Disclaimer: All character belong to Tite Kubo. But this story purely mine. I don't take any profit from this work. It's just because I love it.

Warning: AU, miss-typo, OOC, DLDR, impliedIchiRukiRen

Enjoy reading!


.

Head Over Heels

by LastMelodya

.


.

Rukia mengempaskan tubuh mungilnya pada ranjang besar yang baru beberapa minggu ini menjadi teman tidurnya. Gadis manis itu melirik jam di sudut ruangan dan menghela napas bosan. Selama kembali ke Karakura, ia merasa seperti menjadi orang yang memiliki banyak sekali waktu. Sedang selama di New York, ia terus-menerus menyibukkan diri pada pekerjaannya yang tak habis-habis ia kerjakan.

Dirinya teringat pada kakak perempuan tunggalnya, Hisana. Salah satu orang yang menjadi alasan di balik kembalinya Rukia ke Karakura dan meninggalkan New York. Juga satu orang lagi, kakak iparnyaKuchiki Byakuya. Pria yang menyelamatkan kehidupan ia dan kakaknya ketika mereka hidup dengan kondisi pas-pasan di Karakura lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Byakuya jatuh cinta pada Hisana, mengajaknya menikah dan memboyong keluarga kecil itu ke New York. Kehidupan mereka berubah di sana. Ketika itu, Rukia masih berusia lima belas tahun, ia melanjutkan sekolah hingga akhirnya mengambil kuliah penyuntingan di negara tersebut.

Di New York, Rukia bertemu dengan Ichigo dan Rangiku. Tak membutuhkan waktu lama untuk mereka menjalin hubungan dekat karena status latar belakang yang samasama-sama mahasiswa yang berasal dari Karakura.

Mengingat itu, Rukia menghela napas, ada sesuatu yang tak ingin ia ingat setelahnya.

Seperti mengerti akan keraguannya meneruskan memoar, tiba-tiba bel apartemennya berbunyi. Membuat gadis itu terkejut dan terperanjat bangkit dari posisinya. Lagi-lagi ia melirik jam dinding, siang-siang di jam kerja seperti ini, siapa yang berkunjung ke apartemennya? Belum genap dua minggu ia di sini, satu-satunya orang yang berkemungkinan besar selalu mengunjunginya adalah Ichigo. Namun, tentu saja nama itu segera tereliminasi dari daftar perkiraannya, sebab Ichigo masih berada di kantor dan baru akan pulang jam lima sore nanti.

Dengan sedikit ragu namun tak ingin menebak-nebak, Rukia melangkahkan kaki mungilnya menjauhi kamar, menuju ke pintu apartemen. Bel masih berbunyi beberapa kali. Otaknya masih melancarkan pertanyaan-pertanyaan ketika akhirnya ia menyentuh kenop pintu dan menariknya sedikit ragu.

Menjulang sesosok pria tinggi dengan kacamata di atas hidungnya. Kulitnya begitu putih sehingga membuatnya telihat pucat. Gerakannya canggung saat sosok itu mencoba mengangkat sudut bibirnya untuk tersenyum.

"Uhm, maaf mengganggu." Pria itu mengujar pelan, "aku Ishida Uryuu, tinggal di kamar apartemen di depanmu, ada suatu undangan yang harus kusampaikan."

Rukia membuang kebingungannya, kemudian tersenyum kecil ketika gadis itu membalas pria di hadapannya. "Ah, aku Kuchiki Rukia. Penghuni baru di sini. Yoroshiku. Ada apa, ya, Ishida-san?"

"Salam kenal, Kuchiki-san. Sebenarnya aku ingin menemui Ichigo, berhubung ia belum pulang dan aku melihat sepertinya kau cukup dekat dengannya, sekalian saja kusampaikan padamu, ya?"

Rukia hanya mengangguk-angguk bingung.

