"Hey Wendy, kau baik-baik saja?" jelas tidak, tubuh mungilnya tertimpa rak buku yang berukuran dua kali lipat lebih besar. Terluka parah dengan memar di sana-sini membuat Erza bertambah khawatir
"Ada apa?"
"Dengar-dengar raknya terjatuh dan menimpa anak malang itu"
"Wah, kasihan sekali. Ku harap dia belum mati" timpal salah satu anak menyebabkan emosinya naik ke titik tertinggi. Erza menarik kerah baju saksi mata berbalut amarah, tinju pun nyaris dilayangkan jika para guru datang terlambat ke lokasi TKP
"Hentikan, jangan bertengkar di sini!" lerai Gildarts-sensei menengahi. Erza yang sadar diri langsung menggendong Wendy menuju UKS di belokan
"Minggir! Kalau tidak ingin membantu jangan menghalangi jalan!"
Ya, dia marah, sangat marah …. semua murid hanya bisa bicara tanpa melakukan apapun, bahkan beberapa di antara mereka menyumpahi Wendy mati secara tidak langsung. Mirajane-sensei selaku petugas UKS siap siaga mengobati lukanya, sedangkan Erza menemani di samping harap-harap cemas sang sahabat diberkati dewi fortuna. Tentu menyakitkan, bisa dibilang ia benar-benar beruntung selamat dari kecelakaan tersebut.
"Untuk beberapa saat Wendy-san kesulitan berjalan. Lihatlah, memar di kakinya cukup parah begitupun di punggung. Sebagai langkah antisipasi, bawalah dia ke rumah sakit terdekat" terang Mirajane-sensei yang Erza anggukan. Pasti orang tua korban panik bukan kepalang
"Oh iya, kamu punya nomor telepon keluarga Wendy?"
"Uhm! Saya akan menghubunginya sekarang" tak lama kemudian telepon diangkat oleh ibu Wendy. Entah bagaimana cara Erza menyampaikan rentetan peristiwa itu
"Selamat pagi, tante. Saya ingin memberitaukan keadaan Wendy, dia …."
"Cepat katakan anakku kenapa!"
"Dia tertimpa rak buku dan pingsan. Mohon anda segera menjemputnya, kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat untuk dicek lebih lanjut" tidak berhasil. Ibu Wendy tersulut bara api sekaligus menyalahkan sekolah atas kelalaian mereka
"Bagaimana pihak sekolah mau bertanggung jawab?! Jika anak saya meninggal bagaimana? Kau pikir tertimpa rak buku adalah masalah sepele, yang bisa diselesaikan semudah membalik telapak tangan?!"
"Maaf. Petugas perpustakaan pun tidak menyangka hal seperti ini terjadi. Saya mewakili sekolah minta maaf sebesar-besarnya"
"Sudahlah. Tolong jaga Wendy sampai dia terbangun. Saya akan menjemputnya secepat mungkin"
Tut … tut … tut …
Telepon diputus dalam menit kedua, Erza menghela nafas lega berhasil menghadapi ibu Wendy, walau harus diakui dia mengalami kesulitan berarti. Seseorang mengetuk pintu UKS pelan, menampilkan sesosok siluet wanita berkuncir dua dengan langkah ragu-ragu. Lucy masuk sambil menatap iba adik kelasnya, tanpa Natsu atau kawan lain yang ikut membesuk usai insiden barusan. Mereka terdiam sejenak, hanya terdengar deru kipas angin melingkupi sekitar ruangan.
"Bukan kamu yang seharusnya minta maaf, melainkan aku" tiba-tiba dia angkat bicara, pun mengatakan hal aneh bagi sepasang indera pendengaran Erza
"Apa maksudmu Lucy? Merupakan kewajiban OSIS untuk menanggung beban sekolah, jadi …."
"Saat kamu membawa Wendy ke UKS. Aku berada di perpustakaan bagian sejarah, dekat dengan rak makalah yang terjatuh. Ta-tapi, kakiku terlalu takut untuk bergerak. Padahal jika tidak, dia pasti terselamatkan!"
"Lalu intinya kamu ingin mengatakan, 'Wendy terselamatkan dan aku yang kena?'. Tetap saja menimbulkan masalah. Ayahmu akan marah besar, sekolah kita pun tetap dituntut oleh orang tua siswa" Erza benar, siapapun yang terluka sia-sia saja
"Teman macam apa aku ini? Melindungi sahabat sendiri pun tidak bisa!"
"Kita berdua sama-sama merasakannya. Omong-omong di mana Natsu dan yang lain? Apa mereka masih di kelas atau datang terlambat?"
