Disclaimer: All character belong to Tite Kubo. But this story purely mine. I don't take any profit from this work. It's just because I love it.

Warning: AU, miss-typo, OOC, DLDR, impliedIchiRukiRen

Enjoy reading!


.

Head Over Heels

by LastMelodya

.


.

Bias-bias sinar mentari pagi perlahan bereksistensi, merangsek masuk menembusi gorden-gorden putih tulang sebuah kubikel kamar dengan aroma maskulin. Angin pagi yang hangat berembus pelan, menyubtitusi embusan angin malam tadi yang dingin menusuk-nusuk belulang. Seorang pria terbaring di atas ranjang, benda yang menjadi pusat dari ruang kamar itu. Kedua netranya tersembunyi di balik kelopak-kelopaknya yang perlahan bergetar, mengedip, mengerjap sedikit. Bias sinar matahari mengusiknya. Dan pagi itu, tepat pukul tujuh, Kurosaki Ichigo bangun dari tidurnya.

Tubuh atasnya tak terlapisi apa pun. Pelan-pelan ia bangkit dan menepi untuk turun dari ranjang. Tanpa sengaja, matanya menangkap bekas gelas kotor di atas meja kecil yang berada di sudut kamarnya. Kakinya melangkah ke sana, mendekati meja, mengulurkan tangan, kemudian mengambil sepasang gelas dengan noda cokelat di dasar-dasarnya.

Cokelat hangat.

Dua buah gelas kotor, mampu membuat pikiran Ichigo berkemelut aneh.

Pria itu memalingkan wajah, kembali meneruskan langkah untuk keluar dari kamar. Kakinya membawa diri ke arah dapur, untuk meletakkan dua buah gelas kosong itu di wastafel. Dan indra penglihatannya disambut oleh beberapa piring kotor dan gelas-gelas lain yang belum tercuci.

"Makanlah. Jangan pasang wajah seperti itu."

Dan tiba-tiba saja, aroma Rukia datang seperti hukuman. Sebab dirinya, dengan kesadaran penuh, menyadari tak ada entitas lain di ruangan ini. Tapi aroma itu seakan terus menguar, membawanya kembali pada memoar-memoar kebersamaan mereka malam tadi. Mengiris dan mengelus lembut sudut hati Ichigo secara bersamaan, perih dan nikmat. Bagi Ichigo, keduanya sama saja.

Kehadiran gadis itu, sekelebat bayangan-bayangannya, selalu menjadi hal yang paling taksa untuknya.

Tak terkecuali Minggu pagi ini. Ketika akhirnya Ichigo lebih memilih menyambar handuknya, dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badan ketimbang memikirkan hal-hal tentang Rukia yang seharusnya tak ia pikirkan.

"Berikan satu alasan kenapa aku harus ikut denganmu."

Rukia menyilangkan kedua tangan, menaruhnya di atas dada dan membentuk seringai kecil di bibir mungilnya.

Di hadapannya, Renji, masih berdiri di luar pintu. Sedang menguar cengiran dengan aura percaya diri yang begitu kentara.

"Karena aku butuh teman sarapan, karena kau juga butuh teman sarapan, dan karena kita belum sarapan," jawabnya mantap.

Rukia memutar bola mata, "tahu dari mana aku belum sarapan?"

Renji tersenyum sekilas, menatap Rukia sedikit lebih lama hingga membuat gadis itu sedikit tersipu. "Tahu saja."

Satu-satunya alasan yang membuat Rukia meragu adalah Ichigo di dalam sana. Ia bisa saja menerima ajakan Renji tanpa pikir panjang, sebab, pernyataan alasan Renji adalah benar. Hitung-hitung pagi ini ia tidak perlu membuang waktu berdiri di depan kompor untuk memasak masakannya sendiri.

Tapi, bagaimana dengan Ichigo?

Lelaki itu sudah terbiasa 'disuapi'.

"Memang mau mengajakku ke mana?"

"Ke mana pun yang kau mau, Princess."

Keduanya terkekeh kemudian. Renji masih tak beranjak dari posisinya satu langkah pun, begitu juga Rukia. Gadis itu kembali menimbang-nimbang ketika akhirnya otaknya menggagas pertanyaan bodoh.

"Berdua saja?"

Renji menarik napas sesaat dan menatap Rukia. Entah bagaimana caranya, lelaki itu seperti menangkap kode implisit yang diuarkan atas pertanyaan itu. "Kukira kita sedang pendekatan?" Ia menyeringai main-main. "Tapi, boleh lah ajak satu orang lagi yang kau mau."

