Disclaimer: All character belong to Tite Kubo. But this story purely mine. I don't take any profit from this work. It's just because I love it.

Warning: AU, miss-typo, OOC, DLDR, impliedIchiRukiRen

Enjoy reading!


.

Head Over Heels

by LastMelodya

.


.

Suara tawa, musik bertempo cepat, aroma alkohol dan tembakau yang menyengat.

Ichigo mengembuskan asap rokok yang dihirupnya, membaginya bersama ratusan entitas yang juga ada di sini. Menumpuk aroma menyesakkan itu sehingga aromanya semakin menyengat. Hawa pub semakin panas, suara tawa semakin liar, tempo musik semakin cepat, secepat bergantinya lampu neon warna-warni khas pub yang membuatnya sedikit pusing.

"Sudah berapa gelas, Ichigo? Jangan sungkan-sungkan, mumpung aku sedang baik. Tak biasanya, kan, Abarai Renji loyal begini dengan frienemy-nya?"

Seorang pria bertubuh kekar muncul di sampingnya. Rambut merah menyalanya terkuncir ke atas, menegaskan wajah yang keras dan tampan. Abarai Renji. Seseorang di balik pesta kecil ini, yang tengah merayakan promosi jabatan di kantor tempatnya bekerja dengan mentraktir teman-teman terdekatnya, termasuk Ichigo sendiri.

"Jangan coba-coba menantang Ichigo, Renji. Kelihatannya memang kalem, tapi kalau sedang sangar, lima botol pun habis sendirian." Suara feminim ikut menyahut diikuti dengan munculnya seorang gadis berbadan sintal di samping Renji. Rambut pirang yang bergelombang tertata rapi menutupi punggung terbukanya. "Dan kau, Ichigo, jangan bertingkah seperti introvert di tempat seperti ini."

Ichigo hanya mengerutkan alis menatap kedua teman menyebalkannya itu. Puntung rokoknya yang masih tersisa setengah ia surukkan ke dalam asbak. Kemudian, sebelah tangannya mulai mengambil gelas berisi wine yang sedari tadi tak ia hiraukan. "Kalian berisik."

"Omong-omong, kau sudah melihatnya, Ichigo?" Satu-satunya perempuan di kelompok ituMatsumoto Rangiku, kembali mengujar. Mata birunya menatap jauh ke direksi di depan mereka.

"Apa?" Ichigo membalas di antara sesapan wine-nya.

Rangiku merotasikan kedua matanya, "bukan apa, tapi siapa."

Ichigo yang tak mengerti ucapan Rangiku mengikuti arah pandang gadis itu, amber-nya sedikit melebar ketika menangkap sesosok gadis mungil yang terlihat kebingungan di tengah-tengah para manusia di lantai dansa.

"Astaga, sudah kukatakan untuk menungguku saja. Dasar midget." Pria Kurosaki itu bergumam pelan seraya bangkit dari kursi bar, melangkahkan kaki jenjangnya menuju gadis mungil yang ia perhatikan barusan.

"Siapa itu?" Renji yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka ikut menatap sosok gadis yang tengah dihampiri Ichigo tersebut. Kedua netranya berkilat penasaran.

"Teman kampusku dan Ichigo di New York dulu. Baru kembali ke Jepang sekitar seminggu ini." Rangiku menjawab seadanya, menghempaskan tubuh di kursi Ichigo dan memesan wine pada bartender di sana.

Tanpa disangka, mata Renji terus menatap kedua sosok yang kini sudah saling menemukan itu. Wajah gadis itu terlihat panik ketika Ichigo muncul dan memperlihatkan raut wajah tak senangnya. Tapi, kemudian, ia tertawa setelah Ichigo mengucapkan sesuatu padanyayang tak dapat ia dengar dari jarak sejauh ini.

Tatapan Renji terpaku pada gadis itu. Gadis dengan surai hitam sebatas leher yang tengah tertawa lebar.

Menampilkan iris amethyst yang membuatnya terpesona.

Manis sekali.

"Hei, Rangiku, kau mengenal gadis itu, kan?" ujarnya kemudian tanpa sekalipun melepaskan pandangan pada sosok gadis berambut hitam tersebut.

Rangiku menoleh pada Renji, menangkap raut wajah tak lazim dari teman satu kantornya. "Hm, ya. Tapi aku sudah lama tidak kontak dengannya. Tanyakan saja pada Ichigo, dia lebih mengenalnya."

