Diketahui Droy yang berlanjut menyapu lantai dua, ia segera memanggil bala bantuan untuk membawa Gajeel ke rumah sakit. Berita tersebut menyebar dengan cepat, terutama kepada kelompok Natsu yang merupakan teman si cowok bertindik itu. Mereka berencana membesuk usai pulang sekolah, tanpa Wendy mantan sahabat. Keadaannya sekarang aman, mempunyai teman baru bernama Chelia dan tergabung di geng Lyon.

Selain bersyukur, Natsu kehabisan kata-kata.

"Tapi aneh, kenapa dia bisa jatuh? Bahkan Laxus-sensei menemukan balok kayu berukuran sedang" cerita Sting mengulang kesaksian para guru, saat jam istrahat tiba pukul sembilan lewat. Lucy mengidikkan bahu tak paham, pikirannya terlalu bentrok di satu sudut

"Jangan-jangan seseorang menaruh dendam …" tuduhan Erza sama sekali tidak masuk akal. Geng Fairy Tail terbukti bersih, malahan sudah dikonfirmasi oleh mereka berdua, ketua dan wakil OSIS

"Berhentilah berpikir aneh-aneh. Siapapun dia harus ditangkap karena melakukan kejahatan tingkat satu" cela Jellal mematahkan ucapan tersebut. OSIS semakin sibuk ditambah kasus tak berujung ini. Belum lagi harus mengurus festival olahraga minggu depan

"Daripada dipikirkan lebih baik makan dulu. Perutku lapar!"

Atmosfer yang tegang mendadak cair, digantikan gelak tawa Lucy diikuti Erza. Untunglah ada Natsu, dia tetap mood maker terbaik di kelompok mereka. Sesaat masalah Gajeel dilupakan. Semua butuh waktu istirahat, terlebih dua orang paling berjasa semenjak perkara itu muncul. Setelah mengobrol sangat banyak, masing-masing pergi ke kelas dengan meninggalkan segaris senyum, meski Jellal belum bisa santai terbilang dia tipe seriusan.

"Hah … sulit juga membuat mereka tenang" akhirnya keluhan keluar dari mulut Natsu. Ia memijat kening menahan pening. Sekilas melihat sorot mata Jellal, mungkin anak itu menganggapnya main-main

"Lupakan soal Jellal. Kalian berteman sejak SMP, pasti kau afal betul peranginya" giliran Lucy yang angkat bicara, seusai hanya tertawa dan mendengarkan obrolan mereka. Lagi pula niat Natsu baik

"Yosh! Ayo bersiap-siap untuk pelajaran selanjutnya"

Di antara mereka Lucy yang menyadari, Natsu paling menderita karena terus dijadikan sasaran. Di balik grins itu, mungkin dia menyimpan segala penderitaan dan keluhan tersebut merupakan salah satu, di antara banyaknya permasalahan. Pelajaran berlangsung khidmat, Gildarts-sensei kalem menjelaskan materi bab sepuluh untuk ulangan besok. Mungkin guru-guru pun ikut berubah. Kasus yang dipandang sebelah mata menjadi sorot utama majalah sekolah.

SREK … SREK …

"Kau sangat suka membaca ya? Setiap terbit pasti dibeli terus" mereka dalam perjalanan menghampiri kelas Sting. Erza dan Jellal berangkat duluan karena Gajeel dikabarkan siuman. Ya, bilanglah dipaksa menunggu setengah jam sampai interogasi selesai

"Tidak, dikasih gratisan oleh Yajima-sensei. Lihat, ceritaku masuk lagi!" ingin turut bergembira, namun sepasang onyx Natsu terlanjur memincing di halaman 23

Terror aneh di SMA Fairy Tail. Siapakah sang pelaku dan tersangka?

Artikel oleh : Meredy dan Sorano, tim jurnalistik

Surat darah membawa sejuta teka-teki bagi pihak OSIS dan guru. Namun anehnya, setelah tim detektif sekolah melakukan penyelidikan, dapat dikatakan bahwa pernyataan itu hanya menyerang beberapa murid. Korban pertama adalah Wendy Marvell, kelas 1-C yang tertimpa rak buku. Pihak perpustakaan mengkonfirmasi bahwa itu salah mereka, sebagian besar yakin merupakan ulah hantu.