"Biar ku cek sebentar. Jagalah Wendy"
Kamu kemana sih?! Batin Lucy khawatir, terlebih mendapati kehadiran Natsu telat dari jam biasanya. Pukul tujuh tepat mereka baru tiba di kelas, sementara pelajaran pertama dimulai sekarang. Mirajane-sensei juga mengabari, kalau orang tua Wendy sudah datang membawa anaknya pulang ke rumah. Semua benar-benar kebetulan, seakan pula Tuhan tidak memperbolehkan mereka bertemu sekadar membesuk sang sahabat.
"Hey Natsu!" panggil Lucy keras. Laxus-sensei akan sangat terlambat karena sibuk menangani kejadian di perpustakaan. Setelah ditelusuri, penyebabnya adalah kayu rak lapuk sehingga tidak kuat menahan beban buku
"Kenapa Lucy? Kau terlihat sangat cemas"
"Kalian tau insiden di perpustakaan? Wendy tertimpa rak buku akibat kelalaian petugas, sekarang dia sudah pulang dijemput orang tuanya"
"Benarkah? Ya ampun! Ada peristiwa sepenting ini aku malah datang terlambat. Bus-nya terjebak macet gara-gara kecelakaan di jalan utama, terpaksa menunggu setengah jam lebih" mendengar cerita Natsu membuat Lucy menundukkan kepala sendu. Mungkin hari ini memang sial
"Kita jenguk Wendy sesudah pulang sekolah. Kirimkan SMS padanya" usulan yang Lucy mengerti. Sting, Erza dan Gajeel pasti langsung setuju tanpa pikir panjang
To : Wendy
Kami akan menjengukmu jam dua siang. Semoga cepat sembuh ya!
Sementara Wendy di lantai bawah ….
Jari-jemarinya gemetar membuka pintu loker, hendak mengambil sepatu yang di dalam sana bertengger surat darah lagi. Masih sama seperti tadi pagi, 'HARI KEMATIANMU SUDAH DEKAT, WENDY MARVELL'. Memang benar, dia hampir mati jika Erza tidak bertindak siaga. Syukurlah Tuhan masih memberi kesempatan hidup untuk kedua kalinya. Namun bukankah agak aneh? Padahal telah dibuang ke tong sampah, tetapi ….
"Jangan takut Wendy, kau tinggal membuangnya lagi!"
PLUKK!
Semoga Pak Droy tidak menaruh curiga. Wendy masuk ke dalam mobil dipapah supir pribadi. Tujuan mereka, yaitu rumah sakit terdekat untuk mengcek keadaan tulangnya. Ditemani iringan musik jenis pop, dia berusaha mengalihkan pikiran dengan mengutak-atik hand phone yang sempat bergetar. Ada satu pesan dari Lucy, kalau mereka akan menjenguk ketika pulang sekolah. Diam-diam ibu membaca pesan tersebut berkilat amarah, terdapat satu kejanggalan di sana.
"Bilang ke Lucy, kalian boleh menjenguk jika tidak mengajak Natsu"
"Tapi, aku mana enak hati berkata begitu kepada Lucy-senpai?!" meskipun surat ancaman terngiang-ngiang di pikirannya, Wendy enggan berprasangka buruk terhadap Natsu. Dia pun percaya OSIS bisa menangani masalah ini
"Tadi pagi ibu menemukan surat darah di bawah bantalmu, katanya jauhi Natsu atau nyawamu meregang. Bagaimana kami tidak takut?!"
"Ba-baiklah, tunggu sebentar"
To : Lucy-senpai
Aku senang kalian ingin menjenguk, tetapi ibuku melarang Lucy-senpai mengajak Natsu. Maaf, selain menurut sulit bagiku untuk berbuat yang lainnya ….
Pulang sekolah ….
Pelajaran berakhir lebih cepat dari perkiraan mereka. Lucy mengcek satu pesan masuk dari Wendy, berisikan penolakan untuk Natsu yang membuat air mukanya berubah buruk. Erza menyelonong diikuti Sting dan Gajeel. Sekilas netra kecokelatan itu sempat melirik, walau ia maklum jika beliau mendadak overprotektif. Surat tersebut amat menganggu, ancamannya pun tidak main-main berhubungan dengan nyawa.
"Tidak mau memberitau Natsu? Aku takut dia kecewa nantinya"
"Harus bagaimana lagi … kau tau sendiri bukan Natsu terlihat bersemangat? Aku tidak ingin merusak suasana ini" balas Lucy menutup layar hand phone sedih. Kenapa si penerror melibatkanya hingga sangat jauh?
