"Tragedi tahun X789? Bertahun-tahun sekolah di sini aku tidak tau" ulang Gajeel melipat dagu heran. Jadi berhubungan dengan kasus, misteri atau semacamnya? Serasa bermain detektif sekolah!

"Kasus itu hanya diketahui aku, Erza, Laxus-sensei dan kepala sekolah. Lebih lanjutnya biar dia yang ceritakan. Kita harus masuk" terang Jellal singkat, padat, jelas. Mengingat bel masuk berbunyi sebentar lagi

"Tidak apa-apa diceritakan pada umum? Kami bukan anggota OSIS, lho"

"Selama kalian tutup mulut maka tidak bahaya. Lagi pula kasusnya sudah lama berlalu, tapi berhati-hatilah karena banyak saksi mata berkata, 'insiden itu disebabkan bukan semata-mata kayu lapuk, melainkan Wendy melihat makalah tragedi tahun X789'"

"Ternyata Erza cocok juga menceritakan horror. Ya, tidak aneh sih mengingat kesukaanmu terhadap hal-hal berbau mistis. Selanjutnya bagaiamana?"

"Kita berkumpul di atap sekolah. Beritau Natsu, Sting dan Lucy, tidak perlu melibatkan Wendy. Ayo pergi, Erza"

Seakan mengisyaratkan, Jellal tidak suka wakil kesayangannya terlibat lebih jauh. Gajeel menyeringai kecil menyaksikan mereka, begitu dekat sayang bukan sepasang kekasih. Ia memasuki kelas bertepatan dengan bunyi bel. Sesuai dugaan, Laxus-sensei hanya mengajar sebentar dan meninggalkan para murid satu jam penuh. Waktu kosong yang tentunya dimanfaatkan seisi kelas. Tugas berlarut-larut ditelantarkan, bisa dikerjakan besok atau kapan-kapan.

"Gajeel. Setidaknya kerjakan dulu tugasmu baru menghampiri kami" peringat Lucy tidak suka. Jarang-jarang Natsu mau diajak bekerja sama, dalam matematika pula

"Santai Lucy. Jika dikerjakan bersama pasti lebih cepat selesai"

"Aku tau niatmu ingin mengajak Natsu mengobrol. Jadi, katakanlah sebelum kau kuusir" ancaman yang tidak main-main. Gajeel sendiri mengiindahkannya. Kursi entah milik siapa dia tarik ke sisi kanan meja. Lucy sekalipun pasti tertarik jika mendengar ini

"Erza ingin menceritakan perihal tragedi tahun X789. Mungkin dari kasus tersebut kita bisa menemukan petunjuk!"

"Maksudmu apa? Justru sebaliknya Erza berniat menakut-nakuti. Kau ingat musim panas tahun lalu? Kita hampir mati mendengar dia bercerita. Sting saja sampai lari tunggang-langgang, kecuali Jellal harus kuakui ketua OSIS kita memang pemberani.

"Anak itu tidak percaya hantu. Tau sendirilah Jellal wakil olimpiade matematika sejak dulu. Pikiran rasionalnya mana bisa mencerna begituan?" debat argumen yang membuat Natsu menghela nafas panjang. Mereka mirip anak kecil

"Jika kita berhasil menangkap hantu itu, Natsu akan terbebaskan dari tuduhan! Wendy dekat kembali dengannya, dan korban berhenti berjatuhan. Paham nona Heartfilia?"

"Idemu bagus. Baiklah, karena sekarang kau sedang pintar bantu aku mengerjakan tugas matematika"

Kerajinan murid teladan benar-benar sesuatu. Gajeel menggaruk kepala yang tidak gatal, setiap menilik soal matematika buatan Laxus-sensei. Guru ini memang berotak miring, ibarat mereka dijejalkan makanan asing oleh alien. Lucy pemegang rangking satu saja kesulitan, bagaimana bawahan-bawahannya? Natsu sudah menyerah di lima menit pertama, dia malah enak tidur beralaskan meja cokelat.

"Sulit sekali, dari sepuluh soal ada tiga nomor yang tidak bisa kukerjakan"

"Tiga katamu?! Benar semuanya dapat nilai tujuh puluh, bukankah bagus?!" tidak bagi murid pintar, untuk Gajeel yang rata-rata termasuk angka perak. Mendengar mereka mendadak Natsu mengubah posisi

"Ayo hampiri kelas Jellal dan tanyakan padanya! Dia pernah menjuarai tingkat nasional, kan? Pasti soal semacam ini sangat mudah"

"Kau gila Natsu. Mereka sedang pelajaran Yajima-sensei, dan beliau paling benci diganggu ketika mengajar. Berhati-hati juga dengan ceramah panjang lebarnya. Telingamu bisa merah seperti minggu lalu" Gajeel menolak mentah saran tersebut. Lucy masih asyik berkutat di hadapan rumus

"Sudahlah Lucy. Lagi pula bel ganti pelajaran akan ber …"

Kringgg … kringgg … kringgg …

"Bunyi" melihat ketepatan si salam Gajeel memujinya bak pesulap bermain tipu muslihat. Lucy bergumam lesu bahwa itu hanya kebetulan belaka

"Maaf Laxus-sensei. Aku gagal mengerjakan soal yang kau berikan"

Sebegitu pentingnya-kah? Lima jam pelajaran berlangsung khidmat, hanya Laxus-sensei yang bolos mengajar diakibatkan sibuk mengurus banyak hal. Pukul tiga sore bel berbunyi, mereka bertiga disusul Sting menaiki tangga ke atap sekolah. Hamparan oranye mewarnai langit Magnolia, ditemani angin sepoi-sepoi yang menyejukkan kulit. Jellal dan Erza berada duluan di sana, walau si tato aneh malas ikut didongengi insiden itu.