Ishida melanjutkan. "Penghuni apartemen ini memiliki kebiasaan untuk berkumpul sebulan sekali, dan besok adalah jadwal kami bekumpul. Seperti biasa, kami mengundang Ichigodan tentunya Kuchiki-san juga untuk bergabung besok malam. Tolong ingatkan, ya."

"Uhm, di mana lokasinya?" tanya Rukia pelan.

"Di lantai dasar, tempat Urahara-san dan Yuroichi-san. Ichigo pasti tahu, itu sudah menjadi markas perkumpulan kami selama ini." Pria berkacamata itu mengangguk pelan. "Kami tunggu kedatangan kalian."

Setelah mengatakan itu, Ishida membungkuk dan memutar badan untuk melangkah menuju apartemennya. Rukia bahkan belum sempat menebar satu senyum lagi atas kebalikan pemuda itu. Tak ingin memikirkan lebih lanjut, Rukia segera berbalik dan menutup pintu. Hm … perkumpulan penghuni apartemen, ya? Menarik sekali. Selama ini Rukia sangat jarang meninggali apartemen yang penghuninya masih sering bersosialisasi dengan hangat seperti itu.

Rukia menghentikan dirinya ketika beberapa langkah lagi sampai di pintu kamarnya. Ia mendesah keras, berbaring di tempat tidur tiba-tiba menjadi gagasan yang tidak menaik lagi. Kemudian, gadis mungil itu menoleh ke arah dapur, berpikir beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk memutar langkah ke sana.

Seperti memasakan menjadi ide yang lebih baik. Mungkin ia bisa membuat beberapa makanan dan mengundang Ichigo untuk makan malam bersamanya ketika sahabatnya itu pulang nanti.

Ya, itu lebih baik.

Ichigo menelusuri koridor lapangan parkir yang sepi ketika langkah-langkah cepat yang kuat terdengar semakin mendekat di belakangnya.

"Heh, Ichigo! Tunggu!"

Teriakan itu akhirnya disusul dengan datangnya sesosok pria tinggi yang sudah sangat Ichigo hafal eksistensinya. Ichigo mendengus, tetap berjalan tanpa menghiraukan sahabat prianya yang tengah menyaruk langkah kelelahan. "Apa yang kaulakukan, baboon?"

Yang dipanggil baboon balas mendengus, pria ituRenji, menyikut Ichigo dan berusaha mengujar di antara napasnya yang putus-putus. "Akhu mau ikhut keaphartemenmu."

Ichigo mengerutkan alis, masih berjalan dengan statis. "Untuk apa?"

Renji tak segera menjawab, pria itu berusaha menstabilkan napasnya sampai akhirnya ia mampu menyejajari langkah Ichigo dengan napas teratur. "Bertemu Rukia," katanya kemudian.

Sesaat, tak ada ekspresi berarti yang ditunjukkan raut wajah Ichigo, pria oranye itu tak merespons hingga akhirnya mereka sampai di mobil hitam milik Ichigo. Renji mengerutkan alisnya, mencebikkan bibir karena merasa diabaikan.

"Oi, Ichigo."

"Hn," gumam pria oranye itu sembari membuka pintu mobilnyabersiap-siap masuk.

"Aku mau ikut." Renji melangkah mendekat dan menahan pintu mobil Ichigo ketika pria itu sudah bersiap untuk menutupnya.

Satu decakan Ichigo suarakan. Alisnya kembali mengerut dalam. "Ya sudah, sana. Kaupunya mobil sendiri, kan? Lagipula aku yakin izinku tak penting untukmu."

Renji memberikan cengiran lebar kemudian mendorong pintu mobil Ichigo hingga tertutup, mengurung Ichigo dalam mobilnya sendiri. Pria itu masih bisa melihat lambaian tangan Renji yang terangkat tinggi ketika sahabatnya itu berbalik pergi untuk menghampiri mobilnya sendiri.

Renji terlihat begitu bersemangat.

Dan itu membuat perasaannya terasa taksa.