"Percayalah, kami pasti menangkap pengirim surat itu"
Lagi pula memang menjadi tugas OSIS untuk membantu siswa yang kesulitan. Mereka tiba di rumah sakit terdekat, suster memberitau jika Wendy dirawat inap di kamar nomor 509. Natsu yang pertama kali masuk dikejutkan dengan tatapan horror ibu korban, sedangkan Lucy tak berkutik sedikitpun sambil memalingkan muka. Dia minta maaf lewat iris karamelnya, karena tidak enak hati mengatakan syarat tersebut kepada Natsu.
"Bukankah anakku sudah mengirim SMS, kalau ingin menjenguk tidak perlu membawa Natsu?!"
"Jangan marahi Lucy-senpai ibu. Dia pasti punya alasan tersendiri, la-lagi pula Natsu-senpai tidak bersalah. Jadi, tolong …."
"Berhentilah membela pembawa malapetaka ini! Pergi dan jangan usik Wendy lagi, mengerti?"
"Baiklah, kebetulan aku juga ada urusan mendadak. Cepat sembuh, kami semua mendoakanmu!" ketahuan sekali berbohongnya …. Lucy sadar betul, Natsu hanya berpura-pura menerima telepon dari seseorang, demi menutupi kesedihan yang tidak dapat ia utarakan
"Maafkan aku, Natsu-senpai"
Memang tidak ada pilihan kecuali menghindar, demi keselamatannya juga kebaikan Natsu.
Keesokan harinya ….
Dari ujung pintu Wendy terlihat memakai tongkat untuk membantunya berjalan, dibantu Lucy dan Erza yang baru saja tiba mengganti sepatu menggunakan uwabaki. Natsu pun datang namun berjalan di belakang mereka bertiga, hendak menyapa sang adik kelas walau digubris mentah-mentah. Berlaku untuk dia seorang saja, buktinya anak itu masih dekat dengan Sting pun Gajeel. Lambat laun pula mengundang protes dari teman-teman.
"Bukankah sikap Wendy aneh? Dia menjauhi Natsu tiba-tiba" celetuk Sting tidak menerima perubahan tersebut, diangguki Gajeel yang ikut merasa heran. Namun rasanya konyol kalau memberitau penyebab yang belum pasti
"Tidak apa-apa! Aku tau Wendy melakukannya karena terpaksa"
"Argghh …. semua disebabkan oleh surat itu! Padahal pihak perpustakaan mengkonfirmasi murni kesalahan mereka, tetapi Natsu tetap disalahkan orang tua Wendy, sekarang dia juga terpengaruh!"
"Hmmm …. tunggu sebentar, aku meninggalkan cetak matematika di dalam loker"
"Hoi Gajeel, hentikanlah kebiasaanmu menaruh buku pelajaran di sana. Kalau ketahuan Laxus-sensei atau Freed-sensei bisa gawat" peringat Lucy yang diindahkan total. Istirahat hampir berakhir dan jam keempat adalah matematika
Saat membuka loker memakai kunci khusus, tanpa sengaja Gajeel menemukan sepucuk surat yang ia kira dari Levy, adik kelas tercinta. Tau-tau ketika dibuka malah berisi, 'menjauh dari Natsu atau kau akan celaka." Rasanya seperti mengalami dejavu berkali-kali.
"Kau mau mengklaim jika pelakunya adalah hantu, begitu?"
"Jelas kan?! Geng Fairy Tail membuktikan bahwa mereka tidak mengirim surat tersebut, kalau bukan hantu maka apa? Ulah guru, kepala sekolah?!"
"Pikirkanlah dengan logika. Pelakunya pasti manusia juga"
"Jellal, sesekali kesampingkanlah logikamu itu. Aku yakin pelakunya hantu, terserah jika tidak percaya"
"Ehem! Sepasang kekasih sedang bertengkar? Ku rasa tidak lucu, kalian putus hanya karena kasus ini tak kunjung selesai" interupsi Gajeel berdeham sesaat. Menyerahkan amplop putih nyasar dari lokernya yang dipenuhi buku pelajaran
"Lagi-lagi berisi ancaman …. Jellal, apapun katamu aku menetapkan, semua ini ulah hantu!"
"Terserah kau Erza, setelah dipikirkan tidak aneh juga mengingat tragedi tahun X789"
Bersambung ….
Balasan Review
curry : Hmm... Erza bukan detektif! Dia anggota OSIS! Errr... Rogue? Bukanlah! #smirk
Tsuzumiku Meldy : Tenang2... Ini masih lanjut kok! :D
