Mission Impossible

By : Angelina Scarlet

Disclaimer : Fairy Tail adalah milik Hiro Mashima-Sensei

Lucy berjalan santai menuju rumahnya dan tiba – tiba ada seseorang yang memakai jubah hitam menabraknya.

"hei! Berhati – hatilah jika berjalan." Yang kesal dengan orang yang menabraknya barusan.

"Fairy Tail, bersiap-siaplah untuk menghadapii kematian kalian." Ujar orang tersebut lirih.

"hah? Apa maksudmu?" tanya Lucy.

"hehehehehehe... kau juga akan tahu sendiri. Sampai jumpa" kata orang tersebut dan menghilang begitu saja.

"siapa dia? Dan apa yang dimaksud olehnya ?" gumam Lucy.


Chapter 3 : Welcome to Fiore Academy

Pagi itu cuaca sangat bagus, langit berwarna biru cerah dan suara burung terdengar dimana – mana. Dimana terlihat 4 orang gadis cantik menatap kagum sebuah bangunan yang tepat berada di depan mata mereka saat ini. Bangunan itu sangat besar dan mewah. Didepannya tertulis Welcome to Fiore Academy, sekolah terelit di kerajaan Fiore. Mungkin jika tidak ada tulisan tersebut orang tidak akan percaya bahwa itu adalah sekolah.

"wah..." ucap 4 orang gadis ini bersamaan.

"besarnya..."

"aku tidak menyangka ada sekolah sebesar ini sebelumnya."

"aku tidak tahu harus berkata apa."

Lalu disaat mereka masih menatap sekolah itu tiba-tiba berlari seorang gadis berambut biru panjang menghampiri mereka berempat.

"teman-teman kenapa kalian tidak masuk terus ?" katanya membuyarkan khayalan keempat gadis itu.

"ah ehm, yah kami sebenarnya sedang menunggumu." Jawab Lucy.

"lalu tunggu apa lagi, ayo masuk." Kata Erza yang langsung menarik tangan Lucy dan Mira mengikutinya memasuki gedung sekolah itu.

"ehm Wendy, aku ditinggal mereka." Kata Levy yang berdiri disebelah Wendy.

Di suatu tempat yang lain, yang keadaannya sangat berlawanan dengan ditempat tadi. Dimana cuaca sangat mengerikan dengan awan hitam pekat dan sesekali terdengat petir yang sangat keras dan terdapat menara yang menjulang tinggi. Didalam menara itu terdapat 2 orang berjubah yang serius menatap sebuah lacrima yang menampilkan aktivitas 5 orang gadis tadi.

"hehehehe sepertinya Fairy Tail sudah mulai bergerak ya, Brain-sama." Kata orang yang satu.

"ya kau benar, tapi kelima gadis itu tidak akan bisa menghalangi kita." Jawab orang yang lain yang bernama Brain.

"hahahahahahah." Tawa kedua orang itu.

"pertama-tama kita akan menuju ruang kepala sekolah dulu." Kata Wendy kepada 4 orang gadis di belakangnya.

"apa jauh dari sini ?" Tanya Erza.

"sebenarnya sedikit." Jawab Wendy

"nah, kita sudah sampai." Kata wendy menghadap sebuah ruangan yang tertutup.

"aku tidak menyangka perjalanan dari pintu gerbang ke ruang kepala sekolah akan sangat melelahkan seperti ini." Kata Levy yang terlihat kelelahan.

Tiba-tiba pintu itu terbuka sendiri.

"ichiya-sensei." Kata Wendy menunduk.

"mehn, siapa 4 orang yang berada di belakangmu itu, wendy ?" ucap seorang pria pendek dengan gaya yang sok cool pada Wendy dan langsung mengendus-endus Erza.

"apakah dia kepala sekolah ? benar-benar menjijikkan." Batin Erza.

Melihat sebuah aura kehitaman dibelakang Erza, Mira memutuskan berkata sesuatu padanya.

"ara-ara...Erza, tenanglah jangan sampai kau menghancurkan rencana kita dengan menghajar orang pendek ini." Katanya yang seperti berbisik pada Erza.

"tch." Gumam Erza ingin sekali dia merequip pedangnya dan membunuh Ichiya kalau saja dia bukan kepala sekolah.

"sensei, mereka ini adalah saudara sepupuku. Mereka pindahan dari Magnolia." Kata Wendy pada Ichiya.

"mehn, begitu ya. Kalau begitu ayo kemari kalian berempat." Kata Ichiya yang sudah kembali di depan pintu ruangannya dan mulai mengeluarkan pose khasnya yang aneh.