Dan detik itu juga Rukia mengangguk, menggiring Renji masuk sementara dirinya melangkah cepat ke kamar Ichigo tanpa lebih dulu mengetuk.

Renji menatap Rukia di sebelahnya, memberinya tatapan menyerah dengan kedikan dagu ke satu entitas di depan mereka. Sedang Rukia hanya terkikik kecil, ikut mengatensi ke arah kedikan Renji, menatap Kurosaki Ichigo, yang tengah memakan makanannya dengan begitu lahap seolah tak memedulikan keadaan sekitar.

"Hei, hei, Ichigo. Bisa tidak kau bernapas barang sedetik? Kau terlihat seperti bujangan yang seminggu tidak makan, tahu tidak?" Renji mencondongkan tubuhnya.

Yang dipanggil mendongak sekilas. "Cih. Apa peduli kalian? Sana, pacaran saja."

Renji tertawa mengejek, "sial kau. Tahu begitu aku tak setuju kau ikut."

"Berisik. Setelah sarapanku habis aku akan pulang."

Mereka masih saling mengejek di meja makan restoran dua puluh empat jam ini. Sedang Rukia, diam-diam menyimpul senyum penuh arti. Ia melirik Renji yang masih mengumpat tak jelas, kemudian berpindah memandang Ichigo yang seolah tak peduli dengan ucapan itu. Seumur-umur mengenal Ichigo, ia tak pernah melihat lelaki itu memiliki ikatan relasi yang kuat dengan teman-teman prianya. Hanya Renji, yang kali ini … terlihat begitu match.

Karena Rukia bisa merasakan, Renji adalah orang baik.

"Aku selesai."

Suara Ichigo menarik gadis itu kembali ke realitasnya. Makanannya sudah tandas, ia melirik Renji, makanannya juga sudah hampir tandas, sedangkan dirinya masih tersisa lebih dari setengah.

"Bagus. Kau bisa pergi secepatnya dari sini," ujar Renji terlihat main-main. Tapi kemudian Ichigo bangkit dari duduknya, berbalik arah dan siap melangkah meninggalkan meja.

"Terima kasih sarapannya, baboon!" Lelaki itu melambaikan sebelah tangannya dari belakang. Terus melangkah tanpa menoleh barang sekalipun.

"Oi, Ichigo! Aku bercanda!"

Sayup-sayup Ichigo mendengar teriakan dari sahabatnya itu, namun, dengan langkah ringan, ia tetap meneruskan langkahnya.

Sedang di mejanya, Rukia masih sibuk dengan piring sarapannya. Ia tak ingin memikirkan hal-hal lain saat ini, biar saja pagi harinya saat ini dihias oleh warna merah rambut Renji dan cengiran-cengiran menyenangkannya. Ia butuh itu.

"Baiklah, kita tinggal berdua."

Rukia mendongak dan menangkap cengiran Renji. Gadis itu ikut mengangkat sudut bibir. "Kau perlu tambahan orang? Mungkin kau bisa ajak Rangiku untuk bergabung."

"Oi, oi. Peka lah sedikit, Rukia. Dasar kau ini …,"

Rukia mengangkat bahu, mengulum senyum. Ia peka—terlalu peka bahkan. Hanya saja Rukia merasa ini di luar kuasanya. Sebelah hatinya yang lain masih dengan jujur memrotes kepergian Ichigo. Kenapa pergi bahkan sebelum mereka sempat berkonversasi apa-apa? Kenapa pergi dan tanpa sekalipun menoleh ke arahnya lagi?

Rukia menghela napas. Dan anehnya kenapa aku peduli?

"Anggaplah aku tak tahu apa-apa," ujar Rukia kemudian. "Usahalah semampumu, Renji. Waktu yang akan menjawab usahamu."

Dan dengan satu tatapan kejut, Renji tersenyum.

"Yah, orang bilang, aku memang payah untuk menutupi perasan," katanya kecil. Masih dengan senyum di bibir.

"Memang kelihatan sekali, sih. Semenjak kau datang ke rumahku. Kenapa memangnya? Tak ingin membuat para wanita penasaran dengan perasaanmu?" Rukia meninggalkan makanannya. Gadis itu melipat kedua lengan dan menaruhnya di atas meja. Untuk kemudian mencondongkan tubuh lebih dekat ke arah Renji.

Renji mengangkat alisnya, "beberapa dari mereka tidak suka pria yang sok misterius, bukan?"

