Pasti ulah anak-anak usil, batinnya membuang amplop tersebut ke dalam tong sampah, melangkahkan kaki keluar melewati pintu yang setengah terbuka. Loke keluar dari tempat persembunyian, menghentikan Wendy dengan menepuk bahunya pelan. Begitupun Lucy yang mirip macan betina, langsung menerjang si oranye tanpa belas kasih sedikitpun. Baiklah, dia tidak tau apa-apa, selain kedua kakak kelasnya bertindak aneh sedari tadi.
"Ano …. Lucy-senpai, Loke-senpai. Ada perlu apa mencariku?" tanya Wendy yang ternyata peka. Berluap semangat empat lima, lelaki tak tau diri ini terang-terangan meminta bantuan
"Tolong bantu kami mengerjakan piket di kelas, ya?" pinta Loke sembari menepuk tangan di depan dadanya, bahkan mengeluarkan jurus puppy eyes yang membuat hati Wendy luluh seketika. Ya, walaupun kurang cocok dengan pesona cowok populer
"Te-tentu. Tanpa perlu memohon pun pasti ku bantu"
"Jadi merepotkanmu, dan tolong maafkan Loke. Dia memang pandai soal menyusahkan orang lain"
"Sekali ini saja. Setelah itu aku tidak akan merepotkanmu lagi" beginilah gambaran kerjaan play boy : mengumbar janji manis di awal, kemudian dibuang semudah melempar remukan kertas. Lucy yang tau siasat Loke pun langsung mencubit pipinya gemas
"Lupakan perkataannya. Ayo segera selesaikan, aku ingin pulang"
Tugas dibagi sesuai perintah Lucy, disalip Natsu yang baru saja selesai melaksankan remedial. Laxus-sensei memberi izin sampai jam lima sore, setelah itu harus pulang dan mengabari orang tua masing-masing, mengingat banyak kasus penculikan beberapa waktu terakhir. Selesai melaksankan piket, Wendy pamit duluan karena ada urusan penting, tersisa mereka bertiga yang berjalan santai, walau sadar langit di luar sana telah berubah warna.
"Hey Lucy. Sekilas aku melihat Wendy membaca surat kaleng dari seseorang! Tetapi dia membuangnya" meski wanita pirang ini malas, mendengar cerita Loke yang sangat tidak penting, terkadang merusak suasana malah
"Lalu kenapa? Jangan bilang, 'aku ingin melihatnya!', lalu memungut surat itu. Asal kau tau, tindakanmu sama saja dengan pengintipan privasi" baru diperingatkan, Loke tetap nekat merogoh isi tempat sampah. Kebetulan hanya satu yang tersisa, memudahkan ia mengambil tanpa perlu mengaduk-aduk lebih dalam
"Dewi fortuna memihak padaku rupanya. Untung belum dipungut Droy-san. Oke, ayo kita intip apa isinya"
Menjauh dari Natsu atau kau akan celaka.
Mereka berdua berpikir, 'kurang kerjaan sekali', berbeda dengan Natsu yang menganggap serius. Surat kaleng tersebut menyangkut namanya, bahkan disertai ancaman entah fisik atau mental. Apapun maksud si penulis jelas membahayakan. Firasatnya berubah buruk, sedangkan Lucy sebatas memberitau, 'mana mungkin benar-benar terjadi, dunia ini nyata bukan sinetron'. Lagi pula ia tidak bodoh, palingan jebakan batman atau ulah anak nakal, Wendy pasti baik-baik saja ….
atau mungkin …. tidak?
Keesokan harinya ….
Pagi kembali menyapa menggantikan dewi malam. Sekumpulan siswa dan pekerja kantoran bersiap menyebrangi jalan, ditemani deru kendaraan bertimpa bunyi klakson saling menyahut satu sama lain. Ramainya perkotaan memang menyimpan cerita tersendiri, termasuk Wendy yang nyaris terjebak macet akibat kecelakaan beruntun. Jam menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit, tinggal enam puluh hitungan mundur sebelum bel masuk berbunyi.
"Gawat. Harus cepat, cepat!" gumam Wendy setengah panik. Membuka pintu lokernya yang menghamburkan puluhan amplop putih. Ia terpana sesaat, lupa memasangkan uwabaki akibat kaget bukan kepalang
"Wendy. Cepat masuk ke dalam kelas sebelum guru mengajar" ucapan Laxus-sensei menyadarkannya dari lamunan. Satu per satu surat dimasukkan dalam loker, asalkan tersusun rapi dan tidak menerobos keluar sembarangan
Wendy yang berhati bak malaikat pun enggan berprasangka buruk. Memang, akhir-akhir ini dia merasa diuntit seseorang, tetapi siapa dan apa tujuannya? Berpikiran surat dari para fans pun terasa mustahil, mengingat anak itu hanya murid teladan kesayangan guru, meski tidak menutup kemungkinan tersebut terjadi, sementara dunia semakin dipenuhi keanehan di luar akal sehat manusia.
