Sayup-sayup di luar kelas, Jellal mendengar rumor tentang kecelakaan yang menimpa Sting. Kelompok penggosip, yakni geng Lisanna bercerita, jika dia keseleo tanpa alasan jelas, sedangkan Pak Droy dibantu Natsu telah membersihkan lapangan, bahkan sengaja menyingkirkan batu. Pemegang jabatan ketua osis itu tau, temannya sudah berjuang sekeras mungkin demi meminimalisir segala kemungkinan. Sayang Tuhan berkehendak lain.
"Lho, Eucliffe-san tidak pulang bersama Natsu-senpai?" tanya Lisanna heran. Biasanya mereka dekat menyamai hubungan kakak-adik. Di mata Jellal, wajah pucat Sting telah menjelaskan arti semua itu
"A-aku memutuskan pulung duluan. La-lagi pula, Natsu-senpai ada urusan di kelas. Sampai jumpa besok" bahkan embel-embel tersebut kembali ditambahkan. Seharusnya Gajeel ikut berkhianat, dia juga menerima surat itu, kan?
"Selamat sore, pengkhianat nomor tiga. Ceritakanlah kenapa kamu menjauh" cegat Jellal terang-terangan. Sting melihat tatapan kakak kelasnya sebagai intimidasi terselubung
"Ku … kupikir aneh keseleo tanpa alasan jelas. Padahal pikirkanku tidak melenceng kemana-mana" menurut cernaan Jellal, jawabannya jauh dari kata logis. Tinggal bilang takut kecelakaan lagi apa sulit?
"Baiklah. Pulang dan berhati-hatilah di jalan"
Pengkhianat pertama Wendy, disusul Gajeel dan Sting secara bersamaan. Jellal mengganti uwabaki dengan sepatu pantofel hitam, sampai sepucuk surat menganggu ketenangan pikirannya. Senada milik mereka bertiga, hanya diganti nama lengkap tanpa darah. Berarti tinggal menunggu waktu hingga kecelakaan terjadi. Mendengar suara langkah kaki yang tidak jauh, ia segera menyembunyikannya di belakang punggung.
"Erza ternyata. Kau belum pulang?"
"Gildarts-sensei memanggilku sebentar. Sekilas aku lihat kamu mendapat surat, dari siapa?" jika menyangkut Erza pasti sulit dibohongi. Asalkan itu seorang Jellal Fernandes, menyakininya adalah perkara mudah
"Entahlah. Nanti kubaca di rumah. Palingan surat cinta"
"Wajar sih. Kamu tampan, pintar, ketua OSIS, punya badan atletis, tidak sombong dan rajin menabung. Sayang berpikirkan terlalu logis" mengejek sekaligus memuji? Jellal yang bermood buruk langsung merasa tersindir
"Hah …? Omong-omong, siapa yang meninggalkanku di kereta karena Natsu? Lalu dengan enaknya berkata, 'maaf. Aku lupa sudah membuat janji'" ledeknya meniru gaya bicara Erza, membuat si scarlet kesal bukan kepalang
"Itu sudah lama. Jangan perhitungan! Kau juga banyak salah, seperti minggu lalu, katanya mau mengajak ke taman bermain, tetapi malah dibatalkan begitu saja!"
"Guru membutuhkan bantuanku dan kau minta diprioritaskan?! Dasar gila!"
