Kecelakaan tersebut menyebar luas ke penjuru sekolah. Namun yang paling terpukul adalah Jellal, dia menyaksikannya dengan mata-kepala sendiri, mendengar seluruh kesaksian wanita scarlet sampai iris kehitaman itu tertutup sempurna. Dokter berkata kemungkinan sembuh kecil. Kalaupun mau mereka harus berani bertaruh. Menyumbang biaya yang tidak sedikit dan banyak berdoa.

Terbatas, satu kata untuk menggambarkan pilihan mereka.

"Percayalah pada Erza. Dia kuat seperti yang kita tau. Meski langit hancur sekalipun…. Pasti ditahan!" tetap saja, suara Natsu bergetar sewaktu meyakinkan Jellal. Ia mati-matian menahan tangis. Berusaha tegar. Berdiri tegap!

"Salahkan pengemudi yang mabuk! Aku ingin menuntutnya, tetapi tidak bisa! Sialan…. SIALAN!" di sepanjang koridor raungan itu menggema. Jellal benar-benar terpuruk, merosot ke titik terendah dengan kaki yang lumpuh, kesulitan bangun

"Maaf. Jika aku menyuruh Erza menjauh, mungkin kecelakaan itu…."

"Benar Natsu. SEMUA SALAHMU! AKU TIDAK MENGERTI KENAPA ERZA MEMBELAMU! HUBUNGAN KAMI RUSAK KARENA KASUS TERSEBUT. Hah… hah…. Sudahlah, lupakan" cacian Jellal terhenti di kerongkongan. Ia terlalu lelah untuk berdebat

"Pergi dari sini. Erza tidak membutuhkanmu, Natsu. Kau tau? Aku berniat menjadikannya pengkhianat keempat. Namun bukan yang pengecut semacam Loke, langsung kabur tanpa memberi kabar. Dia… dia akan kubuat mengakui, bahwa kau memang pembawa malapetaka"

"Benar. Lebih baik begini. Sampai jumpa, Jellal"

Rasa bersalahnya tersurat jelas, terlebih Natsu tak banyak omong atau komentar. Jangankan mengeluh, berbicara saja lidah terasa kelu. Lupa daratan, ia berjalan menerobos hujan yang bertambah lebat. Menyebrangi zebra cross asal-asalan. Lucy kesulitan mengikuti langkahnya. Setiap payung itu melindungi kepala salam, pasti keburu beranjak hingga tangis langit kembali menghujam. Para pejalan saling berbisik, tertawa kecil, mengidikkan bahu,

di mata mereka, pengorbanan Lucy adalah drama tragedi.

"Natsu berhenti di sana! Apa gunanya menyalahkan diri sendiri? Jellal berkata begitu akibat stres. Jika dia normal tidak mungkin menyuruhmu pergi!" menaikkan volume suara di tengah deru, Lucy kehabisan nafas demi mengatakan semua itu. Berat

"Tapi Jellal benar. Surat. Teror berantai. Aku-lah yang mengawailnya"

"Omong kosong! Memang nasib Wendy, Gajeel dan Sting saja sedang sial termasuk Erza. Tuhan yang berkehendak. Jangan sembarangan menyimpulkan, kumohon… hiks… hiks…."

Tap… tap… tap….

HUG!

Air mata bercampur rintik jauh lebih menyakitkan, dibanding pengkhianatan dan amarah Jellal terhadapnya. Mereka berpelukan, menikmati tetes demi tetes yang membasahi seluruh tubuh. Entah bagaimana waktu berjalan lambat. Mozaik kehidupan di sekeliling mendadak lambat. Sedu-sedan mobil. Lampu kerlap-kerlip mewarnai keramaian, mungkin hanyalah kepingan puzzle samar-samar bagi muda-mudi itu.

Mereka yang terlalu larut dalam dongeng.

"Pelukan perpisahan. Anggaplah begitu" Natsu pertama kali melepaskannya. Memaut jarak dari Lucy yang menganga lebar di seberang sana, tidak percaya sambil mengutuk si salam

"Pe-perpisahan katamu?! SIAPA YANG MENGHARAPKANNYA?! DASAR BODOH! Bodoh… bodoh… BODOH….!" jari-jemari itu terkepal sempurna. Meninju dada bidang Natsu yang berdetak lambat jantungnya. Penuh sesak, seperti mau meledak!

"Kita pacaran bukan?"

