Disclaimer: All character belong to Tite Kubo. But this story purely mine. I don't take any profit from this work. It's just because I love it.
Warning: AU, miss-typo, OOC, DLDR, IchiRukiRen
Enjoy reading!
.
Head Over Heels
by LastMelodya
.
.
"Bagaimana acaranya menurutmu?"
Mereka menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar Rukia. Malam sudah larut, suasana sekitar telah sepi hingga keduanya dapat mendengar deru napas halus yang diembus masing-masing.
Rukia menyandarkan tubuh di dinding, kedua tangannya terlipat di depan dada. Sudut bibirnya terangkat perlahan-lahan. "Lumayan."
Kekehan Ichigo terdengar setelahnya. Pria itu sangsi, sebab ia tahu, Rukia menikmati—sangat menikmati acara barusan. "Oh, ayolah, Rukia. Aku tahu kau menikmatinya. Apa sulitnya jujur padaku?"
Rukia akhirnya tersenyum lebar, kedua jarinya terangkat membentuk lambang peace. "Baiklah, baiklah. Tadi itu seru sekali." Ia mengaku, ametisnya menaut langit-langit koridor apartemen. "Aku senang bisa mengenal Yuroichi-san."
"Biasanya, beberapa orang membenci sifatnya yang sarkas dan blak-blakkan. Tapi, kau menyukainya, ya?" Ichigo ikut menyilangkan kedua lengan di depan dada. Tubuhnya maju selangkah mendekat, dengan main-main mengatensi Rukia dan tatapannya yang mendominasi.
Sayangnya, hal itu tak memengaruhi Rukia. Gadis mungil itu mendorong dada Ichigo agar menjauh darinya. "Jangan main-main dengan membawa percakapan ini lebih jauh. Aku ngantuk, dan kau!" Telunjuknya menusuk-nusuk dada pria itu. "Kembali ke kamar sana."
Ichigo hanya menghela napas pelan. Membiarkan Rukia lolos dari dominasinya dan melangkah menuju pintu kamarnya. Gadis itu sudah menempelkan kartu apartemennya di pintu, namun, Ichigo menahannya untuk sesaat.
Tangan kanannya terangkat dan diletakkan di sebelah kepala Rukia, menjadikan daun pintunya pegangan. Sedang sebelah tangannya yang bebas ikut terangkat di sisi sebelahnya. Dengan begini, Ichigo berhasil mengurung Rukia di depan pintu.
"Ichi—"
"Aku mendengar kalian membicarakanku." Ujaran rendah itu memotong seruan Rukia. Matanya yang amber menggelap, setara dengan suaranya yang merendah. "Katakan padaku, Rukia—"
"Jangan memulai, kumohon." Rukia memalingkan wajahnya. "Jangan memulai apa yang telah diakhiri."
Seperti ada sembilu yang menancap hati Ichigo. Pria itu terdiam, menghentikan ujarannya.
Baru saja Rukia meyakini, bahwa memikirkan Ichigo merupakan hal yang wajar. Sebab seperti yang Yuroichi katakan tadi, Ichigo tak akan bisa lepas darinya. Tidak akan.
Lantas, mengapa ketika Ichigo ingin mengungkitnya Rukia malah berbalik menghentikannya?
Dalam hati, ia berbisik. Mungkin—mungkin, ia terlalu takut.
Sebab masa lalu masih menjadi salah satu hal traumatis baginya.
Ketika Rukia mendongakkan wajahnya kembali, netra madu Ichigo masih berada di hadapannya, masih menautnya, masih membawanya masuk ke dalam sengat memori yang tak seharusnya ia datangi kembali.
"Time flies, people change." Ichigo berbisik pelan. Wajahnya mendekat, mentransfer hela napas hingga Rukia dapat merasakan napas mereka berdua menyatu. Satu pejaman mata, satu sentuhan di helai hitam Rukia; Ichigo mengecup keningnya. "But we're stand still."
…
Tentang hal-hal lampau yang menjadi memori dalam satuan otak dan pikirannya, Rukia memahami keseluruhannya.
Ia memahami, ada beberapa hal yang tak lagi bisa direkonstruksi ulang, walau ada banyak kemungkinan yang mendukung. Sebab pada kenyataannya, jantung inti dari konstruksi itu sudah hancur. Tak bisa dikompromikan kembali.
Begitulah masa lalunya dengan Ichigo.
Seberapa pun pria itu mencoba menariknya kembali, Rukia tetap tidak bisa.
Relasi statisnya dengan Ichigo yang seperti ini, sudah ia anggap cukup.