Ichigo menghela napas keras, menyalakan mesin mobil dan akhirnya membawa mobilnya pergi dari lapangan parkir. Sepanjang perjalanan kepala oranyenya seolah tak berhenti bermonolog, tentang sebuah hal yang beberapa hari ini mengganggunya. Mengusiknya.

Renji dan Rukia.

Gagasan itu memberikan efek tak nyaman pada rongga dada Ichigo. Kenapa? Kenapa dirinya malah seperti ini? Bukankah seharusnya ia tak seperti ini?

Sekali lagi, Ichigo menghela napas. Seharusnya ia bersyukur, karena pria yang tertarik dengan Rukia adalah Renji—sahabatnya sendiri, yang mana sudah Ichigo ketahui seluk-beluknya. Yang mana walaupun sedikit brengsek, setidaknya Ichigo tahu, jika sudah menyukai sesuatu, Renji akan benar-benar menjaga sesuatu itu dengan proteksi penuhpersis tipikal dirinya.

Ia hanya perlu memantau, memantau Renji agar pria bertato itu benar-benar serius pada Rukia, bukan hanya sekadar iseng dan main-main. Kemudian, dirinya akan sedikit membantu meyakinkan Rukia jika Renji memang akan benar-benar serius nantinya. Sebab melihat dari keyakinan Renji, sepertinya pria itu memang tak main-main. Walau berperangai bebas, tetapi Renji bukanlah tipe pria yang senang bermain-main dengan wanita. Setidaknya, ia menganggap komitmen bukanlah sebuah hal yang wajar dimainkan. Ia menghormati hal tersebut.

Bukankah akan menyenangkan melihat kedua sahabatmu terlibat dalam sebuah romansa?

Yea, menyenangkan sekali.

Ichigo menelan kalimat itu dalam-dalam. Pahit.

Bel apartemen berbunyi.

Gadis berperawakan mungil yang kini tengah menyusun piring-piring di atas meja makan itu tersenyum kecil dan melirik jam di sudut dinding. Pas sekali. Itu pasti Ichigo.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, Rukia segera melangkahkan kakinya ke arah pintu apartemen, senyumnya mengembang, menebak-nebak Ichigo akan muncul dengan raut wajah ditekuk dan kelaparan. Meminta Rukia untuk menemaninya makan bahkan sebelum pria itu masuk ke apartemennya sendiri.

Tapi, ketika Rukia menarik kenop pintu dan mendapatkan satu lagi sosok asing di sana, giliran keningnya yang mengerut dalam.

Bukan Ichigo.

"Uhm, halo, Rukia?"

Tubuh kekar yang terlampau semampai, rambut merah menyala, beberapa tato di sekitar kening dan lehernya yang tak tertutup kancing kemeja, wajah keras, namun menguarkan satu senyum lebar yang bersahabat. Membuat Rukia dengan refleks melengkungkan kurva di atas bibirnya tanpa sadar, kemudian mengangguk pelan.

"Maaf, apa aku … mengenalmu?"

Pria di depannya terkekeh, kemudian menyodorkan sebelah tangannya ke hadapan Rukia, menawarkan sebuah tautan perkenalan. Rukia mengangkat alis, namun tak pelak pada akhirnya ikut mengangkat tangan dan menyambut uluran telapak tangan besar itu.

"Jadi, kuulang dari awal, ya," kata pria itu lagi, menyeringai. "Halo, Kuchiki Rukia. Aku Abarai Renji." Si pria tersenyum tipis, hangat. "Sahabat Kurosaki Ichigo."

Dan Rukia teringat obrolannya dengan Ichigo kemarin.

"Maka dari itu Renji titip salam. Ia ingin mengenalmu, Rukia."

"Sepertinya ia menyukaimu."

Ini, kah, Renji yang Ichigo bilang?

Sahabatnya yang mengirim salam sekaligus mengatakan suka padanya?

"Aa—halo, Renji-san." Rukia balas tersenyum. "Yoroshiku."

Renji tersenyum lagi, matanya yang tajam ikut menyipit, mencipta sebuah raut tulus yang entah mengapa menggelitik Rukia. "Nice too meet you too, eh?"