Tim majalah sekolah mewawancarai Wendy (Jumat, 12-08-X792, pukul 16.00), "Maaf, aku sendiri tidak tau siapa yang salah atau benar di sini. Biarkan Jellal-senpai dan Erza-senpai menyelesaikan masalah ini. Tolong jangan tuduh Natsu-senpai", ucapnya sambil berlinang air mata. Sedangkan menurut Sting Eucliffe, keberadaan surat itu bohong, "Paling hanya main-main! Pelakunya pasti berada di antara para siswa", dengan yakin ia berucap.

Sempat terjadi beda pendapat antar ketua dan wakil OSIS. Erza Scarlet berkata, 'Aku tau hantu yang melakukannya. Natsu sengaja dijadikan korban agar kalian termakan terror ini', namun hipotesis tersebut dibantah mentah-mentah oleh Jellal Fernandes, 'Jangan percaya padanya. Benar kata Sting, pelaku pasti berada di antara para siswa. Siapapun dia harus siap menerima sanksi berat". (Sabtu, 13-08-X792, pukul 10.00)

Terlepas dari semua itu, kebanyakan beranggapan bahwa Natsu Dragneel membawa malapetaka. Siapakah korban selanjutnya?

"Mereka membawa-bawa namamu, tapi aku tidak menyangka Wendy melakukan pembelaan" meski hanya berarti omong kosong. Natsu mengidikkan bahu malas, menjenguk Gajeel adalah prioritas utama sekarang

"Tenanglah Natsu. Aku percaya kamu tidak bersalah. Kita akan mengungkapnya dengan gemilang sampai si pelaku tertunduk malu" dia tau Sting tulus membantu, tetapi …

Entah mesti senang atau sedih, menurut Natsu pribadi mereka benar, salahnya sehingga Wendy kecelakaan dan sekarang giliran Gajeel. Setiba di rumah sakit, ketiga orang ini sempat mendengar pembicaraan mengenai sang pelaku. Ia bersaksi pada Jellal, kalau 'itu bukan hantu! Dia orang dan yang pasti bukan dari sekolah kita! Dia tak pakai seragam!'. Erza melipat dahi kesal, siap-siap disindir oleh mulut sarkastik ketua OSIS.

"Lihat. Dugaan absurdmu ternyata salah besar. Sudah kubilang pasti manusia, mana mungkin hantu? Berhentilah mempercayai makhluk halus. Selanjutnya kau mau melakukan ritual atau bermain ouija sendirian? Ingat, aku tidak mau bertanggung jawab"

"Ya, ya, kau pemenangnya tuan Jellal Fernandes. Aku mengaku terlalu banyak berkhayal dan mempercayai hantu" nada bicara Erza terkesan tidak ikhlas. Mereka nyaris beradu argumen lagi jika Natsu tidak menyelonong masuk

"Mirip anak kecil saja. Hoi Gajeel, kau jujur kan? Tidak berniat bohong?" bukannya merasa lega, Natsu justru mencurigai teman sendiri. Tentu ia marah karena diragukan. Lagi pula berkilah akan sangat sulit selama Jellal berada di sana

"Kenapa kau meragukanku, salam sialan? Percayalah dia bukan hantu. Mungkin penyusup atau … X?" seluruh perhatian tertuju pada Gajeel, darimana bocah bertindik ini yakin orang itu adalah manusia yang sudah meninggal?!

"Coba jelaskan" oke. Rasa penasaran Jellal terusik rupanya

"Menurut laporan X memang dinyatakan meninggal, tapi setelah kuselidiki di rumah kemarin malam, polisi mengaku tidak menemukan mayatnya di manapun. Kasus ditutup bukan karena kepala sekolah menyogok, melainkan mereka menyerah untuk mengungkap!"

"Banyak polisi dikabarkan meninggal saat menjalankan tugas. Jadi, mereka beranggapan terror menyebar! Kita membicarakan Pak Makarov, kepala sekolah tiga tahun berturut-turut yang menjunjung tinggi keadilan dan kejujuran, jelas mustahil!"

"Mungkin Rogue ingin balas dendam dengan melengserkan Pak Makarov dari jabatannya. Bisa dibilang tipikal setia, rata-rata orang pasti meninggalkan X jika tau dia pembunuh kelas kakap, atau mungkin balas dibunuh sebelum mati duluan. Namun meski ketakutan anak itu masih membantu"

"Mungkin X masih hidup dan ingin mengulang insiden serupa. Kita tidak punya pilihan selain menyuruh polisi menyelidiknya sekali lagi"

"Hmm … bisa jadi! Yang terpenting penerror bukanlah hantu, dengan begini aku bisa tenang walau mendapat surat ancaman" tersentak mendengarnya, Natsu mendorong kursi sampai terjungkal ke belakang. Ini masalah besar dan Sting santai-santai saja?!