Cukup.
"Orang-orang akan menertawaiku jika melihat pria sekeren aku menenteng-nenteng chappy seperti ini." Renji mencibir aneh. Rukia, di sampingnya, tertawa dengan belah pipi menghangat.
"Katanya ingin mengesankanku? Kalau begitu saja sudah malu, apanya yang membuatku terkesan?" Gadis mungil di sampingnya menyela, dan Renji hanya dapat menyembunyikan satu senyum hangat.
Semalu apa pun ia, jika ada gadis mungil ini di sampingnya, Renji tidak akan keberatan.
Sore tadi, sepulang Renji dari kantornya, pria berambut panjang itu meminta Rukia untuk menemaninya mencari makan malam. Berhubung Ichigo belum pulang dan hubungannya dengan pria itu sedang tak terlalu baik, Rukia tak segan untuk mengiyakan ajakan Renji. Lagi pula, ia juga belum masak. Lagi-lagi, tak ada alasan untuk menolak.
Selesai makan, pria itu membawanya ke pusat game zone. Sejujurnya, Rukia tak begitu menyukai permainan seperti itu, sebab itu hanya akan membuatnya semakin terlihat seperti anak kecil. Tapi Renji dengan senyum lebarnya berhasil membuat Rukia tak menolak. Aura Renji begitu lembut di sekitarnya, dan pria itu mampu membawa Rukia pada jutaan tawa ketika mencoba berbagai permainan yang ada di sana.
Iseng, Rukia menantang Renji memasukkan bola ke ring sebanyak-banyaknya. Di area penukaran kartu, ada sebuah boneka chappy besar yang menarik atensi Rukia. Dan pada akhirnya, Rukia menantang Renji untuk mendapatkan boneka itu.
Namun, mungkin, hal itu terlalu mudah untuk seorang pria dewasa seperti Renji. Tanpa kesulitan—dan hanya sedikit pegal-pegal karena terlalu banyak melempar bola, Renji berhasil mendapatkan chappy yang diinginkan Rukia.
Saat ini, jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Tawa Renji masih lebar sedang pikiran Rukia sudah karut-marut entah karena apa. Terkadang, ia merasa bersalah karena merasa nyaman bersama Renji. Ia tak mengerti, mengapa bisa tiba-tiba ia merasakan perasaan seperti itu.
Toh, ia bukan sedang berselingkuh atau semacamnya.
"Jadi, pulang?" Renji mengujar lagi di antara perjalanan mereka yang berstagnasi. Kini, keduanya berada di depan lift. Bersiap untuk turun dari lantai area game zone. Wajah pria itu sedikit menyiratkan pengharapan.
Rukia memberi cengiran kecil, melangkah mendahului Renji ketika pintu lift terbuka. "Hu-um. Aku ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Deadline-nya besok, sih. Hanya saja, lebih cepat dikerjakan akan lebih baik, kan?"
Renji mengangguk-angguk setelah menyusul Rukia masuk dan menekan tombol menuju ke lantai dasar. Pintu lift tertutup, hening mendominasi di kubikel kecil yang hanya terisi berdua itu.
Pelan-pelan, lengan kecil Rukia merambat pada chappy besar yang dipegang Renji. Senyumnya tersungging. Kedua violetnya menerawang entah memikirkan apa.
"Terima kasih, ya, Renji."
Suara Rukia begitu lembut. Mengingatkan Renji akan perasaannya sendiri yang muncul untuk pertama kalinya di kelab beberapa waktu lalu. Ia menyukai suara Rukia, dan kini, semua yang ada di diri gadis itu membuatnya gila.
Renji mengangkat tangan, untuk kemudian mengulurkannya berusaha menyentuh lengan putih gadis itu.
Tapi, gerakannya dihentikan oleh suara lift yang berdenting.
Mereka sudah sampai.
Dan ketika pintu terbuka, Rukia sudah lebih dulu melangkah keluar tanpa berkata apa pun.
Lagi-lagi mendahului Renji.
…
Mobil Renji berhenti di depan gerbang besar apartemen Rukia. Gadis itu tak menawarkannya masuk, dan ini sudah terlalu malam untuk bertamu. Maka dari itu, Renji tak memaksa membawa mobilnya masuk ke dalam parkiran apartemen.
Chappy besar yang teronggok di belakang ia ambil. Bulu-bulunya lembut dan seputih salju di musim dingin. Bagi Renji, semua itu cocok dengan gadis di sampingnya. "Ini milikmu."