Renji menoleh untuk memandang Rangiku.

"Dia bukan pacar Ichigo, kan?"

Rangiku sedikit melebarkan mata, kemudian mengalihkan atensi dengan meminum wine yang barusan saja diberikan oleh bartender di hadapannya. "Uhm, bukan. Dia bukan pacar Ichigo."

Renji tersenyum puas atas jawaban Rangiku, kemudian ia kembali menatap direksi di mana sosok Ichigo dan temannya itu tengah berbincang.

"Manis sekali, bukan? Sepertinya aku tertarik padanya."

Dalam diam, Rangiku menghela napas pelan.

"Bukankah sudah kubilang untuk menunggu di apartemen?"

Ichigo berseru tanpa mengalihkan pandangannya pada jalan raya di depan sana. Kedua tangannya sibuk memegang stir. Malam ini, ia harus izin pulang lebih awal pada kedua temannya karena satu makhluk mungil yang kini duduk di sebelahnya.

"Aku bosan. Lagipula, memangnya aku tidak tahu pukul berapa biasanya orang-orang seperti kalian yang mengadakan pesta seperti itu pulang ke rumah?" Gadis itu bersedekap, bibir mungilnya mengerucut dalam. "Aku belum terbiasa di apartemen sendiri, baka."

Pria berambut oranye berdecak, "bilang saja takut sendirian."

"Aku tidak begitu! Di New York aku sudah sering ditinggal sendiri, kalau kau mau tahu." Jawabnya mengelak.

Mobil yang mereka tumpangi berhenti ketika terjebak traffic light. Ichigo melepas stirnya, tubuhnya yang sedari tadi tegang menghempas rileks pada kursi pengemudi. Kemudian, menoleh ke arah rekan bicaranya. "Tapi lebih bahaya jika kau menyusul seperti tadi, mungil. Darimana kautahu alamat pub-nya?"

Rukia tersenyum tipis, sesuatu dalam dirinya merasakan perasaan yang familier mendapati keprotektifan langsung yang beberapa waktu kemarin menghilang, kini kembali ditunjukan Ichigo. Ichigo … ia memang selalu menjadi sahabat terbaik Rukia, yang paling mengerti dirinya. Terbukti dari seberapa lamanya mereka terpisah jarak, pria itu selalu kembali menjadi seseorang terdekatnya. "Kau mengatakan nama pub itu sebelum berangkat tadi. Dan ketika aku menyebutkannya pada supir taksi, aku sampai di sana dengan aman."

"Besok-besok, kan, bisa telepon aku dulu."

Rukia merotasikan violetnya, "memangnya tidak kucoba? Lebih baik kauperiksa ponselmu, tawake."

Ichigo terkekeh pelan, menatap gadis mungil yang kini memalingkan wajah ke arah jendela mobil di sampingnya. Pria itu masih enggan memalingkan wajah ketika bunyi klakson di mobil di belakangnya mulai terdengar ramai bersahutan. Ketika ia sadar, traffic light sudah berakhir, dan dengan cepat ia kemudikan kembali mobilnya meninggalkan suara-suara klakson di belakangnya yang semakin ramai.

Ketika Ichigo sudah kembali mengemudikan mobil dengan santai, pria itu kembali berbicara.

"Rukia, bagaimana kabar Byakuya dan Hisana?"

Rukia tak segera menjawab, sebelum akhirnya menoleh pelan ke arah Ichigo dengan senyum sendu yang sangat Ichigo hapal.

"Nee-san masih menjalani beberapa terapi, tetapi kakinya sudah mulai terbiasa untuk dibawa berjalan dengan kruk." Jawabnya kemudian.

Ichigo menelan ludah, menyadari jawaban Rukia hanya berpusat pada satu objek yang ia tanyakan. Masih ada satu objek lagi. "…dan, Byakuya?"

Pandangan Rukia kembali beralih pada jendela mobil, menatap sesuatu tak kasat mata di luar sana. Tubuh mungil berbalut dress cornsilk-nya terlihat menegang sesaat.

"Nii-sama masih belum mau berbicara denganku."