Setelah itu mereka memasuki ruangan itu kecuali Wendy yang menunggu diluar ruangan. Tapi ada sesuatu yang aneh, dia merasakan sebuah kekuatan sihir yang sangat besar baru saja lewat namun ketika dia melihat kebelakang aura sihir itu menghilang.

"apa itu ? sepertinya aku merasakan adanya sihir yang kuat." Batinnya.

Namun sayangnya ketika dia ingin mengeceknya pintu terbuka dan terlihat Erza dan yang lainnya di depan pintu itu.

"Wendy, tolong antarkan mereka ke ruangan kelas mereka masing-masing." Perintah Ichiya pada Wendy.

"baik, sensei."

Lucy dan yang lainnya melihat setiap ruangan yang ada disana dengan seksama sambil menuju ke ruang kelas mereka masing – masing dan tentu saja mereka diantar oleh Wendy dikarenakan mereka belum hafal dengan susunan kelasnya.

"jadi dimana kelas kita, apakah jauh ?" Tanya Mira.

"tidak Mira-san sebentar lagi juga sudah sampai." Jawab Wendy.

"hmph... kita dibagi kedalam kelas yang berbeda, hal ini akan menjadi hal yang menguntungkan karena memudahkan kita dalam pencarian." Kata Erza.

"ya kau benar Erza." Jawab Levy.

"jadi siapa yang di kelas 11-A?" tanya Wendy.

"aku Wendy." Jawab Lucy.

"wah! berarti kita sekelas ya Lucy-san." Kata Wendy.

"lalu kelas 11-B?"

"aku Wendy." Jawab Levy.

"11-C?"

"aku." Jawab Erza singkat.

"dan 11-D?"

"aku, Wendy." Jawab Mira dengan senyum khasnya.

"hei, stripper! Awas! Aku ingin berdiri disitu." Kata seorang pemuda berambut pink acak-acakan pada seorang pemuda berambut dongker di sebelahnya.

"enak saja kau flame brain! Mengusir orang seenaknya memang tempat ini milik nenek moyangmu hah ?" jawab pemuda berambut dongker tadi.

"hei, kau mengajakku berantem ya mata sayu ?" kata orang berambut pink menantang sambil menarik lengan bajunya.

"ayo, aku tidak takut denganmu mata sipit." Balas orang berambut dongker yang entah kenapa tiba – tiba saja melepas pakaiannya.

Dan akhirnya mereka berkelahi hanya karena memperebutkan tempat berdiri.

"ya ampun apa yang dilakukan oleh orang itu?" tanya Levy yang melihat dua orang lelaki barusan yang sedang bertengkar dan ditonton oleh orang – orang disekitarnya.

"oh, itu adalah Natsu Dragneel dia adalah salah satu target kita, fire dragon slayer. Dan yang satu lagi adalah Gray Fullbuster dia tidak pernah akur dengan Natsu-san dan selalu saja bertengkar sepanjang hari." Jawab Wendy.

"hal ini mengingatkanku pada guild." Kata Lucy.


Ting... ting... ting...

Di kelas 11-A

Di pagi itu suasana dikelas yang agak sedikit ribut karena perkelahian konyol antara Natsu dan Gray namun tidak lama kemudian masuklah Lahar-sensei untuk memulai pelajaran pertama mereka yaitu biologi.

"nah, anak – anak hari ini kita kedatangan murid baru lagi. Ayo silahkan masuk,nak."

Lalu masuklah sorang gadis berambut pirang dan para lelaki di kelas itu langsung saja terpana akan kecantikannya hingga sampailah ia di depan papan tulis.

"namaku Lucy Heartifilia, pindahan dari magnolia. Salam kenal." Kata Lucy ramah matanya melihat ke sekeliling kelas hingga iris karamelnya bertemu dengan onyx milik Natsu yang duduk di bangku pojok.

"ah! itu dia yah, sepertinya aku tidak kesulitan menemukan targetku." Batin Lucy.

Namun ada hal yang mengejutkanya yaitu sebuah tatapan yang agak sinis dari orang yang duduk disebelah Natsu. Menyadari hal itu, Lucy memberikan senyum namun dengan mata yang tidak kalah sinis pula.

"ternyata ada Fairy Tail disini." gumam orang itu ketika Lucy mulai duduk didepannya.

"sial! kenapa aku harus sekelas dengan orang brengsek ini." batin Lucy. Orang itu sebelumnya pernah menghajar Lucy ketika menjalankan misi mengumpulkan informasi tentang R-System namun untung saja Erza datang menyelamatkannya. Dan dia bertekad untuk membalaskan dendamnya suatu saat nanti.

"hei Sting, apa kau menyukainya ? dari tadi kau terus saja melihatnya." bisik Natsu pada orang itu.