Diam-diam Rukia mengiyakan.

Ini bukan tentang bagaimana si pria menyembunyikan perasaan atau membuat si wanita penasaran. Ini tentang kejujuran. Bagi Rukia, itu yang nomor satu.

Dan jujur saja, kejujuran Renji mampu menarik perhatiannya—meski masih dalam tahap itu saja. Tidak lebih.

"Rukia," Renji berbicara lagi. "Kalau aku mengajakmu kencan … apa kau akan menerimanya?"

Gadis itu tertawa kecil. Lelaki ini … benar-benar, deh.

"Kenapa tidak?"

Renji balas tertawa, kemudian berdeham kecil. "Karena rasanya, mungkin terlalu cepat."

Memang terlalu cepat, tapi, bagi Rukia, mungkin semakin cepat semakin baik.

"Justru itu, kalau tidak sekarang, kapan lagi? Kau tidak takut aku direbut orang?

Langit gelap menyubtitusi terang dan pintu kamar Rukia telah diketuk. Ia menghela napas dan menatap cermin sekali lagi sebelum akhirnya menghampiri pintu yang masih terus berbunyi tersebut.

"Kita bukannya ingin pergi ke pesta, Rukia."

Itulah kalimat pertama yang muncul dari pengecap Ichigo. Alis tebalnya terangkat sebelah ketika matanya menatap Rukia lekat-lekat.

Sedang Rukia hanya menatap bingung, mengatensi Ichigo dan penampilannya, kemudian berpindah untuk melihat penampilannya sendiri.

Dress putih selutut dengan bordiran ungu di bagian pinggangnya.

Sedangkan Ichigo? Lelaki yang tengah bersandar di bilik pintunya itu hanya mengenakan kaus panjang biru pudar—bahkan lengannya digulung hingga siku—dan sebuah jeans belel yang tentu saja bukan jeans terbaik lelaki itu.

"Kita hanya datang ke acara bulanan biasa. Kumpul-kumpul sesama penghuni apartemen. Jadi … lebih baik kau ganti bajumu sebelum semua orang mengira kau terlalu niat datang."

Sebetulnya, tak ada salahnya juga jika orang-orang mengiranya terlalu niat. Toh, itu menjadi perspektif positif bagi mereka. Apalagi, Rukia termasuk penghuni baru. Hal itu bisa ia jadikan untuk meraih perhatian dan pengaruh positif.

Tapi, pada akhirnya, Rukia berbalik ke kamar dan kembali dengan setelan jeans hitam dan sweater rajut lavender. Seperti matanya.

Ichigo menyeringai, tangannya terulur untuk mengacak pelan helai rambut sebahu milik gadis itu. "Nah, begini lebih bagus."

Akhirnya kedua entitas itu keluar apartemen dan menyusuri lorong untuk mencapai lift. Pergi ke lantai dasar di mana tempat Urahara-san dan Yuroichi-san berada.

"Ichigo," Rukia mengujar di sela-sela pergerakan lift yang lambat.

"Hm?"

"Apa Urahara-san dan Yuroichi-san itu … bersama? Maksudku, kalau bersama, mengapa mereka tidak disebut sebagai Tuan dan Nyonya Urahara?"

Ichigo melirik gadis di sebelahnya itu. "Jika bersama yang kaumaksud itu menikah, mereka tidak seperti itu."

Lift kembali berdenting dan mereka sampai di lantai dasar. Ichigo menarik lengan Rukia untuk memasuki lorong di ujung koridor lantai ini. Di sana, di kamar paling ujung, sudah terlihat segerombolan orang yang tengah mengobrol bersama-sama. Mayoritasnya adalah laki-laki.

"Lalu, bagaimana?" Rukia masih penasaran.

"Mereka terjebak dalam friendzone, mungkin." Ichigo berbisik kecil, sembari menahan tawa. "Mereka bersahabat, tetapi tinggal bersama, tetapi tidak mengaku saling cinta. Menurutmu apa?"

Rukia tak menjawab. Tapi ia ikut tersenyum membayangkan kedua orang yang sepertinya dituakan di antara kumpulan penghuni apartemen ini. Sepertinya … isu hubungan mereka memang menjadi gosip menarik di lingkungan ini.

"Nah, silakan kau tebak sendiri setelah melihat mereka nanti," lanjut Ichigo sembari mengedipkan matanya.