Renji mengetuk-ngetuk bolpoin mahalnya. Mata cokelatnya terus memandang jam dinding yang berada di sudut ruang kerja pria berambut nanas itu. Komputer di hadapannya masih menyala, menampilkan salah satu tampilan operasi sistem yang seharusnya ia geluti di jam-jam seperti ini. Hanya saja, semenjak tadi, pikirannya gelisah. Ia ingin cepat-cepat terlepas dari pekerjaannya hari ini dan menemui sahabat oranyenya yang terpisah dua lantai di bawah. Meski satu kantor, namun Ichigo, Renji, dan Rangiku tak ada yang bersama dalam satu divisi.

"Sial, sejak kapan aku jadi seperti ini?" gumamnya mengumpat kesal.

Tak mengacuhkan waktu yang masih tersisa lima menit sebelum istirahat makan siang, Renji segera mengubah tampilan komputernya menjadi mode lock, mengambil dompetnya, dan melangkah tergesa menuju lift, ke lantai di mana ruangan Ichigo berada.

Ketika baru saja keluar dari lift, ia bertemu dengan Rangiku dan Ichigo yang sepertinya sudah bersiap-siap ingin pergi makan siang juga. Dengan senyum seringainya, Renji menghampiri kedua entitas yang memiliki warna rambut hampir serupa itu.

"Mau makan siang, kan?" katanya kemudian. "Kutraktir."

Ichigo dan Rangiku hanya saling menatap heran. Tak biasanya pria sangar bertato itu loyal seperti ini.

"Masih terbawa suasana naik jabatan, eh?" Ichigo menyindir sembari terkekeh. Diikuti tawa Rangiku yang mendukung sindirannya.

Renji hanya melebarkan senyum, mengangkat sebelah tangannya untuk menginterupsi kecurigaan kedua teman dekatnya itu. "Tidak, tidak. Kali ini dalam hal lain." Iris cokelat itu melirik Ichigo. "Tentang perempuan yang datang ke pub kemarin, Ichigo. Omong-omong, siapa dia?"

Ichigo merasakan tubuhnya sedikit menegang, namun dengan cepat ia kembali mengontrolnya. "Kenapa?"

Mereka sampai di café khusus pegawai, Renji segera mengambil tempat duduk di hadapan Ichigo sebelum akhirnya kembali menjawab pertanyaan yang diajukannya tadi. "Tak apa-apa, hanya penasaran."

"Kau tahu, sepertinya Renji tertarik padanya." Rangiku ikut menambahkan sembari tangannya meraih daftar menu, dan membacanya lamat-lamat.

Gagasan itu … Ichigo tak begitu menyukainya.

"Dia … sahabatku."

Akhirnya terujar dari bibir pria berambut jingga itu. Renji terlihat lega, dan Rangiku tetap pada daftar menunyaseolah tak ingin kembali ikut pada pembicaraan.

"Heh, kalau begitu kenalkan aku padanya."

"Aku mau Beef Cheese Channelloni dan rose wine." Rangiku menandas cepat, membuat perhatian Renji segera teralihkan. "Kau mau apa Ichigo?"

"Heh, tak ada wine. Lagipula, seharusnya hanya Ichigo yang kutraktir, tahu." Renji mencetus terlalu cepat, membuat Rangiku mendengus serta kedapatan kekehan gratis yang berasal dari Ichigo.

"Aku Filet Mignon. Dan, ya. Kurasa kita tak perlu wine, Rangiku." Imbuh Ichigo akhirnya.

"Oh, boy. You two are so boring, you know." Rangiku mendesah pasrah. Bagi wanita pemilik rambut pirang itu, wine adalah sumber energinya. Entah bagaimana caranya, likuid hangat itu selalu menaikkan adrenalinnya, sehingga membuatnya mampu melakukan hal-hal apapun tanpa berbagai kemelut pikiran yang menyusahkan. Yah, sangat dirinya sekali.

Akhirnya, Renji memanggil waiter, memesan pesanannya plus pesanan gratis kedua temannya. Sembari menunggu, ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku jasnya untuk kemudian menyulutnya. Tatapannya kembali pada Ichigo.

"Hei Ichigo. Ini serius, lho. Boleh aku minta kau mengenalkanku dengan temanmu itu?" Katanya kemudian.

Baik Ichigo atau Rangiku, keduanya sempat memasang ekspresi beku pada kedua wajah berbeda gender itu. Hanya saja, Renji terlalu naïf untuk menyadarinya.