"tidak. " jawab Sting ketus. "dan aku tidak sudi menyukai gadis lemah dari Fairy Tail itu." batinnya.

"yo luce, namaku Natsu Dragneel, salam kenal." Kata Natsu memperkenalkan dirinya kepada Lucy.

"ya, dan juga namaku Lucy." Jawab Lucy yang agak sedikit kesal karena Natsu salah menyebutkan namanya namun dia tidak memperlihatkannya.

"baiklah, silahkan buka bukunya halaman 100." Kata Lahar-sensei memulai pelajaran.

Di kelas 11-B

Di depan kelas telah berdiri seorang gadis bersurai biru ikal yaitu Levy. Saat ini ia sedang memperkenalkan diri sambil mengamati kelas tersebut namun betapa terkejutnya dia ketika matanya menangkap orang yang duduk di pojok kelas.

"Sabertooth! Mau apa mereka disini ? " Batinnya. Seketika ekspresinya berubah menjadi terkejut.

"sepertinya aku merasa pernah berjumpa dengan orang ini." Gumam orang yang duduk di pojok kelas itu begitu dia menyadari sedang diperhatikan oleh Levy.

"apa mungkin yang merencanakan R-System adalah Sabertooth ?" Tanyanya dalam hati.

"baiklah Levy silahkan duduk di bangku yang kosong itu." Kata Jura-sensei menyuruh Levy untuk duduk di sebuah bangku kosong.

Sementara itu di kelas 11-C

"namaku Erza Scarlet, salam kenal." Kata Erza memperkenalkan dirinya di depan kelas. Matanya melihat kesekeliling kelas dan menemukan orang yang sangat dikenalnya.

"Jellal! Apakah aku salah melihatnya ? benarkah itu dia ? " gumamnya.

"Erza ! " gumam orang bersurai azure dengan tato di wajah bagian kanannya yang diketahui bernama Jellal Fernandes.

Namun dibalik pertemuan yang tidak disangka itu seseorang menyeringai melihat Erza. Terlihat sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu.

"Erza Scarlet." Gumam orang tersebut.

Dan terakhir kelas 11-D.

"namaku Mirajane Strauss kalian bisa memanggilku Mira. Salam kenal semuanya." Kata Mira memperkenalkan dirinya dengan senyumnya yang sangat manis dan sama seperti rekan timnya yang lain diapun mengamati seisi kelas namun sepertinya dia tidak menemukan apapun.

Dan seorang pemuda berambut pirang yang memakai handset di telinganya terus memandang Mira dengan ekspresi malas.

"aura sihir orang itu cukup aneh." Batin Mira ketika dia melihat pemuda tersebut.


TING...TING...TING

Waktu istirahat tiba, kelima anggota Fairy Tail yaitu Lucy, Levy, Erza, Mira dan Wendy akan pergi menuju kantin namun tiba – tiba ada hal aneh yang terjadi pada Wendy, dia merasakan aura sihir yang sangat kuat disekitarnya seperti waktu di ruangan kepala sekolah dan memutuskan untuk mengikuti arah sihir itu. Tapi tangannya ditahan oleh Mira.

"Wendy! mau kemana?" tanya Mira sambil menahan tangan Wendy agar dia tidak pergi.

"tentu saja kearah sihir itu berasal. Apa Mira-san tidak menyadarinya?" Ujar Wendy setelah itu mereka berusaha untuk merasakan sihir yang dimaksud.

"percuma, aura sihir tersebut telah hilang." Kata Mira dan terlihat sedikit ekspresi kekecewaan di wajah Wendy.

"hnnn! Darimana ya asal sihir itu?" tanya Wendy dalam hati.

Dibalik tangga terdapat seseorang yang dilihat dari gerak – geriknya sepertinya sedang bersembunyi dia mengenakan pakaian sekolah yang sama seperti murid – murid di Fiore Academy lainnya dan dia menyeka sedikit keringat yang mengucur dari pelipisnya.

"untung saja aku cepat menghindar, sepertinya mereka bukanlah penyihir biasa."ujar orang itu dan ketika dia melihat ke sekitarnya dan setelah terlihat cukup aman dia menaiki tangga tersebut.

"hei ngomong – ngomong dimana Erza ya?" tanya lucy kepada 3 orang yang tengah bersamanya dan mendapati bahwa Erza tidak ada.

"tidak tahu, tadi aku kekelasnya dan dia tidak ada disana." Kata Wendy.

"hei kalian!" kata seseorang yang berlari dari ujung menghampiri Lucy dan yang lainnya.

"ah Erza! Dari mana saja kau?" tanya Mira masih dengan senyum khasnya.

"ini gawat! Musuh sudah ada disekitar kita dan mereka juga sudah tahu identitas kita masing-masing." Kata Erza.