Rukia tersenyum sekilas, menggapai boneka besar itu dan memeluknya di dada. Renji tertawa kecil, menyadari tubuh Rukia bisa saja tenggelam dalam tubuh boneka itu. Rukia yang mungil semakin terlihat mungil. Tapi, pada akhirnya ia diam saja, karena lebih dulu terpaku dengan senyum manis Rukia di antara pelukan boneka besar berkuping panjang itu. Renji ingin menghela napas lega, Rukia menyukai pemberiannya.
Sepersekian detik berikutnya, Rukia menatap Renji. Sebelah tangannya mengambil clutch di atas dashboard dan mengujar terima kasih pada pria itu sekali lagi. "Well, terima kasih untuk hari ini, Renji." Senyum gadis itu meebar.
"My pleasure, Rukia. Aku senang melihatmu banyak tersenyum hari ini," Renji mengujar jawab dengan tenang. Kini, tangannya kembali terangkat, dan berhasil menggapai lengan mungil gadis itu. "Apakah ada kesempatan untukku mengulang hari ini?" Matanya menaut violet Rukia sebelum melanjutkan. "Bersamamu?"
Rukia terpaku dan tak segera menjawab. Resonansi pendingin kubikel mobil terdengar jelas melenyapkan segala suara di sekitarnya. Bahkan, jantungnya sendiri.
Rukia tahu tujuan yang Renji inginkan bersamanya, ia sangat-sangat tahu dengan baik. Namun, ada masa di mana ia akan terpaku dengan kejut kecil yang kurang nyaman, dan membuatnya berpikir ulang akan apa yang tengah mereka lakukan. Mungkin, mungkin saja, karena Rukia tak siap bila secepat ini. Tak siap, bila pada akhirnya Renji akan memintanya bersama bahkan di malam kencan serius mereka yang pertama.
Gadis itu punya banyak pertimbangan, bahkan sebelum Renji meminta apa pun. Ia seperti membatasi, walau akhirnya tak mampu menolak. Seperti ada sesuatu yang membuatnya bertahan di satu sisi, dan takut untuk bergerak. Padahal, kesempatan untuk bergerak dan berpindah tempat ada beribu-ribu. Hanya Rukia yang terlalu takut.
Satu anggukan diberikan gadis itu. Lengannya terasa hangat di genggaman telapak tangan besar milik Renji. Seharusnya, ia yakin, kepada telapak tangan besar itu, akan ada banyak kenyamanan yang ia rengkuh nantinya. Aka nada protektif dan afektif yang selalu diuarkan pemiliknya.
Renji memang tak mengatakan apa-apa lagi, ia tak meminta Rukia untuk bersamanya saat ini, ia tak meminta Rukia untuk menjadi kekasihnya saat ini. Tapi, Rukia melihat pancaran penuh tendensi pada netra milik pria berambut merah itu.
Implisit ingin memilikinya.
Dan Rukia semakin terpaku ketika Renji menghela napas, mengelus lengannya dengan lembut—sangat lembut. Dan berbisik di telinganya. "Terima kasih, Rukia."
Napasnya menyusuri pipi dan sekitar rahang Rukia. Gadis itu memejam mata, merasakan genggaman di lengannya semakin mengerat, dan napas Renji kini berada tepat di depan bibirnya.
Ia membuka mata. Ini belum saatnya.
Tubuh Rukia mundur perlahan—berusaha tak terlihat tengah menolak keras-keras ciuman yang hampir diberi Renji. Satu gerakan, dan Rukia bergegas membuka pintu mobil.
"See you, Renji."
Satu senyum, satu empasan, dan pintu kembali ditutup.
Dari kaca mobilnya yang hitam. Sayup-sayup Renji dapat menangkap siluet Rukia yang berlalu pergi. Rambutnya yang sepanjang leher bergoyang tertiup angin. Dari belakang pun, sosok mungilnya terlihat begitu manis.
Renji mengumpat dalam hati.
Ia, Abarai Renji, tidak pernah jatuh suka sedalam ini.
…
Hujan di siang hari bukan hal yang aneh lagi di Karakura. Suaranya meredam ingar-bingar di sekitar dan gemericiknya membuat siapa pun yang tengah berkonversasi harus berusaha menaikan volume suara, atau kalau tidak, suaramu tak akan terdengar sama sekali.
Itulah yang dilakukan Ichigo saat ini.
Hazel-nya menangkap Renji dan Rangiku yang berada di sudut kafe kantor. Ia memanggil tetapi tak ada yang mendengar. Suaranya diredam nada hujan dan membuat Ichigo kembali merepetisi panggilannya dengan volume suara yang satu tingkat lebih kencang.