"Kau terlalu depresi sampai-sampai tak mampu mencari perempuan lain di sekitarmu, eh, Tuan Rambut Merah?" Rangiku yang menjawab. Membuat Renji seketika mengerutkan alis penuh tattoo-nya dengan kesal.

"Yeah, just shut the hell up, Rangiku. Aku bertanya pada Ichigo, dan sedari tadi kau yang selalu menimpalnya." Katanya mencemooh. "Dan perlu kau ingat. Ini bukan tentang aku yang tak mampu mencari perempuan lain di sekitarku. Ini berbeda. Gadis itu terlalu berharga untuk kuhiraukan."

"Kuperingatkan Renji, ia tak suka laki-laki yang banyak bicara omong kosong dan memiliki percaya diri yang berlebihan sepertimu." Ichigo akhirnya mengujar, dengan tatapan tajam serta seringai yang mematahkan semangat sahabat merahnya itu.

Renji menatapnya ragu, "Oh, Ichigo… Apa aku benar-benar terlihat seperti itu?"

Rangiku tertawa, sedang Ichigo hanya terkekeh sambil menggeleng.

"Aku hanya mengatakannya. Tak bermaksud menuduhmu, bodoh. Tapi ternyata kau berpikir dirimu seperti itu, ya?" Pria oranye itu kembali berbicara. Kali ini mata amber-nya tak tahan untuk tak melebar senang.

"Yea, yea. Terserah kalian mau bicara apa. Yang jelas, Abarai Renji tidak akan pernah menarik kata-katanya. Aku akan mengenal gadis itudengan atau tanpa bantuanmu, Ichigo."

Tepat setelah Renji berkata seperti itu, pesanan mereka datang. Ada banyak hal yang memenuhi pemikiran Ichigo, salah satunya adalah pernyataan Renji barusan. Namun, sebelum mereka semua sempat menyentuh makanan mereka masing-masing, Ichigo memantapkan hati dan akhirnya kembali mengujar.

"Namanya Rukia. Kuchiki Rukia."

Semoga ia tak salah langkah.

Ichigo mengetuk pintu berwarna cokelat di hadapannya. Dirinya baru saja sampai di apartemen ketika menyadari entitas lain yang kini tinggal tepat di sebelah pintu apartemennya itu.

Ketika hingga ketukan ketiga tak mendapat respon, lelaki itu mengerutkan alisnya. Ke mana perginya? Tangannya perlahan terulur untuk meraih kenop pintu di sana, memutarnya sekali sebelum kemudian semakin mengerutkan alis dalam-dalam saat mendapati pintu tersebut tak terkunci.

Ichigo membuka pintunya lebar-lebar, kemudian mendapati ruangan yang diterangi oleh lampu yang temaram. Dengan pelan, ia tutup kembali pintu di belakangnya. Aroma violet segera saja menyambangi indera penciumannya, membuatnya tanpa sadar tersenyum, merasakan sensasi familier dan khas yang membuat Ichigo bernostalgia. Langkahnya terdengar nyaring di antara helaan napas dan suara pendingin ruangan yang menyala. Terlalu sunyi. Ichigo sangsi di mana pemilik kamar ini berada saat ini.

"Ichigo?"

Satu panggilan khas membuat dirinya menoleh dan mendapati gadis mungil pemilik baru kamar apartemen ini berdiri di batas sekat ruang tengah dan dapur. Napas lega ia hela diam-diam. Dengan cepat, ia langkahkan kaki menuju tempat di mana si gadis tengah berdiri.

"Kau sedang apa, sih? Daritadi aku mengetuk pintu tak ada yang menjawab." Tangannya tanpa sadar bergerak ke atas untuk mengacak helaian hitam milik gadis di depannya dengan pelan. "Aku khawatir, Rukia."

Rukia hanya tersenyum minta maaf, tangannya ikut naik untuk menyentuh telapak hangat Ichigo dan membawa ke dalam genggamannya. "Aku sedang membuat latte, maaf." Senyumnya kecil. "Kau mau?"

Ichigo mengangguk kecil, seketika merasakan perasaan kosong ketika tangan mungil Rukia melepaskan genggamannya. Ia menarik napas diam-diam, mengikuti Rukia yang kembali melangkah ke kitchen set untuk meneruskan pekerjaannya. Harum latte seolah menjadi terapi alami untuk segala rasa lelah yang bertumpu di bahu Ichigo akibat segala pekerjaannya tadi. Aroma violet dan latte—such a stupefy smells.