Jam istirahat ….
"Wini wenak sekali …. mwasakan Lucy mwemang terbaik" mulut Natsu yang dipenuhi nasi berucap riang. Melahap telur gulung dan bakso sapi sekaligus, tak heran ia dijuluki rakus. Cara makannya sudah menunjukkan fakta barusan
"Pelan-pelan Natsu. Tidak akan ada yang merebutnya darimu. Omong-omong Wendy-chan, air mukamua nampak pucat. Aku atau Sting bisa mengantar ke UKS"
"Tidak Lucy-san. A-aku kepikiran peristiwa tadi pagi, lokerku mendadak dibanjiri puluhan surat. Tapi karena Laxus-sensei meronda, jadi ku biarkan"
"Hebat! Dalam sehari kamu mendapat puluhan surat, jangan-jangan terror dari Romeo!" sempat digosipkan menyukai Wendy, meski kabar itu dinilai basi karena beredar sebulan lalu
"Hahahaha ….! Mana mungkin Loke?! Kau pikir, Romeo punya kekuatan sepuluh tangan seperti iklan deterjen? Malahan patah duluan sebelum menyentuh loker Wendy. Jangan dengarkan dia" ledek Sting sambil menyesap sekotak jus. Mengabaikan empat siku yang melekat di pelipis kakak kelasnya
"Dasar maniak pisang! Setiap hari kau meminumnya, mau berevolusi menjadi monyet, hah?!"
"Kita, kan, evolusi monyet. Pasti kamu tidak pernah mendengar teori Darwin, kasihan sekali …."
"Cukup bertengkarnya! Bagaimana kalau kita mengcek loker Wendy?" usulan yang bagus guna memisahkan anjing dan kucing ini. Wendy bersyukur memiliki orang sewaras Lucy dalam kelompok mereka
Sepuluh menit tentu cukup untuk memastikan seluruhnya. Setiap orang merobek lima amplop, kecuali Natsu yang mendapat jumlah genap. Raut wajah Wendy berubah drastis, membaca setiap isi surat tidak berbeda satu dengan lain. Diikuti Natsu karena lagi-lagi namanya disebut, begitu juga Lucy dan Loke, sedangkan Sting yang belum tau bersikap acuh tak acuh. Siapapun pernah mendapat surat kaleng, murid teladan sekalipun tidak luput menjadi korban keisengan.
"Santai saja! Aku yakin bukan masalah serius" amplop yang berserakan Sting rapikan kembali. Spontan membuangnya ke tong sampah agar diangkut petugas kebersihan
"Kau tidak mengerti Sting. Kemarin Wendy juga dikirimi surat serupa. Apa kau bisa bilang semua ini hanya kebetulan?" ekspresi Lucy pun tak kalah kaget. Terutama melihat nama sang pacar berserta ancaman yang mengintai di balik bayang
"Natsu-senpai tenang saja! Aku yakin pengirimnya menaruh dendam, sehingga menyuruhku menjauhimu"
"Pulang sekolah kita laporkan kepada ketua OSIS. Aku rasa guru tidak akan menanggapinya serius"
Usai mendengar usulan Sting, mereka pamit menuju kelas masing-masing. Bagi Wendy seorang waktu berjalan sangat lama. Pikirannya mulai kacau balau, diserang berbagai hipotesis menyangkut sang kakak kelas : Natsu Dragneel. Manusia pasti pernah, merasakan dibenci atau membenci sepanjang menjalani hidup. Namun siapakah gerangan? Mungkin saja anggota geng sekolah, rival si salam di klub renang? Entahlah, terlalu banyak jika diterka!
Bisa juga …. seseorang yang mereka lupakan.
Pulang sekolah ….
Lucy bersama Wendy mengunjungi ruang OSIS di ujung koridor, dan untungnya ada sepasang muda-mudi yang belum pulang. Mereka adalah Jellal dan Erza, ketua-wakil periode X791-X792. Kemudian suatu hari nanti, dia akan menggantikan posisi si scarlet dengan calon baru. Tanpa kalian ketahui, kedua wanita ini menjalin pertemanan sejak bangku SMP.
"Maaf menganggu kalian. Temanku membutuhkan pertolongan, ia diterror oleh puluhan surat kaleng, dan semuanya berisi, 'menjauh dari Natsu atau kau akan celaka'"
"Tunggu, kenapa dia harus membawa-bawa nama Natsu? Di mana lokernya? Lebih baik kalian pulang, biar kami yang mencari si pelaku"
"Baiklah. Mohon bantuannya Erza, Jellal-san"
OSIS ada untuk membantu para murid menyelesaikan masalah mereka, mulai dari yang masuk akal hingga absurd sekalipun. Setelah mengantar ke loker anak kelas satu, mereka pamit pulang bersama Natsu, hanya kebetulan saja ia tertahan di kelas gara-gara panggilan Laxus-sensei : nilai matematikanya di bawah rata-rata. Erza segera bersembunyi di belakang tembok, sedangkan Jellal memastikan isi amplop tersebut.