"Kenapa tidak bilang, Laxus-sensei memintamu mengajari matematika di tempat les?! Aku bisa membantumu meski sedikit!" tentu Erza tak terima. Ejek balas ejek. Tampar balas tampar! Begitulah prinsip hidupnya
"Cowok memang selalu salah ya? Erza kali ini kau wajib mendengarkanku. Jangan banyak komplain, tanya atau balas menyindir lagi. Segera jauhi Natsu, titik!" terdengar egois memang. Namun percayalah Jellal melakukannya demi kebaikan
"Siapa kau menyuruhku menjauhi Natsu?! Ayah bukan lebih-lebih ibu. Kalau mau jangan ajak orang lain" benar-benar keras kepala! Jellal membalikkan badan kesal. Bersumpah jika terjadi apa-apa terhadap Erza maka di luar tanggung jawabnya
"Kamu tidak mengerti, Erza! Sudahlah, terserah kau. Mulai besok hubungan kita sebatas orang asing"
Bayaran jarak yang membuat Jellal menyesal. Dia mengacak-acak rambut kesal, menyalahkan diri sendiri atas keputusan buruk tersebut. Masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Hidup mirip matematika, tinggal bagaimana kita mampu menemukan rumus tercepat dan terbaik. Mereka berpisah di depan loker. Lupakan soal pulang bersama. Mengobrol sepanjang perjalanan. Membeli eskrim di warung. Mereka terlalu gengsi untuk minta maaf.
"Kenapa aku harus peduli padanya? Erza menyukai cowok bernama Sigi atau Saga itu! Jadi … sebatas teman masa kecil, ya?" jujur Jellal agak kecewa, tetapi ego menyebabkan dia masa bodoh. Untuk apa jika bertengkar terus?
"Mungkin aku harus minta maaf besok …"
Tin … tin ...!
BRAKKK!
Terkapar di jalan raya, Jellal menahan sakit terutama di bagian kepala bersimbah darah. Beberapa datang menolong, sebagian besar menyaksikan sambil berbisik pelan. Digotong menggunakan tandu, dia masih sempat-sempatnya menggumamkan nama Erza, berpuluh kali sampai membuat suster dan dokter berpandangan, melontarkan senyum. Ambulan tiba di rumah sakit pukul enam sore. Keluarga segera dihubungi, termasuk Natsu beserta Lucy yang diminta olehnya,
minus Erza.
"Dokter bagaimana keadaan anakku?!" tentu ibu Jellal khawatir bukan main. Seumur hidup putra tunggalnya belum pernah masuk rumah sakit. Natsu mengatur nafas, disusul Lucy yang baru sampai setelah terjebak macet
"Tangan kanannya patah, tapi tidak menutup kemungkinan untuk sembuh. Kepala anak ibu terbentur lumayan parah. Untunglah dia berhasil melewati masa kritis berkat nama seseorang" mungkin Erza yang dimaksud. Mendengarnya mereka hanya tersenyum, sedangkan orangtua Jellal menangis haru
Serentak mereka membesuk Jellal. Terjadi pula adegan ibu dan anak yang saling memeluk. Natsu berniat mengabari Erza, bahwa ketua OSIS kecelakaan lalu menggoda supaya pipinya berwarna merah padam, dia paling suka ekspresi itu, tetapi langsung dilarang dengan alasan klasik, 'takut membuat khawatir'. Jadilah nomor tujuan berhenti dihubungi.
"Kukira kejadiannya akan seperti di drama yang Lucy tonton. Tokoh utama kecelakaan. Dokter mengabarkan mustahil bisa bangun, kemudian dicium wanitanya dan … berakhir bahagia"
"Otak polosmu tidak cocok dengan drama. Rahasiakan ini dari Erza sampai aku sembuh, ya?" jarang mendengar Jellal memohon. Natsu yang sedang berbaik hati menyetujuinya tanpa pikir panjang
"Bukankah jadi mencurigakan? Barusan dokter berpesan, kamu harus istirahat satu atau dua bulan penuh. Erza pasti bertanya. Kami mesti menjawab apa jika begitu?"
"Satu minggu cukup. Aku tidak mungkin tinggal selama itu. Masih ada festival olahraga yang harus diurus"
"Ta-tapi …" Lucy hendak melarang, kalau Natsu tidak merentangkan tangannya ke samping. Ia memutuskan menghargai apapun pendapat Jellal, baik, buruk, semau anak itu. Karena di balik semua itu, terdapat perasaan bersalah yang sulit digambarkan
"Asalkan kau tidak bertengkar lagi dengan Erza. Berjanjilah!"