Keduanya masih berstagnasi dengan obrolannya. Sehingga Ichigo menyerah dan berhenti memanggil, dan lebih memilih melangkah mendekat saja. Lagi pula, untuk apa dirinya repot-repot memanggil dari jauh jika pada akhirnya ia bisa melangkah mendekat dan mencuri atensi dua orang sahabatnya itu?
"Hai, Ichigo." Rangiku menyapa lebih dulu. Di hadapannya sudah ada semangkuk salad tanpa saus mayonnaise dan jus jeruk—menu makan siang versi Rangiku.
Sedang di depan Renji sudah ada menu bento ukuran besar dan jus alpukat di gelas tinggi. Melihatnya terlalu fokus makan tanpa mengalihkan pandangan kepadanya, membuat Ichigo menepuk punggungnya main-main sebelum akhirnya ikut mengempaskan tubuh di depan mereka.
Renji mengangkat wajah. "Sial kau, Ichigo. Untung aku tidak tersedak."
Ichigo hanya tertawa singkat. Tangannya sudah sibuk memegang daftar menu yang entah mengapa tak berhasil menggunggah nafsu makan siangnya. "Bernapaslah kalau makan, baboon," ujarnya di sela-sela kegiatannya tersebut.
Renji tak mengacuhkan dan kembali menikmati menunya. Meninggalkan Ichigo yang masih mengawang-awang akan menu makan siang yang akan dipilihnya.
Pada akhirnya ia memilih nasi kare dan segelas ocha dingin. Pramusaji mencatat menunya sesaat sebelum pergi untuk membuatkan pesanan pria itu.
Sepersekian menit berikutnya, pramusaji kembali membawa serta pesanan Ichigo. Meretas konversasi ringannya dengan Renji dan Rangiku. Di saat dua sahabatnya suda selesai, Ichigo baru saja memulai makannya.
"Omong-omong, kenapa telat makan siang, Ichigo?" Rangiku bertanya di antara sesapan jus jeruk terakhirnya.
"Tadi ada kerjaan yang harus kuselesaikan. Tanggung jika dijeda istirahat," jawabnya pelan.
Rangiku hanya mengangguk-angguk sembari merogoh tas kecilnya, mencari-cari cermin dan pemulas bibir.
"Ahhh, kenapa hujan, sih, siang ini." Renji mengujar tetiba, dengan empasan tubuh kekarnya di sandaran kursi dan mata sayunya yang meredup. "Aku benci."
"Kau ini. Hujan membuat kita bisa lebih enjoy saat bekerja, tahu tidak?" Rangiku memoles bibirnya pelan. "Meditasi alami."
"Masa? Menurutku sama saja. Malah suaranya mengganggu." Renji merotasikan kedua mata tak setuju.
"Itu hanya kau. Dasar baboon. Hanya bisa mengeluh. Jangan sia-siakan kenaikan pangkatmu yang kemarin itu, lho, Renji."
Renji berhenti menyahut, mengatupkan bibir rapat-rapat. Jika sudah membawa jabatan, rasanya Renji merasa terbebani dan tak bisa membalas apa-apa lagi.
"Omong-omong, aku rindu pub." Pria itu kembali menggumam. Rangiku dan Ichigo menatapnya. "Akhir pekan ini, bagaimana? Mau tidak?"
Rangiku mengangguk afirmatif. "Boleh."
"Hu-um," sahut Ichigo pelan.
Satu waktu, dan Renji berdeham pelan. Tiba-tiba tubuhnya tertegak dan matanya mengitari sekeliling kafe. "Uhm … kalau mengajak Rukia … bagaimana?"
Ichigo hampir tersedak suapan terakhirnya, kalau saja refleks logisnya tak lebih dulu mengambil alih. Ia menelannya, menyelesaikan makanan dan menyesap ocha banyak-banyak. Karamelnya lebih dulu menatap Rangiku, yang juga tengah memandang awas padanya. Sedang Renji, di sana, masih menunggu respons dari mereka berdua.
Ichigo tak terlalu menyukai ini. "Rukia tak suka pub dan semacamnya," katanya pelan. Kemudian, tersenyum kering pada Renji. "Tapi, kalau kau ingin mencoba mengajaknya, silakan saja."
Renji memberi satu cengiran senang sedangkan Rangiku menatapnya dengan tatapan aneh, seolah Ichigo baru saja melontarkan pernyataan yang membuat seluruh dunia diserang bahaya.