Beberapa orang yang terngah bergerombol di depan pintu kamar apartemen Urahara-san dan Yuroichi-san menoleh ketika Ichigo dan Rukia sampai. Salah satunya adalah Ishida Uryuu, lelaki yang kemarin menyampaikan undangan acara kumpulan ini pada Rukia. Gadis itu melirik Ichigo yang tengah menebar senyum kecil, refleks, sudut bibirnya juga ikut terangkat.

"Ah, ini pasti Rukia-chan!"

Rukia menoleh ketika mendengar ujaran tersebut, tak jauh dari pintu, di dalam, seorang pria dewasa dengan sebuah topi nyentriknya tengah tersenyum—hingga kedua netranya membentuk garis samar. Amethyst-nya yang memancarkan kebingungan segera netral kembali ketika diam-diam Ichigo berbisik, "itu Urahara-san."

Lelaki nyentrik itu melangkah menghampiri Rukia, bibirnya terus membentuk kurva senyum tanpa menipis sedikitpun.

"Aa—halo, Urahara-san. Salam kenal." Rukia membungkuk sekilas, Urahara-san balas membungkuk dan kembali tersenyum.

"Nah, kau sudah ditunggu teman-teman barumu di dalam. Ayo, masuk," katanya lagi.

Rukia menatap Ichigo sekilas, namun Ichigo hanya mengangkat bahu dan mengedikkan kepala. Mengilokasikannya untuk pergi ke dalam. Gadis itu pun hanya menghela napas dan mengangguk.

Kamar apartemen Urahara-san dan Yuroichi-san tak jauh beda dengan miliknya dan Ichigo. Hanya saja, di dalam sini terlihat lebih sesak dengan barang. Dan hangat. Sebab terlihat sekali pemiliknya sering berada di rumah. Warna catnya juga kuning limun, yang menghadirkan terang di setiap celah-celah kosong dan space-space di sekitarnya.

Rukia mengatensi beberapa orang yang tengah mengobrol di sofa. Perempuan mendominasi di sana, sisanya adalah pria yang lebih senang menarik perhatian para wanita dibanding dengan berkumpul dengan makhluk sesamanya di luar sana. Sedikit gugup, tiba-tiba Rukia merasa keraguan dalam langkahnya. Ia hampir saja berbalik ke depan, namun lengan seseorang menahannya dari belakang.

"Aku di sini."

Itu suara Ichigo.

"New York menjadikanmu berkepribadian introvert?"

Rukia menatap protes, namun tak pelak, ia membenarkan. Hidup lama di negara yang tak mementingkan sosialisasi membuat Rukia sedikit kaku bertemu dengan orang baru yang lebih dari satu. Ia akhirnya mundur selangkah, menyejajarkan diri di samping Ichigo dan membiarkan lelaki itu melangkah bersamanya.

"Oi, Ichigo!" Seseorang berambut hitam dengan tato 69 di wajahnya menyeringai. "Waaa, satu bulan tak bertemu kau sudah bawa kekasih, eh?"

"Cih, baru tahu boleh bawa kekasih ke perkumpulan ini." Kali ini pria berambut putih keperakan dengan badan kekar.

"Ia Kuchiki Rukia, Muguruma-san. Teman Kurosaki-kun." Seorang wanita cantik berambut cokelat terang datang dari dapur, ia tersenyum lembut ke arah Rukia. "Salam kenal, Kuchiki-san."

Rukia, entah mengapa, memiliki tendensi untuk menatap sosok itu lebih lama, sebelum akhirnya balas tersenyum lembut dan membalas salamnya. "Uhm, salam kenal juga …?"

"Inoue Orihime."

"Inoue-san," lanjutnya lagi. Gadis itu hanya mengangguk sekali, kemudian sibuk dengan kue-kue yang dibawanya dari dapur.

Ichigo kembali menarik Rukia untuk duduk di sofa. Lelaki itu membalas sapaan dua lelaki yang tadi menyapa Ichigo dengan sinis, kemudian ketiganya terlibat pembicaraan serius. Rukia tidak mengetahui jelas apa yang tengah mereka bicarakan, karena selanjutnya, perhatiannya tertuju pada beberapa perempuan yang berada di dapur.

Gadis itu menoleh ke arah Ichigo sekilas. Masih asyik mengobrol. Akhirnya ia memutuskan untuk bangkit dan melangkah menuju dapur.

"Ah, Kuchiki-san!"

Gadis cantik berambut cokelat itu kembali menegurnya, ia tengah sibuk membuat squash yang terlihat segar.