"Baiklah. Kita bisa mulai ceritanya sekarang"

Flashback …

Menurut penyelidikan seorang alumni sekolah, yakni Rogue Cheney yang kini bekerja di stasiun televisi Sabertooh. Pada tahun X789, ada sebuah tragedi menimpa murid berinisial X. Dia adalah korban pembullyan sekaligus pesuruh, sering pula terlibat dalam pertengkaran antar geng sekolah. Tentu karena terpaksa, boss mereka melibatkan sang ibu, dua orang adik dan kakak lumpuh yakni keluarga X sendiri.

Berdasarkan isi laporan, Rogue pernah berbicara dua kali dengannya. Pertama di halaman belakang sekolah.

"Kenapa tidak kau laporkan ke guru? Aku bisa membantumu jika diperbolehkan" entah gerangan apa sehingga Rogue ingin membantu X, tetapi saran tersebut ditolah oleh yang bersangkutan

"Taruhannya ibu, adik dan kakakku. Lagi pula guru tidak mempedulikan murid terbuang sepertiku. Bukan berarti aku menolak bantuanmu! Kita bertemu lagi di atap sekolah, oke?"

Lalu tak lama kemudian boss-nya datang menghampiri. Rogue sempat bersembunyi di balik pohon, menyaksikan tindak kekerasan yang terjadi melebihi kabar burung. Setelah bel masuk berbunyi, ia menghampir X terkapar di atas rerumputan. Berbaik hati membawa ke UKS dan pembicaraan mereka berlangsung di sana. Kalian tau apa isi pembahasannya? Yaitu rencana pembunuhan massal.

"Itu gila! Jika ketahuan kita bisa ditangkap polisi dan dipenjara seumur hidup" jelas Rogue menolak. Dia mempunyai hati nurani tidak seperti iblis di hadapannya

"Bukankah kamu ingin menghentikan pembullyan di sekolah? Ini rencana terbaik"

"Bagaimana kalau lapor ke polisi? Kita …"

"Bossku adalah anak pengusaha terkaya se-Magnolia. Kita akan kalah sebelum bertempur. Polisi keburu disogok maka tamatlah sudah" negosiasinya batal. Rogue yang menjunjung tinggi keadilan memutuskan ikut andil

"Buatlah surat penyesalanmu dan terbangkan di atas atap sekolah besok. Kita lakukan bersama-sama"

Tidak jelas kenapa harus diterbangkan, mungkin agar suatu hari nanti dunia tau, bahwa mereka adalah pembela kebenaran. Rogue menulis dengan ragu sampai terlihat patah-patah, setelah dimasukkan ke amplop putih angin dibiarkan melakukan tugasnya. X berkata rencana dilaksankan malam hari, ketika seluruh murid tertidur lelap usai sesi cerita. Kakak kelas yang meronda tak luput dijadikan korban pembunuhan, entah bagaimana dia terlihat sangat yakin.

"A-apa kamu seorang pembunuh yang menyamar menjadi murid sekolah?"

"Hahaha … candaanmu lucu sekali. Pesta sebenarnya baru dimulai sekarang" X mengeluarkan karung dari dalam tas beserta tali tambang. Anak pengusaha itu tercekik hingga sekujur leher berwarna biru, kehabisan oksigen

"Rogue sekarang giliranmu. Bunuh orang yang akan masuk ke dalam! Ingat, layangkan pisaumu dan tusuk berulang kali! Jangan berteriak"

Melawan rasa takut, Rogue melupakan definisi keadilan yang selama ini dijunjungnya. Pak guru terkulai lemas dalam kondisi kehabisan darah. Bertepuk tangan pelan X memuji tindakan sang rekan. Teriakan demi teriakan menggema di sepanjang lorong. Saksi mata dibunuh dengan sadis, beberapa yang berhasil melarikan diri dikabarkan pindah ke luar kota. Mereka berdua bermandikan darah saat itu, begitupun sekolah dan ruang kelas.

"Sekarang kau mau apa? Kita membunuh hampir seluruh penghuni sekolah …"

"Kita katamu? HANYA AKU YANG BEKERJA. KAU MALAH MERINGKUK KETAKUTAN MACAM SIPUT. Gawat … siapa sangka banyak korban berjatuhan melebihi ekspetasiku. Hanya ada satu cara, bunuh kepala sekolah dan masalah berakhir"

"Hentikan! Besok pasti ketahuan polisi. Kita membahayakan diri sendiri!"