Rukia tertawa.

Renji mengulum senyum. "Jadi … apa tamu barumu ini akan dipersilakan masuk?" katanya kemudian.

Yang gadis sedikit tersentak dan ikut mengulum senyum. Ia menarik tangannya dari genggaman Renji, namun, tiba-tiba, tangan Renji seolah sengaja mempererat genggamannya. Rukia memandangnya, mengangkat alis seolah mengujar vokal nonverbal akan tindakan pria di hadapannya itu, Namun, Renji seolah tak menghiraukan, ia masih tetap menggenggam tangan Rukia dan menatap matanya dengan satu kuluman senyum.

Gombal sekali. Ucap Rukia dalam hati.

"Yeah, gombal sekali."

Tiba-tiba saja Rukia tersentak ketika mendengar suara tersebut. Gadis itu menoleh, mendapati Kurosaki Ichigo muncul dari balik dinding apartemen sebelahnya, kemudian berhenti di samping pintu apartemennya, menyandarkan tubuh, dan menatap Rukia beserta Renji dengan tatapan malas.

Bukan, Rukia bukan tersentak karena ucapan Ichigo sama persis dengan pikirannya. Namun, lebih karena kehadiran pria itu yang mengejutkannya.

"Ah, Ichigo!"

Renji berseru, genggamannya akhirnya terlepas.

Rukia diam-diam menghela napas lega, ia membuka pintu apartemennya lebih lebar dan akhirnya mengujar pada kedua pria di depan sana. "Ayo, masuk. Aku tak mau disangka macam-macam karena menampung dua pria sangar di depan pintu kamarnya." Gadis itu menyeringai.

Renji hanya terkekeh senang, Ichigo memutar mata. Namun, sebelum Renji benar-benar melangkah masuk, Ichigo kembali berbicara, "aku tidak ikut. Silakan menikmati waktu kalian."

Kemudian, ia membalikan badan dan melangkah menuju pintu apartemennya sendiri. Rukia terpaku sejenak, ingin memanggil namun seperti ada sesuatu dalam dirinya yang mencegahnya. Untuk apa memanggil? Toh, memang Ichigo memiliki kamar sendiri, bukan? Lalu atensinya berpindah pada satu lagi pria di depan pintunya, yang juga tengah menatap direksi di mana Ichigo berlalu. Tak sampai satu detik, ia menoleh pada Rukia, menyimpulkan satu senyum ragu. "Aa, kalau kau merasa terganggu, aku akan pulang. Aku hanya bercanda dengan ucapan persilakan masuk tadi." Renji mengusap-usap tengkuknya.

Gadis mungil di depannya itu pada akhirnya merotasikan kedua mata violetnya, ia mengulum satu senyum dan mengedikkan kepalanya ke dalam. "Tapi aku benar-benar mempersilakanmu masuk, lho."

"Benarkah?" ucapan itu terlampau cepat dan bersemangat.

Lagi-lagi satu tawa kencang lepas dari bibir mungil Rukia. Pria di depannya ini … begitu mudah mengekspresikan perasaannya. Dan sepertinya, Rukia mulai menyukai kepribadiannya yang blak-blakan.

"Lagipula, kemarin ada yang bilang sepertinya kau menyukaiku."

Wajah Renji bersemu, membuat kikikan geli Rukia semakin terdengar. Rasanya menyenangkan bisa menggoda seorang pria macam Renji hingga membuatnya tersipu-sipu seperti itu.

"Jangan menggodaku, Rukia." Renji akhirnya mengucap, masih dengan sisa-sisa rona merah dan senyum di bibirnya. "Nanti kau kebingungan kalau aku sudah mulai membalas godaanmu."

Tak ada jawaban, hanya ada raut menantang Rukia yang pada akhirnya membalikan badan dan masuk ke dalam apartemennya.