"Apa katanya?!"

"Menjauh dari Natsu atau kau akan celaka, seperti milik Gajeel dan Wendy. Ayolah ini hanya permainan bodoh rancangan pelaku! Terjebak maka hancur sudah. Kita kalah"

Hantu berwujud manusia juga ada kan? Natsu frustasi berat memikirkannya. Obrolan yang biasa menyenangkan mendadak hambar. Mereka pamit pulang jam lima sore, waktu kunjungan habis dan dilakukan besok lagi. Dokter berkata Gajeel harus dirawat seminggu penuh, dikarenakan luka tersebut lumayan parah sehingga membutuhkan perawatan intensif. Lagi-lagi dia menyalahkan diri sendiri, sekarang giliran Sting celaka bukan?

"Sampai jumpa besok, Natsu, Lucy. Hati-hati di jalan!"

"Lucy, sudah kuputuskan untuk mengawasi Sting mulai besok. Dia bisa kecelakaan kapan saja. Aku harus sigap apapun yang terjadi"

"Baiklah, tetapi jangan terlalu memaksakan diri"

Sedia payung sebelum hujan, Natsu memegang erat peribahasa itu.

Keesokan harinya …

Pukul 7.30 pelajaran olahraga 1-C, yakni kelas Sting dimulai. Natsu memperhatikan lewat jendela, sambil sesekali memperhatikan Yajima-sensei menerangkan puisi zaman kuno. Sekarang tes lari jarak menengah. Takut terjadi apa-apa dia sampai menyingkirkan bebatuan di sekitar, bahkan membantu Droy menyapu lapangan hingga terlihat bersih tanpa dedaunan kering. Antisipasi sudah lengkap, tidak akan bahaya.

"Aku ingin lihat ulah apa lagi yang kau buat"

Sementara Sting di lapangan …

"Hitungan dimulai dari, tiga, dua satu! TUNJUKKAN SEMANGAT LAKI KALIAN!"

PRITTTT …!

Gelegar suara Elfman-sensei memenuhi sekeliling lapangan. Penuh semangat Sting memacu kedua kakinya berlari, walau bukan lomba tetap berambisi menjadi orang pertama. Satu putaran penuh dan Sting masih baik-baik saja. Ini yang terakhir sebelum kemenangan Natsu dapat dipastikan. Namun setengah jalan di putaran kedua, tiba-tiba ia terjatuh sambil menggeliat kesakitan, merasa khawatir si salam sembarangan keluar tanpa minta izin.

"Hah … hah … Sting … kau … kau tidak apa-apa?"

"Arggghh … kukira siapa ternyata Natsu. Bu-bukan masalah besar kok" kelihatan sekali berbohongnya. Pergelangan kaki Sting bengkak parah dan akan sembuh dalam waktu lama

"Nak. Apa kau merasa tersandung batu atau semacamnya?" selidik Elfman-sensei bingung. Beliau cukup yakin lapangan bersih total. Kerikil yang biasa menyempil juga sekalian disingkirkan. Kecelakaan ini tentu aneh. Natsu terpuruk ke titik terendah

"Tidak Sensei … saya melihat Natsu dan Droy membersihkan bebatuan pagi-pagi sekali. La-lagi pula … bekasnya saja tidak ada"

"Terima kasih sudah membelaku. Sting, mulai sekarang kau jauhi aku begitupun Gajeel. Bisa-bisa kalian terlibat masalah yang lebih parah"

"Maaf Natsu-senpai. A-aku setuju denganmu kali ini … diam-diam kami berdua membahasnya di BBM. Gajeel menitipkan permintaan maaf sekaligus terima kasih. Dia juga berpesan, 'jangan membesuk lagi'"

Benar, ini adalah pilihan terbaik yang harus Natsu terima. Terisa Lucy, Erza dan Jellal. Siapakah korban selanjutnya?

Bersambung …

Balasan review :

Aoi Shiki : Wwkwkw maaf update-nya lama. Untuk selanjutnya bakalan kilat nih, tunggu aja ya. Hmm kita lihat aja nanti, oke deh thx ya udah review.