"Itu dulu, sekarang tidak. Sebatas orang asing"

"Kau tidak pernah mengerti perasaanku! Natsu. Ayo kita hadapi bersama-sama siapapun si peneror. Sebagai kekasih, sahabat, teman baik. Tak adil jika kau menanggungnya sendirian. Kalau Erza berada di sini…. dia pasti setuju dengan ideku!"

"Meskipun kamu mengalami kecelakaan?"

"Disiksa sekalipun tidak masalah! Aku siap menanggung segala konsekuensi"

"Terima kasih banyak, Lucy… terima kasih….!" sekali lagi mereka berpelukan. Melepas luka yang ada untuk menatap masa depan, di balik awan kelabu berkerudung hujan. Maka Natsu boleh berbangga hati dia adalah pria paling bahagia di dunia

Drama tujuh menit yang berakhir indah. Siluet-siluet misterius itu tersenyum tipis.

Menyadari kedua jarum membentuk tegak lurus di angka enam, Natsu menawarkan diri mengantarkan Lucy balik ke kost-nya. Keluarga Heartfilia mempunyai perusahaan terkaya se-Magnolia, namun putri tunggal mereka memutuskan hidup mandiri, pilihan yang bijak guna membentuk kepribadian pebisnis ulung. Mereka banyak mengobrol di bawah perlindungan payung. Membiarkan rasa sedih melebur dengan genangan air hujan.

"Sudah sampai. Padahal seingatku jarak dari pusat kota ke kost-mu cukup jauh"

"Karena kita melewatinya tanpa beban pikiran. Jalan sepanjang apa pun akan terasa pendek" mirip motivator di televisi. Natsu meninju bahunya diiringi tawa pelan, tidak, sampai likuid kemerahan menetes lewat kotak pos

"Su-surat darah….?" walau hafal betul isinya, Lucy tetap nekat membuka segel plastik itu. Kemudian melayang bebas sebelum terjatuh ke lantai

HARI KEMATIANMU SUDAH DEKAT, LUCY HEARTFILIA!

"Tenanglah. Jangan takut! Aku akan menginap untuk berjaga-jaga, oke?"

Sore beranjak malam yang terasa panjang. Mereka menghabiskan waktu dengan bermain UNO. Makan semangkuk makaroni instan dan melanjutkan ronde ketiga, sementara hujan di luar semakin deras membungkus kota. Tanpa sadar Natsu tertidur di pinggir ranjang. Sangat lelah karena beban pikiran yang menumpuk di kepala. Lucy bersandar di samping. Suasana amat tenang, hanya terdengar tangisan cengeng kian menjadi-jadi.

"Ternyata hujan sangat menyenangkan. Apa pun asal bersamamu, Natsu…"

Tok… tok… tok…

"Siapa hujan-hujan begini?"

CKLEK…

"A-Argghhh… Na-Natsu… to… tolong!" seorang asing menerobos masuk ke dalam. Mencekik leher Lucy sampai empunya kesulitan bernafas. Pria bersurai raven itu menunjukkan tatapan intimadasi, begitu kuat menusuk ke tulang-tulang

"Ceritakan padaku… Semuanya! Kau mencuci otak Natsu agar dia melupakanku, kan?! Bicara jujur dan nyawamu terselamatkan"

"A-a… A… Apa maksudmu? Aku tidak me….!" pembelaan Lucy terdengar seperti memberontak. Menambah kuat cekikan tersebut hingga wajah ayunya mulai membiru. Mungkin tinggal menghitung detik-detik terakhir

"Jangan bohong! Kami punya janji, 'Setiap hari Minggu pergilah ke taman di kotamu jam dua belas, karena mungkin, salah satu dari kita akan berkunjung dan bertemu di sana'. Tapi apa… TAKDIR ITU TIDAK PERNAH DATANG!"

"Na… Na… Natsu… Amne… Sia! Di-dia… Dia terja… Tuh… Ke… Ketika me… Naiki…. Gunung!"

BRAKKK!

Hosh… hosh… hosh…

Tak mau menunggu lagi. Pemuda misterius itu langsung menyambar bahu Natsu, menggoyangkan sekuat tenaga supaya terbangun. Perlahan tapi pasti onyx itu terbuka. Mengerjapkan mata heran menangakap sesosok asing di depan mata. Awalnya dia berniat menjauh dan melontarkan tinju, namun setelah diingat-ingat… Entah kenapa terlihat familiar. Mirip lelaki di mimpi yang terus menganggunya seminggu terakhir.