"Kau melewatkan kamar apartemenmu sendiri dan langsung ke sini, ya?" Rukia mengucap pelan di tengah kesibukannya. Kedua tangan gadis itu terlihat sigap mengambil mug-mug dan menuangkan latte yang harum itu ke dalamnya.

Ichigo menatap punggung kecil itu. Entah mengapa, pikiran liarnya menotis ingin mendekapnya ringan seraya menyusupkan hidungnya pada lekukan leher jenjang Rukia. Kegiatan yang membuat Ichigo yakin, akan menenangkan seluruh perasaan dan pikirannya. Ah, pemikirannya sudah terlalu jauh bernostalgia.

"Ichigo?"

"Y-ya?"

Rukia mendesah, menggelengkan kepala sebelum akhirnya memberikan satu mug bergambar Chappy pada Ichigo. Tanpa sadar, sudut bibir Ichigo terangkat.

"Benar-benar tak pernah berubah, ya, mungil?"

"Oh, shut up, tawake."

Ichigo tertawa, mengikuti Rukia yang kini berjalan menuju ruang tengah apartemennya. Gadis itu menghempaskan diri di sofa broken white di sana, melambaikan tangan dan menepuk sisi sebelahnyamengundang Ichigo untuk duduk di sebelahnya.

"Tak ingin menerangkan lampu?" Ichigo berujar pelan setelah mendudukkan diri di samping Rukia. Pria itu meminum latte-nya, menyesap dalam-dalam perpaduan manis dan pahit yang menggoda pengecapnya.

Rukia mengangkat wajah dari mug-nya, kemudian menggeleng dan berbisik pelan, "it's better. Hangat."

Ya, saking hangatnya sampai-sampai Ichigo tak keberatan jika harus berada dalam posisi ini selamanya.

Namun, seulas senyum menyedihkan terukir di wajah Ichigo. Kenyataannya menamparnya telak. Untuk seketika, kehangatan itu membeku hingga ia merasakan rasa dingin yang menyengat rongga dadanya. Pria bodoh, ingat tujuanmu ke sini. Dan ingat, masa lalu kalian hanyalah cerita masa lalu yang seharusnya kaulupakan.

"Rukia."

"Hm?"

"Kau dapat salam."

Rukia menoleh, menatap wajah Ichigo di antara remang cahaya lampu yang menerangi apartemennya. Wajah Ichigo begitu keras, dengan kerutan permanen dan ekspresi datarnya, pria itu seolah menjadi Ichigo yang berbeda dari pria yang dikenalnya tiga tahun lalu. Tak menguarkan kehangatan yang Rukia kenal. "Dari … siapa?"

Pria itu mendesah keras, mengangkat tangannya ke atas seolah-olah tengah merenggangkan tubuhnya yang kaku. Ichigo menggulung lengan kemeja dan melonggarkan dasi yang dipakainya sebelum akhirnya kembali menatap Rukiakali ini dengan sebuah senyuman yang tak pernah Rukia lihat.

"Dari sahabatku. Namanya Renji."

Kerutan samar terlihat pada kening putih Rukia. "Kau yakin ia menitipkan salam untukku? Yang tidak dikenalnya?"

Sekali lagi, Ichigo tersenyum. "Maka dari itu Renji titip salam. Ia ingin mengenalmu, Rukia."

"Ha?"

"Sepertinya ia menyukaimu."

.

.

tbc.


a/n: Sekadar info, umur IchiRukiRenRangi itu 25 tahun, ya. Yap, mereka semua seumuran ;) saya nggak nyangka, mayoritas reviewers bilang suka dengan fic yang bertema pengkhianatan /shock/ hahaha xD kejamnyaaa. Btw, thanks to VQCristhya, Azura Kuchiki, Baby niz 137, Guest(1), Guest(2), dan Classiera Niza. Ini sudah diapdet yaaa :* thanks for review preview's chapter :D

btw, ada yang penasaran nggak, sih, kenapa saya pakai Rangiku sebagai sahabat mereka di sini alih-alih Inoyeh/Momo/Tatsuki dll? Heuheu.

Anyway, thank you for reading. Mind to give some review and constructive critism?^^

LastMelodya