Renji menggeleng, ikut masuk ke dalam dan menutup pintu apartemen. Diam-diam sesuatu dalam dadanya berdetak cepat dan menghangat. Ia tak pernah merasa setertarik ini pada seorang gadis sebelumnya. Sikap yang diuarkan gadis itu bahkan menjadi sebuah hal yang membuat Renji semakin tertarik padanya.

Belum apa-apa, ia sudah merasakan akan jatuh lebih dalam pada Rukia. Lebih dari perasaan tertariknya saat ini.

Rukia tahu, Renji benar-benar menyukainya.

Atau setidaknya, tertarik padanya.

Ini ditunjukkan pria itu selama mereka bercakap-cakap dan sesekali saling melempar canda. Kedua netra pria itu terus menghujam violet Rukia, seolah tak ingin meninggalkannya barang sejenak. Gerak-geriknya juga merepresentasikan ketertarikannya. Seperti yang sudah ia bilang, Renji adalah tipe pria yang sulit menyembunyikan perasaannya. Segala yang ia rasakan seolah tergambar dengan perbuatannya.

Blak-blakan.

Tiba-tiba saja Rukia mengerti mengapa pria ini menjadi sahabat Ichigo.

"Wow, kau memang sudah tahu kalau aku akan datang, ya?" Renji mengujar di belakang Rukia, gadis itu tengah mengambil beberapa gelas dan jus kemasan di dalam kulkas.

"Tidak. Memang kenapa?" tanya Rukia lagi.

Suara Renji terdengar seperti pria itu tengah menahan senyum. "Kau memasak tepat untuk kapasitas dua orang. Untuk siapa? Kau tinggal sendiri."

Pergerakan tangan Rukia di dalam kulkas berhenti sejenak. Netra violetnya memandang gamang kardus-kardus kemasan jus dengan berbagai varian rasa. Tapi kemudian, rasa dingin kulkas menyentaknya. "Hm, untukku. Percaya tidak kalau makanku banyak?"

"Percaya."

Jawaban Renji yang terdengar jujur itu malah membuat Rukia cepat-cepat menoleh dan melangkah mendekatinya. Gadis itu mencebikkan bibir, "kenapa percaya?"

Renji tertawa, ia mencondongkan tubuh hingga mendekat ke arah Rukia. "Karena meski badanmu kecil, pipimu itu tembam. Tidak sadar?"

Satu senyum terbit di bibir Rukia, bersamaan dengan gerakannya yang memutuskan untuk mengempaskan diri di kursi sebelah Renji. Gadis itu mulai menyendok makanan di meja kemudian memberikannya pada Renji. "Kau itu baru bertemu denganku, seharusnya bersikap manislah padaku, Renji-san."

"Memangnya masih kurang manis? Buktinya sejak tadi kau banyak tersenyum." Ucapan itu datang bersamaan dengan suapan pertama Renji pada makanan Rukia. "Enak."

Dan Rukia tersenyum lagi.

Yang membuat gadis itu tersenyum bukanlah lontaran pujian-pujian yang tercipta dari pengecap Renji dan gombalan implisitnya semenjak tadi. Melainkan, bagaimana ekspresi pria itu ketika mengatakannya. Tak ada pandangan menggoda, tak ada lirikan basa-basi, hanya ada ekspresi ketulusan dari raut wajahnya.

Rukia tak menyangsikan, Renji terlihat seperti pria-pria metropolis dengan sejuta percaya diri yang menguar di sekitarnya. Memiliki jabatan tinggi, memiliki pergaulan bebas (terbukti ketika malam itu Renji mengadakan pesta di kelab dengan Ichigo dan Rangiku), memiliki tampang yang tak bisa dibilang jelek, tubuh bagus, Rukia yakin, pasti ada banyak wanita yang mengantre di belakangnya.

Salah satu tipe pria yang gadis itu hindari.

Tapi, Renji memiliki pandangan yang berbeda. Senyumnya tidak palsu, tatapannya tidak meremehkan; pria itu tulus. Setidaknya, itulah yang ia rasakan beberapa jam ini. Kejujuran dan ketulusan Renji mau tak mau membuat Rukia urung menutup diri.