"Maaf Natsu. Aku kurang yakin bisa menepatinya, tapi akan kucoba. Bantu awasi dia juga. Jika terjadi sesuatu. Sebagai sahabat, kaulah yang mampu menolong Erza. Paham?" benar-benar mirip drama persahabatan-cinta. Semua tau Jellal teramat menyukai ratu scarlet 'mereka'
"Jangan pernah ragukan aku"
Jam delapan tepat mereka pamit ke rumah, sementara ayah dan ibu membeli makanan di luar. Iris hazzle itu menatap sendu bintang di luar sana. Taburan cahaya yang membuat langit malam nampak berkilau. Ingatannya membawa pada serangkai janji manis, di masa lalu, ketika mereka belum mengenal rasa suka, di mana persahabatan belum rusak dengan kata 'bertepuk sebelah tangan'. Merupakan satu-satunya yang dapat ia kenang.
"Jellal. Kalau sudah besar nanti aku ingin melihatnya lagi bersamamu. Pasti ada yang berbeda saat itu, entah penampilan, sifat kita, tetapi … jangan saling membenci ya?"
"Kau bicara apa? Sahabat itu seumur hidup. Percayalah, kita pasti mempertahankannya sampai keinginanmu terkabul"
"Uhm! Janji ya?"
"Selain kenangan … aku hanya mempunyai janji itu dan kamu seorang, Erza"
Satu minggu berlalu …
Pucuk biru lautnya menyembul di gerbang masuk. Natsu yang kangen berat memeluk Jellal mesra, menyebabkan tawa Lucy menghambur di sekitar pemuda itu, ia mengucapkan selamat datang, tersenyum tulus dan menepuk punggungnya, berisyarat, 'selamat berjuang'. Pesta kecil tersebut dirayakan tanpa Erza. Entah pergi kemana, tak kunjung menampakkan batang hidung di kelas, walau tas hitamnya tergantung di kursi.
"Erza tidak bersamamu? Biasanya kalian mengobrol di sini" interupsi Lucy memasuki kelas tetangga. Kini giliran Natsu yang menghilang
"Aku akan mencarinya. Kau bisa balik jika mau"
"Tolong sekalian cari Natsu. Aku disuruh ke perpustakaan" wanita berbadan mungil berdiri di daun pintu. Menanti kedatangan Lucy yang terlambat dua menit dari panggilannya
Jellal keluar setelah mereka pergi ke perpustakaan. Berkeliling mencari Erza sekaligus Natsu kemanapun, atau, tanpa perlu mengitari saentro sekolah dia dapat menemukannya dengan mudah : halaman belakang sekolah. Duri berwarna salam itu nampak bersembunyi di balik tembok, tengah memperhatikan seseorang entah siapa. Ikut-ikutan menguntit, teriakannya nyaris lolos dari seleksi mulut.
Erza dan Siegrain, mereka berciuman.
"Ternyata kamu … bukankah lebih baik pergi dan lupakan semuanya?" ekspresi Natsu menunjukkan ia turut sedih. Jelas tidak lucu, Jellal mengenal Erza dari siapapun, tetapi direbut cowok asing yang baru dekat dua bulan
"Mustahil, Natsu. Lagi pula aku sudah tau Erza menyukainya. Mereka cocok …"
Usai mengatakannya, Jellal pergi meninggalkan halaman belakang. Natsu kehabisan akal untuk mencengah semua ini. Bukan mereka yang harus berkorban, melainkan dia karena terus menimbulkan banyak masalah. Jika ada selain mereka bertiga, maka sepantasnya si peneror menjadikan ia korban keempat. Agar pesan berantai itu selesai. Supaya Lucy maupun Erza terbebas dari ancaman. Jika begini terus, kapan berhasil?
"Sialan … sialan … sialan!"
PRANNGG!
GLUDUNG … GLUDUNG …
"Natsu?!" samar-samar Erza melihatnya, si bodoh itu menendang kaleng hingga penyok akibat diinjak. Moment 'indah' mereka terganggu. Dia belum tau Jellal sempat berada di sana, ikut menyaksikan
Jam istirahat …
Menit demi menit berlalu. Jellal sibuk sendiri melipat origami. Mengabaikan jam makan siang yang tersisa sedikit. Warna-warni bintang itu disimpan ke kantung plastik, disembunyikan ketika Erza memasuki kelas setelah jajan di kantin. Hening membungkus lambat. Waktu bak siput merayap di permukaan daun. Hanya mereka berdua, tanpa niat saling melontarkan senyum, mengobrol hangat atau berbai cerita.
