Jam menunjukkan pukul lima kurang, waktu dimana matahari mulai bangun dari tidur nyenyaknya, di ufuk barat sana. Natsu justru terbangun duluan, mengusap sepasang onyx sambil memandang sekeliling ruangan. Tidak ada yang aneh, ini memang kamarnya, bercat biru muda senada langit musim panas. Jendela tertutup rapat oleh gorden bercorak polkadot, ia membuka kaca membiarkan angin menyeruak masuk ke dalam. Menghirup setiap hembusnya nikmat bagaikan itu nafas terakhir.
"Jalan pagi di luar pasti bagus. Lagi pula baik untuk kesehatan"
Begitulah pikirnya, Natsu segera melaksanakan rutinitas pagi, mengganti pakaian tidur menggunakan kaos dan membawa botol minuman. Ia pamitan pada ibu di dapur, bergegas memakai sepasang sepatu kets khusus untuk berolahraga. Jalanan masih sangat sepi, mobil yang berlalu lalang pun dapat dihitung dengan ke sepuluh jari bergantian. Tubuhnya merasa segar, jauh lebih baik dibanding udara rumah sakit, bercambur obat-obatan dan bahan kimia.
Whuusshhh ….
PLUK!
Kelopak bunga sakura terjatuh tepat di telapak tangan. Pentara angin yang menerbangkannya kemari, Natsu genggam erat sembari memandangi lekat sebuah objek biotik tersebut. Benar juga, sekarang masih musim semi, bahkan sebentar lagi akan diadakan festival di taman kota dekat rumah. Instingnya membawa ke sana, duduk di bawah naungan pohon berwarna pink muda. Memang kurang jelas, dikarenakan matahari belum benar-benar bangkit, ya, dia agak malas hari ini sepertinya.
"Kenapa aku merasa aneh, ketika berada di sini?" gumam Natsu seorang diri. Menerawang langit gelap melalui dua iris yang kini tertutup rapat. Perasaan rindu merayapi ganas, ketenagannya mendadak hilang keseimbangan, dirundung sakit kepala hebat nan dahsyat
"Aku selalu bersamamu..."
Kenapa dia tidak bisa mengingat? Siapa? Wajah itu tertutupi bayangan tipis, latar tempat berwarna hitam putih dengan matahari pukul dua belas siang. Natsu cukup yakin walau diserang ragu, indah memang, namun …. Sulit sekali dijelaskan, atau jangan-jangan dokter salah vonis, bahwa diam-diam ia juga menderita amnesia berat?! Siapa tau kemarin hanya mimpi, dan sekarang raganya terjebak lagi di alam bawah sadar tersebut?
"BAAAA!"
"WHOAAAAA!" suara baritonnya berteriak kaget. Jatuh terlentang di atas hamparan rumput yang dibasahi embun. Natsu menempatkan posisi tubuh seperti semula, terkejut melihat Lucy dengan tawa tertahan di ujung mulut. Tentu dia kesal, tetapi mau marah pun tak tega
"Hahahaha ….! Baru kali ini aku mendapatimu begitu terkejut. Sedang apa kau di sini?" tanya Lucy penasaran berat. Menilik bukanlah kebiasaan Natsu keluar pagi-pagi dan menganggur tidak jelas
"E-entahlah! Aku hanya merasa aneh … Dengan pohon ini …." kurva sempurna terbentuk pada bibir kemerahan gadis bersurai pirang itu. Ia mengajak Natsu bangkit berdiri
"Kata orang-orang pohon ini angker. Ada penunggunya, lho! Jadi, kau harus berhati-hati, nanti kerasukan setan"
"Apa benar?"
"Sudahlah ayo jalan, jangan pikirkan perkataanku barusan! Belum tentu benar"
Langit terlihat lebih cerah, sinar keemasan matahari menerpa kulit sawo matangnya hangat. Mereka berjalan menuju kompleks blok A, kediaman keluarga Dragneel yang telah menetap sejak sepuluh tahun lalu. Natsu sudah bersiap-siap, membawa tas hitam dan mengenakan seragam kemeja putih, dipadukan celana bahan biru jeans yang membuatnya tampak keren. Jarum pendek di angka enam, belum terlambat untuk melaksanakan piket.
SREKKK!
"Kalian terlambat! Aku hampir menyelesaikannya sendirian" ucap Loke menyampirkan pel di bahu, menyebabkan Lucy maupun Natsu merasa bersalah. Meski agak aneh juga, sih, sejak kapan si cowok playboy ini rajin bersih-bersih?
"Hebat! Kerjamu cepat"
"Aku tidak selambatmu, Natsu. Pulang sekolah kau yang bersihkan, oke?"
"Baiklah, baiklah. Aku minta maaf karena terlambat membantumu" ruang kelas mereka lumayan luas untuk sekolah menengah. Pasti lelah membersihkan semuanya, apa Loke mempunyai tenaga kuda? Dia mengerikan ternyata ….
SREKKK!
"Loke-senpai, aku membawa air sesuai permintaanmu! Lain kali bersihkan kelas sendiri, jika tidak kuat kan bisa menunggu Natsu, Lucy dan yang lain. Oh rupanya kalian sudah datang! Tolong bantu dia. Rogue bisa kesal karena ditelantarkan di kelas, bye!"
"Pulang sekolah kau tetap ikut membersihkan kelas, mengerti maksudku?"