Ia ingat, dulu, Ichigo datang dengan segala sifat "apa adanya". Kejujurannya, ketulusannya, semuanya membuat Rukia tak bisa menolak ketika pada akhirnya pria berambut oranye itu memasuki kehidupannya.

Dan sebagaimana ia tak bisa menolak Ichigo, kali ini ia juga tak bisa menolak Renji.

Selama pria itu masih berada di dalam batas wajar, Rukia kira, ia tak keberatan memasukkannya ke dalam daftar "teman baru".

Renji undur diri untuk pulang sekitar setengah jam setelah mereka makan malam bersama. Tak bisa dikatakan makan malam, sebenarnya, karena saat mereka makan jam masih menunjukkan pukul enam petang. Pria itu secara terang-terangan meminta nomor ponsel Rukia, dan dengan senyum miringnya, meninggalkan Rukia dengan satu janji akan meneleponnya malam nanti. Rukia hanya menggeleng, kata-kata let it flow terus-menerus berepetisi di dalam otaknya. Ia bermonolog dalam hati, di sini, ia berusaha menjalani kehidupan baru, dengan orang-orang baru—dan beberapa orang lama yang ingin ia reset ulang segala relasinya. Ia tak peduli apa Renji memiliki tujuan khusus untuk mengenalnya—seperti yang Ichigo bilang, selama ia merasa nyaman, segalanya akan ia jalani sebagaimana adanya saja.

Rukia baru akan menutup pintu apartemen ketika seseorang menahannya dari luar.

Ichigo.

Dengan tatapan malas dan kening berkerutnya, kembali mendorong pintu dari luar sehingga kembali terbuka dengan lebar.

"Ichigo?"

"Aku belum makan."

Rukia meringis. Menatap Ichigo yang kini bersandar di sisi daun pintu dan melipat tangannya di depan dada. Ia kembali mengingat, masakan yang barusan tadi ia makan bersama Renji adalah masakan yang ia buat untuk Ichigo dan dirinya. Tapi, mau apa lagi? Ia sudah terlanjur menyiapkan segala sesuatunya di meja makan ketika Renji datang, dan akhirnya mempersilakan pria yang baru dikenalnya itu makan bersama dengan harapan Ichigo segera melesat entah ke restoran mana untuk mencari makan malamnya sendiri.

"Makananku habis." Rukia menghela napas. "Baiklah, tunggu sebentar, akan kutemani ke kantin bawah."

Sebelum Rukia sempat masuk ke dalam apartemennya, Ichigo menahan lengan mungil itu. "Buatkan makanan saja. Di kulkas ada bahan makanan."

Sembari mengangkat bahu, akhirnya Rukia mengangguk. Ia menutup pintu apartemennya dari luar dan mengikuti Ichigo menuju apartemennya.

Ada banyak bahan makanan di kulkas pria itu, sepertinya Ichigo memang baru belanja.

"Kau sengaja belanja karena merasa sudah ada pembantu yang siap sedia memasakan makanan untukmu, ya?" Rukia mengujar di sela-sela kegiatannya. Membuat Ichigo yang terduduk di kursi ruang tengah menoleh dan akhirnya bangkit untuk melangkah menuju dapur.

"Kenapa tidak? Kau masih menganggur, jadi sekalian kumanfaatkan saja." Balasnya di belakang Rukia.

Rukia mendengus, namun diam-diam mengulum senyum. "Beberapa hari lagi mungkin aku tak begitu menganggur."

Ichigo berpindah ke sisi Rukia. Ikut memerhatikan jemari-jemari kecil Rukia memotong segala jenis sayuran dan daging-daging olahan instan. Bahu mereka besentuhan, membuat menjalari rasa hangat yang tiba-tiba saja menyeruak masuk. Entah dari mana dan menuju mana. "Kau sudah mendaftar kerja? Di mana?"