"Tanganmu patah kenapa?"
"Terjatuh"
"Oh. Kau sedang apa sekarang?"
"Duduk"
"Iya aku tau, sebelumnya?"
"Tidak ada"
"Kulihat kamu melipat origami"
"Rahasia"
"Apa-apaan itu? Menjawab satu-dua kata seakan mengabaikanku. Padahal aku ingin minta maaf, tetapi kutarik kembali!"
"Oh. Siapa yang butuh?"
"Sesuai katamu. Mulai detik ini kita musuh!"
"Terserah"
PLAKKK!
"Bodoh, bodoh, bodoh … dasar Jelall bodoh!"
Meneriakinya sebanyak empat kali, Erza berlari meninggalkan kelas dan Jellal yang mematung di kursi. Tamat sudah, lalu untuk apa dia melipat origami? Untung masih 'sedikit', menghasilkan satu saja butuh waktu lima menit. Total ada lima puluh, ditambah dengan waktu seminggu beristirahat di rumah sakit. Menjengkelkan memang jika hasil kerja kerasmu sia-sia. Pulang sekolah nanti, ia berniat membuangnya di tong sampah.
"Sampai jumpa, Erza"
Pulang sekolah …
Kantung putih bening ditenteng selama perjalanan. Tersenyum getir setiap melihat jerih payah tersebut hendak dibuang. Bulan depan ulang tahun Erza, Jellal berniat memberi bintang yang rencananya digantung di langit kamar. Akhir-akhir ini Magnolia dilanda musim hujan. Sekarang dia kebingungan karena tangisan itu turun mendadak. Mustahil membawa payung dengan barang di satu tangan, sedangkan sebelahnya kesulitan bergerak.
"Mau bagaimana lagi. Jika kehujunan tinggal ganti baju"
Berjalan santai menerobos hujan, kantung plastik itu dibuang ke bak hijau. Jika ketahuan Droy pasti dipungut. Tidak mungkin, kan, menunggu sampai malam hanya untuk sampah ini? Kecuali dia berubah pikiran … setelah melihat korban tabrak lari dihantam truk raksasa.
BRAKKK!
"Er … za?" benar. Nama sang korban adalah Erza Scarlet, wanita kesayangannya
"ERZA! ERZA!" darah berlumuran di jalan raya. Semerah surai scarlet yang membentur kerasnya aspal. Jellal mirip orang gila, lupa arti malu, kesedihan, perih, semua bercampur menjadi satu
"Erza kau baik-baik saja? ERZA?!" pertanyaan yang bodoh dia tau itu. Namun setidaknya … katakanlah sesuatu!
"Selamat … sore … Jellal … sekarang hujan … ya?"
"Jangan membuatku khawatir bodoh! Katakan kau baik-baik saja, kumohon …"
"Sayangnya tidak … bisa … tidak ketika aku kehilangan seseorang yang berharga"
"Seseorang itu siapa? Biarkan aku membawanya kembali padamu!"
"Untuk apa? Sekarang dia berdiri di sampingku … meneteskan air mata bercampur hujan … berteriak khawatir … takut … sedih … lelaki terhebat sepanjang masa memapahku dengan tangannya yang patah"
"Maaf telah meninggalkanmu! Aku tidak bermaksud melakukannya. Aku memang pengecut, payah!"
"Kau … tau? Aku tidak pernah menyukai Siegrain. Dia memaksaku … dia pria yang menyebalkan … dialah pengecut sesungguhnya. Jellal, kau tetap hero-ku sampai kapanpun … Terima kasih dan … maaf …"
"Aku menyukaimu, selalu …"
Kata terakhir yang melepas mereka.
Bersambung …