"DIAM! KAU TAU APA SIALAN?! Be-benar juga … cepat atau lambat kamu pasti berkhianat. Aku harus membunuhmu … aku harus melakukannya sebelum rahasia besar ini terbongkar!"

Namun berhasil dihindari. Mereka yang saat itu berdiri di pinggir tangga membuat X menghantam setiap anaknya, mati bersama tumpukan mayat yang mengeluarkan bau busuk. Esok hari polisi menemukan puluhan korban, enam orang termasuk Rogue selamat dan sempat dijadikan komplotan. Mereka dibawa ke pusat rehabilitasi selama tiga tahun. Akibat gangguan jiwa berat lima lainnya bunuh diri. Dia menghabiskan sisa waktu untuk membuat makalah lalu ditaruh di perpustakaan sekolah.

Rogue dinyatakan sembuh walau belum total. Ia melamar kerja di stasiun televisi Saber Tooth dan masih hidup sampai sekarang. Kasus tersebut ditutu, karena kepala sekolah memutuskan menyogok pihak polisi.

End flashback …

"X? Setauku jarang ada nama berawalan huruf itu" celetuk Natsu setelah Erza selesai bercerita. Menyela sedikit saja maka nyawamu melayang

"Bisa dibilang sebut saja X. Dalam makalah Rogue tidak menyebutkan namanya. Mungkin dia tidak kenal atau sengaja dirahasiakan. Setelah insiden tersebut hantunya dikabarkan berkeliaran. Beberapa murid pernah melihat di tangga"

"Padahal rahasia besar, tetapi kenapa dijadikan makalah? Bukankah secara tidak langsung Rogue mengkhianati X?" sayang Gajeel belum bisa menjawab, 'kenapa kelompok kami dijadikan sasaran?'

"Kepala sekolah meminta sebagai syarat kelulusan. Aku sendiri tidak menyangka akan ditaruh di perpustakaan, sedangkan ini rahasia turun-temurun ketua dan wakil OSIS" seperti biasa penjelasan Jellal masuk akal. Lucy yang sejak tadi diam pun akhirnya angkat bicara

"Ta-tapi kenapa harus kami? Terlibat saja tidak"

"Asal kalian tau, menurut rumor X membenci siswa yang berkelompok. Mungkin dia menggunakan kita sebagai batu loncatan untuk terror selanjutnya. Ah ya, meski Jellal tidak ikut-ikutan"

"Hoi Gajeel. Sebaiknya kau keluar sebelum diterror lagi. Berlaku juga untuk yang lain, lebih baik kalian tinggalkan aku sendiri"

"Hah … kau bercanda? Jika berpisah tujuan X akan tercapai, yaitu mencerai-beraikan kita! Maaf aku pulang duluan. Hari ini ada acara spesial di rumah"

"Dasar bodoh, aku serius mengatakannya! Gajeel, Gajeel!" panggilan Natsu diabaikan total. Dia berlari pergi sesudah berpamitan pada Erza dan Jellal. Sementara sekelompok muda-mudi itu masih termenung di atas atap

Langkah kaki itu terlihat bersemangat. Hari ini ayah Gajeel naik pangkat menjadi direktur perusahaan, ia disuruh pulang lebih cepat untuk makan malam istimewa di rumah. Tidak sampai surat darah ditemukan tergeletak di sisi laci. Berisi sama seperti milik Wendy, namun digantikan dengan namanya, lengkap. Ya, dia kurang peduli dan mengiindahkan total. Pasti Droy bingung karena banyak likuid merah bergenang di area tempat sampah.

"Kuharap tidak ditanyai macam-macam. Sebaiknya masalah ini diurus Jellal dan Erza saja"

Tap … tap … tap …

"Gawat. Sekarang hantu X itu menerornya. Tenang saja, aku pasti melindungimu!"

Keesokan harinya …

Pukul tujuh lewat lima belas menit Gajeel tiba di sekolah. Terburu-buru menaiki lantai dua karena dia terlambat di pelajaran Freed-sensei, salah satu guru killer setelah Laxus-sensei sebagai pemegang nomor pertama. Untung saja petugas piket sudah selesai ronda berkeliling. Jadi, tidak perlu menulis pelanggaran di agenda kelas. Sayang seribu sayang, kesenangannya berakhir usai merasa 'dipatuk' sesuatu.

PLETAKKK!

KLUTUK … KLUTUK …

"Si-siapa di sana …?" kesadarannya benar-benar menipis. Gajeel menangkap sebuah objek mati berupa balok kayu berukuran sedang, dan seseorang berpakian kasual berdiri di atas tangga lantai tiga

"Sia … pa …"

BRUKKK!

Bersambung …

Balasan review :

Tsuzumiku Meldy : Hmm siapa ya? Kalo penasaran baca terus makanya. Penerror surat akan ketahuan cepat atau lambat. Thx udah review.

Aoi Shiki : Maaf next chapter kelamaan hahaha. Oke thx ya udah review, ikuti terus!