Rukia menggeleng, matanya sesekali menatap hazel Ichigo yang intens memerhatikan wajahnya. "Publisher tempatku bekerja di New York akan tetap mempekerjakanku secara part time dan online. Jadi, aku masih akan mendapat beberapa naskah dari sana untuk kusunting."

Rukia bekerja sebagai penyunting professional di salah satu publisher ternama New York sebelumnya. Ketika memutuskan pindah kembali ke Tokyo, ia dan publisher-nya membuat perjanjian bahwa Rukia masih akan memenuhi pekerjaannya walau dengan sistim online dan dengan upah yang tak sebesar dulu. Meski begitu, itu masih sangat cukup untuk Rukia, setidaknya ia tak menganggur. Lagipula, Hisana dan Byakuya masih mengiriminya uang secara teratur meski Rukia sudah menolak. Mereka masih merasa memiliki tanggung jawab pada Rukia yang pada akhirnya lebih memilih mandiri itu. Dan karena semua hal itu, Rukia masih merasa cukup.

"Kau berhenti total juga tak apa-apa. Sudah kubilang, aku bisa bilang pada Byakuya dan Hisana untuk menjamin kehidupanmu."

"Ichigo," suara Rukia tiba-tiba terdengar begitu jauh dan dingin. Membuat Ichigo merapatkan bibirnya. "Aku tak pernah suka dengan gagasanmu yang itu."

Rukia melangkah menjauhi Ichigo, kembali membuka kulkas dan bekutat entah melakukan apa di sana. Cukup lama. Hingga akhirnya Ichigo kembali berbicara.

"Hitung-hitung untuk membalas kesalahanku."

Dan Rukia benar-benar menghentikan kegiatannya. Ia mengangkat wajah dari dalam kulkas, menutupnya dan menaut hazel Ichigo dengan pandangan sedih. "Ini kesalahan kita, Ichigo. Bukan kesalahanmu padaku atau kesalahanmu pada mereka. Ini kesalahan kita. Kau dan aku."

Tak ada yang berbicara lagi setelah itu. Rukia kembali sibuk dengan masakannya dan Ichigo sibuk dengan pikirannya sendiri.

Lagi-lagi mereka terjebak pada luka masa lalu bersama-sama.

Beberapa saat setelah keheningan kontemplasi mereka masing-masing, makanan yang dimasak Rukia telah matang. Gadis itu mengangkat dan menaruhnya dalam piring untuk kemudian menyusunnya di meja makan. Setelah selesai, ia melirik Ichigo.

"Makanlah. Jangan pasang wajah seperti itu."

Ujaran itu datang bersamaan dengan satu senyum yang Rukia berikan. Ichigo balas mendengus main-main, kemudian melangkah mendekat ke meja makan. Menyempatkan diri untuk mengacak helai rambut hitam Rukia sebelum akhirnya mengempaskan diri di kursinya.

"Hei—!"

Dan segala atmosfer beku itu pun kembali mencair, menciptakan konvergensi pada relasi yang hampir berdivergen barusan. Rukia ikut duduk di sebelah Ichigo, bercerita tentang harinya, juga tentang titipan salam Ishida Uryuu yang mengundang mereka ke perkumpulan penghuni apartemen.

Untuk sejenak, mereka kembali menemukan zona nyamannya.

.

.

tbc.


a/n: saya ingin membuat Renji dicintai pembaca di sini hoho. Sebab dalam cerita ini, dia akan saya buat menjadi pria yang penuh cinta dan ketulusan (eaaak :D) dan keprotektifan juga. Sebelas dua belas sama Ichigo. Hanya saja, sepertinya Ichigo tetap lebih ekstrem xD

btw, saya ganti genre heheh. Karena kayaknya akan lebih ke hurt/comfort daripada drama ;p Thankyou yah Azura Kuchiki, Baby niz 137, stefymayu yeniferangelina, Classiera Niza, Minnie TpOOh, Yuiko Narahashi, darries. Mind to RnR again?

LastMelodya