"Ini aku Gray! Apa kau ingat Natsu? Dulu kita bersahabat dan berpisah di SMA!"

"G-Gray….?"

"Benar Natsu. Ini aku sahabatmu, Gray Fullbuster!" kenapa rasanya aneh begini? Tanpa sadar, ia meneteskan air mata haru atas pertemuan tersebut. Kepingan teka-teki sudah lengkap, tidak perlu lagi dipikirkan… dicemaskan

"Selamat datang kembali! Aku senang"

"Hampir setahun berlalu. Maaf baru bisa mengunjungimu. Aku banyak urusan di Crocus" sesaat terkapar di depan pintu. Lucy beranjak bangkit dan menguping percakapan mereka. Dia sendiri tau Gray adalah sahabat lamanya

"Hahaha…. Setahun itu juga aku amnesia! Tapi berkat bantuan teman-teman ingatanku bisa pulih"

"Syukurlah. Apa kau masih berteman dengan mereka?" grins Natsu luntur seketika, menggeleng lemah menjawab pertanyaan Gray. Raut wajahnya ikut sedih, merasa bersimpati terhadap perpisahan mendadak tersebut

"Tandanya mereka tidak setia. Kau orang baik dan ditinggalkan begitu saja. Hanya dimanfaatkan oleh sampah-sampah busuk itu! Namun tenang saja, masih ada aku" bisik Gray pelan. Lucy harus lebih berkonsentrasi untuk mendengar ucapan si raven

"Terjadi kesalahpahaman. Pilihan mereka benar. Aku yang terlalu banyak membawa bencana. Ditinggal pun bukan masalah besar. Lagi pula, masih ada Lucy dan Erza di pihakku!" pucuk pirangnya mengangguk bangga. Betul Natsu, tunjukkan pada orang ini kau tidak menyedihkan!

"Baguslah. Apa salah satu dari mereka pacarmu?"

"Lucy pacarku. Dia berada di belakangmu" demi sopan santun semata, ia terpaksa melambaikan tangan sambil menyungging senyum, tidak ikhlas

"Lalu yang bernama Erza?" ughh…. Kau terlalu banyak bertanya, orang asing! Gumam Lucy memalingkan muka, sewaktu dark blue Gray balik menoleh ke arahnya. Tadi dia sempat dicekik sampai maut terasa dekat, mana bisa berbaikan?!

"Dia dirawat di rumah sakit, tertabrak truk"

"Aku doakan semoga temanmu cepat sembuh. Maaf tidak bisa menemani. Kereta malam akan tiba setengah jam lagi. Oh iya, kalau kau mau kunjungi alamat ini dan…. Ada hadiah untukmu!"

Sebuah CD game terbaru, Dragon Slayer! Natsu antusias menerima. Sudah lama dia ingin beli, tetapi kasus itu membuat jangka ingatannya tambah pendek. Melupakan hal lain dan kehidupan yang mesti diurus juga. Gray berpamitan pada Lucy walau kedua belah pihak kurang suka. Meninggalkan sahabat salam yang berjanji akan berkunjung ke Crocus. Sebelum masuk, mereka mengobrol di depan pintu yang engselnya nyaris lepas.

"Lelaki bernama Gray itu menyebalkan! Dia tidak membiarkan kita mengobrol sedikitpun"

"Jadi, kau cemburu? Tidak perlu takut, aku tetap mencintaimu kok! Gray laki-laki. Pacarmu tak mengidap LGBT atau semacamnya" canda Natsu menepuk-nepuk bahu Lucy. Yang diajak mengobrol malah memajukan bibir lima centimeter

"Tadi kamu tertidur sehingga tidak tau. Dia me…." ucapan Lucy terhenti, menyadari sekebat bayangan di bawah lantai satu. Seorang wanita membawa selembar foto entah siapa, lalu tersenyum penuh sejuta arti membuatnya menelan ludah

"Akhirnya aku menemukanmu, Natsu Dragneel"

Mungkin dia sejenis orang gila.

Bersambung….

Balasan review :

Aoi Shiki : Yep bakalan update kilat kok. Makanya ikutin terus jangan lupa juga review, hehehe. Thx ya udah review, eh omong-omong aku udah bales review ini belum ya?