
"Memangnya pasanganmu tidak mendukungmu?" Sungmin tau kalau Ryeowook itu sama dengan dirinya.
"Bukan itu, Pak."
"Lantas?"
Ryeowook terdiam.
"Tidak perlu kamu ceritakan kalau itu masalah pribadi antara kalian. Justru kau harus merahasiakannya."
"Ini bukan sesuatu yang rahasia, Pak. Saya hanya... hanya..." Ryeowook kesulitan untuk mengungkapkannya.
Sungmin menjadi penasaran.
"... merasa ada keraguan dari dalam diri saya sendiri. Kalau sebuah pernikahan diibaratkan konser musik, seperti... tidak seirama."
Anak ini cerdas. Tidak mungkin dia mengatakan sesuatu yang tidak ada asal-usulnya. "Maksudnya?"
"Bukan hanya masalah kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan. Atau perbedaan dan persamaan karakter dengan pasangan kita, tapi lebih dari itu. Seperti, ada sesuatu... Bapak pasti mengerti maksud saya."
Sungmin tercenung. Mencoba mencerna lebih dalam.
"Dalam pernikahan, saya rasa tidak ada yang sempurna. Bukan hanya manusia-manusianya yang memang penuh kekurangan, tapi pola hubungan yang terbentuk itu juga yang sulit untuk menjadi sempurna. Ada banyak hal yang sulit untuk dipahami, seperti misteri. " Mata Sungmin menerawang, "Ada banyak dimensi yang turut serta di sana."
"Bapak... sudah melewati semua itu?"
"Sudah, tapi belum semua. Baru sebagian."
"Tanpa rasa cemas?"
"Tanpa rasa khawatir. Karena percaya bahwa semua memang telah ditetapkan seperti itu."
"Bagaimana kalau kami gagal melewatinya?"
"Pasti berhasil. Kau harus yakin dengan itu."
Ryeowook terdiam, kemudian tersenyum. "Terimakasih, Pak."
"Oh ya, lusa bisa survey ke lokasi?"
Ryeowook mengangguk. Wajahnya kini berbinar.
.
.
Survei lokasi dimaksudkan untuk melihat kondisi awal sebelum bangunan didirikan, termasuk bagaimana keberadaan lokasi dikaitkan degan kawasan sekitar. Kebetulan lokasinya memang strategis. Sungmin membetulkan letak topi proyeknya. Disampingnya ada Ryeowook yang menemaninya. Sementara beberapa orang drafter sedang mengadakan pengukuran dan pencatatan meskipun sebenarnya semua data sudah ada. Dua orang mengukur, satu orang mencatat, satu orang menggambar, dan satu orang memotret.
Sungmin mengamati peta di tangannya. Sebenarnya dia sedang gelisah. Berkali-kali dia menoleh ke arah jalan.
"Menunggu siapa, Pak? Pak Kyuhyun?" Ryeowook bertanya mengagetkan.
Sungmin tersenyum, sedikit tersipu. "Yah, begitulah."
Kalau memang tidak bisa datang, kenapa harus berjanji?
Sebenarnya bukan sekedar masalah datang atau tidak. Dia ingin Kyuhyun juga melihat lokasinya, sehingga akan mempermudah dalam proses perancangan nanti. Bagaimanapun desain yang akan dibuatnya tidak akan lepas dari pengawasan Kyuhyun.
Hingga semua pekerjaan selesai, Kyuhyun tetap tidak muncul. Sungmin menelepon ke kantor, untuk memberi tahu, tetapi Kyuhyun sedang tidak ada di tempat. Akhirnya, dia mengirim sms, report-nya pending. Akhirnya, dia menyerah. Bukan salah Sungmin jika Kyuhyun datang dan mereka sudah pulang.
.
.
"Bukankah sudah saya bilang, jangan menelepon ke kantor. Ini jangan sampai ketahuan siapapun."
"Lho, istri anda tidak akan tahu," terdengar suara wanita di ujung sana.
"Iya, tapi kalau semua orang di kantor tahu, ya sama saja. Kapan? Sekarang? Oke. Saya ke sana sekarang juga. Selamat siang."
Dia memang punya urusan penting. Yang hanya bisa dia lakukan selepas kerja. Atau di siang hari, di sela-sela waktu. Tidak berkaitan dengan JOY, tidak juga SM. Sesuat yang sangat menggairahkan.
Kyuhyun pun tersenyum, memacu mobilnya lebih cepat.
.
.
TBC
PS. Maafffff sekali atas keterlambatannya TT_TT. Untuk kali ini saya juga tidak bisa membalas review dari kalian semua, tapi saya sudah membacanya kok, dan itu menjadi semangat tersendiri buat saya.
Mungkin gegara ff ini terlalu berat kali ya, bukan konfliknya tapi ceritanya, jadi banyak yang takut/malas atau bahkan bosen buat baca, hehe.
Yasudahlah... selamat membaca semua... semoga berkenan, I love you all, mumumu :-*.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya, saranghae ^^.