"Rukia terlalu manis untuk kaubawa ke pub, Renji." Rangiku menukas pada akhirnya. Ichigo meliriknya sekilas. "Tapi, kalau ia mau … tak apa juga, sih."
"Kalian ini … aku akan coba mengajaknya kalau begitu," Renji memberi keputusan akhir.
Detik berikutnya mereka melirik jam, waktu istirahat tersisa lima belas menit lagi. Rangiku mendesah dan bangkit berdiri, berkata bahwa ia harus ke toilet terlebih dahulu sebelum kembali ke ruangannya. Ichigo dan Renji hanya mengangguk, lebih memilih bertahan di sini barang lima sampai sepuluh menit lagi.
Suara hujan masih mendominasi. Ichigo mengingat waktunya yang ia sita dengan kesendirian semalam. Pulang dari kantor disambut dengan pintu kamar apartemen Rukia yang tertutup. Ia kira, Rukia sedang ingin membatasi diri dengannya. Namun ketika malamnya ia mendengar onomatope langkah khas milik gadis itu di sepanjang koridor, ia tahu, Rukia baru pulang dari suatu tempat.
Dan tersangka nomor pertama yang Ichigo spekulasikan adalah … pria di hadapannya saat ini.
Toh, Rukia belum mengenal banyak orang. Dan kemungkinan paling besar yang berani mengajak Rukia pergi adalah Renji.
Ichigo memalingkan wajahnya, tak tahan untuk tak bertanya. "Kemarin, kalian ke mana?"
Renji yang tengah sibuk dengan pikirannya tersentak kecil. Ia menatap Ichigo perlahan. "Makan malam. Dan … jalan-jalan sebentar."
Ichigo mengangguk singkat. Melirik jam dinding yang tetiba menjadi lama berputar. "Ah, sudah kuduga."
Renji tertawa pelan. Tiba-tiba saja, pandangannya melembut. Ia teringat senyum Rukia, juga pembatasan implisit gadis itu padanya. Tapi, memori tangan Rukia yang hangat di telapaknya membuat Renji tak mampu bepikir lagi.
Ia ingin mengungkapkan perasaannya.
"Ichigo," Renji mengujar, kedua matanya mengatensi langit-langit kafe dengan kosong. Di depannya, Ichigo menatapnya dengan awas.
"Hm?" balas Ichigo singkat.
Satu helaan napas, Renji melanjutkan. "Sepertinya aku jatuh cinta pada Rukia."
Ada hazel yang melebar, ada perasaan yang terdestruksi.
"Benar-benar jatuh cinta."
Pandangan Ichigo meredup. Seperti ada pintu yang akhirnya tertutup dan terkunci dengan rapat—sangat rapat, dan tidak lagi bisa terbuka. Dan ia berhenti, karena pada akhirnya, ia harus berhenti sama sekali.
Siang itu, di antara guyuran hujan yang tak juga berhenti, mereka terjebak dalam distorsi perasaan milik masing-masing.
.
.
tbc.
a/n: mohon maaf karena saya selalu lama dalam hal mengapdet fik ini :") ada beberapa hal, yang sangat sulit ditulis di sini. sehingga ketika menulisnya, saya harus benar-benar dalam keadaan mood yang pas. tapi, saya selalu berjanji pada diri saya, bahwa saya akan selalu menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. jadi … jangan takut fik ini di-discontinued, ya ;p
as always, terima kasih untuk kalian yang sudah menyempatkan membaca dan mereview. kalian yang membuat saya selalu bersemangat menulis lanjutannya. karena kalian, saya jadi tahu kalau fik pas-pasan ini masih ada yang membaca :")
NickyBernett (already update ya), ara-chan (hi reader kece ;p terima kasih sudah membaca yaaa), Azura Kuchiki (hai mou-chan, hehe iyaa ini lama lagi ya apdetnya :*), Ayra el Irista (hai kak ayaaa :* makasih udah mampir yaaah. semoga kakak juga bisa cinta sama fik ini :*), miracahya (halo, terima kasih banyak sudah mau menunggu, mira-san :"D), Fidyagami (hai kak fidd, makash masih nyempetin mampir hehe. kayaknya di sini renji makin over nih ;p dan btw, chap kemarin ichi bangun di kamarnya sendiri kok), wowwoh geegee (aaah benerrrr #teamfriendzone ya kita hihi), Kurosaki2241 (sudah dilanjut yaaa), C Luzia (halo, makasih banget udah nyempetin mampir ya, so honored :") dan ini chap terbarunya ^^)
sekali lagi, makasih untuk yang sudah mampir. review and concrit mean so much for me :)
kiss,
LastMelodya