"Benar-benar terror yang mengerikan!" gumam Jellal membaca kilat setiap surat. Melemparnya sembarang ke udara sampai berceceran di lantai. Ia berhenti usai mendapat kode khusus dari Erza, dengan sigap berlindung di balik loker mencari si pelaku
Tap … tap … tap ….
Seorang cowok berambut gondrong, dan dia memasukkan sepucuk surat ke dalam loker kelas satu! Jellal menangkap tangan kekarnya cepat, diikuti Erza yang mengambil paksa amplop merah jambu itu. Setelah dilihat-lihat ….
"Surat cinta? Kau tidak berniat mengancam seseorang?" mendengar interogasi yang awuran membuat dahinya mengernyit heran, bercampur kesal merebut 'benda sakralnya' dari tangan Jellal
"Apa maksudmu Erza Scarlet? Ya ampun …. kalian mengacaukan rencanaku! Seperti agen rahasia saja bermain intai-intaian di sekolah!"
"Ma-maaf. Akhir-akhir ini ada adik kelas yang diterror puluhan surat. Kami tidak bermaksud menuduhmu atau apa" dan penjelasan Jellal menyelamatkan mereka dari amukan Gajeel. Ya, dialah si pengirim surat cinta untuk Levy McGarden, wanita setingkat di bawahnya
"Mungkinkah ulah geng Fairy Tail? Mereka sempat menaruh dendam pada Natsu, karena dihajar habis-habisan ketika di halaman sekolah" terka Erza yang sekadar dibalas anggukan pelan. Jellal tidak mendapat petunjuk apa-apa, selain musuh si salam dengan kemungkinan terbesar
"Besok akan ku tanyai mereka. Kau ikuti Wendy kemanapun dia pergi. Oke?"
"Baiklah, tetapi berhati-hatilah Jellal …. ingat, kan, mereka paling membenci anggota OSIS"
Penyelidikan sesungguhnya baru dimulai besok, di mana semua itu berakhir dalam sekejap ….
Keesokan harinya ….
Langkah kaki Wendy terburu-buru menyebrangi zebra cross, menyebabkan kemacetan lalu lintas sesaat akibat tindakannya yang sembrono. Bukan tanpa alasan, ia sempat bermimpi buruk mengenai sesosok hantu, lalu menyelipkan surat bertinta darah yang tersimpan di belakang bantal. Jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, akal sehatnya kekurangan logika sampai lupa segala hal. Denyitan pintu loker terdengar berkeriut, terdapat surat lain yang bertengger di lubang uwabaki.
Tes … tes … tes ….
SREKKKK!
HARI KEMATIANMU SUDAH DEKAT, WENDY MARVELL.
"Hhhh… hah … hahh … tidak … ini … ini tidak mungkin …." mimpinya terwujud nyatakan. Kini Wendy tengah memegang surat berlumuran darah segar, yang menggenangi lantai biru marmer dengan warna merah tua lengket
"Selamat pagi, Wendy. Jarang sekali melihatmu masih di sini" pucuk kepala Wendy menoleh ke sumber suara, terlihat Erza sedang mengganti sepatu memakai uwabaki. Balik menatap iris kecokelatan yang sekilas menyiratkan ngeri
"Ru-rupanya Erza-senpai, ku … ku kira siapa, ahaha … ha …. su-sudah dulu, aku ingin ke perpustakaan membaca buku"
"Kalau begitu aku ikut. Jellal menyuruhku mencari novel misteri yang sering dipinjam itu. Kalau tidak salah berjudul …. Detektif Hantu?" jelas Erza hanya mengarang alasan. Wendy terlihat membutuhkan bantuan, ekspresi wajahnya sulit dijelaskan dengan kata-kata
"Te-tentu. Ayo!"
"Omong-omong apa yang kamu pegang? Warnanya merah sekali"
"Bukan apa-apa, sa-sama sekali tidak penting!"
Refleks Wendy asal melempar ke sembarang arah. Mendadak ia muak akan keberadaan tong sampah di ujung pilar, karena diisi tumpukan surat yang tidak lain berasal dari lokernya. Mereka berpisah di bagian fiktif. Erza berpura-pura mencari novel, sementara dia menjauh dan pergi mengunjungi rak makalah. Jari-jemari mungilnya mengambil sebuah buku setebal seratus halaman bertajuk, 'tragedi tahun X789'. Seorang alumni sekolah yang membuat penyelidikan tersebut, wartawan terkenal di statsiun televisi Saber Tooth.
"Bu-bukankah orang ini …."
KRESEKKK … KRESEKK ….!
DEG … DEG … DEG ….
BRAKKKKKKK!
"Wendy?"
Bersambung ….
Balasan Review
curry : Erza? Nanti akan diperjelas siapa Erza itu...