Hahahaha …. Dia hebat bisa membuat Lucy marah besar, batin Natsu tertawa kecil dibangkunya, melihat sandiwara Loke terbongkar habis-habisan. Pelajaran pertama matematika, dan seluruh murid mendadak bergidik ngeri, mengetahui Laxus-sensei membawa setumpuk kertas ulangan bercoret spidol merah. Ulangan harian entah berapa minggu bahkan bulan, pembagiannya ditunda karena libur pun rapat guru di yayasan.
"Remedial bagi mereka yang nilainya di bawah tujuh puluh, setelah pulang sekolah kumpul lagi di kelas. Jangan pulang! Jika tidak bapak akan menuliskan nol di rapot. Baiklah, sekarang buka buku cetak halaman dua ratus satu. Kerjakan sendiri-sendiri, yang mencotek bukunya disobek!"
Sumpah …. Guru yang satu ini kelewat sadis. Natsu memegangi kepala pusing, memandangi barisan per barisan mendesah kesal. Mau dilihat dengan cara apapun, jawaban tidak mungkin keluar dari buku. Dia bisa saja mengarang, tetapi jika musuh yang dihadapi adalah matematika …. Terlalu sulit untuk mengada-ada namun tetap logis. Pikirannya masih terpaku pada hal yang sama, pohon sakura, seseorang, matahari pukul dua belas, padang rumput, kenapa penuh misteri?
"Natsu pergilah ke UKS. Wajahmu pucat" perintah Laxus-sensei direspon cepat oleh si salam. Kelas mendadak gaduh sesaat, yang kembali tenang usai diberi death glare sepenuhnya
Jam istirahat ….
Kini Natsu sudah balik ke dalam kelas. Menghampiri teman-temannya yang menunggu sedari tadi. Ia mengambil kotak bekal, memasukkan sebutir demi sebutir nasi lalu dikunyah nikmat. Tak ketinggalan lauk ikan goreng kesukaannya yang masih hangat. Suasana benar-benar hening, entah kenapa salah satu dari mereka berempat tiba-tiba membisu, termasuk Lucy dengan raut menyiratkan kekhawatiran mendalam.
"Eto Natsu …. Kau baik-baik saja, bukan?"
"Ya, begitulah. Kepalaku sedikit sakit, sekarang sudah tidak. Maaf membuatmu khawatir, Lucy"
"Ba-bagaimana kalau besok, kita karaoke di tempat nongkrong biasa? Apa kalian keberatan?" tanya Wendy memberi saran, dan tanpa banyak omong semua mengiyakan sebatas menganggukan kepala. Natsu yang kalem mempengaruhi alur obrolan, di antara mereka dia paling berisik menyangkut acara kumpul
"Ceritakanlah. Apa Natsu marah karena Loke berbohong?" giliran Sting yang buka mulut. Kalau bisa secepatnya, dia ingin menghancurkan suasana kelam ini
"Jawab sejujur mungkin. Selain kalian yang ada di sini dan Gajeel, apa aku mempunyai seorang teman lagi? Katakan juga kondisi penyakitku sebenarnya, pernahkah dokter berkata sesuatu?"
"Dasar bodoh, jangan banyak pikiran dulu. Kami semua temanmu, tidak ada yang lain. Kepalamu terantuk batu, wajar jika akhir-akhir ini sering berhalusinasi" jelas Lucy perlahan. Mengelus lembut pucuk Natsu berluap kasih sayang. Sekarang dia jauh lebih stabil dibanding sebelumnya, membuat mereka berempat tenang
"Yosh, besok ayo karaoke!"
Syukurlah akhirnya mereda.
Pulang sekolah ….
Sapuan orange menghiasi langit yang membentang luas. Jam tiga sore semua murid sudah pulang ke rumah masing-masing, kecuali Lucy, Loke dan Natsu. Ketiga orang ini memiliki urusan melaksanakan jadwal piket. Oh! Bisa dibilang pula si otak api selamat dari kegiatan bersih-bersih, karena dia harus kencan dengan matematika selama satu jam penuh. Laxus-sensei datang, menyuruh dua yang tersisa keluar sehingga terpaksa ditunda.
"Menunggu satu jam hanya untuk bersih-bersih kelas, aku bisa gila duluan!" kebiasaan buruknya kumat, deh. Lucy menutup telinga rapat, menjaga jarak agar keluhan cowok playboy itu tidak merusak indra pendengar
"Lucy, izinkan aku mencari Wendy, oke? Dia bisa membantu kita supaya cepat selesai"
"Ho-hoi, jangan seenak jidat memutuskan dan kabur. Loke, Loke!"
Terjadilah kejar-kejaran ala Tom dan Jerry di sepanjang koridor sekolah. Loke menuruni tangga terburu-buru, bersembunyi di balik loker sambil mengatur nafas. Lucy memicingkan mata penuh tatapan intimidasi, menggunakan insting wanita yang tidak pernah salah untuk menghukum sahabatnya. Ada Wendy juga di sana, tengah mengambil sepucuk surat kaleng beramplop putih bersih.
Menjauh dari Natsu atau kau akan celaka.
Bersambung ….
Balasan Review
Karura-Clarera : Hmm... Gray? Entahlah! Lihat saja sendiri! Dan jika Chapter 2 ini semakin membuatmu pusing jangan salahkan aku ya~ :D