"Hai. Boleh aku bantu-bantu di sini?"

"—tentu saja boleh."

Suara itu muncul sebelum Orihime sempat menjawab. Rukia menoleh dan menemukan sosok wanita manis berkulit gelap, dengan rambut berkuncir satu. "Kau bisa membantu kami sesukamu, Rukia. Asal tidak menambahkan racun apa pun ke dalam makanannya," lanjutnya lagi, sambil tersenyum penuh canda.

Kalau tak salah tebak—

"Itu Yuroichi-san, kalau kau belum tahu." Orihime berbisik dan tersenyum. "Salah satu Tuan Rumah kita."

"Aa—"

"Hei, Orihime, cepat selesaikan squash-nya. Dan, Rukia, bisa bantu aku mengangkat cake ini?" Yuroichi menandas cepat.

Rukia dan Orihime mengangguk. Gadis cantik itu segera menyelesaikan pekerjaannya, sedang Rukia melangkah mendekati Yuroichi.

"Kau sudah berkenalan dengannya?"

Rukia mengernyitkan kening, kemudian memalingkan wajah untuk menatap wanita di sebelahnya. "Siapa?"

"Orihime."

"Ah—ya, sudah. Uhm, sepertinya aku baru berkenalan dengannya di sini." Rukia terkekeh kecil.

Yuroichi ikut tertawa, tangannya yang gesit membuka oven dan dengan bantuan Rukia mengeluarkan cake yang baru matang itu. "Sekadar info, gadis satu itu menyukai Ichigo dari dulu."

Rukia hampir saja menyentak cake-nya. Tapi, refleks cepatnya lebih dulu menyadarkan. Pada akhirnya, tangan kecil itu hanya sedikit oleng, membuat Yuroichi mengangkat alis sesaat.

"Maaf, agak panas, Yuroichi-san."

Mungkin konteks Rukia ada pada loyang cake yang baru saja mereka keluarkan. Tapi, Yuroichi tak dapat menahan tawa gelinya. Seolah ucapan Rukia memiliki makna konotatif tersendiri, yang tak hanya bermakna denotatif.

"It's ok."

Setelah cake dituang ke dalam piring besar, mereka membaginya menjadi beberapa bagian. Kue tersebut kemudian mereka bawa ke ruang tengah, di mana kali ini, sudah dipenuhi oleh entitas-entitas lainnya. Sepertinya mereka semua sudah berkumpul di sana. Mencipta konversasi terkonvergen pada malam itu.

Rukia duduk di sebelah Yuroichi, agak jauh dari tempat Ichigo berada. Rukia tak sadar, jika netranya semenjak tadi terus-menerus mengatensi Ichigo seolah mengawasi.

Ia hanya mendengar sayup-sayup perempuan-perempuan di sekelilingnya saling bercerita macam-macam. Ada tawa yang menyambang atau pekikan kaget khas perempuan. Tapi, mata Rukia tetap terpaut pada direksi di mana Ichigo berada.

Kemudian, suara seseorang terdengar di sebelah telinganya. "Kau tak perlu mengawasinya terus-menerus."

Rukia terpaku. Itu suara Yuroichi.

"Aku dapat melihatnya, Rukia. Ia tidak akan bisa lari darimu. Just like how Kisuke did to me."

Rukia tak mengerti denotasinya, namun, entah bagaimana, ucapan Yuroichi seperti memberi paradigma baru bagi hatinya.

Untuk sesaat, ia merasa wajar karena telah memikirkan Kurosaki Ichigo kembali.

.

.

tbc.


a/n: maaf kalau chap ini pendek dan … kurang dapet feel-nya, saya sedang berusaha untuk kembali jatuh cinta pada cerita ini. [yep, saya sempat kehilangan renjana heheh :")]

Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk kalian Azura Kuchiki, ichigo, darries, rin azuna, Lucya Namikaze, LuciaKuchiki, Guest, stefymayu yeniferangelina, Guest, dan Fidyagami. Segala yang tertulis di sini untuk kalian :*

Soal masa lalu IchiRuki dan ByaHisa, ya, ini lumayan berpengaruh terhadap cerita; karena itulah penyebab awkward-nya relasi IchiRuki saat ini (awkward di sini maksudnya, ngegantung gitu deh :3) jadi, saya belum bisa bilang apa-apa. Tapi seiring berjalannya cerita pasti akan terkuak. Dan soal Renji … yuk, siap-siap sama abang yang satu ini :3

Review and concrit are welcomed :)

LastMelodya