"hah!?" ujar yang lainnya.


ERZA POV

Aku sedang membereskan mejaku dan akan menunggu teman – teman menjemputku untuk makan siang di kantin namun tiba-tiba seorang pemuda bertato di mata kanannya menghampiriku. Entah kenapa ketika dia mendekat aku merasa jantungku berdegub kencang.

"Erza." Katanya.

"ada apa Jellal?" sahutku.

"sudah kuduga kau itu Erza yang kukenal."

"ada apa?"

"Aku yang seharusnya bertanya padamu 'ada apa' sampai – sampai kau jauh – jauh datang kemari."

"bukan urusanmu." Lalu aku pergi melewatinya.

"hei! Aku belum selesai bicara!" tahannya. "apa yang kau dan teman-temanmu lakukan disini?" sambungnya.

"kan sudah kubilang bukan urusanmu! Lepaskan!" dan aku melepaskan tanganku yang dipegang olehnya.

"hehehehehe...sepertinya tempat ini sudah didatangi oleh sekelompok penyihir kuat namun berdarah dingin ya." Ujar lirih seseorang di pojok dekat jendela.

"apa maksudmu?" tanyaku padanya.

"jangan kau pikir kami tidak tahu Erza Scarlet! Kau adalah orang yang sudah berjasa membunuh banyak rekan kami kan." katanya "apa kau berencana untuk beraksi lagi disini? Tapi sayang, kau tidak akan bisa."sambungnya dia menyeringai kearah Erza dan Jellal.

"kau..." ucapku geram.

"sebaiknya kau berhati – hati, karena aku sudah mengetahui siapa saja rekanmu dan cepat atau lembat kami akan membereskan kalian." Lanjutnya.

"kau salah! Akulah yang akan pertama membunuhmu!" Ujarku. Kini aku sudah mengequip pedangku yang kuarahkan tepat didepan wajahnya.

"Erza! Jangan kau membuat keributan disini." Tahan Jellal dan dia langsung menarikku keluar.

Dia membawaku keluar menuju belakang sekolah dia melepaskan genggamannya dan bersandar pada dinding sekolah.

"huh... kau sudah benar – benar berubah, Erza." Ucapnya. Aku hanya diam mendengar ucapannya. "sejak kejadian hari itu kau sudah berubah menjadi pembunuh berdarah dingin." Lanjutnya.

"Huh..." desahku.

"sebenarnya apa yang selama ini kau cari ... membunuh banyak orang dengan pedangmu itu tanpa belas kasihan sedikitpun ?" Tanyanya. Dia menatapku dalam. Seperti sedang membaca apa yang ada di dalam kepalaku ini.

"aku ingin mencari siapa pelakunya dan membalas dendam." Jawabku lirih. Pikiranku kemudian terbang kemasa lalu dan aku sangat ingin menangis ketika mengingatnya kembali.

"tapi bukan seperti itu caranya! Bagaimana kalau aku-" Katanya.

"cukup! Aku tidak butuh bantuanmu." Kataku. Aku langsung pergi meninggalkannya dan pergi mencari teman – temanku.

"kau..." gumam Jellal saat melihat aku pergi menjauhinya. Aku sempat melihatnya sekilas namun entah kenapa tiba-tiba aku merasa adanya air yang mengalir dikedua pipiku.


NORMAL POV

Mereka semua terdiam mematung melihat Erza selama beberapa detik sampai Lucy memecahkan suasana kaku itu.

"ya ampun. Mereka itu kelompok seperti apa sih? Baru saja kita beberapa jam disini dan kita sudah ketahuan." Gerutu Lucy yang Terlihat kesal.

"tapi Erza-san, saat pembicaraanmu dengan orang yang bernama Jellal tadi apa maksudnya? Apa kau memiliki masalah dengan seseorang?" selidik Wendy yang sedikit memperhatikan Erza namun sepertinya yang diperhatikan tidak suka dilihat dengan cara seperti itu.

"bukan urusanmu." Jawab Erza ketus.

To Be Continue...

Baiklah selesai juga chapter 3. Sebelumnya saya ingin berterima kasih kepada Milamira karena sudah bersedia untuk memfollow fic ini dan juga para pembaca semua yang sudah mau membaca fic ini. Sebenarnya chapter ini sudah beberapa hari yang lalu siap namun berhubung kewajiban sebagai siswa yaitu tugas yang terus menumpuk membuat saya tidak sempat untuk update.

Di chapter depan mungkin akan ada sedikit adegan romance walaupun mungkin tidak terasa. Yosh, ikuti trus ceritanya ya.

Arigatou gozaimasu.

Ditunggu reviewnya